Kangen

Kangen

12.07.2006.

Dear Zev dan para pembaca lainnya,

Hari minggu 9 Juli yang telah lewat merupakan puncak acara dari pertandingan sepak bola dunia, dimana pada hari tersebut juga menjadi moment penting bagi suami dan mertua yang menjagokan Italia. Kami semua berkumpul di rumah mertua untuk nonton bersama-sama, komplit, tiga bersaudara plus satu menantu. Sayang tidak ada singkong goreng dan combro buat cemilan, hanya Pizza ala mertua yang menjadi cemilan plus makan malam depan televisi.

Saya yang “buta” akan dunia persepakbolaan pada awalnya hanya duduk diam (tidak 100% diam karena mulut bergerak-gerak ngemil pizza ala Italia yang sebesar tetampah beras) di depan televisi sambil menunggu saat-saat teriak “Gol”! Maksudnya hitung-hitung meramaikan suasana, sebab saya tidak paham apa-apa. Detik berlalu berganti menit, pizza saya akhirnya habis juga, televisi pun masih seru dengan permainan kejar satu bola oleh 22 orang, dan komentatornya itu... wah yahud!


Saya merasakan gegap gempita dan membawa saya masuk ke dalam alam persepakbolaan secara natural. Komentator yang berteriak, menyebutkan nama pemain satu persatu, berkomentar tentang pemain –wah saya lupa namanya siapa – sebagai “nostra fortezza, nostra sicurezza (benteng pertahanan kami, keamanan kami)”, lalu saat-saat bola terlempar ke dalam jaring dimana semua teriak “golllll!”, saya juga akhirnya berteriak cukup keras, menyamai suara suami. Saat pemain bermain dengan jelek, komentator lalu berteori “wah si ...anu.. pasti sudah kecapaian, mestinya begini-begitu, bla, bla, bla...”. Saat Zidane (yang ini akhirnya saya ingat namanya) menanduk pemain Italia dengan kepalanya yang polos plontos, sang komentator pun menjerit seakan-akan Zidane sedang menyeruduk si komentator, begitu juga mertua, ipar-ipar dan suami saya. Waduh duh duh, keseruduk Prancis!. Wasit pun meniup pluitnya, pritttttt, kartu merah melompat dari kantung atas baju si Wasit, undangan buat Zidane keluar dari jagat raya persepakbolaan.

Kembali saya mendengar komentar dari para komentator, bahkan ada yang berteriak mencaci maki (di televisi juga lupa tata krama ya...?). Lalu akhirnya kemenangan diraih, segala pujian, dan teori-teori, saya dengar dari komentator televisi juga komentator intern, yaitu mertua, ipar-ipar dan suami saya. Pertandingan pun berakhir, klakson terdengar dimana-mana, secara tiba-tiba jalan-jalan yang sunyi sepi dan lenggang menjadi penuh sorak-sorai, riuh rendah klakson dan teriakan dengan arak-arakan kemenangan atas Italia.

Saya yang “buta” akan dunia persepakbolaan ikut berjingkrak-jingkrak, wuih ramai tenan! Lho kok saya jadi bisa ikut berjingkrak-jingkrak, padahal “buta”, tetapi para komentator, baik dari televisi dan para intern yaitu mertua dan anak-anaknya, menjadi “tongkat” saya dalam menikmati pertandingan besar yang saya tidak begitu paham sebesar apa tadinya, tapi berkat “tongkat” saya yaitu para komentator-komentator, saya bisa mereka-reka berapa besarnya. Saat para presiden-presiden ikut-ikutan gigit jari, melongok lesu atau berjingrak-jingrak (tetapi tidak seperti saya, jingkrakan mereka lebih elegan...), semua tergambar (eh maksudnya terdengar) yah itu dia berkat si komentator. Wah untung ada “tongkat” jadi si buta dari gua antah berantah (bukan gua hantu loh) bisa mereka-reka, untung ada komentator yang berkomentar, jadi bisa mengerti jalan permainan, lumayan sih, lulus tes standar ujian nasional.

Zev tersayang, dan juga para pembaca lainnya.
Kok saya kangeeeen yahhhh sama si KOKO yang tak lain dan tak bukan adalah kolom komentar...

Arita-CH

Hidup didalam jaman edan

Hidup didalam jaman edan
21.06.2006.

Dear Zev dan pembaca KOKI, bagaimana kabarnya?

Berkat dari Tuhan, kesehatan, kekuatan dan penerangan dari sang Khalik merupakan harapan yang saya panjatkan bagi Zevi dan para pembaca semua, dan Mbak Kentik khususnya – turut berduka cita dan prihatin, saya medoakan Mbak Kentik agar mendekatkan diri kepada Tuhan Y.M.E. dengan membuka hati dan berpasrah diri kepadaNya. Amin.



Musim panas saat ini mulai memanas. Saat siang dan malam hari, aliran udara panas yang masuk dari tiga jendela yang terbuka lebar mengaliri ruang apartemen kami. Malam ini saya susah tidur, puanaasnya kering kerontang. Mata yang mengantuk akhirnya mengalah dengan udara panas yang menggigit, saya pun memilih duduk di dekat jendela memandang langit bersih bebas awan, dihiasi kelap-kelip bintang-bintang (persis seperti lagu Bintang Kecil yang sering kunyanyikan saat umur lima tahun). Diluar suara kodok-kodok bersahut-sahutan, mungkin sedang memanggil sang hujan yang tak kunjung turun. Suara riuh rendah kodok bagaikan mantra ajaib yang membawa pikiran saya melayang ke Bumi Pertiwi, Tanah Air beta, dimana suara kodok-kodoknya lebih garing daripada kodok made in Switzerland.




Pikiran saya kembali mundur ke 3 tahun yang silam, saat malam hari di tengah hutan Kalimantan, juga dengan ditemani lagu panggilan hujan dari kodok-kodok made in Indonesia, saya mengobrol dengan Ayah sambil menunggu sang kantuk yang terlambat datang. Obrolan Ayah dan anak awalnya hanyalah obrolan ringan belaka dimana madhep ngalor dan madhep ngidul ya podo wae, putar-putar masalah kehidupan sehari-hari sampai akhirnya jatuh ke masalah panas dan jaman. Dulu waktu saya masih di Paris, mengalami musim panas pada bulan Agustus wuah panas kering, sekering moodnya orang-orang yang terpaksa dan yang tidak terpaksa harus tetap tinggal di kota (Paris pada musim panas bisa dikatakan sepi dengan orang lokal yang sebagian besar pergi berlibur). Mood yang kering kadang mengundang keagresifan yang membuat hati menjadi ikut panas dan bertingkah laku edan.



Ayah saya pernah bilang, badan boleh panas tapi pikiran jangan ikutan panas.

Kepanasan yang kita terima baiknya diendapkan didalam hati sampai adem ayem baru diolah jadinya tidak menggosongkan pikiran kita.

Wuih ngomong enak, wong kadang Ayah juga cepet “kepanasan” kok, protes saya.

Beliau tersenyum geli waktu saya protes.

“Iya ya, tapi kan sekarang sudah berkurang kecepatan reaksi panasnya toh, sudah tua saya, sudah jadi kakek”, kelit Ayah.

Lalu beliau berkata bahwa dunia pun menua, jaman pun berubah-ubah dan semakin lama kok ya jaman semakin edan. Apa karena semakin tua jadi semakin edan? Ya mudah-mudahan tidaklah, atau mungkin karena tidak mau terima menjadi tua akhirnya menjadi edan?


“ya embuh lah Yah”, jawab saya.

“Loh kamu jawab embuh itu artinya tidak tahu apa tidak mau tahu?” tanya Ayah.

”Ya dua-duanya, tidak tahu kenapa jadi begini dan tidak mau tahu kenapa harus begini”, jawab saya sejujurnya.





Jawaban itu melompat begitu saja tanpa saya pikir lebih dahulu, keluar dari hati nurani saya yang mungkin juga kelelahan mencari tahu sebabnya. Jaman memang edan, melihat “catatan kehidupan pribadi” saya dulu dimana posisi benar menjadi salah, posisi salah menjadi benar. Mencari keadilan dibilang tidak adil, loh yang adil malah dibilang tidak benar, malah jadi mbalelo.

Ayah saya termangu teringat situasi saat saya “kritis” dimana hari demi hari hanya disibukkan dengan berbagai strategi dan usaha dalam mencari keadilan di dalam badan keadilan hukum Indonesia. Mbalelo!




“Sekarang bagaimana keadaan kamu? Dengan hidup kamu sekarang? “ tanya Ayah dengan harap-harap cemas akan jawaban saya.




Kehidupan saya sekarang?

Ya jauh lebih baik walaupun jaman masih edan dan yang edan masih banyak, walaupun edan semakin menua tetapi edan-edan muda mulai bermunculan menggantikan edan-edan tua yang pensiun. Jaman masih edan, yang edan semakin hebat melesat jauh ke depan, yang tidak edan ya jalan juga walaupun perlahan. Saya pilih yang tidak edan saja walaupun harus jalan perlahan sambil menunduk memperhatikan kerikil-kerikil agar tidak mengenai kaki, menunduk memohon petunjuk kepada Yang Kuasa sang Khalik agar tidak tersesat di jalan karena kebanyakkan menunduk. Dan jalan terus, berhenti kalau lelah, nanti disambung lagi. Waspada dengan keadaan.




Saya bilang tidak mau tahu kenapa jaman harus jadi edan dan orang menjadi edan karena saya memang tidak tahu harus darimana memulai mencari tahu. Terlalu rancu bagi saya. Yang saya tahu dan mau tahu adalah bagaimana membuat diri saya menjadi tidak edan dan keluarga saya menjadi tidak ikut edan. Bagaimana bertahan untuk tidak terbawa arus dengan sang edan walaupun alirannya yang sangat kuat. Bertahan tidak menjadi bagian dari keEdanan mungkin sudah merupakan pengurangan dari orang-orang edan, daripada saya menjadi edan memikirkan bagaimana jaman menjadi edan.



Ayah saya diam duduk tercenung, suara kodok masih bersahut-sahutan lalu beliau menghirup tehnya yang sudah dingin sejak tadi.

“Jadi sekarang kamu bahagia?” tanyanya setelah menghabiskan tehnya yang dingin.

“Bahagia toh tidak ikut-ikutan menjadi edan?” lalu tambahnya lagi sambil tersenyum meringis,

“Saya kok jadi ingat waktu saya dulu masih sekolah lanjutan perwira, saya pernah baca tulisannya Ronggowarsito, yang isinya...”

Amenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Milu edan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lawan waspada”

Hidup didalam jaman edan, memang repot.

Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman

tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.

Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.

R. Ng. Ronggowarsito, Serat-Kalatida, "Sinom", 7


Percakapan malam hari tersebut membuat saya penasaran ingin mencari tahu tentang pujangga Jawa nan terkenal itu. Sepulang dari Kalimantan akhirnya saya mendapatkan tulisan sang pujangga dan tertegun saat membaca penutup dari gubahan Serat-Kalatida, "Sinom"

Sageda sabar santosa

Mati sajroning ngaurip

Kalis ing reh aruraha

Murka angkara sumingkir

Tarlen meleng malat sih

Sanityaseng tyas mematuh

Badharing sapudhendha

Antuk mayar sawetawis

Borong angga sawarga mesi martaya
Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan
serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami

R. Ng. Ronggowarsito, Serat-Kalatida, "Sinom", 12


Terima kasih Tuhan dari kesabaran yang Kau berikan kepada kami.

Untuk mati dari keEdanan.

Kami serahkan jiwa dan raga dan kami...


Mendadak saya mendengar lagi suara kodok-kodok made in Switzerland, menyentakkan saya,

sudah jam tiga pagi...


Kodok ngorek… kodok ngorek…..

Ngorek neng blumbangan…..

Teot…teblung ,teot…. teblung..

Teot teot …teblung…………



Senang bisa berbagi rasa dengan kamu Zev, dan pembaca koki lainnya

Bahagia bisa menjadi bagian dari kalian semua ...



Arita-CH

Batik, Hippies dan Bakso

08.05.2006

Dear Zev,

Hari Senin biasanya merupakan hari yang tidak disukai oleh kebanyakkan orang, sampai-sampai lagunya pun“ tell me why I don’t like monday..” Tapi kalau saya kebalikannya, saya sangat suka dengan hari Senin, karena setiap hari senin “toko kelontong” saya tutup ! Jadi hari ini santai sejenak sambil seperti biasa ngopi di depan kolom Koki yang semakin “aduhai”...


Saat ini saya lagi dalam periode“kewalahan” ngumpulin artikel-artikel untuk mewujudkan buku kedua tentang kebudayaan tradisional suku pedalaman di Pulau Kalimantan ditambah lagi pekerjaan baru dari salah satu instansi kebudayaan di Swiss untuk mengkatalogisasi objek ritual dari salah satu pulau di Indonesia, jadi sekarang situasi saya seperti tenggelam ditumpukkan kertas-kertas dan buku-buku, rumah sayapun menjadi seperti kapal pecah keberatan kertas...


Mumpung lagi seru “ngebutin” artikel budaya Indonesia, -walaupun juga nggak nyambung sama artikel yang sedang saya “geluti” saat ini- saya ingin menambah informasi tentang artikel hari ini di Koki senin 8 Mai 2006, “Afrika, Batik dan juru bicara, -Edwin ST di Stockholm”.


Soal Batik selalu menjadi “masalah klasik” dalam kehidupan saya sebagai seorang Indonesia di Eropa, dari Paris, Zurich sampai Milan, kepopuleran Batik lebih ditemukan dalam Batik Afrika daripada Batik Jawa. Pada saat era tahun 1980 an dimana lukisan Batik dari Bali dan Jogja mem –booming-, kerancuan akan batik Indonesia dan batik Afrika di Eropa pun mengental.

Saat musim panas saya selalu mengenakan kebaya komplit dengan sarung jawa, dan selalu ada saja yang menanyakan kain yang saya kenakan. Jadi saat saya sedang menerangkan kain batik Jawa ke pengunjung, pasti ada saja yang bilang “oh batik, iya saya tahu, dari Afrika toh?” Masih mending dia nggak bilang kalau kata Batik itu juga dari Afrika.




Kebanyakkan yang tahu dan respek bahwa kain batik itu dari tanah Jawa adalah orang-orang Belanda dan Jerman yang sudah berumur diatas 40 tahun. Bahkan ada yang bisa mengenali kalau kain tersebut mempunyai motif “truntum”, “kawung”, “sawit”, dll.

Batik itu sendiri merupakan kesenian yang temasuk dalam kategori antik. Sudah dari sejak jaman baheula, 2000 tahun yang lalu, manusia menemukan teknik membatik. Berbagai catatan dan teori tentang asal usul batik dikemukakan, dari ditemukannya kain batik di daratan Afrika (Mesir) pada tahun 500 sampai dengan salah satu catatan yang menyatakan bahwa teknik batik berasal dari daratan Cina dimana pada periode Dinasti Qin, 221-207 BC, masyarakat cina sudah memiliki kain berlukis dengan teknik batik yang bernama La Xie atau La Ran.

Nun jauh dari Mesir dan Cina, batik pun berkembang ke pelosok sudut hingga mencapai puncaknya di pulau Jawa, Indonesia. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Sebutan batik pun datang dari orang Jawa yakni Ambatik, “amba” yang maknanya menggambar, “tik” yaitu menitik, jadi batik merupakan gambaran indah yang terbuat dari titik-titik dengan menitik menggunakan canting. Yang mana kini nama batik sudah mengglobalisasi ke seluruh bahasa.

Pakaian batik dahulu di pulau Jawa adalah kain resmi dari kalangan ningrat/bangsawan. Dimana para petani perempuan menenun kain, istri-istri para ningrat/bangsawan Jawa mengerjakan batik. Mereka mempunyai waktu luang, kesabaran, dan memiliki tangan lembut yang dibutuhkan dalam pengerjaan batik.

Dari Solo dan Yogyakarta, dengan arus perdagangan dan pelayaran, batik merambah ke pesisir selatan sampai ke peisir utara hingga ke Pulau Sumatra dan Malaysia.

Setelah batik meluas dan berkembang di Indonesia, maka batik pun mulai “melongok” ke benua Eropa. Seorang kapten Inggris, John Saris menulis tentang saat pertama kali kain batik Jawa “bertandang” ke benua Eropa pada tahun 1613 dengan “Woven Cargoes”-Eighth Voyage of the English East India Company, in 1611, The First Voyage of the English to Japan, Toyo Bunka, Tokyo, 1941.

Jadi batik sudah memasuki Eropa sebelum tahun 1960, sebelum masa hippie lahir.

Akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 merupakan era hippie dimana kata hippie sediri merupakan derivasi dari hipster yang digunakan pada masa beatnik generation- sekumpulan orang/pemuda-pemudi yang anti materialistik-, yang akhirnya menyimpang menjadi sekumpulan orang-orang yang menganut paham kebebasan tanpa batas dan “terbang” dengan obat-obatan dan minuman keras. KataHippie sendiri dipopulerkan oleh kolumnis Herb Caen, San Francisco Chronicle dan pada tahun 1966 Gubernur Ronald Reagan menggambarkan bahwa

seorang hippie adalah orang yang berpakaian seperti Tarzan, mempunyai rambut awut-awutan seperti Jane dan bau seperti cheetah!

Nah “orang yang berpakaian seperti Tarzan” ini -kata Reagan loh!- menyumbangkan distribusi yang cukup besar dalam dunia pertekstilan dan mode. Style yang dipopulerkan pada era “flower power” adalah celana panjang dibawah perut dengan potongan melebar di kaki, kemeja “kampung”-maksudnya tambal-tambalan-, tunik berbordir, rok khas “ala petani perempuan ” buatan desainerJessie McClintock Gunne, sandal desainer Anne Kalso, jaket model Moghul dan Nehru, dan sarung batik dan jumputan - Dr. Gary Moss, Hippie Culture Memorabilia, Journal Feature Article May 2002-

Kok bisa sampai ada batik dan jumputan? Ya karena para hippies ini jalannya tidak hanya di Eropa dan Amerika saja, mereka melancong sampai Asia, mungkin juga sampai Bali, tetapi menurut pendapat saya pribadi bukanlah Bali yang mengenalkan batik ke mereka saat itu. Pada era hippie tahun 1960 an, daerah Goa, di India Selatan sangatlah terkenal sebagai tempat hang out para hippie” di Asia, dimana sarung Batik dengan motif Magic mushrooms, circle, dan sarung teknik jumputan menjamur menjadi “trade mark seragam” bagi para hippies.

Tak heran jika teman dari Edwin mengatakan bahwa Batik sama dengan Hippies, karena yang diketahui bukanlah Batik dengan motif Truntum, Kawung ataupun Kain Dodot, tetapi sarung yang berwarna-warni yang menggunakan lilin malam dalam teknik pewarnaan, seperti teknik batik.

Mudah-mudahan Edwin tidak bosan menerangkan tentang Batik dan Indonesia ke teman-teman dan lingkungannya. Saya bangga dengan anda yang mau menjadi juru bicara tentang Indonesia.

Memajukan Indonesia tidak hanya pulang ke Indonesia bawa uang atau sumbangan secara materi tetapi dengan nama baik dan keharuman bangsa akan “mengundang” kembali kepercayaan investor asing untuk invest di Indonesia yang mana bisa menambah lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia.


Oh iya untuk tambahan bukan cuma kata batik yang ngetop di seluruh bahasa, ngomong-ngomong soal makanan, nasi goreng ngetop loh! Kita bisa menemukan nasi goreng dengan tulisan bahasa Indonesia nasi goreng-walaupun rasanya tidak sama dengan nasi goreng tek-tek si abang di Indonesia- di Supermarket (nasi goreng kemasan)sampai menu di salah satu klinik di Luzern, begitu juga dengan kropoek udang dan kecap manis. Satu lagi mengenai kata bakso, saya pernah ditanya apa benar kata bakso asli dari Indonesia, saya menjawab kalau asal muasal bakso saya tidak tahu karena banyak negara-negara yang mempunyai bakso (meatball) dalam masakannya, seperti Albani ‘Qofte të fërguara’, Brazil, 'almondegas', Denmark ‘frikadeller’, German ’Frikadellen’ (sebelah utara) atau ‘Buletten’ (sebelah timur) atau ‘Fleischpflanzerl atau Fleischküchle’ (sebelah selatan), Yunani 'keftedes', Bulgari 'kyufte', Italy ‘polpette’, Norwegia ‘kjøttkaker’, Swedia ‘köttbullar’, Netherlands 'gehaktbal', Turki ‘köfte’, Romania ‘chiftele dan pârjoale’.

Tapi saya tahu kalau kata BAKSO asli dari Indonesia karena bakso pada jaman dulunya entah tahun berapa merupakan singkatan dari IWAK SOTO soto yang ada dagingnya, dimana si abang bakso yang saat memanggul dagangannya yang berat harus teriak IWAK SOTO berulang-ulang yang akhirnya menjadi wak so dan sekarang dikenal dengan BAKSO. Tok, tok, tok,bunyi ketukan kayu si abang bakso yang berteriak” so, bakso”, aduh enaknya makan bakso malam-malam begini, sayang tidak ada abang bakso yang lewat disini, aduh ngilernya aku jadi sama bakso.

Zev, kamu kalau makan bakso, ingat-ingat aku ya, yang lagi mengkhayal dan menghitung waktu untuk pulang ke Indonesia lalu makan bakso tok tok yang lewat depan rumah!


Para pembaca & penulis Koki, ngiler nggak sama bakso...?

Arita-CH

Bekerja di Restaurant

Bekerja di Restaurant
01.06.2006.

Dear Zeverina, kita berjumpa lagi di Tahun yang baru, selamat Tahun Baru untuk Zeverina dan juga para pembaca. Tahun baru, energi baru, semangat baru, batin juga baru karena bertambahnya pengalaman dan hikmat, dan siap untukmenghadapi tantangan baru. Sukses dan damai buat semuanya!


Kali ini surat saya bercerita tentang pengalaman saya dulu sewaktu masih “muda” mungkin tepatnya saat stamina saya memungkinkan untuk tidur hanya beberapa jam perhari.

Pertama kali saya tinggal di Paris, saya sempat kerja di restaurant, tidak tanggung-tanggung 3 restaurant dalam satu hari yang mana saya lakoni selama satu tahun dan akhirnya hanya satu restaurant pada dua tahun terakhir. Jadwal saya mulai dari jam 09:00 pagi sudah bekerja di sebuah kedai kopi hingga jam 11:00,jam 12 :00 siang sudah pindah ke sebuah restaurant wine bar yang menyediakan makan siang hingga jam 15 :00. Jam 16 :30 saya sudah didalam metro menuju restaurant lainnya untuk bekerja lagi hingga pukul 03 :00 pagi.

Saya nyenggol sedikit tentang topik "Tip" yang pernah dimuat, pertama kali saya dapat tip saat itu sejumlah 10 Franc (saat itu 1 Franc sekitar Rp 4’000.-) wah antara senang dan kaget. Senang karena ada tambahan, kaget karena biasanya saya yang suka kasih tip sewaktu masih di Indonesia. Di setiap restaurant dimana saya bekerja, tip selalu dibagi rata setelah usai kerja bahkan sampai koki masak pun menerima pembagian tip. Kadang kala memang ada yang menggerutu saat dapat Tip kecil karena pembagian pun menjadi kecil, tetapi hal itu tidak pernah mengurangi servis pelayanan kami.
Prinsipnya, ada atau tidak mendapat tip, kami sebagai pekerja diwajibkan untuk menomorsatukan pelayanan. Kata “wajib” disini merupakan keharusan karena pemilik restaurant selalu menegaskan hal itu, bahkan ada salah satu pemilik restaurant yang marah-marah saat pelayanan berkurang dan mengancam akan menghapuskan kebijaksanaan “menerima tip” kalau pekerjaan kita masih payah. Sebuah rumah makan bukan hanya menjual makanan tetapi juga pelayanan, tanpa pelayanan tidak akan ada pelanggan yang bertahan hingga bertahun-tahun.


Sebenarnya dengan adanya tip secara tidak langsung sangat membantu para pekerja. Bekerja di restaurant dibayar per jam, tetapi tidak selalu menurut teori benar-benar hingga ke detiknya. Seperti misalnya, saat menutup restaurant kami harus membersihkan semuanya, mengepel lantai dapur, menata meja dan menghitung kembali stock untuk persiapan esok harinya. Hal-hal seperti itu dimana resminya jam kerja selesai pukul 02:00 pagi pada prakteknya menjadi pukul 03:00 pagi atau lebih, yang mana sisa satu hingga dua jam tersebut tidak masuk ke dalam hitungan gaji. Jadi kalau tamu hanya sedikit, yang bibirnya manyun semua orang, pemilik dan pekerja. Mengenai besarnya tip pada dasarnya tidak ada penentuan jumlah tetap, rata-rata memberi 10% dari bon, ada yang lebih ada juga yang kurang.

Mengenai cara pemberian Tip, di Paris (Perancis) dan di Swiss berbeda. Di Paris orang membayar dengan uang, kartu kredit atau cek. Jadi setelah menulis cek atau memberikan kartu kredit atau menerima kembalian pembayaran, mereka lalu meninggalkan uang tip di dalam kotak bon atau piring pipih alas bon. Di Swiss lain lagi, kebanyakan mereka menggunakan uang atau kartu kredit dalam metode pembayaran. Saat pembayaran dengan uang kas, contohnya, total bon sebesar SFr. (Swiss Franc) 120 maka mereka (klien) akan bilang “SFr.140.-“.yang artinya SFr.20.- untuk tip. Minum kopi SFr. 3.-, mereka kasih SFr. 5.- dan bilang “ SFr.4.- S’il vous plaît (tolong)”. Jadi pemberian tip dijumlahkan dengan total bon. Mereka tidak pernah bilang “ambil kembaliannya” karena berkesan superior jadi yang mereka katakan hanya “baik untuk saya SFr. 4.-“.


Selain tip ada satu hal lagi yang ingin saya ceritakan, yaitu tabiat para “Le Parisien” Orang – orang lokal di Paris di restaurant lokal. Satu malam di musim panas yang panas sekali, ada satu meja dengan pasangan yang sedang dimabuk cinta. Mulai dari berpegangan tangan diatas meja, hingga berciuman. Benar-benar panas, sepanas musim panas! Sampai tiba saatnya saya datang ke tempat mereka untuk membawa bon, dan juga untuk pertama kalinya saya bertugas sebagai kasir, ternyata panasnya api cinta mereka memanas dalam hal lain. Seperti biasa, bon saya berikan ke pihak pria, lalu 5 menit kemudian setelah meneliti item yang tertulis, sang Pria berkata dengan tenang, “Sayang,bagian kamu Fr.110.-, bagian aku Fr.100.-“. Sang wanita menaikkan alisnya lalu mengambil kertas bon. 10 detik kemudian sang wanita berkata, “kamu kan juga minum wine dan makan menu x, kenapa hanya bayar Fr.100.-? dengan santai sang Pria menjawab “Sayang aku kan cuma minum satu gelas, kamu tiga gelas, aku makan hanya 25% dari menu, sisanya kamu yang habisin”. Sang cinta pun berubah menjadi ahli ekonomi, masing-masing sewot lalu minta pembuktian sesuai dengan data-data yang ada (2 piring kosong, botol 100% kosong dan 1 gelas 75% kosong milik sang wanita). Wah saya ditengah-tengah mereka jadi bingung, kaget tidak karuan, berdoa mudah-mudahan saya tidak menjadi juri, sampai akhirnya keputusan total pembayaran tetap sang wanita Fr 110.- , sang Pria Fr.100.- dimana sisa 25% wine didalam gelas diminum hingga tetes terakhir oleh sang Wanita karena tidak bisa dikembalikan ke restaurant, dan perdebatan itu sendiri memakan waktu hampir 20 menit. Saya ceritakan hal itu ke pemilik restaurant dan dia bilang bahwa itu adalah hal yang pertama dan permulaan bagi petualangan saya untuk mengenal “orang lokal”, selamat datang di Paris. Dan memang pertengkaran antar pasangan saat pembayaran akhirnya menjadi hal yang rutin bagi saya.
Bukan hanya saat pembayaran bahkan saat pemesanan makanan, sang wanita bilang ingin anggur, sang Pria nyeletuk lebih cepat dan keras “air keran saja”, karena kalau bilang “air” berarti air mineral yang notabene “tidak gratis”.
Yang lebih parah ada satu kelompok dari 5 wanita yang akan makan bersama, menu yang dipilih adalah Fr 90.- per orang, sama untuk semuanya. Satu wanita keberatan karena uangnya hanya Fr. 70.- dan ingin mengambil “ a la carte” atau porsi kecil, empat wanita lainnya tidak setuju dan mulai menggerutu, tidak kompak, tidak seru, etc. Yang hanya punya uang Fr. 70.- mulai pucat dan hampir menangis. Saya jadi tidak tega, kasihan sekali melihat dia, lalu saya tanya dengan manager saya apakah saya bisa menambahkan sisanya (Fr. 20.-), tapi ternyata tidak bisa karena dianggap tidak sopan. Lalu saya tanya lagi kenapa teman-temannya yang berjumlah 4 orang tidak patungan masing-masing Fr. 5.- ? Manager saya hanya bilang, itu kan prinsip, kalau mau keluar makan bareng, minimum ya harus bawa Fr. 100.- di kantong, jadi salah dia sendiri. Wah tidak habis pikir saya, sampai wanita tersebut pulang dengan menangis dan ke empat wanita lainnya dengan santai memesan dan menyantap makanan serta menghabiskan satu malam dengan mengorol dengan asyiknya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Masalah prinsip apa pelit?
Menurut para “Parisien” hal itu merupakan prinsip tapi bagi saya pribadi susah untuk menerima hal tersebut. Setelah tiga tahun bekerja di restauran yang kliennya bisa dibilang hampir 90% orang lokal, saya hampir pukul rata kalau mereka termasuk golongan “ekonom”. Dalam arti mereka bisa menghabiskan sampai Fr 500.- per malam dengan menu komplet dari a-x tetapi saat pembayaran mereka hitung dari a-z. Yang bikin saya susah kalau meja grup 10 hingga 15 orang, masing-masing menunya lain, saya harus patroli satu demi satu menghitung karena bon hanya satu lembar tapi yang bayar banyak dengan jumlah yang berbeda, pusing!



Tentu saja tidak semua Lokal Paris seperti itu, banyak juga yang sederhana, simple langsung bayar (mungkin di rumah hitung-hitungan lagi ya?), sedangkan kalau memasuki restauran “Fine Dining” lain lagi ekonomnya, sang Pria dapat daftar menu dengan harga sedangkan sang Wanita dapat daftar menu tanpa harga, jadi yang wanita mempunyai kebebasan penuh buat memilih tapi yang pria memutuskan pilihan. Biasanya kalau jatuh ke yang mahal maka sang Pria menjadi ahli kuliner yang berkomentar “Sayang, menu itu tidak bagus buat program diet mu” atau “saya tahu yang lebih enak dan sangat cocok dimakan saat musim panas. Ringan dan rendah kolestrol” etc. Sekali lagi, tidak semuanya seperti itu, hanya saja diantara kami para pekerja asing(non perancis), berpendapat hampir 80% “Parisien” berprinsip seperti itu.
Di Swiss lain lagi, pada dasarnya harga menu di Restaurant memang mahal dan kebanyakan orang Swiss memakan dalam porsi kecil, jadi sangat jarang sekali saya menemukan situasi “ekonomis” seperti saat saya di Paris.



Bicara soal restaurant, saya jadi lapar Zev, minggu depan saya pulang ke Indonesia, dan pasti saya akan ke restaurant dimana saya tidak akan menemukan situasi ala “Parisien” ataupun menu porsi “Swiss”, mudah-mudahan juga tanpa formalin, Amin.


Sampai ketemu lagi Zev, dan sekali lagi saya ucapkan “Sukses dan damai buat semuanya!”


Arita-CH




Pameran Patong 2008-2009 di Italia

08.10.2008.

Pameran “Patong. La grande scultura dei popoli del Borneo. dalle Collezioni del Museo delle Culture di Lugano” (Patong. The Great Sculpture by the People of Borneo. From the collection of the Museum of Culture of Lugano)

5 Oktober 2008 – 15 Februari 2009

Villa Borromeo d'Adda, Arcore (Milano), Italia

Untuk yang kedua kalinya, Pameran “Patong. La grande scultura dei popoli del Borneo” (Patong. The Great Sculpture by the People of Borneo) di gelar di Eropa.
Menyambung kesuksesan pameran pertama, tahun 2007 di Lugano Swiss, maka pada tanggal 5 Oktober 2008 hingga 15 Februari 2009, Villa Borromeo D'Adda yang terletak di kota Arcore, tidak jauh dari Metropole Milan, menjadi tuan rumah penyelenggara Pameran Patong.

Pameran ini diselenggarakan atas kerja sama antara Museum Kebudayaan Lugano Swiss, The Foundation Antonio Mazzotta of Milan, pemeritah propinsi Milan, pemerintah wilayah Lombardy dan wilayah Monza dan Brianza, serta dukungan/support dari Departemen Aset Budaya dan Dewan Kebudayaan, Budaya dan Integrasi, Propinsi Milan.

Kepala Dewan Kebudayaan, Prof. Vittorio Perrela, membuka Pameran di Villa Borromeo D'Adda dengan kekaguman panjang, didedikasikan kepada patung dan ukiran dari grup etnik pulau Borneo. Dalam kata sambutannya pada inagurasi pembukaan pameran, hari Sabtu 4 Oktober 2008, beliau menegaskan bahwa, pameran Patong merupakan suatu prakarsa kegiatan pameran yang berisikan nilai kebudayaan yang tidak diragukan lagi kebesarannya. Suatu panggilan budaya yang mampu memainkan peranan, untuk memberikan kesempatan dalam pengembangan ekonomi dan wajah daerah.

Pameran 39 karya besar bagian dari koleksi The Museum of Culture of Lugano, bernilai etnografi dan artistik dari penduduk asli pulau Borneo, dan yang juga merupakan bagian dari koleksi penting di dunia, adalah merupakan bentuk pameran yang untuk pertama kalinya diadakan oleh dan bagi masyarakat Italia.

Pameran bertempat di salah satu dari empat bangunan, terletak dalam kompleks area Villa Borromeo d'Adda yang mempunyai luas 30 hektar. Ruang pameran seluas 1.120 meter persegi, dibangun pada tahun 1895, dan baru saja selesai di renovasi serta dibuka kembali untuk umum pada tahun 2008. Suatu bangunan bersejarah yang patut dipertahankan dan direnovasi ulang untuk menjaga nilai warisan dan arsitektur leluhur bangsa Italia.

Bertepatan dengan diadakannya Pameran “Patong. La grande scultura dei popoli del Borneo”, maka secara resmi pula, hari sabtu tanggal 4 Oktober 2008, menjadi momen bersejarah atas dibukanya kembali bangunan tersebut untuk umum. Merupakan suatu kehormatan yang sangat besar bagi penduduk asli pulau Borneo, yang tinggal jauh dari Italia Utara, untuk “membaptiskan” pembukaan kembali bangunan bersejarah, warisan budaya arsitektur leluhur bangsa Italia.
KLIK http://www.facebook.com/album.php?aid=13005&id=1613724128








Bersamaan dengan pameran ini, diterbitkan juga sebuah buku katalog sebanyak 200 halaman, yang berjudul “Patong. La grande scultura dei popoli del Borneo. dalle Collezioni del Museo delle Culture di Lugano”. Di edit oleh Paolo Maiullari dan Junita Arneld, dan dicetak oleh Mazzotta Milan, buku ini merupakan buah hasil dari pekerjaan penelitian yang lama dan panjang.

Dengan dibuka oleh kata pengantar dari Gubernur Kalimantan Tengah Bapak Agustin Teras Narang SH, buku ini memuat artikel-artikel dari Francesco Paolo Campione Direktur The Museum of Culture of Lugano Swiss, Paolo Maiullari (Swiss), Bernard Sellato (France), Nila Riwut (Indonesia), Antonio Guerriero (France), Junita Arneld (Indonesia), Michael Heppell (Australia), dan Wahyu Ernawati (Indonesia).


Buku katalog ini merupakan bagian dari dokumen ilmiah yang penting dalam khasanah pengetahuan akan pulau Borneo. Untuk pertama kalinya, diterbitkan sebuah buku yang ditulis oleh para penulis spesialis Borneo yang berasal dari 3 benua (Asia, Australia dan Eropa), dan memuat informasi yang kompleks dan lengkap akan grup ethnik pulau Borneo, membuat buku ini sangat layak untuk disandingkan dalam pameran buku internasional di Frankfurt Book Fair 2009, suatu pameran buku yang sangat penting, yang telah eksis di benua Eropa sejak abad ke 16.

Berbagai kegiatan dan aktivitas yang diselenggarakan, menjadi daya tarik utama dalam menyemarakkan pameran “Patong”. Terutama, program pengenalan seni dan budaya Borneo untuk anak-anak sekolah, bekerja sama dengan institusi pendidikkan.
Acara kegiatan dan aktivitas anak-anak sekolah, yang masing-masing berlangsung selama kurang kebih 1,5 jam mempunyai program-program sebagai berikut:

PROGRAM KUNJUNGAN UNTUK MURID SEKOLAH TK DAN SD
L’eterno ciclo della vita (The guided visit: the eternal cycle of the life)

Dalam kunjungan ini, anak-anak dibayangkan untuk menelusuri jejak yang panjang, memasuki hutan tropical pulau Borneo. Dengan jiwa petualang, anak-anak dibawa mengeksplorasi budaya masyarakat, membawa mereka ke dalam surga yang tak terlupakan. Surga yang kaya dengan mitologi dan legenda. Bermula dari awal kehidupan yang sederhana, hingga upacara budaya yang kompleks dan panjang, untuk menjaga kelangsungan lingkaran kehidupan. Setelah anak-anak diperkenalkan dengan patung-patung yang dipamerkan, kemudian anak-anak akan diajak untuk memilih patung yang mereka sukai (pemburu, pisor/basir, pejuang) lalu menceritakan kembali dengan imajinasi mereka, akan patung favorit mereka. Sebagai akhir kegiatan, anak-anak akan diajak membuat prakarya benda-benda khas dari Borneo, seperti perisai, peralatan ataupun azimat untuk berburu.


PROGRAM KUNJUNGAN UNTUK MURID SD HINGGA MURID KELAS 1 SMP.
L’amuleto scaccia-paure (the amulet drive away-fears).

Bagi Dayak Bahau, Dewa Petir, Pèn Lih, adalah dewa yang sangat ditakuti. Dengan kekuatannya yang dahsyat, ia mampu memporak-porandakan perkampungan. Untuk berdamai dengan Pèn Lih, para penatua, dukun desa, pejuang dan pemburu, mereka mengenakan semacam jimat dalam bentuk gelang ataupun kalung dengan motif binatang seperti Aso atau Naga. Anak-anak diajak untuk berkreasi, dalam membuat jimat, yang berfungsi untuk mendamaikan rasa ketakutan. Setiap anak akan mempunyai jimat pribadi dalam bentuk Aso atau Naga.

PROGRAM KUNJUNGAN UNTUK MURID SEKOLAH SMP KELAS 2 DAN KELAS 3
Riti e miti Dayak nel cuore della giungla (Rituals and Dayak myths in the heart of the jungle).

Pada kesempatan ini, anak-anak diperkenalkan ke dalam kehidupan, seni, dan budaya orang Dayak yang tinggal di tengah belantara, yang sanggup mengatasi segala tantangan alam. Diantara kera dan orang utan, harimau, kerbau, burung-burung yang beraneka jenis, seperti diantaranya burung Enggang yang indah dan berarti simbolik, kesemuanya memberikan insipirasi dan imajinasi yang kaya akan arti dalam pembuatan dan pengukiran patung. Jauh berbeda dengan patung-patung seni klasik yang dikenal oleh masyarakat Eropa.
Orang Dayak hingga saat ini masih tetap eksis dan utuh keberadaannya. Mereka masih tetap ada yang tinggal di rumah panjang Betang, dimana tradisi gaya hidup tradisional masih terpelihara, adat, tarian dan ritual, pantun dan puisi yang sarat dengan nasihat hidup, mencerminkan bukti dari keyakinan dan pandangan hidup orang Dayak. Dengan kunjungan ini diharapkan, anak-anak dapat mengenal pola dan cara hidup orang Dayak dengan melihat dan mempelajari, sehingga mampu membuka jembatan khasanah budaya, antara seni dan budaya “sederhana” dengan seni dan budaya barat.

PELAJARAN DI DALAM KELAS ATAUPUN DALAM RUANG PAMERAN.
  • Dengan mempertimbangkan tema-tema yang ada, para guru diharapkan untuk mampu memilih tema dan mengadakan argumen pendalaman. Penekanan pelajaran, dikhususkan pada sejarah artistik dan aspek kebudayaan dari Borneo. Pelajaran dengan operator/pemandu pameran, akan dibantu alat proyektor, untuk pengenalan gambar-gambar ikonografi pada murid-murid sekolah.

  • Storia (Story)
    Buku-buku yang digunakan untuk bercerita diantaranya adalah buku karangan Emilio Salgari “Tigre della malesia”, buku sejarah eksplorator spanyol Juan Sebastián Del Cano yang mencapai Borneo pada tahun 1521, serta buku sejarah yang menceritakan keberadaan James Brooke.

  • Arte e ambiente (Art and ambiance)
    Analisa produksi artistik dari penduduk pulau Borneo. Hubungannya dengan alam secara spesifik dan atmosfer kebudayaan yang dikembangkan.

  • Arte, cultura e tradizioni (Art, culture and traditions)
    Dalam panorama kesatuan mitos kosmogenik, legenda asal usul dunia, adat dan tradisi, anak-anak diajak untuk memahami hubungannya dengan seni di Borneo.
INITIATIVES COLLATERALS

8 - 22 Oktober 2008.
Tuntun: il magico bastone della caccia (Tuntun: the magical stick of the hunting).

Tongkat Tuntun adalah tongkat yang merupakan bagian dari alat-alat perburuan Dayak Iban. Anak-anak akan dijelaskan mengenai peranan kegiatan berburu, sebagai bagian dari aktivitas kehidupan sehari-hari, yang memainkan peranan utama dalam kehidupan Dayak. Dalam program ini, juga di terangkan bahwa, sejak kecil para anak-anak Dayak Iban sudah diajarkan untuk membuat dan mengukir kayu, sehingga saat mereka memasuki usia dewasa, mereka mampu membuat tongkat Tuntun pribadi. Sebuah tongkat yang juga merupakan lambang akan kesiapan mental dalam memasuki dunia berburu, dunia dewasa.

20 Desember 2008.
Un ibrido sull’albero (A hybrid on the tree).

Bagi dayak grup Apokayan, adalah suatu hal yang tabu untuk menyebut nama asli dewa “Harimau”. Resiko mendapat bencana kecelakaan ataupun penyakit, membuat mereka tidak berani menyebut nama asli Dewa tersebut. Oleh karena itu, mereka memanggil dengan sebutan Aso yang berarti anjing, sahabat manusia! Dengan permainan, anak-anak akan diajak untuk menciptakan suatu objek dengan mencontoh patung yang berbentuk hibrid, setengah manusia, setengah binatang, dimana kemudian objek tersebut dapat mereka gunakan dengan bangga sebagai hiasan pohon natal.

3 Januari 2009.
La befana e il mito degli antenati (The befana and the myth of the ancestors).

La Befana adalah tokoh dewi dalam mitologi Italia, dimana pada setiap tanggal 6 Januari, la Befana selalu datang untuk mengisi kantung atau kaos kaki anak-anak dengan hadiah. Seperti juga Sinterklas, la Befana adalah seorang tokoh yang sudah lanjut usia. Begitu juga dengan kebudayaan di bagian negara manapun, orang tua adalah leluhur berharga yang selalu dengan senang hati memberikan nasihat bernilai dan berguna pada anak dan cucu mereka, namun apa yang telah kita berikan kepada mereka sebagai tanda rasa terima kasih? Dengan kesempatan ini, anak-anak diajak untuk membuat suatu karya yang berhubungan dengan orang-orang Dayak, dan menjadikan karya tersebut sebagai hadiah yang berarti, tanda rasa terima kasih terhadap orang tua.

14 Februari 2009.
La maschera dei desideri (The mask of the desires).

Penduduk asli pulau Borneo, mengenal topeng yang berfungsi untuk menjauhkan roh-roh jahat ataupun hantu. Sering diketemukan, topeng-topeng berbentuk ekpresif dengan roman muka yang aneh, seperti mata yang membelalak terbuka, mulut yang memanjang serta bergigi taring harimau atau babi hutan, siap mencabik-cabik roh jahat. Begitu juga dengan budaya di Italia, mereka mengenal pemakaian topeng dalam pesta karnaval. Dalam program ini, anak-anak akan diajak bermain seperti anak-anak Dayak, dengan mengenakan topeng-topeng yang mampu mengusir dan mencabik-cabik kejahatan.

I QUADERNI DIDATTICI (THE DIDACTIC NOTEBOOKS).

Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut, panorama nilai sejarah dan artistik dari pameran ini, pihak organisasi penyelenggara, Mazzotta, menyediakan instrumen yang dicetak dalam dua versi yang berbeda (untuk murid SD hingga murid SMP).


Il prezioso talismano di Djamit (the precious talisman of Djamit). Il catalogo Mazzotta ragazzi (The catalogue for the kids. The seri of Mazzota Ragazzi).

Suatu cerita imajiner tentang perjalanan dua orang anak Dayak. Dengan grafik dan ilustrasi gambar-gambar yang menarik, katalog ini merupakan kumpulan dari seri “Mazzotta Ragazzi. Ditujukan untuk kalangan pembaca anak-anak dengan bimbingan dari orang tua ataupun guru sekolah.

Il gioco didattic (The didactic game).
Untuk anak usia 6-12 tahun.

Suatu permainan sejenis “ular tangga”. Permainan ini bersifat mendidik dan bertujuan untuk memperkokoh ingatan anak-anak mengenai pengetahuan yang mereka dapati dan pelajari selama kunjungan dalam pameran. Permainan ini membutuhkan sebuah dadu, buku panduan permainan dan beberapa bidak untuk dimainkan.


Lugano, 8 Oktober 2008.

Ditulis oleh Junita Arneld Maiullari.

Pameran Patong 2007. Switzerland

30.05.2007.
Pameran “ Patong. Great Figures Carved by the People of Borneo” di Lugano, Swiss.
Pada tanggal 27 May 2007, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang SH dan isteri Ny. Moenartining Teras Narang SH tiba di Lugano, Swiss untuk menghadiri pameran “ Patong. Great Figures Carved by the People of Borneo”.

Pameran yang bertempat di Galleria Gottardo dan berlangsung dari tanggal 23 May hingga 25 Agustus 2007 diselenggarakan atas kerja sama antara dua institusi yaitu Museum Kebudayaan Lugano (Museo delle Culture of Lugano) dan Galleria Gottardo. Objek yang dipamerkan berjumlah 39 buah yang mana sebagian besar berasal dari suku Ngaju dan Ot Danum Kalimantan Tengah. Beberapa objek lainnya berasal dari Suku Kenyah, Kayan, Kalimantan Timur, suku Iban dari Kalimantan Barat dan Sarawak serta suku-suku lainnya yang ada di Kalimantan.



Dikarenakan sebagian besar objek berasal dari Indonesia, khususnya suku Ngaju oleh karena itu pihak kota Lugano mengundang Duta besar Republik Indonesia Ibu Lucia Helwinda Rustam dan juga mengundang langsung Gubernur Kalimantan Tengah serta menanggung seluruh biaya transportasi dari Indonesia hingga tiba di Lugano, akomodasi selama di Lugano serta kunjungan-kunjungan sosial ke berbagai tempat di Lugano, sebagai wujud penghormatan dan penghargaan akan kebesaran peradaban Kalimantan di Indonesia secara keseluruhan dan kebesaran budaya Dayak Ngaju secara khusus.

Persiapan pameran ini dilakukan dengan melakukan analisa dan penelitian baik secara literatur maupun lapangan, untuk menjelaskan arti dan nilai objek secara ilmiah dilengkapi dengan pendekatan serta pengertian yang didapat dari penduduk setempat, hubungan objek dengan kebudayaan, dan adat.

Pameran ini dilaksanakan atas kerjasama sebuah equipe (tim kerja) yang berasal dari Swiss, Itali dan uluh Ngaju yaitu, Paolo Maiullari, Alessia Borellini, Marta Cometti, Günther Giovannoni dan Junita Arneld seorang uluh Ngaju Katingan yang menetap di Swiss, dibawah koordinasi Direktur Museum Kebudayaan Lugano, Prof. Dr. Francesco Paolo Campione, dan juga turut serta spesialis antropolog dan budaya Kalimantan yaitu Dr. Bernard Sellato dan Dr.Antonio Guerreiro dari Perancis, serta Dra. Nila Riwut uluh Ngaju dari Indonesia.

Pameran yang dibuka pada tanggal 22 May 2007 mendapat sambutan yang sangat antusias dari publik internasional, bahkan dikategorikan sebagai pameran yang sangat penting di seluruh dunia. Nilai tambah dari pameran ini dikarenakan adanya penelitian dan pemaparan secara mendetail dan ilmiah yang mampu membuat “saksi bisu” sejarah peradaban yang hampir punah mengangkat suaranya dan berbicara di hadapan dunia akan kebesaran dan kejayaan sebuah peradaban.

Dengan adanya pameran ini, maka mata serta telinga dunia internasional terbuka lebar-lebar ke Pulau Kalimantan. Pulau yang pernah dikenal dengan nama Pulau Bagawan Bawi Lewu Telo (Riwut, 2003 :3), Burnéi (Stanley, 1874:108), Nusa Tanjung Negara dan Pulo Kalamantan (Saint John, 1847:15). Pulau yang sarat akan kekayaan falsafah hidup, budaya, kesenian serta peradaban yang luhur akan arti sebuah kehidupan yang akrab dan bersahabat dengan alamnya.

Pembicaraan antara Agustin Teras Narang SH dengan Prof. Dr. Francesco Campione tentang pameran Patong di Lugano mencapai suatu kesimpulan bahwa Pameran Patong merupakan sebuah cerminan dari masa lalu dimana budaya dan lingkungan masyarakat Kalimantan bersanding secara harmoni. Merupakan sebuah keterbukaan dalam peradaban modern yang mampu menghormati tradisi yang berhubungan erat dengan alam dan lingkungan. Pencarian kembali serta pemeliharaan akar dari sebuah pohon akan memperbesar dan memperkuat pohon tersebut. Oleh sebab itu pada usia yang ke 50 tahun, Kalimantan Tengah mendapatkan kehormatan tersendiri didalam mengangkat harkat budaya daerah di dunia internasional dengan adanya kerja sama untuk masa yang akan datang antara Agustin Teras Narang SH sebagai Gubernur Kalimantan Tengah serta Prof. Dr. Francesco Campione sebagai Kepala Direktur Museum Budaya Lugano dalam mengadakan pagelaran bersama antara Museum Balanga Palangka Raya dengan Museum of Culture Lugano di Kalimantan Tengah serta pagelaran keliling di luar Pulau Kalimantan, di Eropa pada khususnya.



Pulau yang mana penduduk asli menangis karena “je tempun petak danum manana sare, je tempun uyah batawah belai, je tempun kajang bisa puat” (majelis adat dayak kalteng, 2002:47) saat ini berteriak dihadapan dunia internasional “ Metuh tuh ikei manjadi tuan huma hong dunia internasional dan ikei handak kea manjadi tuan huma hong lewu itah!”.

Lugano, 30 Mai 2007
Junita Arneld Maiullari

Jurnal oloh Katingan

01.12.2006.
Saat saya masih kanak-kanak, mengakui diri sebagai «orang Dayak »seperti memakan buah simalakama. Karena pada kenyataannya, saya adalah seorang Dayak, dan bagi masyarakat sekitar, “kenyataan” dari seorang Dayak adalah seorang berkulit hitam gelap, pemburu kepala orang, dan berekor, dengan kata lain merupakan sebuah ketidakberadaban, sebuah kehinaan.
Saya katakan saat itu seperti memakan buah simalakama karena dihadapan Bapa, saya berbangga diri menjadi seorang Dayak, dihadapan orang luar saya hanya bisa menahan kegetiran dan rasa geram atas reaksi mereka. Saat saya mulai beranjak remaja, dari beberapa buku-buku yang saya baca, saya temukan secercah sinar kebanggaan atas pujian dan decak kagum yang diberikan pihak asing (non Indonesia) atas kegagah beranian dan kebesaran sejarah nenek moyang Dayak. Kebudayaan yang kaya akan arti dan makna tertulis dalam suatu objek yang menjadi saksi sejarah hidup beratus-ratus tahun.

Tapi pujian dan decak kagum tersebut tidaklah cukup bagi saya untuk menghapus kenangan masa kecil akan rasa geram dibalik rasa sedih saya dihadapan masyarakat yang mengambarkan “ketidak beradabannya” orang Dayak.

Saya ingin tahu kenapa mereka berpikir dan berpendapat seperti itu? Bagaimana standar “keberadaban” ditetapkan untuk menjadi pola ukur dalam perbandingan kehidupan? Kenapa Dayak memburu kepala orang, bagaimana mungkin mereka berekor? Apa yang salah dengan menjadi orang Dayak dan bagaimana membuktikan bahwa tidak ada yang salah untuk menjadi orang Dayak?

Semuanya berkecamuk dan terpendam dalam otak kecil saya.

Waktu berlalu dan bergulir dengan cepat, sementara situasi dan kenyataan yang ada di Indonesia tidaklah banyak berubah. Anggapan tersebut masih ada, berkulit hitam gelap, pemburu kepala orang, berekor. Bacaan artikel dan buku-buku yang saya temukan saat itu tidaklah cukup menjawab semua pertanyaan pribadi saya. Budaya dan sejarah kehidupan Dayak banyak terkontrol oleh pihak-pihak non dayak untuk kepentingan politik dan keuntungan pihak-pihak luar. Menjadi Dayak seolah terpuruk dalam legenda simpang siur dan mendiskreditkan penduduk asli tanah Kalimantan. Menjadi seorang Dayak seolah seperti sebuah ragi usang...

Bapa saya pernah bercerita tentang kisah "Sangumang dan Pang Awi." Dimana kesetiaan Pang Awi menggembirakan hati Sangumang tetapi butob ureng kahaen sakalan (batu kepandiran) yang ada pada Pang Awi menyedihkan hatinya. Setialah menjadi orang Dayak seperti kesetiaan Pang Awi, tetapi bijaksanalah sebijaksana Sangumang. Jangan menjadi ragi usang! Demikian kata Bapa saat saya masih berumur 20 tahun.

Ragi adalah salah satu elemen yang penting dalam pembuatan baram. Ragi yang bagus akan mebuat baram tersebut nikmat, tetapi ragi yang usang, lapuk dimakan masa akan terbuang begitu saja dengan sia-sia. Saya tidak ingin menjadi ragi usang!

Kebenaran adalah sesuatu yang yang berhubungan dengan kenyataan. Kebenaran akan suatu pendapat menjadi benar kalau kita bisa menemukannya dalam realitas, dan kebenaran tersebut menjadi palsu pada saat kita tidak bisa menemukannya dalam suatu kenyataan hidup, saat kita tidak bisa berkata apa-apa maka kebenaran tersebut menjadi palsu. Kebenaran yang murni terpuruk dengan ketidakmampuan dalam pengungkapan kenyataan.

Ketidakpuasan saya dengan buku-buku yang cenderung rancu atau bias dalam menjelaskan sejarah Dayak dikarenakan segi komersial yang cukup menekan para penerbit membuat saya berani mengocek kantong lebih dalam lagi untuk buku-buku yang lebih serius.

Didalam buku “PAGAN TRIBES OF BORNEO” (Charles Hose and William McDougall - 1912) tertulis tentang keadaan fisik Dayak Iban dimana mereka mempunyai kulit lebih gelap dibandingkan suku lainnya di Borneo, sekalipun kulit mereka tidaklah lebih gelap dari kulit orang Melayu asli.

Paragraf ini membuat saya mengerti kenapa masyarakat non dayak berpikiran/berpendapat bahwa dayak berkulit hitam legam. Dugaan saya dikarenakan Dayak Iban yang pada saat itu lebih banyak bertempat tinggal di pesisir area mempunyai warna kulit yang lebih gelap dikarenakan sinar matahari yang langsung dibandingkan suku lainnya yang lebih banyak menetap di dalam hutan yang lebat. Posisi Dayak Iban yang dekat dengan pesisir memungkinkan untuk mempunyai kontak dengan orang-orang luar dibandingkan suku dayak lainnya. Dimana pada akhirnya orang luar pun mengambil kesimpulan bahwa orang Dayak semuanya berkulit legam.

Bertolak belakang dengan kisah orang Dayak yang berkulit hitam, didalam buku “THROUGH CENTRAL BORNEO” (Carl Lumholtz -1913-1917) beliau (Carl Lumholtz) mendapatkan informasi dari salah satu sumber bahwa orang Dayak berkulit sangat putih seputih orang Eropa, berambut coklat tebal dan mempunyai anak bermata biru. "as white as Europeans, with coarse brown hair, and children with blue eyes".

Penasaran dengan informasi tersebut maka beliau menyempatkan diri untuk singgah di Rubea, kira-kira dua sampai tiga jam dibawah Muara Teweh. Setibanya disana didapatkan bahwa orang Dayak berkulit lebih cerah atau bisa dikatakan putih, berambut coklat gelap. Tetapi anak-anak yang bermata biru tidak ditemukannya. Membaca tulisan ini membuat saya teringat dengan Tambi (nenek) dan Bapa saya sendiri. Mereka berdua mempunyai mata dengan warna hampir abu kebiru-biruan dimana mereka bertempat tinggal di Desa Telangkah daerah aliran sungai Katingan.

Masih didalam buku yang sama, “THROUGH CENTRAL BORNEO” (Carl Lumholtz -1913-1917), saya menemukan kisah yang cukup menarik tentang mitos penciptaan Dayak berekor.
Suatu hari saat beliau (Carl Lumholtz) berada di Rongkang, seseorang menceritakan kisah manusia berekor yang hidup di daerah Sembulu. Begitu banyak orang-orang yang berusaha meyakinkan cerita tersebut bahkan berani mengatakan telah melihat dengan mata kepala sendiri akan adanya manusia berekor. Salah satu informasi tentang mitos tersebut di dapat dari seorang Dayak Kahayan, bekas kepala kampung, yang bernama Kiai Laman yang mengaku sudah banyak mengunjungi tempat-tempat/ desa-desa.

Kiai Laman berkisah tentang seekor anjing bernama Belang yang menghilang selama berbulan-bulan saat sedang berburu. Sementara si Belang selama lima belas hari tersesat didalam hutan sampai tiba di sebuah Desa yang bernama Desa Sembulu. Si Belang lalu berubah menjadi manusia dalam wujud lelaki dan beradaptasi didalam desa tersebut. Si Belang bekerja dan menikah dengan seorang wanita Sembulu. Pernikahan Belang dengan wanita Sembulu tersebut melahirkan dua orang anak. Anehnya semakin besar anak-anak tersebut, semakin jelas terlihat perbedaan dengan anak-anak lainnya. Perbedaannya adalah mereka mempunyai ekor sepanjang 10 cm. Wanita Sembulu tersebut mulai menyadari ketidaksamaan bentuk lahiriah dari anaknya dan mempertanyakan hal tersebut kepada Belang. Tidak tahan dengan desakan tersebut akhirnya Belang mengakui bahwa dirinya adalah seekor anjing, lalu setelah mengakui keaslian wujudnya, si Belang lari meninggalkan Desa Sembulu dan kembali ke desa tempat dia tinggal di sekitar sungai Kahayan atas. Sementara anak-anak dari pernikahan Belang dan Wanita Sembulu terus hidup, besar, menikah dan mempunyai keturunan berekor. Versi lain dari cerita manusia berekor didapat dalam cerita Melayu mengisahkan tentang seorang Raja yang hidup di Banjarmasin dimana Raja tersebut tidak disukai oleh rakyatnya. Lalu rakyat berhasil mengusir Raja tersebut, meninggalkan kerajaan pergi dengan perahu dan membawa seekor anjing betina. Raja tersebut tiba di Desa Sembulu lalu hidup dan beranak dimana semua anak-anaknya mempunyai ekor.

Mendengar berbagai macam cerita, kesaksian dan versi dari penciptaan manusia berekor, beliau (Carl Lumholtz) memutuskan untuk melihat sendiri dan memeriksa kebenaran cerita tersebut. Setibanya disana tidak ada satu orangpun yang berekor. Beliau (Carl Lumholtz) tidak menemukan kebenaran dalam kisah tersebut dan merasa puas akan ketidakberadaan orang berekor. Dia mengakui bahwa selama keberadaannya di Borneo, sangat sedikit sekali yang bisa dia pelajari tentang Borneo dan orang-orangnya. Menurutnya, banyaknya pengaruh-pengaruh dari Melayu dan Eropa yang mana demi kepentingan politik dan ekonomi membuat perubahan di dalam data dan informasi akan Budaya dan kehidupan sosial dari penduduk asli Borneo.

Kefrustasian Carl Lumholtz pada periode tahun 1913-1917 akan Borneo dan kehidupan sosialnya masih berlangsung sampai abad ke 21 ini. Begitu banyak pengaruh-pengaruh dari orang-orang luar (non Borneo) yang menciptakan Mitos penciptaan atas suku asli pulau Borneo dan begitu sedikit cerita dan kisah penciptaan tertulis oleh penduduk asli pulau Borneo. Seolah tenggelam oleh alasan-alasan ekonomi dan politik serta status sosial di masyarakat luar .

Tetek tatum (hikayat/cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi) akan kebesaran, keberanian dan keindahan suku serta budaya tergantikan oleh kisah manis putri Cinderela yang akhirnya hidup kaya raya dan bahagia selama-lamanya. Keinginan untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa suku asli Pulau Borneo, karam dihajar globalisasi kagetan.

Pernahkah terpikir bagaimana rasanya harus pergi mencari kepala orang untuk Tiwah? Apakah mereka pada saat itu bersorak-sorai gembira, bahagia karena telah mendapatkan sebuah kepala? Apakah berburu kepala manusia merupakan sebuah kegiatan yang di lakukan demi kesenangan dan ekonomi?

A.H. Klokke mencoba menguraikan bagaimana dan apa arti dari sebuah perburuan kepala manusia. Didalam buku “FISHING, HUNTING AND HEADHUNTING. In the former culture of the Ngaju Dayak in Central Kalimantan”, A.H. Klokke memasukkan catatan yang dibuat oleh Pandita Ison Birim pada 15 Nopember 1938, di Tumbang Lahan.

Menurut beliau (Pandita Ison Birim) perbuatan mengayau tidaklah bisa dikategorikan dalam kalimat “berburu kepala”. Karena berburu merupakan kegiatan dimana hasil buruan digunakan untuk kelangsungan hidup, untuk perut sendiri dan perut keluarga. Sedangkan mengayau dilakukan karena pada saat itu merupakan salah satu jalan/cara didalam memenuhi syarat penting pada sebuah proses acara adat yang sangat utama/primer dalam kehidupan penganut Kaharingan. Acara Tiwah.

Pada saat orang Dayak pergi mengayau, orang tersebut tidaklah harus bersifat kasar. Tidaklah berarti dia bahagia atau senang atau marah saat melihat darah. Bukan berarti dia hanya ingin membunuh. Tetapi ia harus melakukannya karena merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan demi mempertahankan derajatnya di hadapan keluarga dan roh. Saat ia pergi mengayau, ia meninggalkan rumah, keluarga dalam jangka waktu yang tidak tentu lamanya, berbulan-bulan bahkan bisa sampai bertahun-tahun, berjalan membelah hutan-hutan dengan menahan rasa sakit, menyeberangi sungai-sungai, mendaki bukit demi bukit, tidur dengan rasa khawatir dan takut, makan seadanya.

Pada saat itu, mengayau merupakan suatu tindakan yang bukan hanya membutuhkan keberanian mental tetapi juga ketaatan kepada perintah dan adat istiadat. Ketaatan dan rasa hormat yang besar yang dijunjung tinggi diatas kepala melebihi jiwanya sendiri. Karena pada saat mereka pergi mengayau, mereka meletakkan hidup dan jiwa sebagai taruhannya. Resiko mati merupakan salah satu resiko yang dipikul saat mengayau. Jadi pada intinya menurut saya, bukan karena membunuh dan memotong kepala orang yang menjadi elemen penting dalam kisah masa lalu Pengayauan. Tetapi ketaatan, semangat dan keberanian yang besar didalam membela keluarga, hormat menjunjung tinggi adat dan kebudayaan serta nenek moyang, rela menderita untuk menjalani kewajiban dan bangga menjadi diri sendiri, menjadi seorang Dayak .

Perlahan tetapi pasti, saya mulai membetulkan kenangan masa kecil akan rasa geram terhadap masyarakat yang meletakkan “jubah jelek” pada “tubuh Dayak”. Masyarakat yang beranggapan bahwa orang Dayak adalah berkulit hitam gelap, pemburu kepala orang, berekor. Mereka mungkin benar mendengar hal - hal tersebut. Tetapi mereka tidak mengenal siapa, seperti apa dan bagaimana “oloh asli Borneo”. Mereka tidak tahu apa artinya menjadi “oloh asli Borneo”, karena mereka tidak mendengar suara dan berita dari “oloh asli Borneo”. Mereka tidak mendengar, tidak melihat dan tidak kenal “oloh aseli”.

Sebagai bagian dari “oloh aseli” saya hanyalah merupakan setitik debu diatas tumpukkan pasir yang ada. Hanya sebutir ragi dari segenggam ragi. Tetapi saya percaya, setitik debu dapat membuat mata merah dan menarik perhatian. Sebutir ragi dapat memberikan rasa sekalipun kecil. Kenangan masa kanak-kanak melintas kembali didepan mata, tetapi saat ini kenangan tersebut merupakan momen yang indah sekarang. Karena dengan rasa geram masa kanak-kanak, saya menemukan kebenaran yang dianggap palsu. Kebenaran yang terhalang oleh kepalsuan mulai terangkat ke permukaan. Saya tidak ingin menjadi ragi usang, begitu juga dengan suami dan anak saya, saya tidak ingin kami menjadi ragi usang. Kebenaran mulai saya ajarkan ke anak saya yang berumur 10 tahun.

Pertama kali ia melihat film dokumentasi tentang Tiwah, hal pertama yang ia katakan bukanlah tentang orang Dayak liar dan tidak beradab.
Katanya “Sungguh besar menjadi orang Dayak, mampu mempersembahkan begitu banyak korban binatang. Pasti upacara itu sangat penting di dalam kehidupan. Sampai rela mengorbankan harta untuk sebuah upacara”. Sebuah pendapat dari anak lelaki berumur 10 tahun yang sedang belajar akan sebuah arti ketaatan, semangat dan keberanian, hormat akan adat dan kebudayaan dan bangga menjadi diri sendiri, menjadi seorang Dayak. Dia akan mampu mengenalkan kebenaran saat seseorang mencoba mengenakan “jubah jelek” pada darah dayaknya.
“Darah kami memang hanya separuh dayak, namun kami akan utuh menjadi seorang dayak !”


Junita Arneld Maiullari, Oloh Katingan, Switzerland