Menikahi 3 Bocah

Menikahi 3 Bocah
03.10.2008.

Menikahi 3 Bocah, Mengikuti Sunnah Rasullulah?
Pilih, ambil, coret lainnya. Saya (sudah) mengikuti Sunnah Rasullulah
 
Dear Zev, Kokiers, kokoers dan komentators,
Sebelum kutuliskan kata-kataku, ada baiknya kembali saya memberikan sedikit info tentang latar belakang profesi saya yang adalah seorang antropolog. Sebagai seorang antropolog, saya diharuskan untuk memisahkan dengan jelas, mana informasi dan fakta, mana yang merupakan pendapat saya. Oleh karena itu, saya sudah dibiasakan dan diwajibkan terbiasa untuk melihat dan menerima perbedaan. Maka, sekalipun saya berkolaborasi untuk menulis suatu tema yang berbeda dengan agama saya, namun bagi diri ini, bukanlah suatu hal yang bertentangan. Tulisan bagian saya yang berjudul Pilih, ambil, coret lainnya. Saya (sudah) mengikuti Sunnah Rasullulah, saya buka dengan sekilas sejarah tentang Nabi Muhammad S.A.W.
Muhammad ibnu Abdillah dilahirkan di Mekah pada tahun 569 (Hamidullah,1969:10). Pada tahun 594, saat beliau berumur 25 tahun, beliau menikah dengan seorang JANDA yang berusia di atas beliau, bernama Khadijah bint al-Khuwaylid, berumur sekitar 40 tahun.
Khadijah adalah seorang wanita kelas atas diantara para Quraish. Kehidupannya yang bersih dari cacat dan noda membuat beliau terkenal dengan panggilan Al-Tâhirah, "The pure lady". Pernikahannya dengan Nabi Muhammad S.A.W memberikan kontradiksi akan pendapat tentang gambaran wanita Arab yang pasiv, modest dan tertutup. Sebagai informasi tambahan, pada saat jaman Khadijah hidup, sistim sosial masyarakat Arab bersifat matrilineal (garis keturunan ibu). Dalam tradisi ini, perempuan bisa menjadi “pemimpin” untuk memungkinkan wanita meminang seorang lelaki untuk menikah dengannya. Pernikahan dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W pada masa muda dan beliau setia mendampingi SATU-SATUNYA istri beliau, hingga ajal menjelang Khadijah, datang memisahkan mereka berdua. Pernikahan MONOGAMI yang berusia sekitar duapuluh limatahun terputus oleh kematian. Pada saat itu Nabi Muhammad S.A.W. berusia lima puluh tahunan.
Setelah kematian Khadijah, Nabi Muhammad S.A.W.menduda selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Kematian Khadijah sangat memukul kehidupan Nabi Muhammad S.A.W. Tahun-tahun yang penuh dengan duka bagi Nabi Muhammad S.A.W., seorang suami yang ditinggalkan istrinya, tahun-tahun ini dikenal sebagai tahun berkabung ‘am al-huzn.
Pernikahan kedua Nabi Muhammad S.A.W adalah dengan seorang JANDA bernama Sawdah Bint Zam'ah Ibn Qays dari suku Quraysh, Makkah. Sawdah termasuk dalam rombongan muslim yang berimigrasi ke Abyssinia dengan suaminya, Sakran bin' Amr. Setelah kematian Sakran bin' Amr suaminya, Sawdah mengalami masa-masa sulit dan berat untuk beradaptasi dengan keadaan yang berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya, ditambahkan lagi dengan kepergian suaminya untuk selama-lamanya.
Nabi Muhammad S.A.W pun mengalami hal yang sulit setelah kematian Khadijah, apalagi dengan adanya dua anak perempuan yang masih membutuhkan perhatian yang besar, Umm Kulthûm dan Fâtimah. Seorang perempuan bernama Khawlah bint al-Hakeem, yang juga merupakan sahabat terdekat Nabi Muhammad S.A.W, turut bersedih hati melihat keadaan beliau dan menyarankan beliau untuk menikah lagi. Reaksi pertama dari Nabi Muhammad S.A.W saat mendengarkan saran dari Khawlah adalah menangis dan berkata
“Menurutmu, apakah ada yang bisa menggantikan Khadijah?”.
Namun Khawlah melanjutkan dengan mengingatkan pada situasi keadaan yang membutuhkan kehadiran seorang istri untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan seorang ibu untuk mengurus anak-anak. Khawlah memberikan dua pilihan kepada beliau, seorang perawan muda bernama Aisya dan seorang janda berusia setengah baya bernama Sawdah. Nabi Muhammad S.A.W berkata, “Pergilah ke rumah keluarga Sawdah, dan katakanlah, aku hendak meminangnya menjadi istriku.”
Kurang lebih setahun setelah pernikahannya dengan Sawdah, Nabi Muhammad S.A.W dijodohkan secara resmi dengan Aisya bint Abu Bakr. Abu Bakr, ayah dari Aisya, adalah seorang yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad S.A.W, bahkan hubungan mereka dipererat dengan mengangkat Nabi Muhammad S.A.W sebagai saudara. Abu Bakr adalah seorang yang sangat menyayangi Nabi Muhammad S.A.W, bahkan ia sangat menginginkan memperkuat hubungan kekeluargaan mereka dengan pernikahan, keinginan tersebut dikokohkan dengan menjodohkan dan menikahkan anak perempuannya dengan Nabi Muhammad S.A.W.
Saya sengaja menulis kata dijodohkan disini, karena maksud dari konotasi dijodohkan adalah pengikatan hubungan pernikahan secara resmi tanpa melakukan hubungan seksual. Aisya dijodohkan pada usia dini, dan baru memasuki hubungan perkawinan suami istri saat ia memasuki masa pubertas (bulugh), dimana secara fisik, badaniah sudah siap melakukan proses reproduksi.
Setelah pernikahannya yang ketiga dengan Aisya, Nabi Muhammad S.A.W menikah kembali dengan 9 orang janda dan satu orang budak perawan (Maryah Qibtiyah).
William Montgomery Watt menulis bahwa, struktur keluarga Arab pada awalnya berdasarkan matrilineal, lalu kemudian berubah menjadi patrilinial (garis keturunan ayah). Sejak terjadinya perang Uhud pada tanggal 23 Maret tahun 625 (3 Shawwal 3 AH), banyak perempuan yang kehilangan suami dan anak-anak yang kehilangan ayah mereka. Dalam kejadian ini, maka struktur poligami dilakukan untuk melepaskan dan mengangkat penderitaan para janda dan para anak yatim (the “ayah” of polygamy, Surat al-Nisa’ 4: 34). Namun, kebanyakkan dari para lelaki muslim, menginterpretasikan kebijaksanaan “ayah” untuk memperkuat “kepentingan” mereka dalam berpoligami (cat: mempunyai banyak istri) dengan menggunakan nilai-nilai karakteristik patriotik. Pergeseran dari struktur keluarga yang bersifat matrilineal ke patrilineal semakin besar bersamaan dengan meningkatnya nilai karakteristik patriotik dalam masyarakat islam (Watt, 1956).
Pada tahun 632, diusianya yang ke 63 tahun, Nabi Muhammad S.A.W menghembuskan napas terakhir.
Kembali kepada judul "Pilih, ambil, coret lainnya. Saya (sudah) mengikuti Sunnah Rasullulah", saya kembali kepada kisah “besar” Ki Puji dan ulahnya.
Apa yang benar dan apa yang salah, ditetapkan dalam norma-norma/hukum yang ada. Seseorang yang dianggap imoral adalah jika mereka melanggar norma-norma sosial yang berlaku pada masyarakat. Relativitas moral akibatnya mampu membuat manusia (bisa) mengekspose standar dari hipokrit menjadi yang benar. Norma-norma yang berlaku pada jaman Nabi Muhammad S.A.W adalah norma budaya Semitic (Yahudi, Arab, Syria, dll), yang menyatakan bahwa seorang wanita yang sudah memasuki masa pubertas adalah wanita yang sudah siap memasuki masa reproduksi.
Dalam pernikahan Aisya dengan Nabi Muhammad S.A.W, dimana Aisya berusia muda, memacu perdebatan sengit akibat adanya penafsiran negatif dalam perkawinan mereka. Saya berpendapat bahwa penafsiran tersebut negatif adanya, dikarenakan pada Semitic Culture, perkawinan dengan wanita ataupun perempuan yang sudah memasuki masa pubertas adalah hal yang dianggap normal dalam arti, secara fisik badan mereka sudah siap melakukan proses reproduksi. Adapun masa pubertas pada tiap-tiap negara sangatlah berbeda. Umumnya, mereka yang tinggal di negara bermusim dingin, lebih lambat mengalami pubertas dibandingkan mereka yang tinggal di negara bermusim panas saja (Ploss, Bartels, Bartels, 1988:563).
Ada beberapa teori timeline yang diberikan oleh para sejarawan tentang usia Aisya. Sebuah buku yang berjudul "Hazrat Aisha: A study of her age at the time of her marriage", ditulis oleh Ruqaiyyah Waris Maqsood, dengan berdasarkan penelitian dari Maulana Muhummed Farooq Khan. Buku ini diterbitkan oleh IPCI (UK) pada tahun 1996. Buku ini mengupas akan keakuratan informasi yang diberikan oleh sejarawan Hisham ibh Urwah. Pada intinya, isi dari buku ini kurang lebih telah terwakilkan dengan penjelasan Reef diatas.
Kembali kepada era tahun 600 an, kedewasaan mental seorang perempuan pada era ini berlangsung lebih cepat dibandingkan pada masa sekarang. Pada umumnya, mental perempuan (sudah) dipersiapkan sejak dini oleh keluarga (sebagai lingkungan yang paling dekat) dengan pengetahuan akan konsep suatu pernikahan. Keadaan pada jaman tahun 600 an, jauh berbeda dengan situasi sekarang, dimana saat sekarang, perkembangan kedewasaan mental berevolusi dengan metode yang berbeda, dibandingkan jaman dulu, ditambah dengan lingkungan keluarga serta sekitarnya yang tidak selalu mempersiapkan mental anak sejak dini tentang suatu konsep pernikahan.
Tulisan saya diatas bukanlah hendak meresmikan perbuatan Ki Puji sebagai perbuatan yang sesuai dengan norma-norma. Namun menekankan, perbedaan pada, standar dari norma-norma, budaya konsep pernikahan, penerapan pola pernikahan, pola masyarakat sosial, serta kondisi hidup masyarakat yang jauh berbeda dibandingkan saat era tahun 600-an. Ada sederet alasan akan pernikahan usia muda dalam Semitic culture, namun satu hal yang patut dicatat mengenai perbedaan penerapan konsep pernikahan, KEDUA BELAH PIHAK berada dalam lingkungan lingkaran keluarga besar yang sudah disiapkan terlebih dahulu oleh lingkungannya, pernikahan dilakukan dalam lingkup yang terbatas (the larger family circle), serta KEDUA BELAH PIHAK masing-masing memahami serta menerapkan pola budaya ini secara turun temurun.


Berbeda dengan pernikahan usia dini yang dilakukan oleh Ki Puji, yang (mencoba) memakai nilai karakter patriotik, dengan alasan membantu, masalah perekonomian dll, namun menerapkan pola PILIH-PILIH SIAPA (anak kecil) yang harus dibantu. Dalam kasus ini, cerita menjadi berbeda, dengan pola dasar konsep pernikahan yang berbeda, lingkup ruang yang berbeda dan penerapan budaya yang berbeda. Menurut pendapat saya, adanya penerapan budaya yang berat sebelah, mendasarkan (menggunakan alasan) nilai karakteristik patriotik yang tidak jelas, kasus ini (ki Puji dan para “ki Puji lainnya”) cenderung lebih mengutamakan alasan untuk kepentingan pribadi, yang lebih jauh lagi menjurus kepada sexual misconduct.
Kenapa saya memberi judul Pilih, ambil, coret lainnya. Saya (sudah) mengikuti sunah Rasullulah ?
Kembali kita lihat poin-poin penting sejarah Nabi Muhammad S.A.W dalam kehidupan pernikahannya.
1. Menikahi seorang Janda yang berusia diatas usianya sendiri.
2. Hidup secara monogami hingga kematian istri.
3. Memilih untuk menikahi janda berusia setengah baya, dari dua pilihan yang diberikan, seorang perawan muda (Aisya) dan seorang janda berusia setengah baya (Sawdah Bint Zam'ah Ibn Qays).
4. Menikahi 11 janda dan dua orang perawan (Aisya bint Abu Bakr dan Maryah Qibtiyah).
5. Dari ke 11 janda, kebanyakkan sudah berusia lanjut, kehilangan suami, korban perang, kehilangan tempat tinggal dan saudara.
Sekarang bagaimana dengan penafsiran kata “Saya punya dasar agama juga. Enggak ngawur. Saya mengikuti sunnah rasullullah”?
Marilah kita bersama-sama mencoba melihat kebanyakkan dari “mereka” yang mendeklarasikan diri bahwa “ia mengikuti sunnah rasullullah” dan membandingkan bagaimana sejarah berkata (dan menulis) akan sebenarnya Nabi Muhammad S.A.W bersikap dan bertindak.
Dari lima point diatas, berdasarkan kenyataan yang terlihat pada dunia kehidupan sehari-hari ataupun berita dari media cetak dan televisi, terpampang hanya segelintir kaum lelaki muslimin yang BENAR-BENAR menjalankan sunnah (tindakan) rasullullah yang sesungguhnya dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W dalam kehidupannya. Sedangkan sisanya, yang kebanyakkan berjumlah mayoritas, lebih sering bertindak dan bersikap: Pilih, ambil, coret lainnya. Saya (sudah) mengikuti sunah Rasullulah.
Sekarang saya kembalikan pertayaan-pertanyaan kepada para pembaca, dengan mendasarkan pada riwayat sejarah Nabi Muhammad S.A.W:
1. Apakah anda (laki-laki berusia duapuluh tahunan) bersedia menikahi seorang janda yang berusia diatas usianya sendiri (empatpuluh tahunan)?
2. Apakah anda (laki-laki) bersedia hidup secara monogami hingga kematian istri?
3. Apakah anda (laki-laki) mampu MEMILIH untuk menikahi Janda berusia SETENGAH BAYA diantara dua pilihan, yaitu seorang perawan muda dan seorang janda berusia setengah baya?
4. Apakah anda (laki-laki) mampu menikahi (hanya) dua orang perawan dan (selebihnya adalah )11 janda?
5. Apakah anda (laki-laki) bersedia menikahi 11 orang janda yang mana sebagian besar adalah janda yang sudah berusia lanjut, kehilangan suami, korban perang, kehilangan tempat tinggal dan saudara?
Saya memang bukan seorang muslimah, dan saya hanya tahu segelintir akan sejarah besar dari Nabi Muhammad S.A.W, namun pergerakan dan pergeseran nilai moral dari sunnah (tindakan) rasullullah terlalu besar dan mencolok mata, untuk diabaikan begitu saja. Dasar suatu moralitas, menjadi bagaikan sekeping uang logam bermata dua, yang diciptakan demi kepentingan sepihak dengan memanipulasi moralitas suatu norma-norma. Suatu struktur keluarga patrilineal, yang seharusnya dilakukan untuk mengangkat nilai lebih dari karakteristik patriotik, malah menjadi struktur keluarga “pahlawan kesiangan”. Suatu norma yang seharusnya berbasiskan suatu tindakan luhur, dipilih yang “enaknya” saja lalu dipraktekkan dengan saenak jidatnya, kemudian menjadi sikap yang “diagung-agungkan” oleh sebagian pihak.
Suatu sikap yang bersifat lebih dalam konsep choose & pick, “saya pilih (yang enak), saya ambil, saya coret sisanya (yang tidak enak). Saya berada dalam kebenaran (absolut).” Lalu, pantaskah kita menonton dan membiarkan mereka mencontoh semau hati sendiri, membiarkan nilai kebajikan bergeser semakin jauh lagi dengan alasan bertindak secara patriotik?
Mampukah hukum di Indonesia bertindak sesuai dengan norma-norma hukum yang sudah tercantum dalam undang-undang perkawinan di negara Republik Indonesia, yang (sebenarnya) tidak menentang ataupun bertentangan dengan Sunnah Rasullulah yang sesungguhnya telah tersurat?
Pantaskah Ki Puji mengatakan “sudah mengikuti sunah Rasullulah”, jika alasan sang Nabi sendiri menikahi Aisya BUKAN karena usianya yang muda, BUKAN karena “suka sama yang kecil”?
“I will not follow your vain desires: if I did I would stray from the path and be not of the company of those who receive guidance" Qur'an - Surah al-An'aam - 6:56
We hear and we obey, surrender to The Creator...
Salam sejahtera,
Reef & Arita.
Referensi buku:
  • “Kiai Nikahi ABG, Secara Medis Membahayakan”,
    http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/24/04361491/
  • Abû Imân cAbd ar-Rahmân Robert Squires, “The Young Marriage of Aishah. Mother of the Believers”, Florida.
  • Al-Isabah Fi Tamyizi'l-sahabah, Ibn Hajar Al-Asqalani, vol.4, Maktabatu'l Riyadh Al-haditha, Al Riyad, 1978, p.377 http://saifulelsaba.wordpress.com/2008/yah-saat-dinikahi-rasul-SAW/
  • http://www.prophetmuhammadforall.org
  • http://www.usc.edu/dept/MSA/history/.AISHAH_BINT_ABI_BAKR.html
  • Mahd? Rizq All?h A?mad, Syed Iqbal Zaheer “A Biography of the Prophet of Islam: In the Light of the Original Sources, an Analytical Study”, Darussalam, 2005, P. 253.
  • Muhammad Hamidullah, “Introduction to Islam”, Centre Culturel Islamique, Paris, 1969, p.12
  • Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Arabic, dar Ihya Al-Turath Al-Arabi, vol.6, Beirut, p.210.
  • Ploss Herman H., Bartels Max and Bartels Paul, “Woman”, Volume I, Lord & Bransby, 1988, p.563.
  • Ruqaiyyah Waris Maqsood, “Hazrat Aisha: A study of her age at the time of her marriage”, IPCI (UK),London, 1996.
  • Ruqaiyyah Waris Maqsood, “Thinking about Marriage”, The Muslim Women’s Institute, in association with The Muslim Parliament of Great Britain, London, 2005, P.12
  • Tarikhu'l-umam wa'l-mamluk, Al Tabari, vol. 4., Arabic, dara'lfikr, Beirut, 1979, p.50
  • The Beloved Companions: Mothers of the Believers: Sawdah Bint Zam'ah Ibn Qays Amr Khaled.
  • Watt, W. Montgomery, “Muhammad at Medina”, Oxford University Press, London, 1956.
  • Watt, W. Montgomery, “Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali”, Edinburgh: University, 1963.
  • Zain, Syed Abu Zafar, “The Prophet of Islam, the Ideal Husband”, Kazi Publications, Lahore , 1983, pp. 10-12.


The Devils of Les Diablerets (Part 1)

27.10.2008.

Menurut legenda Swiss, pada jaman antah berantah, tinggallah sekumpulan setan-setan di pegunungan Alpen. Konon setan-setan ini gemar bermain skittle (cikal bakal permainan bowling). Pada suatu hari, saat para setan-setan sedang asyik bermain skittle, salah satu setan yang mengalami kekalahan merasa tidak puas dan marah besar. Dengan garang, dilemparnya batu besar ke salah satu puncak gunung yang menjulang runcing. Puncak gunung tersebut pecah dan batu-batu besar berhamburan menggelinding ke bawah, meluluhlantakkan daerah sekitarnya, hingga akhirnya membentuk suatu lembah. Lembah yang kini menjadi daerah perkampungan yang dikenal dengan nama Les Diablerets.

Sekalipun legenda mengatakan bahwa tempat ini merupakan tempat favorit para setan-setan untuk bermain skittle, namun kampung Les Diablerets yang terletak pada ketinggian 1155 m, sejak tahun 1277 hingga sekarang, terkenal sebagai tempat favorit untuk olahraga Ski.

Les Diablerets terletak di Swiss, tepatnya pada kawasan timur dari Kanton Vaud, daerah bagian berbahasa Perancis. “Dikepung” oleh puncak-puncak gunung es menjulang, dan kesuburan tanah menghijau loh jinawi (subur dan makmur), membuat kampung les Diablerets berkilau setiap musim, baik musim panas maupun musim dingin.


Saat musim dingin yang menggigil, les Diableret mengundang minat para turis pecinta olahraga Ski, Snowboard, serta juga para turis yang hanya ingin bermalas-malasan menikmati sengatan panas matahari ditengah-tengah timbunan salju. Sedangkan, saat musim panas yang menyengat, les Diablerets merupakan pilihan yang nikmat untuk berjalan kaki, mendaki gunung, ataupun bersepeda ke puncak gunung, tanpa ragu dan minder dengan masamnya bau keringat.

Sesuai dengan judulnya, cerita tentang perkampungan les Diablerets saya bagi menjadi dua bagian. Cerita les Diablerets di musim panas dan cerita di musim dingin. Cerita pada musim panas, saya mulai saat kami berlibur tahun ini di kampung les Diablerets.

Dengan titik awal Zürich, kita bisa menggunakan akses mobil (250 km), kereta, maupun sepeda untuk mencapai perkampungan les Diablerets. Lho kok sepeda ? Janganlah heran maupun bingung, karena bukan sulap bukan sihir, kalau saat musim panas banyak orang-orang bersepeda berseliweran mengelilingi negara Swiss yang sak uprit besarnya. Namun sayangnya, hanya orang lain yang rela bersepeda ke les Diablerets, sedangkan saya sendiri masih memilih roda empat untuk mencapai perkampungan tersebut.

Saat tiba di perkampungan tersebut, hawa segar (menggigil) pegunungan menerpa hidung dengan kesegaran tiada tara. Teriknya matahari, hanya mampu memanaskan ujung hidung yang pendek. Segera saya memasuki rumah sahabat kami, hawa hangat perapian menenangkan kulit yang meronta meminta mantel. Hidung saya langsung mencium aroma khas cheese fondue (keju yang dilelehkan bersama dengan sedikit air, bawang putih dan sedikit juice apel atau anggur putih), rasa lapar langsung menyergap, dan tanpa rasa sungkan, saya duduk manis di depan meja makan, sekalipun tuan rumah belum mempersilahkan.

Rumah yang kami tempati selama berlibur adalah rumah sahabat kami yang dibangun sejak tahun 1815. Di perkampungan ini, masih banyak ditemukan bangunan tua yang kokoh terawat dan ditempati. Seperti yang juga pernah ditulis oleh bapak Janto Marzuki (artikel “Falu Röd, Merah Burek”), meskipun berada di kampung, namun bangunan tua ini mempunyai peralatan yang lengkap dan modern. Bahkan rumah yang sekalipun dibangun pada tahun 1682, berisikan lengkap peralatan teknologi abad ke 21.

Usai makan siang yang lumayan berat, kami beranjak keluar, menghabiskan sisa waktu menunggu saat makan malam. Hawa yang dingin menyegarkan dan suasana liburan yang asri, membuat saya (hanya) sibuk membayangkan menu makanan. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi perkampungan, sambil membiarkan perut mencerna dengan cepat dan tuntas.

Perkampungan les Diablerets di musim panas, dipenuhi oleh para turis, baik turis lokal maupun turis asing, membuat kampung ini semarak dengan berbagai macam atraksi lokal, serta (juga) tak luput dari amatan saya, kuliner lokal! Mata saya “menyerbu” gambar indah berbagai macam jenis kue dan coklat, membuat saya tidak mampu berkutik menyambut tantangan hati nurani untuk mencoba hidangan penutup, yang kaya akan krem dan mentega, terbuat dari susu sapi murni made in Swiss.


Negara Swiss dikenal sebagai penghasil coklat. Sekalipun pohon kakao berasal dari Amerika Selatan, namun yang membuat coklat Swiss terkenal dengan mantap rasa adalah kualitas susu sapinya.

Binatang sapi di Swiss adalah binatang yang istimewa. Saat kita menaiki kereta di dalam bandara Zürich, maka suara lenguhan sapi digital menyambut dengan sigap bersama dentang bel. Pada toko-toko yang menjual souvenir, sering kita dapati gambar sapi berpolka dot hitam menyeringai, melenguhkan tulisan selamat datang di Swiss. Jauh dari bandara Zürich, di pegunungan Alpen yang menjulang tinggi, di Les Diablerets, kembali saya mendapati gambar sapi. Namun kali ini, sang sapi tidak berpolka dot hitam, menyeringai melenguhkan ucapan selamat datang. Gambar sapi yang lihat di tempat ini adalah suatu rambu lalu litas berbentuk segitiga merah dengan gambar seekor sapi ditengah-tengah. Memperingati kita dengan lantang, “Awas! Ada sapi!”.

Tak jauh dari rambu tersebut, saya melihat segerombolan sapi-sapi sedang asyik mengunyah rumput dengan santai. Dibelakang gerombolan sapi tersebut, seorang gembala sapi berteriak-teriak memanggil sapi-sapi yang terpisah dari kelompoknya, “Yodel-Ay-Ee-Oooo!! Ngapain sih makan jauh-jauh, sini ngumpul!”.


Sapi-sapi ini ternyata mempunyai nama dan mengenal namanya masing-masing. Si gembala sapi menerangkan kepada kami bahwa, sapi-sapi tersebut harus dirawat dalam kondisi tenang, tidak boleh mengalami stress, dan makan dengan cukup serta teratur. Pada saat musim panas, si gembala sapi akan menggiring sapi-sapi ke atas gunung, untuk menyantap rumput-rumput pegunungan yang lebat, lalu kemudian saat musim dingin, sapi-sapi tersebut akan digiring turun ke lembah untuk menyantap rumput-rumput yang tersisa serta gulungan-gulungan rumput yang telah disiapkan sejak musim panas. Ia menambahkan, dengan menjaga ritme pola hidup sapi yang alon-alon kenyang, maka sapi-sapi ini akan dapat menghasilkan susu dan daging yang bekualitas optimal.

“Hmmm, apa menu makan malam nanti?” tanya saya,

“Fondue chinoise” jawab Earnest, sahabat kami, sambil tersenyum maklum akan “kerakusan” saya.

Sekalipun hidangan fondue chinoise awalnya berasal dari Cina Utara, namun, hidangan yang juga dikenal dengan nama beef hot pot, adalah menu yang sering dihidangkan di Swiss, dan tentu saja menggunakan sapi Swiss, moooo...

Kokiers, dan kokoers yang budiman, ijinkan saya permisi menyantap hidangan. Mohon maaf atas “kerakusan” saya sebagai seorang karnivora, dan sampai jumpa di musim dingin ala les Diablerets.

Salam hangat dari seorang kokier yang nyaris bulukan....

Arita-CH

FOTO: JAM & www.diablerets.ch

(bersambung)


Selamat Jalan Nyak...

Selamat Jalan Nyak...
18.09.2008.

Dear Zev, kokiers, kokoers, talkative dan silence readers,

Konon, pada jaman saya masih belum mampu jalan, saya mengalami periode buang-buang air (dari jenis pitik sampai jenis raksasa) yang panjang dan berketerusan tanpa henti. Ibu yang begitu setia menggantikan popok kain, mulai khawatir dengan keadaan saya yang tidak mempunyai jeda berhenti yang cukup panjang, untuk membiarkan ibu bernapas sejenak dengan tenang. Nenek yang selalu mendampingi ibu yang kelelahan dan cucu yang selalu membasahi popok, tidak mampu berkata lebih jauh, selain melontarkan guyonan bercampur nada serius:

“walah, ini bocah, punya usus kok lempeng!”

Kakek pun turun tangan, pontang-panting menggenjot sepeda sepulang dari mengajar, bersama dengan S, kakak perempuan Ibu yang juga guru sekolah, bergantian mengurus saya yang masih tetap rajin buang-buang namun tidak pelit memberi senyuman terima kasih, atas segala usaha dan kerjasama yang kompak seluruh keluarga dalam mengurus bocah berusus lempeng.

Saya dilahirkan di Jakarta, di lingkungan yang cukup kental dengan nuansa betawi yang akrab (“resiko” bertetangga dengan Jaja Miharja oii!). Setiap ibu pergi ke pasar sambil menggendong saya dengan kain batik merah buatan Cirebon, para tetangga langsung “menyerbu” dengan pertanyaan,

“Pegimane neng, bayinye? Udeh brenti blom, buang-buangnye?”

Ibu hanya menggeleng lemah, lalu melanjutkan langkah tergesa-gesa menuju pasar, sebelum saya kembali “menyerang” dengan bom atomik. Para tetangga memandang Ibu yang menjauh dengan cepat, sambil berdesah,

“ye...entar siang aye pinjemin popoknya si entong deh, kasian ntu ibu, dirongrong terus ame bayinye...”

Berbagai macam cara di uji coba, dari mantri hingga dokter, dari obat kampung hingga obat rumah sakit, tetap saja tidak kunjung reda kucuran “hujan” membasahi popok. Namun anehnya, sekalipun saya melakukan serangan pembuangan cairan bertubi-tubi, berat badan saya tidak berkurang se-ons pun. Seolah-olah, ASI yang saya konsumsi sempat singgah dan menambah berat badan sebelum akhirnya keluar lagi, mengorbankan berlusin-lusin popok.

Saya tetap tumbuh memanjang dan melebar, menjadi bayi yang gembul. Semakin bertambah rakusnya nafsu minum dan makan, semakin bertambah pula penderitaan Ibu dan Bapak. Toko langganan Ibu di Pasar Senen, semakin gencar melontarkan promosi produk popok bayi dengan warna dan motif yang beraneka, sadar akan kebutuhan konsumen yang melebihi standar frekuensi pemakaian, dan cuaca yang sarat dengan hujan. Setiap melihat matahari yang enggan menyengat jemuran, Bapak akan menggerutu sambil menggaruk-garuk kepalanya,

“aduh! Kapan keringnya ini popok? Masa harus beli lagi?”

Para tetangga yang prihatin dengan keadaan kami, sibuk mengajukan proposal daftar nama-nama orang pintar, dari si A hingga si Z (bukan Zev lho!). Bapak tetap mantap, menggeleng dengan hormat untuk menolak, Ibu dan Nenek mulai bimbang, mencoba menimbang-nimbang dan memilah-milah, mana yang masih masuk kategori halal. Hingga akhirnya semua sepakat, untuk tidak pergi ke orang pintar manapun, memilih untuk lebih baik pasrah dengan Dia Yang Paling Pintar, Yang Maha Esa.

Pada suatu hari, kakek saya melakukan rapat meja persegi panjang (berhubung tidak punya meja bundar), lalu berkata dengan suara khas seorang guru kepada murid-muridnya

“Mungkin ada baiknya kita mencoba melakukan sesuatu seperti kata orang-orang tua jaman dulu. Kita cari ibu angkat untuk anak ini, mungkin anak ini terlalu berat untuk ditopang oleh seorang ibu. Kita tidak perlu melakukan ritual ataupun upacara apapun, cukup dengan membuat bubur merah bubur putih untuk mengesahkan ibu angkat. Bagaimana? Kalian setuju?”

Bapak terdiam dan mengangguk setuju, nenek serta anggota lainnya turut mengangguk-anggukkan kepala, toch tidak ada salahnya mencoba, hanya Ibu yang sedikit kalut, tidak rela “menyerahkan” anaknya kepada wanita lain, sekalipun hanya dalam bentuk simbolis. Nenek segera mengetahui perasaan ibu, setelah mencari kata-kata yang tepat, sambil tersenyum lembut Nenek menatap Ibu dan angkat suara,

“Bagaimana kalau S yang menjadi ibu angkat? Dia adalah kakak perempuanmu, seorang ibu dan seorang guru sekolah dasar. Pasti S akan dengan senang hati menjadi ibu angkat dari anakmu. Kamu tidak akan pernah kehilangan anakmu, dia tetap utuh berada dalam lingkaran keluarga kita. Setuju ya?”

Ibu menatap S, sambil menangis Ibu meminta kesediaan S untuk turut menanggung berat penderitaan, menjadi ibu dari anak yang berat, secara bersama-bersama. S tersenyum riang, dan menganggukkan kepalanya dengan ringan.

“Tidak ada masalah. Mari kita tanggung bersama si bocah berusus lempeng!”

Sejak hari saya mengunyah bubur merah dan bubur putih, maka saya resmi mempunyai dua orang ibu. S menjadi ibu angkat saya dengan panggilan “Enyak”.

Sekalipun kami bukan berasal dari suku Betawi, tetapi sebutan Enyak terasa lebih pas dan akrab di telinga kami semua, baik bagi keluarga maupun bagi para tetangga. Sejak hari itu pula, dengan keajaiban aneh tapi nyata, masalah buang-buang mulai menurun secara progresif, hingga akhirnya berhenti sama sekali

Sayapun mulai berkembang dengan pesat, belajar merangkak dan berjalan, hingga berlari-lari mengejar layangan dengan sesama anak-anak lainnya. Saat saya melarikan diri dari jam tidur siang, sering tetangga sebelah “menangkap” basah dan mengejar saya sambil berteriak

“Ini bocah, ngajarin si entong kabur melulu, sini loe, entar aye laporin ame enyak loe baru tahu ye.”

Dengan bergetar penuh rasa gentar, saya berbalik pulang ke rumah lewat pintu belakang, masuk ke dalam kamar sambil berpura-pura tidur. Saya memang gentar dengan Enyak, hukuman dari Enyak jauh lebih menakutkan dari hukuman Ibu. Sebagai seorang guru sekolah, Enyak paling tahu kalau saya paling “sebal” menghapal tabel perkalian. Bagi saya, lebih baik dihukum dengan cubitan Ibu di paha, daripada dihukum Enyak untuk berteriak melafalkan tabel perkalian, hiii...

Enyak mempunyai empat orang anak, dua lelaki dan dua perempuan, jumlah yang lebih banyak daripada keluarga saya yang hanya dua bersaudara, satu lelaki dan satu perempuan. Oleh karena itu, saya paling senang menghabiskan hari minggu di rumah Enyak, membuat keonaran bersama dengan empat orang anak Enyak.

Enyak juga adalah seorang juru masak yang tangguh. Seluruh anggota keluarga perempuan, dari Nenek hingga anak-anak perempuannya, semua jago masak. Namun Enyak mempunyai keahlian yang hanya dapat dilakukan oleh Enyak seorang. Hanya Enyak lah sang primadona dalam bidang memasak “Ayam panggang isi tanpa tulang” yang dipanggang menggunakan kayu. Harumnya masakan tersebut mampu membuat saya memutar otak dengan segala akal bulus untuk meng coup d’état ayam tersebut dari “kekuasaan” empat orang sepupu dan adik lelaki saya.

Enyak adalah seorang perempuan yang sangat aktif dalam kegiatan sosial, bahkan pernah diangkat menjadi Kepala RT, suatu kehormatan yang besar, mengingat pada waktu itu masih banyaknya kaum lelaki yang lebih menerima kaumnya sendiri daripada kaum perempuan untuk “merukunkan para tetangga”. Jabatan sebagai seorang Ibu Guru dan Ibu Kepala RT, membuat Enyak semakin terkenal dimata saya. Saya merasa bangga, memiliki dua orang Ibu yang pandai dan mandiri. Kepandaian Enyak dalam berorganisasi, membuat saya banyak belajar dalam berdiplomasi dengan Ibu dan para tetangga, saat tertangkap aksi kejar-kejaran jam tidur siang.

Enyak adalah juga seorang kampiun DJ, gaya bicaranya yang luwes, pendekatannya yang hangat terhadap anak-anak, membuat acara pesta ulang tahun saya selalu meriah. Acara permainan-permainan dan menyanyi bersama, selalu membuat saya enggan mengakui, kalau waktu beranjak dengan cepat. Enyak mengajarkan kami bernyanyi “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” sambil bergaya bersama, seolah-olah kami adalah seorang pelaut yang berani menantang badai ombak lautan, disambung dengan aksi “Aku Seorang Kapiten”, dimana saya mendaulatkan diri secara mutlak untuk menjadi seorang kapiten yang kelaparan, dan “memerintahkan” untuk mempercepat saat pemotongan kue ulang tahun yang sudah menantang sejak siang hari, sejak Enyak selesai menghias kue taart dengan cream coklat penuh taburan kepingan coklat dan buah cherry.

Betara Kala yang penuh dengan kuasa, bergulir bersama dengan detik-detik yang berdetak tanpa henti. Sang Kala menambahkan usia kami, bocah cilik berusus lempeng sudah menjadi seorang wanita dewasa. Saat Enyak mulai memasuki usia lima puluhan, Enyak mengucurkan air mata sedih dan gembira. Gembira menyaksikan anak perempuannya menikah, sedih karena harus merelakan anak perempuan pergi ke luar Indonesia, mengikuti pekerjaan suami. Selang beberapa waktu, kembali Enyak menangis sedih, menyaksikkan anak angkatnya harus meninggalkan Indonesia dengan keadaan yang tiada kejelasan. Hati Enyak trenyuh, kesepian, “kehilangan” dua orang anak perempuan.

Saat saya pertama kali pulang kembali ke Indonesia, keadaan Enyak mulai memprihatinkan. Enyak selalu memikirkan nasib para anak perempuannya. Sekalipun nasib saya berangsur baik, namun saya masih tetap “jauh” dari Enyak. Begitu juga dengan sepupu saya, dia masih tetap hidup jauh dari Enyak. Untuk mengebulkan api asap dapur, ternyata masih harus dilakukan di negeri orang. Kesehatan Enyak mulai menurun perlahan, namun Enyak masih tetap kuat berjalan. Hanya saja, Enyak tidak mampu berdiri lama untuk memasak. Mimpi indah masa kecil akan “Ayam panggang isi tanpa tulang” ala Enyak, tinggallah sebuah mimpi kenangan masa kecil yang indah. Sekalipun salah satu sepupu saya mewariskan bakat memasak dari Enyak, tetap ia tidak mampu membuat “Ayam panggang isi tanpa tulang”.

Setiap saya kembali ke Indonesia, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Enyak, duduk di ruang makan, berbincang-bincang dengan Enyak sambil menyantap masakan buatan sepupu. Enyak sering berkata dengan kalimat yang sama, setiap kali saya mengunjungi beliau,

“Ta, kamu tinggal kok jauh-jauh sih. Enyak suka memikirkan nasib kalian. Kasihan Ibu kamu, hanya punya satu anak perempuan. Enyak masih beruntung mempunyai dua orang anak perempuan, namun Enyak masih tetap suka sedih merasakan kehilangan seorang anak perempuan. Bagi seorang Ibu, anak perempuan yang dewasa bagaikan seorang sahabat yang tidak akan pernah berkhianat, yang akan selalu setia. Tempat menampung segala keluh kesah dan rasa bahagia. Enyak sering kangen sama kalian berdua, namun Enyak sadar, Enyak tidak bisa meminta banyak.”

Ibu saya memang lebih “pendiam” dibandingkan Enyak. Ibu tidak pernah mengeluhkan keberadaan saya yang jauh dari dirinya, hanya saja, setiap mengantar saya ke Bandara Udara, Ibu selalu menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan Enyak memang lebih banyak mengungkapkan isi hati dalam perkataan dan keluhan yang sama sekali tidak bernada mengeluh. Enyak hanya mengeluarkan apa yang ia rasa dan pikirkan. Biasanya, setelah Enyak berkata seperti itu, saya terdiam tidak mampu menjawab. Jawaban apa yang harus saya berikan? Saya tidak memiliki pilihan lain saat ini. Saya memilih hidup jauh, dan saya merasa tidak bersalah. Enyak dan Ibu pun tahu, tidak ada seorangpun yang patut dipersalahkan. Hanya saja, berat rasanya konsekuensi yang harus dipikul, sekalipun logika dan pengertian menjadi prioritas.

Januari 2008, saya kembali ke Indonesia, dan tentu saja saya berniat pergi mengunjungi Enyak. Sayang seribu sayang, Ibu saya jatuh sakit. Hampir sebulan saya berkutat, bolak balik antara rumah sakit dan rumah beneran. Situasi dan keadaan membuat saya tidak mampu mengunjungi Enyak. Saat saya mengantar Ibu masuk rumah sakit, saya mendapat kabar kalau Enyak baru saja keluar dari Rumah Sakit. Selama hampir dua bulan saya berada di Indonesia, saya gagal mengunjungi Enyak. Sedih rasanya, namun saya tidak berdaya dengan guliran Betara Kala. Waktu 24 jam sehari tidak cukup melawan kegiatan-kegiatan yang harus saya penuhi, antara pribadi dan pekerjaan. Saya merasa bersalah...

Rabu, 17 September 2008. Jam tujuh pagi, telepon genggam saya bernyanyi dengan nada pesan yang riang, ada satu pesan yang masuk. Dengan enggan saya membaca pesan sambil membersihkan mata yang “ribet” disesaki dengan belek. Melihat sekilas nomor pengirim, saya bergumam “hmmm si adik.”

Suami datang menghampiri dengan secangkir kopi hangat dan sepiring roti berlapis mentega dan madu. Sambil meletakkan piring dan gelas, ia bertanya perlahan,

“Dari siapa?”
“Dari adik...”

“Tumben pagi-pagi. Eh salah, sudah siang di Indonesia ya. Ayo diminum kopinya, pagi ini sudah mulai dingin. Musim panas tampaknya perlahan-lahan mulai meninggalkan kita.”

“Adik kirim pesan pendek saja. Enyak meninggal dunia pagi ini...”

Suami menatap terbelalak, lalu memeluk saya dengan ketat tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Saya terdiam seribu bahasa. Tidak mampu melukiskan apa yang ada dalam benak. Segalanya berlalu secara otomatis. Saya raih telepon, menghubungi sepupu, mengucapkan duka cita, berbicara dengan paman dan kembali mengucapkan duka cita. Selesai sudah “ritual” turut berduka cita, saya tekan nomor telepon rumah orang tua. Saya berbicara dengan adik, menanyakan keadaan kabar Ibu, lalu berbicara dengan Ibu. Ibu saya menjawab dengan lemah. Kondisi kesehatannya belum pulih seratus persen, namun sudah jauh lebih baik sejak saya meninggalkan Indonesia. Ibu tidak berkata banyak, hanya menanyakan apakah saya sudah menelpon paman dan sepupu. Selesai berbicara dengan Ibu, kembali saya berbicara dengan adik.

“Ibu ikut melayat, dik?”
“Iya kak, tadi pagi.”
“Ibu tidak apa-apa dik?”

“Tampaknya sih tidak apa-apa kak.”

“Ibu menangis dik?”
“Tidak kak.”

“Kok tidak menangis? Ibu tidak sedih, dik?”

“Kakak ini, pertanyaannya kok aneh-aneh. Jelas Ibu sedih, yang meninggal itu kakak perempuan Ibu, lho kak.”

“Masa Ibu tidak bilang apa-apa?” saya tetap melontarkan pertanyaan.

“Ibu hanya bilang, kalau kakak ibu sudah pergi duluan, itu saja.”

“Oh ya sudah dik, jaga Ibu baik-baik. Jangan sampai stress dengan keadaan berduka.”

“Baik kak.”

Selesai berbicara dengan adik, saya meneruskan acara sarapan pagi. Panas cairan kopi hitam menghangatkan perut saya yang dingin. Saya merasa ada sesuatu yang janggal. Kenapa Ibu tidak menangis? Kenapa saya tidak menangis?

“Menangis itu butuh energi. Ibu dalam keadaan lemah, tentu saja beliau sedih dan berduka, hanya saja Ibu tidak bisa menangis, karena memang tenaga Ibu saat ini sangat terbatas” suami mencoba menjelaskan kebingungan saya.

Saya bergumam lirih, “setidaknya, penderitaan Enyak sudah berakhir. Saya sangat menyayangkan karena saya tidak dapat bertemu Enyak bulan Januari dulu. Saya juga sedih, kalau saya tidak bisa pulang ke Indonesia saat ini, menghadiri pemakaman Enyak. Saya sedih, dan saya tidak berdaya. Tidak banyak pilihan yang harus saya pilih.”

Hari rabu saya habiskan dengan bekerja seperti biasa. Malam hari, saya menyalakan lilin dan berdoa, memanjatkan permohonan agar dilapangkan perjalanan Enyak menuju keharibaanNya. Khusyuk saya berdoa, namun rasa janggal tetap ada dalam diri saya. Saya sadar, dalam pikiran saya, Enyak masih hidup dan menunggu saya di Indonesia untuk berbincang-bincang lagi dengannya di ruang makan. Saya tepis pikiran tersebut, dan berkata kepada diri sendiri, “Enyak sudah meninggal dunia, yang harus saya lakukan adalah berdoa dan melepaskannya dengan rela, titik.” Sayapun melangkah ke kamar tidur, membaringkan diri sambil masih tetap bertanya tanpa sadar, “Enyak sudah meninggal dunia?”

Pagi hari, kamis 18 Oktober, kami berdua sudah disibukkan dengan kegiatan yang menumpuk dengan manis, menanti untuk dirapikan. Secara tidak terjadwal, mendadak kami harus pergi ke Milan, mengunjungi pihak Penerbit untuk melakukan koreksi akhir, sebelum masuk ke dalam mesin percetakkan. Saya memilih untuk tinggal dan melakukan pekerjaan lain, masih ada beberapa artikel dan foto yang harus saya koreksi.

Bidang tulisan yang saya ambil adalah bidang yang mengulas budaya dan kematian. Saya mempelajari, melakukan penelitian dan menulis dalam hal-hal yang berbau kematian. Menggali suatu sejarah budaya dan peradaban dari suatu ritual kematian. Kematian yang telah menjadi masa lampau, serta yang mampu menjelaskan akan masa kini. Begitu seringkah saya membaca dan bergaul dengan hal-hal yang berbau kematian, hingga kematian Enyak membuat saya tidak bergeming menangis. Seolah kematian Enyak adalah bagian dari kisah cerita dan penelitian yang saya lakukan.

Tulisan yang saya buat selama hampir dua tahun berjudul “Perasaan menghadapi kematian dalam budaya kami.” Sebentar lagi, tulisan ini akan tercetak dalam sebuah buku. Koreksi tulisan telah di lakukan berulang-ulang kali, baik oleh Direktur Museum, Profesor yang merupakan sahabat merangkap tutor kami, mertua sang ahli psychoanalyze, maupun suami dan tentu saja saya sendiri. Pagi ini, saya baca ulang tulisan tersebut, semakin saya baca, semakin saya melihat adanya kebahagiaan dalam suatu kematian. Kedukaan yang bercampur dengan kebahagiaan, kebahagiaan yang terbalut oleh rasa duka akan kehilangan. Namun, kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan untuk merelakan, untuk melepaskan, untuk turut merasa gembira, kalau saatnya sudah tiba, kalau masanya sudah datang dan pekerjaan kehidupan dapat diturunkan dari pundak. Kematian adalah jalan menuju surga. Kenapa harus bersedih, menyaksikkan orang yang dicintai, kembali dalam pelukanNya?

Tangis saya pecah. Saya berteriak, mengeluarkan rasa derita, namun kerongkongan saya kering, mencekat. Saya marah dengan rasa egois akan kehilangan, dan sayapun mencoba mendendangkan nyanyian suka, namun duka masih meronta-ronta dalam genggaman, milik saya telah pergi meninggalkan. Saya bertekuk lutut, terjatuh ke lantai yang dingin. Bibir saya bergerak cepat, mengucapkan doa, memohon ampun atas ketidakrelaan saya atas kepergian Enyak. Mata saya basah dengan air mata yang tidak ada habisnya, benak saya dipenuhi oleh masa-masa kecil, masa-masa indah, masa-masa bersama Enyak. Saya lupa wajah Enyak, saat terakhir kali saya melihat ia. Yang memenuhi benak adalah wajah Enyak ketika masih muda, ketika saya masih bocah. Wajah Enyak yang mengajak kami bernyanyi bersama, wajah Enyak yang tersenyum bahagia, melihat saya memakan dengan rakusnya “Ayam panggang isi tanpa tulang”, wajah Enyak yang cantik dan tersenyum. Enyak si hitam manis, yang pernah menjadi Kepala RT, Enyak ibu angkatku. Kembali aku menangis, tanpa mampu menyelesaikan doa, bibir tergetar, doa bernada sengau terputus dengan tangisan yang merintih deras. Saya terkapar di lantai, menekukkan badan bagaikan seorang bayi dalam perut ibu, mengelepar lara dalam kedinginan pagi di musim gugur.

Dear Zev, kokiers, kokoers, talkative dan silence readers, saya menuliskan kisah ini sebagai penghormatan saya yang terakhir kepada Enyak. Kenangan saya yang paling berharga terhadap Enyak, yang hendak saya bagi bersama dengan kalian semua. Kelincahan jari-jemari dalam menekan tuts keyboard mulai terputus-putus dengan serangan rasa cinta saya yang besar terhadap Enyak. Kembali saya menangis, namun dengan kerelaan yang pasrah dan besar. Demi cintamu, Enyakku sayang, kurelakan engkau kembali dalam kehangatan kasihNya.

Selamat jalan Nyak, saya bahagia, benar lho Nyak, saya rela, karena saya cinta Enyak.

Enyak jangan khawatir sama saya ya, saya akan baik-baik menjaga diri dan saya akan sering-sering pulang menengok Ibu dan Bapak.

Selamat Jalan Nyak, ati-ati di jalan ye,...






Ticino, 18 September 2008
Arita-CH

Hari Ini ... Hari VIP

Hari Ini ... Hari VIP
24.08.2008.

Dear Zeverina, Kokiers, Kokoers, Talkative Readers, Silence Readers, Comentators,

SELAMAT ULANG TAHUN !!!

Selamat menikmati persembahan kecil ini.

Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan...

SALAM PANJANG UMUR...

HIP HIP HORAYYYYYY..............

Arita-CH


Menjadi Merdeka

Menjadi Merdeka
23.08.2009.
Dear Zev, kokiers, kokoers, talkative readers dan silence readers, dimanapun berada…
Menjadi merdeka adalah sebuah perasaan dan keadaan yang terbebas dari suatu penjajahan. Kata “penjajahan atau kolonialisme”, yang telah ada sejak jaman klasik kuda gigit besi, bahkan masih (tetap?) ada hingga kini, jaman modern kuda berkecepatan petaflop, berhubungan erat dengan prinsip yang mengatakan “suatu tindakan kebijaksanaan yang dilakukan oleh suatu kekuatan besar untuk mengexploitasi keterbelakangan atau kelemahan dari manusia”. Kata “kebijaksanaan” disini, tentu saja timbul dan berkaitan erat dengan kepentingan penguasa kekuatan, yang seringkali berdalih, demi suatu tindakan kebaikkan yang bijaksana bagi semua orang.
Secara metafora, penjajahan dan penjajah, menjadi suatu kata sandi, simbol dari sesuatu atau seseorang yang berhubungan dengan segala kegiatan/tindakan yang melibatkan exploitasi. Perasaan terjajah ataupun menjadi penjajah adalah masalah persepsi bukan sensasi karena sensasi hanya berupa kesan sesaat. Saya sendiri masih merasa “terjajah” sekalipun hidup di dunia yang bernafaskan kemerdekaan dan menjadi warga negara di negara yang sudah merdeka.
Persepsi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Dan faktor eksternal yang paling penting dalam membentuk suatu persepsi adalah pengalaman sejati. Pengalaman yang terjadi pada diri sendiri, yang dirasakan, dilihat, dan dipikirkan sampai judeg bin gedeg.
Pengalaman sejati yang terjadi pada diri saya membuat saya berpersepsi bahwa saya masih terjajah oleh penjajah yang dengan bersarung ayat-ayat hukum dan bersandal undang-undang dasar, menjajah hak saya sebagai seorang ibu dari seorang anak. Mungkin kokiers masih ingat dengan cerita yang pernah saya tulis di era Koki 2006 (28 dan 30 Maret 2006), bagi kokiers yang belum pernah membaca, tulisan tersebut di muat dalam dua bagian dengan judul “Alasan saya meninggalkan Indonesia” (bisa di klik disini bag 1 dan bag 2).
Hak asasi saya sebagai seorang ibu “dirampas” habis dengan dalih politik. Adanya perbedaan kewarganegaraan kedua orang tua, membuat seorang anak “diwajibkan” untuk mengikuti kewarganegaraan ayah. Penerapan pola Jus sanguinis (hak kewarganegaraan berdasarkan keturunan darah) diterapkan secara sepihak, yang tentu saja dalam pengaplikasian secara negatif dan tanpa kompromi, menguntungkan pihak yang mempunyai kekuatan besar untuk menjajah.
Bertahun-tahun saya mengejar hak asasi, bergulat dengan berbagai macam peraturan dan perasaan. Sekalipun talenta dan keinginan kuat dipanjatkan setinggi bintang-bintang dilangit, namun tanpa dukungan dari undang-undang hukum, tetap saja saya terkapar lemah di injak-injak oleh penjajah.
Suatu hari, saya menghubungi melalui telepon (cat: saya sudah bertempat tinggal di Swiss), konsulat negara asal dari Ayah si anak, untuk menanyakan status saya sebagai ibu dari si anak. Dengan gamblang dan pedas, saya harus mendengar kenyataan, bahwa hak ayah berlaku dominan, selama kedua negara dari kedua belah pihak mengesahkan di atas keputusan pengadilan. Jadi, jika terjadi sesuatu menimpa si Ayah, si Ibu tidak mempunyai secuilpun hak untuk mengasuh anak. Anak saya tetap (hanya) anak si Ayah (dan keluarga si Ayah) yang kudu, pokoke, wajib, ikut dan hidup, serta hanya milik si Ayah dan keluarganya, sedangkan saya, si Ibu (tetap) hanya dan cukup menerima untuk menjadi mesin penghasil anak yang baik dan berkualitas.
17 Agustus 2008, 63 tahun sudah kemerdekaan Indonesia terpahat, terbebas dari penjajahan negara lain. Seperti yang sudah-sudah, hari keramat bangsa Indonesia, yang tentu saja di rayakan di seantero Negara Kepulauan Republik Indonesia, juga dirayakan dimanapun, disetiap Kedutaan Besar Republik Indonesia berada. Saya, suami dan anak saya - yang selalu menghabiskan liburannya bersama kami - (cat: anak saya masih tinggal dengan ayahnya hingga kini) dengan semangat 45, bermobil ria selama kurang lebih 4 jam-an, menuju Bern, menghadiri perayaan yang bertuah. Siapa tahu, kunjungan pada hari keramat bangsa itu akan memberi tuah tersendiri bagi kami.
Sekalipun saya berpersepsi saya masih terjajah, namun saya menikmati perayaan tujuhbelasan tersebut. Pengalaman sejati yang saya alami saat masih kecil, saat aktif berpartisipasi dalam setiap perlombaan tujuhbelasan, membuat saya sumringah menatap anak saya melompat-lompat dalam lomba balap karung.
Persepsi saya setiap tanggal 17 Agustus adalah sebuah momen kemerdekaan. Persepsi momen kemerdekaan ala saya jaman piyik adalah, merdeka dari tidur siang yang melelahkan, dan merdeka untuk main sepanjang hari, dari pagi hingga malam menjelang. Persepsi momen kemerdekaan ala saya jaman pancaroba adalah, merdeka dari sekolah dan pekerjaan rumah. Persepsi momen kemerdekaan ala saya jaman tigapuluhan adalah, nasionalisme yang mulai menonjok-nonjok dengan keras lambung, berteriak-teriak dengan lantang menggugat, ala John F. Kennedy yang membakar pagi yang dingin di tanggal 20 januari 1961. “Ask not what your country can do for you -- ask what you can do for your country."
Sekalipun merasa masih terjajah, tetapi saya tetap melantunkan kalimat api abadi “Apa yang dapat saya lakukan untuk negara saya, untuk Ibu Pertiwi,” untuk memutar terus roda kehidupan saya. Mengutip artikel salah satu kokier, Sid, “Stop WHINING and Start ACTION!” saya menghapus sedu sedan, berlomba-lomba dengan usia, di dalam melakukan action-action.
Kembali ke perayaan tujuhbelasan yang diadakan oleh KBRI Bern. Ternyata tidak hanya lomba tarik tambang dan lompat karung yang mendominasi hari keramat tersebut. Final acara perlombaan ditutup dengan Lomba berpakaian daerah dalam mewujudkan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Frase yang dikutip dari “kakawin Sutasoma” karangan Mpu Tantular. Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.- Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran -.
Dengan membludaknya peserta yang berpakaian daerah, membuat para juri mathuk-mathuk kebingungan untuk menetapkan (hanya) satu orang juara. Dari 10 semi finalis yang lengang lengang kangkung di panggung, tersaring 5 finalis yang akhirnya menetaskan tiga orang juara satu (ketiga-tiganya ya juara satu...) dengan predikat, Putri Kebaya, Putri Tujuhbelasan dan Putri Parawisata. Putri Parawisata ini dimenangkan oleh seorang gadis manis berumur 15 tahun dari tanah Sumatera dengan berpakaian adat Batak Toba, hidup penyanyi dangdut/PDD!
(lho kok? Maaf kokiers, agak OOT (out of topic) sedikit).
Dengan selesainya perlombaan berpakaian daerah, berarti akhir dari segala macam lomba-lomba yang diadakan oleh KBRI Bern. Namun ternyata bagi saya, belum merupakan suatu final dari hari yang keramat bagi bangsa Indonesia. Momen final pada acara tujuhbelasan di KBRI Bern bagi saya tercipta dan memuncak, saat saya menerima selembar surat keputusan, keputusan yang menyatakan secara simbolis, bahwa masa penjajahan terhadap saya telah berakhir.
Sang penjajah menyerah kalah oleh raungan para pendukung Ibu Pertiwi, ibu-ibu yang meraung-raung kehilangan anak-anak mereka, karena diskriminasi politik kewarganegaraan. Si Penjajah bertekuk lutut dihadapan undang-undang yang revolusioner, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 12 TAHUN 2006, tentang kewarganegaraan Republik Indonesia. Undang-undang yang salah satu ayatnya berbunyi “Warga Indonesia adalah: anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan Ibu Warga Negara Indonesia (BAB II. WARGA NEGARA INDONESIA, Pasal 4d). Dengan terbitnya undang-undang ini, tentu saja saya tidak tinggal diam berpangku tangan dalam mensyukuri berkat. Dengan segera, pada tahun 2006, permohonan permintaan warga negara Indonesia untuk anak, saya ajukan. Namun, sekalipun surat permohonan tersebut saya ajukan melalui KBRI Bern, tetapi keputusan hanya berada di tangan Menteri hukum dan Hak Asasi Manusia di Jakarta, Indonesia. Dapat saya bayangkan dengan jelas tumpukkan surat-surat permohonan yang ditulis oleh ibu-ibu warga negara Indonesia dari berbagai ujung kepulauan Indonesia dan ibu-ibu warga negara Indonesia sejagat raya. Membuat saya berkesimpulan bahwa saya akan menunggu dalam jangka waktu yang entah kapan terjadi. Namun, hal positif dari penantian ini adalah adanya kepastian di ujung penantian. Kepastian yang absolut diatas dasar Undang-Undang negara Republik Indonesia.
17 Agustus 2008, 63 tahun sudah kemerdekaan Indonesia terpahat, terbebas dari penjajahan negara lain. Pada hari itu, hari keramat bangsa Indonesia, tuah yang manjur dan mustajab melimpahi diri saya. Pada saat Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tentang kewarganegaraan Republik Indonesia atas nama anak saya, berada di atas kedua tangan ini, maka, penjajahan selama bertahun-tahun pada diri saya berakhir sudah. Saya bukan lagi hanya suatu mesin penghasil anak yang baik dan berkualitas, yang dijajah oleh penjajah yang dulu bersarung ayat-ayat hukum dan bersandal undang-undang dasar.
Saya kini adalah seorang Ibu Indonesia yang mempunyai hak yang jelas secara hukum terhadap anaknya yang kini juga adalah seorang warga negara Indonesia.
Saya kini, menjadi merdeka!
Terima Kasih Indonesia !
Dari seorang ibu dan seorang anak.
Dari dua orang warga negara Indonesia, yang sudah merdeka.
Merdeka!
Arita-CH

Comrade in Oath

Comrade in Oath

06.08.2008.

Dear Zev, para kokiers, kokoers, silence readers dan talkative readers,

Tanggal satu Agustus di tahun seribu dua ratus sembilan puluh satu, tiga kanton (daerah/wilayah) yang terletak di lembah pegunungan Alpin (Kanton Uri, Kanton Schwyz dan Kanton Unterwalden) bersumpah untuk bersatu padu didalam satu komunitas.

Persumpahan ini dilakukan berdasarkan azas persahabatan, seperti tiga orang yang berjanji untuk bersahabat, saling membantu di dalam kesusahan dan melindungi dari serangan pihak luar.

Semakin lama, sahabat-sahabat mereka semakin bertambah, dan pada tahun 1848 para sahabat yang berjumlah total 26 Kanton membentuk negara federal berlandaskan PERSAHABATAN, yang kini dikenal dengan nama Switzerland.



Tanggal satu Agustus di tahun dua ribu delapan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pesta kembang api menjadi penggembira pada malam hari di empat sudut langit Swiss.

Sayangnya, pada tahun ini, hari pertama di bulan Agustus, hujan mengguyur deras kanton Ticino, membuat Kembang Api enggan berlenggak-lenggok di kedinginan malam.

Untungnya, sang hujan memahami kegelisahan penduduk Ticino dan para turis yang dag dig dug, menunggu dar der dor sang Kembang Api.

Akhirnya, di hari kedua bulan Agustus tahun 2008, saya berhasil mengintip sang Kembang Api menari-nari di atas danau Ascona, kanton Ticino.

Mungkin kokiers sudah mulai bosan dengan gambar kembang api, apalagi gambar tersebut di jepret oleh seorang amatiran seperti saya.

Tetapi di balik jepretan amatiran ala seorang Arita, saya sesungguhnya hendak menjepret hati anda, para kokiers nan budiman, agar semangat persahabatan persatuan kanton-kanton di lembah Alpin, bisa menulari dan menjangkiti Komunitas Kita, Kolom Kita yang kita cintai.

Salam persahabatan,...

Arita-CH

Binatang Jalang

Binatang Jalang

14.07.2008.

Dear Zev & Kokiers,

Suatu hari, sewaktu saya masih S.M.A, saya bersama dengan konco-konco kelas menjalani hukuman, berjemur ria di tengah lapangan. Di hadapan kami, kepala sekolah mondar-mandir sambil mengacungkan tongkat komando, berdakwah dengan lantang.

“Kalian semua adalah generasi penerus bangsa, harapan bangsa!

Tapi, coba lihat tingkah laku kalian..., ck ck ck ...persis binatang jalang!”

Sambil mendengarkan kepala sekolah yang terus sibuk meng-grendeng, saya termenung di tengah sengatan terik matahari, mendengar sebutan binatang jalang. Tersentak dengan dentang bel, tanda tiba saatnya pulang, sejenak ingatan terantuk dengan puisi Chairil Anwar, kala membaca SEMANGAT, kala saya “tergila-gila” menyamakan diri dengan tokoh binatang jalang versi Chairil Anwar.

Chairil Anwar, lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal dunia di Jakarta dalam usia yang belia (27 tahun) pada 28 April 1949. Dengan hanya berpendidikkan formal kelas 2 MULO, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta pada tahun 1940, pada usia 18 tahun.

A.H. Johns, dalam tulisannya yang berjudul “Chairil Anwar: An interpretation”, mendeskripsikan Chairil Anwar sebagai seorang seniman yang mempunyai kepribadian yang lain daripada yang lain, arogan, eksentrik, terbakar dengan pemikiran daya hidup, ia menerjunkan diri bulat-bulat tanpa sehelai keraguan, ke dalam setiap kancah kesempatan pengalaman yang terpampang di hadapan. Bagi Chairil Anwar, standar, derajat dan status sosial hanya merupakan embel-embel pemisah ciptaan manusia belaka. Derajat dan status sosial tidak seharusnya mempengaruhi tingkatan rasa hormat, karena semua sama belaka, baik seorang presiden maupun seorang abang becak. Ia memandang norma-norma sosial kehidupan yang ada sebagai penguat dan pendukung kemunafikan, sehingga, ia memilih untuk “menghancurkan diri sendiri” daripada menerima norma-norma tersebut. Dengan dedikasi diri seutuhnya kepada seni, Chairil Anwar masuk ke dalam karakter Bohemian, seniman penganut kebebasan mutlak. Sekalipun, pola kehidupan yang tidak stabil merupakan bagian dari prinsipnya, namun ketidakstabilan tersebut merupakan juga bagian dari suatu persona, suatu topeng untuk menyembunyikan identitas diri yang sesungguhnya, jati diri yang hanya dapat ia ungkapkan di dalam puisi-puisi.

A.H. Johns menulis, dunia Chairil Anwar adalah dunia yang remuk, dunia yang penuh dengan kekecewaan. Dan Chairil Anwar menerima dunianya sebagai suatu kenyataan. Bagi Chairil Anwar, dunia yang hampa tanpa arti adalah jauh lebih baik daripada dunia yang penuh utuh, terisi terus menerus oleh kemunafikkan. Ia ingin hidup seribu tahun lagi. Ya! Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi dengan cara yang ia pilih, metode yang ia peluk, gaya yang ia miliki, gelutnya untuk memerangi kekuatan kemunafikan tanpa tedeng aling-aling mendasari kehidupan sehari-hari. Ia bergembira ria di dalam kekurangannya bersetubuh dengan kemunafikan.

Jelas sudah, kalau Chairil Anwar adalah seorang seniman yang superior, karyanya lebih sempurna dari model karya seniman Belanda yang ia panuti. Sekalipun, mungkin karya Chairil Anwar tidaklah orisinal (cat: menurut beberapa pendapat, ia adalah seorang plagiarist), karya Chairil Anwar tetap memiliki karakter yang khas, unik, terbentang lebar dalam ungkapan kata-kata.

Banyak tulisan yang berpendapat, karya Chairil Anwar dipengaruhi oleh dua penyair Belanda beraliran expresionisme, yaitu Marsman dan Slauerhoff. Tetapi A. H Johns beranggapan, asumsi tersebut sangatlah sempit dan sederhana. Bagi A.H. Johns, karya Chairil Anwar akan interior alam semesta serta dedikasi penuh dalam kesempurnaan teknik, menjadikan Chairil Anwar pewaris dari gerakan terbesar dunia persajakan modern, periode yang di inagurasikan dengan timbulnya aliran symbolisme di Perancis dan Belgia pada akhir abad ke 19.

Pada tanggal 15 Mai 1871, seorang penyair Perancis beraliran Symbolisme, Arthur Jean Rimbaud, tipe radikal provokator anti borjuis, menulis surat kepada Paul Demeny (lettres du voyant). Rimbaud berpendapat bahwa seorang penyair adalah seorang pencuri api sejati. Seseorang yang dipenuhi oleh perasaan perikemanusiaan, dan bahkan juga perikebinatangan. Ia harus mampu menyentuh, meraba, merasakan, mendengarkan seluruh imajinasi. Rasa cinta, penderitaan, kegilaan. Seorang penyair harus mampu menemukan satu bahasa. Bahasa yang kelak mampu memahat jiwa untuk para jiwa, bahasa yang terbentuk dari kumpulan semerbak harum wewangian, aneka bunyi dan warna, bahasa dari suatu pikiran yang mengkait pikiran-pikiran lain dan menariknya seerat mungkin.

Chairil Anwar adalah seorang penyair ternama di dunia internasional. Di Indonesia ia adalah penyairnya penyair, seorang penulis yang sejak tahun 1942 menyuburkan pertumbuhan dunia persajakan moderen di Indonesia. Sebagai seorang penyair yang juga beraliran symbolisme, banyak karya-karyanya yang sulit di mengerti, sarat pekat akan makna. Dengan penggunaan struktur yang ambigu dan kompleksitas dari pengunaan simbolisme, membuat karyanya sulit untuk di pahami.

Seperti Rimbaud mendefinisikan seorang penyair, maka Chairil Anwar adalah seorang pencuri api sejati yang menempa karya-karyanya dengan suhu panas maksimal.

Bagaikan sebilah pedang yang di tempa dengan bara api, karya Chairil Anwar berbilah tajam berkilau terang. Bilah pedang tajam berkilau nyala api, menjadikan karya Chairil Anwar tidak hanya bagaikan sebilah pedang yang tajam, yang membelah pikiran, tetapi kadangkala berpendar, memantulkan bayangan, refleksi diri dari orang-orang yang membacanya, orang-orang yang mengagumi karyanya, orang-orang yang menggilai karyanya, para orang banyak tanpa terkecuali, juga para remaja pelajar S.M.A.

Masa SMA adalah masa-masa dimana saya merasa bangga menjadi binatang jalang versi Chairil Anwar. Suatu periode dimana saya terobsesi oleh kepribadian Chairil Anwar, plek numplek dalam gegar teriakan lantang, saya menjelma di dalam image populer sang revolusioner, kilau bilah pedang yang terang benderang membuat saya kehilangan arah dari hakekat puisi itu sendiri. Mungkin jauh, dari makna dan maksud yang dimuntahkan Chairil Anwar, saya terbawa arus kebebasan anarki.

Masa S.M.A adalah masa dimana saya merasa seluruh dunia menentang, menantang dan membuang saya. Arus hormon remaja yang mengalir deras ,memperkuat kesimpulan bahwa, segala aturan-aturan yang ada, hanyalah dibuat untuk memperalat saya, memperalat kami, bocah-bocah “pemberontak”, menjadikan kami pion-pion kecil yang siap dikorbankan dalam genderang kegagahan politik. Cara liar suatu sistim, menyeringai dan mengancam dalam kemasan cantik sebuah iming-iming, ancaman yang dibungkus dengan kertas emas bertuliskan imbalan. Sebuah iming-iming untuk bisa lulus S.M.A, asalkan menjoblos salah satu partai politik, saat hari H Pemilu, yang di adakan di aula sekolah.

Saat itu, kami terbakar oleh kemarahan terhadap propaganda politik, jilatan api ancaman yang memanas, mendidihkan kami yang susah payah belajar di bangku kayu sekolah yang keras. Kami berubah menjadi binatang Jalang, mengerang dalam protes yang kami tahu, tidak akan pernah terjawab.

Selama itu saya selalu mempertanyakan arti dari penulisan huruf besar dalam kata “Jalang” pada puisi “Semangat”. Saat itu saya sering menerka-nerka, bahwa definisi Jalang dengan huruf besar J adalah penekanan. Pengerasan arti menjadi kekuatan dalam kata Jalang. Jalang dalam pemberontakkan, melawan tekanan kemiskiskinan moral, mengeliat mencoba mencuat keluar dari kebohongan berlapis senyuman. Meneriakkan kata anarki dengan idealisme ala remaja, tanpa tahu apa arti sesungguhnya anarki dan idealisme.

Kini, saat angka 40 mulai menari-nari dengan lincah di hadapan saya, sukma binatang Jalang masih erat lekat dalam jiwa. Saya juga ingin hidup seribu tahun lagi, sekalipun badan telah menyatu menjadi debu. Saya tidak ingin menyerah kalah. Sekalipun pada puisi yang terakhir – Derai-derai cemara 1949 -Chairil Anwar terlihat menyerah menunggu saat kematian, tetapi saya tahu, Chairil Anwar tetap hidup seribu tahun lagi.

Hidup hanja menunda kekalahan (cat:kematian)
Tambah djauh dari tjinta sekolah rendah
Dan tahu, ada jang tetap tidak diutjapkan
Sebelum pada achirnja kita menjerah.

(Derai-derai cemara 1949)

Saya tidak akan menyerah, saya ingin hidup seribu tahun lagi. Sekalipun kini saya tidak mengarungi aliran sungai anarki, tetapi saya tetap berendam dalam kolam idealisme. Dalam idealisme ala saya sendiri. Dalam anugrah suatu SEMANGAT...

“SEMANGAT”

Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang Jalang
Dari kumpulan terbuang

Bir peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil Anwar, Maret 1943

Dear Zev & kokiers, aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku juga mau, KoKi, dan Zev, dan kokiers hidup seribu tahun lagi...

Arita-CH


Daftar Bacaan:

Anwar, Chairil, 1989, Kerikil tajam dan Yang terampas dan yang putus, Jakarta, PT. Dian Rakyat.

Johns, A.H., 1964,Chairil Anwar: An interpretation, Leiden, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 120, no: 4.

Chauvel, Jean, 1971, L’aventure terrestre de Jean Arthur Rimbaud, Paris, Seghers.