Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Setia dan Wanita

Catatan Sejarah 500 SM - 2008


“Duka nya sudah tak tertahankan lagi, dan sepertinya tidak ada satu hal pun lagi yang ditunggu, dengan terburu-buru, dia (Satyawati) mempersiapkan diri untuk kematian. Ia menarik keris yang dipegangnya sejak tadi, yang kini berpijar kemilau keluar dari sarungnya. Dia kemudian menancapkan diri tanpa rasa takut ke bilah keris, dan darah segar mengalir ke luar seperti cairan mineral merah.”
(kakawin Bharatayuddha.45.1-45.)

Dalam cerita klasik Jawa, Kakawin Bharatayuddha (1157 M), Mpu Sedah menceritakan keberadaan Pujawati, putri dari seorang Brahmana raksasa bernama Resi Bagaspati, yang menikah dengan Salya atau Prabu Salyapati. Salya yang sewaktu muda bernama Narasoma, merasa malu mempunyai mertua seorang raksasa. Mengetahui rasa gundah suaminya, Pujawati lalu memberitahukan hal tersebut kepada ayahanda Resi Bagaspati, yang kemudian meminta anaknya untuk memilih di antara dua, ayahanda atau suami. Berdiri di antara dua pilihan; ayah dan suami, Pujawati memutuskan pilihannya kepada Salya, suami tercinta. Keputusan tersebut membuat bangga ayahanda, Resi Bagaspati, yang kemudian mengganti nama Pujawati menjadi Satyawati. Seorang Satya, 'the true or loyal one' (kakawin Ramayana 17.62; kakawin Bharatayuddha 46.1; kakawin Smaradahana 20.4)

Satya (setia)
Kata “Satya” yang ditemukan dalam bahasa Jawa kuno, merupakan kata yang di adopsi dari bahasa Sanskerta India, dari bentuk kata sifat “Sati”, yang berarti tulus, jujur, loyal (untuk satu suami, raja; bersumpah kepada seseorang), berbudi luhur, baik. Untuk mengenal lebih jauh akan arti dari kata Satya (setia), mari kita mengenal terlebih dahulu arti dari kata Sati.

Sati
Istilah Sati (Su-thi atau Suttee) di India di duga keras berasal dari kisah Dewi Sati, yang juga di kenal dengan nama Dakshayani. Dewi Sati atau Dakshayani di kenal akan tindakan pengorbanan dirinya dengan terjun ke dalam api pembakaran, karena ia tak mampu menahan penghinaan Dakhsa (ayahnya), terhadap Shiva (suaminya). Setelah pembakaran diri dan mati, Dakshayani bereinkarnasi, lahir untuk kedua kalinya sebagai puteri dari raja gunung, Himawan, dengan nama Parvati, yang akhirnya kembali menjadi istri dari Shiva untuk kedua kalinya.

Shiva Carrying Sati on His Trident, circa 1800


Kisah kesetiaan sempurna Dewi Sati kepada Siva, suaminya, sering dikutip untuk membenarkan asal-usul dari praktek Sati di India, praktek yang menggambarkan bentuk kesetiaan terakhir seorang istri dengan mengorbankan diri hidup-hidup di dalam api kremasi mayat suami.

Dalam Sanskerta, Sati dibedakan dalam dua jenis:
  1. Sahamarana, sahagamana atau anvarohana.
    Kematian seorang wanita yang naik ke tumpukan kayu bakar kremasi mayat suami dan mati bersama.
     
  2. Anumarana.
    Mayat suami di kremasi terlebih dahulu dan sang istri kemudian di kremasi terpisah di tempat lain, kadang-kadang dengan abu suami atau kenang-kenangan lain dari suami.
Sedangkan pada masa peperangan, para istri dari pangeran dan raja yang kalah melakukan bunuh diri (Jauhar) untuk menghindari diri jatuh ke tangan musuh yang menang. Jauhar banyak dipraktekkan di antara para bangsawan Rajput.


Swaami (suami) dan Satya (setia)
Di India, bentuk kesetiaan seorang wanita terhadap pasangannya, sudah terpatri dalam dan berlangsung sejak beratus abad. Pada periode epik di India (sekitar 500 SM - 500 M) buku-buku hukum yang disebut Dharmashastra, atau risalah tentang perilaku yang benar (dharma), di kompilasi oleh golongan lelaki Brahman menjadi standar agama yang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang.

Di dalam Dharmashastra, tertulis akan ideologi Stridharma, ideologi tentang cara hidup yang benar bagi seorang istri, yang menuntut pengabdian wanita pada satu suami.

Ideologi Stridharma menyatakan bahwa suami bagi seorang wanita adalah semacam “tuhan”, dan dalam bahasa Sanskerta, kata untuk pasangan istri adalah -“Swaami”- (suami) yang secara harafiah diartikan “tuhan dan guru”. Sehingga, kebahagiaan hidup seorang istri yang ideal adalah memuaskan suaminya secara penuh, sedangkan kekhawatiran seorang istri yang sejati adalah ketidakmampuan melakukan pengabdian secara utuh dan menyeluruh.

Pengabdian dalam bentuk kesetiaan yang tidak dapat dipisahkan sekalipun dengan kematian. Keseluruhan sikap dan kesempurnaan ekspresi kesetiaan tertinggi seorang istri dalam suatu perkawinan di India diungkapkan dalam bentuk Sati.

 
The Bride Throws Herself on Her Husband's Funeral Pyre. Persian, Safavid period, first half 17th century. Attributed to Muhammad Qasim

Wanita dan Sati di India
Apakah Sati tepatnya merupakan praktek pengorbanan diri yang asli berasal dari India atau di adopsi dari budaya lain, tidak diketahui dengan pasti. Catatan tertua yang didapati tentang pengorbanan diri wanita di India ditulis sekitar tahun 326 SM oleh Aristobulus dari Cassandreia, seorang sejarawan Yunani yang turut dalam ekspedisi Alexander Agung di Lembah Indus, India. Beliau menemukan adanya praktek pengorbanan wanita di kota Taxila (kini masuk di dalam wilayah Pakistan).

Sejarah India serta teks-teks sastra yang memuat praktek Sati, banyak menarik perhatian bangsa asing ke India. Di dalam pemerintahan kolonial Inggris, pada akhir tahun kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas, tulisan-tulisan tentang Sati segera berkembang dari kisah-kisah yang eksotis hingga tulisan-tulisan yang langsung mengutuk keberadaan praktek Sati.

Praktek Sati akhirnya dilarang oleh Pemerintah Inggris pada tahun 1829 oleh Lord Bentinck, Gubernur-Jenderal India (1828-1835) dan diperkuat kembali di abad 20 pada Sati (Prevention) Act 1987. Namun, terlepas dari larangan hukum pada kenyataannya, hal ini terus terjadi hingga abad ke 21, sebagaimana dibuktikan dengan berita terakhir pada tanggal 13 Oktober 2008, di desa Chechar (India tengah). Seorang janda bernama Lalmati Verma berusia 71 tahun, mengorbankan dirinya kedalam tumpukan api kremasi Shivnandan Verma, suaminya.
 
Catatan praktek Sati di abad ke 20 dan ke 21 di India.
Tanggal kejadian
Nama
Usia
04.09.1987
Roop Kanwar
18 th
Agutus 2002
Kuttu Bai
65 th
2006
Vidyawati
35 th
Agustus 2006
Janakrani
40 th
13.10.2008
Lalmati
71 th


Sati dan Satya. Dari India ke kepulauan Indonesia
Mendengar berita kematian Salya, Satyawati segera pergi menyusulnya. Dengan di temani oleh Sugandhika, sang dayang kesayangan, Satyawati menuju medan perang, menyelinap dalam sungai darah dan tersandung mayat-mayat busuk, mencari-cari tubuh Salya.

Dalam keputusasaan, dia bersiap-siap menusuk diri dengan keris, ketika para dewa yang merasa kasihan padanya menunjukkan keberadaan Salya yang terbaring kaku. Dengan memegang erat-erat, Satyawati mencoba untuk menghidupkan kembali suaminya, memarahinya karena meninggalkan dirinya dan menuduh suaminya tidak pernah benar-benar mencintainya. Menangis dan memohon kepadanya untuk menunggu dia di jembatan gantung menuju surga.

Lalu Satyawati kemudian menusuk dadanya dengan keris dan mati seketika. Dayang setianya, Sugandhika, menarik keris dari dada Satyawati dan menusukkan dalam-dalam ke dadanya sendiri.

Kisah kesetiaan terakhir Satyawati yang di tulis oleh Mpu Sedah pada kakawin Bharatayuddha (1157 M) menggambarkan kenyataan adanya praktek Sati yang (pernah) terjadi di Indonesia. Dalam berbagai literatur kuno di Indonesia, dari kakawin Ramayana (abad ke 9) hingga kidung Sunda, kisah cerita akan pengabdian total hingga kematian menjelang seorang istri didengungkan, mencerminkan realitas akan praktek Sati dalam masyarakat sosial, yang pernah ada di Indonesia. Istilah Sati yang (kemudian) di adopsi menjadi kata “Satya” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perempuan yang loyal dan tak terpisahkan mengikuti suami mereka sekalipun kematian menjelang.

Wanita Satya di Indonesia
Pada masyarakat Jawa keberadaan tradisi Sati di kenal sejak kurang lebih pada abad ke 9. Ada beberapa metode pengorbanan diri wanita Satya di Indonesia, dimana cara pengorbanan diri sedikit berbeda dengan metode Sati yang ada di India.
  1. Pengorbanan dengan menerjunkan diri ke dalam api secara hidup-hidup (seperti yang dilakukan di India).
  2. Pengorbanan dengan menggunakan keris, baik dengan menusuk diri sendiri ataupun ditusuk oleh orang yang telah ditunjuk (biasanya seorang lelaki dari pihak keluarga perempuan).
  3. Pengorbanan dengan menusuk diri dengan keris, lalu meloncat ke dalam api kremasi.
  4. Pengorbanan dengan menenggelamkan diri ke dalam sungai atau laut.
Berapa banyak dan terdapat di daerah mana saja ditemukan wanita Satya yang melakukan pengorbanan diri di Indonesia, tidak dapat diketahui dengan pasti. Namun, catatan sejarah menunjukkan sebagian besar tradisi pengorbanan diri dilakukan di pulau Jawa dan pulau Bali. Hanya satu catatan didapati akan adanya juga kebiasaan wanita mengorbankan diri, di pulau Belitung.

Tahun 1416
Sekalipun diyakini bahwa praktek Sati dikenal keberadaannya Indonesia sejak abad ke 9, namun catatan tertua akan adanya praktek Sati, ditulis pada periode Majapahit tahun 1416 oleh Ma Huan, seorang penterjemah yang menemani Zheng He (Cheng Ho) dalam ekspedisinya.
Ma Huan mengunjungi pulau Jawa dengan pasukan ekspedisi ketiga Cina pada tahun 1413-15. Dengan melihat secara langsung, ia menggambarkan proses pengorbanan terakhir wanita, saat ia mengunjungi ibu kota Majapahit, Wilwatikta.

"Ada suatu kebiasaan di daerah tersebut, dimana ketika lelaki kaya, kepala desa ataupun bangsawan meninggal dunia, istri dan para selir bersumpah kepada suami mereka, dan berkata, “dalam kematian kami pergi bersamamu”.

Saat hari pemakaman tiba, mereka membangun tumpukan kayu yang tinggi untuk melakukan kremasi. Dua atau tiga orang melayani istri dan selir yang telah bersumpah, menunggu sampai saat kobaran api meninggi, kemudian dengan mengenakan rumput dan bunga di atas kepala, memakai kain dengan desain lima warna, istri dan para selir mulai menaiki tangga menuju ke atas tumpukkan kayu bakar.

Mereka menari, meratap, selama beberapa waktu, lalu kemudian mereka melemparkan diri ke dalam api, terbakar dengan mayat suami mereka. Menyelesaikan pengabdian terakhir dengan mengkremasikan mereka yang hidup bersama dengan mereka yang sudah mati." 

Tahun 1436
Fei Hsin yang juga mendampingi utusan Cheng Ho pada sejumlah ekspedisi, mengunjungi pulau Jawa pada ekspedisi ketujuh Cheng Ho. Ia menulis dalam catatannya di tahun 1436, akan suatu praktek kremasi mayat lelaki bersama dengan istrinya hidup-hidup.

Saat masa berkabung akan meninggalnya seseorang kepala desa karena usia tua, semua istri, selir dan pelayan wanita, masing-masing berjanji untuk mati bersama.

Ketika hari pemakaman tiba, para istri, selir, dan pelayan perempuan, menghiasi kepala mereka dengan mahkota rumput dan bunga, serta menghiasi diri dengan kain berwarna-warni.

Mereka lalu berjalan beriringan menuju pantai atau ke tempat yang sepi, di mana mereka lalu membaringkan mayat suami mereka diatas pasir untuk dicabik-cabik oleh anjing-anjing liar.

Jika anjing-anjing berhasil mencabik bersih daging dari mayat, maka hal ini dianggap sebagai pertanda baik, tetapi jika masih didapati sisa-sisa daging pada mayat tersebut, maka para perempuan tersebut akan meratap mendendangkan lagu kedukaan.

Kemudian, mereka menumpuk kayu bakar dan semua perempuan lalu duduk bersama dengan mayat suami, terbakar bersama-sama.”

Tahun 1515
Tomé Pires, seorang apoteker berasal dari Lisbon, Portugis, yang pernah tinggal di Asia pada abad ke 16 (Malaka, 1512-1515), mencatat dengan seksama akan keberadaan wanita-wanita tegar Satya dalam masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa yang mengikuti suaminya sekalipun dalam kematian.

Pada masyarakat Sunda, ada suatu “keharusan” bagi para istri raja dan bangsawan untuk membakar diri saat pengkremasian suami. Sedangkan untuk lelaki yang berkedudukan rendah, hal yang sama juga dilakukan, namun hanya dilakukan oleh para istri yang berkehendak sendiri untuk mengorbankan diri, sedangkan mereka yang memilih tetap hidup, akan memulai kehidupan terpisah dari keluarga dan masyarakat, menjadi “orang buangan” diasingkan dan hidup terasing serta tidak diperbolehkan untuk menikah kembali.

Sedangkan pada masyarakat Jawa, termasuk daerah Blambangan dan Gamda (Surabaya-Panarukan) ia mencatat bahwa ketika seorang raja atau bangsawan meninggal, banyak para istri dan selir-selir mengikuti suami mereka dengan menusuk diri dengan keris atau membakar diri hidup-hidup ataupun menenggelamkan diri dalam laut (hal ini dilakukan terutama pada rakyat biasa). 

Tahun 1524
Antonio Pigafetta, seorang ilmuwan dari Venesia yang menyertai ekspedisi Ferdinand Magellan, mendeskripsikan akan adanya motivasi dan kemauan perempuan (itu sendiri) untuk melakukan tindakan pengorbanan diri.

Dalam catatannya ia menulis bahwa di Jawa, ada suatu kebiasaan untuk mengkremasi tubuh seorang pemimpin yang mati dan bahwa istri yang paling disukainya ditakdirkan untuk dibakar hidup-hidup dalam api yang sama.

"Dihiasi dengan untaian bunga, wanita tersebut diusung dalam tandu oleh empat orang laki-laki, dan dengan ekspresi tenang, wanita itu tertawa lalu menghibur kedua orangtuanya, yang menangisi kematian yang menjelang putri mereka, lalu berkata:

"Malam ini saya akan makan malam bersama suami saya, dan malam ini aku akan tidur disampingnya".

Setibanya di tumpukan kayu kremasi, ia menghibur kembali orangtuanya dengan kata-kata yang sama lalu melemparkan dirinya ke dalam kobaran api yang menjilatnya dengan sempurna." 

Akhir Abad ke 16
Seorang penjelajah Inggris, Thomas Cavendish, yang mengunjungi Jawa dan Bali dalam perjalanannya mengelilingi dunia pada akhir abad keenam belas, menceritakan bahwa ia mendengar informasi dari pihak Portugis bahwa di Blambangan para wanita untuk mengikuti suami hingga ke dunia kematian.

Tidak seperti metode pengorbanan diri dalam catatan Pigafetta (membakar diri), namun pengorbanan diri para wanita dilakukan dengan menusuk diri dengan keris, dan tidak ada penyebutan kematian dengan api. Cavendish mencatat:

“Saat seorang raja meninggal, maka mayatnya akan dikremasikan lalu abunya disimpan dalam suatu wadah. 5 hari setelah acara kremasi, para istri dan selir raja akan mengikuti kematian raja dengan pergi ke suatu tempat yang telah ditentukan.

Istri tertua atau istri favorit raja akan melempar satu bola ke satu arah, dan saat bola tersebut berhenti menggelinding maka tempat perhentian bola tersebut menjadi tempat dimana para istri dan selir berkumpul.

Dengan menghadap ke arah timur dan memegang sebilah keris, mereka mulai menancapkan keris tersebut, lalu terjatuh bermandikan darah, meninggal dengan rasa nyeri di wajah mereka, dan berakhirlah hari-hari mereka.”

Tahun 1633

Ketua dagang Jan Oosterwijk adalah saksi mata Belanda pertama yang menyaksikkan proses pengorbanan diri wanita pada kunjungannya di Bali.

Dalam suatu acara kremasi, Jan Oosterwijk menyaksikan sendiri kremasi 2 orang pangeran diikuti dengan pembakaran diri hidup-hidup dari 76 istri kedua pangeran tersebut (42 istri dari pangeran pertama dan 34 istri dari pangeran kedua). Dimana beberapa wanita menusuk dirinya terlebih dahulu dengan keris lalu melompat ke dalam api kremasi, sedangkan wanita-wanita lainnya langsung menerjang kobaran api hidup-hidup.

Selain acara kremasi 2 orang pangeran, Jan Oosterwijk juga menjadi saksi mata dalam acara kremasi seorang Ratu, dimana 22 dayang pengikut Ratu tersebut melakukan bela (mabela) dengan menerima tusukan keris dari seseorang (lelaki yang telah di pilih dan di tunjuk oleh keluarga) di dada, lalu melompat mengikuti Ratu masuk ke dalam dunia kematian.

06-04-1736
Dalam sebuah laporan yang ditujukan kepada Abraham Patras (Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke 24), ditulis bahwa ketika penguasa Blambangan, Bagus Patih, meninggal, mayatnya dikremasi bersama-sama dengan 9 istrinya. 

Tahun 1813 dan 1820
John Crawfurd, seorang dokter Skotlandia, administrator dan penulis, menyertai Stamford Raffles pada ekspedisi militer Lord Minto di Jawa, yang kemudian diangkat menjadi Residen di Pengadilan Yogyakarta pada bulan November 1811. Sebagai Residen, ia mempelajari bahasa Jawa dan menjalin hubungan pribadi dengan beberapa bangsawan Jawa dan sastrawan, lalu bekerja dalam misi diplomatik di Bali dan Sulawesi.

Pada pada tahun 1813, dia mencatat bahwa 20 orang wanita mengorbankan diri terjun ke dalam api kremasi Wayahan Jalanteg (Wayan Jlantik), seorang bangsawan dari Karangasem.

Beberapa tahun kemudian, John Crawfurd mendapat informasi dari raja Blelling (Buleleng, Bali Utara) bahwa ketika ayahnya, penguasa Karangasem, meninggal, 74 perempuan telah mengorbankan diri mereka. 

Tahun 1829
Pierre Dubois, dalam misinya di Bali menggambarkan secara mendetail acara kremasi dari Gusti Gde Ngurah Pamacutan, seorang Raja Badung, pada tahun 1829.

Dalam kremasi ini, 7 perempuan mengorbankan dirinya, termasuk pengasuh raja yang sudah tua dan berambut putih, dimana hanya dibutuhkan waktu kurang dari empat detik untuk mengikuti tuannya dalam kematian.

Dubois mencatat bahwa saat acara kremasi dijalankan, masing-masing dari tujuh wanita mendekati tangga menara pembakaran dengan ditemani oleh keluarganya.

Wanita pertama mengambil keris ayahnya, lalu melukai lengannya dan mengoleskan darah pada dahinya sebelum mengembalikan keris ke ayahnya.

Perempuan itu lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan menjatuhkan diri ke dalam lubang api. Lima dari perempuan yang tersisa melakukan ritual yang sama, sementara satu wanita memilih mati dengan cara menusukkan keris.

Dengan dikelilingi oleh kerabat terdekat, ia mengambil keris dari tangan ayahnya lalu menusukkan keris lurus dari atas bahunya hingga ke bawah, tepat pada jantungnya, lalu ayah dan saudara-saudaranya melempar wanita tersebut ke dalam api kremasi.

Tahun 1846
Heinrich Zollinger, seorang penjelajah dan ahli botani Swiss mencatat proses pengorbanan diri seorang wanita di Lombok.

"Dengan berpakaian putih-putih, wanita tersebut menerima tusukan keris dari kakak lelakinya. Namun tusukan tersebut tidak membuat ia mati seketika, sehingga salah satu kerabat lelaki dari wanita tersebut mengambil alih keris dan menusuknya hingga tewas, lalu kemudian pihak keluarga melemparkan wanita yang telah menjadi mayat ke dalam api kremasi."

Tahun 1847
Pada tanggal 20 Desember 1847, Helms menghadiri acara kremasi dari Dewa Manggis, raja Gianyar, Bali. Dalam catatannya, Helms menulis bahwa 3 orang istri dari Dewa Manggis berpakaian putih-putih dan menghiasi diri dengan perhiasan, diusung dengan tenda menuju tempat acara kremasi. Saat api kremasi dinyalakan dan terbakar besar, ketiga wanita tersebut melompat ke dalam api, menjadi abu, bersama dengan suami yang telah menjadi abu terlebih dahulu.
 
Tulisan di atas mengungkapkan betapa banyaknya wanita-wanita Indonesia yang berhati tegar, menerapkan pola Satya dalam dunia kehidupan. Tulisan berikut di bawah ini hendak menjelaskan bagaimana kisah sastra dan kidung mampu mendayakan prinsip wanita Satya hingga tertanam dan berakar panjang dalam kehidupan sosial masyarakat di Indonesia maupun dalam diri wanita itu sendiri.

Kesetiaan sempurna dalam kesusastraan klasik di Indonesia
Menjadi seorang satya (bagi perempuan/istri) adalah ideologi yang ditanamkan dengan akar yang kuat dan panjang melalui kisah, puisi, dan pertunjukkan/teater selama berabad-abad dalam peranan wanita di kehidupan sosial.

Di dalam imajinasi dunia cerita, cinta adalah sesuatu yang sempurna dan pasangan yang selalu diidamkan adalah pasangan yang tak terpisahkan, selalu bersama sang kekasih hingga kehidupan di dunia berikutnya.

Kisah klasik maupun kidung yang ditemui di Indonesia, menanamkan kekuatan emosi manusia (wanita) akan cinta dan rasa berkabung yang berlebihan.
Kebudayaan berhasil “memancarkan” kelebihan nilai dari perbuatan kesetiaan terakhir seorang wanita, dengan menusuk diri sendiri atau menceburkan diri ke dalam api, untuk selalu bersama dengan kekasih, suami tercinta.

Dimana dengan tindakan tersebut, maka keterpisahan akan dapat dihapuskan dan berakhir dengan kebahagiaan dan kebersamaan pasangan untuk selamanya.

Perbuatan Satya, pembuktian diri sebagai seorang wanita Satya di Indonesia merupakan suatu sikap perbuatan yang tidak hanya didukung oleh masyarakat dan lingkungan secara luas (pada periode tertentu), namun juga merupakan suatu perbuatan yang diyakini dan diamini oleh perempuan (itu sendiri) sebagai perbuatan yang benar.

Seolah-olah, saat seorang bayi perempuan lahir, dalam jiwanya sudah terpatri akan tindakan setia kepada suami, sekalipun harus menjelang dunia kehidupan pada alam lain.

Kakawin Ramayana (abad ke 9)
Dalam Kakawin Ramayana diceritakan akan penipuan Rawana yang menggambarkan ilustrasi kematian Rama kepada Sita. Sita yang merasa terpisah dari Rama lalu bersiap untuk membakar dirinya, menyusul Rama.

Namun tindakannya berhasil digagalkan oleh Trijata (seorang rakshasi yang berteman dengan Sita) yang mengabarkan keberadaan Rama dan Laksmana saat itu.

Kisah tindakan percobaan bunuh diri Sita tidak hanya dilakukan sekali. Pada kisah tindakan bunuh diri Sita yang kedua (Sarga 21.1-21.48), - kisah ini merupakan cerita asli dari Jawa yang tidak ada hubungannya dengan kitab Mahabharata (Bhattikavya)-  terjadi pada masa peperangan antara Rama dan pasukan raksasa.

Saat itu Sita menyangka Rama sudah mati dalam peperangan. Ia lalu mempersiapkan api kremasi (untuk kedua kalinya), namun kembali berhasil digagalkan oleh Trijata yang mendapat kabar dari ayahnya (Wibhisana) akan masih hidupnya Rama.

Kakawin Bharatayuddha (1157). Penulis: Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Periode Jayabhaya 1135-1157
Ada tiga wanita Satya yang menjadi pemeran utama bentuk kesetiaan wanita dalam kisah kakawin Bharatayuddha: Ksiti Sundari, Satyawati, dan Sugandhika.
  1. Kematian Ksiti Sundari untuk menyusul Abimanyu yang meninggal dalam peperangan ditulis oleh Mpu Sedah (penulis bagian pertama Kakawin Bharatayuddha) dan dianggap sebagai 'model perilaku yang tepat, untuk meringankan hati' seorang istri yang terpisah dari suami tercinta. Dengan berdasarkan kesetiaan dan cinta yang tidak dapat dipisahkan sekalipun dengan kematian, Ksiti Sundari lalu mengkremasikan diri hidup-hidup bersama mayat suaminya.
     
  2. Dalam cerita peperangan Pandawa-Korawa, Mpu Panuluh mengisahkan kematian Satyawati yang menusuk diri dengan keris di tengah-tengah mayat-mayat yang bergelimpangan, dihadapan mayat Salya, sang suami tercinta. Mpu Panuluh menggambarkan konsep seorang wanita yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan mengikuti suaminya dalam kematian adalah seorang Satyawati, seorang wanita setia sejati yang telah melengkapi segala tugasnya untuk suami.
     
  3. Sugandhika, dayang setia dari Satyawati, menarik keris yang tertancap di dada Satyawati, dan lalu menusuk dirinya sendiri, menyusul majikannya. Tindakan satya ini, sering disebut mabela (melakukan bela) dalam bahasa jawa kuno. Dimana kata mabela (membela) juga sering digunakan untuk mereka yang meninggal di medan peperangan, membela raja dan tanah air.
Kakawin Hariwangsa (abad ke 12). Penulis: Mpu Panuluh. Periode Jayabhaya 1135-1157
Kisah Rukmini di abad kedua belas bahasa Jawa Kuna versi Krsna-Rukmini, juga merupakan kisah wanita yang terkenal dari tradisi India, yang juga menemukan dirinya tidak mampu menghadapi kenyataan akan hidup sendirian tanpa suami.

Mpu Panuluh mengisahkan tindakan kesedihan terdalam Rukmini saat mendengar kabar akan kematian Krsna, suaminya. Dengan hati yang pecah berkeping-keping dan keris di tangannya, Rukmini bersiap menusukkan diri, menyusul suami ke dunia lain.

Tetapi Krsna yang tiba tepat pada waktunya, melihat sang kekasih dengan keris berkilau di tangannya, langsung merebut dan mencegah Rukmini dari tindakan bunuh diri. Dengan mengatakan betapa besar cinta Krsna pada Rukmini, akhirnya Rukmini terhibur dari lara, dan mereka lalu menghabiskan malam indah bersama dalam gairah bercinta (Hariwangsa 46.1-50.9).
 
Kakawin Smaradahana (abad ke 13). Penulis: Mpu Dharmaja. Periode Kameswara c.1182-1185
Dalam kakawin ini, Mpu Dharmaja menceritakan kesedihan Ratih saat mendengar berita kematian Kama (Smara) yang dibakar oleh Siwa.
"Dengan hati hancur, Ratih berteriak marah kepada para dewa yang menyebabkan kematian suaminyanya.

Ia lalu bergegas pergi ke Gunung Meru dengan didampingi oleh dua dayangnya, Nanda dan Sunanda, untuk mencari mayat Kama. Namun, ketika akhirnya mereka menemukan tempat di mana Kama telah meninggal, yang tersisa hanyalah abu dan asap.

Dengan menghiba-hiba, Ratih memohon pada Kama untuk bertemu kembali di jalan panjang menuju surga. Mendengar jerit tangis Ratih, timbul rasa iba pada Siwa yang kemudian menyalakan api pembakaran. Ratih pun lalu naik ke dalam api, diikuti oleh dua dayang yang setia, Nanda dan Sunanda yang melakukan bela (mabela)."
 
Kakawin Sumanasantaka (abad ke 13). Penulis: Mpu Monaguna. Periode Warsajaya 1204
Mpu Monaguna mengisahkan bentuk kesetiaan istri Raja dari Krthakésika yang menyusul kematian suaminya. Anak perempuan mereka, Indumati, juga turut menunjukkan kesetiaan, disusul oleh dayang setia dari Indumati, Jayawaspa, yang mabela (melakukan bela), menyusul kematian majikannya, Indumati.

Sekalipun dalam kakawin Sumanasantaka tidak menuliskan deskripsi rumit dari ritual kematian para perempuan, namun contoh-contoh yang dibahas menunjukkan popularitas adegan kesetiaan dan kematian dalam tulisan para penyair Jawa kuno selama berabad-abad.
 
Kakawin Sutasoma (abad ke 14). Penulis: Mpu Tantular. Periode Ranamanggala 1367
Mpu Tantular menulis kisah kematian Jayawikrama di medan perang yang membuat Marmmawati menangis sedih berkepanjangan.
"Dengan meratap, ia berkeliling, melewati banyak wanita menangis mencari suami mereka yang dibunuh, tersandung mayat-mayat wanita yang telah menancapkan keris ke tubuh mereka sendiri.

Berpikir kalau Jayawikrama tidak ingin mayatnya ditemukan karena kemarahannya terhadap Marmmawati. Dengan menjerit, Marmmawati memanggil suaminya, mencelanya karena bersembunyi dari istri yang telah datang untuk membuktikan kesetiaan turut dalam kematian.

Seorang pengikut setia, yang secara ajaib telah lolos dari kematian dengan bersembunyi di bawah tumpukan mayat, mendengar keluh kesah Marmmawati, datang dan menjelaskan mengapa mayat Jayawikrama tidak dapat ditemukan.

Begitu besar kekuatan Raja Jayawikrama, sehingga ketika ia meninggal sebuah api besar meledak dari tubuhnya dan ia langsung terbakar menjadi abu. Marmmawati lalu mengangkat kerisnya tingi-tinggi dan menancapkan dalam-dalam pada dada.

Darah segar berhamburan ke udara, bau darah yang seharusnya anyir dan busuk berganti menjadi wangi harum bunga-bunga. Lalu dengan wajah bermandikan darah, dengan tabah dan berani, Marmmawati memberikan penghormatan kepada suami dan melompat cepat ke dalam api yang menyambar panas."
 
Kakawin Arjunawijaya (abad ke 14). Penulis: Mpu Tantular. Periode Ranamanggala 1367
Kisah Citrawati yang merupakan wanita satya kedua dalam kisah Mpu Tantular, menceritakan akan kekeliruan Citrawati, istri penguasa Mahispati, Arjuna Sahasrabahu, yang menganggap bahwa suaminya sudah meninggal. Citrawati yang putus asa keliru membunuh dirinya sendiri, dengan menusukkan keris ke dadanya hingga mati. Namun dengan pertolongan Narmada, dewi sungai, Citrawati dapat hidup kembali dan bersatu dengan suaminya.

Kakawin Siwaratrikalpa (abad ke 15). Penulis: Mpu Tanakung. Periode Suraprabhawa 1466-1478
Kisah Kakawin Siwaratrikalpa berisi puisi yang berasal dari periode dekade penutupan Majapahit. Sementara sebagian besar peran wanita Satya dalam kisah kakawin lainnya adalah para putri bangsawan, namun dalam kakawin Siwaratrikalpa seorang wanita kasta rendah mengikuti contoh dari tindakan Satya para putri.

Ketika pemburu Lubdhaka meninggal karena sakit, istrinya duduk meratapi, menyalahi suami yang meninggalkannya sendirian dengan anak-anak. Satu-satunya jalan keluar yang akan memuaskan dirinya adalah mengikuti suami, tidak peduli kemana pun suami kini berada. 

Kidung Rangga Lawe, 1540
Kidung Rangga Lawe menceritakan kisah setelah pemberontakan Rangga Lawe melawan raja Harsawijaya digagalkan. Dimana saat Rangga Lawe sendiri telah dibunuh, semua istri-istrinya memohon pengampunan Raja dan kemudian mereka menusuk diri mereka sendiri di hadapan mayat suami mereka.

Kidung Sunda, abad ke 16.
Kidung Sunda menceritakan tentang rencana pernikahan antara raja Majapahit, Hayam Wuruk, dan Dyah Pitaloka, putri raja Sunda. Ketika raja Sunda mati dalam pertempuran besar, istri dan anak perempuannya bersiap untuk mengikuti dalam kematian.

Takut bahwa putri Dyah Pitaloka tidak dapat melakukan bunuh diri jika diketahui oleh pihak dari Hayam Wuruk, maka sang ratu mendesak putrinya untuk segera melakukan bunuh diri saat itu juga, daripada pergi dan bunuh diri di medan perang. Setelah putri melakukan belamabela), maka ratu dan istri kedua raja serta semua istri menteri negara lalu pergi ke medan perang dan menusuk diri mereka sendiri di atas masing-masing tubuh suami-suami mereka.
Kidung Wangbang Wideya, 1765
Kidung Bali ini menceritakan pengalaman pangeran Wangbang Wideya sebagai saksi dalam acara ritual kremasi (hidup-hidup) Ratu Lasem yang bersiap mengikuti kematian suaminya. Ada empat wanita yang bersiap melakukan ritual bunuh diri, namun diantara keempat wanita tersebut, Ratu Lasem lah yang berpenampilan paling indah dan cantik.

"Dengan mengendarai kereta dan berpakaian sutra putih, sang Ratu menuju tempat kremasi. Dia lalu bersujud dihadapan mayat suami yang meninggal dalam pertempuran. Dengan keris yang terhunus dan rambut yang terurai lepas sebagai tanda bahwa tidak lagi terikat pada dunia, dia kemudian menikam dadanya. Darah segar berhamburan keluar dari dada, dan dengan darah yang membasahi wajah dan mulutnya, sang Ratu melakukan penghormatan pada suaminya.

Sang Ratu melakukan gerakan yoga yang tidak terlupakan, ia membengkokkan tubuhnya, hingga ke hadapan wajah suaminya, lalu terbakar perlahan dalam api kremasi. Kemudian tiga wanita lainnya melompat terjun langsung ke dalam api kremasi. Semua orang-orang yang hadir memuji mereka, para wanita yang setia kepada suaminya, sedangkan pangeran Wangbang Wideya bergidik perih melihatnya dan hatinya serasa pecah terpukul, melihat kekuatan hati para wanita."

Berbeda dengan kisah dan legenda dalam kesusastraan di Eropa, dimana dongeng dan kisah tersebut dipahami sebagai hiburan, di kepulauan Indonesia dampak dari kesusastraan seperti Kakawin dan Kidung merupakan sesuatu hal yang sangat berarti, dimana komposisi kumpulan teks-teks sarat dan dijiwai oleh makna religius yang membuatnya bersifat sakral dan esoteris.

Kakawin dan Kidung (saat itu) berfungsi sebagai model dari perilaku yang benar untuk semua tingkatan masyarakat, terutama untuk perempuan. Seorang wanita yang Satya pada masa itu adalah wanita yang mampu melengkapi kesempurnaan suatu kesetiaan terhadap suami dan merasa bahagia dapat melakukan hal yang utama, melakukan pengorbanan terakhir, kembali bersatu dengan suami dan dikenang untuk selama-lamanya. 
Pada kenyataannya saat itu, posisi seorang wanita sangatlah sulit untuk terus melanjutkan hidup dengan status sebagai janda. Bukan hanya terbuang dan diasingkan, mereka juga harus menanggung resiko untuk tidak hidup bersama dengan anak-anak mereka. Kehidupan "baru" tanpa suami yang sangat berat, sering juga menjadi bahan pertimbangan untuk memilih mengikuti ritual pengorbanan diri.
Namun bukan berarti tidak ada wanita-wanita yang mengambil keputusan untuk melewati ritual pengorbanan diri, sekalipun harus terbuang dan diasingkan. Baik dalam kisah kehidupan nyata maupun tersurat dalam kisah klasik, sejarah mencatat wanita-wanita yang juga disebut Satya, sekalipun mereka tidak menjelang ajal dengan mengorbankan diri baik pada lidah api maupun di ujung bilah keris.
Tome Pires (1515) melengkapi catatannya dengan fakta-fakta akan mereka (para wanita) yang melewati sisa kehidupannya dalam kesendirian:
"Banyak wanita Jawa yang tidak menikah dan [tetap] perawan. Mereka hidup dan tinggal di atas gunung dan mengakhiri hidup mereka jauh di kedalaman hutan.
Sedangkan para wanita yang tidak membakar diri bersama dengan kremasi suaminya, menarik diri dalam kehidupan bermasyarakat dan berkumpul dengan wanita-wanita lainnya yang tidak melakukan ritual pengorbanan diri, hidup dalam keterasingan di suatu tempat yang jauh dari kehidupan normal.
Dikatakan bahwa ada sejumlah lebih dari seratus ribu wanita di Jawa yang mundur dari kehidupan normal, dan hidup dalam kesucian serta mati dalam keterasingan tanpa sekalipun melakukan interaksi sosial dan komunikasi dengan keluarganya."
Kisah-kisah dalam kidung dan kakawin pun menceritakan hal yang juga terjadi dalam kehidupan nyata, dimana para wanita yang memilih untuk tetap hidup, melanjutkan kehidupannya dalam kesucian dan kesendirian.
Seperti tertulis dalam kakawin Krsnantaka (abad ke 18), saat Krsna meninggal, para istrinya mengorbankan diri pada api kremasi, sedangkan mereka yang tidak melakukan pengorbanan diri di api kremasi dengan ketegaran dan keberanian melakukan "pengorbanan diri" dengan mundur menarik kehidupan mereka dari dunia luas dan menghabiskan sisa hidupnya dalam keterasingan.
 "Mari kita lewati kematian wanita-wanita yang berani dan loyal.
Sedangkan mereka para wanita yang memilih hidup, mengasingkan diri mundur ke dalam hutan.
Mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu, mereka mengikuti cara hidup orang bijak.
Mereka disebut satya karena mereka berpegang teguh kepada ajaran suci.
"
(kakawin Krsnantaka 23.2)

Ditayangkan pada KoKi (Kolom Kita), senin 2 November 2009.


Kepustakaan:
  • Ahmad, Nehaluddin “Sati Tradition - Widow Burning in India: A Socio-legal Examination”, 2009.
  • Creese, H, “Ultimate loyalties. The self-immolation of women in Java and Bali”, in: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Old Javanese texts and culture 157 (2001), no: 1, Leiden, p.131-166.
  • Geertz, Clifford, “Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali”, Princeton University Press, Princeton, New Jersey, 1980, p. 98-101.
  • Hallstrom, Lisa Lassell, “Mother of bliss: ?nandamay? M? (1896-1982)”, Oxford University Press, 1999, p. 56.
     
Sumber gambar:
  • Creese, H, “Ultimate loyalties. The self-immolation of women in Java and Bali”, in: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Old Javanese texts and culture 157 (2001), no: 1, Leiden, p.132, 145.
  • Wikimedia Commons, PD-ART.
    India, Himachal Pradesh, Kangra, South Asia from LACMA. Shiva Carrying Sati on His Trident, circa 1800 Painting; Watercolor, Opaque watercolor and gold on paper, 11 1/2 x 16 in. (29.21 x 40.64 cm) Made in: India, Himachal Pradesh, Kangra Purchased with funds provided by Dorothy and Richard Sherwood, Mr. Carl Holmes, William Randolph Hearst Collection, and Mr. Rexford Stead (79.1).
  • Wikimedia Commons, PD-OLD.
    The Bride Throws Herself on Her Husband's Funeral Pyre. Persian, Safavid period, first half 17th century. Attributed to Muhammad Qasim.

Perawan ?


Dimuat di KoKi Kolom Kita, Kamis, 11 Maret 2010.

Posted:
“Halo semuanya, kemarin saya mencoba melakukan senam gimnastik artistik untuk pertama kalinya dan saat saya berganti baju, saya melihat ada bercak darah pada celana dalam. Tapi  pada hari ini saya perhatikan, tidak ada lagi tetesan darah yang membercak.
Saya khawatir, apakah selaput dara saya robek? Apakah selaput dara saya benar-benar rusak? Bisakah diperbaiki? Atau sudah terlambat? Apakah saya sudah tidak perawan lagi?
Apa yang harus saya lakukan, tolong saya! Saya takut dan panik!
Apa yang akan saya katakan kepada tunangan saya? Masihkah saya perawan???”


Hal menarik dari orang tua, selalu merasa tau anaknya dan yang terbaik untuk anaknya,” kata-kata indah yang mengalir terketik dari kokier Malam a.k.a. Night membuat saya nyengir tersentak bagaikan kuda yang dipecut. Mengingat kembali saat “pemberontakan masa remaja”, kembali saya nyengir kecut, membenarkan Night, kalau orang tua selalu merasa tahu akan anaknya tanpa menanyakan terlebih dahulu apa sebenarnya yang ada di benak sang anak.

Paragraf pembuka diatas merupakan pertanyaan yang saya temukan dalam forum berbahasa Perancis untuk para remaja dan masalah-masalahnya. Forum yang berdomisili di Perancis tersebut berisikan berbagai macam informasi dan permasalahan seksual para remaja. Mengingat kembali kata-kata mutiara dari Night, saya mulai melihat-lihat forum-forum remaja seusia anak lanang saya, mencoba memahami dan mencerna permasalahan remaja di abad ke 21 ini.

Keperawanan



Permasalahan keperawanan bukan saja permasalahan milik orang Indonesia tapi juga (masih) merupakan permasalahan umum yang berlaku di seluruh belahan dunia ini. Sekalipun mungkin banyak yang beranggapan kalau para “bule” tidak ambil pusing dengan keperawanan, namun di banyak kota-kota kecil yang tersebar di Eropa, keperawanan masih dianggap sebagai hal yang utama.

Salah satu remaja yang menjawab pertanyaan diatas berpendapat bahwa keperawanan sama dengan kesucian (pureté). Kesucian yang berarti harga diri mereka tidaklah semurah dengan bercinta hanya berdasarkan keingintahuan ataupun rasa penasaran belaka. Masih banyak para remaja bule tersebut yang memimpikan saat-saat pertama kali bercinta dengan orang yang benar-benar mereka cintai dan membuktikan bahwa lelaki tersebut adalah yang pertama (dengan harapan yang terakhir) yang membuat darah keperawanan mereka menetes keluar.

Namun bagaimana dengan kasus diatas? Selaput dara gadis itu terkoyak karena melakukan aktivitas olahraga. Dirinya menjadi kalut dan bingung. Kepanikan menjalari dirinya, percayakah sang tunangan kalau selaput dara tersebut koyak bukan karena kopulasi?
(jangan berharap mereka mengenal Gigimo, sekalipun internet menjadi “makanan” mereka sehari-harinya, namun Gigimo tidak tercantum dalam kamus pergaulan mereka).

Beberapa remaja menjawab dengan tegas bahwa gadis tersebut masih perawan, selama alat kelamin pria tidak berprenetasi. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa keperawanan tidak diukur dengan setetes darah namun lebih menekankan kejujuran bahwa percintaan yang mereka lakukan memang untuk yang pertama kali dalam kehidupannya. Mereka mengatakan kepada gadis itu untuk memberitahu sejujurnya kepada sang tunangan kalau aktifitas olahraga telah mengoyak selaput dara sehingga ada kemungkinan gadis tersebut tidak akan meneteskan darah keperawanan pada malam pertama. Kalaupun tunangan dari sang gadis tersebut tidak mempercayainya, mereka menyarankan untuk memutuskan dengan segera hubungan tersebut dan tidak ada gunanya lagi meneruskan hidup bersama-sama dengan seorang lelaki seperti itu.

Namun, beberapa orang menjawab lain. BELUM tentu semua lelaki bisa mempercayai kata-kata tersebut. Apalagi bagi mereka yang hidup dalam lingkungan keluarga yang masih menganut pentingnya tetesan darah keperawanan. Bukan hanya kepada sang suami kelak sang gadis harus mempertanggungjawabkan keperawanan namun juga kepada keluarga dari kedua belah pihak lelaki dan perempuan. Ayah sang gadis akan merasa malu karena telah gagal mendidik anaknya menjadi wanita yang “mulia” sedangkan ayah sang lelaki merasa malu karena merasa telah menikahkan anak lelakinya dengan seorang perempuan murahan.

Obsesi terhadap keperawanan perempuan & Sodomi
Masalah keperawanan dan hubungannya dengan keluarga di kedua belah pihak yang kelihatannya hanya mungkin dapat ditemui di Indonesia, ternyata masih menjadi masalah utama, pada abad ke 21 ini di benua Eropa yang terkenal dengan kebebasan. Di beberapa tempat dan komunitas Eropa, keperawanan masih sama dengan kesucian. Sekalipun definisi perawan bagi sebagian jawaban remaja yang saya baca di forum ini adalah seseorang perempuan yang sama sekali belum pernah melakukan coitus, namun tetap saja tetes-tetes darah keperawanan masih menjadi mahkota sekaligus momok bagi para perempuan.

Salah satu dari para remaja di forum ini menjawab dengan pertanyaan, “ Mengapa ada begitu sedikit orang-orang yang memahami kami para perempuan? Mengapa tidak ada yang mempertanyakan keperawanan lelaki? Bahkan di luar konteks agama, keperawanan perempuan tampaknya memiliki kepentingan simbolis jauh lebih besar daripada para lelaki. Hal ini membuat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Obsesi akan keperawanan dalam kehidupan para sebagian kulit putih ternyata tetap menjadi masalah besar. Sekalipun di luar konteks agama, ternyata tetap saja arti tetesan darah keperawanan adalah prioritas utama dalam membangun satu hubungan, membuat mereka berusaha dengan berbagai cara untuk tidak terjadi pertumpahan tetesan darah sebelum waktunya. Berbagai cara dicoba dan ditempuh, sekalipun harus masuk dalam kategori ektrim yang tinggi.

Membaca lebih jauh posting-posting dalam forum ini, saya menjadi terbatuk-batuk kaget hampir terjengkang jatuh dari kursi rotan yang selalu berdenyit setiap saat. Sekali lagi saya ingatkan, Gigimo tidak populer dan bisa dikatakan tidak dikenal dalam kehidupan mereka, sehingga untuk mempertahankan pertumpahan darah, beberapa dari mereka, yang memang pada dasarnya ingin melakukan hubungan seksual belaka dengan dasar penasaran dan keingintahuan, nekat melakukan hubungan seksual dengan ber-sodomi ria!!!

Dalam bahasa perancis, untuk mendeskripsikan hubungan seksual ada 2 kata yang digunakan, faire l’amour (berhubungan seksual karena cinta/bercinta) dan baiser (berhubungan seksual dengan atau tanpa cinta). Umumnya mereka menulis perbuatan sodomi dengan menggunakan kata “baiser” yang berkonotasi lebih ke aktivitas hubungan seksual belaka yang dilakukan (kebanyakan) didasarkan oleh rasa ingin tahu dan mencari sensasi  dalam melakukan kegiatan seksual.

Masa-masa remaja dimana tingkat hormon meningkat dan sensasi kenikmatan mulai mengintip dari balik celana, rasa penasaran mulai melompat dan melonjak hingga mencapai ubun-ubun.  Berhubung keperawanan adalah mahkota yang (masih) harus ditenteng bersama dalam melakukan percintaan (faire l’amour), sedangkan ubun-ubun yang mulai “retak” terdorong oleh keinginan untuk menikmati sensasi kenikmatan seksual tidak mau menunggu malam pertama, maka pintu belakang pun dibuka “demi melindungi” tetesan darah dari gerbang utama...

Posted : Il m’a baisé hier soir et je suis encore vierge! (tadi malam dia meniduri saya dan saya tetap masih perawan)
Para pembaca...
Apakah gadis yang selaput daranya sudah terkoyak karena olahraga masih perawan?
Apakah gadis yang melakukan hubungan “pintu belakang” dan selaput daranya utuh, masih (disebut) perawan?


Penutup
Belum selesai membaca semua posting yang ada dalam forum itu, mata saya mulai berkunang-berkunang, kepala saya mulai cenat-cenut, sementara tenggorokan ini kering, setengah mati mencoba menelan dan menelaah situasi remaja di abad ke 21 ini. Rasanya, saya membutuhkan waktu sebentar untuk balik kembali menyepi di gunung setan (les Diablerets)...


Catatan kaki:
Dalam bahasa perancis, kata "enculé !" (terjemahan langsung: seks anal) merupakan kata makian yang paling kasar di Perancis. Pada abad ke 4, sejak kaisar Konstantinus berkonversi menjadi Kristen, perbuatan sodomi merupakan kejahatan besar dan pelaku tindak sodomi dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Beberapa waktu kemudian, perburuan pelaku tindak imoral dan para penyihir meningkat dengan drastis. Untuk menghukum mereka, para tersangka dijatuhkan dakwaan sebagai pelaku tindak sodomi dan dibakar hidup-hidup.
Lama-lama, penggunaan dakwaan tindakan sodomi disalah gunakan untuk menyingkirkan lawan ataupun orang-orang yang tidak disukai, sekalipun dengan posisi penting dan kedudukan kuat dengan adanya tuduhan melakukan sodomi, mereka tidak akan luput dari hukuman.
Pada saat itu, jika seseorang memaki dengan kata “enculer” maka  resiko yang dihadapi oleh orang yang dimaki dapat berakibat hukuman di bakar hidup-hidup. 


Images: Junita Arneld Photograpy

The Devil in Marge Simpson

The Devil in Marge Simpson
Ditayangkan di KoKi Kolom Kita, selasa 27 Oktober 2009
http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/2/933/the_devil_in_marge_simpson

Mendengar dan membaca gonjang ganjing kisah biru Miyabi di layar biru, tidak dapat kukatakan betapa besar ketidaktahuanku akan wanita “be-biru ria” ini. Namun, kuakui ada satu wanita berambut biru, yang sangat kukenal dan sempat tergila-gila dengan perannya di layar berwarna tidak hanya biru, namun didominasi oleh warna kuning dan warna lain-lainnya.

Wanita berambut sasak tinggi berwarna biru yang kukenal dan pernah tergila-gila menunggu kehadirannya di layar berwarna lebih dari biru adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai seorang suami yang kadangkala (sering) bolot, kadangkala galak namun baik hatinya, seorang anak lelaki yang tobat-tobat kekreatifitasannya yang ngalmost menjurus pada anarkisme namun masih bisa terkendali dan terarah, seorang anak perempuan yang fanatik dengan saxophone dan mempunyai idealisme yang bongsor sehingga dikenal sebagai model tokoh feminist, serta seorang bayi perempuan yang selalu sibuk berjalan-jalan (pagi, siang, sore dan malam) dengan trademark dot di mulutnya yang mungil.


Wanita berambut sasak tinggi berwarna biru dan berpenampilan kalem serta terlihat bijaksana dan mampu membuatku tergila-gila, kini membuatku berteriak kencang, “Gila!!!” Asli gila karena debutnya yang terakhir mampu melontarkanku dengan cepat dari kursi rotan tua yang sering berdenyit-denyit saat aku duduk gugup menulis hasil penelitian. Judul yang tertulis besar-besar pada cover majalah kelinci berdasi a.k.a Playboy yang terpampang di layar monitor, meninjuku dengan telak! “The Devil in Marge Simpson”


Ada apa dengan keluarga Simpson yang telah bertahta selama 20 tahun sehingga rela membiarkan Marge Simpson “menjual kejalangannya”, yang hanya dikeluarkan bertahun-tahun di depan Homer, kepada publik, berpose sensual pada majalah Playboy yang menjadi konsumsi publik lelaki seantero dunia?

Ada apa dengan majalah Playboy yang terkenal dengan para model dari jaman dulkiplik seperti Marlyin Monroe, Ursula Andress, hingga Kim Basinger, LaToya Jackson, Ashley Harkleroad, dan masih banyak lagi para wanita-wanita cantik tersenyum menggoda dalam majalah milik sang kakek, Hugh Marston Hefner, sehingga kemehek-mehek menggaet Marge Simpson, yang idem ditto tokoh seorang ibu rumah tangga dalam keluarga bizzare the Simpson, untuk menjadi top model dalam cover terbitan November 2009?

Mengutip berbagai sumber yang berceloteh di dunia internet, alasan yang dikemukan oleh pihak The Simpson dalam melakukan gebrakan di dunia Playboy ini adalah untuk menyambut ulang tahun keluarga The Simpson yang keberadaannya sudah bercokol langgeng bebas perceraian selama 20 tahun.

Sekalipun dengan alasan ulang tahun ke 20 dari sebuah film seri kartun yang memang layak diakui kekuatannya bertahan ditengah gempuran berbagai film seri kartun era abad ke 21 terutama film-film dari negara Matahari Terbit, namun keputusan untuk “menjual” Marge Simpson pada majalah yang (hanya) memberikan mimpi-mimpi akan bahagianya menjadi wanita cantik dan seksi idaman setiap pria, membuat saya menangkap kesan satir atau mungkin lebih tepat lagi jika saya mengatakan akan adanya depresi dalam diri Marge yang dalam kehidupan sehari-harinya sering diremehkan oleh suami dan anak lelakinya karena sikap dan sifatnya yang sederhana.

Dalam salah satu cerita yang saya baca mengenai episode The Simpson, Marge menjawab pertanyaan Lisa bahwa Sup Seleri juga merupakan hal yang bisa membuatnya bergairah.

Selain sikap Marge yang tampaknya terlihat pasrah menjadi seorang istri dari Homer, cerita-cerita yang dituturkan dalam adegan antara Homer dan Marge pun banyak menggambar- kan akan adanya garis perbedaan gender yang lugas diterapkan, dimana Homer menganggap dirinya sebagai lelaki yang harus melakukan tugas yang selayaknya dilakukan sebagai seorang lelaki, sedangkan Marge sebagai seorang perempuan hanya bisa melakukan tugas yang sepatutnya dilakukan hanya oleh perempuan.

Jika suatu hari, Marge melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh lelaki, maka suaminya, Homer, akan berteriak keras menentang, karena jika Marge melakukan hal tersebut, maka Marge membuat Homer menjadi perempuan, dan hal itu sangat dibenci oleh lelaki berwajah persegi empat, Homer.


Terlepas dari siapakah (Homer atau Marge) yang memutuskan Marge menjadi cover majalah Simpson, satu hal yang pasti adalah mereka yang berada di balik dapur produksi The Simpson yang memegang palu keputusan untuk menggandeng majalah Playboy sebagai teman bersama untuk meniup lilin kesuksesan The Simpson selama 20 tahun.

Entah apakah motivasi ekonomi meraup pangsa pasar bersama antara pangsa pasar The Simpson dan pangsa pasar Playboy, tidak diketahui dengan gamblang, namun satu hal yang pasti telah diakui oleh pihak Majalah Playboy, bahwa pihak mereka memang berniat untuk menarik pangsa pasar baru.

Seperti yang dituturkan oleh pejabat eksekutif tertinggi (CEO) Playboy yang baru, Scott Flanders, pangsa pasar para pembaca berusia 20 tahunan merupakan lahan baru yang menggiurkan untuk diolah, setelah sekian lama mencangkul pada ladang pembaca berusia rata-rata 35 tahun ke atas.

Bukan hanya alasan itu saja yang diolah sedemikan manis oleh pihak Playboy, sang kakek pendiri kelinci putih, Hugh Hefner, mengatakan dengan adanya kerjasama pihak Playboy dengan The Simpson maka akan terjadi serangan kejutan yang mengagumkan untuk para fans berat Marge Simpson (termasuk saya yang langsung terbatuk-batuk, terkejut beneran, untungnya tidak terjatuh dari kursi rotan tua yang sudah menjadi kesayangan sejak dahulu kala).

Selain menempatkan Marge Simpson sebagai cover depan, mbah Hugh Hefner juga telah mempersiapkan model Victoria’s Secret yang aduhai, Alina Puscau. Dengan bangga ia menegaskan bahwa para penggemar yang sejati menginginkan kedua-duanya tampil dalam majalah kesayangan mereka. Dan untuk menyenangkan hati gundah gulana para penggemar The Simpson, mbah Hugh Hefner meyakinkan bahwa pemotret pose seksi menggoda Marge Simpson adalah Homer, suami Marge sendiri.

Sore ini saya melancarkan pertanyaan kepada Matt, bocahku satu-satunya,

“Matt, kamu sudah pernah nonton The Simpson kan? Masih ingat bagaimana rupanya Marge?”

“Hmm, iya ingat, yang rambutnya sering kepentok pintu masuk kan?”

“Iya, yang sasak rambutnya tinggi dan berwarna biru. Mmm, kamu tahu majalah Playboy?”


Pertanyaan apa sih? Iya,iya, aku pernah dengar tentang majalah Playboy. Ada apa sih? Kok tanya seperti itu?” jawab anakku dengan rasa gentar, seolah-olah saya sedang mencurigainya melakukan perbuatan diluar batas umurnya.

Ha ha ha, aku cuma mau tanya saja. Kamu tahu, kalau Marge Simpson menjadi cover majalah Playboy? Menurut kamu, Marge Simpson itu seksi atau tidak?”, tanyaku sambil menatap siap tertawa mendengar jawabannya.

Gila! Kenapa tokoh komik yang menjadi cover majalah? Lagipula kenapa yang diambil Marge Simpson, aduhhh... Sudah ah, jangan tanya-tanya lagi. Aku mau jjs dulu, mumpung matahari belum tidur” jawab Matt sambil geleng-geleng kepala, menganggap saya mungkin sudah jatuh gila, ha ha ha...
tanyaku lagi.


Gebrakan The Simpson tidak hanya berhenti di cover majalah Playboy, kembali untuk merayakan keutuhan bersama keluarga The Simpson selama 20 tahun, mereka akan mengeluarkan episode terbaru pada bulan November nanti dengan judul “THE DEVIL WEARS NADA” (setan yang tidak mengenakan apa-apa/telanjang), dimana Marge dan "Philanthro-Chicks" memutuskan untuk berpose untuk kalender dalam upaya mengumpulkan uang dalam suatu tindakan amal.



Hmm, sudah berapa tahun aku tidak menonton keluarga The Simpson? Mungkinkah The Devil Wears Nada akan menggerakkan diriku memelototi kembali Homer dan keluarganya? Ahhh tunggu nanti saja, bulan depan...

Salam sayang buat KoKiers dari “The Devil don’t Wear Prada”

Arita - CH
Sumber gambar:
  1. http://hollywoodindustry.digitalmedianet.com/articles/viewarticle.jsp?id=867757
  2. http://simpsons.wikia.com/wiki/The_Devil_Wears_Nada

Do Ghosts Live in Your House? (Bagian 2)

Suatu malam di tahun 1987.
Kuberjalan ditengah malam yang buta, bermodalkan lampu senter byar pet plus sinar rembulan yang kadang ada kadang hilang tertutup awan. Kami berempat, aku dan tiga orang teman serdadu wanita, susah payah membaca peta lokasi, mencari pos-pos pemberhentian yang harus kami hampiri. Malam itu merupakan salah satu malam dari malam-malam dimana kami digembleng untuk menjadi Resimen Mahasiswa Jayakarta. Malam – malam dimana kami harus tertatih bangun untuk belajar mengenal situasi dan medan perang. Belajar untuk bisa hidup dan berjuang dalam kesengsaraan di tengah hutan tanpa bantuan siapapun, hanya mengandalkan kerjasama kelompok. Kelompok yang harus dilem erat dengan rasa percaya dan kebersamaan, agar semuanya berhasil lulus dalam menghadapi rintangan apapun.
Malam itu, sudah 3 pos yang kami kunjungi, pada setiap masing-masing pos kami harus menyampaikan berita beruntun yang tidak boleh disimpan dalam bentuk tulisan. Berita-berita tersebut merupakan berita rahasia, sehingga kami harus mengingatnya dengan tepat dan jelas, tanpa merubah satu katapun. Kini, tinggal 3 pos lagi yang harus kami kunjungi. Pos yang ke empat terletak tak jauh dari pos yang ke 3, namun untuk tiba disana kami harus melewati pemakaman umum yang terletak di ujung kampung, terpisah jauh dari peradaban manusia hidup, kami harus menyeberangi peradaban manusia mati, untuk bisa tiba ke peradaban manusia hidup.
Samar-samar bau keras kemenyan mendesak hidung kami, suara burung hantu terdengar dalam dan parau, separau tenggorokan kami yang sudah mulai kering kehabisan air. Beberapa temanku mulai merapat satu dengan lainnya, kami berjalan beriring-iringan dempet memepet seolah tidak cukup ruangan disekitar kami. Dengan menggendong ransel seberat 5 kg dan menyandang senapan Gerund buatan tahun kuda gigit besi, ditambah rasa lelah yang membengkak, aku merasa kesal terhimpit bagaikan tangkupan roti.
Tiba-tiba, suara parau burung berhantu mulai tergantikan dengan suara lengkingan tinggi, terdengar berasal dari semak belakang kuburan. Kami berempat berhenti sejenak, saling memandang satu sama lainnya. Temanku yang menjadi ketua kelompok, segera mengambil kertas perintah yang diserahkan sejak awal perjalanan oleh komandan Kompi, kertas yang berisikan perintah-perintah yang harus kami lakukan pada tempat-tempat yang telah dipilih. Dalam kertas tersebut tertulis, kami harus mencari satu kuburan yang diterangi oleh pendar sebatang lilin kecil, mematikan lilin tersebut, menabur bunga pada kuburan, membaca nama yang tertulis pada nisan, menghapalnya, lalu menyalakan sebatang lilin kecil yang baru, kemudian meneruskan perjalanan. Sebuah pekerjaan yang mudah, kecuali menghapal nama, bagiku sudah terlalu banyak yang harus dihapalkan pada satu malam yang melelahkan. Otakku mulai kelebihan beban, mengingat-ingat paragraf berita rahasia, ditambah lagi nama dari sebuah nisan, oooh!
Mau tak mau kami mulai melakukan pencarian, mencari satu makam dengan sinar dari sebatang lilin kecil, sementara itu, suara lengkingan berubah menjadi rintihan kesakitan mengiris telinga. Kami berempat berjalan cepat meneruskan pencarian, tak sabar untuk segera melewati peradaban manusia mati. Tiba-tiba mata kami terarah ke tengah-tengah komplek pemakaman, diantara deretan nisan yang berjejer tidak teratur, persis ditengah – tengah area, dibawah pohon beringin yang besar, berdiri rindang dan menantang, cahaya lilin lamat-lamat melambai-lambai ke arah mata kami berempat. Kembali kami berempat saling berpandangan satu dengan lainnya, seolah mencari-cari alasan untuk menghindari langkah yang harus kami ayunkan, langkah untuk melewati nisan demi nisan, kuburan demi kuburan untuk tiba di tengah-tengah, dibawah pohon beringin, didepan pendar lilin kecil.
Ketua kelompok kami menganggukkan kepala, tanda kami harus segera melangkah menuju tempat tersebut, dengan setengah berlari kami berjuang untuk mencapai tempat tersebut secepat mungkin. Tak henti-hentinya saya mengucapkan kata maaf berkepanjangan karena tak sempat lagi mengatur langkah untuk tidak melompati atau tidak menginjak “rumah” manusia mati. Suara parau burung hantu kembali terdengar, disambut oleh dengkingan tinggi suara yang merintih, semakin lama, suara dengkingan tersebut berubah menjadi suara tangisan lirih. Kucoba mematikan syaraf pendengaranku, seperti aku mengecilkan volume televisi saat menonton film “Shining”nya Stanley Kubrick, namun tampaknya aku tak terlalu berhasil, ku tak dapat menemukan “tombol mute” di telingaku.
Jantungku berdegup kencang, dentuman demi dentuman memompa alirah darah semakin cepat dan cepat. Tampaknya aku tidak sendirian tersiksa oleh lecutan suara yang bersambung-sambung antara suara parau dan suara lengkingan berganti-ganti dengan rintihan dan tangisan kesakitan. Kaki kami akhirnya tiba di hadapan makam yang diterangi pendaran sinar lilin. Segera kami meniup lilin tersebut dengan kencang bersama-sama, seolah meniup lilin kue ulang tahun. Bunga kutaburkan di atas makam. Ah tidak! lebih cocok jika dikatakan aku membuang cepat semua bunga-bunga beserta kantung plastiknya. Bersama-sama kami melafalkan dengan keras nama yang tertulis di nisan, menghafalnya erat-erat lalu segera kami meletakkan lilin kecil yang baru. Frekuensi suara –suara parau, dengkingan, tangisan semakin meninggi dan semakin sering kami dengar. Ditambah lagi bau kemenyan yang keras bergantian dengan wangi mawar yang mulai menohok syaraf penciuman kami.
Ketua kelompok kami tidak berhasil menyalakan lilin, tangannya yang bergetar selalu menjatuhkan lilin setiap kali dia berhasil membakarnya. Sementara kami mulai membentuk lingkaran punggung dengan punggung. Kami tidak rela membiarkan punggung kami dijawil oleh sesuatu yang tidak masuk dalam kelompok kami. Aku mulai tidak sabar dan setengah berteriak kepada ketua kelompok untuk segera menyalakan lilin tersebut dengan benar, namun rupanya bentakanku membuat ia semakin gugup dan mengalami kesulitan untuk menyalakan korek api gas, seolah-olah ada angin yang selalu meniup mati nyala api yang keluar.
Suara percikan api terdengar semakin cepat, namun tidak ada api yang mau membantu kami menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat. Ketua kelompok mulai komat-kamit berdoa, memohon ampun dan maaf kepada nisan yang diam membisu. Beberapa temanku mulai menangis, bahkan mulai berteriak histeris memanggil-manggil ibu mereka, memohon pertolongan sesegera mungkin. Kepanikan mulai membanjiriku, melumpah ruah dalam jiwaku. Kutatap lekat ketua kelompok yang masih berjongkok komat kamit berdoa didepan nisan, lalu kuberteriak kencang untuk menyadarkan dia, untuk segera menyalakan lilin dan pergi dari tempat tersebut secepat mungkin, namun teriakanku hanya teriakan lolongan di tengah malam buta nan pekat, ketua kelompok kami terjatuh pingsan, sedangkan kedua temanku mulai meracau tak karuan, menangis-nangis di tanah, ketakutan tak terkira.
Suara parau burung hantu, suara dengkingan yang tinggi serta tangisan histeris teman-temanku memecah malam kelam. Dunia peradaban manusia mati mendadak hingar bingar dengan berbagai macam pekak jenis suara, memekakkan telinga, membuatku berpeluh keringat dingin, tertiup angin malam yang lembab. Saat aku nyaris terjatuh dalam ketidaksadaran, aku teringat kembali akan “mantera” dari ayah: tidak ada orang yang mati karena hantu, yang ada adalah banyak orang yang mati karena dihantui rasa takutnya sendiri.
Rasa panas kemarahan meradang cepat dalam diriku, mendidih menyerang otakku membabi buta, gemeletuk gigi menahan kemarahan tidak dapat kutahan lagi, aku berteriak dengan kencang, sekencang-kencangnya, lalu berlari kearah suara parau burung hantu dan suara dengkingan yang semakin tinggi dan tinggi.
AAAAAA!!! Ku ayunkan senapan Gerund buatan entah tahun berapa ke arah semak belukar. Kuteriakkan kata-kata panas mengusir pergi suara-suara tersebut, “Pergi, pergi! Kalian tidak bisa membuatku mati! Kalian tidak sama dengan aku! Dunia kalian tidak sama dengan dunia ku! Aku tidak akan membiarkan kalian memasukiku! Aku tidak akan mati ketakutan! Pergi, pergi! Jangan ganggu kami!!!” Kupukulkan senapan Gerund ke semak belukar, kuayunkan sekuat tenaga berkali-kali. Prak, prak prak! Suara semak belukar pecah terpukul hentakan senapan Gerund yang berat. Saat itulah aku mendengar suara yang lain, bukan suara parau ataupun dengkingan tinggi. Bukan hanya suara prak, prak, prak, semak belukar. Namun suara teriakan yang mengaduh, suara teriakan kesakitan seorang lelaki!
“ADUH! Hentikan, hentikan. Stopppp! Kamu bisa membunuhku!!!”
Kuhentikan ayunan senapan Gerund, kukeluarkan senter kecil dari kantung celanaku. Kusorot bayangan didepan mataku, terlihat seseorang berpangkat kopral menatap garang diriku, lalu bermunculan bayang-bayang hitam lainnya dari balik semak belukar, mendekat membentuk wujud manusia dan salah satunya,... kukenali sebagai seniorku. Aku terpana menganga, mulutku terbuka lebar. Mantera ayah memang mantera terbaik yang paling manjur!
Februari 2007
Penduduk desa tempat kami melakukan penelitian menyiapkan pesta perpisahan. Aku dan suamiku yang bertugas sebagai peneliti, menatap haru akan kebaikan hati dan keramah tamahan penduduk terhadap kami. Kesabaran mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, serta ketelatenan mereka membantu kami, - yang kadangkala terlalu bersikap alla “orang kota” -, untuk beradaptasi, membuat hutang budi yang kami tanggung semakin menggunung. Ditambah lagi pesta perpisahan yang bagi kami merupakan kemewahan yang tak terhingga, digelar dengan tulus dari penduduk desa yang sederhana.
Usai makan malam, kepala desa menyerahkan kepada kami sebuah ukiran kayu berbentuk kapal. Ukiran tersebut dibuat 10 tahun yang lalu dan biasa digunakan untuk mengobati penyakit. Dengan tidak adanya dokter yang rela bermukim di desa yang harus ditempuh berjalan kaki 2 hari 2 malam, membuat desa ini hanya mengenal “dokter” tradisional. Ada kalanya “dokter” tersebut bisa menyembuhkan penyakit, namun tidak jarang juga mendapati pasien yang sudah sekarat tidak mampu tertolong lagi. Ukiran kayu berbentuk kapal tersebut digunakan untuk “menjemput” pulang roh manusia sakit yang tersesat. Dipercayai, manusia jatuh sakit karena jiwanya yang “tersesat”. Hmmm, aku berkata dalam hati, rasa-rasanya di kota-kota besar lebih banyak orang yang mengalami penyakit ini. Orang-orang yang sengaja menyesatkan jiwanya dan jiwa orang lain, demi kepentingan pribadi.
Kami berdua menerima ukiran kayu hitam berbentuk kapal tersebut dengan senang hati, lalu mengucapkan terima kasih setulusnya. Hadiah tersebut kami bungkus dengan hati-hati dan suamiku membawa sendiri hadiah tersebut selama perjalanan. Saat kami tiba di kota yang pertama kami temui, kami mencari losmen untuk menginap semalaman. Letih dan lelah berjalan kaki serta menginap di hutan, membuat kami ingin merasakan sedikit kemewahan akan nyamannya kasur.
Dengan hati-hati suamiku meletakkan hadiah ukiran kapal di atas meja tulis, tepat di depan tempat tidur, lalu bersiap-siap untuk beristirahat. Kami berdua sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk menyantap makan malam, yang ada dalam benak kami adalah segera mencium bantal dan terlelap di alam mimpi.
Tengah terlelap dalam tidur yang dalam, tiba-tiba aku merasa kekeringan yang sangat. Tenggorokanku seolah berada diatas panas api yang membakar. Kubuka kedua belah mataku, tanganku menggapai gelas air putih yang berada pada meja kecil sebelah tempat tidur. Saat kuraih ujung gelas, ujung mata kiriku menangkap sesuatu dari arah meja tulis, tepat di depan tempat tidur. Kubalikkan badanku menatap lurus ke depan, mencoba mengatur fokus mata yang masih setengah terpejam. Dengan sinar terang bulan yang menerobos dari sela-sela lubang angin, kutangkap bayangan meja tulis dengan jelas. Diatas meja tulis tersebut, masih berdiri tegak ukiran kayu berbentuk kapal, hadiah dari penduduk desa. Tidak ada yang aneh ataupun sesuatu yang berubah, hanya saja...
Disebelah kanan meja tulis, dimana ukiran kayu berbentuk kapal berdiri tegak, suatu bayangan hitam berdiri tegak menatapku lekat. Ku buka mataku lebih lebar untuk melihat dengan jelas, seluruh indera syaraf kukerahkan untuk bisa mencerna lebih jauh lagi. Sosok hitam tersebut kini terlihat menjadi sosok seorang lelaki tua yang membawa tombak. Matanya menatap tajam, namun tidak ada kesan jahat ataupun kesan kemarahan. Dengan berpakaian celana panjang serta kemeja berlengan pendek, ia hanya berdiri diam menatapku tak terlekang. Aku menarik nafas panjang lalu menghela perlahan, kutatap balik wujud tersebut dan berkata dengan tenang,
“Pergilah. Aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Dunia kita berbeda dan terpisah, kau dan aku tidak bisa bersatu. Pulanglah dan beristirahatlah. Tugasmu telah selesai.”
Kutatap lekat tak bergerak, bayangan tersebut mulai mengabur dan menipis, lalu perlahan hilang. Terbawa desiran angin yang keluar dari sela-sela lubang angin. Kini dihadapanku hanyalah sebuah meja tulis dengan ukiran kayu berbentuk kapal, masih tegak berdiri. Ku teguk air putih dari gelas yang hanya kupegangi sejak tadi, lalu kembali membaringkan kepalaku. Hari-hari esok yang melelahkan masih panjang. Aku butuh tidur cukup.
Keesokan paginya, kami berdua sarapan di kedai warung tak jauh dari losmen. Suamiku terlihat segar tanda tidur yang cukup, sedangkan aku masih terkantuk-kantuk, rasanya aku masih membutuhkan 10 gelas kopi tubruk. Sambil mengunyah nasi kuning, suamiku menatapku dan bertanya akan kekantukkanku yang kental, jauh lebih kental dari kopi dihadapanku. Kukatakan sambil mengaduk-aduk kopi, kalau aku masih membutuhkan jam tidur yang panjang. Sesuatu telah memperpendek masa tidurku.
“Kenapa? Kamu mimpi buruk?” tanya suamiku.
“Ah entahlah. Mimpi atau bukan, yang pasti aku jadi tidak cukup tidur”, jawabku sambil memesan satu lagi kopi tubruk.
“Aku juga semalam bermimpi. Ah tidak, aku jadi tidak yakin apakah itu mimpi atau kenyataan” kata suamiku sambil menghabiskan nasi kuning.
“Eh? Kamu mimpi apa? Ah maksud ku, kamu melihat sesuatu? Sesuatu yang nyata tapi tidak nyata atau sesuatu yang tidak nyata tetapi nyata” sontak aku menjadi penasaran. Kutunggu ia menghabiskan kunyahan terakhir nasi kuning, lalu mencuci tangannya di dalam mangkok kaca berisikan air bening.
“Entahlah itu nyata atau tidak. Aku merasa semalam ada seseorang lelaki membawa tombak, menatap dan memperhatikan kita. Aku tidak tahu apakah aku bermimpi atau tidak, namun aku terlalu lelah untuk mencerna pandangan tersebut, akupun kembali terjatuh dalam tidur” jelas suamiku sambil melap tangannya yang basah.
Aku teringat apa yang tejadi semalam, dan tampaknya malam itu kita berdua mempunyai mimpi yang sama, ah... atau tepatnya malam itu kita berdua mengalami hal yang sama hanya saja tidak pada waktu yang bersamaan. Kami berdua sama-sama melihat wujud seorang lelaki menyandang tombak, pada malam yang sama. Kuceritakan kejadian yang kualami pada malam itu, suamiku terbelalak keheranan, lalu menghela nafas.
“Selama dia tidak mengganggu kita berdua, biarkan saja dia di alamnya. Kamu benar, alam dia dan alam kita berbeda. Biarkan dia hidup terpisah di alamnya” suamiku lalu berdiri dan merogoh kantung kemeja, membayar makanan dan minuman yang kami santap.
Aku menghela nafas, hmmm... rasanya aku akan mengalami lagi hal-hal seperti ini di masa mendatang. Ku bangkit berdiri berjalan menuju kearah losmen bersama suamiku.
2009
Sontak tersentak aku dari lamunanku. Getaran buzz dari yahoo messenger menggoyangkan layar komputer. Ah..., kutatap halaman MukaBuku (FB) dihadapanku, tulisan tersebut masih ada dilayar. “Do ghosts live in your house? Not the harmful ones.”
Yeaa...not harmful ones lah. Kututup halaman MukaBuku, kubaca pesan yang tertulis di YM dari salah satu sahabatku,
“ woi! Sudah nonton Ju On yang terakhir?”
Kubalas pesan tersebut dengan pertanyaan “yang mana? Ju-on: Shiroi Roujo atau Ju-on: Kuroi Shoujo?”
“Dua-duanya. Sudah lihat belum?”
“Belum! Bagaimana? Seru nggak? tanyaku lagi
“Ya mana gue tahu, justru gua nanya elo dulu. Kalau elo bilang jelek baru gue tonton, kalau elo bilang bagus, gue ogah nonton” jawab sahabatku dengan menampilkan emoticon nyengir kuda.
“Halah! Semprul! Elo kira gue ini barometer film horror yeee?” jawabku gondok.
Lah kan elo yang sering nonton film horror buat relaksasi. Dari seluruh teman yang gue kenal, cuman elo yang bisa tidur ngorok sambil nonton film horror” sanggah temanku dengan emoticon meleletkan lidah.
“Sudah ah, sudah tengah malam nih. Gue ngantuk” jawabku sambil menampilkan emoticon melambaikan tangan.
“Halah kutu! Gue jadi sahabat elo sudah sejak jaman kuliah, mana pernah elo tidur jam 00:00 teng. Boong nih yee...hihihi. Ok deh, sudah jam 5 pagi disini. Gue kudu mandi, hari senin hari macet nih. Dag temannn” sahabatku melampirkan emoticon ciuman lalu terlihat tanda offline di profilenya.
Aku tersenyum sendirian, kutatap suamiku yang sudah terbaring nyenyak dengan hembusan nafas teratur. Ah indahnya tertidur dengan nyenyak, pikirku. Namun saat aku hendak “membunuh” komputer, tiba-tiba aku teringat, ada file movie “Ju-on: The Grudge” dalam komputer. Ahhh, bagaimana ya cerita film itu? Aku kok sudah lupa. Kupasang headphone di speaker komputer lalu kubuka file “Ju-on: The Grudge”. Musik pembuka filmpun bergema memenuhi kedua daun telingaku,

“Dringgggg...............
Crappy thing is coming,
The long hair is twisting around the neck
And the innocent face opens her eyes wide
Do ghosts live in your house?

Ah no, not the harmful ones
Since the harmful ghosts stay still in the movie!”

Arita-CH