Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Karungut Foto

06.04.2008.

Banyak berfikir, kening banyak berkerut, mungkin lebih baik kita berkarungut.
Bukan aku pandai mengarang, ku hanya ingin mengusir si bimbang.

Dengan bendera yang berkibar, kususuri sungai yang lebar.
Mengajak kami bermalam, dipinggir sungai Tumbang Samba yang dalam.
Dini hari ayam berkokok, kami menaiki perahu kelotok.
Dengan kantuk yang belum pergi, tetap menyambut matahari pagi.
Perahu melaju mengalir, sang anak kecil menatap riak air. Semilir-semilir, angin mendesir-desir.
Tiba di Tumbang Manggu, berdiri betang Bintang Patendu.
Tampak hejan terpaku, kunaiki tanpa ragu.
Memasuki balai Karungut, tampak terurut, perlengkapan alat musik untuk mangarungut.
Perut mulai bergoyang tanda belum makan, kumasuki ruang dapur mencari sesuatu untuk ditelan
Memasuki betang kedua, hati mulai nelangsa, dapur masih berbentuk kerangka
Waktu berlalu perjalanan harus berlanjut, sekalipun cerita belum lengkap terajut .
Pak Syaer Sua turun mengantar, kami harus meneruskan pekerjaan yang terlantar
Kembali ke tengah sungai, bertemu mereka yang gigih menjala.
Kuat menjala kehidupan, demi meneruskan masa depan.
Senja turun menyapa, tanda malam telah tiba.
Menutup hari, menutup kisah cerita.

Apabila ada salah dendangku, minta ampun saja beribu-ribu,
jangan tertinggal, terima dulu terima kasihku.

Arita-CH

Binatang Jalang

Binatang Jalang

14.07.2008.

Dear Zev & Kokiers,

Suatu hari, sewaktu saya masih S.M.A, saya bersama dengan konco-konco kelas menjalani hukuman, berjemur ria di tengah lapangan. Di hadapan kami, kepala sekolah mondar-mandir sambil mengacungkan tongkat komando, berdakwah dengan lantang.

“Kalian semua adalah generasi penerus bangsa, harapan bangsa!

Tapi, coba lihat tingkah laku kalian..., ck ck ck ...persis binatang jalang!”

Sambil mendengarkan kepala sekolah yang terus sibuk meng-grendeng, saya termenung di tengah sengatan terik matahari, mendengar sebutan binatang jalang. Tersentak dengan dentang bel, tanda tiba saatnya pulang, sejenak ingatan terantuk dengan puisi Chairil Anwar, kala membaca SEMANGAT, kala saya “tergila-gila” menyamakan diri dengan tokoh binatang jalang versi Chairil Anwar.

Chairil Anwar, lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal dunia di Jakarta dalam usia yang belia (27 tahun) pada 28 April 1949. Dengan hanya berpendidikkan formal kelas 2 MULO, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta pada tahun 1940, pada usia 18 tahun.

A.H. Johns, dalam tulisannya yang berjudul “Chairil Anwar: An interpretation”, mendeskripsikan Chairil Anwar sebagai seorang seniman yang mempunyai kepribadian yang lain daripada yang lain, arogan, eksentrik, terbakar dengan pemikiran daya hidup, ia menerjunkan diri bulat-bulat tanpa sehelai keraguan, ke dalam setiap kancah kesempatan pengalaman yang terpampang di hadapan. Bagi Chairil Anwar, standar, derajat dan status sosial hanya merupakan embel-embel pemisah ciptaan manusia belaka. Derajat dan status sosial tidak seharusnya mempengaruhi tingkatan rasa hormat, karena semua sama belaka, baik seorang presiden maupun seorang abang becak. Ia memandang norma-norma sosial kehidupan yang ada sebagai penguat dan pendukung kemunafikan, sehingga, ia memilih untuk “menghancurkan diri sendiri” daripada menerima norma-norma tersebut. Dengan dedikasi diri seutuhnya kepada seni, Chairil Anwar masuk ke dalam karakter Bohemian, seniman penganut kebebasan mutlak. Sekalipun, pola kehidupan yang tidak stabil merupakan bagian dari prinsipnya, namun ketidakstabilan tersebut merupakan juga bagian dari suatu persona, suatu topeng untuk menyembunyikan identitas diri yang sesungguhnya, jati diri yang hanya dapat ia ungkapkan di dalam puisi-puisi.

A.H. Johns menulis, dunia Chairil Anwar adalah dunia yang remuk, dunia yang penuh dengan kekecewaan. Dan Chairil Anwar menerima dunianya sebagai suatu kenyataan. Bagi Chairil Anwar, dunia yang hampa tanpa arti adalah jauh lebih baik daripada dunia yang penuh utuh, terisi terus menerus oleh kemunafikkan. Ia ingin hidup seribu tahun lagi. Ya! Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi dengan cara yang ia pilih, metode yang ia peluk, gaya yang ia miliki, gelutnya untuk memerangi kekuatan kemunafikan tanpa tedeng aling-aling mendasari kehidupan sehari-hari. Ia bergembira ria di dalam kekurangannya bersetubuh dengan kemunafikan.

Jelas sudah, kalau Chairil Anwar adalah seorang seniman yang superior, karyanya lebih sempurna dari model karya seniman Belanda yang ia panuti. Sekalipun, mungkin karya Chairil Anwar tidaklah orisinal (cat: menurut beberapa pendapat, ia adalah seorang plagiarist), karya Chairil Anwar tetap memiliki karakter yang khas, unik, terbentang lebar dalam ungkapan kata-kata.

Banyak tulisan yang berpendapat, karya Chairil Anwar dipengaruhi oleh dua penyair Belanda beraliran expresionisme, yaitu Marsman dan Slauerhoff. Tetapi A. H Johns beranggapan, asumsi tersebut sangatlah sempit dan sederhana. Bagi A.H. Johns, karya Chairil Anwar akan interior alam semesta serta dedikasi penuh dalam kesempurnaan teknik, menjadikan Chairil Anwar pewaris dari gerakan terbesar dunia persajakan modern, periode yang di inagurasikan dengan timbulnya aliran symbolisme di Perancis dan Belgia pada akhir abad ke 19.

Pada tanggal 15 Mai 1871, seorang penyair Perancis beraliran Symbolisme, Arthur Jean Rimbaud, tipe radikal provokator anti borjuis, menulis surat kepada Paul Demeny (lettres du voyant). Rimbaud berpendapat bahwa seorang penyair adalah seorang pencuri api sejati. Seseorang yang dipenuhi oleh perasaan perikemanusiaan, dan bahkan juga perikebinatangan. Ia harus mampu menyentuh, meraba, merasakan, mendengarkan seluruh imajinasi. Rasa cinta, penderitaan, kegilaan. Seorang penyair harus mampu menemukan satu bahasa. Bahasa yang kelak mampu memahat jiwa untuk para jiwa, bahasa yang terbentuk dari kumpulan semerbak harum wewangian, aneka bunyi dan warna, bahasa dari suatu pikiran yang mengkait pikiran-pikiran lain dan menariknya seerat mungkin.

Chairil Anwar adalah seorang penyair ternama di dunia internasional. Di Indonesia ia adalah penyairnya penyair, seorang penulis yang sejak tahun 1942 menyuburkan pertumbuhan dunia persajakan moderen di Indonesia. Sebagai seorang penyair yang juga beraliran symbolisme, banyak karya-karyanya yang sulit di mengerti, sarat pekat akan makna. Dengan penggunaan struktur yang ambigu dan kompleksitas dari pengunaan simbolisme, membuat karyanya sulit untuk di pahami.

Seperti Rimbaud mendefinisikan seorang penyair, maka Chairil Anwar adalah seorang pencuri api sejati yang menempa karya-karyanya dengan suhu panas maksimal.

Bagaikan sebilah pedang yang di tempa dengan bara api, karya Chairil Anwar berbilah tajam berkilau terang. Bilah pedang tajam berkilau nyala api, menjadikan karya Chairil Anwar tidak hanya bagaikan sebilah pedang yang tajam, yang membelah pikiran, tetapi kadangkala berpendar, memantulkan bayangan, refleksi diri dari orang-orang yang membacanya, orang-orang yang mengagumi karyanya, orang-orang yang menggilai karyanya, para orang banyak tanpa terkecuali, juga para remaja pelajar S.M.A.

Masa SMA adalah masa-masa dimana saya merasa bangga menjadi binatang jalang versi Chairil Anwar. Suatu periode dimana saya terobsesi oleh kepribadian Chairil Anwar, plek numplek dalam gegar teriakan lantang, saya menjelma di dalam image populer sang revolusioner, kilau bilah pedang yang terang benderang membuat saya kehilangan arah dari hakekat puisi itu sendiri. Mungkin jauh, dari makna dan maksud yang dimuntahkan Chairil Anwar, saya terbawa arus kebebasan anarki.

Masa S.M.A adalah masa dimana saya merasa seluruh dunia menentang, menantang dan membuang saya. Arus hormon remaja yang mengalir deras ,memperkuat kesimpulan bahwa, segala aturan-aturan yang ada, hanyalah dibuat untuk memperalat saya, memperalat kami, bocah-bocah “pemberontak”, menjadikan kami pion-pion kecil yang siap dikorbankan dalam genderang kegagahan politik. Cara liar suatu sistim, menyeringai dan mengancam dalam kemasan cantik sebuah iming-iming, ancaman yang dibungkus dengan kertas emas bertuliskan imbalan. Sebuah iming-iming untuk bisa lulus S.M.A, asalkan menjoblos salah satu partai politik, saat hari H Pemilu, yang di adakan di aula sekolah.

Saat itu, kami terbakar oleh kemarahan terhadap propaganda politik, jilatan api ancaman yang memanas, mendidihkan kami yang susah payah belajar di bangku kayu sekolah yang keras. Kami berubah menjadi binatang Jalang, mengerang dalam protes yang kami tahu, tidak akan pernah terjawab.

Selama itu saya selalu mempertanyakan arti dari penulisan huruf besar dalam kata “Jalang” pada puisi “Semangat”. Saat itu saya sering menerka-nerka, bahwa definisi Jalang dengan huruf besar J adalah penekanan. Pengerasan arti menjadi kekuatan dalam kata Jalang. Jalang dalam pemberontakkan, melawan tekanan kemiskiskinan moral, mengeliat mencoba mencuat keluar dari kebohongan berlapis senyuman. Meneriakkan kata anarki dengan idealisme ala remaja, tanpa tahu apa arti sesungguhnya anarki dan idealisme.

Kini, saat angka 40 mulai menari-nari dengan lincah di hadapan saya, sukma binatang Jalang masih erat lekat dalam jiwa. Saya juga ingin hidup seribu tahun lagi, sekalipun badan telah menyatu menjadi debu. Saya tidak ingin menyerah kalah. Sekalipun pada puisi yang terakhir – Derai-derai cemara 1949 -Chairil Anwar terlihat menyerah menunggu saat kematian, tetapi saya tahu, Chairil Anwar tetap hidup seribu tahun lagi.

Hidup hanja menunda kekalahan (cat:kematian)
Tambah djauh dari tjinta sekolah rendah
Dan tahu, ada jang tetap tidak diutjapkan
Sebelum pada achirnja kita menjerah.

(Derai-derai cemara 1949)

Saya tidak akan menyerah, saya ingin hidup seribu tahun lagi. Sekalipun kini saya tidak mengarungi aliran sungai anarki, tetapi saya tetap berendam dalam kolam idealisme. Dalam idealisme ala saya sendiri. Dalam anugrah suatu SEMANGAT...

“SEMANGAT”

Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang Jalang
Dari kumpulan terbuang

Bir peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil Anwar, Maret 1943

Dear Zev & kokiers, aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku juga mau, KoKi, dan Zev, dan kokiers hidup seribu tahun lagi...

Arita-CH


Daftar Bacaan:

Anwar, Chairil, 1989, Kerikil tajam dan Yang terampas dan yang putus, Jakarta, PT. Dian Rakyat.

Johns, A.H., 1964,Chairil Anwar: An interpretation, Leiden, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 120, no: 4.

Chauvel, Jean, 1971, L’aventure terrestre de Jean Arthur Rimbaud, Paris, Seghers.

Bulan suci telah berakhir

Bulan suci telah berakhir
25.10.2006.

Bulan suci Ramadhan telah berakhir...
Dimana selama sebulan penuh menahan diri baik lahiriah maupun batiniah.
Bercermin kembali ke air suciNya, berkiblat ke arahNya yang benar.
Selama tiga puluh hari mencoba mengerti kehendakNya .
Berat dan lelah “pikulan” di pundak beberapa hari, apalah artinya dibandingkan kesedihanNya melihat penentangan kita berhari-hari.
Selama tiga puluh hari menahan diri, menyembah bersujud di kakiNya.
Memohon pencucian jiwa,
meminta ampunan dan mohon maaf karena kasih Nya yang besar,
mengampuni dan memaafkan demi kebesaranNya yang agung.

Bulan suci Ramadhan telah berakhir...
Dimanapun dan siapapun anda,
Semoga anda termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian
dan termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan.

Amin ..

Nasihat Jiwaku


24.08.2007.

Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku
Bahwa aku tak lebih tinggi ketimbang cebol ataupun tak lebih rendah ketimbang raksasa.
Sebelumya aku melihat manusia ada dua,
seorang yang lemah yang aku caci dan kukasihani.
Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan dalam pemberontakkan.
Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah yang sama dari mana semua manusia diciptakan,
Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan jiwaku adalah jiwa mereka.
Perjuanganku adalah perjuangan mereka, dan
pengembaraan mereka adalah juga milikku.
Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,
Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.
Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;
bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka...

Khalil Gibran, “ Cinta, Keindahan, Kesunyian” , 1997:157

Terima kasih Koki dan Koko atas kebersamaan selama ini
Terima kasih Zeverina atas ketabahan dan kegigihannya
Terima kasih semuanya atas segalanya, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang

Selamat ulang tahun!

Your Thought and Mine

Your Thought and Mine
Your thought is a tree rooted deep in the soil of tradition and whose branches grow in the power of continuity.
My thought is a cloud moving in the space. It turns into drops which, as they fall, form a brook that sings its way into the sea. Then it rises as vapour into the sky.
Your thought is a fortress that neither gale nor the lightning can shake.
My thought is a tender leaf that sways in every direction and finds pleasure in its swaying.
Your thought is an ancient dogma that cannot change you nor can you change it.
My thought is new, and it tests me and I test it morn and eve.

You have your thought and I have mine.

Your thought allows you to believe in the unequal contest of the strong against the weak, and in the tricking of the simple by the subtle ones.
My thought creates in me the desire to till the earth with my hoe, and harvest the crops with my sickle, and build my home with stones and mortar, and weave my raiment with woollen and linen threads.
Your thought urges you to marry wealth and notability.
Mine commends self-reliance.
Your thought advocates fame and show.
Mine counsels me and implores me to cast aside notoriety and treat it like a grain of sand cast upon the shore of eternity.
Your thought instils in your heart arrogance and superiority.
Mine plants within me love for peace and the desire for independence.
Your thought begets dreams of palaces with furniture of sandalwood studded with jewels, and beds made of twisted silk threads.
My thought speaks softly in my ears, Be clean in body and spirit even if you have nowhere to lay your head.
Your thought makes you aspire to titles and offices.
Mine exhorts me to humble service.

You have your thought and I have mine.

Your thought is social science, a religious and political dictionary.
Mine is simple axiom.
Your thought speaks of the beautiful woman, the ugly, the virtuous, the prostitute, the intelligent, and the stupid.
Mine sees in every woman a mother, a sister, or a daughter of every man.
The subjects of your thought are thieves, criminals, and assassins.
Mine declares that thieves are the creatures of monopoly, criminals are the offspring of tyrants, and assassins are akin to the slain.
Your thought describes laws, courts, judges, punishments.
Mine explains that when man makes a law, he either violates it or obeys it. If there is a basic law, we are all one before it. He who disdains the mean is himself mean. He who vaunts his scorn of the sinful vaunts his disdain of all humanity.
Your thought concerns the skilled, the artist, the intellectual, the philosopher, the priest.
Mine speaks of the loving and the affectionate, the sincere, the honest, the forthright, the kindly, and the martyr.
Your thought advocates Judaism, Brahmanism, Buddhism, Christianity, and Islam.
In my thought there is only one universal religion, whose varied paths are but the fingers of the loving hand of the Supreme Being.
In your thought there are the rich, the poor, and the beggared.
My thought holds that there are no riches but life; that we are all beggars, and no benefactor exists save life herself.

You have your thought and I have mine.

According to your thought, the greatness of nations lies in their politics, their parties, their conferences, their alliances and treaties.
But mine proclaims that the importance of nations lies in work, work in the field, work in the vineyards, work with the loom, work in the tannery, work in the quarry, work in the timberyard, work in the office and in the press.
Your thought holds that the glory of the nations is in their heroes. It sings the praises of Rameses, Alexander, Caesar, Hannibal, and Napoleon.
But mine claims that the real heroes are Confucius, Lao-Tse, Socrates, Plato, Abi Taleb, El Gazali, Jalal Ed-din-el Roumy, Copernicus, and Pasteur.
Your thought sees power in armies, cannons, battleships, submarines, aeroplanes, and poison gas.
But mine asserts that power lies in reason, resolution, and truth. No matter how long the tyrant endures, he will be the loser at the end.
Your thought differentiates between pragmatist and idealist, between the part and the whole, between the mystic and materialist.
Mine realizes that life is one and its weights, measures and tables do not coincide with your weights, measures and tables. He whom you suppose an idealist may be a practical man.

You have your thought and I have mine.

Your thought is interested in ruins and museums, mummies and petrified objects.
But mine hovers in the ever-renewed haze and clouds.
Your thought is enthroned on skulls. Since you take pride in it, you glorify it too.
My thought wanders in the obscure and distant valleys.
Your thought trumpets while you dance.
Mine prefers the anguish of death to your music and dancing.
Your thought is the thought of gossip and false pleasure.
Mine is the thought of him who is lost in his own country, of the alien in his own nation, of the solitary among his kinfolk and friends.

You have your thought and I have mine.

Poem by Khalil Gibran - Poet 1883 - 1931