Showing posts with label Kalimantan. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan. Show all posts

Titipan Berharga

09.07.2007.




Cerita saya berawal dari empat tahun yang lalu, sewaktu membaca tulisan Dr.JJ. Kusni dalam buku “Masalah Etnis dan pembangunan”. Dalam salah satu tulisannya, beliau membahas sebuah novel yang berjudul “Lonceng Kematian” karya Ray Rizal, cerita tentang kehidupan orang Dayak Punan di Kalimantan Timur. Dalam pembahasannya, beberapa tulisan beliau (J.J Kusni) “mengetuk” kepala saya dengan keras, dimana dengan ciri khasnya yang tajam ia menulis,

“Ketika Kalimantan sudah mulai diusahakan seperti sekarang, orang-orang Dayak makin terdesak dan terdesak saja. Siapa yang memperdulikan mereka? Mengapa bertanya kepada orang luar dan tidak mengalamatkan pertanyaan kepada yang paling bersangkutan langsung yaitu etnik itu sendiri? Pernahkah kemajuan dan pembangunan berkembang merata karena belas kasihan?”.

Mak deg! Kata-kata “belas kasihan” itu mendengung di kepala saya. Sering sekali saya dengar (langsung di depan telinga saya) komentar dari orang-orang asing tentang Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung intinya adalah “mengasihani” Indonesia. “poor Indonesia, poor country, poor people” dan lain sebagainya, saya yang mendengar ikut mantuk-mantuk seperti burung Tekukur, iya ya, kasihan bangsaku. Sebagai seorang peneliti, sering saya berjumpa dengan peneliti asing yang mempunyai “cita-cita” untuk memperkenalkan Indonesia lebih jauh, menulis tentang Indonesia, tentang budayanya, tentang sejarahnya, pokoke semuanya yang berbau Indonesia, dan saya yang peneliti lokal, mantuk-mantuk lagi, terkagum-kagum mendengar betapa tinggi cita-citanya bagi bangsa saya. Tetapi, lagi-lagi tulisan J.J. Kusni, mengetuk kepala saya yang mantuk-mantuk, tulisnya

Apakah yang bisa diharapkan dari peneliti asing seperti Nanette (tokoh dalam novel “Lonceng Kematian”), misalnya. Seusai penelitian dan mengumpulkan data, iapun kembali ke Prancis, dan orang Dayak yang ditelitinya berada di hutan Kaltim, sementara Nanette dengan bahan-bahannya tentang Dayak boleh jadi kian memperkokoh posisi di Lembaga Pusat Penelitian Ilmiah Prancis. [...] Lalu untuk manusia, untuk orang Punan, kaum pengembara yang selama ini hidup di hutan dan ingin dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat, siapakah yang perduli?” [...] Adakah tanggapan positif dari masyarakat dan lembaga terkait untuk segera melakukan tindakan penyelamatan? [..] Tapi sungguh mustahil apabila orang-orang Dayak sendiri menjadi manusia tidak perduli atas nasib diri sendiri. Jika memang demikian, janganlah menangisi langit dan bumi melihat kepunahan diri dari permukaan bumi, dan apabila benar-benar demikian maka betul lonceng kematian alias bamba (gong kematian) sudah ditabuh [..]. Dayak hanyalah suatu kasus, karena nama ini bisa saja digantikan dengan nama etnik-etnik lainnya.Apakah saya pesimis? Boleh jadi ya, tapi boleh jadi tidak, karena yang nampaknya pesimis bisa berganti kualitas menjadi sesuatu positif apabila ia membangkitkan kesadaran dan mendorong tindakan menjawab mengalahkan tantangan. Mudah-mudahan!”

Aduh! Saya seperti digodam dengan palu besar, sebagai peneliti kok aksi saya selama ini yah mantuk-mantuk saja, “NATO” kebanyakkan bla, bla, bla, mengalihkan pembicaraan dengan alasan belum ada sponsor, belum top jadi tidak ada yang mau membiayai, mau riset ke pedalaman saja masih menghitung dana yang baru sebatas jumlah “jemari tangan kanan”, belum termasuk “jemari tangan kiri”, lha tidak bisa tepuk tangan toh? Pokoke banyak alasan saya untuk tidak “beraksi”yang akhirnya saya jadi mati kutu digodam tulisan J.J. Kusni. Mengadulah saya ke suami tersayang, berbagi rasa malu, kan dia juga peneliti, walaupun bukan peneliti lokal, mengadu juga ke orang tua dan mertua sekaligus mencari jalan keluar, yang hasilnya lumayan untuk menggenapi dana riset beberapa bulan ke pedalaman.

Hasil riset beberapa bulan hanya berbentuk artikel sebanyak beberapa lembar yang disodorkan ke kanan dan kiri tetapi ditolak oleh berbagai lembaga penerbit. Kenapa? Kurang populer nama penelitinya, masih bau kencur, kurang komersil, tidak ada dukungan nama institusi besar, alasan klasik yang juga berlaku di dunia penelitian. Tapi maju terus pantang mundur, lebih baik bolak-balik cari penerbit dari pada “digodam” dengan rasa malu. Sampai akhirnya artikel kami berdua diterima dengan tangan lebar oleh sebuah badan penelitian di Amerika, wah senangnya bisa berhasil. Tapi tunggu dulu, mana hasil konkritnya? Bah! Ternyata kurang berdampak besar untuk sebuah peradaban, hanya setitik debu di lautan pasir! Kami berdua mulai memasuki tahap berikutnya, mencoba lembaga pemerintah, sebuah Museum Budaya di kota Lugano, tepatnya terletak di bagian selatan Swiss, hanya beberapa kilometer dari perbatasan Swiss-Itali.

Pertama kali saya mengunjungi museum tersebut, saya terpukau dengan banyaknya benda-benda dari Indonesia, mengalahkan koleksi museum Musée de l'Homme di Paris yang dipamerkan untuk umum (sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar koleksi dari Indonesia “terkubur” di gudang Musée de l'Homme, sedih lagi ya?). Setelah habis rasa kagumnya, datanglah rasa sedih, ya sedih benar nasib Indonesia, koleksi dari pulau Borneo semuanya ditulis Malaysia, tidak ada secuilpun bertuliskan INDONESIA. Bahkan salah satu nama suku dayak yang jelas-jelasan berada di Indonesia, nama negara asal bertuliskan juga Malaysia. Bosan saya menangis dan mengeluh! Bosan “dijajah” terus oleh bangsa lain. Saatnya untuk bertindak, walaupun kecewa dengan pemerintah yang sebagian amburadul tetapi sebuah peradaban adalah akar dari sebuah bangsa. Walaupun saya sangat dikecewakan oleh hukum di Indonesia, tetapi peradaban bangsa Indonesia adalah pohon yang membesarkan saya, intinya, saya bosan mendengar dan membaca definisi Borneo = Malaysia (Brunei saja dicuekin), padahal nama Borneo “tercipta” pada tahun 1521 karena “kesalahpahaman” dari Antonio Pigafetta seorang jurnalis Italia yang ikut dalam pelayaran ekspedisi Ferdinand Magellan.
Pigafetta salah kaprah dalam menulis laporan perjalanan, dimana saat ia berlabuh di sebuah pelabuhan, ia terpukau dengan sambutan yang sangat istimewa, menaiki gajah yang berbajukan emas (emasnya pasti buanyakk), melihat rumah-rumah besar (rumah betang) yang bisa memuat 50 orang Eropa. Saat ia menanyakan nama tempat tersebut maka penduduk lokal pun menjawab bahwa ia saat itu berada di Bornei (sekarang bernama Brunei Darussalam ). Pulanglah Pigafetta dengan laporan bahwa ia telah berlabuh di sebuah pulau yang sangat besar dan kaya raya yang bernama Bornei dan akhirnya karena mengikuti lidah orang eropa maka nama “Bornei” menjadi “Borneo”. Gemblung ya, memang susah-susah gampang menjadi jurnalis.Padahal orang melayu (malaysian) yang menetap di pulau tersebut saat itu (tahun 1500) sudah mengenal dan mengetahui nama pulau dengan nama “Kalamantan”.

Karena bosan mendengar omelan saya sendiri, begitu juga suami saya sampai “penuh” telinganya mendengar keluhan saya, maka kami memberanikan diri untuk menulis ke Museum Budaya Lugano, menawarkan diri untuk “mengoreksi” secara sukarela, tidak digajipun ya tidak apa-apa karena bagi kami sebuah kebenaran adalah suatu bayaran yang mahal. Tapi tunggu punya tunggu, gigit jari saja yang terjadi, penolakkan dari pihak museumpun tidak terdengar, mungkin tawaran kami dianggap “aneh bin ajaib”. Ya sudah, daripada marah-marah ya berdoa saja menunggu waktu untuk mengungkapkan kebenaran, sambil “cuap-cuap” di sekitar tempat tinggal berbagi pengetahuan tentang Indonesia.

Pada tahun 2005, kami mendengar pergantian pengurus di Museum Budaya Lugano dimana pemimpin yang baru adalah seorang profesor asal Itali ahli budaya akan Sepik dan Bali. Ya dicoba lagi menawarkan diri kembali ke Museum Budaya Lugano, tidak ada salahnya sudah kebal dengan penolakan, jadi kami maju lagi “bertempur” di susunan pengurus yang baru.
“Bak gayung bersambut” jadilah kami “memandikan” Indonesia yang “kotor ketutupan debu ketidakbenaran”. Pemimpin museum yang baru setuju untuk memberikan “gayung” kepada kami dalam mengoreksi beberapa koleksi benda-benda budaya di Museum Budaya Lugano, bahkan bukan hanya “gayung” yang diberikan kepada kami berdua, tetapi juga “tempayan besar penuh berisi air” untuk membersihkan. Kami berdua dipercayakan dalam mengorganisir Pameran Budaya akan benda-benda budaya dari pulau yang pernah dikenal dengan nama Pulau Bagawan Bawi Lewu Telo (Riwut, 2003 :3),Burnéi (Stanley, 1874:108), Nusa Tanjung Negara dan Pulo Kalamantan (Saint John, 1847:15). Wah lompat-lompat ditempat kami, senangnya bukan kepalang serta takutnya hampir menjadi penghalang. Senang karena waktu yang ditunggu-tunggu sudah di depan mata, takut karena yang akan digelar adalah martabat bangsa.


Wara-wiri mengatur acara pameran ternyata lebih pusing daripada membuat makalah ilmiah, makanya karena sudah kadung pusing ya sekalian saya coba-coba membikin acara “seramai” mungkin. Dari sebanyak 39 objek budaya dari pulau Borneo yang dipamerkan, hanya 5 objek yang positif dari Malaysia, oleh karena itu, bisa dikatakan yang mejadi “tuan rumah” dari pameran adalah INDONESIA. Jadi saya mengusulkan agar setidaknya pemerintah Indonesia bisa membuka acara pameran tersebut.


Dikarenakan sebagian besar objek berasal dari Indonesia, oleh karena itu pihak kota Lugano setuju untuk mengundang Duta Besar Republik Indonesia, Ibu Lucia Helwinda Rustam dan juga mengundang langsung Gubernur Kalimantan Tengah serta menanggung seluruh biaya transportasi dari Indonesia hingga tiba di Lugano, akomodasi selama di Lugano serta kunjungan-kunjungan sosial ke berbagai tempat di Lugano, sebagai wujud penghormatan dan penghargaan akan kebesaran peradaban Kalimantan di Indonesia. Saya (kembali) mencoba memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mengusulkan (lagi) ke kota Lugano untuk mengadakan seminar tentang Indonesia, khususnya dalam bidang ekonomi tapi tampaknya, “gayung belum tersambut”, karena saat ini negara yang menjadi prioritas bagi jaringan bisnis Switzerland (OSEC) adalah negara Thailand, alasan ketidakstabilan politik menjadi landasan untuk mendudukkan Indonesia di “lantai”, ya gedebuk lagi saya ndeprok “menunggu” lagi.

Singkatnya, pameran tersebut berhasil dilaksanakan dibantu oleh para “sesepuh” antropolog Kalimantan yang diantaranya adalah Mina (cat: bibi) Nila Riwut, bapak Antonio Guerreiro dan bapak Bernard Sellato dari Perancis, dimana beliau mampu bercakap dalam bahasa daerah, lebih canggih dari saya sendiri (malu jeg!). Pameran yang berjudul “PATONG. Great Figures Carved by the People of Borneo” bertempat di Galleria Gottardo, Lugano dan berlangsung selama tiga bulan dari tanggal 23 Mai hingga 25 Agustus 2007, bisa lihat di website http://www.galleria-gottardo.org/galleria_gottardo/en/Index.html.Saat pembukaan pameran, tanggal 23 Mai 2007, Duta Besar Indonesia, Ibu Lucia H Rustam memberikan kata sambutan yang sangat menyentuh hati saya. Baru sekali saya bertemu dengan para pejabat pemerintah yang sangat “membumi” dimana kedua kakinya “menginjak tanah” dengan pasti. Pujian, rasa kagum dan hormat saya kepada beliau. Begitu juga dengan Gubernur Kalimantan Tengah dan istri, Bapak Teras Narang dan Ibu Moenartining, mereka berdua mengangkat wajah dengan tegak, bangga memperkenalkan Kalimantan kepada masyarakat Internasional, rasa percaya diri dan pengetahuan mereka yang luas membuat Indonesia terlihat besar di kerumunan orang-orang berkulit putih. Jauh sekali dengan pejabat-pejabat pemerintah lainnya yang pernah saya temui (terutama pada pembukaan pameran budaya di Eropa), setidaknya mereka bagaikan angin segar di tengah-tengah polusi pemerintahan.


Pameran berlangsung dengan sukses, pengunjung berdatangan dari berbagai negara. Dan yang menarik dalam pameran adalah program “guided visit ” untuk grup dari perusahaan, lembaga maupun instansi perbankan, dimana kunjungan juga dilengkapi dengan pengetahuan akan budaya dan sejarah. Nah yang ini menjadi bagian kami berdua, terutama saya yang paling “cerewet” mengenalkan Indonesia kepada para usahawan.Grup pertama yang berpartisipasi dalam program tersebut adalah sebuah grup bank besar Swiss yang beranggotakan 40 orang. Kami berdua agak grogi di depan para bankir, bagaimana caranya berbicara antropologi dengan para bankir yang berkutat dengan angka? Akhirnya suasana yang kaku mencair dengan cepat, apalagi saat mereka mengajukan pertanyaan, sampai terkaget-kaget saya dengan pertanyaan para bankir.
Adakah gorila di Indonesia? Indonesia tidak sama dengan Malaysia? Adakah lapangan terbang? Bisakah menggunakan dolar? Apakah peradaban suku Dayak masih eksis di Indonesia?”
Saat menjawab pertanyaan mereka, kembali terngiang – ngiang di telinga saya, pesan Ibu Moenartining dan Bapak Teras Narang sebelum memasuki pintu masuk imigrasi bandara Lugano untuk pulang ke Indonesia,
“Titip Indonesia ya nak ...”
Arita-CH

Belajar di luar negeri (2)

13.04.2009.

Dear Zev, Kokiers, kokoers, pokoknya dear semua komunitas KoKi....

Senang rasanya melihat edisi 9 April 2008, dimana semua aspirasi tertampung dalam logo yang menganut asas musyawarah dan mufakat. Akhirnya terbit juga logo dari kolom yang mengayomi dan menampung “kehidupan” kita dengan segala welas asih dan dedikasi maju terus pantang mundur.

1 April 2008, hari yang kutulis sebagai hari untuk mengungkapkan tabir “kebohongan”, berlangsung dengan sukses. Kutulis kata “kebohongan” dengan tanda kutip, karena sedikit berbeda dengan kebohongan tanpa tanda kutip. Kebohongan dengan tanda kutip disini, tidak sama artinya dengan arti kebohongan menurut kamus besar bahasa Indonesia. Kebohongan dengan tanda kutip disini lebih merupakan, unspoken truth. Kebenaran yang tidak dikatakan, yang disimpan dibalik sebagian dari kebenaran lainnya. Salah satu contoh misalnya adalah pengetahuan penduduk Lugano akan keberadaan pulau Borneo. Selama ini, banyak dari penduduk Lugano (menurut survey pribadi) dicekoki oleh iklan-iklan parawisata untuk berwisata petualang di Borneo. Begitu hebatnya iklan tersebut, membuat pengetahuan dasar mereka tentang Borneo menjadi rancu. Borneo yang mereka kenal adalah suatu kawasan yang terletak di satu negara. Jadi pengetahuan mereka bukanlah Borneo yang “menampung” tiga negara, tetapi lebih condong hanya satu negara yang menampung Borneo. Dengan waktu yang sangat terbatas, kami berusaha semaksimum mungkin, mengatakan kebenaran yang tak terkatakan, di sore hari, selasa 1 April 2008.

Kembali kepada dua tokoh, yang tidak bisa kulewatkan begitu saja, pada saat aku belajar di luar negeri. Kini saatnya aku menceritakan, seorang bapak yang sederhana, hidup di tengah keramaian bunyi burung dan binatang yang lalu lalang di alam bebas.

Cerita ini sebenarnya sudah selesai kuketik sejak 8 April 2008, tetapi waktu kubaca KoKiResensi: Tino Saroengallo Bukan Okonkwo, edisi 9 April, mataku terbelalak, lho kok masalah si bapak tokoh kedua ini bisa mirip-mirip dengan masalah yang dihadapi oleh Tino Saroengallo?

Bapak ini biasa kami panggil dengan sebutan, Pang Sayen. Sayen bukanlah nama yang diberikan kedua orangtuanya, tetapi adalah nama dari anak pertamanya. Pada suku dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, saat seseorang mempunyai anak pertama, maka ia akan dipanggil dengan menggunakan nama anak pertama. Jika anak pertama bernama Sayen, maka sang ayah akan dipanggil dengan sebutan, pang (kependekkan dari Japang) atau pak Sayen, yang berarti bapaknya Sayen. Sedangkan sang ibu akan dipanggil dengan sebutan indang atau indu Sayen, yang berarti, ibunya Sayen. Nama Pang Sayen adalah Suner Sukur, lahir di Kampung Tewang Darayu, Katingan Tengah, propinsi Kalimantan Tengah. Tanggal kelahiran beliau tidak diketahui dengan pasti, hanya tempat kelahiran yang jelas terekam dalam cerita keluarga. Tepat dibawah pohon durian yang belum berbuah, saat sang ibu sedang menumbuk padi, Suner, anak bapak Sukur, lahir dengan santainya tanpa bantuan dokter yang memang belum ada.

Pertemuanku tahun ini dengan pang Sayen bukan pertemuan yang pertama. Masih terkenang “goro-goro” yang dimainkan oleh pang Sayen, saat pertama kali aku bertemu muka dengannya tahun 1992, di Jakarta. Pang Sayen dan keluarga mengunjungi Jakarta untuk bertemu dengan ayahku yang masih sepupu. Dengan menumpangi kapal laut dari Banjarmasin, pang Sayen menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Tanjung Priuk, Jakarta. Aku yang saat itu ditugaskan menjadi supir plus pemandu wisata, sempat kebingungan, menemukan mereka ditengah-tengah serbuan penumpang yang turun dari kapal laut. Sambil garuk-garuk kepala, kuingat-ingat pesan yang diwanti-wantikan oleh ayah “pokoknya kamu cari saja bapak yang berkumis, berkopiah dan berkaki telanjang tanpa alas kaki, titik.” Tengkuk ini rasanya berat, terus menerus menunduk, memelototi kaki-kaki penumpang yang beraneka macam. Akhirnya usahaku mendapatkan hasil, mataku menabrak sepasang kaki besar, lebar, tanpa alas, menyangga badan lelaki berkumis, berjenggot, beralis tebal dan berkopiah. Goro-goro mulai terjadi saat pang Sayen mulai dipelototi satpam-satpam dari berbagai jenis bangunan di Jakarta. Bukan hanya dipelototi tetapi juga dilarang masuk! Gerah dengan peraturan yang bertubi-tubi, akhirnya kubujuk pang Sayen untuk membeli sepatu. Seluruh toko sepatu, di pasar Baru Jakarta, kami sambangi tanpa pandang bulu, pokoknya beli sepatu! Tapi apa daya, standar ukuran dan model sepatu tidak mampu bersanding dengan “sepatu” alam yang lekat di kaki pang Sayen. Akhirnya kami semua menyerah, program jalan-jalan tetap dilanjutkan dengan (hanya) menatap Jakarta dari balik kaca mobil.

Tahun 2008 ini merupakan kunjunganku ke pang Sayen yang kesekian kalinya, tetapi baru sekarang, aku mulai mempelajari secara dalam, kearifan dan “daya ramal” pang Sayen, akan masa depan, masa yang akan datang, masa saat kematian menjelang.

Sengaja artikel ini kukemas dalam bentuk narasi, sebagaimana pang Sayen bakesah (bercerita) kepadaku, sambil menghabiskan entah berapa piring nasi kelapa, gelas kopi dan kelapa muda.

“Namaku Suner Sukur, biasa dipanggil dengan sebutan pang Sayen. Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang masih tetap memegang teguh adat, tradisi serta agama yang diturunkan oleh tatu hiang (nenek moyang), pada jaman Lewu Telo (kampung tiga). Jamannya Raja Buno (nenek moyang manusia) turun ke Pantai Danum Kalunen (bumi). Sewaktu aku kecil, aku mengenal agama kami dengan nama, agama helo (agama dulu), yang kemudian pada jaman merdeka, dikenal dengan nama, Kaharingan (diajukan oleh Damang J. Salilah tahun 1945, diresmikan negara tahun 1980). Bagiku, rasanya lebih nyaman dengan sebutan agama helo, apalagi bisa dikatakan kalau aku ini uluh helo (orang dulu). Agama helo telah berperan banyak dalam hidupku, dari sejak ku lahir, menikah, mempunyai anak dan tentu saja juga nanti, pada saat aku mati.

Menurutku, kematian bukan hal yang menyeramkan atau menyedihkan. Memang aku akan bersedih pada saat aku ngalingu (teringat) keluarga dan kehidupan di pantai danum kalunen (bumi), tapi, kematian adalah suatu jalan. Seperti juga kelahiran, kematian adalah jalan untuk pergi ke suatu tempat. Kematian yang kukenal adalah suatu jalan untuk buli lewu (pulang kampung) tatu hiang (nenek moyang), kampung yang makmur dan berkecukupan segalanya (lewu tatau). Nah, jadi untuk apa aku takut dan bersedih untuk pulang ke kampung halaman yang makmur dan bertemu kembali dengan nenek moyang?

Tetapi kutegaskan, memang benar ada yang kutakutkan pada saat kematian. Aku sangat takut tidak bisa buli lewu tatu hiang (pulang ke kampung nenek moyang). Aku takut jika nanti liau ku (arwahku) tetap terbenam di bawah sana, di tempatnya Raja Entai Nyahu dan Kameluh Tantan Dayu, dewa dan dewi lewu (kampung) Bukit Pasahan Raung, penguasa dunia alam kubur.

Nah, lebih dahulu akan kuceritakan pengetahuanku tentang kematian. Menurut tetek tatum (cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi), jiwa yang meninggalkan badan yang sudah mati akan menjadi liau (arwah). Liau itu lalu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah liau (arwah) yang murni. Nah, liau yang murni ini akan langsung lompat, menuju suatu tempat di dunia atas, menunggu liau bagian kedua. Liau (arwah) bagian kedua adalah liau (arwah) yang terbentuk dan melekat dengan badan, terisi oleh perbuatan badaniah semasa hidup. Nah, liau ini tidak murni seperti liau yang pertama, karena sudah campur aduk dengan perbuatan semasa hidup, dari yang baik sampai yang jelek. Liau bagian kedua ini akan masuk kedalam dunia alam kubur, menunggu saatnya pembersihan, hingga saat tiba waktunya, untuk bersatu lagi dengan liau pertama yang murni, lalu lompat ke langit yang paling atas, langsung buli lewu (pulang kampung), berjumpa lagi dengan tatu hiang (nenek moyang).

Bagian yang sangat berarti saat aku mati adalah saat liau bagian kedua dibersihkan, lalu, liau bagian pertama yang murni disatukan dengan liau bagian kedua yang sudah bersih, untuk diantar lompat ke langit ketujuh dengan menggunakan banama bulau (kapal emas) balunas tambun belum (dengan lunas kapal berbentuk ular air). Nah, jadi aku harus meyakinkan diriku, bahwa setelah penguburanku, kelak keluargaku yang masih hidup akan melakukan upacara untuk membersihkan liau, menyatukan dua bagian liau dan memberangkatkan liau dengan banama bulau (perahu emas) berlunas tambun.

Saat yang penting adalah saat keluargaku membongkar kembali kuburanku setelah beberapa waktu/tahun, membersihkan tulang-tulangku, kemudian meletakkan tulang-tulangku yang sudah bersih di peti yang baru, masuk ke dalam pambak (sebutan untuk mausoleum pada suku dayak Ngaju daerah katingan hilir hingga katingan tengah). Acara ini dinamakan acara pesta Tiwah. Suatu pesta terakhir untuk melancarkan keberangkatanku selama-lamanya.

Nah, untuk buli lewu tatu hiang (pulang ke kampung nenek moyang), aku tidak bisa pergi sendirian, manusia pun tidak bisa ikut aku mengantar, karena mereka itu masih hidup. Nah, yang bisa mengantar aku pulang adalah nenek moyangku, keturunan dari saudara-saudara Raja Buno, nenek moyang para kalunen (manusia) di bumi, yang tinggal di langit atas sana. Nenek moyangku juga yang akan mensucikan liau, melepaskan pengaruh buruk dari kehidupanku, menyatukan kedua liau dan mengantar pulang. Tapi nenek moyangku ini, mereka tinggal di langit atas, mereka tidak akan tahu bahwa aku membutuhkan mereka, kalau mereka tidak di beritahu. Oleh karena itu, pada saat tiwah, keluargaku yang masih hidup akan memberitahu dan meminta nenek moyangku, untuk membersihkan, mensucikan, menyatukan dan mengantar liau (arwah) hingga tiba tempat di tujuan. Acara tiwah itu benar-benar merupakan suatu pesta, bagi yang hidup maupun yang meninggal. Bagi yang almarhum, tiwah adalah pesta keberhasilan untuk bisa buli lewu tatu hiang di lewu tatau. Bagi yang hidup juga merupakan pesta, karena selain acara makan-makan, mereka juga berhasil melancarkan kepulangan sang almarhum, berhasil memenuhi permintaan yang sangat penting dari almarhum, permintaan yang bisa dikiaskan sebagai “pembayaran hutang” pribadi, antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Nah, kembali kuulang lagi kata-kataku, yang aku takutkan adalah tidak bisa buli lewu tatu hiang (pulang kampung nenek moyang). Aku takut jika nanti liau ku (arwahku) tetap terbenam di bawah sana, terpisah dengan bagian liauku yang lain, yang menungguku di suatu tempat di langit atas. Bagaimana nasibku? Terdiam tanpa arah dan tujuan dalam dunia alam kubur, terbenam bersama dengan pengaruh buruk dan sial kematian. Kematian seperti itulah yang kutakutkan, kematian yang dingin dan gelap.

Anak-anakku hampir semuanya adalah peladang, sama seperti aku. Pekerjaan kami adalah berladang padi, sayur-sayuran, serta berkebun rotan dan karet. Kadangkala kami pergi berburu dan menjala ikan untuk melengkapi makanan dan menutup biaya kebutuhan sampingan, seperti gula, kopi, teh, susu, baju dan lain-lainnya. Kebutuhan pangan kami mencukupi, bahkan kadang berlebih. Kami tidak pernah membeli beras, bahkan kami bisa menjual beras dengan harga murah, untuk membantu kampung tetangga yang gagal panen. Kampung kami tidak miskin, hidup kami cukup.

Generasiku dan generasi anak-anakku sudah banyak berbeda. Mereka, anak-anakku, bukanlah lagi penganut agama helu. Heh, mungkin karena mereka bukan lagi uluh helu (orang dulu) seperti aku. Generasi mereka adalah generasi yang tidak tahu lagi bagaimana caranya menganyam keba (tas punggung dari rotan), membuat pasuran (alat untuk menangkap ikan), ataupun membuat alat kebutuhan rumah tangga dari kayu. Generasi aku adalah generasi yang tidak tahu sama sekali bagaimana menggunakan telepon tangan, bagaimana menggunakan kompor, baik kompor minyak tanah maupun gas. Bahkan aku baru sekali ini melihat televisi yang bisa merangkap sebagai mesin tik (komputer laptop).

Tetapi mereka, anak-anakku, adalah anak-anak yang baik dan hormat kepada orang tua, juga kepada orang-orang yang lebih tua. Akupun juga menghormati pilihan mereka untuk tidak menganut agama helu, karena agama bagiku adalah suatu pilihan hidup. Seperti anak-anakku yang memilih agama lain, aku, istri dan orang-orang tua disekitarku juga memilih untuk tetap menganut agama helu. Untungnya aku dan istriku, sekalipun anak-anak kami tidak lagi menganut agama helu, mereka masih tetap menghormati dan menghargai tradisi uluh helu. Aku sebagai uluh helu dan penganut agama helu sadar sesadarnya bahwa, jaman sekarang bukanlah jaman helu (jaman dulu) lagi, jaman sekarang adalah jaman serba praktis. Seperti anak-anak kami yang masih dan tetap menghormati tradisi uluh helu, akupun berusaha memahami jaman sekarang, jaman serba praktis. Oleh sebab itu, aku berusaha agar kelak pelaksanaan pesta tiwahku dilakukan secara praktis, sesuai dengan jaman yang serba praktis.

Benar pesta tiwah itu tidak praktis, lamanya bisa berlangsung antara tujuh sampai tigapuluh hari, bahkan bisa lebih, biayanya pun tinggi. Masih ku ingat pesta tiwah abaku (ayahku) pada tahun 1960, kami harus mendayung jauh hingga ke kota sampit, untuk membeli kerbau dan sapi dengan biaya dan ongkos yang tinggi. Tahun ini, kudengar dari temanku yang baru saja mengadakan pesta tiwah bulan desember 2007, untuk almarhum istrinya yang meninggal 5 tahun yang lalu. Ia menghabiskan 30 juta hanya untuk membangun pambak baru (mausoleum) dan 2 sapundu (tiang kayu pengikat korban binatang), belum biaya untuk membeli kerbau, sapi, dan biaya-biaya lainnya.

Akupun kelak membutuhkan pambak baru. Sebenarnya masih ada pambak lama, tempat tulang belulang almarhum abaku (ayah) dan datu-datu (kakek nenek dahulu). Tetapi pambak tersebut sudah terlalu tua dan penuh dengan beratus-ratus tulang. Dibutuhkan pambak baru untuk tulang-tulang istri dan aku kelak.

Nah, karena jaman sekarang adalah jaman serba praktis, maka aku pikir, pesta tiwahku nanti akan menjadi “pesta yang tidak praktis” bagi anak-anakku. Harga-harga kebutuhan tiwah semakin melambung tinggi, menambah ketidakpraktisan dalam jaman serba praktis. Ketakutanku pun menjadi bertambah, bagaimana kalau “ketidakpraktisan” tiwah menjadi halangan bagi liau-liauku untuk bersatu dan lumpat buli lewu tatau? Bisa merana nanti aku di liang kubur.

Sekalipun masih ada para tetua adat dan orang-orang tua yang masih tetap berpegang dengan tata cara adat, tetapi aku tetap harus meyakinkan diriku, bahwa anak-anakku, yang masuk dalam generasi serba praktis, pasti akan melaksanakan pesta tiwah yang “tidak praktis”. Nah, maka itu, aku mulai menyiapkan diri.

Sejak tahun 2006, aku membeli tanah dan membangun pambak baru untuk aku dan istriku kelak. Pemahat dan pematung sapundu pun sudah kuhubungi, kayu–kayu tabalien (kayu besi/ulin) untuk sapundu sudah kubeli, tujuh gong, satu gendang, kangkanong (gamelan kecil) dan katambong (gendang/drum kecil) sudah siap di rumahku. Uang untuk membeli kerbau dan sapi sudah tersedia, dan tertulis dalam surat wasiat, yang dibikin di hadapan anak-anak dan penghulu (panatua) adat. Begitu juga dengan uang untuk membayar pemahat dan pisor (sebutan untuk pendoa & pemimpin upacara agama helu/kaharingan pada suku dayak Ngaju Katingan) sudah terkumpul. Semuanya tertulis dan diketahui oleh panatua adat dan keluarga besar. Setidaknya aku sudah menyiapkan sebagian besar dari upacara tiwahku, upacara yang akan memberitahu dan meminta nenek moyangku, untuk mengantar aku, pulang bersama, buli lewu tatau, buli lewu tatu hiang. Aku sudah mempersiapkan diri kami semua, anak-anakku, istri dan aku sendiri, bahwa kami uluh helu, yang penuh dengan tata cara dan adat yang “tidak praktis”, masih sanggup mengatasi jaman yang serba praktis.

Kini aku tidak takut lagi, kujalani sisa hidupku dengan tetap berladang, menjala dan menganyam. Setiap pagi pisau ku asah, untuk membelah rotan dan menganyamnya, sehingga menjadi keranjang ataupun benda lainnya. Kulewati hari demi hari dengan bekerja dan bersyukur, tanpa rasa takut dan khawatir. Kini aku siap pulang, tidak ada lagi yang kutakuti. Tugasku sekarang adalah mengisi waktu yang tersisa, dengan berbuat sesuai dengan ajaran agama helu, tetap menjadi uluh helu, sambil sekali-kali menceritakan kepada ikau (kamu - Arita), akan kesah-kesah (kisah-kisah) keluhuran tatu hiang dulu.”

Zev, Kokiers, kokoers, kutatap pang Sayen yang asyik dengan pipa yang dibuatnya sendiri. Wajah yang dihiasi dengan alis, kumis dan janggut yang memutih. Wajah uluh helu (orang dulu) yang tegar dan siap menyongsong, bukan hanya masa depan, tetapi juga masa kematian dan masa depan anak-anaknya. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, tanpa berani membuka suara. Sekalipun kata-kata pang Sayen tidak bermaksud mengguruiku, tetapi, identitas diri pang Sayen telah mengguruiku dengan telak.

Identitas manusia terletak pada sejarah dan sumber dari sejarah tersebut. Sumber sejarah paling jauh yang dapat ditemukan, terletak pada mitos penciptaan manusia. Seseorang atau suatu komunitas menemukan akar mereka dalam mitos penciptaan manusia, menciptakan rasa kebersamaan, kekuatan, stabilitas dan rasa aman menghadapi ancaman dari pihak luar yang tidak dikenal.

Pang Sayen dan keluarga memiliki identitas, yang berasal dari masa dulu, terprojeksikan pada masa sekarang dan masa depan. Identitas yang merupakan harta berharga, yang dapat membuat pang Sayen hidup setiap hari dengan rasa damai.

Kutatap dengan sedikit rasa iri pada pang Sayen, lelaki yang damai, dengan identitas mengalir deras dalam hidupnya. Kucari-cari identitas diriku di tumpukkan buku-buku dan sela-sela dompetku yang tipis.

Kupanggil dengan keras sang identitas, “dimana kau, hai identitasku?” Sayup-sayup kudengar jawaban, dari suara yang jauh terdengar, “aku disini, terhalang oleh buku-buku dan perhitungan logikamu.”

Terima kasih setulusnya kuucapkan pada Zev, kokiers dan kokoers yang berada di seantero 166 negara, bahagia menjadi bagian dari kalian, beruntung bisa belajar dari sekian banyak pengalaman yang tertulis.

Are tabe bara (banyak salam dari)

Arita-CH

Belajar di luar negeri (1)

21.02.2009.

Awal tahun 2008, ku buka dengan perjalanan “belajar di luar negeri”, disponsori oleh museum Lugano, Swiss. Mendengar kata “luar negeri”, terutama saat mendengar negara tujuan, aku lompat-lompat kecil, tidak berani lompat besar, takut jatuh dari tangga mimpi.

Program “ke luar negeri” berhasil diputuskan dalam komite scientifik Museum Lugano Swiss tahun 2008 dimana kami berdua (suami dan aku), kolaborator ilmiah eksternal Museum Lugano Swiss, terpilih untuk “belajar” di luar negeri Swiss, mengunjungi suatu negara nun jauh letaknya dari pegunungan Alpen, negara yang harus ditempuh dengan penerbangan selama 14 jam dari kota Zurich plus transit 2 jam. Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara, melintang di khatulistiwa antara benua Asia dan Australia, antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

“Jalan-jalan keluar negeri” ini berkaitan dalam proyek penelitian antropologi, jadi kami berdua tidak bisa terlalu “berzalan-zalan zambil berziul-ziul” (permisi Ibu Ira-Canada, pinjam istilahnya), namun demikian, saat surat jalan dan tiket diletakkan di tangan, hati kami berdua berdendang ria menyanyikan lagu yang berbeda, suamiku bernyanyi akan “serunya” keluar negeri, hatiku juga bernyanyi akan indahnya keluar negeri untuk memasuki negeri yang telah membesarkan aku dengan segala “kebijaksanaannya”.

Saat kaki kami melangkah keluar dari pintu pesawat, aroma khas mendekap hidungku, udara yang lekat dengan kelembapan merangkulku dengan segala kehangatannya, membuatku kepanasan akan rengkuhannya yang erat. Kedua bola mataku “berlari” terburu-buru, mencoba mengalahkan kaki yang kesemutan tertekuk selama beberapa belas jam. Pusat syarafku harus bergelut dengan anggota tubuhku yang enggan bersinkronisasi, masing-masing ingin saling mendahului, berpacu dengan melodi kerinduan untuk segera tiba di tempat tujuan, menambatkan cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Ditemani dengan seorang sepupu, kami bertiga menggerakkan seluruh tenaga untuk menjalani roda penelitian yang “bertempat” di propinsi Kalimantan Tengah, menyelusuri sungai Katingan yang “lahir” di kaki pegunungan Schwaner, meliuk-liuk sepanjang 650 km hingga laut Jawa.

Berhubung jatah sepanjang 650 km terpotong dengan masalah pribadi, sedangkan waktu yang “disediakan” tidak bisa diulur seperti karet, maka penelitian pun “diperpendek” menjadi 400 km.

Penelitian “sependek” 400 km kami arungi dengan mengayuh dayung secepat mungkin. Berbekal fasilitas abad ke 21, dayung digantikan oleh mesin motor Yamaha dan Mitsubitshi. Menumpangi 3 macam jenis dan ukuran perahu, menyusuri sungai Katingan, dari dermaga Kasungan hingga hulu Katingan, lalu kembali ke dermaga Kasungan untuk menumpangi mobil yang juga bermesin Mitsubitshi, menuju Palangka Raya, menaiki kapal terbang yang untungnya tidak bermesin Mitsubitshi, menuju Jakarta, langsung lanjut ke kota Zurich, masuk ke dalam kebekuan salju yang masih belum juga mencair di bulan Maret.

1 April, the april fools' day atau April Mop. Hari yang biasanya “disahkan” untuk berbohong tanpa dianggap bersalah. Tetapi bagi kami, pada tanggal 1 April 2008 lebih merupakan hari untuk mengungkapkan tabir “kebohongan”. Hari ini kami (suami dan saya) menjadi pembicara dalam konferensi “Altra Altri Asia” dengan tema “Pulau Borneo”, di Lugano.

Pertama kali slide peta pulau Borneo terpampang di layar, banyak wajah-wajah yang ternganga bingung, menatap tiga negara di pulau Borneo. Saat kami berdua menjelaskan, menerangkan, “berdakwah”, tentang pulau beserta penduduk aslinya, kembali kami melihat wajah-wajah yang penuh dengan kebingungan bercampur kekaguman. Kutatap wajah-wajah peserta dihadapanku yang terpaku menatap gambar di layar, gambar-gambar yang terekam saat penelitian sepanjang sungai Katingan, gambar-gambar yang “menculik” jiwaku kembali ke kaki pegunungan Schwaner, milir sungai Katingan.

Benakku dipenuhi oleh wajah-wajah penduduk sekitar sungai Katingan. Wajah-wajah yang menatap penuh dengan kekuatan dan semangat hidup, wajah-wajah yang berani menyambut hari esok, tanpa tahu apa yang akan terjadi pada keesokkan hari. Wajah-wajah tua yang bangga menyebutkan jumlah tahun yang telah dilalui, sebagai tanda kemenangan dalam menjalani hidup. Hidup yang kadangkala sering kuanggap sebagai beban yang panjang. Wajah yang tidak akan pernah kulupakan dan terpatri kuat dalam hatiku, wajah yang selalu membuat aku bertanya -tanya, “mampukah aku berdiri tegak seperti mereka?”

Diantara wajah-wajah tersebut, ada dua tokoh yang tidak bisa kulewatkan begitu saja dalam kehidupanku sehari-hari. Sepak terjang dan perjuangan mereka jauh di hutan belantara, menjadi contoh bagi diriku dalam menghadapi hutan belantara gedung bertingkat. Hutan kehidupan abad ke 21 yang dipenuhi dengan semak belukar intrik duniawi yang jauh dari bersahabat. Kedua tokoh ini memenuhi alam pikiranku, kupinta betara kala kembali ke belakang berjalan mundur, kala pertama kali aku bertemu dengan 2 tokoh.

05:07 dini hari.

Hari masih gelap, fajar seolah enggan menyingsing. Kami sudah terlambat 7 menit dari waktu yang dijanjikan. Kulihat tukang perahu kelotok, -perahu bermesin 2 tak berbunyi tok, tok, tok, tok-, sudah siap di dalam perahu, siap menggertak kami yang masih terantuk-antuk. Suara klotok yang menggontok, mendesak kepalaku yang belum teracuni dengan kafein, “ah seandainya ada warung kopi di tengah jalan”. Kami bertiga, Didi sepupuku, sang suami dan aku sendiri, masih terbuai di alam mimpi, terguncang-guncang dalam perahu kecil yang bernyanyi tok tok tok tok. . .

Kami memasuki sungai Samba, anak sungai Katingan, sungai yang akan membawa kami ke desa Tumbang Manggu ( cat.- berbeda dengan bahasa Indonesia, tumbang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti rebah jatuh; runtuh, sedangkan tumbang dalam bahasa dayak Ngaju adalah muara. Jadi Tumbang Manggu adalah desa yang terletak di muara sungai Manggu). Tidak ada yang bisa kulihat disekitarnya saat itu, semuanya masih gelap, dingin, ditiup oleh angin sungai pagi hari, kami “tenggelam” dalam kedinginan pagi, diselimuti kehangatan bunyi mesin kelotok, tok tok tok tok.

Satu jam kemudian, matahari mulai menampakkan sinarnya dengan gagah, sekalipun masih jauh terlihat, tetapi ia menumpahkan warna biru terang jauh di ufuk cakrawala. Bentuk kehidupan mulai menampakkan diri, menyinari kami, menjanjikan harapan baru, hari yang indah untuk disongsong.

Disebelah kiri, kulihat kumpulan batang-batang kayu besar terabaikan dipinggir sungai, debit air yang rendah tidak memungkinkan bagi tongkang untuk masuk dan membawa kayu-kayu tersebut ke hilir hingga laut Jawa. Aku menghela napas, perplex, tidak tahu harus berkata apa. Dalam situasi “moderen”, paradoks tercipta diantara kebutuhan menjadi “modern” dan kebutuhan untuk melanjutkan hidup secara tradisional à la turun temurun. Televisi, majalah, iklan, memberikan contoh model akan suatu kehidupan “modern”, pada komunitas pertanian yang tidak mempunyai gambaran “pasti” akan definisi dari suatu “modernitas”. Mereka membiarkan diri mereka memasuki dunia asing, yang dikenalkan oleh orang “asing”, beradaptasi dengan dunia asing, demi orang “asing” yang datang untuk mengambil kekayaan mereka, dan kemudian pergi tanpa meninggalkan apa-apa. Aku kembali ke dalam kenyataan, kini aku berada ditengah hutan raksasa, ditengah-tengah raksasa kayu-kayu dan mesin-mesin.

06 :30

Kami tiba di desa Tumbang Manggu, dimana terletak betang Bintang Patendu. Betang umumnya diartikan sebagai rumah panjang. Dalam bahasa dayak Ngaju sering juga disebut huma hai (rumah besar). Didalam betang, hidup lebih dari satu keluarga, bahkan pada abad ke 18 bisa mencapai 20 keluarga, yang kalau ditotal jumlah manusia yang hidup dalam satu atap mencapai 200 orang.

Pembangunan betang Bintang Patendu dimulai pada tanggal 15 maret 2002, dengan maksud untuk meneruskan dan menjaga budaya dan tradisi Dayak Ngaju yang bisa dikatakan hampir hilang “dari peredaran”. Betang Bintang Patendu dibangun diatas tanah seluas 1,3 hektar, terdiri dari dua bangunan yang dihubungkan dengan satu bagian, yang dinamakan selasar/karayan, seluas 84 m2. Bangunan pertama seluas 171 m2 adalah bangunan utama, dimana terletak ruang pertemuan/balai dan kamar tempat tinggal, sedangkan bangunan kedua adalah ruang dapur dan ruang makan, seluas 135 m2.

Betang yang dibangun diatas 4 meter dari tanah, ditopang oleh 100 potong kayu besi (scie. Eusideroxylon zwageri) atau kayu tabalien (dayak Ngaju), menimbulkan kesan yang sangat kuat akan kekayaan alam dan kehidupan masa lalu, dalam konteks masa sekarang.

Kami menaiki hejan (tangga-bahasa dayak Ngaju) yang terbuat dari 1 batang pohon utuh, memasuki balai pertemuan yang bernama Balai Karungut. Seperti nama balai pertemuan, “karungut”, seperti juga pemilik betang yang adalah seorang artis, the real celebrity of Karungut. Karungut adalah sejenis pantun, yang dilagukan, diiringi dengan musik kecapi, suling dan kangkanong (semacam gambang). Tema karungut berkisar pada ekspresi perasaan manusia, keadaan alam sekitar, mitologi dan legenda/cerita rakyat. Syair-syair Karungut mengajarkan akan kebajikan dan nilai-nilai luhur budaya.

Seperti syair-syair karungut yang berbicara akan keluhuran budaya, begitu juga dengan sang pendendang Karungut, Bapak Syaer Sua. Begitu banyak hal-hal yang dapat kami pelajari dengan mengenal beliau, sekalipun dalam waktu yang singkat.

Bapak Syaer Sua lahir pada tanggal 15 mei 1952 di desa Bukit Rawi tepi sungai Kahayan, sedangkan kedua orangtuanya berasal dari Desa Tumbang Manggu. Bapak Syaer adalah seorang lelaki yang terlihat tegas, pola bicaranya lugas, tanpa tedeng aling-aling, khas orang Dayak Ngaju. Sistim bermasyarakat Dayak Ngaju adalah sistim budaya betang. Suatu betang adalah juga suatu lewu (kampung), orang-orang yang tinggal di dalam betang adalah satu keluarga yang juga berarti penduduk kampung, jadi pada jaman dahulu, suatu kampung terdiri dari satu betang yang besar dimana anggota keluarga, yang otomatis penduduk kampung, vice versa, selalu bekerja bersama-sama, bergotong royong, tanpa perlu menunggu uluran tangan dari pihak luar. Dalam budaya betang terdapat sistim egaliter, di mana kita biasa memanggil orang dengan sebutan “ikau" (-kamu- Dayak Ngaju), kepada orang yang lebih muda, seumur, bahkan yang lebih tua. Nama orang jarang diucapkan dalam percakapan, kebanyakkan menggunakan panggilan seperti Aba (ayah), Mama (paman), Mina (bibi). Bagi orang yang terbiasa dengan adat yang menggunakan sebutan “anda”, akan menganggap nada bersahabat tersebut sebagai nada ketidaksopanan.

Dibalik sikapnya yang lugas, kami merasakan ketulusan dan kebaikan hati. Ketulusannya untuk terus menurunkan dan mengembangkan tradisi yang diwarisi turun temurun dari nenek moyang, tetek tatum (cerita) yang dilantunkan sang ayah kepada anak-anaknya, diterangi oleh sinar pelita damar, mengisahkan riwayat panjang kehidupan dari masa lalu, sebagai pedoman dan contoh dalam menghadapi masa yang akan datang. Prinsip yang tertanam sejak kecil membuat Pak Syaer Sua menggunakan seluruh kemampuannya untuk membangun betang, untuk mempertahankan budaya betang.

Dalam mempertahankan dan menjalankan prinsip-prinsipnya, tidak jarang Pak Syaer menemukan kesulitan-kesulitan, di antara degradasi moral dan penilaian sepihak dari pihak luar, akan ide-ide dan cita-cita pak Syaer. Tidaklah mudah membangun sesuatu yang hampir punah, meleleh dalam gerakan globalisasi dan modernitas instant. Kehidupan terplastikkan oleh sistem instant, semuanya (harus) serba instant, serba “harus” cepat. Berbalapan dengan waktu, berusaha mengalahkan waktu, tanpa melalui proses alami. Hasil yang didapat akhirnya bersifat instant, begitu juga durasi ketahanannya bersifat instant, tidak tahan lama. Yang kesemuanya menuju pada kemiskinan moral dan material. Pak Syaer Sua harus mampu berhadapan dengan generasi yang diserbu oleh ragam instanitas dari berbagai penjuru.

Pada jaman dahulu kala, betang dibikin dan didirikan oleh orang banyak secara gotong royong. Dengan pengetahuan, peralatan yang sederhana, kesabaran dan kegigihan, mereka membangun betang dengan waktu yang lama. Pada masa kini, waktu dan gotong royong mulai punah. Teknologi modern menawarkan bantuan fasilitas dan kecepatan, tetapi tidak ada yang gratis. Pak Syaer harus memutar otaknya berkali-kali untuk bisa mewujudkan betang. Sudah tidak banyak lagi tangan-tangan yang menawarkan bantuan, dibandingkan pada jaman dulu. Secara materi, proyek Betang merupakan proyek yang jauh dari jangkauan kantong pak Syaer. Tetapi keberuntungan selalu datang dibalik kegigihan dan ketekunan, Betang Bintang Patendu dapat terwujud dengan bantuan fasilitas alat berat dari perusahaan perhutanan.

Betang Bintang Patendu berdiri dengan megah, mengingatkan dan mengajak kembali masyarakat untuk “kembali ke asal”, kembali ke budaya betang. Tetapi globalisasi masih bertengger dengan sombongnya. Pendapat-pendapat orang mulai menggerogoti kesabaran pak Syaer. Dari sebutan sebagai pemimpi hingga orang gila, sudah kenyang didengar oleh kedua telinganya, tetapi bukan kata-kata itu yang kadang kala melahirkan kekecewaan dan kemarahan. Kurangnya informasi dan pengetahuan budaya, akan asal-usul betang tersebut, membuat banyak pengunjung betang menilai “rendah” betang Bintang Patendu.

Banyak orang yang berpikiran bahwa betang hanyalah bangunan sisa dari masa purbakala, yang hanya dibangun pada jaman dahulu, begitu juga pikir mereka tentang Betang Bintang Patendu. Dari beberapa komentar-komentar di internet, banyak yang mengimajinasikan untuk menemukan betang tua, reot, “orisinil”, tidak berjendela kaca, akibat dari imajinasi “eksotis” mereka, para pengunjung, menjadi “menyesal” dengan betang Bintang Patendu. Secara tidak langsung mereka “mendakwa” bahwa betang Bintang Patendu hanyalah “betang tiruan”, betang yang telah dimodifikasi, “betang modern”. Tampaknya pengunjung lebih mudah “mendakwa” sebagai tameng dari rasa kekecewaan dan kekesalan akibat imajinasi eksotis masa lampau. Sayangnya, mereka tidak sadar, bahwa “dakwaan” mereka melahirkan kesedihan mendalam di hati Pak Syaer Sua. Pekerjaan besarnya hanya diartikan sebagai suatu bangunan baru tanpa sejarah, tanpa cerita, tanpa arti.

Tetapi Pak Syaer tidak bergeming dari pendiriannya, ia siap malahap (pekik Dayak Ngaju), mengikatkan lawung bahandang (kain merah) di kepala. Dengan sikapnya yang mamut meteng (gagah berani), ia berjalan dengan semangat isen mulang yang berarti hanya boleh pulang dengan kemenangan. Kemenangan atas janji manusia kepada Ranying (sang pencipta), untuk mengelola bumi dengan baik, dan pulang kembali ke nenek moyang di dunia atas dengan kemenangan, bahwa pantai danum kalunen (dunia) yang dipinjamkan Ranying kepada mereka, telah dikelola dengan baik.

Pak Syaer Sua kembali membangun betang kedua pada 15 September 2005, dengan bangunan utama seluas 300 m2, bangunan dapur seluas 96 m2 , dihubungkan oleh pelataran (selasar/kerayan) seluas 128 m2. Betang kedua ini mempunyai balai yang bernama Balai Basara, yang berarti “Balai Bicara”. Balai yang berbicara, sekalipun betang tersebut belum tuntas selesai terpaku masalah dana, tetapi kekuatan dan kegigihan akan tetap ada, sekalipun harus menahan rahang sang angkara globalisasi yang meraung kuat, mencemooh the real celebrity yang tidak dipuja, seorang Syaer Sua akan tetap meneriakkan lahap (pekik), menantang masa depan.

Saat kami sudah kembali ke Jakarta, pak Syaer Sua memberikan aku satu pertanyaan, “bagaimana pendapat kau tentang betang Bintang Patendu dan betang tua?”

Tanpa ragu-ragu aku menjawab dengan lugas,

“semuanya sangat berarti bagi aku, karena semuanya mengandung jiwa semangat nenek moyang. Kedua-duanya adalah betang, rumah nenek moyangku, rumahku juga, dan aku bangga.”

Teman..., kegigihan pak Syaer Sua membuat aku malu pada diriku sendiri, malu karena aku masih suka nelangsa bila orang mencemooh usaha kami, aku masih suka mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang yang mencemooh usaha kami mengenalkan Indonesia.

Kini aku mulai berkaca pada tindakan pak Syaer Sua. Tidak sia-sia aku belajar “di luar negeri Swiss”, tepatnya di Indonesia, di Kalimantan Tengah. Kini aku harus “membangun balai basara” dengan lebih banyak basara (bicara) agar auchku (suaraku) dapat memecahkan batu hitam kekalahan.

Tikas toh helo doa dan tabe

Bara ikei bawi hatue

Tangis ingganti hapan tatawe

kalampangan ih gulung mangat rata itah mangkeme

Sekian dulu doa dan salam

Dari kami lelaki dan perempuan

Tangis diganti dengan tertawa

Kalampangan saja cepat agar rata kita rasakan

Karungut “Bara Kampung Hantapang Mujai ” (ciptaan J. Lampe Bulit)

Info:

Betang Bintang Patendu.

Bapak Syaer Sua

Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Senaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Video:


Arita-CH

Karungut Foto

06.04.2008.

Banyak berfikir, kening banyak berkerut, mungkin lebih baik kita berkarungut.
Bukan aku pandai mengarang, ku hanya ingin mengusir si bimbang.

Dengan bendera yang berkibar, kususuri sungai yang lebar.
Mengajak kami bermalam, dipinggir sungai Tumbang Samba yang dalam.
Dini hari ayam berkokok, kami menaiki perahu kelotok.
Dengan kantuk yang belum pergi, tetap menyambut matahari pagi.
Perahu melaju mengalir, sang anak kecil menatap riak air. Semilir-semilir, angin mendesir-desir.
Tiba di Tumbang Manggu, berdiri betang Bintang Patendu.
Tampak hejan terpaku, kunaiki tanpa ragu.
Memasuki balai Karungut, tampak terurut, perlengkapan alat musik untuk mangarungut.
Perut mulai bergoyang tanda belum makan, kumasuki ruang dapur mencari sesuatu untuk ditelan
Memasuki betang kedua, hati mulai nelangsa, dapur masih berbentuk kerangka
Waktu berlalu perjalanan harus berlanjut, sekalipun cerita belum lengkap terajut .
Pak Syaer Sua turun mengantar, kami harus meneruskan pekerjaan yang terlantar
Kembali ke tengah sungai, bertemu mereka yang gigih menjala.
Kuat menjala kehidupan, demi meneruskan masa depan.
Senja turun menyapa, tanda malam telah tiba.
Menutup hari, menutup kisah cerita.

Apabila ada salah dendangku, minta ampun saja beribu-ribu,
jangan tertinggal, terima dulu terima kasihku.

Arita-CH

Obrolan Warung Kopi (2)

20.10.2007.
Akhir dari obrolan warung kopi kah? (Sambungan "Obrolan Warung Kopi (1)")

Dear Zev, kokiers ,kokoers serta para pembaca Kolom Kita seanteronya, bagaimana kabarnya ?Mudah-mudahan adem ayem saja dan tidak keriting ataupun berkerenyit dahi terutama setelah membaca « trinité » tulisan sang suhu JC tentang « liquid gold ».

Terlihat dengan gamblang pisau bermata dua, bentuk dari sang primadona Kelapa Sawit. Namanya saja sudah pisau tentu kegunaannya untuk memotong dimana dengan dua mata pisau, kelapa sawit mampu memotong kemiskinan dan juga mampu memotong kehidupan. Mungkinkah situasi ini bisa digambarkan dengan peribahasa bak makan buah simalakama? Kalau Kelapa Sawit maju maka ekonomi mengalami kemajuan, lapangan pekerjaan bertambah besar sementara lingkungan alam mengalami kerusakkan, binatang-binatang mengalami kepunahan dan manusia kekurangan oksigen. Apakah Biodiesel yang ramah dengan udara non polusi menjadi sebuah senjata pembunuh dari bio (kehidupan) tersebut?

Saya akan mencoba untuk tidak menulis terlalu ruwet dalam menyambung di obrolan warung kopi, karena kalau diurut satu persatu seperti mengupas daun kol yang tebalnya minta ampun banyaknya. Pada intinya Kelapa Sawit merupakan komoditi yang penting dan utama bagi kemajuan dan kerusakkan. Banyak teori yang mengatakan bahwa dengan pengolahan yang baik dan benar secara “sustainable” (exploiting natural resources without destroying the ecological balance of an area) akan menghasilkan kebaikan secara universal dan global. Apalagi dengan adanya penemuan baru kelapa sawit menjadi bio fuel yang menjanjikan masa depan cerah akan berkurangnya polusi dan menurunnya biaya transport. Lalu dengan adanya bio diesel dari kelapa sawit dapatkah ia di kategorikan dalam Renewable energy? Renewable energy dalam bahasa indonesia disebut Energi terbaharui dimana secara definisi juga merupakan energi sustainable, yang berarti mereka tersedia dalam waktu jauh ke depan dimana tidak diperlukan pembuatan perencanaan bila mereka habis karena sifatnya yang bisa diperbaharui. Tidak seperti bensin yang diambil dari fosil, biofuel kelapa sawit bisa selalu diperbaharui dengan adanya penanaman kembali Kelapa Sawit. Tapi sebenarnya apa sih energi terbaharui itu? The Pembina Institute, Canada, mengkategorikan solar energy, Wind energy, Biomass energy, Moving water dalam Renewable energy.

Adapun kondisi bahwa energi tersebut terbaharui adalah

  1. Baik untuk masyarakat dan ekonomi
  2. Mampu meminimasikan polusi udara (dibandingkan dengan polusi dari bensin dan diesel) sehingga dapat dikonsiderasikan “bersih” dan “hijau”
  3. Mengurangi kebakaran hutan
  4. Mempunyai pengaruh yang kecil bagi lingkungan sekitarnya, baik bagi tanah, hutan serta menjaga kelangsungan hidup binatang
  5. Tidak akan pernah kehabisan persediaan dimana persediaan harus bisa tergantikan dalam jangka waktu yang terjangkau

Jadi bagaimana dengan kelapa sawit? Jika memasukkan Kelapa sawit dalam energi terbaharui maka ia termasuk dalam ketegori Biomass energy dimana terminologi "biomass" merujuk ke segala macam bentuk tumbuhan ataupun “animal issue” (kotoran binatang).Lalu sudah layakkah kelapa sawit memenuhi persyaratan sebagai Biomass energi terbaharui? Selama ini yang saya ketahui secara pribadi baru point ke 2 (minim polusi udara dibandingkan bensin dan solar) dan point ke 5 karena bisa dilakukan penanaman ulang, sedangkan untuk point yang ke 1 (baik untuk masyarakat & ekonomi) belum mampu dikategorikan dalam keadilan dan perbaikan ekonomi merata bagi masyarakat, point yang ke 3 (kebakaran hutan) abcd ah buu cape deh ngomonginnya, point yang ke 4 apalagi, kebanyakkan orang utan dibunuh saat memasuki kebun kelapa sawit karena “kelaparan” memakan tunas Kelapa sawit. Jadi bisa dikatakan pada saat ini menurut pendapat pribadi saya hanya 2 point positif berbanding tiga point negatif. Bagaimana bisa dikatakan energi terbaharui kalau ternyata tidak energi sustainable (exploiting natural resources WITHOUT destroying the ecological balance of an area) ?

Yang merasa kewalahan dengan masalah ini tidak hanya para eksportir, yaitu salah satunya adalah Indonesia, tetapi juga para negara importir. Menurut laporan wwf 2002, negara importir kelapa sawit terbesar berasal dari India, China dan Pakistan. Sedangkan 17% bagian dari importir kelapa sawit berasal dari EU dimana Belanda, Inggris dan Jerman menjadi pengimpor utama kelapa sawit.

Apalagi para aktivis lingkungan yang “galak” banyak berasal dari utara atau dengan kata lain orang Eropa, sehingga mereka yang berbisnis dan menjadi importir kelapa sawit dari Indonesia khususnya menjadi kebat-kebit “digusur –gusur” oleh kampanye lingkungan hidup. Bisnis mereka bisa tergusur tanpa pembeli dengan adanya kampanye tersebut, image mereka pun akan berubah dari seorang penjual menjadi pembunuh. Salah satu contoh dari perusahaan besar yang ketar-ketir dengan masalah ini adalah perusahaan dimana saya bertempat tinggal, Migros. Migros didirikan pada tahun 1925 , dimana pada saat tersebut harga pangan yang tinggi membuat para kelas pekerja menderita kekurangan nutrisi sehingga Gottlieb Duttweiler mendirikan koperasi Migros yang menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau. Dengan tujuan akan perbaikan dan pemerataan kehidupan maka Migros pun mulai merasakan tekanan dari para aktivis lingkungan dikarenakan Migros adalah importir Kelapa Sawit. Bermula dari tahun 1999, sebuah koran Tages Anzeiger menulis laporan tentang masalah orang Penan di pulau Borneo. Sekalipun penulis (Andreas Bänziger) tersebut hanya membicarakan tentang pembalakkan kayu ilegal dan terancamnya lingkungan hidup dan orang Penan tetapi secara tidak tersirat “dibisikkan” juga akan adanya pemain kedua yang juga mengancam kelangsungan hutan dan lingkungan. Industri kelapa sawit.

Salah satu isi dari artikel tersebut adalah:

“The unsuspecting consumers are in Europe. The very same environmentally conscious citizens who demand an import boycott of tropic woods originating from an unsustainable production enjoy the rainforest for breakfast. They put it on their lips and use it for keeping their hands tender”.

Walaupun tulisan itu berisikan ajakan untuk memboikot perdagangan kayu, tetapi pihak Migros sadar, cepat atau lambat maka tulisan tersebut akan merubah menjadi ajakan untuk memboikot segala produk yang menggunakan kelapa sawit (margarin, cream pelembut, sabun, dll). Migros pun melakukan serangkaian rapat untuk menghadapi serangan yang masih samar tersebut. Mereka mempunyai dua pilihan, melawan serangan dengan membela diri atau melawan serangan dengan ikut aktif dalam membantu sang penyerang mencari “jalan keluar” permasalahan. Akhirnya Migros memutuskan cara yang terakhir, aktif dalam membantu mencari jalan keluar, dan pada musim panas tahun 2002 Migros berhasil menggandeng WWF untuk mempersiapkan the Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO). Kampanye akan Kelapa Sawit yang sustainable (ramah alam dan lingkungan hidup) dilakukan dengan gencar menggunakan gaya aktivis lingkungan. Dalam laporan tahunan Migros 2002, Migros menekankan pentingnya kelapa sawit yang sustainable karena tanpa adanya “inisiatif sustainable palm oil”dari Migros maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

Migros annual report, 2002:

“We brush our teeth and the Orang-Utan dies. We enjoy an ice cream for dessert and the Sumatra-tiger is deprived of his habitat. We rub cream onto our skin and lead elephants and rhinoceros to misery….”

Hebat kan! Demi kelangsungan sebuah kehidupan (bisnis?) maka para perusahaan besar (Migros, Unilever, Fuji Oil, Cadbury Schweppes, Danisco, The Body Shop, Ferrero, Nutriswiss, Rabobank) mengadakan suatu persyaratan akan penanaman kelapa sawit yang ramah dengan sekitarnya. Segala macam persyaratan yang harus begini dan begitu sehingga para penjual akan dengan tenang mempromosikan dagangannya dan pembeli pun tidak merasa bersalah pada pagi hari saat menyikat gigi dengan odol yang menggunakan kelapa sawit. Penjual dan pembeli bisa merasa “tenang” menjual dan menyantap kue tart sebagai penutup hidangan, tetapi bagaimana dengan produsen dan negara produsen yang dalam hal ini khususnya adalah rakyat kecil Indonesia, sudahkah mulut mereka ditutup oleh kue yang (hanya) bisa disantap setelah (mampu) makan empat sehat lima sempurna? Cukup kuatkah sustainability criteria diterapkan di negara penghasil Kelapa Sawit? Kembali para ahli lingkungan dan organisasi pengembangan di Eropa mempertanyakan keuniversalan dari kriteria tersebut. Bisakah diterapkan di negara yang secara politik lemah dalam masalah sosial, manajemen sumber kehutanan yang lemah, dan memegang “jabatan” tinggi sebagai penghancur hutan pada saat ini? Negara yang letaknya berada di Asia, lebih tepat lagi di Indonesia. Para ahli tersebut menginginkan suatu kriteria yang kuat dan mampu dilacak secara tepat akan kebenarannya.

Tampaknya hal ini mulai dari aksi sustainable hingga kriteria-kriteria baru, mulai menarik picu “kesebalan” dari pihak produsen atau lebih tepatnya para negara berkembang. Setelah menjadi negara maju sesudah “menggunduli hutan” sambil bernyanyi-nyanyi (96% di US dan 90% di Europa) kini mereka (negara maju) mulai seenak udelnya mengatur jangan begini, jangan begitu, jangan dan jangan. Disinyalir oleh para negara berkembang bahwa ujung kata “jangan” dari negara maju adalah menjadi “jangan maju”. Jadi seperti yang ditulis oleh JC, kriteria sustainable “terlihat” lebih menjurus ke non-tariff barriers, begitu pula pendapat Luis Inacio Lula da Silva, President Brazil, negaranya si Raja Soy (Blairo Maggi), yang dengan lantang meneriakkan kata Green imperialism kepada NGO dan ahli lingkungan dari pihak barat/west dan menganggap kriteria sustainable sebagai non-tariff barriers, sehingga ia akan membawa masalah tersebut ke WTO (world trade organization).

Jadi bagaimana situasi dari Biofuel saat ini?

  1. Para ahli mengatakan bahwa kompetisi sumber energi tergantung dari spesifikasi wilayah suatu negara. Yang isinya terlalu ilmiah sehingga orang awam menjadi tidak tanggap dengan ucapan yang panjang lebar tanpa kesimpulan
  2. para kelompok aktivis lingkungan tetap meneriakkan anti biodiesel
  3. WWF hanya bisa mengatakan bahwa memang tidak semuanya biodiesel ramah lingkungan
  4. Swiss kembali mencoba mengembangkan lagi kriteria sustainable di meja bundar
  5. dan Brazil teriak-teriak tidak terima dengan kriteria sustainable karena menghambat perdagangan

Lalu apa kata Indonesia terhadap masalah ini? Jangan kuatir Zev, Kokiers, Kokoers dan para pembaca, Indonesia tidak tinggal diam. Terus terang saya kagum dengan pendapat dari pihak Indonesia dan rasanya Indonesia akan mampu melangkah jika pelaksanaannya konsisten dengan teori dan ide. Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Bapak Rahmat Witoelar berkata dengan gamblang dalam wawancaranya dengan REUTERS (30 Jan 2007) dan menggambarkan logika yang jitu.

“if rich countries want developing nations to preserve their forests, they should not talk about it, they should pay for it.

This crude but effective discursive position means that it is up to the North to decide whether rainforests in the tropics are worth protecting. This strategy - called 'compensated reduction' - is based on economic realism, not on environmentalist idealism.

Witoelar:

"Preserving our forests means we can't exploit them for our economic benefits. We can't build roads or mines [or grow oil palms]. But we make an important contribution to the world by providing oxygen. Therefore countries like Indonesia and Brazil should be compensated by developed countries for preserving their resources."

Sources: “Indonesia's biofuels strategy, a balancing act”, Biopact, 2007

Yeah, seperti dalam salah satu judul pada website Biopact, tertera dengan jelas:

"Pay us and we will not burn down our forests": a look at 'Compensated Reduction' (http://biopact.com/2006/09/pay-us-and-we-will-not-burn-down-our.html)

Waw! Hayoo Bayar! Tetapi, ada tapinya ya, selama pembayaran dianggap sebagai suatu dana kompensasi dan bukan merupakan “dana bantuan” yang nota bene hutang (lagi) secara terhormat, maka dana tersebut akan sangat berguna dalam “pengembalian ekonomi kehidupan”.

Lalu bagaimana pendapat saya dalam liquid gold minyak kelapa sawit? Saya kutip salah satu info dari majalah Der Spiegel September 28, 2006,

“in order to supply just 1 percent of the EU's fuel needs, a 3 million hectar plantation would be required, according to a new study by the World Wide Fund for Nature (WWF).”

Jadi pendapat dan juga mimpi saya hanya sederhana saja, minyak kelapa sawit di produksi di Indonesia dimana rakyatnya masih setengah hidup mengikuti harga minyak goreng, listrik yang tidak jelas nasibnya dan biaya kehidupan yang menaik tak kunjung turun. Kalau dengan kelapa sawit bisa menurunkan biaya hidup negara yang sudah maju, kenapa kita harus mengorbankan hutan demi mereka? Akan jauh lebih bermanfaat memproduksi kelapa sawit dan kegunaannya dengan SKALA HANYA untuk RAKYAT INDONESIA.

Pengelolaan kebun kelapa sawit secara adil bagi rakyat (kecil) setempat, turunkan tarif minyak goreng, tingkatkan daya listrik dan turunkan tarif listrik dengan menggunakan biofuel, minimkan udara Indonesia dengan kendaraan biodiesel dan masih banyak kegunaan kelapa sawit lainnya tanpa harus menghancurkan lingkungan hidup demi negara lain, namun bukan berarti menghalalkan kehancuran hutan demi mengenyangkan perut sendiri tentunya.

Eh setelah saya mau menyelesaikan tulisan ini tiba-tiba suami saya menyeletuk,

“Indonesia belum siap infra struktur, wariskan saja mimpi kamu ke anak cucu”.

Eh enak saja, saya berdoa semoga saya masih hidup saat mimpi saya menjadi nyata!

Bagaimana Bapak Presiden Indonesia yang terhormat? Anda baca Koki juga? Semoga...

Arita-CH