Alasan Meninggalkan Indonesia (I)
Ingat Pengalaman Sendiri
07.12.2005.
Dear Zeverina,
Membaca cerita-cerita yang ada di kolom Kesehatan ini tanpa kita sadari seperti mengadakan terapi kelompok untuk menyegarkan kembali kepenatan dan stress yang kita alami sehari-hari, bahkan bisa mendapatkan jalan keluar dari suatu permasalahan. Selamat ya, benar-benar efektif, terutama untuk saya pribadi. Merenungkan tulisan Sarimin-San, saya jadi ingat tentang pengalaman saya sendiri.
Setiap saya pulang ke Indonesia, banyak keluarga yang menawarkan entah dirinya sendiri entah anaknya untuk bekerja dengan saya. Bahkan ada paman saya yang berumur hampir 60 tahun ingin mencoba pengalaman dan bekerja dengan saya. Apa saja, bahkan pekerjaan berat sekalipun, katanya.
Sebaliknya, saat saya ketempat para pengrajin yang hidupnya di desa-desa bahkan dengan lantai tanah tidak pernah sekalipun meminta pekerjaan di luar negeri. Ada satu anak pengrajin yang pandai sekali menari daerah, iseng-iseng saya tanya kalau mungkin satu hari dia punya niat untuk bekerja dengan saya karena saat pameran saya sering mengadakan pertunjukkan tarian daerah. Tapi apa jawabannya?
"Tidak Bu, terima kasih. Hidup saya cukup disini, saya cuma bisa bantu Ibu dengan berdoa supaya usaha Ibu lancar." Trenyuh hati saya mendengar ucapannya.
Rasa puas dalam diri adalah sesuatu yang relatif dan tidak pernah ada batasnya tanpa kita sendiri yang membatasi. Kepuasan dalam keberhasilan maupun kehidupan tergantung dari kita sendiri yang mebatasinya, dan gadis desa yang sederhana itu tahu bagaimana mengukur rasa puas dalam dirinya. Sejak kejadian itu saya pun mulai mencoba mencari jawaban yang tepat untuk keluarga ataupun teman2 tanpa berusaha menyakiti hati mereka karena dalam kehidupan ini kita akan selalu saling membutuhkan satu sama lainnya. Tapi kalau pada saat kita tidak bisa membantu diri sendiri, bagaimana membantu orang lain? Istilahnya orang jatuh mau tolong orang tenggelam, yah mati dua-duanya.
Jadi kalau ada yang tanya oleh-oleh, ya kalau saya ada rejeki saya bawa oleh-oleh, kalau lagi pas-pas-an ya saya bilang, oleh-olehnya ya "saya sendiri", kan cuma lihat beberapa kali dalam setahun? Kalau ada yang minta uang, saya akan tanya untuk apa? Kalau urusan penting dan saya ada sedikit uang ya saya kasih, kalau hanya karena cari rejeki nomplok, ya bilang saja "tidak ada" dengan baik-baik, lalu ucapkan terima kasih dengan sopan karena sudah menganggap saya mampu. Jangan biarkan energi negatif memasuki badan kita, lawan dengan energi postif, kasih saja senyum, paling yang disenyumin ngerundel, maksimum ngomongin saya dibelakang.
Kalau dibilang sudah jadi orang mampu, saya jawab "Amin", kalau dibilang pelit, ya saya jawab "Tuhan saja tidak setiap waktu mengabullkan permintaan kita, karena setiap kejadian selalu ada waktunya. Ada waktu nangis ya ada waktu tertawa. Mungkin sekarang waktu saya pelit, doian saja supaya nanti ada waktunya saya murah hati. Biasanya setelah dijawab seperti itu kalau tidak ngeloyor tanpa jawaban, garuk-garuk kepala, malah ada yang bilang saya sudah kehilangan pikiran, atau gila karena orang minta bantuan jawabannya hanya senyum-senyum. Ada yang mengumpat, tersinggung, dll.
Nah sekarang tergantung dari kita sendiri. Jangan terlalu diambil hati dan bersikap negatif, karena semuanya ada maksudnya, kadangkala bisa mengingatkan kalau kita lebih beruntung daripada mereka jadi bersyukurlah kepada Tuhan. Semuanya tergantung dari kita bagaimana menanggapi masalah, yang penting semuanya ada batasnya, dan kita sendirilah yang menentukan batas tersebut. Bersikaplah posifif karena sikap negatif itu ada di dunia untuk membuat kita menghargai apa artinya postif. Kalau tidak ada permasalahan, kita tidak akan pernah tahu bagaimana menghargai suatu jalan keluar. Kalau hanya ada negatif, lama kelamaan yang negatif menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya merusakkan diri kita sendiri.
Percayalah, Tuhan tidak akan pernah menjerumuskan kita ke yang negatif, sebaliknya kita sendiri biasanya yang memilih untuk mengambil yang negatif. Tersenyum lah didepan kaca, maka kita akan tahu bahwa kebahagiaan berada didepan kita berperang melawan kesedihan. Wah saya kebanyakan nulis, mudah-mudahan ada manfaatnya buat kita semua. Salam sejahtera selalu, dan jangan lupa tersenyumlah!
Air Putih
Hai..hai..dan hai, apa kabar si hai hai hai dan kokiers?
Kayaknya sudah lama ya tidak “mendengar” sapaan khas dari si Dia yang suka ber hai hai hai (wajib tiga kali). Kurang wokeh ya kayak nasi tanpa sambal, walaupun mengenyangkan tapi kok kurang nendang gitu... (Tidak komplain ya Zev, hanya mengeluarkan “rasa hati”...)
Saya hari ini menulis tentang air putih yang segar. Bagi saya air putih adalah sebuah idola.Kalau keadaan cuaca sedang panas terik dan menyengat, maka yang pertama keluar dalam pikiran adalah segelas (kalau perlu sebotol) air putih yang segar mengaliri tenggorokan. Kalau keadaan cuaca dingin dan kering, lagi-lagi segelas air yang saya buru.
Saat saya bangun pada pagi hari (kadang-kadang kesiangan juga) hal pertama yang saya lakukan adalah meminum segelas air putih (setelah itu ya kopi kental...) mau tidur ya menyiapkan segelas air putih disamping ranjang, kalau terbangun karena mimpi buruk ataupun mimpi indah ya segelas air putih yang pertama kali saya gapai. Segelas air putih bisa meredakan kemarahan saya, begitu juga saat saya sedang sedih pasti yang dicari segelas air putih.
Air putih bagi saya bagaikan sebuah idola. Artinya sangat besar sekali, jauh lebih besar daripada dicampur dengan macam-macam. Memang enak sih kalau air putih dicampur sirop, kopi, teh dll, tapi lagi yang paling menyegarkan ya air putih tok.
Bagaimana kalau saya jadi air putih ya? Yang artinya bisa menyegarkan, menenangkan, dan menyenangkan. Waduh kayaknya susah ya.
Susah karena jadi air putih berarti tidak pakai sirop, yang berarti saya tidak terlihat “berwarna” dari luar. Berarti tidak pakai kopi, apalagi kopi merk “x”, yang berarti saya tidak “seterkenal” kopi merk X. Berarti tidak pakai teh dengan berbagai macam rasa, yang berarti saya tidak akan mempunyai “rasa” tertentu yang ngetop.
Jadi air putih itu seperti siapa ya? Menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan manusia tanpa manusianya sendiri ingat atau memperhatikan. Menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan tetapi tidak “ngetop”. Jangan dibandingkan air mineral dengan air putih karena disini yang saya bicarakan ya air putih tok.
Kalau menurut saya mungkin orang yang seperti air putih yang mengalir di hati banyak manusia diantaranya adalah Ibu Teresa dan Romo Mangun dll.
Siapa lagi ya? Akhirnya saya bengang-bengong di depan monitor komputer, sadar karena sebenarnya bagian yang “dan lain lain” itu buanyaaak sekali. Ibu saya merupakan “air putih” bagi kami sekeluarga, karena dedikasinya yang menyegarkan dan menenangkan kami, tetapi kadangkala kami lupa bahwa arti sang Ibu sangat besar bagaikan segelas airputih yang tidak ada habisnya. Juga Ibu-Ibunya para kokier yang juga merupakan “air putih”bagi para kokier pasti banyak sekali.
Bukan hanya ibu-ibu, bapak-bapak bahkan anak-anak pun bisa menjadi air putih yang menyegarkan dan menenangkan, hanya ya itu, tidak semua orang mampu menjadi air putih dan bening.
Contohnya ya tidak usah jauh-jauh, saya sendiri lah. Mau jadi air putih ya kurang bening, masih ada butiran-butiran coklatnya. Mau menyegarkan tetapi minta imbalan, mau menenangkan tapi milih-milih sama siapa. Mau jadi air putih asal air mineral karena bisa menghasilkan uang, ya bukan air putih (biasa) lagi. Gamblangnya ya menjadi manusia yang bisa menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan tapi ya tidak usah neko-neko dan memikirkan imbalannya. Mendedikasikan diri tanpa berpikir akan masuk ke layar kaca, layar televisi ataupun layar monitor.
Kalau banyak manusia yang berbuat dan bertindak seperti air putih, pasti Indonesia bisa terlihat kinclong karena bersih.
Bisa tidak ya saya menjadi air putih?
Kapan ya? Wuiss pokokke harus bisa tenan gitu.
Permisi para kokier, saya mau minum air putih dulu...
Arita-CH
Tuhan, ijinkan saya ber-Tuhan...
Dear Zev dan para pembaca, apa kabar ?
Selamat berakhir pekan ya, untuk Zev khususnya, nikmatilah senikmat-nikmatnya…
Dengan sedikit modal rupiah dan modal dengkul serta pinggang -maksudnya jalan kaki entah berapa kilometer sambil memanggul ransel penuh dengan perlengkapan “tempur” yang sudah kehabisan sebelum pulang- saya menapaki jalur lintas suku asing yang hidupnya bergantung dengan alam semata.
Suatu malam dengan ditemani bulan dan bintang, saya mengobrol dengan seorang bapak tua bernama SY, yang tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir, hanya pohon Durian yang menjadi saksi mata hari kelahirannya. Ia menceritakan kisah kehidupannya dengan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti daripada saya yang mencoba berbahasa daerah tapi menclo-menclo, tergagap, seperti orang tersedak buah kedondong.
Suatu hari, pak SY “merantau” ke sebuah Desa yang berjarak 3 hari berperahu. Saat ia tiba, banyak orang sedang berkerumun di depan sebuah rumah, ingin tahu apa yang terjadi, ia pun mendatangi kerumunan tersebut.
“Ada apa ramai-ramai? Ada perayaan panen?” tanyanya.
“Bukan Pak, sekarang lagi pendaftaran untuk pembikinan KTP”, jawab lelaki di sebelahnya.
“KTP itu apa?” tanyanya lagi
“KTP itu Kartu Tanda Penduduk”
“Bagaimana caranya untuk buat KTP?” ia semakin penasaran ingin tahu
“Ya gampang, tinggal di isi nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, agama, terus di potret dan tanda tangan”.
Ia termangu bingung, tidak mengerti maksud dari semuanya itu. Akhirnya ia meninggalkan kerumunan tersebut, tetapi bapak yang menjelaskan arti dari KTP memanggilnya kembali.
“Pak, pak, mau juga bikin KTP?”.
Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak mengerti. Karena saya tidak tahu tanggal lahir saya” jawabnya polos.
“Ah gampang pak, di kira-kira saja, mungkin sekarang bapak berumur 30 tahun?”
Ia menatap si bapak pasrah, “ya saya tidak tahu berapa tahun umur saya, sudahlah tidak apa-apa, saya tidak bikin KTP”.
Si bapak tidak mau berhenti membujuk, “dikira-kira saja pak umurnya. Bapak agamanya apa? Agama A, atau agama B”
Lalu ia menjawab “agama saya ya agama X”.
Si bapak mengerutkan keningnya “wah pak, agama X tidak ada didalam daftar, pilih saja pak yang didalam daftar, ada agama A, B, C atau D. “
Ia menggelengkan kepalanya, “ Tidak bisa, agama saya ya X, agama X itu agama helu, agama dulu, dari jaman nenek moyang kami turun ke bumi. Saya bisa dikutuk tidak bisa pulang ke kampung nenek moyang saat saya mati nanti”.
“Tapi pak, yang namanya agama ya cuma A,B,C,D itu saja. Untuk syarat KTP, bapak harus mencantumkan salah satu agama dari A,B,C,D itu.” si bapak berkeras menjelaskan.
Ia kembali menggelengkan kepalanya “Kalau tidak ada agama X di dalam daftar, ya sudah saya tidak bikin KTP”.jawabnya keras.
Si Bapak lalu mendekati dan berkata “Pak, kalau bapak tidak memilih salah satu, berarti bapak tidak beragama. Kalau bapak tidak ada agama, itu berbahaya pak”
Ia pun menjadi marah campur bingung, “bahaya bagaimana? Memangnya saya merupakan ancaman?”
Si Bapak berbisik “Kalau tidak ada agama, bapak bisa dibilang komunis, hati-hati pak. Nanti bapak bisa ditangkap, dan plong, masuk penjara.”
Ia pun terkaget-kaget “masuk penjara? saya salah apa? komunis itu apa?”
Sayapun ikut-ikutan kaget mendengar cerita bapak SY yang terjadi sekitar awal tahun 70 an. Lalu sayapun bertanya ke pak SY apakah ia akhirnya mempunyai KTP. Pak SY tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
“ah tidak, untuk apa? Tetapi anak-anak saya punya KTP semua” jawabnya bangga.
Lalu bagaimana dengan agamanya? Sekarang kan agama X sudah di akui dan mempunyai bagian dalam undang-undang. Pak SY mengangguk-anggukan kepalanya
“ya betul, tetapi anak-anak saya mendaftar dengan agama A, biar mudah urusan administrasinya, walaupun aslinya sih masih tetap agama X”.
Saya jadi garuk-garuk kepala. Melihat saya garuk-garuk kepala kebingungan, pak SY menjelaskan bahwa yang terutama bagi ia dan keluarganya adalah berTuhan. Menyembah ke sang Pencipta Maha Agung, Maha Besar. Menghormati ciptaanNya dan berbuat sesuai dengan ajaranNya, menghindari laranganNya dan menjalani aturanNya, menempatkan IA di atas segalanya maka segalanya akan dimudahkan untuk kembali berpulang ke tempatNya, kampung nenek moyang, karena hidup di dunia hanyalah kampung yang dipinjamkan sementara.
Kalimat pak SY masih tetap tertanam di hati saya. Di negara Indonesia yang mempunyai kekayaan dengan aneka agama sangat sedikit orang yang mempunyai Tuhan. Orang-orang berlomba-lomba menyandang agama, seolah-olah agama merupakan prestis untuk kepentingan pribadi. Para koruptor kelas wahid, menggantungkan agamanya di depan kamera televisi. Para politikus menggunakan agama untuk mendapatkan kemenangan dalam berkarir yang walaupun nantinya dalam proses selanjutnya mereka sama sekali tidak ber-Tuhan. Begitu banyak orang-orang yang “mengtuhankan” ajaran dan melupakan Tuhan yang sejati.
Tuhan yang seharusnya ditempatkan ditengah-tengah, lalu semuanya mengarah hanya ke Tuhan, menjadi terbalik, segalanya harus ditengah-tengah, lalu Tuhan di belakang menjadi tameng kebobrokan.
Ada salah satu puisi Frithjof Schuon, seorang teolog Sufi, dari Basel, Swiss yang sangat saya suka,
Les hommes semblent être en fuite
Qu’est-ce qui les inquiète, qu’est-ce qui les fait fuir?
Ils ne fuient pas seulement l’inconnu qui menace,
Ils se fuient eux-mêmes, ils fuient leurs misères
Leur simple existence. Homme, écoute
Tu es au bord de l’Être, où vas-tu?
Arrête-toi!
……..Dieu est le Centre et le Repos.
Orang-orang kelihatannya melarikan diri
Apa yang membuat mereka khawatir, apa yang membuat mereka melarikan diri?
Mereka tidak hanya melarikan diri dari ancaman asing yang tidak diketahui,
Mereka melarikan diri dari diri mereka sendiri, mereka melarikan diri dari kesengsaraan mereka
keberadaan mereka yang sederhana. Hai manusia, dengar.
Kalian berada diujung keberadaan, mau pergi kemana lagi?
Berhenti!
Tuhan adalah yang utama dan peristirahatan.
Sudahkah saya ber-Tuhan?
Dengan menatap keAgungannya, saya bersimpuh agar saya diijinkan untuk berTuhan dan selalu ber-Tuhan, Amin.
Arita - CH
Nasi campur
Dear Zev dan Para pembaca di seantero belahan bumi,
Kali ini saya ingin menghidangkan nasi campur sederhana di Koki tersayang nan hebat tenan, nasi campur ala tulisan dikarenakan bahan-bahannya terdiri dari kata-kata yang teracik dengan bumbu dan pengalaman seadanya sehingga ya sederhana saja sesuai dengan ukuran ikat pinggang saya yang sudah cukup kenyang dengan dua macam lauk. Hanya tulisan ringan utara selatan yang mungkin tidak menyambung menjadi satu yang bisa saya tuliskan saat ini untuk mengobati rasa rindu saya berkongko ria dengan para kokier di berbagai pelosok.
Dimulai dari warna pirang. Warna pirang bisa kita anggap seperti daging rendang, karena warnanya coklat kepirang-pirangan (maksa nggak ya...?). Daging rendang sedap dan gurih, wuah nikmat rasanya setelah diinapkan beberapa hari. Lalu apa hubungannya dengan warna pirang? Ya mungkin karena sama-sama berwarna kepirang-pirangan.
Minggu kemarin saya ngopi bersama-sama dengan teman-teman. Ngobrolin warna rambut teman saya yang habis diupdate mengikuti pergantian musim, persis warna daun pada musim gugur, agak oranye ke merah-merahan. Iseng-iseng saya tanya, kapan ganti warna pirang? Ih langsung dia melotot! Makin cantik sih, tapi mulutnya jadi mencong karena senewen.
"Enak saja ganti pirang, tak mungkin aku ganti pirang!"
Teryata menurut dia dan sebagian teman-teman dari pihak pria , berpendapat kalau rambut pirang sama dengan kecantikkan isi otak ayam, apalagi ditambah dengan buah dada yang membusung ala buah pepaya (entah operasi atau asli), wah komplit otak –otak maksudnya ya lembek dan gurih seperti otak-otak . Bagi mereka (teman-teman ngopi saat itu) wanita pirang bukan tipe wanita yang ideal 100%. Ideal 20 % untuk dipandang tapi 80% mahal di ongkos buat berbagi hidup bersama. Belum lagi prasangka kalau kebanyakkan yang berambut pirang berprofesi dengan menguras keringat dan kantong sang pembeli. Sadis juga ngomongnya, langsung saja saya bilang kalau itu namanya diskriminasi, termasuk rasis loh, karena perbedaan warna rambut langsung pukul rata! Si cantik yang baru ganti warna rambut tetap ngotot mempertahankan pendapatnya tentang warna rambut pirang, sementara dari pihak lelaki malah ketawa-ketiwi, mereka bilang kalau ada yang berambut pirang lewat maka dengan senang hati akan dipandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi untuk menelannya bulat-bulat, tungu dulu, satu cangkir kopi tidak cukup. Si cantik bilang kalau saya berpikiran lain karena saya bukan dari dunia mereka, maksudnya dunia kulit putih . Menurut si cantik, ia kesal karena kulitnya tidak bisa coklat, sudah menghabiskan uang untuk berjemur dan solarium, hanya coklat selama satu hingga dua minggu, setelah itu putih lagi! Teman yang dari pihak pria menyambar seperti kompor, bilang kalau kulit coklat lambang gengsi tersendiri! Bergaya saat musim panas, dan juga menyatakan secara tidak langsung kalau ia menghabiskan beberapa lembar uang untuk memperganteng atau mempercantik diri. Apalagi kalau coklat pada musim dingin, berarti nongkrong di solarium berkali-kali. Wah-wah, saya jadi garuk-garuk kepala ingat tetangga saya di Jakarta yang menghabiskan uang entah berapa rupiah agar wajahnya berkulit putih, begitu juga dengan penyanyi terkenal yang menghabiskan entah berapa dolar sehingga kulitnya yang tadinya hitam manis menjadi putih pucat seperti lilin tanpa api. Hampa dan dingin. Kesannya, kulit berwarna masuk dalam golongan kelas terabaikan, tinggal di sudut ruang, bengong menggigit jari hanya mampu melihat tanpa bisa memasuki ruangan tertentu.
Kembali ke warna pirang, saya tidak setuju pukul rata begitu saja, loh itu bisa menjurus ke arah diskriminasi, kalau semua orang berpikiran seperti itu, bisa-bisa si pirang kabur mencari kehidupan baru yang lebih baik, yang menerima si pirang dengan karpet merah, kabur ke Indonesia.
Tuh kan bingung, kok malah jadi ke Indonesia? Lah bagaimana tidak bisa, kalau yang berambut pirang bisa datang dengan mudah ke Indonesia, bahkan menjadi “peduduk gelap” dengan KIMS lengkap, bergaji lebih tinggi dari pada pegawai lokal yang lebih ahli daripada si pirang. tidak membayar pajak ke negara Republik Indonesia. Loh kok bisa? ya bisa, wong namanya saja tidak terdaftar di departemen tenaga kerja. Cerita ini bukan isapan omong kosong belaka, saya tidak tahu apakah pernah dilakukan penelitian dan penghitungan secara statistik, tapi secara pribadi saya tahu cukup banyak orang asing yang punya KIMS aspal, tanpa “izin kerja resmi” ongkang-ongkang kaki di atas pegawai lokal yang sungsang sumbel bayar pajak. Bahkan saking gregetnya saat saya masih tinggal di Jakarta, saya melaporkan keberadaan mereka ke Departemen Tenaga Kerja. Beberapa hari kemudian, gedebak-gedebuk pihak dari Departemen Tenaga kerja datang melakukan pemeriksaan mendadak atas izin kerja para pegawai asing yang digaji cepekceng per jam sementara pegawai lokalnya cepekceng per hari. Suasana chaos hanya berlangsung dalam hitungan 60 hingga 120 menit. Setelah itu seperti yang terjadi dalam cerita-cerita yang sudah- sudah, beberapa amplop membungkam ke galakkan sang petugas. Habis deh chaosnya, berganti dengan senyum lebar, jabat tangan erat, terima kasih atas kerjasamanya...
Saya tidak menuduh semuanya seperti itu, karena saya hanya tahu beberapa saja,tetapi saya penasaran, berapa banyak “orang asing yang menjadi penduduk gelap di Indonesia” dibandingkan dengan “orang Indonesia yang berstatus gelap” di negara asing?
Mereka (sekali lagi tidak semuanya) mengeyam kehidupan lebih layak di Indonesia dibandingkan di negaranya sendiri, bahkan ada yang tidak mau kembali ke Amerika karena tidak mungkin mempunyai tingkat kehidupan yang sama dengan hidupnya di Indonesia. Mereka berbondong-bondong mencari kehidupan yang jauh lebih baik di Indonesia, sementara orang kita tersisih bahkan jadi pergi berduyun-duyun mencari sesuap nasi ke negara lain, bernasib lebih menyedihkan sebagai “penduduk gelap” di luar negeri di bandingkan orang asing yang “berstatus gelap” mengenyam nikmatnya hidup di Indonesia tanpa “takut” dengan petugas negara. Kan semuanya bisa diatur, toch? Woo, dengkulmu!
Apa yang saya tulis bukanlah merupakan penelitian ilmiah ataupun berdasarkan statistik jadi tidak bisa dijadikan standar kalau semuanya seperti itu, hanya berdasarkan segelintir orang yang saya tahu saat saya masih berada di Indonesia. Kadang-kadang tangan saya suka gatal ingin menjewer telinga mereka kuat-kuat. Sedih melihat tuan rumah berdiri dibawah kaki para pendatang yang ugal-ugalan.
Kembali ke negara yang mulai dingin, ke teman-teman “kulit putih” yang ngopi bersama-sama, saya wanti-wanti pesan kepada mereka, janganlah mendiskriminasikan si rambut pirang, pandang mereka sesuai dengan kemampuannya, bukan warna rambutnya nanti kalau dia kabur ke Indonesia lalu jadi “penduduk gelap” kan bisa repot urusannya. Gelar sarjana Indonesia bisa bangkrut tidak laku gara-gara warna rambutnya tidak pirang. Nanti saudara –saudara saya malah buru-buru ganti warna rambut jadi pirang, supaya bisa bersaing mendapatkan cepekceng perjam...
Arita-CH