Showing posts with label Paris. Show all posts
Showing posts with label Paris. Show all posts

Alasan Meninggalkan Indonesia (2)

Alasan Meninggalkan Indonesia (2)
30.03.2006.
Sidang kilat dilakukan dimana keputusan mengatakan bahwa sang anak harus berada bersama dengan sang istri selama pernikahan masih berlaku. Dengan surat pernyataan dari pengadilan, sang istri mendatangi kepolisian setempat untuk mengambil sang anak. Bersama dengan rombongan polisi, sang istri tiba di rumah sang mertua. Hah, jalan keluar masih belum semulus jalan tol. Kali ini rumah sang mertua kosong, hasil pertanyaan dari tetangga kanan kiri mengatakan bahwa keluarga sang mertua dan sang anak pergi pada malam hari. Kali ini resmi sudah, sang istri mengajukan pengaduan "penculikkan anak" ke kantor polisi, dengan polisi sendiri sebagai saksinya. Selama polisi melakukan pencarian, sang istri dan pengacara menghadap ke pengadilan dan mencoba mengajukan proses perceraian di negara asal sang suami.
Pihak pengadilan mengeluarkan surat yang menyatakan selama dalam proses perceraian, sang anak harus bersama dengan sang istri dan kedua belah pihak diharuskan menghadap ke pengadilan satu bulan kemudian. Sang pengacara menyarankan sang istri untuk kembali ke Indonesia dan membawa surat dari pengadilan. Kembali ke Indonesia, surat dari pengadilan negeri sudah tiba 2 hari setelah kepergian sang istri ke negara asal sang suami. Setelah menyebar pertanyaan ke seluruh teman untuk mendapatkan pengacara (di Indonesia tidak perlu mengetuk pintu satu persatu), sang istri mendapatkan pengacara perempuan yang terkenal. Dengan surat dari pengadilan negara asing, surat dari psikolog yang menyatakan bahwa tindakan sang istri untuk konsultasi ke psikolog merupakan tanda bahwa sang istri tahu benar akan kebutuhannya dan bukan lah tindakan ketidakstabilan mental, serta seluruh kesaksian yang menyatakan bahwa sang istri tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai orang sakit jiwa.
Proses pengadilan yang panjang dan berbelit-belit dihadapi sang istri terutama untuk mendapatkan kembali sang anak. Sang istri menjadi tergugat yang didakwa, dari dakwaan sakit jiwa (yang gagal karena tidak terbukti), sang anak yang sakit jiwa (dengan bukti surat dari psikiater anak Indonesia tertanggal setelah kepergian sang anak, yang gagal juga!) sampai karena sang istri tidak mampu membiayai sang anak yang warga negara asing! Sementara hati sang istri nelangsa karena tidak mengetahui keberadaan sang anak, pihak kepolisian negara asal sang suami belum menemukan jejak, terakhir mereka mendapat kabar bahwa sang mertua dan sang anak berada di negara tetangga, lalu hilang lagi. Kembali ke pengadilan negeri akhirnya hak asuh jatuh ke tangan sang suami dengan alasan sang ayah lebih mampu membiayai. Keputusan pengadilan ini diputuskan oleh seorang hakim wanita! Tidak terima dengan keputusan, sang istri naik banding, mahkamah agung!
Cerita semakin seru Zev, karena mendadak sang suami menghilang! Sang istri mengajukan pengaduan penculikkan ke kepolisian Indonesia. Menulis surat ke kedutaan asing dan ke kantor pusat dimana sang suami bekerja, menanyakan keberadaan sang suami dan sang anak. Semuanya mengatakan tidak tahu. Hingga satu hari sang istri mendapat kabar dari pengacara di negara asal sang suami bahwa pihak kepolisian menemukan sang suami disana! Sang Istri terbang ke negara asing, menghadiri pengadilan yang mana sang suami berada disana dengan wajah geram, tetap mengatakan tidak tahu dimana sang anak, dan mungkin sedang berlibur dengan sang mertua lalu sang suami menunjukkan surat keputusan pengadilan Indonesia, memaksa sang istri mencabut tuduhan penculikkan, tetapi sang istri bersikeras, keputusan pengadilan belum berlaku karena masih ada pengadilan Mahkamah Agung! Sayangnya pengadilan negara asing tidak bisa mengeluarkan keputusan, terutama karena sang anak, sang suami dan sang istri berstatus penduduk Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia juga, jadi menilik dari segi hukum, keputusan pengadilan Indonesia yang berlaku, sementara pengadilan mahkamah agung belum menghasilkan keputusan, kasus dalam situasi mengambang seperti layang-layang tertiup angin. Sang istri sudah kehabisan air mata, tidak mampu menangis lagi. Sang istri terdiam, menghitung waktu, sejak sang anak pergi dari sisinya, sudah hampir satu tahun, habis dimakan proses pengadilan. Sang istri memutuskan kembali ke Indonesia.
Di Indonesia, pengadilan mahkamah agung belum juga selesai, sang istri lalu menyepi selama satu minggu, memohon petunjuk dan kekuatan kepada Tuhan. Keputusan pengadilan negeri tidak menuliskan satupun hak sang istri sebagai seorang ibu, maupun hak sang anak untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua belah pihak orang tua, pengadilan mahkamah agung masih terombang-ambing sementara sang suami tidak berada di Indonesia lagi. Sang anak dan sang suami bukan warga negara Indonesia, dan keputusan hukum Indonesia tidak membantu sama sekali sang istri dan sang anak. Terutama sang anak, yang mana dicampakkan begitu saja, lahir di Indonesia sebagai warga negara asing, menjadi asing di hadapan ibu dan tempat kelahirannya.
Sang suami berada di negara asalnya, sedangkan sang anak juga di negara kewargaannya. Negaranya yang menurut undang-undang Indonesia yang berlaku. Hukum tidak terlalu memberikan pilihan kepada sang istri, akhirnya sang istri bertanya kepada pengacara asing, apakah mereka bisa membantu secara hukum? Tidak, selama sang anak, sang suami dan sang istri bukan penduduk setempat. Sekarang sang anak dan sang suami tidak di Indonesia, melainkan di negara asing, tinggal sang istri yang masih di Indonesia, jadi sudah bisa ditebak ke arah mana sang istri mencari keadilan? Yap, sang istri harus pindah dan tinggal di negara asing juga!
Sang istri menyiapkan keberangkatannya, semua dijual untuk bekal "perantauan", bahkan harta orang tua pun ikut terjual, pro dan kontra menyelimuti suasana, hanya orang tua dan sang nenek yang merestui kepergian sang istri, yang lainnya menyikapi dengan berbagai jenis ucapan, dari sopan sampai kasar, bahkan ada yang nyeletuk, mau jadi apa di negara asing, tidak kenal siapa-siapa, sendirian, mau bayar pakai apa kebutuhan-kebutuhan, mau jadi pelacur? Yang lebih seru, niat kepergian sang istri untuk tinggal di negara asing menjadi ajang taruhan. Hayoo, berapa lama sang istri akan tinggal di luar negeri? 3 bulan apa tiga minggu? Bah sudah habis urat emosi sang istri, anjing mengonggong, kafilah pun berlalu, setiap waktu yang diingat sang istri hanya,bagaimana wajah sang anak, bagaimana kabarnya?
Sang istri kembali terbang ke negara asing, status sebagai istri masih berlaku karena masih ada pengadilan mahkamah agung, untuk urusan visa, sang istri menyatakan pindah dari Indonesia ke negara asal sang suami, tanpa ada masalah karena perkawinan sudah terhitung lima tahun (3 tahun normal, 2 tahun abnormal) dan merupakan seorang IBU dari seorang anak berwarga negara ASING (setempat) sang istri mendapatkan status kependudukkan!
Bekerja serabutan setiap hari untuk membayar pengacara dan detektif akhirnya sang istri mendapatkan hasil, detektif menemukan sang anak. Wah sang istri sudah lupa bagaimana rasanya bahagia, tidak bisa dirangkai dengan kalimat, mungkin kalau bisa melukis, sudah menjadi lukisan Claude Monet pada musim semi!!!
Pertemuan dengan sang anak dilakukan resmi di Pengadilan setempat, sang suami, sang anak dan sang istri bertemu di gedung pengadilan yang indah dan yang bangunannya sudah berusia berabad-abad.
Sang istri melihat sang anak, sudah besar! Empat tahun umurnya kini. Sang istri berlari memeluk sang anak, tapi apa yang terjadi??? Sang anak menolak sang ibu dan berkata dengan marah, kenapa sang ibu meninggalkan sang anak? Apa salah sang anak? Kemana saja sang ibu selama ini?
Sang istri menangis, sang anak pun menangis marah dan berlari ke arah sang suami. Hakim yang menangani, seorang perempuan, terdiam seribu bahasa, larut dengan suasana yang kelabu. Pengadilan dimulai, hakim meminta untuk berbicara satu persatu dengan sang suami, sang anak dan sang istri. Saat giliran sang istri, hakim berkata bahwa sang istri mempunyai hak sama dengan sang suami dalam mengasuh sang anak, alasan dan motif bahwa sang suami jauh lebih mampu daripada sang istri diabaikan oleh hakim tetapi (aduh masih ada tetapinya Zev), sang anak selama dua tahun hidup jauh dari ibu, keseimbangan mental bagi seorang anak kecil sangatlah rawan, apalagi kelihatan ada kesalahpahaman antara sang anak terhadap ibu, dan juga dinilai dari segi hukum, keputusan Indonesia tetap yang berlaku, jadi hak asuh tetap dipegang sang suami, dengan syarat sang istri mempunyai hak yang sama untuk membesarkan sang anak, hak untuk berkunjung atau dikunjungi selama liburan.
Hakim menyarankan untuk memulai kembali hubungan ibu dan anak, serta mengembalikan kepercayaan sang anak terhadap ibu. Sang istri tertunduk kelu, harapan untuk tinggal bersama sang anak punah. Pengadilan Mahkamah Agung masih ada, tetapi sang suami sudah bukan penduduk Indonesia lagi, begitu pula sang anak. Sang istri menghubungi pihak keluarga di Indonesia, keuangan semakin menipis, pembayaran dua pengacara lokal dan asing, serta tiket pulang pergi berkali-kali memakan biaya yang sangat besar, dana sudah dibawah batas nol. Sang istri memutuskan untuk menarik kasus pengadilan banding, dan memulai hidup dari nol koma nol di negara asing.
*************
Sang ibu (keputusan cerai sudah resmi) memulai kehidupan dan membina hubungan dengan sang anak. Pertama kali sang anak berkunjung, sang ayah menunggu di depan pintu, dan waktu kunjungan hanya dua jam, sang ibupun protes melalui pengacara, akhirnya waktu kunjungan diperpanjang. Belum lama sang ibu tinggal di negara asing, sang ayah pindah ke negara lain! Kembali sang ibu protes, baru saja menjejakkan kaki di negara asing, sekarang harus pindah lagi, akhirnya sang ibu mencari pengacara lagi (untuk 2 negara) untuk memastikan bahwa hak berkunjung terhadap sang anak bisa dijalankan sesuai dengan hukum. Untuk mengunjungi sang anak, sang ibu terpaksa tinggal di hotel yang mana sangat tidak nyaman bagi sang anak untuk tidur di hotel. Sang anak protes agar sang ibu bisa menginap di rumah bersama sang anak, sang ayah keberatan karena sang ayah masih bersama WIL, akhirnya terjadi kesepakatan, sang anak yang mengunjungi sang ibu, anak lelaki berumur 4 tahun mengunjungi sang ibu dengan dengan pesawat sendirian. Hati sang ibu teriris saat kepulangan sang anak ke negara lain, kecil sendiri ditengah-tengah orang dewasa melewati pos imigrasi. Tetapi sang anak sudah bisa mengerti akan situasi, dan mulai mempercayai sang ibu.
Setiap sang anak datang berkunjung, sang ibu selalu mengingatkan bahwa sang ibu meninggalkan Indonesia untuk sang anak dan tidak pernah terlintas pikiran untuk menterbengkalaikan sang anak. Tetapi sang anak masih ketakutan saat sang ibu mengutarakan keinginan untuk mengunjungi keluarga di Indonesia, sang anak takut jika sang ibu pergi meninggalkan sang anak untuk selamanya, kata Indonesia bagi sang anak menjadi hantu yang bisa membawa pergi sang ibu. Akhirnya sang ibu memendam kerinduan terhadap keluarga di Indonesia. Waktu demi waktu berlalu, sang ibu terus meyakinkan sang anak bahwa Indonesia adalah tempat kelahiran sang ibu dan juga sang anak, setengah dari darah sang anak adalah Indonesia. Keluarga yang ada di Indonesia adalah keluarga sang anak juga, bahasa Indonesia adalah bahasa sang anak juga. Indonesia bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disayangi, karena merupakan bagian dari sang anak. Biji yang ditanam oleh sang ibu mulai berakar di hati sang anak, akhirnya setelah bertahun-tahun tidak pulang, sang ibu pun bisa mengunjungi Indonesia kembali. Sang anak sudah jatuh cinta dengan Indonesia.
Sekarang sang anak sudah memasuki usia panca roba, pulang pergi naik pesawat mengunjungi sang ibu sudah seperti kereta api jabotabek, sang ibu pun bolak balik ke Indonesia, usaha sang ibu pun berkaitan 100% dengan Indonesia, bahkan sang anak sudah mahir akan sejarah dan budaya Indonesia karena setiap mengunjungi sang ibu semuanya berbau Indonesia. Hubungan sang ibu dan sang ayah menjadi baik. Sang ibu sudah bisa memaafkan sang ayah dan tidak menganggapnya sebagai musuh, kebencian sang ibu hilang, secara jujur sang ibu tidak bisa melupakan kejadian yang lalu, tetapi untuk kebaikan sang anak sang ibu belajar menghormati sang ayah karena merupakan bapak dari sang anak, hormat sang ibu terhadap sang ayah dikarenakan hormatnya sang ibu terhadap sang anak, komunikasi dengan sang ayah berjalan mulus dan tidak memerlukan pengacara lagi. Sang ibu sudah berkeluarga lagi dan sang anak mencintai keluarga baru sang ibu.
Sang ayah sudah tidak bersama dengan WIL, melainkan dengan wanita asing yang sangat baik terhadap sang anak. Hanya ada satu hal yang masih mengganjal sang ibu, sang anak belum mengunjungi Indonesia kembali sejak ia meninggalkan Indonesia saat berumur 2 tahun. Sang ayah masih ragu, entah takut entah apa, sang ibu tidak mau menduga-duga, lebih baik berpikiran positif, dan dengan pertolongan serta jaminan dari pihak keluarga suami sang ibu, sang ayah berjanji untuk mengijinkan sang anak ke Indonesia tahun ini. Doakan saja ya Zev, dan juga para pembaca, agar sang anak bisa menginjakkan kaki ke Indonesia tahun ini.
Untuk Tiara - Los Angeles, selama apa yang kita lakukan untuk kebahagiaan anak, halal di mata Tuhan, jangan pernah takut, Tuhan akan melindungi umatnya, dan juga saya berterima kasih atas doanya (dalam surat -sedihnya menjadi wanita Indonesia-), Tuhan telah menolong sang ibu yang malang.
Arita-CH

Alasan Meninggalkan Indonesia (I)

Alasan Meninggalkan Indonesia (I)
28.03.2006.
Dear Zev, apa kabar ? Kiranya Tuhan memberkati, memberikan kesehatan dan kekuatan bagi Zevi dan para pembaca semua, Amin.
Sudah hampir satu minggu saya kelewatan tidak baca KOKI, jadi pagi ini saya membaca KOKI secara borongan, dari tanggal 17 sampai 23 maret, seru maksimal!
Diantara "SURAT-SURAT ANDA" senin 20 maret, ada satu paragraph yang membuat saya tersentak kaget, karena apa yang tertulis adalah kisah saya pribadi, maksud saya, penulis mendengar sebuah cerita yang merupakan kisah saya. Dan hal ini juga mengingatkan bahwa saya masih ada "hutang" dengan Zev dan pembaca lainnya.
Masih ingat surat saya yang pertama? Saya menulis tentang alasan saya meninggalkan Indonesia bukan untuk ikut suami, kuliah ataupun bekerja melainkan untuk mencari anak saya, lalu saya berjanji untuk menceritakannya di lain waktu. Jadi pagi ini, yang dingin dan hujan rintik-rintik membawa saya mundur ke beberapa tahun silam, ketika saya masih tinggal di Indonesia. Kalaupun surat saya kepanjangan, saya mohon maaf Zev, saya sudah berusaha membuat sesingkat mungkin, terserah kamu Zev, jika hendak memuat untuk beberapa bagian.
Saya menikah di Indonesia dengan seorang warga negara asing dengan hukum Indonesia, pernikahan terdaftar di kedutaan asing dan mempunyai seorang anak lelaki yang pada hari ketiga setelah kelahirannya sudah tercatat sebagai warga negara asing di Indonesia.
Seperti cerita klasik lainnya, 3 tahun usia perkawinan, sang suami mempunyai WIL saat menjalankan pendidikkan singkat di negara asalnya. Dikarenakan dia harus kembali ke Indonesia untuk meneruskan pekerjaan maka perselingkuhan 2 bulan putuslah sudah riwayatnya. "Bulan madu dengan wil di negara asal"awalnya tidak diketahui oleh sang istri sampai satu minggu setelah kepulangan dari pendidikan mendadak sang suami memutuskan untuk pisah. Dengan acara bertangis-tangisan sang suami mendesak sang istri untuk pulang ke rumah orangtua beberapa waktu, sementara sang istri menolak keras "jangan pulangkan aku ke rumah orang tua ku" tetapi akhirnya sang istri dengan sangat terpaksa pulang ke rumah orangtua tanpa mengetahui alasan sesungguhnya, walaupun sang istri menduga-duga akan adanya WIL yang mana ditentang keras akan kebenaran dugaan oleh sang suami.
Tiga bulan sang istri tinggal dirumah orang tua dengan sang anak, dimana sang suami berkunjung sekali dalam seminggu bahkan dua minggu untuk melihat sang anak dan berbicara sekedarnya tanpa mau berdiskusi lebih dalam akan masalah yang ada. Bagaimana dengan reaksi keluarga sang istri? Wah jangan ditanya! Seluruh anggota keluarga besar dari nenek buyut sampai cicit marah besar, tapi mereka tersandung akan sikap sang istri yang pengalah dan pengasihan. Rasa cinta sang istri yang besar terhadap sang suami membuat sang bapak diam seribu bahasa menerima kunjungan sang suami, hanya ketukan sepatunya dilantai yang dapat menggambarkan emosi sang bapak.
Setelah didesak setiap "menit" oleh keluarga akhirnya sang istri menguatkan diri untuk kembali kerumah tanpa persetujuan sang suami. Walaupun sang suami tidak senang dengan kedatangan tetapi sang istri tidak bergeming, "ini rumah ku juga". "Bulan madu dengan wil di negara asal" kini berganti dengan "special lunch time", dengan WIL Indonesia yang sedang dalam keadaan hidup terpisah dengan suaminya.
Kali ini sang istri tidak dipulangkan ke rumah orang tua tetapi sang suami yang jarang pulang. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi sampai akhirnya sang suami "bertobat", berjanji untuk merubah hidup dan memulai lagi pernikahan yang terbengkalai. Saat masa restruktural dilakukan, sang WIL datang ke kantor sang istri, bersujud memohon agar diijinkan kembali berhubungan dengan sang suami. Sang istri hanya bisa mengelus dada dan meminta sang WIL untuk bertobat. Tetapi entah apa yang dikatakan oleh sang WIL, sang suami menjadi berang kepada sang istri atas pertemuan tersebut dan kembali meninggal kan sang istri. Hujan badai persoalan yang beruntun membuat sang istri mengganti strategi, pendekatan kepada sang suami dilakukan dengan kepala dingin tanpa pertengkaran, mengayomi dengan cara bersahabat dan berbicara seperti teman selama tiga bulan menghasilkan buah yang bagus. Sang suami pulang dan "bertobat untuk yang kedua kalinya", restruktural pun kembali dilakukan dari nol koma nol.
Ternyata usaha sang WIL tidak berhenti sampai disini, sang WIL mencoba bunuh diri sehingga sang suami menjadi ketakutan dan meruntuhkan restruktural pernikahan dengan kembali meninggalkan rumah demi sang WIL. Sekali lagi sang istri disapu oleh badai angin puyuh, sehingga sang istri memutuskan untuk berkonsultasi ke pemuka agama dan psikolog, kali ini strategi lebih menuju ke restruktural iman dan mental sang istri. Hari, minggu dan bulan pun berlalu, sang istri mulai bisa berdiri tegak, hubungan "persahabatan" dengan sang suami mulai memperlihatkan hasil, komunikasi menjadi "lancar" tanpa melibatkan pertengkaran.
Sampai saat sang suami mengabarkan bahwa kakek dari sang suami yang berumur 90 tahun sakit keras, sang suami hendak mengunjungi kakek yang mungkin untuk terakhir kali dengan sang anak. Sang istri menelpon rumah sakit untuk mengecek kebenaran dan melihat kontrak kerja sang suami yang masih berlaku beberapa tahun lagi, lalu mengijinkan sang anak dan sang suami terbang ke negara asal untuk kunjungan 2 minggu.
**************
Dua minggu berlalu, sang suami kembali ke Indonesia, sendiri.
"Dimanakah sang anak?" tanya sang istri.
"Ah dengan ayah dan ibu saya, kakek masih sakit keras dan saya pikir sebaiknya kamu juga harus mengunjungi beliau, jadi sang anak nanti pulang bersama kamu" jawab sang suami.
Sang istri mulai menyiapkan keberangkatan dengan permohonan ijin cuti di kantor, meminta visa, pemesanan tiket pesawat, oleh-oleh, dan lain-lain. Semuanya terlihat lancar sampai tiba-tiba sang istri mendapat berita "bocoran" dari seorang teman yang membuat jantung sang istri tersentak di godam palu. Tanpa sepengetahuan sang istri, sang suami mengajukan perceraian (pengadilan Indonesia) sebelum berangkat ke negara asal dan meminta hak asuh anak dikarenakan sang istri mengalami ketidakstabilan mental alias sakit jiwa!
Panik, bingung, marah menghantui sang istri, ditambah sang anak yang "sudah dipihak sang suami" membuat sang istri langsung memajukan jadwal keberangkatan tanpa sepengetahuan pihak sang suami dan keluarganya.
Dengan bantuan teman di Indonesia, sang istri mendapatkan pengacara asing di negara asal sang suami, yang lalu membuatkan surat pernyataan bahwa secara hukum sang istri mempunyai hak penuh atas sang anak selama palu perceraian belum didentumkan. Sang pengacara menyarankan untuk datang pada malam hari bersama seseorang (sebagai saksi) ke rumah sang mertua dan membawa sang anak keluar dari rumah sang mertua hari itu juga. Malangnya di negara asing itu sang istri tidak mengenal satu orangpun selain keluarga sang suami. Ketakutan, kesendirian, asing, khawatir, dan bingung, sang istri mendatangi rumah mertua seorang diri, di siang hari.
Setiba di rumah sang mertua, yang ada hanyalah pihak mertua lelaki, sedangkan mertua perempuan dan sang anak sedang keluar. Mertua lelaki pun terkejut melihat kedatangan yang dini dari jadwal, tetapi bersikap ramah dan mempersilahkan untuk beristirahat. Mendapatkan sambutan yang baik, sang istripun tidak berprasangka buruk, lalu memasuki kamar mandi untuk menyegarkan diri. Keluar dari kamar mandi, sang mertua lelaki tidak ada di tempat, dan telepon berdering. Terlambat mengangkat telepon, sang istripun membiarkan mesin penjawab mengambil alih. Apa yang didengar dari mesin penjawab telepon? Sang suami yang berteriak-teriak, sumpah serapah, dan semua nama kebun binatang yang belum pernah didengar sang istri selama masa pernikahan. Singkatnya, sang suami berkata agar sang istri pulang ke Indonesia, sang suami hendak bercerai karena sang istri pergi begitu saja tanpa memberitahu sang suami, dan jangan harap bisa menemui sang anak. Sang istripun sadar, sang suami menipunya karena perceraian sudah diajukan jauh hari sebelum sang anak terbang. Semua kebaikan hanya tipuan belaka. Sang istri merasa tertikam dari belakang. Dengan berpegang surat dari sang pengacara dan akte pernikahan, sang istri menghubungi polisi setempat.
Polisi tiba 10 menit kemudian, mendengarkan pesan sang suami dari mesin penjawab, menemukan mertua lelaki 20 menit kemudian, tanpa mertua perempuan dan sang anak. Saat mertua lelaki di interogasi akan keberadaan sang anak dan mertua perempuan, mertua lelaki diam seribu bahasa, hanya menjawab "saya mau menghubungi pengacara saya". Polisi menyarankan sang istri pergi ke pengadilan setempat untuk menyatakan status sang istri sebagai seorang ibu secara formal sehingga pihak kepolisian bisa membantu dalam mengambil sang anak . Sementara mertua lelaki akan mereka (polisi) bawa untuk diperiksa, tetapi datang pengacara dari pihak mertua yang akhirnya mertua lelaki tidak dibawa.
Sang istri harus meninggalkan rumah sang mertua dan tinggal di hotel lalu mengajukan pengaduan ke pengadilan. Untuk memulai proses persidangan sang istri membutuhkan pengacara setempat, sementara pengacara asing yang dikenal sebelumnnya bertempat tinggal di luar kekuasaan pengadilan. Pihak pengadilan memberikan daftar pengacara yang bisa dihubungi, sang istri memulai petualangan baru keesokkan harinya, mendatangi kantor-kantor pengacara satu persatu.
Ketukan demi ketukan pada pintu kantor pengacara dilakukan sang istri, dimana kebanyakkan para pengacara tidak "mau" melayani karena sang istri berstatus asing, tidak terdaftar sebagai penduduk setempat, sang istri dengan lelah duduk diatas trotoar, tertunduk bersujud di aspal, menangis. Saat sang istri berhenti menangis, ia menegakkan kepalanya, apa yang dilihat didepan matanya? Sekumpulan koin uang! Rupanya orang-orang yang lewat menyangka sang istri pengemis. Sang istri tidak marah ataupun tersinggung melainkan menjadi bersemangat. Kalau orang asing bisa berbelas kasihan, apalagi Tuhan. Dengan berbekal doa, komat- kamit sebelum mengetuk pintu maka pada ketukan ke lima belas, sang istri menemukan seorang pengacara perempuan yang bersedia membantu saat itu juga .... (BERSAMBUNG)

Ingat Pengalaman Sendiri

Ingat Pengalaman Sendiri

07.12.2005.

Dear Zeverina,

Membaca cerita-cerita yang ada di kolom Kesehatan ini tanpa kita sadari seperti mengadakan terapi kelompok untuk menyegarkan kembali kepenatan dan stress yang kita alami sehari-hari, bahkan bisa mendapatkan jalan keluar dari suatu permasalahan. Selamat ya, benar-benar efektif, terutama untuk saya pribadi. Merenungkan tulisan Sarimin-San, saya jadi ingat tentang pengalaman saya sendiri.

Setiap saya pulang ke Indonesia, banyak keluarga yang menawarkan entah dirinya sendiri entah anaknya untuk bekerja dengan saya. Bahkan ada paman saya yang berumur hampir 60 tahun ingin mencoba pengalaman dan bekerja dengan saya. Apa saja, bahkan pekerjaan berat sekalipun, katanya.

Sebaliknya, saat saya ketempat para pengrajin yang hidupnya di desa-desa bahkan dengan lantai tanah tidak pernah sekalipun meminta pekerjaan di luar negeri. Ada satu anak pengrajin yang pandai sekali menari daerah, iseng-iseng saya tanya kalau mungkin satu hari dia punya niat untuk bekerja dengan saya karena saat pameran saya sering mengadakan pertunjukkan tarian daerah. Tapi apa jawabannya?

"Tidak Bu, terima kasih. Hidup saya cukup disini, saya cuma bisa bantu Ibu dengan berdoa supaya usaha Ibu lancar." Trenyuh hati saya mendengar ucapannya.

Rasa puas dalam diri adalah sesuatu yang relatif dan tidak pernah ada batasnya tanpa kita sendiri yang membatasi. Kepuasan dalam keberhasilan maupun kehidupan tergantung dari kita sendiri yang mebatasinya, dan gadis desa yang sederhana itu tahu bagaimana mengukur rasa puas dalam dirinya. Sejak kejadian itu saya pun mulai mencoba mencari jawaban yang tepat untuk keluarga ataupun teman2 tanpa berusaha menyakiti hati mereka karena dalam kehidupan ini kita akan selalu saling membutuhkan satu sama lainnya. Tapi kalau pada saat kita tidak bisa membantu diri sendiri, bagaimana membantu orang lain? Istilahnya orang jatuh mau tolong orang tenggelam, yah mati dua-duanya.

Jadi kalau ada yang tanya oleh-oleh, ya kalau saya ada rejeki saya bawa oleh-oleh, kalau lagi pas-pas-an ya saya bilang, oleh-olehnya ya "saya sendiri", kan cuma lihat beberapa kali dalam setahun? Kalau ada yang minta uang, saya akan tanya untuk apa? Kalau urusan penting dan saya ada sedikit uang ya saya kasih, kalau hanya karena cari rejeki nomplok, ya bilang saja "tidak ada" dengan baik-baik, lalu ucapkan terima kasih dengan sopan karena sudah menganggap saya mampu. Jangan biarkan energi negatif memasuki badan kita, lawan dengan energi postif, kasih saja senyum, paling yang disenyumin ngerundel, maksimum ngomongin saya dibelakang.

Kalau dibilang sudah jadi orang mampu, saya jawab "Amin", kalau dibilang pelit, ya saya jawab "Tuhan saja tidak setiap waktu mengabullkan permintaan kita, karena setiap kejadian selalu ada waktunya. Ada waktu nangis ya ada waktu tertawa. Mungkin sekarang waktu saya pelit, doian saja supaya nanti ada waktunya saya murah hati. Biasanya setelah dijawab seperti itu kalau tidak ngeloyor tanpa jawaban, garuk-garuk kepala, malah ada yang bilang saya sudah kehilangan pikiran, atau gila karena orang minta bantuan jawabannya hanya senyum-senyum. Ada yang mengumpat, tersinggung, dll.

Nah sekarang tergantung dari kita sendiri. Jangan terlalu diambil hati dan bersikap negatif, karena semuanya ada maksudnya, kadangkala bisa mengingatkan kalau kita lebih beruntung daripada mereka jadi bersyukurlah kepada Tuhan. Semuanya tergantung dari kita bagaimana menanggapi masalah, yang penting semuanya ada batasnya, dan kita sendirilah yang menentukan batas tersebut. Bersikaplah posifif karena sikap negatif itu ada di dunia untuk membuat kita menghargai apa artinya postif. Kalau tidak ada permasalahan, kita tidak akan pernah tahu bagaimana menghargai suatu jalan keluar. Kalau hanya ada negatif, lama kelamaan yang negatif menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya merusakkan diri kita sendiri.

Percayalah, Tuhan tidak akan pernah menjerumuskan kita ke yang negatif, sebaliknya kita sendiri biasanya yang memilih untuk mengambil yang negatif. Tersenyum lah didepan kaca, maka kita akan tahu bahwa kebahagiaan berada didepan kita berperang melawan kesedihan. Wah saya kebanyakan nulis, mudah-mudahan ada manfaatnya buat kita semua. Salam sejahtera selalu, dan jangan lupa tersenyumlah!

Air Putih

18.03.2007.

Hai..hai..dan hai, apa kabar si hai hai hai dan kokiers?

Kayaknya sudah lama ya tidak “mendengar” sapaan khas dari si Dia yang suka ber hai hai hai (wajib tiga kali). Kurang wokeh ya kayak nasi tanpa sambal, walaupun mengenyangkan tapi kok kurang nendang gitu... (Tidak komplain ya Zev, hanya mengeluarkan “rasa hati”...)

Saya hari ini menulis tentang air putih yang segar. Bagi saya air putih adalah sebuah idola.

Kalau keadaan cuaca sedang panas terik dan menyengat, maka yang pertama keluar dalam pikiran adalah segelas (kalau perlu sebotol) air putih yang segar mengaliri tenggorokan. Kalau keadaan cuaca dingin dan kering, lagi-lagi segelas air yang saya buru.

Saat saya bangun pada pagi hari (kadang-kadang kesiangan juga) hal pertama yang saya lakukan adalah meminum segelas air putih (setelah itu ya kopi kental...) mau tidur ya menyiapkan segelas air putih disamping ranjang, kalau terbangun karena mimpi buruk ataupun mimpi indah ya segelas air putih yang pertama kali saya gapai. Segelas air putih bisa meredakan kemarahan saya, begitu juga saat saya sedang sedih pasti yang dicari segelas air putih.

Air putih bagi saya bagaikan sebuah idola. Artinya sangat besar sekali, jauh lebih besar daripada dicampur dengan macam-macam. Memang enak sih kalau air putih dicampur sirop, kopi, teh dll, tapi lagi yang paling menyegarkan ya air putih tok.

Bagaimana kalau saya jadi air putih ya? Yang artinya bisa menyegarkan, menenangkan, dan menyenangkan. Waduh kayaknya susah ya.

Susah karena jadi air putih berarti tidak pakai sirop, yang berarti saya tidak terlihat “berwarna” dari luar. Berarti tidak pakai kopi, apalagi kopi merk “x”, yang berarti saya tidak “seterkenal” kopi merk X. Berarti tidak pakai teh dengan berbagai macam rasa, yang berarti saya tidak akan mempunyai “rasa” tertentu yang ngetop.

Jadi air putih itu seperti siapa ya? Menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan manusia tanpa manusianya sendiri ingat atau memperhatikan. Menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan tetapi tidak “ngetop”. Jangan dibandingkan air mineral dengan air putih karena disini yang saya bicarakan ya air putih tok.

Kalau menurut saya mungkin orang yang seperti air putih yang mengalir di hati banyak manusia diantaranya adalah Ibu Teresa dan Romo Mangun dll.

Siapa lagi ya? Akhirnya saya bengang-bengong di depan monitor komputer, sadar karena sebenarnya bagian yang “dan lain lain” itu buanyaaak sekali. Ibu saya merupakan “air putih” bagi kami sekeluarga, karena dedikasinya yang menyegarkan dan menenangkan kami, tetapi kadangkala kami lupa bahwa arti sang Ibu sangat besar bagaikan segelas airputih yang tidak ada habisnya. Juga Ibu-Ibunya para kokier yang juga merupakan “air putih”bagi para kokier pasti banyak sekali.

Bukan hanya ibu-ibu, bapak-bapak bahkan anak-anak pun bisa menjadi air putih yang menyegarkan dan menenangkan, hanya ya itu, tidak semua orang mampu menjadi air putih dan bening.

Contohnya ya tidak usah jauh-jauh, saya sendiri lah. Mau jadi air putih ya kurang bening, masih ada butiran-butiran coklatnya. Mau menyegarkan tetapi minta imbalan, mau menenangkan tapi milih-milih sama siapa. Mau jadi air putih asal air mineral karena bisa menghasilkan uang, ya bukan air putih (biasa) lagi. Gamblangnya ya menjadi manusia yang bisa menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan tapi ya tidak usah neko-neko dan memikirkan imbalannya. Mendedikasikan diri tanpa berpikir akan masuk ke layar kaca, layar televisi ataupun layar monitor.

Kalau banyak manusia yang berbuat dan bertindak seperti air putih, pasti Indonesia bisa terlihat kinclong karena bersih.

Bisa tidak ya saya menjadi air putih?

Kapan ya? Wuiss pokokke harus bisa tenan gitu.

Permisi para kokier, saya mau minum air putih dulu...

Arita-CH

Tuhan, ijinkan saya ber-Tuhan...

11.10.2006.
Dear Zev dan para pembaca, apa kabar ?
Selamat berakhir pekan ya, untuk Zev khususnya, nikmatilah senikmat-nikmatnya…

Zev beberapa tahun yang silam, saya pergi ke sebuah kampung kecil yang sangat terpencil dan sulit akses masuknya, kampung ini terletak di sebuah pulau besar di bumi pertiwi tercinta. Saat itu saya sedang dalam rangka penelitian budaya tidak resmi alias tidak punya sponsor dari institusi manapun karena lebih merupakan “cicilan hutang” saya terhadap kebesaran bangsa yang sedang terorak-arik dalam penggorengan kemelut ekonomi, politik, korupsi, kolusi, dsb,dst, bla bla bla.

Dengan sedikit modal rupiah dan modal dengkul serta pinggang -maksudnya jalan kaki entah berapa kilometer sambil memanggul ransel penuh dengan perlengkapan “tempur” yang sudah kehabisan sebelum pulang- saya menapaki jalur lintas suku asing yang hidupnya bergantung dengan alam semata.

Suatu malam dengan ditemani bulan dan bintang, saya mengobrol dengan seorang bapak tua bernama SY, yang tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir, hanya pohon Durian yang menjadi saksi mata hari kelahirannya. Ia menceritakan kisah kehidupannya dengan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti daripada saya yang mencoba berbahasa daerah tapi menclo-menclo, tergagap, seperti orang tersedak buah kedondong.
Suatu hari, pak SY “merantau” ke sebuah Desa yang berjarak 3 hari berperahu. Saat ia tiba, banyak orang sedang berkerumun di depan sebuah rumah, ingin tahu apa yang terjadi, ia pun mendatangi kerumunan tersebut.
Ada apa ramai-ramai? Ada perayaan panen?” tanyanya.
Bukan Pak, sekarang lagi pendaftaran untuk pembikinan KTP”, jawab lelaki di sebelahnya.
KTP itu apa?” tanyanya lagi
KTP itu Kartu Tanda Penduduk
Bagaimana caranya untuk buat KTP?” ia semakin penasaran ingin tahu
Ya gampang, tinggal di isi nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, agama, terus di potret dan tanda tangan”.
Ia termangu bingung, tidak mengerti maksud dari semuanya itu. Akhirnya ia meninggalkan kerumunan tersebut, tetapi bapak yang menjelaskan arti dari KTP memanggilnya kembali.
Pak, pak, mau juga bikin KTP?”.
Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak mengerti. Karena saya tidak tahu tanggal lahir saya” jawabnya polos.
Ah gampang pak, di kira-kira saja, mungkin sekarang bapak berumur 30 tahun?”
Ia menatap si bapak pasrah, “ya saya tidak tahu berapa tahun umur saya, sudahlah tidak apa-apa, saya tidak bikin KTP”.
Si bapak tidak mau berhenti membujuk, “dikira-kira saja pak umurnya. Bapak agamanya apa? Agama A, atau agama B
Lalu ia menjawab “agama saya ya agama X”.
Si bapak mengerutkan keningnya “wah pak, agama X tidak ada didalam daftar, pilih saja pak yang didalam daftar, ada agama A, B, C atau D. “
Ia menggelengkan kepalanya, “ Tidak bisa, agama saya ya X, agama X itu agama helu, agama dulu, dari jaman nenek moyang kami turun ke bumi. Saya bisa dikutuk tidak bisa pulang ke kampung nenek moyang saat saya mati nanti”.
Tapi pak, yang namanya agama ya cuma A,B,C,D itu saja. Untuk syarat KTP, bapak harus mencantumkan salah satu agama dari A,B,C,D itu.” si bapak berkeras menjelaskan.
Ia kembali menggelengkan kepalanya “Kalau tidak ada agama X di dalam daftar, ya sudah saya tidak bikin KTP”.jawabnya keras.
Si Bapak lalu mendekati dan berkata “Pak, kalau bapak tidak memilih salah satu, berarti bapak tidak beragama. Kalau bapak tidak ada agama, itu berbahaya pak
Ia pun menjadi marah campur bingung, “bahaya bagaimana? Memangnya saya merupakan ancaman?”
Si Bapak berbisik “Kalau tidak ada agama, bapak bisa dibilang komunis, hati-hati pak. Nanti bapak bisa ditangkap, dan plong, masuk penjara.”
Ia pun terkaget-kaget “masuk penjara? saya salah apa? komunis itu apa?”

Sayapun ikut-ikutan kaget mendengar cerita bapak SY yang terjadi sekitar awal tahun 70 an. Lalu sayapun bertanya ke pak SY apakah ia akhirnya mempunyai KTP. Pak SY tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
ah tidak, untuk apa? Tetapi anak-anak saya punya KTP semua” jawabnya bangga.
Lalu bagaimana dengan agamanya? Sekarang kan agama X sudah di akui dan mempunyai bagian dalam undang-undang. Pak SY mengangguk-anggukan kepalanya
ya betul, tetapi anak-anak saya mendaftar dengan agama A, biar mudah urusan administrasinya, walaupun aslinya sih masih tetap agama X”.
Saya jadi garuk-garuk kepala.
Melihat saya garuk-garuk kepala kebingungan, pak SY menjelaskan bahwa yang terutama bagi ia dan keluarganya adalah berTuhan. Menyembah ke sang Pencipta Maha Agung, Maha Besar. Menghormati ciptaanNya dan berbuat sesuai dengan ajaranNya, menghindari laranganNya dan menjalani aturanNya, menempatkan IA di atas segalanya maka segalanya akan dimudahkan untuk kembali berpulang ke tempatNya, kampung nenek moyang, karena hidup di dunia hanyalah kampung yang dipinjamkan sementara.
Kalimat pak SY masih tetap tertanam di hati saya. Di negara Indonesia yang mempunyai kekayaan dengan aneka agama sangat sedikit orang yang mempunyai Tuhan. Orang-orang berlomba-lomba menyandang agama, seolah-olah agama merupakan prestis untuk kepentingan pribadi. Para koruptor kelas wahid, menggantungkan agamanya di depan kamera televisi. Para politikus menggunakan agama untuk mendapatkan kemenangan dalam berkarir yang walaupun nantinya dalam proses selanjutnya mereka sama sekali tidak ber-Tuhan. Begitu banyak orang-orang yang “mengtuhankan” ajaran dan melupakan Tuhan yang sejati.
Tuhan yang seharusnya ditempatkan ditengah-tengah, lalu semuanya mengarah hanya ke Tuhan, menjadi terbalik, segalanya harus ditengah-tengah, lalu Tuhan di belakang menjadi tameng kebobrokan.

Ada salah satu puisi Frithjof Schuon, seorang teolog Sufi, dari Basel, Swiss yang sangat saya suka,

Les hommes semblent être en fuite
Qu’est-ce qui les inquiète, qu’est-ce qui les fait fuir?
Ils ne fuient pas seulement l’inconnu qui menace,
Ils se fuient eux-mêmes, ils fuient leurs misères
Leur simple existence. Homme, écoute
Tu es au bord de l’Être, où vas-tu?
Arrête-toi!
……..Dieu est le Centre et le Repos.


Orang-orang kelihatannya melarikan diri
Apa yang membuat mereka khawatir, apa yang membuat mereka melarikan diri?
Mereka tidak hanya melarikan diri dari ancaman asing yang tidak diketahui,
Mereka melarikan diri dari diri mereka sendiri, mereka melarikan diri dari kesengsaraan mereka
keberadaan mereka yang sederhana. Hai manusia, dengar.
Kalian berada diujung keberadaan, mau pergi kemana lagi?
Berhenti!
Tuhan adalah yang utama dan peristirahatan.

Sudahkah saya ber-Tuhan?
Dengan menatap keAgungannya, saya bersimpuh agar saya diijinkan untuk berTuhan dan selalu ber-Tuhan, Amin.


Arita - CH

Nasi campur

Nasi campur
18.10.2006.
Dear Zev dan Para pembaca di seantero belahan bumi,
Kali ini saya ingin menghidangkan nasi campur sederhana di Koki tersayang nan hebat tenan, nasi campur ala tulisan dikarenakan bahan-bahannya terdiri dari kata-kata yang teracik dengan bumbu dan pengalaman seadanya sehingga ya sederhana saja sesuai dengan ukuran ikat pinggang saya yang sudah cukup kenyang dengan dua macam lauk. Hanya tulisan ringan utara selatan yang mungkin tidak menyambung menjadi satu yang bisa saya tuliskan saat ini untuk mengobati rasa rindu saya berkongko ria dengan para kokier di berbagai pelosok.

Dimulai dari warna pirang. Warna pirang bisa kita anggap seperti daging rendang, karena warnanya coklat kepirang-pirangan (maksa nggak ya...?). Daging rendang sedap dan gurih, wuah nikmat rasanya setelah diinapkan beberapa hari. Lalu apa hubungannya dengan warna pirang? Ya mungkin karena sama-sama berwarna kepirang-pirangan.

Minggu kemarin saya ngopi bersama-sama dengan teman-teman. Ngobrolin warna rambut teman saya yang habis diupdate mengikuti pergantian musim, persis warna daun pada musim gugur, agak oranye ke merah-merahan. Iseng-iseng saya tanya, kapan ganti warna pirang? Ih langsung dia melotot! Makin cantik sih, tapi mulutnya jadi mencong karena senewen.
"Enak saja ganti pirang, tak mungkin aku ganti pirang!"
Loh ini anak kok jadi salah paham, saya buru-buru minta maaf, bukan maksud hati menghina, tapi karena melihat kulitnya yang putih bersih, bermata biru, berbadan langsing tinggi semampai, tinggal diganti warna rambut pirang, jadilah Barbie hidup.

Teryata menurut dia dan sebagian teman-teman dari pihak pria , berpendapat kalau rambut pirang sama dengan kecantikkan isi otak ayam, apalagi ditambah dengan buah dada yang membusung ala buah pepaya (entah operasi atau asli), wah komplit otak –otak maksudnya ya lembek dan gurih seperti otak-otak . Bagi mereka (teman-teman ngopi saat itu) wanita pirang bukan tipe wanita yang ideal 100%. Ideal 20 % untuk dipandang tapi 80% mahal di ongkos buat berbagi hidup bersama. Belum lagi prasangka kalau kebanyakkan yang berambut pirang berprofesi dengan menguras keringat dan kantong sang pembeli. Sadis juga ngomongnya, langsung saja saya bilang kalau itu namanya diskriminasi, termasuk rasis loh, karena perbedaan warna rambut langsung pukul rata! Si cantik yang baru ganti warna rambut tetap ngotot mempertahankan pendapatnya tentang warna rambut pirang, sementara dari pihak lelaki malah ketawa-ketiwi, mereka bilang kalau ada yang berambut pirang lewat maka dengan senang hati akan dipandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi untuk menelannya bulat-bulat, tungu dulu, satu cangkir kopi tidak cukup. Si cantik bilang kalau saya berpikiran lain karena saya bukan dari dunia mereka, maksudnya dunia kulit putih . Menurut si cantik, ia kesal karena kulitnya tidak bisa coklat, sudah menghabiskan uang untuk berjemur dan solarium, hanya coklat selama satu hingga dua minggu, setelah itu putih lagi! Teman yang dari pihak pria menyambar seperti kompor, bilang kalau kulit coklat lambang gengsi tersendiri! Bergaya saat musim panas, dan juga menyatakan secara tidak langsung kalau ia menghabiskan beberapa lembar uang untuk memperganteng atau mempercantik diri. Apalagi kalau coklat pada musim dingin, berarti nongkrong di solarium berkali-kali. Wah-wah, saya jadi garuk-garuk kepala ingat tetangga saya di Jakarta yang menghabiskan uang entah berapa rupiah agar wajahnya berkulit putih, begitu juga dengan penyanyi terkenal yang menghabiskan entah berapa dolar sehingga kulitnya yang tadinya hitam manis menjadi putih pucat seperti lilin tanpa api. Hampa dan dingin. Kesannya, kulit berwarna masuk dalam golongan kelas terabaikan, tinggal di sudut ruang, bengong menggigit jari hanya mampu melihat tanpa bisa memasuki ruangan tertentu.

Kembali ke warna pirang, saya tidak setuju pukul rata begitu saja, loh itu bisa menjurus ke arah diskriminasi, kalau semua orang berpikiran seperti itu, bisa-bisa si pirang kabur mencari kehidupan baru yang lebih baik, yang menerima si pirang dengan karpet merah, kabur ke Indonesia.
Tuh kan bingung, kok malah jadi ke Indonesia? Lah bagaimana tidak bisa, kalau yang berambut pirang bisa datang dengan mudah ke Indonesia, bahkan menjadi “peduduk gelap” dengan KIMS lengkap, bergaji lebih tinggi dari pada pegawai lokal yang lebih ahli daripada si pirang. tidak membayar pajak ke negara Republik Indonesia. Loh kok bisa? ya bisa, wong namanya saja tidak terdaftar di departemen tenaga kerja. Cerita ini bukan isapan omong kosong belaka, saya tidak tahu apakah pernah dilakukan penelitian dan penghitungan secara statistik, tapi secara pribadi saya tahu cukup banyak orang asing yang punya KIMS aspal, tanpa “izin kerja resmi” ongkang-ongkang kaki di atas pegawai lokal yang sungsang sumbel bayar pajak. Bahkan saking gregetnya saat saya masih tinggal di Jakarta, saya melaporkan keberadaan mereka ke Departemen Tenaga Kerja. Beberapa hari kemudian, gedebak-gedebuk pihak dari Departemen Tenaga kerja datang melakukan pemeriksaan mendadak atas izin kerja para pegawai asing yang digaji cepekceng per jam sementara pegawai lokalnya cepekceng per hari. Suasana chaos hanya berlangsung dalam hitungan 60 hingga 120 menit. Setelah itu seperti yang terjadi dalam cerita-cerita yang sudah- sudah, beberapa amplop membungkam ke galakkan sang petugas. Habis deh chaosnya, berganti dengan senyum lebar, jabat tangan erat, terima kasih atas kerjasamanya...
Saya tidak menuduh semuanya seperti itu, karena saya hanya tahu beberapa saja,tetapi saya penasaran, berapa banyak “orang asing yang menjadi penduduk gelap di Indonesia” dibandingkan dengan “orang Indonesia yang berstatus gelap” di negara asing?
Mereka (sekali lagi tidak semuanya) mengeyam kehidupan lebih layak di Indonesia dibandingkan di negaranya sendiri, bahkan ada yang tidak mau kembali ke Amerika karena tidak mungkin mempunyai tingkat kehidupan yang sama dengan hidupnya di Indonesia. Mereka berbondong-bondong mencari kehidupan yang jauh lebih baik di Indonesia, sementara orang kita tersisih bahkan jadi pergi berduyun-duyun mencari sesuap nasi ke negara lain, bernasib lebih menyedihkan sebagai “penduduk gelap” di luar negeri di bandingkan orang asing yang “berstatus gelap” mengenyam nikmatnya hidup di Indonesia tanpa “takut” dengan petugas negara. Kan semuanya bisa diatur, toch? Woo, dengkulmu!
Apa yang saya tulis bukanlah merupakan penelitian ilmiah ataupun berdasarkan statistik jadi tidak bisa dijadikan standar kalau semuanya seperti itu, hanya berdasarkan segelintir orang yang saya tahu saat saya masih berada di Indonesia. Kadang-kadang tangan saya suka gatal ingin menjewer telinga mereka kuat-kuat. Sedih melihat tuan rumah berdiri dibawah kaki para pendatang yang ugal-ugalan.

Kembali ke negara yang mulai dingin, ke teman-teman “kulit putih” yang ngopi bersama-sama, saya wanti-wanti pesan kepada mereka, janganlah mendiskriminasikan si rambut pirang, pandang mereka sesuai dengan kemampuannya, bukan warna rambutnya nanti kalau dia kabur ke Indonesia lalu jadi “penduduk gelap” kan bisa repot urusannya. Gelar sarjana Indonesia bisa bangkrut tidak laku gara-gara warna rambutnya tidak pirang. Nanti saudara –saudara saya malah buru-buru ganti warna rambut jadi pirang, supaya bisa bersaing mendapatkan cepekceng perjam...

Arita-CH