Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Ateisme. Apa dan Siapa


Catatan penulis: 
"Don't judge a book by its cover". Untuk menilai ateisme, janganlah melihat hanya dari ‘sampul’ belaka yang seringkali ‘bergambar’ arogan, sombong, atau mungkin kasar. Namun, ada baiknya membuka lembar halaman demi halaman, apa yang dapat dipaparkan langsung oleh para ateis tentang ateisme. 

Tulisan singkat bertemakan ateisme ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana ateisme itu. Apakah ateisme merupakan prinsip atau agama atau bentuk penyembahan, atau sesuatu yang imoral, atau merupakan suatu grup tertentu, hanya para ateis sendiri yang mampu menjelaskan secara obyektif tentang ateisme, dan bukan mereka yang non ateisme.


Oleh karena itu, tulisan ini merujuk langsung pada berbagai referensi artikel ateis yang ditulis secara ilmiah dan mengajak pembaca untuk mencoba mengenal ateis dari sudut pandang serta definisi yang diutarakan oleh para penulis ateis itu sendiri.


Tulisan ini TIDAK mengajak pembaca untuk menjadi ateis. Namun, adanya definisi yang “salah” mengenai ateisme, dapat menimbulkan kesalahpahaman baik pada diskusi maupun dalam bertindak dan berinteraksi secara sosial. Lebih jauh lagi, kesalahan definisi juga bisa menjurus pada kesalahpahaman nasional, yang berakibatkan jatuhnya beribu-ribu korban manusia secara masal, seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1965-1966.

Defini ateis dalam bahasa.

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: ate•is /atéis/ n orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan.
  • Asal muasal kata ateis dari bahasa Yunani adalah atheos. Kata “a” disini berartikan “tanpa” atau “tidak”. Sedangkan terjemahan langsung dari “theos” berarti sesuatu yang tinggal di langit, bersifat luar biasa dan sangat bercahaya, diintrepetasikan dan diterjemahkan sebagai ‘dewa’ atau ‘Tuhan’. Jadi, dari sudut pandang bahasa Yunani kuno, seorang ateis adalah seseorang yang tidak berdewa atau ber-Tuhan.

Atheos, Era klasik Yunani
Dalam sejarah Yunani, kata atheos mulai dikenal luas dalam karya tulis Plato (circa. 429-347 SM). Kata atheos dalam bahasa Yunani pada mulanya berarti: “tidak berkepercayaan terhadap theos” -sesuatu yang luar biasa, bercahaya dan tinggal di langit-, atau “terkutuk”. Kata ‘atheos’ juga digunakan untuk me-labelkan para kaum cendekiawan yang menyangkal keberadaan Tuhan, dewa atau segala bentuk-bentuk luar biasa bersinar yang tinggal di langit.

Philodemus, seorang filsafat Yunani (ca. 110–35 sm.) mengklasifikasikan orang ateis sbb:
  1. Mereka yang mengatakan bahwa tidak mengetahui apakah ada dewa atau seperti apa bentuknya.
  2. Mereka yang secara terbuka mengatakan bahwa Tuhan tidak ada.
  3. Mereka yang dengan jelas menyiratkan itu.

Dalam sejarah ateisme, ada 3 poin utama yang ditemukan dalam periode klasik Yunani.

  1. Ditemukannya teori ateisme yang juga merupakan salah satu kejadian penting dalam sejarah agama.
  2. Bangsa Yunani menciptakan istilah ‘atheos’, yang kemudian oleh bangsa Romawi istilah ini menjadi atheus, cikal bakal kata ateis dan ateisme.
  3. Ditemukannya kegunaan istilah ‘atheis’ sebagai sarana untuk me-label-kan lawan-lawan. Penemuan isme ateis membuka jalan baru bagi kebebasan intelektual, bersamaan juga terbukanya kemungkinan bagi banyak pihak untuk memberi label terhadap pihak oposisi mereka.

Pertanyaan tentang ateisme

  1. Apakah ateisme adalah agama?
    Menilik dari kacata agamawan, seringkali ateisme didefinisikan sebagai suatu bentuk kepercayaan. Suatu agama. Agama yang rasional dan penuh dengan optimisme. 
    Alister McGrath, seorang teolog Kristen dari Inggris menulis dalam bukunya yang berjudul "The Twilight of Atheism: The Rise and Fall of Disbelief in the Modern World":
    “Atheism is the religion of the autonomous and rational human being, who believes that reason is able to uncover and express the deepest truths of the universe, from the mechanics of the rising sun to the nature and final destiny of humanity” (2004: 220).
    Namun pendapat ini ditolak oleh para ateis. Mereka mengatakan bahwa McGrath berpikir bahwa ateisme merupakan kebalikan keyakinan dalam beragama. Akibatnya, McGrath merumuskan bahwa ateis juga memiliki elemen-elemen agama. Namun sebenarnya, para ateis TIDAK memiliki elemen agamawi. Mereka tidak pernah menyatakan penemuan mereka akan bagaimana kebenaran dari misteri kehidupan serta keberadaan akhir hidup manusia dan alam semesta. Kemungkinan, McGrath merujuk pada pola pandangan Marxism-Leninism dimana penolakan Tuhan merupakan salah satu bagian dari prinsipnya. 

    Karena ateisme tidak berpikir dalam konsep agamawi seperti para teis (orang yang percaya akan keberadaan Tuhan), maka dengan kata lain, posisi ateisme berada dalam posisi baku, jadi pihak teis yang seharusnya membuktikan kebenaran dari pemikiran teisme mereka.

  2. Apakah hubungan Ateisme dengan Teisme?
    Julian Baggini, seorang filsafat Inggris dan penulis buku “Atheism: A Very Short Introduction” mendefinisikan ateisme bertolak belakang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan teisme.

    Sedangkan Robin Le Poidevin, seorang professor metafisik dari Univeritas Leed, Inggris, dan penulis buku "Arguing for Atheism: An Introduction to the Philosophy of Religion" menyatakan:

  • Seorang ateis lebih merupakan seseorang yang menyangkal keberadaan dan pribadi sang maha pencipta alam semesta daripada seseorang yang hanya hidup secara sederhana tanpa merujuk pada keberadaan sang pencipta alam.
  • Sedangkan seorang teis adalah orang yang menegaskan keberadaan sang pencipta.
Jadi setiap diskusi yang berhubungan dengan ateisme pasti juga berhubungan dengan teisme atau monoteisme. Berbeda dengan pendapat Baggini, Le Poidevin menegaskan lebih jauh bahwa seorang ateis mempunyai pengetahuan tentang agama dan ia menyadari keateisannya secara tegas lugas.
Jadi, seseorang yang hidup sederhana tanpa pernah mengetahui atau pernah mengenal keberadaan agama (monoteisme) ataupun sang pencipta, tidak dapat dikatakan bahwa orang itu ateis.

Kata “A” dalam bahasa Yunani merupakan Alpha privans yang berarti menyangkal semua kata yang diletakkan sesudah huruf “A”. Jadi ateis berarti menyangkal segala sesuatu yang ditegaskan oleh teis. Mereka menyangkal bukan karena mereka tidak tahu, tetapi mereka tidak setuju dengan pernyataan teistik dari teisme. Dengan penyangkalan ini, maka ateisme tidak identik dengan para penganut teisme.


Karena setiap ateisme selalu menyangkut pada teisme maka pertanyaan yang besar adalah, Apakah teisme?
Teisme itu sendiri dapat dikatakan sama dengan –dalam definisi saat ini- monoteisme. Para teis adalah para penganut dari tiga agama besar monoteisme: Yudaisme, Kristen dan Islam.

Lebih dari sekedar hanya percaya pada satu Tuhan, seorang teis juga memiliki konsep akan apa itu Tuhan. Konsep yang menyatakan bahwa Tuhan itu baik. Bukan hanya sekedar baik, tetapi sangatlah baik. Dan kebaikan bukan hanya prinsip dari teistik tapi Tuhan menurut teisme adalah abadi, pencipta alam semesta, mahakuasa, luar biasa, maha tahu, suci, dan hidup.


Ateisme berkaitan dan mengenal konsep akan khalik, khaliknya teistik, yang mempunyai nama dan ditulis dengan huruf besar: Tuhan. Jadi seorang ateis memerhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan konsep : pencipta, penguasa, maha tahu, suci dan sempurna.


Paul Cliteur, seorang ahli hukum dan filsuf Belanda membatasi konsep ateisme sebagai penyangkalan dari pernyataan pihak teisme.
Ia memberikan contoh sebagai berikut:
Seorang teis menyatakan, Tuhan adalah kasih, sedangkan penyangkalan ateis bahwa “Tuhan itu adalah kasih” bukan karena ia menolak pentingnya arti kasih, tetapi seorang ateis merasa bahwa tidak layak mencampuradukkan emosi manusia dengan keberadaan dari Tuhan yang dianggap oleh para teis sebagai serba maha, berkepribadian dan secara sempurna sangat baik.




Tiga karakter dari ateisme
Untuk melihat lebih jauh ateisme, mari kita coba lihat karakter yang ada pada ateisme.

  1. Ateisme sebagai non teisme, bukan anti teisme
    Charles Bradlaugh (1833-1891), seorang aktivis politik dan juga salah satu ateis Inggris terkenal di abad ke 19 menyatakan bahwa para ateis TIDAK mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, namun mereka berpendapat bahwa mereka memiliki ketidakjelasan akan ide atau pengertian naluriah akan Tuhan.

    Bukan ‘Tuhan’ yang disangkal oleh ateis, karena bagi mereka figur Tuhan adalah satu hal yang tidak jelas atau tidak tegas dan tidak sempurna untuk didefinisikan. 
    Jadi secara sederhana, pernyataan teisme akan keberadaan Tuhanlah yang disangkal ateisme, sehingga ateisme dapat disamakan dengan non teisme dan BUKAN anti teisme. 

    Kata “sangkal” dan kata “anti” mempunyai perbedaan makna, dimana kata “sangkal” terjadi karena adanya alasan ketidaksetujuan secara rasional, sedangkan kata “anti” merupakan kata yang berlandaskan pada perasaan, rasa tidak senang dan tidak suka belaka.
  2. Ateis tidak perlu membuktikan pernyataan teisme 
    Seorang yang beragama percaya akan keberadaan Tuhan, sedangkan seorang ateis tidak mempunyai kepercayaan tersebut. Seorang ateis juga tidak memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
    George H. Smith, seorang ateis penulis "Atheism: The Case Against God" merumuskannya sebagai berikut:

"Ateisme, dalam bentuk dasarnya, bukan keyakinan namun merupakan ketiadaannya satu kepercayaan".
Menurut Smith, seorang ateis bukanlah orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada, melainkan, ia tidak percaya akan adanya Tuhan.
Karena ateisme merupakan doktrin yang mengandung peniadaan atau penyangkalan, maka seorang ateis tidak terpengaruh dengan bukti-bukti dari teisme.
Seorang ateis tidak harus memiliki keinginan untuk memecahkan teka-teki alam semesta. Dia tidak harus mengekspresikan kosa kata "kebenaran terdalam dari alam semesta" yang dianggap tidak masuk akal untuk seorang ateis.
Seorang ateis tidak perlu membela atau membuktikan suatu pernyataan, karena pernyataan ‘Tuhan itu ada’ dikeluarkan oleh pihak teis/beragama. Jadi, sudah sewajarnya jika hanya pihak teis yang harus membuktikan pernyataan tersebut. Dan pihak ateis akan menunggu argumen pihak teis dan menimbang apakan argumen tersebut meyakinkan dirinya atau tidak.

  1. Ateisme adalah suatu pilihan yang disadari dan telah dipikirkan dengan matang.
    Unsur ketiga dari posisi ateis adalah sikap psikologis dari ateis itu sendiri: ateisme dianggap sebagai pilihan yang intelektual dan eksplisit. Kita kembali ke dalam pernyataan Le Poidevin di atas: “seseorang yang hidup sederhana tanpa pengetahuan akan Tuhan tidak cukup untuk melabelkan seseorang sebagai ateis”. 

    Paul Cliteur mencontohkan pernyataan tersebut sebagai berikut:
    Misalnya seseorang bertanya kepada kita : 
    Apakah Tuhan? Saya tidak tahu apa artinya. Saya tidak pernah berpikir dalam tentang hal tersebut.

    Bermula dari pertanyaan diatas maka akan banyak yang berpendapat bahwa orang tersebut ateis, namun sesungguhnya TIDAK benar. Apa yang kurang dari orang tersebut adalah pengetahuan atau kesadaran intelektual, sehingga orang tersebut tidak pantas disebut ateis.

    Oleh karena itu, Holbach mengatakan bahwa anak-anak (yang tumbuh dalam lingkungan tidak beragama) tidak pantas juga disebut ateis, dikarenakan mereka belum memiliki kesadaran intelektual untuk memilih dan menilai suatu prinsip/doktrin.

    Satu hari, anak saya mengatakan bahwa teman sekelasnya mengaku sebagai ateis. Seorang anak mengaku ateis mungkin saja karena terbawa pengaruh atau besar dalam lingkungan ateis, namun secara kemampuan intelektual, seorang anak kecil belum memiliki pengetahuan agama yang mendetail dan pengertian rasional yang merupakan dasar utama seseorang menjadi ateis. Jadi, pengakuan seorang anak kecil sebagai ateis, tidak dapat dianggap layak dan tidak bisa diterima.
    Karena seorang ateis adalah orang yang SUDAH mempunyai pengetahuan akan agama, atau mungkin dibesarkan dalam lingkungan keluarga beragama, bahkan mungkin juga adalah orang yang (pernah) beragama, namun memutuskan untuk tidak menjadikan agama sebagai bagian dari dirinya.

    Mereka yang tidak berpengetahuan agama (monoteisme) atau mereka yang menganut politeisme ataupun aliran kepercayaan ataupun pagan, BUKANLAH ateis. Yang utama dalam menilai apakah orang tersebut ateis atau tidak adalah tingkat kesadaran serta pengetahuan intelektual agamawi mereka.

    Penting untuk diketahui dalam menilai ateis adalah mereka MENELAAH semua pilihan atau opsi yang ada, semua argumentasi tradisional akan keberadaan Tuhan.

    Seorang yang (memilih) menjadi ateis adalah seseorang yang MEMPUNYAI pengetahuan akan argumentasi tentang Tuhan, dan MENIMBANG dengan matang ketidakpercayaannya akan keberadaan Tuhan.

    Jadi dalam unsur ketiga ini, seorang ateis bukan seseorang yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan akan Tuhan. Mereka tahu dan menelaah ilmu agama (bahkan mungkin juga dibesarkan dalam keluarga yang beragama), namun mereka memutuskan untuk tidak menjadikan agama sebagai satu iman dalam akal mereka.

Konsep ateisme dan motive untuk ateisme.

  1. Tidak beriman dan beriman
    Banyak orang yang menolak memeluk satu agama dan mempercayai ke-Esaan dan kesempurnaan Tuhan karena hal ini berlawanan atau menciptakan konflik dengan nilai-nilai utama yang mereka yakini. Karena mereka dapat dikatakan sebagai “orang yang tidak berkepercayaan” dalam hubungannya dengan Tuhan, namun mereka dapat juga dikatakan “orang yang berkepercayaan” di dalam kebebasan berpikir dan bertindak, kesetaraan martabat manusia, dsb.

    Di dalam ateis kita menemukan kombinasi dari beriman dan tidak beriman. Mereka beriman, tapi bukan didalam Tuhan dan kadangkala dianggap tidak dapat didamaikan dengan Tuhan.

    Salah satu contohnya adalah pernyataan seorang politikus Amerika, Robert Ingersoll (1833-1899):

    I am an unbeliever, and I am a believer . . . I do not believe in the “Mosaic” account of creation, or in the flood, or the Tower of Babel, or that General Joshua turned back the sun or stopped the earth. I do not believe in the Jonah story . . . and I have my doubts about the broiled quails furnished in the wilderness. Neither do I believe that man is wholly depraved. I have not the least faith in the Eden, stake and apple story. Neither do I believe that God is an eternal jailer; that he is going to be the warden of an everlasting penitentiary in which the most of men are to be eternally tormented. I do not believe that any man can be justly punished or rewarded on account of his belief.

    But I do believe in the nobility of human nature; I believe in love and home, and kindness and humanity; I believe in good fellowship and cheerfulness, in making wife and children happy. I believe in good nature, in giving to others all the rights that you claim for yourself. I believe in free thought, in reason, observation and experience. I believe in self-reliance and in expressing your honest thoughts. I have hope for the whole human race. What will happen to one, will, I hope, happen to all, and that, I hope, will be good. Above all, I believe in Liberty (quoted in Williams: 67).
  2. Kebebasan dalam berkehidupan
    Filsafat Perancis abad ke 20, Jean-Paul Sartre (1905-1980), mengembangkan konsep ateistik eksistensialisme. Konsep yang didasarkan pada teori kebebasan manusia. Menurutnya: Jika kita mencoba untuk membayangkan suatu dunia yang diciptakan oleh pencipta ilahi supranatural, kita, sebagai manusia, tidaklah bebas. Kita hanya bisa memainkan peran yang sudah tertulis untuk kita. Konsekuensinya, hal ini menghancurkan kebebasan manusia secara keseluruhan.
  3. Ateisme atau non-teisme? 
    Dalam istilah populer, ateisme diasosiasikan dengan segala hal yang negatif, baik dari pola pikir maupun tingkah laku, terutama dari cara mereka «membela» pendapatnya. Mereka bereputasi sebagai orang yang arogan, berhaluan keras, penyebar, bersemangat tinggi dan juga tidak sopan atau kasar.

    Reputasi ateisme yang buruk ini membuat George Jacob Holyoake (1817-1906), seorang ahli sekuler Inggris, menciptakan sebutan ‘sekularisme’. Holyoake menciptakan kata ‘sekularisme’ karena adanya reputasi yang buruk pada kata ateisme. Dia mendefinisikan sekularisme atas keprihatinannya dengan masalah-masalah yang ada di dunia ini.

    Holyoake menyimpulkan sekularisme sebagai berikut:
    1. Secularism maintains the sufficiency of Secular reason for guidance in human duties.
    2. The adequacy of the Utilitarian rule which makes the good of others, the law of duty.
    3. That the duty nearest at hand and most reliable in results is the use of material means, tempered by human sympathy for the attainment of social improvement.
    4. The sinlessness of well-informed sincerity.
    5. That the sign and condition of such sincerity are – Freethought – expository speech – the practice of personal conviction within the limits of neither outraging nor harming others” .

Ateisme dikenal dengan image yang negatif dan setiap penulis yang berusaha menonjolkan ateismenya sebagai bagian dari gaya hidupnya terpaksa sering harus berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang tak terhingga.

Holyoake memberikan salah satu contoh tanya-jawab yang sering ia hadapi:

Tanya: Bukankah ateis terlalu arogan dengan bersikap seolah tahu bahwa Tuhan itu tidak ada?
Jawab: Ateis tidak menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, mereka hanya menegaskan bahwa alasan-alasan untuk mempercayai keberadaan Tuhan, tidaklah meyakinkan.

Tanya:Kenapa kita tidak diperbolehkan untuk beriman di dalam Tuhan?
Jawab:Ateis tidak menentang kebebasan berbicara atau kebebasan menentukan sikap hati nurani, mereka hanya mengklaim hak mereka untuk tidak setuju dengan seseorang yang menegaskan keberadaan Tuhan.

Tanya: Tapi, bukankah sikap ateisme sedikit arogan?
Jawab: Ateisme tidaklah lebih arogan daripada agnostisisme atau teisme. Arogansi/keangkuhan tidak berada dalam posisi ateisme melainkan berada dalam sikap orang-orang yang mempertahankan pendapat/dogmatic mereka dalam ketidakinginan mereka mendiskusikan pandangan mereka. Para ateis umumnya senang mendalami suatu diskusi.

Jenis ateisme.

Paul Cliteur membagi ateisme ke dalam tiga jenis:

  1. Private atheisme atau dikenal dengan ‘non teisme’: suatu pola pikir yang menolak pandangan teistik dan menyatakan bahwa keputusan mereka menjadi ateis dilakukan untuk maksud yang baik.
  2. Public atheism: para ateis yang berkeyakinan bahwa mereka patut berbagi prinsip dengan orang awam demi tercapainya masyarakat yang bersusila. Dalam jenis ini didapatkan unsur penyebaran dimana para ateis secara aktif berusaha merubah masyarakat sekitarnya.
  3. Political atheism: dimana satu negara berkeyakinan untuk memberantas segala agama hingga keakarnya, seperti yang terjadi pada Uni Sovyet dan Albania.

Menurut Paul Cliteur, untuk menjadikan ateisme sebagai posisi yang dapat dipertahankan, seharusnya ateisme masuk kedalam jenis ‘private atheism’ atau non-theism. Ateisme yang tepat selayaknya bersikap skeptis terhadap public atheism dan menghapus political atheism.
Namun, karena ateisme jenis pertama juga bisa berkonotasikan ateisme jenis kedua dan jenis ketiga, maka mungkin merupakan strategi yang mudah untuk berhenti menggunakan semua istilah jenis ateisme dan lebih merujuk pada penggunaan istilah ‘non teisme’.

Penutup:
Kesimpulannya, apakah ateisme suatu agama, atau suatu penyembahan, atau suatu grup, atau sesuatu yang imoral? Jawabannya adalah TIDAK, untuk semuanya.


Ateisme bukan satu agama karena mereka tidak memiliki pemikiran elemen agamawi.

Para ateis tidak menyembah kemampuan rasional mereka, karena kata ‘sembah’ bersifat sakral dan rutin. Sedangkan kemampuan rasional tidak mengandung nilai sakral dan tidak memiliki rutinitas.

Ateis bukanlah paham satu grup, karena ateis merupakan pilihan individualistik. Suatu pilihan yang dilakukan sendiri oleh diri sendiri, tanpa memiliki ikatan dalam struktur organisasi.

Ateisme bukanlah suatu pikiran yang imoral, karena mereka memiliki moral untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi dengan menghindari perbuatan jahat berdasarkan nilai-nilai manusiawi dalam kehidupan, bukan berdasarkan perintah agama ataupun rasa takut akan adanya neraka atau hukuman dari Tuhan.

Dan satu hal yang utama, kita tidak bisa dengan gampang memberi cap “ateis” pada seseorang hanya dikarenakan mereka tidak menganut agama monoteisme. Pada saat sekarang ini, walaupun kelihatannya banyak terdapat ateis di dunia ini namun sebenarnya sangatlah sedikit orang yang benar-benar mengaku secara lugas bahwa mereka ateis, karena kebanyakan yang terjadi adalah orang-orang yang di-BERI label atau di-CAP ateis oleh pihak oposisi. Hal ini terjadi tidak hanya dalam dunia politik, namun juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Seorang penganut aliran kepercayaan, ataupun politeisme, atau paganisme, bukanlah seorang ateis, karena mereka juga mengimani sesuatu yang lebih kuasa dari manusia dan bersifat luar biasa. Mereka mempunyai iman dan percaya pada sesuatu yang tidak dapat dirasakan oleh indra manusia. Jadi mereka tidak layak dicap sebagai ateis dan terlebih lagi, bukan berarti penganut paham komunisme. Oleh karena itu, peristiwa korban jiwa yang berjatuhan pada tahun 1965-1966 di Indonesia, lebih banyak  yang merupakan peristiwa pembunuhan/kejahatan masal daripada pembasmian paham komunisme.


Kepustakaan:

  • The Cambridge companion to atheism, edited by Michael Martin, Cambridge University Press, 2007.
  • Paul Cliteur, The Definition of Atheism, The Kripke Center, University of Leiden, the Netherlands, Journal of Religion and Society Volume 11, 2009.

Psyché, kupu-kupu putih, & Zhonghua

30.10.2007.

Psyché, kupu-kupu putih, dan Zhonghua (“bangsa tengah”)

Mengetahui dan mengenal budaya teman akan menambah pengetahuan dan kebijaksanaan diri untuk menghormati dan bertoleransi, di dalam dunia yang penuh dengan syak prasangka karena ketidaktahuan.

Dear Zev, para Kokier, Kokoer dan pembaca Kolom Kita, sebelumnya saya meminta ijin untuk menulis lebih panjang dari biasanya. Tulisan ini pada dasarnya berawal dari kebetulan yang tidak disengaja. Sejak tahun lalu hingga kini (dan masih belum tahu kapan selesai), saya menulis tentang kematian dan upacaranya dalam sudut pandang budaya satu suku tertentu. Secara tidak disengaja saya membaca tulisan JC tentang peringatan kematian 49 hari sang Ibunda. Oleh karena itu saya berpikir untuk berbagi pengetahuan yang sangat sedikit saya ketahui. Tulisan ini sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu sebelumnya, saya haturkan banyak terima kasih atas waktunya membaca tulisan ini.

Di bumi, kehidupan berdampingan dengan kematian. Definisi kematian secara umum adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan atau berhentinya sesuatu yang menghidupkan dalam organisme biologis. Tetapi, kepastian akan keakhiran total “seluruh kehidupan” saat kematian datang, tidak selalu dapat didefinisikan “total” dikarenakan berbagai macam kebudayaan yang mempercayai adanya kehidupan jiwa di dalam badan.

Menurut berbagai macam budaya, saat kehidupan badaniah berakhir, jiwa yang adalah energi vital kehidupan memasuki dimensi yang berbeda, yang turut mengubah sifatnya dari sebuah energi vital kehidupan menjadi energi vital dalam kehidupan yang lain. Prana (Sansekerta), Nephesh (Ibrani ), Pneuma (Yunani ), Qalbi (Arab)- adalah sesuatu yang menghidupkan manusia dan berhubungan dengan sang Pencipta, sang Pemilik, sang Tertinggi, ataupun nenek moyang, cikal bakal manusia pertama terjadi. Psyché (Yunani) dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai jiwa, suatu bagian dari manusia yang tidak bersifat jasmani, tetapi bersifat roh dan tetap hidup setelah tubuh jasmani mati. Forma kekalnya tidak terhambat oleh kegelapan dan keterbatasan "gua", di alam pikiran ini jiwa itu mudah mengakses semua pengetahuan.

Tulisan ini ingin menceritakan sedikit tentang perjalanan psyché ‘setelah’ hidup badaniah dan sikap keluarga almarhum menurut sudut pandang tradisi dari “Zhongguo” (Negara Tengah), yang dalam dialek Hokkien dikenal dengan nama Tiongkok.

Perilaku manusia terhadap kematian meliputi komponen akan pengertian, kasih sayang, dan kehilangan, yang juga refleksi diri manusia terhadap kematian. Berdasarkan komponen dasar maka diasumsikan bahwa konsep kematian adalah universal dan variasi dari sikap terhadap kematian serta acara ritualnya di seluruh dunia sangat minim adanya.

Bagaimanapun juga, pengalaman dan ekspresi manusia terhadap rasa kehilangan, dipertajam oleh konteks sosial dan budaya. Dengan adanya faktor struktur sosial dalam peristiwa kematian maka dapat dipelajari perkembangan dari suatu kebudayaan, yang menggambarkan sejarah budaya dari suatu masyarakat.

Pengalaman dan ekspresi saat menghadapi kematian sangat beragam dan “kompleks” bagi “Zhonghua” (bangsa tengah), dimana, 3 doktrin besar (San jiao) mendominasi dalam kehidupan beragama. Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme

Konfusius atau Kong Qiu hidup pada periode 551 SM - 479 SM. Ajarannya digambarkan sebagai filsafat yang menekankan pada kedamaian, hierarki dan tingkat pemerintahan. Ajaran utamanya menjelaskan 5 dasar dalam hubungan sosial, antara penguasa dan rakyat, ayah dan anak, saudara tua dengan saudara muda, suami dan istri, serta sesama teman. Pada periode dinasti Han (202 SM-220) dengan dukungan penuh dari pemerintah maka ajaran ini ditetapkan menjadi suatu ajaran yang bernama Konfusianisme -berasal dari nama Kong Qiu- dan tersebar, terutama, pada kelas sosial atas.

Taoisme merujuk pada variasi filosofis, tradisi dan konsep keagamaan Zhonghua. Taoisme mengkonsiderasikan dua elemen, agama dan filsafat, dengan penekanan terhadap kemerdekaan individual dan hubungannya dengan kekuatan hidup secara alamiah. Taoisme lebih menfokuskan cara untuk mendapatkan keharmonian secara alamiah daripada merubah lingkungan yang ada disekitarnya. Jika ada orang yang meninggal muda, bukanlah suatu nasib tetapi lebih merupakan kesalahan dari diri orang tersebut yang tidak “mengurus” tubuhnya dengan baik.

Dua karya tulis Taoisme yang menonjol adalah kitab “Dao De Jing”atau Tao Te Ching, “Kitab klasik tentang jalan kebaikan serta kekuatannya”ditulis oleh Lao Zi atau Lao-tseu dan Kitab Zhuangzi yang merupakan juga nama dari sang penulis, Zhuang Zhou / Zhuangzi (±. 370-301 SM.). Taoisme mempertajam kedudukkannya dalam jajaran agama pada abad ke 2 dengan gerakan Tianshi Dao, “jalan dewa-dewa angkasa”, yang didirikan oleh Zhang Daoling.

Buddhisme sebagai salah satu agama mayoritas Zhonghua (bangsa tengah) diperkirakan memasuki Zhongguo (“negara tengah’) dari India pada abad ke 1 dan mendominasi sejak pertengahan abad ke 4 hingga abad ke 8. Doktrin dari Buddhisme berazaskan dalam Empat Kesunyataan Mulia: (1) Hidup itu adalah penderitaan/ketidakpuasan; (2) Penderitaan akan ketidakpuasan berasal dari kenginan; (3) untuk menghilangkan penderitaan maka keinginanpun harus diakhiri sehingga terbebas dari ketidakpuasan (4) Jalan untuk menghilangkan penderitaan dengan sikap hidup yang benar, dikenal dengan nama “Jalan Mulia Berunsur Delapan”. Keadaan yang paling akhir, adalah nirvana, dimana tercapainya kedamaian, tanpa ketidakpuasan diri.

Saat kita memandang pada periode jauh kebelakang, dunia pandang Zhonghua hanya melihat batas tipis antara agama dan budaya. Sebelum periode jaman modern, kata “agama” tidak dapat diketemukan secara spesifik dalam bahasa Zhonghua tua. Untuk dapat menjelaskan agama adalah dengan menanggapi pokok umum dari budaya. Ada 2 pokok utama kosmologik dalam dunia pandang kebudayaan ini;

  1. Metafora Yin-Yang
  2. Keluarga sebagai dasar kepercayaan beragama.

Yin-Yang mengekespresikan kepercayaan alam apotropaic dimana dua kekuatan yang berlawanan berputar membuang jauh kejahatan dan pada saat yang sama mereka mencari kebaikan. Kekuatan Yin-Yang berada dalam kesatuan yang konstan dan saling mempengaruhi. Sekalipun dua kekuatan tersebut memiliki konflik dasar, kedua kekuatan tersebut juga saling melengkapi.

“Agama keluarga” adalah bentuk lain dari budaya beragama Zhonghua. Penghormatan kepada leluhur adalah kewajiban utama dalam beragama, meliputi upacara, sikap dan pemeliharaan martabat keluarga dan sosial.


Sistim religious Zhonghua bersifat polytheisme, penyembahan berbagai macam dewa untuk berbagai macam tujuan. Struktur sosial “Negara Tengah” yang awalnya berlandaskan pada masyarakat pertanian membuat mereka bergantung kepada tanah untuk menunjang kehidupan, sehingga bentuk persembahan dan pemujaan banyak dilakukan terhadap Dewa Tanah. Dalam beberapa hal, kepercayaan tradisional berkembang dari produk kehidupan pertanian, berlanjut dengan mengkombinasikan aspek-aspek yang berbeda akan keyakinan dan tradisi. Ekspresi beragama dilakukan dengan mengkombinasikan penghormatan kepada leluhur, etika Konfusian, pengabdian kepada dewa-dewa setempat, penguniversalan Zhonghua, beberapa buddhisme dan pratek upacara yang berhubungan dengan cenayang, firasat/ramalan, ilmu gaib dan takhayul. Hingga hari ini, pengaruh dari percampuran tersebut, sekalipun tidak seragam ataupun sama, banyak ditemukan pada individual dan keluarga Zhonghua dan juga pada masyarakat dan keturunan Zhonghua di Indonesia, yang masih banyak menganut kepercayaan tradisional, yaitu tradisi kepercayaan rakyat, yang merupakan sinkretisme Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme. Dalam buku “Fengshen yanyi” (pelantikan dewa-dewa), abad ke 16, tertulis peribahasa yang berbunyi “ Tiga ajaran -emas dan cinnabar (batu mineral, basque armine) Daoisme, kesucian figur-figur buddhisme, beserta pandangan kemanusiaan dan kebenaran dari konfusianisme- pada dasarnya adalah satu tradisi”. Bermula dari pendapat tentang “Trinitarian idea” maka kata “syncretism” (penyatuan aliran) digunakan dalam menggambarkan kepercayaan religius Zhonghua, dimana sering didengar kata “tiga ajaran melebur menjadi satu (San Jiao He Yi).”

Bagi Zhonghua, orang tua mempunyai peranan penting dalam keberuntungan, kesehatan dan kesuksesan hidup. Lebih jauh lagi, melakukan penghormatan mendalam kepada orang tua atau orang yang dianggap lebih tua akan memberikan berkat kepada seluruh keluarga, sebaliknya ketidakberuntungan dan malapetaka akan menimpa jika melakukan perbuatan yang menimbulkan ketidaksenangan dan kemarahan orang tua.

Menurut penulis Zhang (1993), pemujaan leluhur banyak dilakukan terutama pada jaman dinasti Shang (1600—1046 SM). Setelah periode 1100 SM hingga 256 SM pemakaian kata “pemujaan” dianggap kurang tepat. Karena pemujaan lebih dimaksudkan dalam arti “segenap hati” oleh karena itu, kata “pembaktian diri” dianggap lebih mewakili, sehingga penghormatan diberikan tidak hanya bagi mereka yang masih hidup tetapi juga untuk orangtua/leluhur yang sudah tiada. Menghormati orang tua atau orang yang lebih tua dianggap sebagai perbuatan yang bijaksana, dan menghormati mereka yang sudah meninggal merupakan perbuatan yang sangat bijaksana.

Bagi masyarakat dunia secara umum, melakukan dan menghadiri acara pemakaman merupakan tanda hormat seseorang terhadap almarhum. Hal ini juga berlaku bagi budaya Zhonghua. Dengan sedikit perbedaan konotasi, perayaan pemakaman yang dilaksanakan keluarga almarhum lebih menekankan pada“kewajiban anak untuk berbakti terhadap orang tua” (hsiao atau xiao). Sebuah sistim dimana sang anak diwajibkan untuk membantu secara ekonomi maupun moral, menyayangi, memberikan status dan martabat kepada orang tua. Diatas semua kewajiban, kewajiban yang paling utama bagi anak adalah melaksanakan acara kematian bagi orang tua secara lengkap dan terperinci (kegiatan upacara dari sejak kematian, saat penguburan hingga setelah penguburan dilakukan). Semakin besar, lengkap, rumit dan terperinci perayaan upacara kematian, prosesi dan “penggambaran” rasa berduka maka semakin terangkat status keluarga. Oleh karena itu, saat “mengantar” psyché dari orang tua maka perayaan upacara diadakan sebesar, selengkap dan serinci mungkin. Rasa berduka cita, kehilangan karena kematian, lebih merupakan urusan umum (public affair) daripada masalah pribadi. Pada saat pemakaman, anggota keluarga, seluruh teman dan para kenalan akan menyampaikan rasa duka cita serta dukungan moral bagi anggota keluarga almarhum.

Banyaknya penelitian yang menuliskan bahwa pelaksanaan upacara kematian, sebelum dan sesudah pemakaman mengandung elemen Buddhisme, Taoisme dan kepercayaan adat serta takhayul profane Zhonghua. Selama acara pemakaman, dupa dibakar, para anggota keluarga membakar uang kertas dan kertas lainnya yang bersimbolkan kebutuhan hidup secara material. Kegiatan ini dilakukan untuk menjamin tercukupnya kebutuhan hidup almarhum di “dunia baru”. Sebelum peti ditutup, selimut dan pakaian membungkus almarhum, agar tetap merasa hangat saat tiba di “dunia” lain. Prosesi pemakaman adalah prosesi yang rumit dan terperinci. Pada saat mayat disemayamkan di rumah, selembar kertas putih bertuliskan kematian dan nama almarhum diletakkan pada pintu masuk utama. Didalam rumah, disiapkan altar sementara lengkap dengan foto almarhum, serta kursi atau dalam Buddhisme dikenal dengan nama “kursi teratai”, terletak di tengah. Biasanya kursi terbuat dari kertas atau kayu berbentuk persegi panjang yang bertuliskan nama almarhum, dan merupakan tempat sementara bagi psyché. Persembahan seperti bunga, lilin, dupa, makanan dan minuman diletakkan. Para tamu akan memberikan penghormatan dan persembahan, membungkuk ke arah foto almarhum, mempersembahkan uang atau poster kepada keluarga almarhum yang bertuliskan penghormatan dan kenangan mereka. Biasanya poster untuk acara kematian berwarna putih, tetapi jika almarhum meninggal pada saat berumur lebih dari 80 tahun maka poster berwarna merah di buat untuk merayakan hidup panjang yang telah dilalui.

Kebanyakkan dari perayaan pemakaman Zhonghua juga dipenuhi dengan karangan bunga duka. Kertas yang bertuliskan kenangan atas almarhum serta nama dari para pemberi rangkaian bunga terletak di tengah rangkaian bunga yang berbentuk lingkaran. Semakin banyak karangan bunga maka semakin terlihat martabat dan status hubungan almarhum dengan pemberi karangan bunga. Begitu juga posisi peletakkan karangan bunga menggambarkan seberapa dekat hubungan almarhum dengan pemberi. Karangan bunga dari keluarga terdekat akan diletakkan sedekat mungkin dengan peti mayat, dibandingkan dengan pemberi karangan bunga yang mempunyai hubungan jauh.

Peti mayat diletakkan bersama dengan karangan bunga di dalam mobil/kereta mayat. Prosesi pemakaman biasanya dilakukan dengan mengitari tempat persemayaman, kemudian menuju komplek pemakaman. Sebelum menuju ke tempat pemakaman, rombongan akan menuju ke rumah almarhum. Pengendara mobil/kereta mayat akan menuju ke pintu depan rumah dan membuka pintu. Hal ini dilakukan agar roh-roh jahat yang masih ada di rumah almarhum dapat segera pergi meninggalkan rumah tersebut dan juga agar almarhum dapat mengetahui jalan menuju rumahnya “yang dahulu”. Setelah pemakaman, biasanya dilanjutkan dengan acara makan malam, yang kadang kala dilakukan di restoran yang menyediakan menu “makan malam setelah pemakaman”, dimana biasanya dihidangkan menu vegetarian.

Perayaan upacara setelah pemakaman sama penting artinya dengan upacara saat pemakaman. Dalam tradisi Zhonghua kuno, periode perkabungan berlangsung selama 7 tahun, pada masa sekarang periode berkabung berlangsung selama 49 hari. Seluruh keluarga bertemu bersama di komplek pemakaman pada hari ke 3 setelah penguburan dan melakukan pembakaran uang dan persembahan makanan. Hal ini juga dilakukan pada hari ke 7, hingga hari ke 49 setelah kematian.

Upacara hari ketujuh setelah kematian biasanya dilakukan di kuil ataupun di rumah keluarga almarhum. Menurut budaya profane Zhonghua, dipercayai bahwa pada hari ke tujuh setelah kematian, arwah almarhum akan mengunjungi rumah keluarga. Lempeng merah dengan nama lengkap almarhum diletakkan di depan rumah untuk menjamin agar arwah almarhum dapat menemukan kembali rumahnya. Perayaan upacara kematian pada hari ke 7 juga menggambarkan prinsip Buddhisme karena diyakini bahwa psyché yang berada di tempat “yang tidak pasti” mempersiapkan keberangkatannya melalui proses kematian pada setiap tujuh hari. Oleh karena itu, saatnya bagi keluarga untuk menolong agar psyché dapat “lahir kembali” dalam keadaan dan berkualitas baik. Hari ke 49 dianggap hari yang penting karena menandakan titik akhir antara kelahiran dan kematian. Pada Buddhisme, umumnya acara ini dilakukan untuk kepentingan almarhum pada waktu memasuki tingkat kelanjutan kelahiran di tanah yang suci setelah melalui kematian dengan pertolongan kasih Ēmítuó Fó/Amida/Amitābha Buddha.

Selama periode 49 hari, anggota keluarga almarhum diharuskan memakai pakaian berkabung. Anak laki-laki almarhum mengikat kain hitam pada lengan baju mereka, kain warna biru bagi cucu lelaki dan kain hijau diikatkan pada lengan baju cicit lelaki, sedangkan anggota keluarga perempuan menyematkan bunga rajutan wool berwarna pada rambut mereka. Istri dan anak perempuan almarhum mengenakan bunga rajut putih, anggota keluarga jauh menyematkan bunga rajut berwarna biru atau hijau pada rambutnya. Anggota keluarga akan meneruskan mengenang almarhum, dimana anak lelaki tertua membakar dupa dekat lempeng prasasti almarhum atau foto almarhum yang diletakkan di dalam rumah. Pada perayaan “Hari Menyapu Kuburan” yang dikenal dengan “festival Qingming/Qing Ming Jie” atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien), para anggota keluarga mengunjungi makam almarhum. Pembersihan makam dan pembakaran uang kertas dilakukan. Qingmingjie, atau festival Qing Ming ditetapkan sebagai “Hari Menyapu Kuburan Nasional” sejak tahun 1935 di Zhongguo. Upacara ini dilakukan untuk mengenang almarhum, serta merupakan salah satu cara bagi anggota keluarga untuk memastikan bahwa almarhum tidak mengalami “kelaparan” dan terpenuhi kebutuhannya.

Perayaan upacara kematian berguna bagi tiga pihak: almarhum, keluarga almarhum dan komunitas masyarakat. Dengan perayaan ini, almarhum dapat melanjutkan perjalanannya pada kehidupan dan status yang baru; bagi keluarga almarhum upacara merupakan forum untuk mengekspresikan perasaan berduka cita serta pembaktian diri; dan bagi komunitas secara lebar merupakan kesempatan dan sarana dalam memberikan bantuan sosial dan dukungan moral.

Masyarakat Zhonghua mempercayai adanya kelangsungan hubungan antara yang sudah meninggal dengan keluarga yang masih hidup. Arwah almarhum melangsungkan kehidupannya dan keluarga yang masih hidup, bertanggung jawab dalam meneruskan perhatian kepada mereka. Tindakan ini merupakan bagian dari konsep berbakti (hsiao atau xiao). Kegagalan dalam mengurus almarhum akan mendatangkan ketidakberuntungan tidak hanya pada keluarga terdekat tetapi juga bagi seluruh anggota keluarga besar. Jika penguburan tidak dilangsungkan secara tepat dan lengkap, jika tempat pemakaman dilakukan di tempat yang tidak cocok, dan jika penghormatan serta persembahan tidak dilakukan sesuai dengan waktunya, maka Psyché berubah menjadi “hantu yang lapar” (hungry ghost), yang akan mendatangi, mengganggu, dan menimbulkan wabah pada anggota keluarga yang hidup. Untuk menghindari hal ini, keluarga akan mendatangi ahli ramal untuk menanyakan tempat yang cocok dan tanggal dari penguburan, agar almarhum dapat berisirahat di tempat yang tenang dengan tanah yang baik, menghadap ke arah yang menguntungkan.

Sekalipun ada beberapa cara dan adat yang berubah dan penyesuaian keadaan oleh para Zhonghua, imigrant Zhonghua ataupun yang berkelahiran di luar “negara tengah”, masih banyak Zhonghua yang tetap membakar dupa, uang kertas dan pakaian kertas, menjamin arwah leluhur tetap terpelihara pada kehidupan barunya.

Bagi Zhonghua, kematian dan upacara kematian pertama (premiere funeral) berasosiasikan pada ketidakberuntungan, berbeda dengan upacara kematian kedua (second funeral) yang disambut dengan kegembiraan. Mereka takut akan adanya potensi ketidakberuntungan dalam acara pemakaman. Konsekuensinya, banyak dari mereka yang memunggungi peti yang terbuka. Ketika para tamu selesai memberikan penghormatan terakhir, hadiah kecil berbentuk permen dan uang koin yang dibungkus dengan kertas putih, diberikan. Uang koin tersebut digunakan untuk membeli sesuatu yang manis, sedangkan permen harus dimakan saat itu juga, lalu kertas pembungkus dibuang sebelum mereka tiba di rumah, atau meminum teh manis sebelum memasuki rumah sebagai tanda bahwa mereka telah membuang jauh ketidakberuntungan.


Ketakutan terhadap ketidakberuntungan bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain terilustrasikan dalam beberapa bentuk hadiah dan jenis warna yang melambangkan kematian. Contohnya, orang Zhonghua tidak akan menganggap saputangan sebagai hadiah karena benda tersebut merupakan lambang dari tangis, duka cita dan kematian. Begitu juga dengan jenis warna, warna putih melambangkan kematian, sedangkan warna merah mendatangkan keberuntungan dan keberhasilan. Hal ini juga merupakan salah satu alasan mengapa tempat persembahyangan Zhonghua (kuil, kelenteng, dll) didominasi dengan warna merah. Dalam adat kuno Zhonghua, pengantin diharuskan berpakaian warna merah, yang melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan, berlawanan dengan cara berpakaian pengantin adat lain yang menggunakan warna putih. Konsekuensinya, mengenakan pita putih pada rambut dikonsiderasikan sebagai tanda pembawa kemalangan.

Sekalipun kematian dimasukkan dalam kategori tabu atau ketidakberuntungan, ketika orang yang sudah tua meninggal dunia, mereka percaya bahwa dia tetap hidup selamanya dan keyakinan ini membawa kegembiraan. Tetapi pada saat seorang anak meninggal, orang Zhonghua percaya bahwa hal tersebut tidaklah konsisten dengan kehidupan alamiah. Ada pepatah Zhonghua yang mengatakan “rambut putih tidak mengirim pergi rambut hitam”. Ketika seorang anak meninggal maka keluarga yang ditinggalkan menganggap kematian tersebut sebagai hal yang memalukan dan mereka akan “menghukum” diri mereka sendiri, karena diyakini bahwa para dewa tidak memberkati kehidupan mereka. Jika manusia hidup berkelakuan baik maka mereka akan mempunyai umur panjang dan banyak anak. Semua anak akan panjang umur dan berhasil dalam kehidupannya. Tetapi, jika tiba-tiba salah satu anak meninggal, maka ada sesuatu yang salah. Para Dewa tidak memberkati, sehingga jika orang tua sang anak yang sudah berambut putih dan tua, tidak akan menghadiri pemakaman karena rasa malu yang besar.

Aplikasi nilai dan upacara dalam kematian ini dilaksanakan dengan berbagai macam alasan. Dalam beberapa hal sistim nilai tradisi budaya Zhonghua tertanam tidak hanya pada pelaksanaan pemakaman tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Menyelamatkan “muka” (martabat) keluarga dan “pembaktian diri terhadap orang tua” merupakan bagian dari pengertian akan nilai-nilai budaya Zhonghua yang konstan keberadaannya.

Bagaimanapun juga, beberapa pendapat memberikan alasan akan hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup. Banyak dari acara ritual ini dilakukan karena adanya rasa takut terhadap roh jahat dan keinginan untuk mengusir ketidakberuntungan. Mereka percaya bahwa keberuntungan dan ketidakberuntungan dalam hidup tergantung dari bagaimana mereka bersikap dan berbakti terhadap orang tua. Pendapat lain mengatakan bahwa acara perayaan kematian dilakukan bukan hanya sekedar kegiatan religius tetapi juga berguna bagi mereka untuk mempertahankan identitas Zhonghua, mekanisme untuk melestarikan budaya Zhonghua pada tanah air mereka yang “baru”.

King (1991) mencatat, bahwa masyarakat Zhonghua berdiri diatas prinsip-prinsip dari “martabat” dan “kewajiban”. Hal ini adalah konsep dari sosial budaya yang membantu untuk mengerti struktur sosial Zhonghua. Konsep sosial budaya adalah kunci pembangunan dan contoh baku bagi sikap hidup sosial sehari-hari. King menekankan bahwa sekalipun modernisasi dan budaya barat mempengaruhi negara Taiwan, Hongkong dan “negara tengah” Zhongguo itu sendiri, konsep sosial budaya tetap merupakan pola baku bagi sikap sosial Zhonghua dan struktur sosialitas.

Struktur sosial dari masyarakat Zhonghua berfokus pada garis silsilah pihak ayah (paternal lineage). Mempunyai anak lelaki pewaris keturunan adalah hal yang vital karena mereka adalah peran utama dalam ,melaksanaan pembaktian kepada nenek moyang. Mereka percaya bahwa “kekekalan” dapat dicapai jika garis silsilah keluarga diabadikan, dan hal tersebut hanya bisa disempurnakan oleh anak lelaki tertua, yang tidak hanya membawa nama marga keluarga tetapi juga melakukan upacara pada makam leluhur. Anak lelaki tertua bertanggung jawab dalam memenuhi pelaksanaan upacara, pada saat festival Qing Ming, meletakkan lempeng papan nama leluhur dan membakar dupa untuk leluhur, di dalam rumahnya. Penulisan kata “Xiong” (kakak lelaki tertua) dalam pictograph Zhonghua digambar dalam bentuk ” dimana bentuk “” berarti mulut, melambangkan tugas kewajiban anak lelaki tertua, sebagai orang yang “berbicara” mewakili keluarga.

Sangatlah tidak mungkin untuk tidak memperhitungkan prinsip beragama di dalam sikap menghadapi dan pelaksanaan upacara dalam kematian. Terlihat dengan jelas bahwa “alunan” dari Konfusianisme, Taoisme, Buddhisme dan takhayul rakyat domestik berdampingan bersama dalam tata cara menghadapi dan pelaksanaan upacara dalam kematian.

Cara peraturan khusus dalam pakaian berkabung dan posisi peletakkan karangan bunga dari anggota keluarga dan teman-teman, adalah hal yang penting dalam nilai budaya Zhonghua yang mendorong ketaatan kepada autoritas dan struktur hierarki. Hal ini juga didukung oleh Konfusius yang mempercayai kelakuan yang tepat akan mengalir secara alamiah dari struktur yang benar. Pakaian berkabung berguna untuk membedakan anggota keluarga dan kedudukkan mereka pada struktur sosial dan hubungan dekat dengan almarhum. Penempatan karangan bunga juga berfungsi sebagai lambang dari kedudukkan pemberi karangan bunga dalam struktur komunitas.

Begitupula kepercayaan akan kematian dan penerapannya, didasarkan oleh kepentingan dari gabungan keluarga dan keharmonian antar anggota keluarga, yang juga menggambarkan prinsip dari Taoisme .

Menurut tradisi buddhisme, diantaranya, kematian bukanlah sesuatu keakhiran, dimana siklus hidup berlangsung pada dunia akhirat. Oleh karena itu, pembakaran uang kertas dan barang seperti milik pribadi lebih dilihat dari sudut pandang akan “jaminan sosial” almarhum pada kehidupan yang baru.

Akan tetapi, beberapa kepercayaan Zhonghua menyatakan bahwa ritual tersebut dilaksanakan untuk menghindari “roh yang lapar”. Dalam cerita rakyat kuno dikatakan bahwa jiwa manusia mempunyai dua kekuatan, Shen dan Gui. Shen melambangkan sifat baik/positif dari almarhum, seperti cahaya dan kehangatan. Sedangkan Gui melambangkan keprimitifan dasar alamiah manusia seperti kegelapan dan kedinginan. Setelah manusia meninggal, dua kekuatan jiwa tersebut terpisah dan meninggalkan badan. Jika upacara pemakaman tidak dilakukan dengan benar maka Gui akan kembali memasuki tubuh almarhum dan menghantui anggota keluarga.

Simbol binatang dalam upacara kematian

Jade Girde-Pendant
Chinese Jade Girde-Pendant
Han Dynasty, 206-220 B.C.

Penggunaan figur binatang sebagai simbol dalam kematian banyak digunakan dalam adat Zhonghua. Diantara begitu banyak figur binatang, dua diantaranya adalah tonggeret (cicada) dan kupu-kupu.

Chinese Tongue Amulet
Chinese Tongue Amulet. Brown jade
Han Dynasty, 206-220 B.C.

Beberapa anthropolog dan arkeolog mengetahui bahwa budaya Zhonghua kuno mempercayai tonggeret sebagai symbol dari kelahiran kembali dan keabadian. Penggunaan tonggeret sebagai simbol kelahiran kembali setelah kematian, diduga terjadi pada ± tahun 500 SM -1000. “Simbol binatang sakral” ini digunakan sejak periode Han (202 SM – 220) dalam bentuk ukiran batu giok. Benda ini dikenal dengan nama yang bervariasi, yaitu “giok pemakaman” (funeral jade), “penangkal kematian” (amulets of death), “jimat lidah” (tongue amulets) atau juga dengan nama "Han yü" yang berarti “diletakkan di dalam mulut”. Benda ini diletakkan pada lidah almarhum dengan maksud untuk menarik kehidupan kembali dengan keajaiban akan kasih. Beberapa bentuk dari benda ini adalah ceper dan berukir, tetapi kebanyakkan berbentuk seperti bentuk asli tonggeret atau sedikit lebih lebar dengan detail variasi yang terperinci.

Binatang kupu-kupu sendiri mempunyai arti yang beragam, tergantung dari situasi dan tujuan pemakaiannya. Figur kupu-kupu lebih merupakan lambang yang universal dan banyak ditemukan pada budaya-budaya besar di dunia. Dalam bahasa Yunani, Psyché adalah kupu-kupu dan juga berarti roh. Psyché ialah roh manusia yang dimurnikan dengan penderitaan dan ketidakberhasilan, lalu kemudian dipersiapkan untuk menikmati kesucian dan kebenaran dari kebahagiaan. Dalam cerita Yunani kuno, tertulis kisah Psyché dan Eros dimana Psyché adalah putri yang paling cantik dari 3 anak perempuan Raja Yunani, ia mengalami ketidakberuntungan dan penderitaan tetapi pada saat kematiannya ia hidup kembali. Melalui Eros, suami Psyché yang tidak terlihat, Psyche belajar tentang cinta dan bangkit dari penderitaannya, dengan hasrat dan usaha, dia berhasil hidup kembali dan memenangkan kecantikan spritual.

Bagi para Zhonghua, kupu-kupu berwarna putih dapat ditemukan pada saat upacara kematian dimana warna putih itu sendiri merupakan lambang kematian. Proses kehidupan kupu-kupu dan transformasinya, dari larva menjadi kupu-kupu merupakan simbol dari kehidupan manusia, sejak kelahiran hingga kematian dan lalu kelahiran kembali karena kasih Ēmítuó Fó dalam kehidupan yang baru.

Dari Piramid hingga Kayon.

Didalam kehidupan semesta, poros vertical kosmologi pada umumnya dibagi menjadi tiga bagian, dunia bawah, bumi dan dunia atas, dimana Löffler (1968:22) mendefinisikan letak bumi di antara langit dan air, serta banyaknya lambang dengan figure binatang melata, binatang bersayap (burung) dan ikan. Ketiga bagian poros vertical tersebut dapat juga dilihat dalam bentuk rumah hingga monument kosmik. Dari bentuk Piramid di Mesir hingga Kayon atau Gunungan (pohon kosmik) dalam pertunjukkan wayang Jawa dan menara Bade dalam upacara Ngaben di Bali.

Piramid sendiri dalam definisi esoteris melambangkan poros dunia dan pencerahan. Piramid merupakan perpaduan dari berbagai bentuk: bagian dasar yang berbentuk kotak melambangkan dunia, puncaknya adalah lambang dari awal dan akhir segalanya, sedangkan lekuk/lereng yang adalah sisi segitiga menghubungkan puncak dengan dasar, melambangkan api, wahyu agung dan lipat tiga prinsip dari penciptaan yang merupakan simbol dari seluruh ciptaan. Bentuk Piramid juga dikenal dengan nama lain atau bentuk lain, yaitu Pohon kehidupan atau pohon semesta yang menggabungkan konsep semesta dunia. Dapat juga digambarkan sebagai Pohon pengetahuan, pohon kesuburan, pohon keinginan, pohon pendakian yang artinya dari bumi naik ke dunia atas atau dari bumi menurun ke dunia bawah. Pohon kehidupan berperan mempersatukan, mengatur elemen dalam setiap sistim mitologis tua.

Kepustakaan

  • Jung, M. (1998), Chinese American family therapy: A new model for clinicians
  • Kalish, R. A. and Reynolds, D.K. (1976), Death and ethnicity: A psycho-cultural study
  • Kastenbaum, R. and Aisenberg, R. (1972), The psychology of death
  • King, A.Y.C. (1991), Kuan-his and network building: A sociological interpretation
  • Klass, D. and Goss, R.E. (1998), Asian ways of grief, In Kenneth J. Doka and Joyce D. Davidson (Eds.), Living with grief: Who we are, how we grieve
  • Lee, E. (1991) , Mourning rituals in Chinese culture, In E Walsh and M. McGoldrick (Eds.), Living beyond loss: Death in the family
  • Löffler, Lorenz G (1968), Beast, bird, and fish: An essay in South-East Asian symbolism, In Folk Religion and the Worldview in the Southwestern Pacific
  • Plopper, Clifford H. (1926),Chinese Religion Seen through the Proverb
  • Rosenblatt, P.C. (1988), Grief: The social context of private feelings
  • Tanner, J.G. (1995), Death, dying, and grief in the Chinese-American culture, In J.K. Parry and A.S. Ryan (Eds.), A cross-cultural look at death, dying, and religion
  • Yang, C.K. (1961), Religion in Chinese society
  • Zhang, Z. (1993), A brief account of traditional Chinese festival customs
  • Teiser, Stephen F. (1996), The Spirits of Chinese Religion

Arita-CH



Bawang Merah & Bawang Putih

Bawang Merah & Bawang Putih

24.06.2008.

Dear Zev & Kompas community,














Dulu sewaktu saya masih piyit, seumuran sama dengan jagung (kurang lebih), saya paling suka duduk manis mendengarkan cerita Bawang Merah dan Bawang Putih yang dilantunkan oleh Sanggar Sangrila. Hampir seribu kali saya mendengarkan kisah tersebut, dan seribu kali pula saya membenci si Bawang Merah dan mengasihani si Bawang Putih. Komentar saya setelah kaset berhenti selalu sama, “ih jahat banget deh si Bawang Merah, bisanya ngomel, dan ngomel saja. Rasanya tiada hari tanpa ngomel bin gerundel.”

Di dalam kehidupan, baik profesional maupun pribadi, sering kali kita berusaha untuk tidak menjadi si Bawang Merah yang judes, galak, bin pencemburu, cucunya raja ngomel. Tetapi pada kenyataannya, tindakan ala Bawang Merah banyak kita dengar, temui ataupun lakukan. Telak mutlak profil Bawang Merah lebih populer dibandingkan profil Bawang Putih.

Saat acara pesta, arisan, kendurian ataupun sekedar berchit-chat, menu utama yang paling ramai penggemarnya adalah bergosip dengan basis kecemburuan ala Bawang Merah versus Bawang Putih. Begitu besarnya kharisma Bawang Merah bercokol dalam kehidupan sosial maupun kehidupan pribadi. Kanibalisme psikologis ala Bawang Merah lebih mudah disuguhkan dalam praktek nyata, sedangkan welas asih dan kesabaran Bawang Putih lebih pantas (hanya) dilantunkan sebagai teori dalam berkhotbah untuk menampilkan kesan seorang legowo atau seorang legowati.

Dalam strata kehidupan sosial, baik si kaya maupun si miskin, cenderung untuk memilih menjadi Bawang Merah daripada menjadi Bawang Putih. Sekalipun Bawang Merah adalah karakter antagonis, tetapi pada dasarnya, tidak ada seorangpun yang ingin menderita dan menjadi Bawang Putih, bahkan Bawang Putih sendiripun akan menolak keras menjalani peran tersebut, kalau saja ia diberikan kesempatan untuk memilih peran.

Dalam kehidupan yang telah terjalani berpuluh tahun, saya berusaha keras untuk tidak menjadi Bawang Merah. Saat kaset Sanggar Sangrila berhenti berputar menceritakan kisah Bawang Merah dan Bawang putih, saya berjanji pada diri sendiri bahwa menjadi Bawang Merah adalah sesuatu yang haram. Tetapi tampaknya bertindak dan berbuat tidak seringan dan semudah mengucapkan suatu janji. Saat saya mengalami kekalahan dalam bermain kelereng, ingin rasanya saya mencuri kelereng dari pihak pemenang, mengomelinya sampai serak suara. Saat saya kesal dengan teman sebangku di sekolah yang pelit informasi saat ulangan, ingin rasanya saya “menyumpahi” panjang lebar atas kesombongannya untuk tidak “membagi” secuil pengetahuannya.

Saat saya memasuki dunia dewasa, cemburu rasanya melihat sahabat yang bergonta-ganti mobil seperti berganti pakaian dalam. Sambil memikirkan niat-niat jahat, saya membayangkan diri saya sendiri bergonta-ganti mobil seperti ganti tisue saat sedang pilek berat. Mulai memasuki dunia pekerjaan, sifat Bawang Merah dalam diri saya mulai menjadi-jadi, apalagi saat terjadi kenaikan gaji, saya nelangsa bengong, melihat jumlah dalam slip pembayaran yang tidak bergeming dari angka bulan lalu, timbul keinginan untuk menjegal langkah mereka yang mengalami peningkatan jumlah dalam slip gaji.

Karakter si Bawang Merah membayangi terus dalam setiap langkah saya meniti hidup ini. Semakin saya berjuang untuk menjauhinya, semakin erat ia menghembuskan aura. Phuifh, sampai terengah-engah saya menahan beratnya, tetapi berat rasanya untuk mendorong karakter Bawang Merah. Usaha untuk mendorong ke depan, ke belakang maupun ke samping kiri dan ke samping kanan tampaknya tidak terlalu membawa hasil. Karakter Bawang Merah tetap bertengger kuat, menebar pesona, bertahta angkuh di dalam pikiran saya.

Saya memang berusaha keras untuk tidak menjadi Bawang Merah, tetapi saya tidak pernah secuil pun berniat untuk menjadi Bawang Putih. Namun, saya sangat-sangat ingin mempunyai keberuntungan seperti Bawang Putih. Bagaimana ya untuk bisa beruntung seperti si Bawang Putih tanpa harus menderita dengan menjadi seperti Bawang Putih. Wuah, tampaknya memang pemikiran ala Bawang Merah jauh lebih praktis, memiliki kecendrungan untuk JAHAT dan CURANG lebih besar peluangnya. Lebih mudah untuk membuat orang menangis daripada diri sendiri yang harus menangis. Memang bawang merah sering membuat orang menangis, terutama bagi mereka yang senang memasak, paling sengsara mempersiapkan menu bawang goreng.

Sering juga saya dengan terpaksa harus menjadi bawang putih, yang “ditendang-tendang” terkadang di dahi dan punggung, hak-hak asasi dibanting-banting seperti mencuci sprai ranjang ukuran king size tanpa mesin cuci, tetapi apakah saya bersikap pasrah, legowo dan menjadi legowati seperti dalam teori kebaikan? No way! saya akan berusaha untuk mencari orang yang bisa dijadikan sprai ukuran king size.

Jadi apa maunya saya? Niatnya untuk tidak menjadi Bawang Merah, tetapi kebiasaan ngomel menjadi trade mark di dalam kehidupan. Maunya hidup bahagia selama-lamanya seperti si Bawang Putih, tetapi saya ogah menangis menderita untuk mencapainya.

Dengan berlalunya usia, saya mulai belajar untuk mengomeli diri sendiri daripada mengomeli orang lain. Semakin banyak hari bergulir, susah payah saya menerapkan bawang merah dan bawang putih hanya pada diri saya sendiri. Menindas dan menjadi korban yang tertindas atas tingkah laku diri sendiri membuat saya mulai melangkah dengan kewaspadaan extra hati-hati.

Tampaknya saya harus menindas diri sendiri untuk bisa mengetahui apa artinya tertindas, tampaknya peran Bawang Putih memang tidak terhindarkan dalam lingkaran kehidupan yang berputar tanpa mau kompromi. Mungkin konsep Bawang Merah dan Bawang Putih ada untuk menyatakan secara absolut betapa bahagianya si Bawang Putih. Konsep “blessing in disguise” terterap nyata dalam kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.

Menurut bapak gedhe Joseph Addison

Our real blessings often appear to us in the shape of pains, losses and disappointments

Lain komentar wong londo, lain pula kata Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul “Maaf cintaku”

Ingin kuludahi mukamu yang cantik
agar kau mengerti bahwa kau memang cantik
ingin kucongkel keluar indah matamu
agar engkau tahu memang indah matamu

Mmh, untuk mengetahui bahwa saya cantik, tampaknya seseorang harus meludahi saya untuk mengaklamasikan kecantikkan saya. Wah wah, menjadi Bawang putih sekaligus menjadi bawang merah tampaknya lebih aman daripada harus menunggu seseorang untuk meludahi muka hanya untuk menyatakan kecantikkan saya. Lho, by the way, benarkah saya cantik? Saya memandangi diri saya sendiri di depan cermin, sambil menghitung satu persatu jerawat yang banyak timbul di musim panas, sambil bertanya-tanya dan bergumam, “apa yang kau cari, Arita?”. Tiba-tiba sekelebat ide menggetarkan saya. Segera saya menatap lekat bayangan sendiri dan menjawab dengan pertanyaan yang antusias, “bagaimana ya, caranya menjadi bawang bombay?

Maaf teman, aku menggurui kamu...
Are tabe bara (banyak salam dari)
Arita-CH

Ingat Pengalaman Sendiri

Ingat Pengalaman Sendiri

07.12.2005.

Dear Zeverina,

Membaca cerita-cerita yang ada di kolom Kesehatan ini tanpa kita sadari seperti mengadakan terapi kelompok untuk menyegarkan kembali kepenatan dan stress yang kita alami sehari-hari, bahkan bisa mendapatkan jalan keluar dari suatu permasalahan. Selamat ya, benar-benar efektif, terutama untuk saya pribadi. Merenungkan tulisan Sarimin-San, saya jadi ingat tentang pengalaman saya sendiri.

Setiap saya pulang ke Indonesia, banyak keluarga yang menawarkan entah dirinya sendiri entah anaknya untuk bekerja dengan saya. Bahkan ada paman saya yang berumur hampir 60 tahun ingin mencoba pengalaman dan bekerja dengan saya. Apa saja, bahkan pekerjaan berat sekalipun, katanya.

Sebaliknya, saat saya ketempat para pengrajin yang hidupnya di desa-desa bahkan dengan lantai tanah tidak pernah sekalipun meminta pekerjaan di luar negeri. Ada satu anak pengrajin yang pandai sekali menari daerah, iseng-iseng saya tanya kalau mungkin satu hari dia punya niat untuk bekerja dengan saya karena saat pameran saya sering mengadakan pertunjukkan tarian daerah. Tapi apa jawabannya?

"Tidak Bu, terima kasih. Hidup saya cukup disini, saya cuma bisa bantu Ibu dengan berdoa supaya usaha Ibu lancar." Trenyuh hati saya mendengar ucapannya.

Rasa puas dalam diri adalah sesuatu yang relatif dan tidak pernah ada batasnya tanpa kita sendiri yang membatasi. Kepuasan dalam keberhasilan maupun kehidupan tergantung dari kita sendiri yang mebatasinya, dan gadis desa yang sederhana itu tahu bagaimana mengukur rasa puas dalam dirinya. Sejak kejadian itu saya pun mulai mencoba mencari jawaban yang tepat untuk keluarga ataupun teman2 tanpa berusaha menyakiti hati mereka karena dalam kehidupan ini kita akan selalu saling membutuhkan satu sama lainnya. Tapi kalau pada saat kita tidak bisa membantu diri sendiri, bagaimana membantu orang lain? Istilahnya orang jatuh mau tolong orang tenggelam, yah mati dua-duanya.

Jadi kalau ada yang tanya oleh-oleh, ya kalau saya ada rejeki saya bawa oleh-oleh, kalau lagi pas-pas-an ya saya bilang, oleh-olehnya ya "saya sendiri", kan cuma lihat beberapa kali dalam setahun? Kalau ada yang minta uang, saya akan tanya untuk apa? Kalau urusan penting dan saya ada sedikit uang ya saya kasih, kalau hanya karena cari rejeki nomplok, ya bilang saja "tidak ada" dengan baik-baik, lalu ucapkan terima kasih dengan sopan karena sudah menganggap saya mampu. Jangan biarkan energi negatif memasuki badan kita, lawan dengan energi postif, kasih saja senyum, paling yang disenyumin ngerundel, maksimum ngomongin saya dibelakang.

Kalau dibilang sudah jadi orang mampu, saya jawab "Amin", kalau dibilang pelit, ya saya jawab "Tuhan saja tidak setiap waktu mengabullkan permintaan kita, karena setiap kejadian selalu ada waktunya. Ada waktu nangis ya ada waktu tertawa. Mungkin sekarang waktu saya pelit, doian saja supaya nanti ada waktunya saya murah hati. Biasanya setelah dijawab seperti itu kalau tidak ngeloyor tanpa jawaban, garuk-garuk kepala, malah ada yang bilang saya sudah kehilangan pikiran, atau gila karena orang minta bantuan jawabannya hanya senyum-senyum. Ada yang mengumpat, tersinggung, dll.

Nah sekarang tergantung dari kita sendiri. Jangan terlalu diambil hati dan bersikap negatif, karena semuanya ada maksudnya, kadangkala bisa mengingatkan kalau kita lebih beruntung daripada mereka jadi bersyukurlah kepada Tuhan. Semuanya tergantung dari kita bagaimana menanggapi masalah, yang penting semuanya ada batasnya, dan kita sendirilah yang menentukan batas tersebut. Bersikaplah posifif karena sikap negatif itu ada di dunia untuk membuat kita menghargai apa artinya postif. Kalau tidak ada permasalahan, kita tidak akan pernah tahu bagaimana menghargai suatu jalan keluar. Kalau hanya ada negatif, lama kelamaan yang negatif menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya merusakkan diri kita sendiri.

Percayalah, Tuhan tidak akan pernah menjerumuskan kita ke yang negatif, sebaliknya kita sendiri biasanya yang memilih untuk mengambil yang negatif. Tersenyum lah didepan kaca, maka kita akan tahu bahwa kebahagiaan berada didepan kita berperang melawan kesedihan. Wah saya kebanyakan nulis, mudah-mudahan ada manfaatnya buat kita semua. Salam sejahtera selalu, dan jangan lupa tersenyumlah!