Showing posts with label Passion. Show all posts
Showing posts with label Passion. Show all posts

Snow Drive with Mercedes-Benz

Snow Drive with Mercedes-Benz
22.11.2008.
The Devils of Les Diablerets (Part 2)

Menurut ramalan cuaca, setelah puas mengangon sapi di atas gunung pada musim panas, kini tiba saatnya untuk menurunkan sapi-sapi ke bagian bawah lembah. Angin dan arus dingin yang berhembus, mulai menurunkan bintik-bintik salju, menghempas pohon-pohon yang bergeming ditinggal daun-daun berguguran. Warna alam berubah menjadi terang benderang, asyik bercengkrama dengan si putih salju. Aspal jalanan yang berwarna abu mengeras, terlihat melembut terselimuti lapisan es yang semakin hari semakin menebal.

Namun kelembutan yang terlihat pada kasat mata, tidaklah selalu selembut pandangan mata saat kita bersentuhan secara fisik. Kelembutan yang putih bisa menjadi sumber bahaya, kelembutan yang mengeras dengan titik beku dibawah nol sering menawarkan risiko kecelakaan yang berakhir dengan kematian.

Kesenangan dalam/akan kehidupan serta kematian, menjadi acuan yang layak dipelajari oleh siapapun, termasuk mereka yang bergerak di sektor otomotif. Cuaca yang tak setia dengan pilihannya sering membuat manusia kesal dan bahagia, menangis dan tertawa. Kadang sang cuaca bernyanyi manis dengan matahari yang selalu bangga dan dermawan membagi-bagikan sinar panas secara gratis tanpa bayaran ataupun tambahan pajak, namun sering juga sang cuaca berselingkuh dengan hujan es dan badai salju, yang juga turut dermawan menggelegar keras menghentak hingga melongsorkan “secuil” bagian lembah di tengah jalan raya.

Situasi cuaca yang sering kritis, karena cuaca buruk dapat muncul begitu saja, datang tak diundang, pergi tak diantar, menjadi salah satu alasan bagi perusahaan otomotif Mercedes-Benz di Swiss untuk melakukan acara Snow Drive bagi para pemilik mobil Mercedes-Benz. Program “Alpines Training” memberikan tawaran ekslusif, dengan segala jenis tantangan berkendara berbagai jenis kelas mobil, dan mengundang klien Mercedes-Benz untuk berpartisipasi secara gratis/cuma-cuma. Suatu program pengenalan sistim elektronik, termasuk ABS (anti-lock braking system) dan ESP (Electronic Stability Program), serta kesempatan untuk mempelajari lebih dalam lagi akan keuntungan-keuntungan yang didapat pada mobil-mobil yang diproduksi oleh Mercedes-Benz. Point tambah dari program ini adalah diadakannya kesempatan untuk menguji kekhususan dari berbagai mode pelatihan didalam kondisi nyata, secara bertahap menghadapi tantangan demi tantangan dengan tenang dan percaya diri.

Dalam program ini, klien diberikan kesempatan untuk menguji berbagai jenis tipe/kelas dari mobil Mercedes-Benz, yaitu kelas:
A, B, C, CL, CLC, CLK, CLS, E, G, GL, M, R, S, SL, SLK.

Welcome to Les Diablerets

Program Alpine Training yang diadakan di Les Diablerets, tepatnya di Col de la Croix pada ketinggian 1750 m, adalah satu-satunya program simulasi yang dilakukan dengan kondisi keadaan yang real/nyata, pada jalanan umum yang menanjak, dan berliku-liku. Suatu program simulasi yang digelar untuk menghadapi keadaan jalanan yang sesungguhnya, sehingga dapat memberikan hasil yang optimal dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Ada empat tahap/pos yang didirikan untuk menguji kendaraan:
  • Pos 1: Starter dan manuver mobil, slalom test. Dilakukan pada ketinggian 1100 m.
  • Pos 2: Stabilitas dan sistim rem mobil.
  • Pos 3: Penggunaan sistim 4 Matic.
  • Pos 4: Khusus untuk kendaraan berpenggerak ganda disegala medan di jalanan bersalju. Dilakukan pada ketinggian 1750 m.

Para instruktur dan para peserta program.

Para instruktur dan para peserta program.

UNIMOG ("UNIversal-MOtor-Gerät")

UNIMOG ("UNIversal-MOtor-Gerät"), dengan sistim mesin hidrolik bertransmisi 27 (speed transmission), mempunyai 4 rantai penggerak. Unimog berfungsi untuk membelah salju dan meratakan jalan dari pecahan salju yang terbelah.



START menuju pos pertama.

START. Menuju pos pertama...

CLS 500 (harga mulai dari CHF 86 100.-).

CLS 500 (harga mulai dari CHF 86 100.-).

CLS 500 (harga mulai dari CHF 86 100.-).

CLK 350 Cabriolet (harga mulai dari CHF 70 200.-).

CLK 350 Cabriolet (harga mulai dari CHF 70 200.-).

E 280 CDI, slalom test (harga mulai dari CHF 83 900.-).

E 280 CDI (harga mulai dari CHF 83 900.-). Slalom test.

-------------------------------------------------------------------------------------------

POS 4. Khusus untuk kendaraan berpenggerak ganda disegala medan di jalanan bersalju. (Ketinggian 1750 m).

G 400 CDI berpenggerak ganda, menuju pos ke 4.

G 400 CDI berpenggerak ganda, menuju pos ke 4.

ML 350 (harga mulai dari CHF 83 900.-)

ML 350 (harga mulai dari CHF 83 900.-)

ML 500 (harga mulai dari CHF 104 554.-)

ML 500 (harga mulai dari CHF 104 554.-)

G 400 CDI (harga mulai dari CHF 106 300.-)

G 400 CDI (harga mulai dari CHF 106 300.-)

Pos ke 4. Uji coba kendaraan berpenggerak ganda pada medan berat bersalju. (Ketinggian 1750 m).

Pos ke 4. Uji coba kendaraan berpenggerak ganda pada medan berat bersalju. (Ketinggian 1750 m).

Pergantian pos.

Pergantian pos.

Pos ke 1: Starter dan manuver mobil/slalom (ketinggian 1100 m).

Pos ke 1: Starter dan manuver mobil/slalom (ketinggian 1100 m).

Slalom test.

Slalom test.

Kembali ke hotel.

Kembali ke hotel.

Acara selanjutnya, makan malam bersama. It’s raclete’s time!
Selamat makan...!

Note: Program ini juga terbuka untuk umum. Formulir pendaftaran uji coba mobil, bisa didapatkan pada website Mercedes-Benz Swiss, dengan biaya CHF 500.- per orang.

(http://www.mercedes-benz.ch/content/switzerland/mpc/mpc_switzerland_we_events.0002.html)
Arita - CH

Binatang Jalang

Binatang Jalang

14.07.2008.

Dear Zev & Kokiers,

Suatu hari, sewaktu saya masih S.M.A, saya bersama dengan konco-konco kelas menjalani hukuman, berjemur ria di tengah lapangan. Di hadapan kami, kepala sekolah mondar-mandir sambil mengacungkan tongkat komando, berdakwah dengan lantang.

“Kalian semua adalah generasi penerus bangsa, harapan bangsa!

Tapi, coba lihat tingkah laku kalian..., ck ck ck ...persis binatang jalang!”

Sambil mendengarkan kepala sekolah yang terus sibuk meng-grendeng, saya termenung di tengah sengatan terik matahari, mendengar sebutan binatang jalang. Tersentak dengan dentang bel, tanda tiba saatnya pulang, sejenak ingatan terantuk dengan puisi Chairil Anwar, kala membaca SEMANGAT, kala saya “tergila-gila” menyamakan diri dengan tokoh binatang jalang versi Chairil Anwar.

Chairil Anwar, lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal dunia di Jakarta dalam usia yang belia (27 tahun) pada 28 April 1949. Dengan hanya berpendidikkan formal kelas 2 MULO, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta pada tahun 1940, pada usia 18 tahun.

A.H. Johns, dalam tulisannya yang berjudul “Chairil Anwar: An interpretation”, mendeskripsikan Chairil Anwar sebagai seorang seniman yang mempunyai kepribadian yang lain daripada yang lain, arogan, eksentrik, terbakar dengan pemikiran daya hidup, ia menerjunkan diri bulat-bulat tanpa sehelai keraguan, ke dalam setiap kancah kesempatan pengalaman yang terpampang di hadapan. Bagi Chairil Anwar, standar, derajat dan status sosial hanya merupakan embel-embel pemisah ciptaan manusia belaka. Derajat dan status sosial tidak seharusnya mempengaruhi tingkatan rasa hormat, karena semua sama belaka, baik seorang presiden maupun seorang abang becak. Ia memandang norma-norma sosial kehidupan yang ada sebagai penguat dan pendukung kemunafikan, sehingga, ia memilih untuk “menghancurkan diri sendiri” daripada menerima norma-norma tersebut. Dengan dedikasi diri seutuhnya kepada seni, Chairil Anwar masuk ke dalam karakter Bohemian, seniman penganut kebebasan mutlak. Sekalipun, pola kehidupan yang tidak stabil merupakan bagian dari prinsipnya, namun ketidakstabilan tersebut merupakan juga bagian dari suatu persona, suatu topeng untuk menyembunyikan identitas diri yang sesungguhnya, jati diri yang hanya dapat ia ungkapkan di dalam puisi-puisi.

A.H. Johns menulis, dunia Chairil Anwar adalah dunia yang remuk, dunia yang penuh dengan kekecewaan. Dan Chairil Anwar menerima dunianya sebagai suatu kenyataan. Bagi Chairil Anwar, dunia yang hampa tanpa arti adalah jauh lebih baik daripada dunia yang penuh utuh, terisi terus menerus oleh kemunafikkan. Ia ingin hidup seribu tahun lagi. Ya! Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi dengan cara yang ia pilih, metode yang ia peluk, gaya yang ia miliki, gelutnya untuk memerangi kekuatan kemunafikan tanpa tedeng aling-aling mendasari kehidupan sehari-hari. Ia bergembira ria di dalam kekurangannya bersetubuh dengan kemunafikan.

Jelas sudah, kalau Chairil Anwar adalah seorang seniman yang superior, karyanya lebih sempurna dari model karya seniman Belanda yang ia panuti. Sekalipun, mungkin karya Chairil Anwar tidaklah orisinal (cat: menurut beberapa pendapat, ia adalah seorang plagiarist), karya Chairil Anwar tetap memiliki karakter yang khas, unik, terbentang lebar dalam ungkapan kata-kata.

Banyak tulisan yang berpendapat, karya Chairil Anwar dipengaruhi oleh dua penyair Belanda beraliran expresionisme, yaitu Marsman dan Slauerhoff. Tetapi A. H Johns beranggapan, asumsi tersebut sangatlah sempit dan sederhana. Bagi A.H. Johns, karya Chairil Anwar akan interior alam semesta serta dedikasi penuh dalam kesempurnaan teknik, menjadikan Chairil Anwar pewaris dari gerakan terbesar dunia persajakan modern, periode yang di inagurasikan dengan timbulnya aliran symbolisme di Perancis dan Belgia pada akhir abad ke 19.

Pada tanggal 15 Mai 1871, seorang penyair Perancis beraliran Symbolisme, Arthur Jean Rimbaud, tipe radikal provokator anti borjuis, menulis surat kepada Paul Demeny (lettres du voyant). Rimbaud berpendapat bahwa seorang penyair adalah seorang pencuri api sejati. Seseorang yang dipenuhi oleh perasaan perikemanusiaan, dan bahkan juga perikebinatangan. Ia harus mampu menyentuh, meraba, merasakan, mendengarkan seluruh imajinasi. Rasa cinta, penderitaan, kegilaan. Seorang penyair harus mampu menemukan satu bahasa. Bahasa yang kelak mampu memahat jiwa untuk para jiwa, bahasa yang terbentuk dari kumpulan semerbak harum wewangian, aneka bunyi dan warna, bahasa dari suatu pikiran yang mengkait pikiran-pikiran lain dan menariknya seerat mungkin.

Chairil Anwar adalah seorang penyair ternama di dunia internasional. Di Indonesia ia adalah penyairnya penyair, seorang penulis yang sejak tahun 1942 menyuburkan pertumbuhan dunia persajakan moderen di Indonesia. Sebagai seorang penyair yang juga beraliran symbolisme, banyak karya-karyanya yang sulit di mengerti, sarat pekat akan makna. Dengan penggunaan struktur yang ambigu dan kompleksitas dari pengunaan simbolisme, membuat karyanya sulit untuk di pahami.

Seperti Rimbaud mendefinisikan seorang penyair, maka Chairil Anwar adalah seorang pencuri api sejati yang menempa karya-karyanya dengan suhu panas maksimal.

Bagaikan sebilah pedang yang di tempa dengan bara api, karya Chairil Anwar berbilah tajam berkilau terang. Bilah pedang tajam berkilau nyala api, menjadikan karya Chairil Anwar tidak hanya bagaikan sebilah pedang yang tajam, yang membelah pikiran, tetapi kadangkala berpendar, memantulkan bayangan, refleksi diri dari orang-orang yang membacanya, orang-orang yang mengagumi karyanya, orang-orang yang menggilai karyanya, para orang banyak tanpa terkecuali, juga para remaja pelajar S.M.A.

Masa SMA adalah masa-masa dimana saya merasa bangga menjadi binatang jalang versi Chairil Anwar. Suatu periode dimana saya terobsesi oleh kepribadian Chairil Anwar, plek numplek dalam gegar teriakan lantang, saya menjelma di dalam image populer sang revolusioner, kilau bilah pedang yang terang benderang membuat saya kehilangan arah dari hakekat puisi itu sendiri. Mungkin jauh, dari makna dan maksud yang dimuntahkan Chairil Anwar, saya terbawa arus kebebasan anarki.

Masa S.M.A adalah masa dimana saya merasa seluruh dunia menentang, menantang dan membuang saya. Arus hormon remaja yang mengalir deras ,memperkuat kesimpulan bahwa, segala aturan-aturan yang ada, hanyalah dibuat untuk memperalat saya, memperalat kami, bocah-bocah “pemberontak”, menjadikan kami pion-pion kecil yang siap dikorbankan dalam genderang kegagahan politik. Cara liar suatu sistim, menyeringai dan mengancam dalam kemasan cantik sebuah iming-iming, ancaman yang dibungkus dengan kertas emas bertuliskan imbalan. Sebuah iming-iming untuk bisa lulus S.M.A, asalkan menjoblos salah satu partai politik, saat hari H Pemilu, yang di adakan di aula sekolah.

Saat itu, kami terbakar oleh kemarahan terhadap propaganda politik, jilatan api ancaman yang memanas, mendidihkan kami yang susah payah belajar di bangku kayu sekolah yang keras. Kami berubah menjadi binatang Jalang, mengerang dalam protes yang kami tahu, tidak akan pernah terjawab.

Selama itu saya selalu mempertanyakan arti dari penulisan huruf besar dalam kata “Jalang” pada puisi “Semangat”. Saat itu saya sering menerka-nerka, bahwa definisi Jalang dengan huruf besar J adalah penekanan. Pengerasan arti menjadi kekuatan dalam kata Jalang. Jalang dalam pemberontakkan, melawan tekanan kemiskiskinan moral, mengeliat mencoba mencuat keluar dari kebohongan berlapis senyuman. Meneriakkan kata anarki dengan idealisme ala remaja, tanpa tahu apa arti sesungguhnya anarki dan idealisme.

Kini, saat angka 40 mulai menari-nari dengan lincah di hadapan saya, sukma binatang Jalang masih erat lekat dalam jiwa. Saya juga ingin hidup seribu tahun lagi, sekalipun badan telah menyatu menjadi debu. Saya tidak ingin menyerah kalah. Sekalipun pada puisi yang terakhir – Derai-derai cemara 1949 -Chairil Anwar terlihat menyerah menunggu saat kematian, tetapi saya tahu, Chairil Anwar tetap hidup seribu tahun lagi.

Hidup hanja menunda kekalahan (cat:kematian)
Tambah djauh dari tjinta sekolah rendah
Dan tahu, ada jang tetap tidak diutjapkan
Sebelum pada achirnja kita menjerah.

(Derai-derai cemara 1949)

Saya tidak akan menyerah, saya ingin hidup seribu tahun lagi. Sekalipun kini saya tidak mengarungi aliran sungai anarki, tetapi saya tetap berendam dalam kolam idealisme. Dalam idealisme ala saya sendiri. Dalam anugrah suatu SEMANGAT...

“SEMANGAT”

Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang Jalang
Dari kumpulan terbuang

Bir peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil Anwar, Maret 1943

Dear Zev & kokiers, aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku juga mau, KoKi, dan Zev, dan kokiers hidup seribu tahun lagi...

Arita-CH


Daftar Bacaan:

Anwar, Chairil, 1989, Kerikil tajam dan Yang terampas dan yang putus, Jakarta, PT. Dian Rakyat.

Johns, A.H., 1964,Chairil Anwar: An interpretation, Leiden, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 120, no: 4.

Chauvel, Jean, 1971, L’aventure terrestre de Jean Arthur Rimbaud, Paris, Seghers.

Tuhan, ijinkan saya ber-Tuhan...

11.10.2006.
Dear Zev dan para pembaca, apa kabar ?
Selamat berakhir pekan ya, untuk Zev khususnya, nikmatilah senikmat-nikmatnya…

Zev beberapa tahun yang silam, saya pergi ke sebuah kampung kecil yang sangat terpencil dan sulit akses masuknya, kampung ini terletak di sebuah pulau besar di bumi pertiwi tercinta. Saat itu saya sedang dalam rangka penelitian budaya tidak resmi alias tidak punya sponsor dari institusi manapun karena lebih merupakan “cicilan hutang” saya terhadap kebesaran bangsa yang sedang terorak-arik dalam penggorengan kemelut ekonomi, politik, korupsi, kolusi, dsb,dst, bla bla bla.

Dengan sedikit modal rupiah dan modal dengkul serta pinggang -maksudnya jalan kaki entah berapa kilometer sambil memanggul ransel penuh dengan perlengkapan “tempur” yang sudah kehabisan sebelum pulang- saya menapaki jalur lintas suku asing yang hidupnya bergantung dengan alam semata.

Suatu malam dengan ditemani bulan dan bintang, saya mengobrol dengan seorang bapak tua bernama SY, yang tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir, hanya pohon Durian yang menjadi saksi mata hari kelahirannya. Ia menceritakan kisah kehidupannya dengan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti daripada saya yang mencoba berbahasa daerah tapi menclo-menclo, tergagap, seperti orang tersedak buah kedondong.
Suatu hari, pak SY “merantau” ke sebuah Desa yang berjarak 3 hari berperahu. Saat ia tiba, banyak orang sedang berkerumun di depan sebuah rumah, ingin tahu apa yang terjadi, ia pun mendatangi kerumunan tersebut.
Ada apa ramai-ramai? Ada perayaan panen?” tanyanya.
Bukan Pak, sekarang lagi pendaftaran untuk pembikinan KTP”, jawab lelaki di sebelahnya.
KTP itu apa?” tanyanya lagi
KTP itu Kartu Tanda Penduduk
Bagaimana caranya untuk buat KTP?” ia semakin penasaran ingin tahu
Ya gampang, tinggal di isi nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, agama, terus di potret dan tanda tangan”.
Ia termangu bingung, tidak mengerti maksud dari semuanya itu. Akhirnya ia meninggalkan kerumunan tersebut, tetapi bapak yang menjelaskan arti dari KTP memanggilnya kembali.
Pak, pak, mau juga bikin KTP?”.
Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak mengerti. Karena saya tidak tahu tanggal lahir saya” jawabnya polos.
Ah gampang pak, di kira-kira saja, mungkin sekarang bapak berumur 30 tahun?”
Ia menatap si bapak pasrah, “ya saya tidak tahu berapa tahun umur saya, sudahlah tidak apa-apa, saya tidak bikin KTP”.
Si bapak tidak mau berhenti membujuk, “dikira-kira saja pak umurnya. Bapak agamanya apa? Agama A, atau agama B
Lalu ia menjawab “agama saya ya agama X”.
Si bapak mengerutkan keningnya “wah pak, agama X tidak ada didalam daftar, pilih saja pak yang didalam daftar, ada agama A, B, C atau D. “
Ia menggelengkan kepalanya, “ Tidak bisa, agama saya ya X, agama X itu agama helu, agama dulu, dari jaman nenek moyang kami turun ke bumi. Saya bisa dikutuk tidak bisa pulang ke kampung nenek moyang saat saya mati nanti”.
Tapi pak, yang namanya agama ya cuma A,B,C,D itu saja. Untuk syarat KTP, bapak harus mencantumkan salah satu agama dari A,B,C,D itu.” si bapak berkeras menjelaskan.
Ia kembali menggelengkan kepalanya “Kalau tidak ada agama X di dalam daftar, ya sudah saya tidak bikin KTP”.jawabnya keras.
Si Bapak lalu mendekati dan berkata “Pak, kalau bapak tidak memilih salah satu, berarti bapak tidak beragama. Kalau bapak tidak ada agama, itu berbahaya pak
Ia pun menjadi marah campur bingung, “bahaya bagaimana? Memangnya saya merupakan ancaman?”
Si Bapak berbisik “Kalau tidak ada agama, bapak bisa dibilang komunis, hati-hati pak. Nanti bapak bisa ditangkap, dan plong, masuk penjara.”
Ia pun terkaget-kaget “masuk penjara? saya salah apa? komunis itu apa?”

Sayapun ikut-ikutan kaget mendengar cerita bapak SY yang terjadi sekitar awal tahun 70 an. Lalu sayapun bertanya ke pak SY apakah ia akhirnya mempunyai KTP. Pak SY tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
ah tidak, untuk apa? Tetapi anak-anak saya punya KTP semua” jawabnya bangga.
Lalu bagaimana dengan agamanya? Sekarang kan agama X sudah di akui dan mempunyai bagian dalam undang-undang. Pak SY mengangguk-anggukan kepalanya
ya betul, tetapi anak-anak saya mendaftar dengan agama A, biar mudah urusan administrasinya, walaupun aslinya sih masih tetap agama X”.
Saya jadi garuk-garuk kepala.
Melihat saya garuk-garuk kepala kebingungan, pak SY menjelaskan bahwa yang terutama bagi ia dan keluarganya adalah berTuhan. Menyembah ke sang Pencipta Maha Agung, Maha Besar. Menghormati ciptaanNya dan berbuat sesuai dengan ajaranNya, menghindari laranganNya dan menjalani aturanNya, menempatkan IA di atas segalanya maka segalanya akan dimudahkan untuk kembali berpulang ke tempatNya, kampung nenek moyang, karena hidup di dunia hanyalah kampung yang dipinjamkan sementara.
Kalimat pak SY masih tetap tertanam di hati saya. Di negara Indonesia yang mempunyai kekayaan dengan aneka agama sangat sedikit orang yang mempunyai Tuhan. Orang-orang berlomba-lomba menyandang agama, seolah-olah agama merupakan prestis untuk kepentingan pribadi. Para koruptor kelas wahid, menggantungkan agamanya di depan kamera televisi. Para politikus menggunakan agama untuk mendapatkan kemenangan dalam berkarir yang walaupun nantinya dalam proses selanjutnya mereka sama sekali tidak ber-Tuhan. Begitu banyak orang-orang yang “mengtuhankan” ajaran dan melupakan Tuhan yang sejati.
Tuhan yang seharusnya ditempatkan ditengah-tengah, lalu semuanya mengarah hanya ke Tuhan, menjadi terbalik, segalanya harus ditengah-tengah, lalu Tuhan di belakang menjadi tameng kebobrokan.

Ada salah satu puisi Frithjof Schuon, seorang teolog Sufi, dari Basel, Swiss yang sangat saya suka,

Les hommes semblent être en fuite
Qu’est-ce qui les inquiète, qu’est-ce qui les fait fuir?
Ils ne fuient pas seulement l’inconnu qui menace,
Ils se fuient eux-mêmes, ils fuient leurs misères
Leur simple existence. Homme, écoute
Tu es au bord de l’Être, où vas-tu?
Arrête-toi!
……..Dieu est le Centre et le Repos.


Orang-orang kelihatannya melarikan diri
Apa yang membuat mereka khawatir, apa yang membuat mereka melarikan diri?
Mereka tidak hanya melarikan diri dari ancaman asing yang tidak diketahui,
Mereka melarikan diri dari diri mereka sendiri, mereka melarikan diri dari kesengsaraan mereka
keberadaan mereka yang sederhana. Hai manusia, dengar.
Kalian berada diujung keberadaan, mau pergi kemana lagi?
Berhenti!
Tuhan adalah yang utama dan peristirahatan.

Sudahkah saya ber-Tuhan?
Dengan menatap keAgungannya, saya bersimpuh agar saya diijinkan untuk berTuhan dan selalu ber-Tuhan, Amin.


Arita - CH

Your Thought and Mine

Your Thought and Mine
Your thought is a tree rooted deep in the soil of tradition and whose branches grow in the power of continuity.
My thought is a cloud moving in the space. It turns into drops which, as they fall, form a brook that sings its way into the sea. Then it rises as vapour into the sky.
Your thought is a fortress that neither gale nor the lightning can shake.
My thought is a tender leaf that sways in every direction and finds pleasure in its swaying.
Your thought is an ancient dogma that cannot change you nor can you change it.
My thought is new, and it tests me and I test it morn and eve.

You have your thought and I have mine.

Your thought allows you to believe in the unequal contest of the strong against the weak, and in the tricking of the simple by the subtle ones.
My thought creates in me the desire to till the earth with my hoe, and harvest the crops with my sickle, and build my home with stones and mortar, and weave my raiment with woollen and linen threads.
Your thought urges you to marry wealth and notability.
Mine commends self-reliance.
Your thought advocates fame and show.
Mine counsels me and implores me to cast aside notoriety and treat it like a grain of sand cast upon the shore of eternity.
Your thought instils in your heart arrogance and superiority.
Mine plants within me love for peace and the desire for independence.
Your thought begets dreams of palaces with furniture of sandalwood studded with jewels, and beds made of twisted silk threads.
My thought speaks softly in my ears, Be clean in body and spirit even if you have nowhere to lay your head.
Your thought makes you aspire to titles and offices.
Mine exhorts me to humble service.

You have your thought and I have mine.

Your thought is social science, a religious and political dictionary.
Mine is simple axiom.
Your thought speaks of the beautiful woman, the ugly, the virtuous, the prostitute, the intelligent, and the stupid.
Mine sees in every woman a mother, a sister, or a daughter of every man.
The subjects of your thought are thieves, criminals, and assassins.
Mine declares that thieves are the creatures of monopoly, criminals are the offspring of tyrants, and assassins are akin to the slain.
Your thought describes laws, courts, judges, punishments.
Mine explains that when man makes a law, he either violates it or obeys it. If there is a basic law, we are all one before it. He who disdains the mean is himself mean. He who vaunts his scorn of the sinful vaunts his disdain of all humanity.
Your thought concerns the skilled, the artist, the intellectual, the philosopher, the priest.
Mine speaks of the loving and the affectionate, the sincere, the honest, the forthright, the kindly, and the martyr.
Your thought advocates Judaism, Brahmanism, Buddhism, Christianity, and Islam.
In my thought there is only one universal religion, whose varied paths are but the fingers of the loving hand of the Supreme Being.
In your thought there are the rich, the poor, and the beggared.
My thought holds that there are no riches but life; that we are all beggars, and no benefactor exists save life herself.

You have your thought and I have mine.

According to your thought, the greatness of nations lies in their politics, their parties, their conferences, their alliances and treaties.
But mine proclaims that the importance of nations lies in work, work in the field, work in the vineyards, work with the loom, work in the tannery, work in the quarry, work in the timberyard, work in the office and in the press.
Your thought holds that the glory of the nations is in their heroes. It sings the praises of Rameses, Alexander, Caesar, Hannibal, and Napoleon.
But mine claims that the real heroes are Confucius, Lao-Tse, Socrates, Plato, Abi Taleb, El Gazali, Jalal Ed-din-el Roumy, Copernicus, and Pasteur.
Your thought sees power in armies, cannons, battleships, submarines, aeroplanes, and poison gas.
But mine asserts that power lies in reason, resolution, and truth. No matter how long the tyrant endures, he will be the loser at the end.
Your thought differentiates between pragmatist and idealist, between the part and the whole, between the mystic and materialist.
Mine realizes that life is one and its weights, measures and tables do not coincide with your weights, measures and tables. He whom you suppose an idealist may be a practical man.

You have your thought and I have mine.

Your thought is interested in ruins and museums, mummies and petrified objects.
But mine hovers in the ever-renewed haze and clouds.
Your thought is enthroned on skulls. Since you take pride in it, you glorify it too.
My thought wanders in the obscure and distant valleys.
Your thought trumpets while you dance.
Mine prefers the anguish of death to your music and dancing.
Your thought is the thought of gossip and false pleasure.
Mine is the thought of him who is lost in his own country, of the alien in his own nation, of the solitary among his kinfolk and friends.

You have your thought and I have mine.

Poem by Khalil Gibran - Poet 1883 - 1931