Showing posts with label Social. Show all posts
Showing posts with label Social. Show all posts

Ateisme. Apa dan Siapa


Catatan penulis: 
"Don't judge a book by its cover". Untuk menilai ateisme, janganlah melihat hanya dari ‘sampul’ belaka yang seringkali ‘bergambar’ arogan, sombong, atau mungkin kasar. Namun, ada baiknya membuka lembar halaman demi halaman, apa yang dapat dipaparkan langsung oleh para ateis tentang ateisme. 

Tulisan singkat bertemakan ateisme ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana ateisme itu. Apakah ateisme merupakan prinsip atau agama atau bentuk penyembahan, atau sesuatu yang imoral, atau merupakan suatu grup tertentu, hanya para ateis sendiri yang mampu menjelaskan secara obyektif tentang ateisme, dan bukan mereka yang non ateisme.


Oleh karena itu, tulisan ini merujuk langsung pada berbagai referensi artikel ateis yang ditulis secara ilmiah dan mengajak pembaca untuk mencoba mengenal ateis dari sudut pandang serta definisi yang diutarakan oleh para penulis ateis itu sendiri.


Tulisan ini TIDAK mengajak pembaca untuk menjadi ateis. Namun, adanya definisi yang “salah” mengenai ateisme, dapat menimbulkan kesalahpahaman baik pada diskusi maupun dalam bertindak dan berinteraksi secara sosial. Lebih jauh lagi, kesalahan definisi juga bisa menjurus pada kesalahpahaman nasional, yang berakibatkan jatuhnya beribu-ribu korban manusia secara masal, seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1965-1966.

Defini ateis dalam bahasa.

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: ate•is /atéis/ n orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan.
  • Asal muasal kata ateis dari bahasa Yunani adalah atheos. Kata “a” disini berartikan “tanpa” atau “tidak”. Sedangkan terjemahan langsung dari “theos” berarti sesuatu yang tinggal di langit, bersifat luar biasa dan sangat bercahaya, diintrepetasikan dan diterjemahkan sebagai ‘dewa’ atau ‘Tuhan’. Jadi, dari sudut pandang bahasa Yunani kuno, seorang ateis adalah seseorang yang tidak berdewa atau ber-Tuhan.

Atheos, Era klasik Yunani
Dalam sejarah Yunani, kata atheos mulai dikenal luas dalam karya tulis Plato (circa. 429-347 SM). Kata atheos dalam bahasa Yunani pada mulanya berarti: “tidak berkepercayaan terhadap theos” -sesuatu yang luar biasa, bercahaya dan tinggal di langit-, atau “terkutuk”. Kata ‘atheos’ juga digunakan untuk me-labelkan para kaum cendekiawan yang menyangkal keberadaan Tuhan, dewa atau segala bentuk-bentuk luar biasa bersinar yang tinggal di langit.

Philodemus, seorang filsafat Yunani (ca. 110–35 sm.) mengklasifikasikan orang ateis sbb:
  1. Mereka yang mengatakan bahwa tidak mengetahui apakah ada dewa atau seperti apa bentuknya.
  2. Mereka yang secara terbuka mengatakan bahwa Tuhan tidak ada.
  3. Mereka yang dengan jelas menyiratkan itu.

Dalam sejarah ateisme, ada 3 poin utama yang ditemukan dalam periode klasik Yunani.

  1. Ditemukannya teori ateisme yang juga merupakan salah satu kejadian penting dalam sejarah agama.
  2. Bangsa Yunani menciptakan istilah ‘atheos’, yang kemudian oleh bangsa Romawi istilah ini menjadi atheus, cikal bakal kata ateis dan ateisme.
  3. Ditemukannya kegunaan istilah ‘atheis’ sebagai sarana untuk me-label-kan lawan-lawan. Penemuan isme ateis membuka jalan baru bagi kebebasan intelektual, bersamaan juga terbukanya kemungkinan bagi banyak pihak untuk memberi label terhadap pihak oposisi mereka.

Pertanyaan tentang ateisme

  1. Apakah ateisme adalah agama?
    Menilik dari kacata agamawan, seringkali ateisme didefinisikan sebagai suatu bentuk kepercayaan. Suatu agama. Agama yang rasional dan penuh dengan optimisme. 
    Alister McGrath, seorang teolog Kristen dari Inggris menulis dalam bukunya yang berjudul "The Twilight of Atheism: The Rise and Fall of Disbelief in the Modern World":
    “Atheism is the religion of the autonomous and rational human being, who believes that reason is able to uncover and express the deepest truths of the universe, from the mechanics of the rising sun to the nature and final destiny of humanity” (2004: 220).
    Namun pendapat ini ditolak oleh para ateis. Mereka mengatakan bahwa McGrath berpikir bahwa ateisme merupakan kebalikan keyakinan dalam beragama. Akibatnya, McGrath merumuskan bahwa ateis juga memiliki elemen-elemen agama. Namun sebenarnya, para ateis TIDAK memiliki elemen agamawi. Mereka tidak pernah menyatakan penemuan mereka akan bagaimana kebenaran dari misteri kehidupan serta keberadaan akhir hidup manusia dan alam semesta. Kemungkinan, McGrath merujuk pada pola pandangan Marxism-Leninism dimana penolakan Tuhan merupakan salah satu bagian dari prinsipnya. 

    Karena ateisme tidak berpikir dalam konsep agamawi seperti para teis (orang yang percaya akan keberadaan Tuhan), maka dengan kata lain, posisi ateisme berada dalam posisi baku, jadi pihak teis yang seharusnya membuktikan kebenaran dari pemikiran teisme mereka.

  2. Apakah hubungan Ateisme dengan Teisme?
    Julian Baggini, seorang filsafat Inggris dan penulis buku “Atheism: A Very Short Introduction” mendefinisikan ateisme bertolak belakang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan teisme.

    Sedangkan Robin Le Poidevin, seorang professor metafisik dari Univeritas Leed, Inggris, dan penulis buku "Arguing for Atheism: An Introduction to the Philosophy of Religion" menyatakan:

  • Seorang ateis lebih merupakan seseorang yang menyangkal keberadaan dan pribadi sang maha pencipta alam semesta daripada seseorang yang hanya hidup secara sederhana tanpa merujuk pada keberadaan sang pencipta alam.
  • Sedangkan seorang teis adalah orang yang menegaskan keberadaan sang pencipta.
Jadi setiap diskusi yang berhubungan dengan ateisme pasti juga berhubungan dengan teisme atau monoteisme. Berbeda dengan pendapat Baggini, Le Poidevin menegaskan lebih jauh bahwa seorang ateis mempunyai pengetahuan tentang agama dan ia menyadari keateisannya secara tegas lugas.
Jadi, seseorang yang hidup sederhana tanpa pernah mengetahui atau pernah mengenal keberadaan agama (monoteisme) ataupun sang pencipta, tidak dapat dikatakan bahwa orang itu ateis.

Kata “A” dalam bahasa Yunani merupakan Alpha privans yang berarti menyangkal semua kata yang diletakkan sesudah huruf “A”. Jadi ateis berarti menyangkal segala sesuatu yang ditegaskan oleh teis. Mereka menyangkal bukan karena mereka tidak tahu, tetapi mereka tidak setuju dengan pernyataan teistik dari teisme. Dengan penyangkalan ini, maka ateisme tidak identik dengan para penganut teisme.


Karena setiap ateisme selalu menyangkut pada teisme maka pertanyaan yang besar adalah, Apakah teisme?
Teisme itu sendiri dapat dikatakan sama dengan –dalam definisi saat ini- monoteisme. Para teis adalah para penganut dari tiga agama besar monoteisme: Yudaisme, Kristen dan Islam.

Lebih dari sekedar hanya percaya pada satu Tuhan, seorang teis juga memiliki konsep akan apa itu Tuhan. Konsep yang menyatakan bahwa Tuhan itu baik. Bukan hanya sekedar baik, tetapi sangatlah baik. Dan kebaikan bukan hanya prinsip dari teistik tapi Tuhan menurut teisme adalah abadi, pencipta alam semesta, mahakuasa, luar biasa, maha tahu, suci, dan hidup.


Ateisme berkaitan dan mengenal konsep akan khalik, khaliknya teistik, yang mempunyai nama dan ditulis dengan huruf besar: Tuhan. Jadi seorang ateis memerhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan konsep : pencipta, penguasa, maha tahu, suci dan sempurna.


Paul Cliteur, seorang ahli hukum dan filsuf Belanda membatasi konsep ateisme sebagai penyangkalan dari pernyataan pihak teisme.
Ia memberikan contoh sebagai berikut:
Seorang teis menyatakan, Tuhan adalah kasih, sedangkan penyangkalan ateis bahwa “Tuhan itu adalah kasih” bukan karena ia menolak pentingnya arti kasih, tetapi seorang ateis merasa bahwa tidak layak mencampuradukkan emosi manusia dengan keberadaan dari Tuhan yang dianggap oleh para teis sebagai serba maha, berkepribadian dan secara sempurna sangat baik.




Tiga karakter dari ateisme
Untuk melihat lebih jauh ateisme, mari kita coba lihat karakter yang ada pada ateisme.

  1. Ateisme sebagai non teisme, bukan anti teisme
    Charles Bradlaugh (1833-1891), seorang aktivis politik dan juga salah satu ateis Inggris terkenal di abad ke 19 menyatakan bahwa para ateis TIDAK mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, namun mereka berpendapat bahwa mereka memiliki ketidakjelasan akan ide atau pengertian naluriah akan Tuhan.

    Bukan ‘Tuhan’ yang disangkal oleh ateis, karena bagi mereka figur Tuhan adalah satu hal yang tidak jelas atau tidak tegas dan tidak sempurna untuk didefinisikan. 
    Jadi secara sederhana, pernyataan teisme akan keberadaan Tuhanlah yang disangkal ateisme, sehingga ateisme dapat disamakan dengan non teisme dan BUKAN anti teisme. 

    Kata “sangkal” dan kata “anti” mempunyai perbedaan makna, dimana kata “sangkal” terjadi karena adanya alasan ketidaksetujuan secara rasional, sedangkan kata “anti” merupakan kata yang berlandaskan pada perasaan, rasa tidak senang dan tidak suka belaka.
  2. Ateis tidak perlu membuktikan pernyataan teisme 
    Seorang yang beragama percaya akan keberadaan Tuhan, sedangkan seorang ateis tidak mempunyai kepercayaan tersebut. Seorang ateis juga tidak memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
    George H. Smith, seorang ateis penulis "Atheism: The Case Against God" merumuskannya sebagai berikut:

"Ateisme, dalam bentuk dasarnya, bukan keyakinan namun merupakan ketiadaannya satu kepercayaan".
Menurut Smith, seorang ateis bukanlah orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada, melainkan, ia tidak percaya akan adanya Tuhan.
Karena ateisme merupakan doktrin yang mengandung peniadaan atau penyangkalan, maka seorang ateis tidak terpengaruh dengan bukti-bukti dari teisme.
Seorang ateis tidak harus memiliki keinginan untuk memecahkan teka-teki alam semesta. Dia tidak harus mengekspresikan kosa kata "kebenaran terdalam dari alam semesta" yang dianggap tidak masuk akal untuk seorang ateis.
Seorang ateis tidak perlu membela atau membuktikan suatu pernyataan, karena pernyataan ‘Tuhan itu ada’ dikeluarkan oleh pihak teis/beragama. Jadi, sudah sewajarnya jika hanya pihak teis yang harus membuktikan pernyataan tersebut. Dan pihak ateis akan menunggu argumen pihak teis dan menimbang apakan argumen tersebut meyakinkan dirinya atau tidak.

  1. Ateisme adalah suatu pilihan yang disadari dan telah dipikirkan dengan matang.
    Unsur ketiga dari posisi ateis adalah sikap psikologis dari ateis itu sendiri: ateisme dianggap sebagai pilihan yang intelektual dan eksplisit. Kita kembali ke dalam pernyataan Le Poidevin di atas: “seseorang yang hidup sederhana tanpa pengetahuan akan Tuhan tidak cukup untuk melabelkan seseorang sebagai ateis”. 

    Paul Cliteur mencontohkan pernyataan tersebut sebagai berikut:
    Misalnya seseorang bertanya kepada kita : 
    Apakah Tuhan? Saya tidak tahu apa artinya. Saya tidak pernah berpikir dalam tentang hal tersebut.

    Bermula dari pertanyaan diatas maka akan banyak yang berpendapat bahwa orang tersebut ateis, namun sesungguhnya TIDAK benar. Apa yang kurang dari orang tersebut adalah pengetahuan atau kesadaran intelektual, sehingga orang tersebut tidak pantas disebut ateis.

    Oleh karena itu, Holbach mengatakan bahwa anak-anak (yang tumbuh dalam lingkungan tidak beragama) tidak pantas juga disebut ateis, dikarenakan mereka belum memiliki kesadaran intelektual untuk memilih dan menilai suatu prinsip/doktrin.

    Satu hari, anak saya mengatakan bahwa teman sekelasnya mengaku sebagai ateis. Seorang anak mengaku ateis mungkin saja karena terbawa pengaruh atau besar dalam lingkungan ateis, namun secara kemampuan intelektual, seorang anak kecil belum memiliki pengetahuan agama yang mendetail dan pengertian rasional yang merupakan dasar utama seseorang menjadi ateis. Jadi, pengakuan seorang anak kecil sebagai ateis, tidak dapat dianggap layak dan tidak bisa diterima.
    Karena seorang ateis adalah orang yang SUDAH mempunyai pengetahuan akan agama, atau mungkin dibesarkan dalam lingkungan keluarga beragama, bahkan mungkin juga adalah orang yang (pernah) beragama, namun memutuskan untuk tidak menjadikan agama sebagai bagian dari dirinya.

    Mereka yang tidak berpengetahuan agama (monoteisme) atau mereka yang menganut politeisme ataupun aliran kepercayaan ataupun pagan, BUKANLAH ateis. Yang utama dalam menilai apakah orang tersebut ateis atau tidak adalah tingkat kesadaran serta pengetahuan intelektual agamawi mereka.

    Penting untuk diketahui dalam menilai ateis adalah mereka MENELAAH semua pilihan atau opsi yang ada, semua argumentasi tradisional akan keberadaan Tuhan.

    Seorang yang (memilih) menjadi ateis adalah seseorang yang MEMPUNYAI pengetahuan akan argumentasi tentang Tuhan, dan MENIMBANG dengan matang ketidakpercayaannya akan keberadaan Tuhan.

    Jadi dalam unsur ketiga ini, seorang ateis bukan seseorang yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan akan Tuhan. Mereka tahu dan menelaah ilmu agama (bahkan mungkin juga dibesarkan dalam keluarga yang beragama), namun mereka memutuskan untuk tidak menjadikan agama sebagai satu iman dalam akal mereka.

Konsep ateisme dan motive untuk ateisme.

  1. Tidak beriman dan beriman
    Banyak orang yang menolak memeluk satu agama dan mempercayai ke-Esaan dan kesempurnaan Tuhan karena hal ini berlawanan atau menciptakan konflik dengan nilai-nilai utama yang mereka yakini. Karena mereka dapat dikatakan sebagai “orang yang tidak berkepercayaan” dalam hubungannya dengan Tuhan, namun mereka dapat juga dikatakan “orang yang berkepercayaan” di dalam kebebasan berpikir dan bertindak, kesetaraan martabat manusia, dsb.

    Di dalam ateis kita menemukan kombinasi dari beriman dan tidak beriman. Mereka beriman, tapi bukan didalam Tuhan dan kadangkala dianggap tidak dapat didamaikan dengan Tuhan.

    Salah satu contohnya adalah pernyataan seorang politikus Amerika, Robert Ingersoll (1833-1899):

    I am an unbeliever, and I am a believer . . . I do not believe in the “Mosaic” account of creation, or in the flood, or the Tower of Babel, or that General Joshua turned back the sun or stopped the earth. I do not believe in the Jonah story . . . and I have my doubts about the broiled quails furnished in the wilderness. Neither do I believe that man is wholly depraved. I have not the least faith in the Eden, stake and apple story. Neither do I believe that God is an eternal jailer; that he is going to be the warden of an everlasting penitentiary in which the most of men are to be eternally tormented. I do not believe that any man can be justly punished or rewarded on account of his belief.

    But I do believe in the nobility of human nature; I believe in love and home, and kindness and humanity; I believe in good fellowship and cheerfulness, in making wife and children happy. I believe in good nature, in giving to others all the rights that you claim for yourself. I believe in free thought, in reason, observation and experience. I believe in self-reliance and in expressing your honest thoughts. I have hope for the whole human race. What will happen to one, will, I hope, happen to all, and that, I hope, will be good. Above all, I believe in Liberty (quoted in Williams: 67).
  2. Kebebasan dalam berkehidupan
    Filsafat Perancis abad ke 20, Jean-Paul Sartre (1905-1980), mengembangkan konsep ateistik eksistensialisme. Konsep yang didasarkan pada teori kebebasan manusia. Menurutnya: Jika kita mencoba untuk membayangkan suatu dunia yang diciptakan oleh pencipta ilahi supranatural, kita, sebagai manusia, tidaklah bebas. Kita hanya bisa memainkan peran yang sudah tertulis untuk kita. Konsekuensinya, hal ini menghancurkan kebebasan manusia secara keseluruhan.
  3. Ateisme atau non-teisme? 
    Dalam istilah populer, ateisme diasosiasikan dengan segala hal yang negatif, baik dari pola pikir maupun tingkah laku, terutama dari cara mereka «membela» pendapatnya. Mereka bereputasi sebagai orang yang arogan, berhaluan keras, penyebar, bersemangat tinggi dan juga tidak sopan atau kasar.

    Reputasi ateisme yang buruk ini membuat George Jacob Holyoake (1817-1906), seorang ahli sekuler Inggris, menciptakan sebutan ‘sekularisme’. Holyoake menciptakan kata ‘sekularisme’ karena adanya reputasi yang buruk pada kata ateisme. Dia mendefinisikan sekularisme atas keprihatinannya dengan masalah-masalah yang ada di dunia ini.

    Holyoake menyimpulkan sekularisme sebagai berikut:
    1. Secularism maintains the sufficiency of Secular reason for guidance in human duties.
    2. The adequacy of the Utilitarian rule which makes the good of others, the law of duty.
    3. That the duty nearest at hand and most reliable in results is the use of material means, tempered by human sympathy for the attainment of social improvement.
    4. The sinlessness of well-informed sincerity.
    5. That the sign and condition of such sincerity are – Freethought – expository speech – the practice of personal conviction within the limits of neither outraging nor harming others” .

Ateisme dikenal dengan image yang negatif dan setiap penulis yang berusaha menonjolkan ateismenya sebagai bagian dari gaya hidupnya terpaksa sering harus berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang tak terhingga.

Holyoake memberikan salah satu contoh tanya-jawab yang sering ia hadapi:

Tanya: Bukankah ateis terlalu arogan dengan bersikap seolah tahu bahwa Tuhan itu tidak ada?
Jawab: Ateis tidak menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, mereka hanya menegaskan bahwa alasan-alasan untuk mempercayai keberadaan Tuhan, tidaklah meyakinkan.

Tanya:Kenapa kita tidak diperbolehkan untuk beriman di dalam Tuhan?
Jawab:Ateis tidak menentang kebebasan berbicara atau kebebasan menentukan sikap hati nurani, mereka hanya mengklaim hak mereka untuk tidak setuju dengan seseorang yang menegaskan keberadaan Tuhan.

Tanya: Tapi, bukankah sikap ateisme sedikit arogan?
Jawab: Ateisme tidaklah lebih arogan daripada agnostisisme atau teisme. Arogansi/keangkuhan tidak berada dalam posisi ateisme melainkan berada dalam sikap orang-orang yang mempertahankan pendapat/dogmatic mereka dalam ketidakinginan mereka mendiskusikan pandangan mereka. Para ateis umumnya senang mendalami suatu diskusi.

Jenis ateisme.

Paul Cliteur membagi ateisme ke dalam tiga jenis:

  1. Private atheisme atau dikenal dengan ‘non teisme’: suatu pola pikir yang menolak pandangan teistik dan menyatakan bahwa keputusan mereka menjadi ateis dilakukan untuk maksud yang baik.
  2. Public atheism: para ateis yang berkeyakinan bahwa mereka patut berbagi prinsip dengan orang awam demi tercapainya masyarakat yang bersusila. Dalam jenis ini didapatkan unsur penyebaran dimana para ateis secara aktif berusaha merubah masyarakat sekitarnya.
  3. Political atheism: dimana satu negara berkeyakinan untuk memberantas segala agama hingga keakarnya, seperti yang terjadi pada Uni Sovyet dan Albania.

Menurut Paul Cliteur, untuk menjadikan ateisme sebagai posisi yang dapat dipertahankan, seharusnya ateisme masuk kedalam jenis ‘private atheism’ atau non-theism. Ateisme yang tepat selayaknya bersikap skeptis terhadap public atheism dan menghapus political atheism.
Namun, karena ateisme jenis pertama juga bisa berkonotasikan ateisme jenis kedua dan jenis ketiga, maka mungkin merupakan strategi yang mudah untuk berhenti menggunakan semua istilah jenis ateisme dan lebih merujuk pada penggunaan istilah ‘non teisme’.

Penutup:
Kesimpulannya, apakah ateisme suatu agama, atau suatu penyembahan, atau suatu grup, atau sesuatu yang imoral? Jawabannya adalah TIDAK, untuk semuanya.


Ateisme bukan satu agama karena mereka tidak memiliki pemikiran elemen agamawi.

Para ateis tidak menyembah kemampuan rasional mereka, karena kata ‘sembah’ bersifat sakral dan rutin. Sedangkan kemampuan rasional tidak mengandung nilai sakral dan tidak memiliki rutinitas.

Ateis bukanlah paham satu grup, karena ateis merupakan pilihan individualistik. Suatu pilihan yang dilakukan sendiri oleh diri sendiri, tanpa memiliki ikatan dalam struktur organisasi.

Ateisme bukanlah suatu pikiran yang imoral, karena mereka memiliki moral untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi dengan menghindari perbuatan jahat berdasarkan nilai-nilai manusiawi dalam kehidupan, bukan berdasarkan perintah agama ataupun rasa takut akan adanya neraka atau hukuman dari Tuhan.

Dan satu hal yang utama, kita tidak bisa dengan gampang memberi cap “ateis” pada seseorang hanya dikarenakan mereka tidak menganut agama monoteisme. Pada saat sekarang ini, walaupun kelihatannya banyak terdapat ateis di dunia ini namun sebenarnya sangatlah sedikit orang yang benar-benar mengaku secara lugas bahwa mereka ateis, karena kebanyakan yang terjadi adalah orang-orang yang di-BERI label atau di-CAP ateis oleh pihak oposisi. Hal ini terjadi tidak hanya dalam dunia politik, namun juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Seorang penganut aliran kepercayaan, ataupun politeisme, atau paganisme, bukanlah seorang ateis, karena mereka juga mengimani sesuatu yang lebih kuasa dari manusia dan bersifat luar biasa. Mereka mempunyai iman dan percaya pada sesuatu yang tidak dapat dirasakan oleh indra manusia. Jadi mereka tidak layak dicap sebagai ateis dan terlebih lagi, bukan berarti penganut paham komunisme. Oleh karena itu, peristiwa korban jiwa yang berjatuhan pada tahun 1965-1966 di Indonesia, lebih banyak  yang merupakan peristiwa pembunuhan/kejahatan masal daripada pembasmian paham komunisme.


Kepustakaan:

  • The Cambridge companion to atheism, edited by Michael Martin, Cambridge University Press, 2007.
  • Paul Cliteur, The Definition of Atheism, The Kripke Center, University of Leiden, the Netherlands, Journal of Religion and Society Volume 11, 2009.

Ini Budi!


Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi.
Nama “Budi” membawa angan saya melayang pada saat masih mengenakan seragam sekolah dasar. Saat “Budi dan Keluarga” menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Saat guru bahasa Indonesia berdiri di depan kelas dengan penggarisan panjang menunjuk tulisan kapur putih pada papan hitam, saat saya dan teman-teman sekelas melafalkan tulisan itu dengan keras dan lantang. “Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi”.

Budi dan keluarga menjadi bagian dari setiap anak-anak di Indonesia. Sekalipun pemeran dalam pelajaran membaca terdiri dari berbagai karakter pribadi (Budi, Amir, Wati, Bapak Budi dan Ibu Budi), namun pemeran utama dalam “teater” ini adalah Budi. Cerita kehidupan keluarga tersebut bertumpu pada kegiatan yang dilakukan Budi, apa yang dipikirkan Budi, bagaimana Budi menikmati hidupnya, bagaimana senangnya Budi bermain bola, dst. Semuanya bertumpu pada Budi dan Budi adalah sang selebritis pilihan .

Entah kenapa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) memilih nama Budi sebagai pemeran utama dalam pelajaran membaca. Kenapa bukan Amir yang menjadi pemeran? Atau kenapa bukan bapak Budi yang saya tidak ketahui namanya? Semuanya itu tidak pernah terpikirkan saat itu, saat saya masih bersekolah di SD.

Arti “Budi” itu sendiri bagi saya saat sekolah dasar adalah: tokoh dalam pelajaran membaca, nama teman sekelas yang duduk di barisan depan dan berada dalam urutan 10 murid terbaik, sebutan bagi seseorang yang bersikap baik hati dan tidak sombong.

Kata “Budi” pun saya pelajari sebagai kata yang menggambarkan sesuatu yang positif. Akal budi, hati budi, budi bicara, budi pekerti, budi daya, budi luhur, segala sesuatu yang berbau “Budi” menjadi contoh yang patut menjadi teladan bagi setiap anak-anak di Indonesia sejak mereka mengenal abjad dan tulis menulis.

Sejak setiap anak menjejakkan kakinya dalam dunia pendidikkan, maka mereka pun menjejakkan kakinya pada dunia BUDI. Mungkinkah pemerintah saat itu memilih “Budi” sebagai pemeran utama yang “membesarkan” setiap anak-anak yang ada di bumi Indonesia supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudi luhur, baik budi, berbudi bicara, berbudi pekerti dan berhati seperti “Budi”?

Tentu saja setiap bangsa di muka dunia ini menginginkan menjadi bangsa yang baik dan berbudi, setidaknya terlihat (seperti) bangsa baik dan berbudi. Begitu juga dengan bangsa yang lahir dan hidup di bumi pertiwi Indonesia, bangsa yang terkenal dengan keramah-tamahannya dan berbudi bicara, bangsa yang memperkenalkan kata “Budi” sejak dini kepada setiap manusia yang ada di Indonesia, jadi sudah sewajarnya jika bangsa Indonesia (bisa) menjadi bangsa yang berbudi.



Namun pertanyaan saya saat ini, di awal abad ke 21 ini, apakah bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa berbudi? Sudah tepatkah aplikasi «Budi» ke dalam setiap jiwa bangsa Indonesia?



Budiman dan Budiwati Indonesia abad ke 20 dan abad ke 21
Pada akhir abad ke 20, situasi di Indonesia secara kasat mata dapat dikatakan “berbudi dan dihidupi oleh para budiman dan budiwati”. Nama-nama koruptor yang tercuat pun hanya sedikit dibandingkan pada awal abad ke 21. Beberapa teman berpendapat secara kecut asam jawa bahwa memang pada awal abad ke 21, koruptor yang ada berjumlah buanyak gotong royong ramai-ramai membuat dunianya menjadi hijau loh jinawi.



Tapi sekalipun di akhir abad ke 20 hanya sedikit jumlah koruptor yang ngetop, namun dengan otoritas pemerintahan kleptocratic selama 32 tahun, bukan berarti kerugian negara dan kesusahan penduduk lebih sedikit dibandingkan awal abad ke 21.

Lalu benarkah di awal abad ke 21 ini, Indonesia (hanya) dipenuhi dengan orang-orang yang tidak berbudi?
Tentu saja Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh mereka. Di pelosok pedalaman, desa, kampung, tempat dimana alam masih menjadi guru dan teknologi masih gagap pakai, saya masih banyak menemui orang-orang yang berbudi. Orang-orang yang berbudi pekerti dan membudidayakan alam serta lingkungan sekitarnya dengan baik dan efektif. Orang-orang yang masih berhati perut, mempunyai hati budi yang turut memikirkan perut sekitarnya. Tapi mengapa mereka yang mencoba mengaplikasikan nilai "Budi" malah masuk dalam kategori penduduk kelas 3 atau kelas akhir atau bahkan korban dari penduduk kelas 1?

Lalu, salahkah menjadi penduduk kelas 1 atau penduduk kelas 2? Salahkah tinggal di kota? Salahkah mengenal modernitas dan teknologi? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu siapakah yang patut disalahkan? Salah "Budi" kah?
Jawaban dari pertanyaan ini saya jawab dengan pertanyaan lagi: kenapa harus mencari siapa yang harus dipersalahkan? Berkaca adalah tindakan yang tepat, mencoba mencari "Budi" dalam diri sendiri, dalam identitas diri.

Pertanyaan yang utama adalah kepada siapakah kita mengidentitaskan diri kita? Jawaban yang saya tawarkan adalah berkaca kepada himpunan Budi. Kepada "Budi" yang merupakan satu himpunan yang terdiri dari berbagai elemen baik POSITIF maupun NEGATIF.





Definisi Budi

Ahhh… jadi sesungguhnya apa arti Budi? Benarkah "Budi" juga mengandung elemen bernilai NEGATIF? Ada baiknya kita mencoba untuk mengenal dan mempelajari arti "Budi" jauh lebih dalam lagi. Arti "Budi" sebagai kesatuan dan satuan-satuan yang membentuk "Budi" menjadi satu keutuhan.


Nama "Budi" sejatinya berasal dari bahasa Sansekerta, “buddhi” yang berarti kebijaksanaan, pemahaman, atau kecerdasan. Di dalam Kamus Sansekerta-Inggris, buddhi didefinisikan sebagai "kekuatan untuk membentuk dan mempertahankan konsep-konsep dan gagasan umum, kecerdasan, akal, intelek, pikiran, penegasan, penghakiman " (Monier-Williams 1956:733).

Budi (“buddhi”) dalam bahasa Sansekerta adalah kata benda femina (kata benda maskulin: buddha) yang berhubungan dengan kebijaksanaan dan kecerdasan. Mempunyai kemampuan dalam berpikir serta mempunyai sifat diskriminatif, yang mampu membedakan kebenaran dari kebohongan sehingga dapat bersikap/bertindak bijaksana.

Dalam mitologi Hindu, Buddhi adalah nama dari istri Ganesha, dimana Ganesha juga dikenal dengan nama Buddhipriya yang berarti suami buddhi. Selain itu defini ini juga bisa berarti suka kecerdasan (Buddhi= cerdas; Priya= suka).

Buddhi juga merupakan salah satu filsafat India yang berisikan seperangkat alat-alat pengetahuan, kearifan dan keputusan. Suatu pengetahuan yang membuat seseorang menjadi kuat sehingga mampu membentuk, memutuskan serta mempertahankan suatu konsep, gagasan, akal, pikiran. Sesuatu yang mendefinisikan seseorang yang mempunyai kepandaian, dan dengan kemampuan diskriminatifnya membuat ia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, sehingga mampu memutuskan sesuatu secara bijaksana. Buddhi adalah sesuatu yang ideal bagi setiap insan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi dari “Budi” adalah sebagai berikut:

  • Alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk: pendidikan untuk memperkembangkan badan dan -- manusia.
  • Tabiat; akhlak; watak: orang yg baik -- .
  • Perbuatan baik; kebaikan: ada ubi ada talas, ada -- ada balas .
  • Daya upaya; ikhtiar: mencari -- untuk mengalahkan lawan.
  • Bahasa tingkah laku dan tutur kata; tingkah laku dan kesopanan; -- bicara ;akal budi; -- pekerti; tingkah laku; perangai; akhlak.
  • akal (dl arti kecerdikan menipu atau tipu daya): bermain --.
  • ber•bu•di: 1 v mempunyai budi; 2 v mempunyai kebijaksanaan; berakal; 3 v berkelakuan baik; 4 a murah hati; baik hati.
  • mem•per•bu•di•kan: v memperdayakan; menipu.
  • se•bu•di, (dng) - akal (dng) segala usaha.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta, 1991.
  • Lim Kim-Hui, “Budi as the Malay Mind”, IIAS Newsletter no 31, International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden, 2003.
Jadi arti “Budi” dalam bahasa Indonesia merupakan satu himpunan dari segala tabiat, akhlak, watak, perbuatan baik, tingkah laku dan tutur kata, kesopanan perangai, daya upaya, ikhtiar, kecerdikan daya upaya menipu atau tipu daya, yang semuanya ini dianggap sebagai satu kesatuan.


“Budi” dalam KBBI ternyata mempunyai konotasi negatif yang terselimuti sebaran konotasi positif. “Budi” dalam bahasa Indonesia tidak hanya sekedar berarti baik, luhur dan bijaksana, namun “Budi” juga berakal yang bisa digunakan untuk melakukan tipu daya, seperti kata “bermain budi”, “memperbudikan” .

Jadi, benarkah bangsa Indonesia yang mengenal kata “Budi” sejak sekolah dasar menjadi bangsa budiman dan budiwati yang akhirnya mengaplikasikan semua komponen positif dan negatif secara bersamaan? Baik hati dan ramah tamah namun juga munafik dan penipu, bagaikan serigala berbulu domba?

Bagi saya pribadi, “Budi” adalah kata yang tepat dan jujur untuk menggambarkan seorang manusia yang utuh. Setiap manusia mempunyai sifat positif dan negatif. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi baik dan juga mampu menjadi munafik, mampu menjadi pembela keadilan dan mampu menjadi pemberantas keadilan. Kunci utama yang terletak dalam kata “Budi” adalah pengaplikasian posisi serta fungsi dan kombinasi nilai elemen-elemen “Budi” yang terkandung di dalamnya.

Mengutip tulisan Lim Kim-Hui dalam tulisannya yang berjudul “Budi as the Malay Mind” dikatakan, “arti Budi sebenarnya jika dilihat melalui rasionalitas mungkin menuduh “Budi” bermuka dua, munafik, curang, atau tidak tulus dalam mengatakan kebenaran. Tapi klaim ini berlaku di satu sisi, karena dalam arti lain kita mungkin perlu melakukan pemeriksaan lebih pada filosofis dan argumentasi. Misalnya, pada saat terjadi konflik yang memanas, dialektik keteladanan yang kuat (mungkin) bisa merugikan (yaitu, tuntutan kehidupan), dan karena itu orang harus 'berbohong' dalam rangka menjaga keharmonisan. Tapi 'kebohongan' ini harus diuraikan saat konflik sudah mendingin. Inilah semangat sejati dari ‘Budi dan elemennya”.

“Budi” dan elemen-elemennya bekerja sama untuk mewujudkan satu tujuan yang menghasilkan enlightenment (pencerahan/penerangan). Elemen-elemen bernilai positif berada pada posisi dari dalam hingga ke posisi paling depan, dan berfungsi untuk menciptakan ide/gagasan, melakukan dan mewujudkan gagasan sehingga mencapai tujuan dari ”Budi” (kebijaksanaan).

Sedangkan elemen bernilai negatif berada pada posisi dimana ia berfungsi sebagai pendukung dan pertahanan elemen-elemen bernilai positif. Nilai-nilai negatif bekerja dan berfungsi untuk mendukung serta mempertahankan gagasan, ide ataupun tindakan yang diciptakan oleh nilai-nilai positif sehingga kesatuan dari kerjasama nilai positif dengan dukungan nilai negatif menjadi satu pencerahan (enlightenment) yang berakhir pada satu tindakan kebijaksanaan yang bijaksana.

Sejak sekolah dasar, manusia di Indonesia diajarkan dan dikenalkan pada definisi “Budi” yang HANYA bernilai positif. Sedangkan nilai berkonotasi negatif tersembunyi dalam-dalam tanpa diperkenalkan secara luas. Akibatnya, pengaplikasian “Budi” dalam kehidupan hanya berfungsi setengah bagian. Pengaplikasian yang setengah dikarenakan pengetahuan dan pengertian yang ada hanya diberikan sebagian saja, membuat tujuan dari “Budi” (kebijaksanaan) menjadi gagal.

Salah satu contoh pengaplikasian “Budi” yang hanya mengutamakan nilai-nilai positif misalnya adalah pengaplikasian nilai rendah hati sebagai salah satu elemen “Budi”. Pengaplikasian nilai "rendah hati" yang berlebihan untuk mencapai satu keharmonian malah berakhir menjadi "rendah diri". Dimana rasa rendah diri mengakibatkan perubahan peranan manusia menjadi korban sesama manusia, menjadi pihak yang dimangsa.
Adapun masalah yang lebih parah lagi dalam pengaplikasian “Budi” bukan saja karena pengaplikasian “Budi” yang tidak sempurna/setengah, tapi juga PEMBALIKAN dari posisi dan cara kerja fungsi elemen-elemen yang ada pada ”Budi”.

Cara bekerja yang seharusnya bagi “Budi” dan elemen-elemennya adalah pengaplikasian nilai-nilai positif untuk menciptakan dan mewujudkan gagasan dengan dukungan nilai negatif untuk mencapai hasil positif secara keseluruhan yaitu kebijaksanaan.

Salah satu contoh yang paling mudah kita temui adalah cerita rakyat "Kancil & Buaya". Kancil adalah salah satu contoh perwujudan dimana Kancil digambarkan bersikap dan bertidak dengan nilai positif. Untuk mempertahankan konsep dan gagasannya yang positif, ia mengaplikasikan nilai negatif dengan melakukan penipuan. Penipuan disini merupakan hasil bernilai negatif yang berasal dari pengaplikasian nilai positif (ikhtiar dan kecerdikan daya upaya menipu). Hasil akhir dari nilai negatif ini digunakan untuk mendukung aplikasi keseluruhan elemen-elemen bernilai positif yang berakhir pada kebijasanaan (buddhi).

Namun kenyataan yang terjadi saat ini adalah pembalikan fungsi dan posisi “Budi” dan elemennya, dimana elemen-elemen bernilai negatif di jadikan dasar untuk menciptakan suatu gagasan dan mengambil alih nilai positif untuk mencapai hasil negatif secara keseluruhan yaitu keegoisan. Pengaplikasian elemen-elemen “Budi” yaitu pintar (positif) dan penuh akal (positif) dalam “bermain budi” (negatif) untuk memenuhi kepuasan egonya (negatif).

Salah satu contohnya adalah seseorang yang mengetahui dengan jelas dan pasti akan adanya nilai “hutang budi” yang berlaku dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dengan gagasan/ide suatu penipuan yang didasari oleh keegoisan (negatif), seseorang menggunakan akal pikiran (positif) dengan memanipulasi (negatif) prinsip “balas budi” (positif), memanipulasi sifat “budi luhur” (positif) untuk mewujudkan aplikasi keseluruhan dari elemen-elemen bernilai negatif (keegoisan) yang berakhir pada keangkaraan (ahamkara) .



Lalu sekarang, mau dibawa kemana bangsa ini? Bangsa yang mengaplikasikan “Budi” dan elemennya dengan utuh dan benar atau bangsa yang mengaplikasikan “Budi” dan elemen-elemennya dengan terbalik?
Saya sendiripun belum bisa menjadi budiwati yang sempurna dengan segala sifat baik dan sifat buruk. Satu hal yang saya coba aplikasikan dalam kehidupan yang tersisa adalah kembali belajar tentang “Budi”. Kembali belajar, “ini Budi! Ini elemen-elemen Budi. Ini identitas Budi!”. Kembali kepada “Budi”, memahami “Budi” dan berkaca kepada identitas “Budi” yang seharusnya.

Lalu, berusaha mengajari anak saya akan identitas “Budi”, mencoba membuat anak beridentitas “Budi” dengan sebenarnya. Semoga saja dengan mengenalkan dan mengajarkan “Budi” dengan lengkap dan benar, saya masih mampu menyelamatkan dunia masa depan anak bersama buddhi (bijaksana) yang utuh.



Ini cicak tetangga BUDI, ini buaya kenalan BUDI, ini Century bermain BUDI, ini KPK musuh Budi, ini Gayus mem-per-BUDI- daya-kan ...


Arita - CH

Kepustakaan:
 Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 24 Mei 2010 (Klik)

Kutukan Suster Ngesot

Kutukan Suster Ngesot
Dimuat di KoKi (Kolom Kita) Rabu, 9 Desember 2009
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1079/kutukan_suster_ngesot

Sambil mengucek-ngucek mata, kutatap pemandangan yang terhampar dihadapan. Lantai berkeramik putih, orang-orang yang berpakaian serba sama dan beberapa perempuan berseragam suster. Satu hal yang membuat mereka semua seragam dan tampak sama, semuanya dalam posisi mendeplok di lantai dan tidak berjalan melainkan semuanya mengesot!

Terpana melihat manusia yang mengesot dengan nyaman di lantai, kusadari bahwa dirikupun sedang dalam posisi setengah berbaring di lantai. Tak percaya dengan situasi yang sedang kujalani, kucubit diriku, meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Namun ternyata, rasa cubitan menjepit sakit dan aku tidak terbangun!

Sambil tertatih kucoba berdiri, melarikan diri dari posisi ngesot, tapi ahhhh rasanya kedua kaki terpaku kaku, tak mampu menegakkan lutut untuk berdiri layak. Akupun terjatuh dan kembali dalam posisi semula, tidak mampu berjalan, hanya bisa mengesot!

Di kejauhan kulihat seorang suster mengesot dengan sigap menghampiriku. Tatapannya yang pasti dan tajam meyakinkanku bahwa dia seorang suster yang profesional dalam bidangnya. Dengan cepat kuajukan pertanyaannya, saat jarak dia dan aku tidaklah terlalu jauh untuk berbicara dengan nada rendah.

“Sus, kenapa saya ada disini, apakah saya sedang bermimpi?”

Suster itu mengerutkan keningnya lalu menjawab dengan tegas.

“Ya, kamu sekarang sedang bermimpi dan kamu berada di tempat kami, dunia kami.”

Hah! Terbelalak aku mencoba meyakinkan, kenapa aku tidak terbangun saat mencubit lengan dengan keras?

“Jadi saya memang sedang bermimpi? Saya ada dimana? Dan kenapa semua orang disini mengesot?”

“Kamu ada di dalam dunia Rumah Sakit Per-ngesotan dan semua yang ada disini harus mengesot, hanya para dokter yang berada dalam posisi berdiri dan bisa berjalan.”

“Semuanya harus mengesot? Termasuk saya? Ah tidak mau! Saya tidak mau mengesot?” jawabku setengah berteriak.

“Kalau tidak mau mengesot, lalu kenapa kamu ada disini, kan kamu sendiri yang memilih untuk memasuki dunia pengesotan, sekarang jalanin saja apa yang ada” balas Suster tersebut dengan sengit.

“Saya kan sedang bermimpi, Sus, mana bisa saya memilih mau mimpi apa. Kalau saya bisa memilih, tidak akan pernah saya memilih untuk memasuki dunia pengesotan ini, hiks hiks” suaraku mulai melemah, tanda tidak tahu harus berbuat apa.

Suster itu mulai menampakkan rasa empati kepadaku, dengan tatapan ramah dia mencoba menghiburku.

“Sudahlah, terima saja apa adanya. Kita memang tidak bisa memilih tempat dimana kita dilahirkan, tempat dimana kita bermimpi. Sekarang, jalanin saja kehidupan mimpimu ini di dunia pengesotan. Terima apa adanya, ya... Sudah cup cup cup, jangan menangis...”

Dengan tersedu aku mulai menyadari bahwa diriku kini memang harus menjalani kehidupan perngesotan di dunia yang serba ngesot. Kini apa yang harus kulakukan? Peran apa yang harus ku ambil dalam dunia ini?

“Sus, saya mau menjadi dokter saja, biar bisa berdiri dan berjalan dengan normal. Bagaimana caranya untuk menjadi dokter?”

Suster cantik nan ramah menghela napas panjang, lalu menerangkan panjang lebar dengan kesabaran optimal layaknya seorang profesional.

“Menjadi dokter di dunia perngesotan itu tidak gampang. Bermodalkan ijasah saja tidak cukup. Mereka harus berjuang dengan keras untuk keluar dari kebiasaan mengesot. Jangan salah, beberapa dari mereka juga dulunya mengesot seperti kami. Namun dengan jalan yang panjang dan berliku mereka berhasil berdiri dan tidak mengesot lagi. Untuk bisa sampai dalam tahap berdiri, ada banyak cara yang dilakukan, dari berkampanye dimana-mana sampai mengorbankan harta dan perasaan, bahkan kadang mereka juga mampu mengorbankan moral, keluarga serta orang-orang yang ada disekitarnya. Mengesot bertahun-tahun sambil meleletkan lidah mendekati para dokter yang sudah berhasil berdiri, lalu mereka menjadi berani nekat mengambil sikap ekstrem mematahkan dengkul dokter yang mereka kenal dengan baik, sehingga mereka dapat mengambil alih posisi berdiri dokter yang kini hanya bisa mengesot beneran karena kondisi kakinya yang patah.”

Hiiii, kok seram begitu usaha dan perjuangan menjadi dokter? Bagaimana aku bisa berkampanye? Satu-satunya yang kupunya hanya baju tidur yang kupakai sekarang. Mana aku tahu harus mengantongi uang dan ijasah sebelum tidur?

“Sus, saya mau mencoba jadi suster saja deh, syarat-syaratnya apa ya?” tanyaku sambil kedap-kedip harap-harap cemas.

Kembali suster menghela napas, sekalipun tidak sepanjang helaan napas sebelumnya, namun jawabannya pun membuat kepalaku tidak berhenti dari rasa bingung dan pusing.

“Jadi suster juga tidak segampang dugaan kamu. Tugas suster itu mengabdi, jadi harus sabar mengatasi keresahan dan kesusahan mengesot para pasien yang mengesot. Sebagai suster, harus mampu menolong sekalipun dalam keadaan mengesot. Tapi jangan sangka kami para suster bersikap seperti itu semua. Ada memang suster yang mengesot dengan tenang dan melayani secara profesional sekalipun dalam posisi mengesot. Ada suster yang hanya pasrah mengesot tanpa berbuat lebih banyak pokoknya yang penting tiap bulan terima gaji. Ada juga suster yang dengan sengaja membuat pasien mengesot melebihi kemampuan dayanya, sehingga pasien tersebut lelah jiwa dan raga, sudah sakit lalu dimanipulir mengesot di lantai untuk mengepel ruangan setiap hari. Ada lagi jenis suster yang mengesot membersihkan tempat tidur pasien plus membersihkan pasien hingga ke kantong baju-bajunya sampai habis dengan alasan birokrasi yang rumit dan ruwet. Nah, sekarang kamu mau jenis suster yang mana?”

Ditanya dengan pertanyaan seperti itu, membuat saya melongo terplongo-plongo. Bagiku menjadi dokter banyak pengorbanannya dari korban harta hingga korban moral dan idealisme, jadi suster pun sama pusingnya, harus bisa memilih menjadi korban diri atau mengorbankan orang lain. Tampaknya aku memang harus memulai dari bawah, menjadi pasien. Sekalipun posisi sudah dibawah, ditambah mengesot dengan terengah-engah, setidak-tidaknya aku bisa mempunyai harapan untuk sembuh dan mampu keluar dari Rumah Sakit Perngesotan ini.

“Sus, saya daftar jadi pasien saja, bagaimana caranya?”

Suster tersebut lalu mengajakku berlalu mengesot ke luar ruangan, melewati taman dan memasuki suatu ruangan besar mirip aula. Dengan terkesot-kesot, aku mengesot terengah-engah melewati batu kerikil yang tersebar di taman, menyeberanginya dengan susah payah karena tidak terbiasa mengesot dengan waktu yang lama.


Tak lama kumasuki ruangan besar dan kulihat antrian panjang orang-orang yang mengesot di lantai. Ada yang sedang duduk mengesot hingga terkantuk-kantuk, ada yang sedang mengopi dengan nikmat, ada yang sedang duduk mengesot sambil membaca buku, ada juga yang asyik mengesot sambil bergosip bla bla bla, bahkan ada yang sedang mengesot sambil arisan.

“Untuk menjadi pasien di Rumah Sakit Perngesotan, pertama harus lapor diri, punya surat pengantar dari RT/Desa, foto copy Kartu Keluarga, foto copy Akte Kelahiran, pas foto hitam Putih ukuran 3x4 cm sebanyak 2 lembar, serta membayar biaya administrasi. Berhubung kamu baru saja mendarat di dunia perngesotan seorang diri, maka untuk surat pengantar, kartu keluarga, akte kelahiran, dan foto, bisa kami bantu membuatkan. Yang penting biaya administrasi harus dilengkapi dengan benar” kata suster cantik dengan nada suara yang mirip dengan orang yang sedang membaca formulir pendaftaran.

“Tapi Sus, saya kan tidak punya uang sama sekali, baju tidur saya pun tidak berkantong, bagaimana saya bisa membayar semua itu?” wajahku pun mulai memelas putus asa.

Suster cantik membelalakkan matanya, persis akting para artis sinetron televisi.
“Ya ampun, kamu ini tidak kreatif sama sekali deh. Hari gini masih basic standard, malu dong sudah jaman 3G masih pakai yang standaran model batu bata. Kalau tidak punya uang ya kerja dong, usaha! Terserah kamu bagaimana caranya. Banyak jalan keluar untuk mendapatkan uang, bisa mengesot sambil mengepel lantai ruangan tunggu, atau mengesot sambil meraup sampah yang banyak keluyuran di taman, atau mengesot sambil mengemis di lampu merah, atau mengesot di tengah jalan berpura-pura menjadi korban, lalu memeras orang. Atau kalau kamu tidak mau memeras orang, ya memeras sapi atau kambing, di halaman belakang rumah sakit ada peternakan sapi dan kambing. Pokoknya usaha dan dapat uang, lalu bayar biaya administrasi sehingga kamu bisa terdaftar sebagai warga dari Rumah Sakit Perngesotan.”

Akhirnya akupun memutuskan diri untuk bekerja dari pagi hingga petang, di mulai mengesot mengepel lantai, membersihkan sampah dan memeras sapi di halaman belakang. Aku memang tidak memilih untuk memeras orang, karena pengalaman pernah diperas oleh orang membuatku trauma dengan peras memeras. Paling apes, aku memilih bekerja untuk memeras pakaian saat mesin cuci rumah sakit tidak berfungsi karena listrik yang byar pet tidak kejuntrungan, kapan hidupnya.


Setelah beberapa hari mengesot dengan keras, susah payah memeras sapi dan pakaian, akhirnya aku berhasil mengumpulkan dana untuk membayar biaya administrasi.
Dengan bangga, diriku mengesot percaya diri, menuju ruangan pendaftaran dengan membawa surat-surat persyaratan dan tentu saja biaya administrasi yang kudapatkan dari kemampuan dan pengalaman memeras sapi dan pakaian selama beberapa hari.

Saat tiba di hadapan petugas administrasi, kuserahkan semua persyaratan dengan senyum mengembang lebar. Petugas itu lalu memeriksa semua persyaratan dan jumlah recehan hasil perasan keringatku, lalu dia menatapku dengan pandangan bingung. Minder takut salah hitung recehan, aku langsung bertanya dengan pelan. “Kenapa Pak? Kurang berapa recehannya, Pak?”

“Biaya rawat inapnya, mana?” Petugas administrasi lalu memberikan selembar kertas yang mirip daftar harga yang sering tertera di iklan supermarket atau papan iklan depan komplek pertokoan. Hanya bedanya, tidak tertulis kata discount 70%, obral ataupun sale.

Yang tertulis adalah jenis kamar tidur dari kelas VIP hingga menurun ke kelas kambing (maksudnya tidur di di halaman belakang dalam kandang kambing), menu makanan setiap hari dari menu restoran bintang lima hingga menu dapur bintang tujuh (juru masaknya pusing karena tidak tersedianya bahan baku makanan), jenis obat yang dipergunakan ada yang kelas manjur atau kelas setengah manjur setengah sakit, atau ada juga pilihan tidak pakai obat sama sekali, mau suster lulusan SMK atau lulusan universitas dengan gelar S1 atau master, mau dokter yang lulusan lokal atau lulusan internasional atau lulusan aspal ijazah boleh nembak (ini yang lumayan murah) atau dokter yang belum lulus dan dipekerjakan gratis secara paksa tidak suka rela di Rumah Sakit Perngesotan (nah ini, yang paling murah!).

Melihat aku yang masih bingung tidak punya recehan lagi, petugas administrasi mencoba menenangkan kegelisahan yang menggelora di dada dengan berkata mendayu-dayu.

“Jangan bingung dan ragu, kami ada untuk membantu dan kami ada karena anda. Kalau kelas anda hanya sampai pada batas recehan dan saat ini anda sudah tidak mempunyai simpanan recehan lagi, maka anda bisa memulai dengan melakukan simpedes, yang artinya simbok mangan pedes.

Anda harus mampu menahan rasa pedas karena anda akan bekerja untuk membayar perawatan anda. Anda akan saya masukkan dalam kelas kambing sehingga anda bisa kembali bekerja memeras kambing, lalu untuk menu makanan sehari-hari akan saya pilihkan menu dapur bintang tujuh dimana anda harus memetik sendiri bahan makanan yang tersedia di halaman belakang, kebetulan tanaman yang ada hanya dedaunan buat makan kambing dan sapi. Tapi jangan khawatir, kami juga menanam pohon cabe untuk memberikan rasa nikmat pada salad anda.

Suster yang akan merawat anda adalah suster yang bertugas dibagian kebersihan, sehingga anda dapat bekerja membantu suster anda dengan mengesot membersihkan lantai, sedangkan dokter pilihan yang tepat untuk anda adalah dokter yang belum lulus dan dipaksa bekerja disini karena tidak lunas membayar hutang administrasi. Dengan demikian, anda dapat bekerja dengan dokter tersebut melakukan foto kopi kertas tugas mereka, berhubung mereka bukan termasuk dokter yang sudah berdiri tapi dokter yang masih ngesot seperti anda, sehingga mereka tidak punya waktu cukup untuk mengesot dari ruang kerja ke ruang praktek lalu ke ruang fotokopi.

Ini nomor anda dan sekarang silahkan mengesot menuju kamar anda di halaman belakang, terima kasih atas kerjasamanya dan selamat beraktivitas, semoga tidak sembuh-sembuh!”


“Tunggu dulu, Pak,” sergahku dengan cepat. “Obat untuk saya bagaimana? Kok tidak ada dalam aplikasi program yang dipilihkan untuk saya?”

Petugas tersebut kembali tersenyum merayu lalu mendayu dengan mesra membisiki telinga ku.
“Anda kan hanya kelas recehan, jadi obat untuk anda ya hanya anda sendiri yang tahu dan anda sendiri yang harus berusaha mencari.

Maaf, sistim sosial kami tidak mengenal dan tidak memiliki program tunjangan sosial. Tapi jangan khawatir, sekali lagi ada jalan keluarnya.

Kalau anda ingin mendapatkan bantuan sosial, anda bisa mencarinya pada pihak swasta dengan menghubungi para rentenir atau turut berpartisipasi saat kampanye, atau juga anda bisa mendatangi orang-orang yang sedang mengumpulkan kekuatan (baik dalam bentuk tenaga maupun doa) untuk menjadi raja kecil, biasanya mereka cukup royal membagi-bagikan recehan.

Semua kemungkinan untuk mendapatkan bantuan sosial bisa anda temukan dalam lingkungan para pasien. Jadi, segala permasalahan anda telah kami atasi. Terima kasih untuk memilih dan mempercayai kami sebagai tempat kehidupan anda.”


Selesai membisikiku dengan mesra, lalu petugas tersebut mendorongku mengesot jauh, meninggalkan tempat pendaftaran.


Terdampar di halaman belakang, di depan kandang kambing, akupun mendengus seperti kambing jantan yang sedang mendengusku keheranan akan bau yang berbeda.

“Huh! Siapa yang memilih dan mempercayai kalian? Kalau bisa memilih, aku tidak akan memilih dilahirkan, eh salah, bermimpi hidup di dunia perngesotan. Kalaupun aku nanti mati, aku tidak akan mau mati dalam keadaan mengesot, bisa-bisa arwahku nanti dibajak oleh produser film kelas semprul untuk dipaksa berakting dalam film dengan judul “setan ngesot cap babak belur”. Tidak!!! Aku harus berusaha sembuh secepatnya dan keluar dari dunia perngesotan ini, sebelum aku menjadi manusia ngesot seumur hidup!”


Mulai hari itu, aku berdaya sekuat tenaga, berusaha untuk menjadi pemeras sapi dan kambing serta pakaian yang gigih, memetiki daun-dedaunan serta cabe sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali ke tengkulak yang biasa menunggu di pintu belakang, mengepel lantai ruangan menjual kemampuan ngesot per meter persegi, membantu para dokter yang belum lulus dan masih ngesot dengan memfoto kopi kertas kerja serta diktat-diktat mereka, sambil membaca dan mempelajari contoh kasus yang tertulis, sehingga perlahan-lahan tapi pasti aku mulai mengetahui bagaimana caranya untuk menyembuhkan diri dengan murah tapi manjur. Kudapati dan kupelajari rahasia kemenangan. Cara untuk memupuk dan menyuburkan harapan dalam diri.


Recehan-recehan yang kutabung mulai membukit serta pengetahuan yang kudapat mulai bertambah. Melihat keadaanku yang mulai membaik, para tetangga sesama pasien kelas kambing yang menghuni di kandang kambing ini, mulai bertanya-tanya. Akupun lalu mulai membagi kiat-kiat tentang adanya keberadaan sebuah harapan, sehingga kami semua mulai belajar sendiri bagaimana caranya menyembuhkan diri sendiri tanpa harus mengeluarkan banyak recehan. Kami mulai menanam harapan dalam jiwa kami.


Semakin lama, usaha kami para pasien kelas kambing mulai menampakkan hasil. Wajah kami tidak lesu seperti wajah kambing yang mau dipotong dan badan kamipun mulai tidak berbau kambing bandot. Jiwa kami mulai dirambahi oleh harapan demi harapan, sehingga kami mampu tertawa lepas bersenda gurau dengan kambing-kambing yang menemani kami dengan setia setiap saat.


Perubahan keadaan kami para pasien kelas kambing rupanya dipantau dengan ketat oleh para pihak atas. Dari para petugas administrasi, para suster, para dokter hingga pihak direksi mulai kebat-kebit melihat keberhasilan dan harapan kami yang memuncak tinggi, yang bisa membuat kami dapat segera sembuh dan keluar dari Rumah Sakit Perngesotan.


Kami dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu kestabilan dan kemakmuran dunia perngesotan. Tak lama kemudian pihak direksi mengirim suster cantik nan ramah yang kutemui saat pertama kali aku tiba mengesotkan diri di dunia perngesotan.


Suster cantik yang kini nan tidak ramah, mendatangiku dengan wajah garang. Membuat kambing-kambing mengembik-embik menyingkir ketakutan. Sementara aku terseot-seot mengesot ke pojok ruangan, berusaha menjauhi suster cantik yang mengesot dengan galak ke arah ku.


“Kamu! Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan, hah? Kamu pikir kamu bisa sembuh begitu saja? Kamu pikir dengan harapan yang ada serta kerja keras mengumpulkan recehan bisa membuatmu keluar dari dunia kami? Hah! Kamu ini kan sedang bermimpi, bagaimana kamu bisa melakukan hal tersebut? Mimpi kamu! Dan teruslah bermimpi! Tidak ada satupun pasien kelas kambing ini dapat keluar dari kandang kambing. Berani melawan kami maka kalian bisa kena gusur. Akan kami porak porandakan kandang kambing ini!”.


Akupun menjadi sewot bagaikan semut diinjak oleh gajah, maka aku segera mengajak semut-semut lainnya untuk membalas menggigit gajah tersebut beramai-ramai.

“TIDAK! Kami tidak akan pasrah mengesot di kandang kambing dan menjadi pasien kelas kambing seumur hidup, memeras kambing dan lalu diperas oleh kalian. Kami akan bekerja, berusaha sekuat tenaga mengesot dengan akal dan pikiran, menyembuhkan diri kami tanpa perlu memeras manusia dan menabung harapan demi harapan. YA! Kami berbeda dengan kalian, kami memang kelas kambing tapi kami mempunyai harapan. Harapan adalah kekuatan kami yang mampu membuat kami bekerja jauh lebih giat dari kalian. Harapan membuat kami menjadi sehat secara rohani dan jasmani. Kami memang pasien kelas kambing, tapi dengan adanya harapan, kami lebih sehat dari kalian. Karena kalian tidak mempunyai harapan!”

Aku berteriak dengan keras membalas tantangan suster cantik nan tidak ramah, begitu juga para pasien kelas kambing mulai meneriakkan yel-yelan “Kami punya harapan. Anda tidak!” secara serentak dan bersama-sama.


Suster cantik nan ramah mulai tidak sabar dan tidak ramah lagi. Ambang kemarahannya sudah meluap melewati titik batas kebanjiran. Dengan gemuruh kilat petir bersambung-sambungan, hujan mendadak turun membasahi kandang kambing yang berlantai tanah. Air mulai memasuki kandang kambing dan petir serta kilat mematahkan tiang bangunan yang terbuat dari dahan pohon kecil.

Suster cantik nan ramah kini terlihat tidak cantik dan tidak ramah lagi. Rambutnya yang tadi bersanggul rapi, mulai lepas terurai awut-awutan. Wajahnya memerah kotor penuh dengan warna merah dari beceknya tanah merah yang basah. Dengan ekpresi wajah yang menakutkan, suster mulai mengesot. Jari telunjuk dari tangan kanannya menunjuk ke kami, tangan kirinya menyentuh tanah, dengan kaki kiri yang menempel ke tanah, ia menggerakkan kaki kanannya ke udara, lalu ia berteriak dengan kencang.

“Ku kutuk harapan kalian menjadi basa basi. Ku kutuk harapan kalian menjadi batu penghalang yang bisa membuat kalian tersandung. Ku kutuk harapan kalian menjadi slogan-slogan manipulasi dalam berkampanye, ku kutuk harapan kalian menjadi boomerang yang akan membuat kalian menjadi budak ngesot seumur hidup, kukutuk harapan-harapan kalian menjadi fitnah nan kejam. YESSSSS!”


Gemuruh kilat saling bergeraman satu dengan lainnya menandakan dimulainya kutukan suster ngesot. Mendadak aku melihat harapan kami mulai layu menjadi kayu mati satu demi satu.

TIDAKKKKKK!

Brak! Pinggulku serasa pedas dan sakit. Lantai kayu dingin menyengat bagian bawah badanku. Mendadak aku menggigil kedinginan, namun aroma kopi segar dan hangat menyergap hidung. Menggelitikiku dengan manja, membangunkanku dari aroma kambing bandot.

“Lho! Kenapa kamu tidur di lantai? Dingin kan. Ayo bangun, kopinya sudah siap.” Suara ajakan tersebut seperti suara yang kukenal, suara orang yang sudah menemaniku bertahun-tahun. Suara orang yang bisa membuat hatiku tergetar saat ia memanggil namaku.

Aku menatap dirinya, lalu mencium kembali aroma kopi hangat, lalu memperhatikan keadaan sekitarya. Aku tidak lagi di dalam kandang kambing yang sedang kebanjiran penuh dengan lumpur tanah merah. Sedangkan manusia dihadapanku bukan lagi suster yang tidak cantik lagi dan tidak ramah lagi, melainkan suamiku. Orang yang sekalipun ramah ataupun lagi tidak ramah tetap aku cintai, apalagi kalau dia sedang rajin menjamahku, ohhh...

“Kenapa sih, kamu ada di lantai? Jatuh ya? Kenapa bisa jatuh?”

“Hiii, aku habis mimpi buruk, hiiii...”

“Hah? Mimpi buruk apa?”

“Mimpi di kutuk suster ngesot. Hiii seram! Dia mengutuk harapan menjadi kayu mati, hiks hiks”


Suamiku bengong, lalu buru-buru memberikan secangkir kopi hangat kepada ku. “Cepat diminum kopi ini. Dan hidupkan kembali harapanmu. Sekalipun dalam mimpi, jangan biarkan seorang pun mematikan harapanmu.”

Segera aku bangkit, girang karena bisa berdiri segera kuteguk kopi hangat, membiarkannya mengalir memanasi perutku yang dingin, menjalar membangunkan harapanku, akan hari yang baru. Akan matahari yang terbit dan selalu terbit keesokkan harinya. Matahari yang selalu ada setiap harinya, yang mampu memberikan harapan hari demi hari dan membakar kutukan suster ngesot!!!


7 Desember 2009