Showing posts with label Ideas. Show all posts
Showing posts with label Ideas. Show all posts

Parodi Bulu Ketek Ibu Pertiwi

06.07.2008. 


Dalam tulisan ini, saya menghidangkan “parodi bulu ketek Ibu Pertiwi”. Suatu metafor Ibu Pertiwi melalui cerita kehidupan seorang wanita. Parodi ini timbul, akibat kegusaran saya terhadap “bulu ketek”. Ia yang tumbuh dan tumbuh lagi, sekalipun di basmi berkali-kali. Pemilihan kata “bulu ketek” disini, sengaja saya tekankan, daripada kata “bulu ketiak”, karena memang sisi vulgarnya yang ingin saya tonjolkan.

Secara perempuan, kehadiran dan pertumbuhan bulu ketek sangat merepotkan dan meresahkan. Ia mengganggu pemandangan, membuat saya gatal gatal, menebarkan aroma kecut seperti sup Tom Yang Kung tak layak makan!

Dalam sejarah peradaban, terukir berbagai alasan yang di utarakan untuk membasmi bulu-bulu ketek. Mulai dari alasan religius, seperti yang terjadi pada jaman Mesir Kuno, dimana para imam dan para Firaun di haruskan mencukur seluruh bulu-bulu yang ada di tubuh, sebagai tanda yang membedakan tingkat kemurnian mereka dengan yang lainnya, hingga alasan medical, serta alasan hubungan sosial dan budaya.

Seperti kebanyakkan perempuan, alasan hubungan sosial dan budaya saya ke depankan, untuk menerapkan image diri sebagai “seorang perempuan yang bersih”. Oleh karena itu saya mencoba mendisiplinkan diri untuk “membasmi” bulu ketek, membuat ketiak saya menjadi mulus, wangi serta enak dipandang. Seperti juga seorang perempuan yang ingin bersih, indah dipandang, wangi dan mengundang selera, begitu juga dengan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu, pembasmian bulu-bulu ketek akan menjadi topik utama dalam tulisan ini.

Dalam mitologi suku-suku bangsa, bumi banyak dipersonifikasikan sebagai Dewi, dimana kita mengenalnya dengan panggilan “Ibu Pertiwi”. Ibu Pertiwi yang feminin, selain welas asih, melahirkan dan rela berkorban atas kerakusan sebagian dari anak-anaknya, ia juga membutuhkan badan yang indah serta ketiak yang bersih, mulus, enak dipandang dan tidak berbau kecut. Tetapi tampaknya Ibu Pertiwi harus sering menderita gatal-gatal yang meresahkan, membuat dirinya merasa risih dengan pemandangan yang kurang indah, terbelengu oleh perasaan rendah diri, akibat bau kecut yang menebar dari bulu-bulu ketek yang memanjang.

Yang saya maksud dengan bulu-bulu ketek dalam konteks ini adalah para koruptor-koruptor yang bertumbuh dengan suburnya, yang tanpa malu-malu keluar dari persembunyiannya, di balik ketiak Ibu Pertiwi. Seperti bulu ketek yang memang secara alami tumbuh pada setiap manusia, begitu juga dengan para koruptor yang eksistensinya ada di negara manapun, sekalipun di negara- negara yang struktur perekonomiannya maju dan ketat.

Para koruptor-koruptor tersebut memang vulgar, oleh karena itu pantasnya disebut “para bulu ketek” daripada para bulu ketiak. Selain sifatnya, yang senang bersembunyi dalam kehangatan di balik ketiak, para koruptor tersebut juga senang membuat gatal-gatal. Dengan kondisi tanah Indonesia, yang gembur dan kaya dengan sumber daya alam, maka, pertumbuhan “para bulu ketek” tersebut semakin subur. Di tambah dengan, lembabnya udara di Indonesia dan kestabilan cuaca yang panas, “para bulu ketek” dengan sigap menebarkan bau kecut hingga ke seantero dunia. Setidaknya pada saat ini, jumlah tingkatan “para bulu ketek”, menempatkan Ibu Pertiwi pada jajaran ke 140 “negara berketek kecut”dari 160 tingkatan (country rank) yang ada
(http://www.nationmaster.com/red/graph/gov_cor-government-corruption&b_printable=1&b_desc=1). (cat: semakin besar tingkatannya berarti semakin “kecut” bulu-bulu keteknya).

Bulu ketek itu sendiri memang merupakan fenomena yang alami, dimana setiap badan pasti mempunyai bulu ketek, begitu juga dengan Ibu Pertiwi. Secara alami, patut juga diketahui, kalau “para bulu ketek” tersebut tidak bisa di basmi secara permanen. Tetapi, sekalipun tidak bisa di basmi secara permanen, Ibu Pertiwi tidak akan rela begitu saja menyerah. Segala daya dan upaya di kerahkan untuk mencari dan menemukan “mesin-mesin pembasmi” yang efektif.

Sejak zaman dahulu, telah banyak di lakukan pembasmian bulu-bulu ketek dengan cara mencabut, mencukur, waxes, penggunaan epilator, obat-obatan, enzim hingga penggunaan teknologi canggih seperti penggunaan laser dan teknologi yang paling baru yaitu IPL (Intense Pulsed Light).

Begitu juga dengan sang Ibu Pertiwi, beliau telah banyak melewati berbagai macam cara, dalam membasmi “para bulu ketek” yang tumbuh di ketiaknya. Betapa tersiksanya Ibu Pertiwi, kala ia hanya mampu menggunakan alat penjepit/pencabut bulu, dimana, ia harus menanggung rasa sakit yang lama akibat sistim cabut satu per satu “para bulu ketek” tersebut. Di tambah dengan lamanya proses dan akibat saat dicabut, muncul luka yang tak kasat mata serta pori-pori yang membesar, membuat penderitaan Ibu Pertiwi berkepanjangan, terantai oleh rasa rendah diri di depan publik. Memasuki era reformasi, sang Ibu Pertiwi mulai melirik penggunaan silet cukur untuk membasmi “para bulu ketek”. Dengan penggunaan silet cukur, maka berkuranglah penderitaan Ibu Pertiwi dari rasa sakit. Tapi sayangnya, penggunaan silet cukur tidaklah efektif. “Para bulu ketek” tumbuh lagi dengan lebih cepat, dan lebih ganas menebarkan aromanya. Selain itu, bukan saja kecepatan pertumbuhan kembali “para bulu ketek” yang meresahkan, tetapi akibat “kebandelan” dan kekerasan akar dari “para bulu ketek” menyebabkan silet cukur menekan lebih keras dan menimbulkan iritasi, menyayat kulit Ibu pertiwi, menyebabkan kematian salah satu anaknya, menorehkan luka yang tak kunjung kering.

Beralih dari penggunaan pisau cukur, dengan kondisi perekonomian dan situasi politik yang memungkinkan, maka cara waxes mulai digunakan. Dengan mengecilnya risiko, dibandingkan penggunaan alat pencabut bulu dan pisau cukur, tampaknya waxes menjadi pilihan yang tepat saat itu.

Menurut laporan organisasi “Transparency International” (http://www.transparency.org) pada tahun 2005, Indonesia termasuk negara yang optimis dalam pembasmian “para bulu ketek” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejak tahun 2005 hingga 2007, tingkat ranking CPI (Corruption Perceptions Index) Indonesia menunjukkan bahwa pembasmian ala waxes cukup membawa hasil. Dimana pada tahun 2005, Indonesia berada pada tingkatan ke 140 negara berbau kecut dari 159 country rank, lalu pada tahun 2006, Indonesia berhasil mencabut lebih “para bulu ketek” yang membuat ia berada pada posisi ke 130 dari 163 tingkatan, dan pada tahun 2007, Indonesia membasmi lebih banyak lagi “para bulu ketek” sehingga mendudukkan diri pada tingkatan ke 143 dari 179 country rank.
Tetapi sekali lagi, “para bulu ketek” menonjolkan keangkuhannya. Akibat samping dari penggunaan waxes malah membuat mereka, “para bulu ketek”, tumbuh lebih kasar dari sebelumnya dan lebih kecut aromanya. Menurut perhitungan tabel CPI saat ini (2008), pertumbuhan “para bulu kletek” bekletek, merambah dengan kekasarannya, membuat Indonesia untuk sementara (mudah-mudahan) berada pada posisi ke 140 dari 160 tingkatan.

Sesungguhnya, keberadaan jumlah para bulu-bulu ketek ini juga tergantung dari faktor kondisi alam dan ekonomi. Kondisi alam yang saya maksudkan disini adalah kondisi hukum yang ada. Seperti halnya negara-negara Eropa Utara, yang kondisi suhu alamnya sering mencapai titik beku, membuat “para bulu ketek” tergeletak beku kedinginan, menderita kelambatan pertumbuhan, tertekan oleh daya hukum yang “beku” dan ketat. Ditambah lagi dengan daya kantong yang cukup tebal, memungkinkan mereka menggunakan teknik IPL (intense pulse light) untuk menghilangkan “para bulu-bulu ketek”. Dengan waktu pengerjaan yang sangat pendek, “para bulu ketek” tidak akan tumbuh lagi dalam jangka waktu lebih lama. Tetapi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, IPL tidak dapat dilakukan hanya satu kali. Dibutuhkan pengulangan-pengulangan yang rutin, oleh sebab itu, potensi kantong ekonomi sangat penting di dalam menjaga kestabilan dan kebersihan akan serangan pertumbuhan “para bulu ketek”.

Pada tahun 2008 ini, Indonesia memperkuat usahanya untuk meningkatkan kegiatan pembasmian “para bulu ketek”. Apalagi, dalam waktu yang sangat dekat, akan diadakan kembali pemilihan umum. Dengan harapan, akan situasi yang baru dan lebih baik, tampaknya penggunaan “Mesin Epilator” untuk membasmi “para bulu ketek” mulai digunakan. Berbagai jenis dan merek ditayangkan, namun pada intinya adalah sama. Mencabut “para bulu ketek” dengan efektif dan memperlambat pertumbuhan mereka. Setidaknya, mereka “para bulu ketek”, akan tumbuh jauh lebih halus daripada penggunaan sistim lainnya.
Masa pertama kali penggunaan “Mesin Epilator”, pasti akan menimbulkan rasa sakit, tetapi semakin sering pemakaian, maka kulitpun akan terbiasa. Sehingga dengan demikian, Ibu Pertiwi dapat menyambut musim panas dengan badan yang bersih, indah dan terlepas dari bau kecut yang menyebalkan.

Tetapi jangan lupa, selain harus sering-sering menggunakan “Mesin Epilator” secara rutin, Ibu Pertiwi harus rajin membersihkan “Mesin Epilator” setiap akhir proses pembasmian. Karena bukan tidak mungkin “para bulu ketek” tersebut menyangkut erat pada mesin, yang mengakibatkan “Mesin Epilator” tidak berfungsi dengan sempurna. Penyikatan “para bulu ketek”, pada “Mesin Epilator” harus sering-sering dilakukan. Bukan tidak mungkin, kalau “para bulu ketek” ini memberatkan atau menumpulkan pisau penjepit “Mesin Epilator”. Akibatnya banyak kita baca pada berita-berita di media masa, bahwa korban “para bulu ketek” tidak hanya Ibu Pertiwi tetapi juga “Mesin Epilator”. “Mesin Epilator” juga harus dijaga kebersihan dan kesterilannya, karena bukan tidak mungkin, antek-antek “para bulu ketek” yang berbentuk bakteri-bakteri akan menyerang Ibu Pertiwi setelah proses pembasmian. Akibatnya, sering terbaca kisah akan keberhasilan pembasmian “para bulu ketek”, di sertai dengan penyerangan mikroskopik “bakteri-bakteri” yang sama sekali tidak bisa terlihat, penyerangan yang kasat mata.

Jadi untuk mengakhiri kisah parodi “para bulu ketek”, saya hendak menekankan bahwa, pada dasarnya “para bulu ketek” selalu hidup dimana pun dan kapan pun, selama bola dunia ini masih berputar, dan terisi oleh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Oleh karena itu, pembasmian “para bulu ketek” harus dilakukan dengan disiplin yang ketat, terjaga frekuensi kerutinannya. Penggunaan dan pemakaian alat pembasmi “para bulu ketek” juga harus diperhatikan dan selalu terpantau kebersihannya, dari “para bulu ketek” yang menyangkut di mesin pembasmi. Kesterilan mesin pembasmi dari “bakteri-bakteri”, sahabat “para bulu ketek” merupakan syarat utama demi kesempurnaan mesin.

Saat ini, kantong ekonomi Indonesia memang belum mampu menggunakan teknologi canggih nan mahal, seperti penggunaan teknik IPL (intense pulse light), untuk membasmi “para bulu ketek”. Ditambah lagi dengan kondisi alam hukumnya, yang masih mempunyai tingkat kelembapan yang tinggi, membuat Ibu Pertiwi masih tetap harus berjuang keras, dalam meredam tingkat pertumbuhan “para bulu ketek”. Tapi hal ini bukan berarti membuat kita harus pasrah dengan serangan gencar aroma kecut dari “para bulu ketek”.

Tulisan ini mengajak kita semua untuk, berhenti menutup hidung, berhenti berkeluh kesah, akibat bau kecut dan ketidaknyamanan yang di timbulkan oleh “para bulu ketek”. Mulailah sejak sekarang, kita membasmi “para bulu ketek”. Janganlah kita hanya mengandalkan satu mesin saja untuk membasmi, tetapi berkreatiflah, dengan potensi kantong ekonomi yang ada pada diri masing-masing. Dengan bersatunya kita, menggunakan berbagai macam alat dan cara untuk membasmi “para bulu ketek”, maka bukan tidak mungkin, kita akan meredam tingkat dan waktu pertumbuhan “para bulu ketek”. Sehingga, saat kita menunjukkan diri kita di hadapan publik, kita akan tampil berani, dengan rasa nyaman dan percaya diri, bebas dari tebaran aroma kecut.

Mari kita singsingkan lengan, cabuti ramai-ramai “para bulu ketek”!

Arita-CH

La Blonde Attitude

Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 22 Maret 2010 (klik disini)

The blonde girls -wanita berambut pirang- sering diidentikkan dengan seks dan seks serta seks. Begitu kuatnya image blonde girls yang dinilai berkisar tak jauh dari urusan dada ke bawah menciptakan blonde phobia diantara sesama wanita, terutama mereka yang sudah berpasangan.

Banyak cerita, baik kisah nyata maupun bualan ataupun gosip, berisikan kehebatan para blonde girls menggoda lelaki berpaling dari pasangannya, yang tentu saja membuat posisi kaum wanita berambut pirang tersudut ke belakang ruang. Ketakutan akan wanita berambut pirang begitu luas seolah - olah wanita berambut pirang sama dengan penyakit akut berbahaya biang keladi dari segala perselingkuhan dan perceraian.

Namun, mereka para blonde girls tidak mau begitu saja dijadikan sasaran empuk masyarakat. Para wanita berambut pirang membela diri dengan keras kalau mereka tidak hanya memikirkan tentang ataupun bergelut di sekitar dunia seks belaka, namun toch... sama sekali bukan salah mereka kalau mereka terlihat seksi dengan kepirangan rambut mereka.

Sekalipun banyak blonde girls yang bertingkah seronok dengan keseksiannya serta menjadi penggoda yang andal, namun BUKAN berarti semua wanita pirang adalah penggoda nomor satu bagi kaum adam dan musuh nomor satu bagi kaum hawa.

Mereka mengatakan dalam pembelaan mereka bahwa kesuksesan wanita menggoda lelaki hingga berpaling dari pasangannya bukan karena wanita itu berambut pirang, namun karena wanita tersebut mempunyai “Blonde’s Attitude”!

Wanita yang bangga memamerkan kesuksesan yang didapat setelah tidur dengan seseorang (bukan seseorang yang tidur dengan siapa saja namun tidak pernah sukses) menurut mereka adalah wanita yang mempunyai blonde’s attitude.

Blonde’s attitude bukanlah milik blonde girls semata-mata, namun setiap wanita berambut apapun bisa mempunyai blonde’s attitude. Wanita pirang, sekalipun sintal dan cantik belum tentu mempunyai blonde’s attitude, salah satu contoh dari wanita pirang terkenal tokoh kelas atas, tak lain dan tak bukan adalah Hillary Clinton. Seorang wanita pirang yang tidak dapat disangkal lagi kepandaian dan kesuksesan otaknya, melebihi kesintalan dadanya. Namun dia terpaksa harus menerima kenyataan suaminya terjatuh terkaing-kaing dalam pelukan seorang brunette. Seorang brunette yang mempunyai blond’s attitude!

Anne Roumanoff seorang humorist Parisien Perancis mengupas la blonde attitude (blonde’s attitude) dengan gayanya yang khas mengundang tawa baik segar maupun kecut. Menurutnya, seorang wanita yang mempunyai blonde’s attitude tidak harus selalu blonde, namun yang pasti wanita itu memenuhi 6 syarat utama:
  1. Berdiri dengan tegak membusungkan dada, percaya diri kalau setiap jengkal bagian tubuhnya merupakan senjata ampuh untuk menaklukan kaum pria. Jangan lupa ukuran 36B bulat sintal optimal lebih berdaya guna dan efektif daripada merubah ukuran menjadi 38E melebar.
     
  2. Saat berbicara dengan pria, wanita dengan blonde’s attitude wajib membelalakkan mata memandang terpesona tanpa lupa membuka bibir sedikit melebar. Menganga dengan sikap yang seksi sambil tak lupa sesekali mengeluarkan desahan “ ah... ah... ah...” manja di sela-sela pembicaraan serta sabar menjadi pendengar setia. Jangan lupa juga untuk mengangguk-angguk tanda setuju serta menyela dengan desahan-desahan mengundang “ ah... oh... ah...” , sekalipun tidak memahami satu kata pun.
     
  3. Seorang wanita yang mempunyai blond’s attitude harus bersikap sebodoh mungkin. Jangan lupa, untuk mempunyai blonde’s attitude yang sempurna dibutuhkan kecerdasan tinggi untuk membodohi lelaki dengan bersikap sebodoh mungkin! Mempunyai dada penuh bulat bukan berarti mempunyai otak berkapasitas kosong melompong.
     
  4. Memiliki/mengganti nama yang bernuasa eksotis dan bisa menawarkan mimpi bagi para pria. Misalnya nama berakhiran “A” seperti Pamela, Loana, Madonna atau nama yang memberikan rasa “On” seperti Camerron.
     
  5. Saat berdansa, seorang wanita yang memiliki blonde’s attitude harus mampu berbicara dengan bahasa tubuh semaksimal mungkin tanpa menimbulkan kesan murahan. Maksimalkan gerakan di bagian dada dan panggul dengan gerakan melingkar sempurna percaya diri tanpa perlu menggoyangkan kepala berlebihan, dan sekali lagi jangan lupa, bersikaplah tanpa dosa dan tampakkan wajah bodoh dengan elegan.
     
  6. Saat kaum pria melontarkan lelucon basi bertemakan blonde girls, wanita yang mempunyai blonde’s attitude harus mampu tertawa manja terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata sambil berkata, “ha ha ha... untung maskara saya waterproof, ha ha ha...”



Jadi, satu pesan untuk kaum wanita. Janganlah berprasangka buruk pada blonde girls, namun berhati-hatilah dengan wanita berambut warna apapun yang memiliki blonde’s attitude.


Waspadalah...
 

Arita-CH
Une brunette qui n’a pas la blonde attitude (juré!).

Belajar di luar negeri (2)

13.04.2009.

Dear Zev, Kokiers, kokoers, pokoknya dear semua komunitas KoKi....

Senang rasanya melihat edisi 9 April 2008, dimana semua aspirasi tertampung dalam logo yang menganut asas musyawarah dan mufakat. Akhirnya terbit juga logo dari kolom yang mengayomi dan menampung “kehidupan” kita dengan segala welas asih dan dedikasi maju terus pantang mundur.

1 April 2008, hari yang kutulis sebagai hari untuk mengungkapkan tabir “kebohongan”, berlangsung dengan sukses. Kutulis kata “kebohongan” dengan tanda kutip, karena sedikit berbeda dengan kebohongan tanpa tanda kutip. Kebohongan dengan tanda kutip disini, tidak sama artinya dengan arti kebohongan menurut kamus besar bahasa Indonesia. Kebohongan dengan tanda kutip disini lebih merupakan, unspoken truth. Kebenaran yang tidak dikatakan, yang disimpan dibalik sebagian dari kebenaran lainnya. Salah satu contoh misalnya adalah pengetahuan penduduk Lugano akan keberadaan pulau Borneo. Selama ini, banyak dari penduduk Lugano (menurut survey pribadi) dicekoki oleh iklan-iklan parawisata untuk berwisata petualang di Borneo. Begitu hebatnya iklan tersebut, membuat pengetahuan dasar mereka tentang Borneo menjadi rancu. Borneo yang mereka kenal adalah suatu kawasan yang terletak di satu negara. Jadi pengetahuan mereka bukanlah Borneo yang “menampung” tiga negara, tetapi lebih condong hanya satu negara yang menampung Borneo. Dengan waktu yang sangat terbatas, kami berusaha semaksimum mungkin, mengatakan kebenaran yang tak terkatakan, di sore hari, selasa 1 April 2008.

Kembali kepada dua tokoh, yang tidak bisa kulewatkan begitu saja, pada saat aku belajar di luar negeri. Kini saatnya aku menceritakan, seorang bapak yang sederhana, hidup di tengah keramaian bunyi burung dan binatang yang lalu lalang di alam bebas.

Cerita ini sebenarnya sudah selesai kuketik sejak 8 April 2008, tetapi waktu kubaca KoKiResensi: Tino Saroengallo Bukan Okonkwo, edisi 9 April, mataku terbelalak, lho kok masalah si bapak tokoh kedua ini bisa mirip-mirip dengan masalah yang dihadapi oleh Tino Saroengallo?

Bapak ini biasa kami panggil dengan sebutan, Pang Sayen. Sayen bukanlah nama yang diberikan kedua orangtuanya, tetapi adalah nama dari anak pertamanya. Pada suku dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, saat seseorang mempunyai anak pertama, maka ia akan dipanggil dengan menggunakan nama anak pertama. Jika anak pertama bernama Sayen, maka sang ayah akan dipanggil dengan sebutan, pang (kependekkan dari Japang) atau pak Sayen, yang berarti bapaknya Sayen. Sedangkan sang ibu akan dipanggil dengan sebutan indang atau indu Sayen, yang berarti, ibunya Sayen. Nama Pang Sayen adalah Suner Sukur, lahir di Kampung Tewang Darayu, Katingan Tengah, propinsi Kalimantan Tengah. Tanggal kelahiran beliau tidak diketahui dengan pasti, hanya tempat kelahiran yang jelas terekam dalam cerita keluarga. Tepat dibawah pohon durian yang belum berbuah, saat sang ibu sedang menumbuk padi, Suner, anak bapak Sukur, lahir dengan santainya tanpa bantuan dokter yang memang belum ada.

Pertemuanku tahun ini dengan pang Sayen bukan pertemuan yang pertama. Masih terkenang “goro-goro” yang dimainkan oleh pang Sayen, saat pertama kali aku bertemu muka dengannya tahun 1992, di Jakarta. Pang Sayen dan keluarga mengunjungi Jakarta untuk bertemu dengan ayahku yang masih sepupu. Dengan menumpangi kapal laut dari Banjarmasin, pang Sayen menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Tanjung Priuk, Jakarta. Aku yang saat itu ditugaskan menjadi supir plus pemandu wisata, sempat kebingungan, menemukan mereka ditengah-tengah serbuan penumpang yang turun dari kapal laut. Sambil garuk-garuk kepala, kuingat-ingat pesan yang diwanti-wantikan oleh ayah “pokoknya kamu cari saja bapak yang berkumis, berkopiah dan berkaki telanjang tanpa alas kaki, titik.” Tengkuk ini rasanya berat, terus menerus menunduk, memelototi kaki-kaki penumpang yang beraneka macam. Akhirnya usahaku mendapatkan hasil, mataku menabrak sepasang kaki besar, lebar, tanpa alas, menyangga badan lelaki berkumis, berjenggot, beralis tebal dan berkopiah. Goro-goro mulai terjadi saat pang Sayen mulai dipelototi satpam-satpam dari berbagai jenis bangunan di Jakarta. Bukan hanya dipelototi tetapi juga dilarang masuk! Gerah dengan peraturan yang bertubi-tubi, akhirnya kubujuk pang Sayen untuk membeli sepatu. Seluruh toko sepatu, di pasar Baru Jakarta, kami sambangi tanpa pandang bulu, pokoknya beli sepatu! Tapi apa daya, standar ukuran dan model sepatu tidak mampu bersanding dengan “sepatu” alam yang lekat di kaki pang Sayen. Akhirnya kami semua menyerah, program jalan-jalan tetap dilanjutkan dengan (hanya) menatap Jakarta dari balik kaca mobil.

Tahun 2008 ini merupakan kunjunganku ke pang Sayen yang kesekian kalinya, tetapi baru sekarang, aku mulai mempelajari secara dalam, kearifan dan “daya ramal” pang Sayen, akan masa depan, masa yang akan datang, masa saat kematian menjelang.

Sengaja artikel ini kukemas dalam bentuk narasi, sebagaimana pang Sayen bakesah (bercerita) kepadaku, sambil menghabiskan entah berapa piring nasi kelapa, gelas kopi dan kelapa muda.

“Namaku Suner Sukur, biasa dipanggil dengan sebutan pang Sayen. Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang masih tetap memegang teguh adat, tradisi serta agama yang diturunkan oleh tatu hiang (nenek moyang), pada jaman Lewu Telo (kampung tiga). Jamannya Raja Buno (nenek moyang manusia) turun ke Pantai Danum Kalunen (bumi). Sewaktu aku kecil, aku mengenal agama kami dengan nama, agama helo (agama dulu), yang kemudian pada jaman merdeka, dikenal dengan nama, Kaharingan (diajukan oleh Damang J. Salilah tahun 1945, diresmikan negara tahun 1980). Bagiku, rasanya lebih nyaman dengan sebutan agama helo, apalagi bisa dikatakan kalau aku ini uluh helo (orang dulu). Agama helo telah berperan banyak dalam hidupku, dari sejak ku lahir, menikah, mempunyai anak dan tentu saja juga nanti, pada saat aku mati.

Menurutku, kematian bukan hal yang menyeramkan atau menyedihkan. Memang aku akan bersedih pada saat aku ngalingu (teringat) keluarga dan kehidupan di pantai danum kalunen (bumi), tapi, kematian adalah suatu jalan. Seperti juga kelahiran, kematian adalah jalan untuk pergi ke suatu tempat. Kematian yang kukenal adalah suatu jalan untuk buli lewu (pulang kampung) tatu hiang (nenek moyang), kampung yang makmur dan berkecukupan segalanya (lewu tatau). Nah, jadi untuk apa aku takut dan bersedih untuk pulang ke kampung halaman yang makmur dan bertemu kembali dengan nenek moyang?

Tetapi kutegaskan, memang benar ada yang kutakutkan pada saat kematian. Aku sangat takut tidak bisa buli lewu tatu hiang (pulang ke kampung nenek moyang). Aku takut jika nanti liau ku (arwahku) tetap terbenam di bawah sana, di tempatnya Raja Entai Nyahu dan Kameluh Tantan Dayu, dewa dan dewi lewu (kampung) Bukit Pasahan Raung, penguasa dunia alam kubur.

Nah, lebih dahulu akan kuceritakan pengetahuanku tentang kematian. Menurut tetek tatum (cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi), jiwa yang meninggalkan badan yang sudah mati akan menjadi liau (arwah). Liau itu lalu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah liau (arwah) yang murni. Nah, liau yang murni ini akan langsung lompat, menuju suatu tempat di dunia atas, menunggu liau bagian kedua. Liau (arwah) bagian kedua adalah liau (arwah) yang terbentuk dan melekat dengan badan, terisi oleh perbuatan badaniah semasa hidup. Nah, liau ini tidak murni seperti liau yang pertama, karena sudah campur aduk dengan perbuatan semasa hidup, dari yang baik sampai yang jelek. Liau bagian kedua ini akan masuk kedalam dunia alam kubur, menunggu saatnya pembersihan, hingga saat tiba waktunya, untuk bersatu lagi dengan liau pertama yang murni, lalu lompat ke langit yang paling atas, langsung buli lewu (pulang kampung), berjumpa lagi dengan tatu hiang (nenek moyang).

Bagian yang sangat berarti saat aku mati adalah saat liau bagian kedua dibersihkan, lalu, liau bagian pertama yang murni disatukan dengan liau bagian kedua yang sudah bersih, untuk diantar lompat ke langit ketujuh dengan menggunakan banama bulau (kapal emas) balunas tambun belum (dengan lunas kapal berbentuk ular air). Nah, jadi aku harus meyakinkan diriku, bahwa setelah penguburanku, kelak keluargaku yang masih hidup akan melakukan upacara untuk membersihkan liau, menyatukan dua bagian liau dan memberangkatkan liau dengan banama bulau (perahu emas) berlunas tambun.

Saat yang penting adalah saat keluargaku membongkar kembali kuburanku setelah beberapa waktu/tahun, membersihkan tulang-tulangku, kemudian meletakkan tulang-tulangku yang sudah bersih di peti yang baru, masuk ke dalam pambak (sebutan untuk mausoleum pada suku dayak Ngaju daerah katingan hilir hingga katingan tengah). Acara ini dinamakan acara pesta Tiwah. Suatu pesta terakhir untuk melancarkan keberangkatanku selama-lamanya.

Nah, untuk buli lewu tatu hiang (pulang ke kampung nenek moyang), aku tidak bisa pergi sendirian, manusia pun tidak bisa ikut aku mengantar, karena mereka itu masih hidup. Nah, yang bisa mengantar aku pulang adalah nenek moyangku, keturunan dari saudara-saudara Raja Buno, nenek moyang para kalunen (manusia) di bumi, yang tinggal di langit atas sana. Nenek moyangku juga yang akan mensucikan liau, melepaskan pengaruh buruk dari kehidupanku, menyatukan kedua liau dan mengantar pulang. Tapi nenek moyangku ini, mereka tinggal di langit atas, mereka tidak akan tahu bahwa aku membutuhkan mereka, kalau mereka tidak di beritahu. Oleh karena itu, pada saat tiwah, keluargaku yang masih hidup akan memberitahu dan meminta nenek moyangku, untuk membersihkan, mensucikan, menyatukan dan mengantar liau (arwah) hingga tiba tempat di tujuan. Acara tiwah itu benar-benar merupakan suatu pesta, bagi yang hidup maupun yang meninggal. Bagi yang almarhum, tiwah adalah pesta keberhasilan untuk bisa buli lewu tatu hiang di lewu tatau. Bagi yang hidup juga merupakan pesta, karena selain acara makan-makan, mereka juga berhasil melancarkan kepulangan sang almarhum, berhasil memenuhi permintaan yang sangat penting dari almarhum, permintaan yang bisa dikiaskan sebagai “pembayaran hutang” pribadi, antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Nah, kembali kuulang lagi kata-kataku, yang aku takutkan adalah tidak bisa buli lewu tatu hiang (pulang kampung nenek moyang). Aku takut jika nanti liau ku (arwahku) tetap terbenam di bawah sana, terpisah dengan bagian liauku yang lain, yang menungguku di suatu tempat di langit atas. Bagaimana nasibku? Terdiam tanpa arah dan tujuan dalam dunia alam kubur, terbenam bersama dengan pengaruh buruk dan sial kematian. Kematian seperti itulah yang kutakutkan, kematian yang dingin dan gelap.

Anak-anakku hampir semuanya adalah peladang, sama seperti aku. Pekerjaan kami adalah berladang padi, sayur-sayuran, serta berkebun rotan dan karet. Kadangkala kami pergi berburu dan menjala ikan untuk melengkapi makanan dan menutup biaya kebutuhan sampingan, seperti gula, kopi, teh, susu, baju dan lain-lainnya. Kebutuhan pangan kami mencukupi, bahkan kadang berlebih. Kami tidak pernah membeli beras, bahkan kami bisa menjual beras dengan harga murah, untuk membantu kampung tetangga yang gagal panen. Kampung kami tidak miskin, hidup kami cukup.

Generasiku dan generasi anak-anakku sudah banyak berbeda. Mereka, anak-anakku, bukanlah lagi penganut agama helu. Heh, mungkin karena mereka bukan lagi uluh helu (orang dulu) seperti aku. Generasi mereka adalah generasi yang tidak tahu lagi bagaimana caranya menganyam keba (tas punggung dari rotan), membuat pasuran (alat untuk menangkap ikan), ataupun membuat alat kebutuhan rumah tangga dari kayu. Generasi aku adalah generasi yang tidak tahu sama sekali bagaimana menggunakan telepon tangan, bagaimana menggunakan kompor, baik kompor minyak tanah maupun gas. Bahkan aku baru sekali ini melihat televisi yang bisa merangkap sebagai mesin tik (komputer laptop).

Tetapi mereka, anak-anakku, adalah anak-anak yang baik dan hormat kepada orang tua, juga kepada orang-orang yang lebih tua. Akupun juga menghormati pilihan mereka untuk tidak menganut agama helu, karena agama bagiku adalah suatu pilihan hidup. Seperti anak-anakku yang memilih agama lain, aku, istri dan orang-orang tua disekitarku juga memilih untuk tetap menganut agama helu. Untungnya aku dan istriku, sekalipun anak-anak kami tidak lagi menganut agama helu, mereka masih tetap menghormati dan menghargai tradisi uluh helu. Aku sebagai uluh helu dan penganut agama helu sadar sesadarnya bahwa, jaman sekarang bukanlah jaman helu (jaman dulu) lagi, jaman sekarang adalah jaman serba praktis. Seperti anak-anak kami yang masih dan tetap menghormati tradisi uluh helu, akupun berusaha memahami jaman sekarang, jaman serba praktis. Oleh sebab itu, aku berusaha agar kelak pelaksanaan pesta tiwahku dilakukan secara praktis, sesuai dengan jaman yang serba praktis.

Benar pesta tiwah itu tidak praktis, lamanya bisa berlangsung antara tujuh sampai tigapuluh hari, bahkan bisa lebih, biayanya pun tinggi. Masih ku ingat pesta tiwah abaku (ayahku) pada tahun 1960, kami harus mendayung jauh hingga ke kota sampit, untuk membeli kerbau dan sapi dengan biaya dan ongkos yang tinggi. Tahun ini, kudengar dari temanku yang baru saja mengadakan pesta tiwah bulan desember 2007, untuk almarhum istrinya yang meninggal 5 tahun yang lalu. Ia menghabiskan 30 juta hanya untuk membangun pambak baru (mausoleum) dan 2 sapundu (tiang kayu pengikat korban binatang), belum biaya untuk membeli kerbau, sapi, dan biaya-biaya lainnya.

Akupun kelak membutuhkan pambak baru. Sebenarnya masih ada pambak lama, tempat tulang belulang almarhum abaku (ayah) dan datu-datu (kakek nenek dahulu). Tetapi pambak tersebut sudah terlalu tua dan penuh dengan beratus-ratus tulang. Dibutuhkan pambak baru untuk tulang-tulang istri dan aku kelak.

Nah, karena jaman sekarang adalah jaman serba praktis, maka aku pikir, pesta tiwahku nanti akan menjadi “pesta yang tidak praktis” bagi anak-anakku. Harga-harga kebutuhan tiwah semakin melambung tinggi, menambah ketidakpraktisan dalam jaman serba praktis. Ketakutanku pun menjadi bertambah, bagaimana kalau “ketidakpraktisan” tiwah menjadi halangan bagi liau-liauku untuk bersatu dan lumpat buli lewu tatau? Bisa merana nanti aku di liang kubur.

Sekalipun masih ada para tetua adat dan orang-orang tua yang masih tetap berpegang dengan tata cara adat, tetapi aku tetap harus meyakinkan diriku, bahwa anak-anakku, yang masuk dalam generasi serba praktis, pasti akan melaksanakan pesta tiwah yang “tidak praktis”. Nah, maka itu, aku mulai menyiapkan diri.

Sejak tahun 2006, aku membeli tanah dan membangun pambak baru untuk aku dan istriku kelak. Pemahat dan pematung sapundu pun sudah kuhubungi, kayu–kayu tabalien (kayu besi/ulin) untuk sapundu sudah kubeli, tujuh gong, satu gendang, kangkanong (gamelan kecil) dan katambong (gendang/drum kecil) sudah siap di rumahku. Uang untuk membeli kerbau dan sapi sudah tersedia, dan tertulis dalam surat wasiat, yang dibikin di hadapan anak-anak dan penghulu (panatua) adat. Begitu juga dengan uang untuk membayar pemahat dan pisor (sebutan untuk pendoa & pemimpin upacara agama helu/kaharingan pada suku dayak Ngaju Katingan) sudah terkumpul. Semuanya tertulis dan diketahui oleh panatua adat dan keluarga besar. Setidaknya aku sudah menyiapkan sebagian besar dari upacara tiwahku, upacara yang akan memberitahu dan meminta nenek moyangku, untuk mengantar aku, pulang bersama, buli lewu tatau, buli lewu tatu hiang. Aku sudah mempersiapkan diri kami semua, anak-anakku, istri dan aku sendiri, bahwa kami uluh helu, yang penuh dengan tata cara dan adat yang “tidak praktis”, masih sanggup mengatasi jaman yang serba praktis.

Kini aku tidak takut lagi, kujalani sisa hidupku dengan tetap berladang, menjala dan menganyam. Setiap pagi pisau ku asah, untuk membelah rotan dan menganyamnya, sehingga menjadi keranjang ataupun benda lainnya. Kulewati hari demi hari dengan bekerja dan bersyukur, tanpa rasa takut dan khawatir. Kini aku siap pulang, tidak ada lagi yang kutakuti. Tugasku sekarang adalah mengisi waktu yang tersisa, dengan berbuat sesuai dengan ajaran agama helu, tetap menjadi uluh helu, sambil sekali-kali menceritakan kepada ikau (kamu - Arita), akan kesah-kesah (kisah-kisah) keluhuran tatu hiang dulu.”

Zev, Kokiers, kokoers, kutatap pang Sayen yang asyik dengan pipa yang dibuatnya sendiri. Wajah yang dihiasi dengan alis, kumis dan janggut yang memutih. Wajah uluh helu (orang dulu) yang tegar dan siap menyongsong, bukan hanya masa depan, tetapi juga masa kematian dan masa depan anak-anaknya. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, tanpa berani membuka suara. Sekalipun kata-kata pang Sayen tidak bermaksud mengguruiku, tetapi, identitas diri pang Sayen telah mengguruiku dengan telak.

Identitas manusia terletak pada sejarah dan sumber dari sejarah tersebut. Sumber sejarah paling jauh yang dapat ditemukan, terletak pada mitos penciptaan manusia. Seseorang atau suatu komunitas menemukan akar mereka dalam mitos penciptaan manusia, menciptakan rasa kebersamaan, kekuatan, stabilitas dan rasa aman menghadapi ancaman dari pihak luar yang tidak dikenal.

Pang Sayen dan keluarga memiliki identitas, yang berasal dari masa dulu, terprojeksikan pada masa sekarang dan masa depan. Identitas yang merupakan harta berharga, yang dapat membuat pang Sayen hidup setiap hari dengan rasa damai.

Kutatap dengan sedikit rasa iri pada pang Sayen, lelaki yang damai, dengan identitas mengalir deras dalam hidupnya. Kucari-cari identitas diriku di tumpukkan buku-buku dan sela-sela dompetku yang tipis.

Kupanggil dengan keras sang identitas, “dimana kau, hai identitasku?” Sayup-sayup kudengar jawaban, dari suara yang jauh terdengar, “aku disini, terhalang oleh buku-buku dan perhitungan logikamu.”

Terima kasih setulusnya kuucapkan pada Zev, kokiers dan kokoers yang berada di seantero 166 negara, bahagia menjadi bagian dari kalian, beruntung bisa belajar dari sekian banyak pengalaman yang tertulis.

Are tabe bara (banyak salam dari)

Arita-CH

Belajar di luar negeri (1)

21.02.2009.

Awal tahun 2008, ku buka dengan perjalanan “belajar di luar negeri”, disponsori oleh museum Lugano, Swiss. Mendengar kata “luar negeri”, terutama saat mendengar negara tujuan, aku lompat-lompat kecil, tidak berani lompat besar, takut jatuh dari tangga mimpi.

Program “ke luar negeri” berhasil diputuskan dalam komite scientifik Museum Lugano Swiss tahun 2008 dimana kami berdua (suami dan aku), kolaborator ilmiah eksternal Museum Lugano Swiss, terpilih untuk “belajar” di luar negeri Swiss, mengunjungi suatu negara nun jauh letaknya dari pegunungan Alpen, negara yang harus ditempuh dengan penerbangan selama 14 jam dari kota Zurich plus transit 2 jam. Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara, melintang di khatulistiwa antara benua Asia dan Australia, antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

“Jalan-jalan keluar negeri” ini berkaitan dalam proyek penelitian antropologi, jadi kami berdua tidak bisa terlalu “berzalan-zalan zambil berziul-ziul” (permisi Ibu Ira-Canada, pinjam istilahnya), namun demikian, saat surat jalan dan tiket diletakkan di tangan, hati kami berdua berdendang ria menyanyikan lagu yang berbeda, suamiku bernyanyi akan “serunya” keluar negeri, hatiku juga bernyanyi akan indahnya keluar negeri untuk memasuki negeri yang telah membesarkan aku dengan segala “kebijaksanaannya”.

Saat kaki kami melangkah keluar dari pintu pesawat, aroma khas mendekap hidungku, udara yang lekat dengan kelembapan merangkulku dengan segala kehangatannya, membuatku kepanasan akan rengkuhannya yang erat. Kedua bola mataku “berlari” terburu-buru, mencoba mengalahkan kaki yang kesemutan tertekuk selama beberapa belas jam. Pusat syarafku harus bergelut dengan anggota tubuhku yang enggan bersinkronisasi, masing-masing ingin saling mendahului, berpacu dengan melodi kerinduan untuk segera tiba di tempat tujuan, menambatkan cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Ditemani dengan seorang sepupu, kami bertiga menggerakkan seluruh tenaga untuk menjalani roda penelitian yang “bertempat” di propinsi Kalimantan Tengah, menyelusuri sungai Katingan yang “lahir” di kaki pegunungan Schwaner, meliuk-liuk sepanjang 650 km hingga laut Jawa.

Berhubung jatah sepanjang 650 km terpotong dengan masalah pribadi, sedangkan waktu yang “disediakan” tidak bisa diulur seperti karet, maka penelitian pun “diperpendek” menjadi 400 km.

Penelitian “sependek” 400 km kami arungi dengan mengayuh dayung secepat mungkin. Berbekal fasilitas abad ke 21, dayung digantikan oleh mesin motor Yamaha dan Mitsubitshi. Menumpangi 3 macam jenis dan ukuran perahu, menyusuri sungai Katingan, dari dermaga Kasungan hingga hulu Katingan, lalu kembali ke dermaga Kasungan untuk menumpangi mobil yang juga bermesin Mitsubitshi, menuju Palangka Raya, menaiki kapal terbang yang untungnya tidak bermesin Mitsubitshi, menuju Jakarta, langsung lanjut ke kota Zurich, masuk ke dalam kebekuan salju yang masih belum juga mencair di bulan Maret.

1 April, the april fools' day atau April Mop. Hari yang biasanya “disahkan” untuk berbohong tanpa dianggap bersalah. Tetapi bagi kami, pada tanggal 1 April 2008 lebih merupakan hari untuk mengungkapkan tabir “kebohongan”. Hari ini kami (suami dan saya) menjadi pembicara dalam konferensi “Altra Altri Asia” dengan tema “Pulau Borneo”, di Lugano.

Pertama kali slide peta pulau Borneo terpampang di layar, banyak wajah-wajah yang ternganga bingung, menatap tiga negara di pulau Borneo. Saat kami berdua menjelaskan, menerangkan, “berdakwah”, tentang pulau beserta penduduk aslinya, kembali kami melihat wajah-wajah yang penuh dengan kebingungan bercampur kekaguman. Kutatap wajah-wajah peserta dihadapanku yang terpaku menatap gambar di layar, gambar-gambar yang terekam saat penelitian sepanjang sungai Katingan, gambar-gambar yang “menculik” jiwaku kembali ke kaki pegunungan Schwaner, milir sungai Katingan.

Benakku dipenuhi oleh wajah-wajah penduduk sekitar sungai Katingan. Wajah-wajah yang menatap penuh dengan kekuatan dan semangat hidup, wajah-wajah yang berani menyambut hari esok, tanpa tahu apa yang akan terjadi pada keesokkan hari. Wajah-wajah tua yang bangga menyebutkan jumlah tahun yang telah dilalui, sebagai tanda kemenangan dalam menjalani hidup. Hidup yang kadangkala sering kuanggap sebagai beban yang panjang. Wajah yang tidak akan pernah kulupakan dan terpatri kuat dalam hatiku, wajah yang selalu membuat aku bertanya -tanya, “mampukah aku berdiri tegak seperti mereka?”

Diantara wajah-wajah tersebut, ada dua tokoh yang tidak bisa kulewatkan begitu saja dalam kehidupanku sehari-hari. Sepak terjang dan perjuangan mereka jauh di hutan belantara, menjadi contoh bagi diriku dalam menghadapi hutan belantara gedung bertingkat. Hutan kehidupan abad ke 21 yang dipenuhi dengan semak belukar intrik duniawi yang jauh dari bersahabat. Kedua tokoh ini memenuhi alam pikiranku, kupinta betara kala kembali ke belakang berjalan mundur, kala pertama kali aku bertemu dengan 2 tokoh.

05:07 dini hari.

Hari masih gelap, fajar seolah enggan menyingsing. Kami sudah terlambat 7 menit dari waktu yang dijanjikan. Kulihat tukang perahu kelotok, -perahu bermesin 2 tak berbunyi tok, tok, tok, tok-, sudah siap di dalam perahu, siap menggertak kami yang masih terantuk-antuk. Suara klotok yang menggontok, mendesak kepalaku yang belum teracuni dengan kafein, “ah seandainya ada warung kopi di tengah jalan”. Kami bertiga, Didi sepupuku, sang suami dan aku sendiri, masih terbuai di alam mimpi, terguncang-guncang dalam perahu kecil yang bernyanyi tok tok tok tok. . .

Kami memasuki sungai Samba, anak sungai Katingan, sungai yang akan membawa kami ke desa Tumbang Manggu ( cat.- berbeda dengan bahasa Indonesia, tumbang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti rebah jatuh; runtuh, sedangkan tumbang dalam bahasa dayak Ngaju adalah muara. Jadi Tumbang Manggu adalah desa yang terletak di muara sungai Manggu). Tidak ada yang bisa kulihat disekitarnya saat itu, semuanya masih gelap, dingin, ditiup oleh angin sungai pagi hari, kami “tenggelam” dalam kedinginan pagi, diselimuti kehangatan bunyi mesin kelotok, tok tok tok tok.

Satu jam kemudian, matahari mulai menampakkan sinarnya dengan gagah, sekalipun masih jauh terlihat, tetapi ia menumpahkan warna biru terang jauh di ufuk cakrawala. Bentuk kehidupan mulai menampakkan diri, menyinari kami, menjanjikan harapan baru, hari yang indah untuk disongsong.

Disebelah kiri, kulihat kumpulan batang-batang kayu besar terabaikan dipinggir sungai, debit air yang rendah tidak memungkinkan bagi tongkang untuk masuk dan membawa kayu-kayu tersebut ke hilir hingga laut Jawa. Aku menghela napas, perplex, tidak tahu harus berkata apa. Dalam situasi “moderen”, paradoks tercipta diantara kebutuhan menjadi “modern” dan kebutuhan untuk melanjutkan hidup secara tradisional à la turun temurun. Televisi, majalah, iklan, memberikan contoh model akan suatu kehidupan “modern”, pada komunitas pertanian yang tidak mempunyai gambaran “pasti” akan definisi dari suatu “modernitas”. Mereka membiarkan diri mereka memasuki dunia asing, yang dikenalkan oleh orang “asing”, beradaptasi dengan dunia asing, demi orang “asing” yang datang untuk mengambil kekayaan mereka, dan kemudian pergi tanpa meninggalkan apa-apa. Aku kembali ke dalam kenyataan, kini aku berada ditengah hutan raksasa, ditengah-tengah raksasa kayu-kayu dan mesin-mesin.

06 :30

Kami tiba di desa Tumbang Manggu, dimana terletak betang Bintang Patendu. Betang umumnya diartikan sebagai rumah panjang. Dalam bahasa dayak Ngaju sering juga disebut huma hai (rumah besar). Didalam betang, hidup lebih dari satu keluarga, bahkan pada abad ke 18 bisa mencapai 20 keluarga, yang kalau ditotal jumlah manusia yang hidup dalam satu atap mencapai 200 orang.

Pembangunan betang Bintang Patendu dimulai pada tanggal 15 maret 2002, dengan maksud untuk meneruskan dan menjaga budaya dan tradisi Dayak Ngaju yang bisa dikatakan hampir hilang “dari peredaran”. Betang Bintang Patendu dibangun diatas tanah seluas 1,3 hektar, terdiri dari dua bangunan yang dihubungkan dengan satu bagian, yang dinamakan selasar/karayan, seluas 84 m2. Bangunan pertama seluas 171 m2 adalah bangunan utama, dimana terletak ruang pertemuan/balai dan kamar tempat tinggal, sedangkan bangunan kedua adalah ruang dapur dan ruang makan, seluas 135 m2.

Betang yang dibangun diatas 4 meter dari tanah, ditopang oleh 100 potong kayu besi (scie. Eusideroxylon zwageri) atau kayu tabalien (dayak Ngaju), menimbulkan kesan yang sangat kuat akan kekayaan alam dan kehidupan masa lalu, dalam konteks masa sekarang.

Kami menaiki hejan (tangga-bahasa dayak Ngaju) yang terbuat dari 1 batang pohon utuh, memasuki balai pertemuan yang bernama Balai Karungut. Seperti nama balai pertemuan, “karungut”, seperti juga pemilik betang yang adalah seorang artis, the real celebrity of Karungut. Karungut adalah sejenis pantun, yang dilagukan, diiringi dengan musik kecapi, suling dan kangkanong (semacam gambang). Tema karungut berkisar pada ekspresi perasaan manusia, keadaan alam sekitar, mitologi dan legenda/cerita rakyat. Syair-syair Karungut mengajarkan akan kebajikan dan nilai-nilai luhur budaya.

Seperti syair-syair karungut yang berbicara akan keluhuran budaya, begitu juga dengan sang pendendang Karungut, Bapak Syaer Sua. Begitu banyak hal-hal yang dapat kami pelajari dengan mengenal beliau, sekalipun dalam waktu yang singkat.

Bapak Syaer Sua lahir pada tanggal 15 mei 1952 di desa Bukit Rawi tepi sungai Kahayan, sedangkan kedua orangtuanya berasal dari Desa Tumbang Manggu. Bapak Syaer adalah seorang lelaki yang terlihat tegas, pola bicaranya lugas, tanpa tedeng aling-aling, khas orang Dayak Ngaju. Sistim bermasyarakat Dayak Ngaju adalah sistim budaya betang. Suatu betang adalah juga suatu lewu (kampung), orang-orang yang tinggal di dalam betang adalah satu keluarga yang juga berarti penduduk kampung, jadi pada jaman dahulu, suatu kampung terdiri dari satu betang yang besar dimana anggota keluarga, yang otomatis penduduk kampung, vice versa, selalu bekerja bersama-sama, bergotong royong, tanpa perlu menunggu uluran tangan dari pihak luar. Dalam budaya betang terdapat sistim egaliter, di mana kita biasa memanggil orang dengan sebutan “ikau" (-kamu- Dayak Ngaju), kepada orang yang lebih muda, seumur, bahkan yang lebih tua. Nama orang jarang diucapkan dalam percakapan, kebanyakkan menggunakan panggilan seperti Aba (ayah), Mama (paman), Mina (bibi). Bagi orang yang terbiasa dengan adat yang menggunakan sebutan “anda”, akan menganggap nada bersahabat tersebut sebagai nada ketidaksopanan.

Dibalik sikapnya yang lugas, kami merasakan ketulusan dan kebaikan hati. Ketulusannya untuk terus menurunkan dan mengembangkan tradisi yang diwarisi turun temurun dari nenek moyang, tetek tatum (cerita) yang dilantunkan sang ayah kepada anak-anaknya, diterangi oleh sinar pelita damar, mengisahkan riwayat panjang kehidupan dari masa lalu, sebagai pedoman dan contoh dalam menghadapi masa yang akan datang. Prinsip yang tertanam sejak kecil membuat Pak Syaer Sua menggunakan seluruh kemampuannya untuk membangun betang, untuk mempertahankan budaya betang.

Dalam mempertahankan dan menjalankan prinsip-prinsipnya, tidak jarang Pak Syaer menemukan kesulitan-kesulitan, di antara degradasi moral dan penilaian sepihak dari pihak luar, akan ide-ide dan cita-cita pak Syaer. Tidaklah mudah membangun sesuatu yang hampir punah, meleleh dalam gerakan globalisasi dan modernitas instant. Kehidupan terplastikkan oleh sistem instant, semuanya (harus) serba instant, serba “harus” cepat. Berbalapan dengan waktu, berusaha mengalahkan waktu, tanpa melalui proses alami. Hasil yang didapat akhirnya bersifat instant, begitu juga durasi ketahanannya bersifat instant, tidak tahan lama. Yang kesemuanya menuju pada kemiskinan moral dan material. Pak Syaer Sua harus mampu berhadapan dengan generasi yang diserbu oleh ragam instanitas dari berbagai penjuru.

Pada jaman dahulu kala, betang dibikin dan didirikan oleh orang banyak secara gotong royong. Dengan pengetahuan, peralatan yang sederhana, kesabaran dan kegigihan, mereka membangun betang dengan waktu yang lama. Pada masa kini, waktu dan gotong royong mulai punah. Teknologi modern menawarkan bantuan fasilitas dan kecepatan, tetapi tidak ada yang gratis. Pak Syaer harus memutar otaknya berkali-kali untuk bisa mewujudkan betang. Sudah tidak banyak lagi tangan-tangan yang menawarkan bantuan, dibandingkan pada jaman dulu. Secara materi, proyek Betang merupakan proyek yang jauh dari jangkauan kantong pak Syaer. Tetapi keberuntungan selalu datang dibalik kegigihan dan ketekunan, Betang Bintang Patendu dapat terwujud dengan bantuan fasilitas alat berat dari perusahaan perhutanan.

Betang Bintang Patendu berdiri dengan megah, mengingatkan dan mengajak kembali masyarakat untuk “kembali ke asal”, kembali ke budaya betang. Tetapi globalisasi masih bertengger dengan sombongnya. Pendapat-pendapat orang mulai menggerogoti kesabaran pak Syaer. Dari sebutan sebagai pemimpi hingga orang gila, sudah kenyang didengar oleh kedua telinganya, tetapi bukan kata-kata itu yang kadang kala melahirkan kekecewaan dan kemarahan. Kurangnya informasi dan pengetahuan budaya, akan asal-usul betang tersebut, membuat banyak pengunjung betang menilai “rendah” betang Bintang Patendu.

Banyak orang yang berpikiran bahwa betang hanyalah bangunan sisa dari masa purbakala, yang hanya dibangun pada jaman dahulu, begitu juga pikir mereka tentang Betang Bintang Patendu. Dari beberapa komentar-komentar di internet, banyak yang mengimajinasikan untuk menemukan betang tua, reot, “orisinil”, tidak berjendela kaca, akibat dari imajinasi “eksotis” mereka, para pengunjung, menjadi “menyesal” dengan betang Bintang Patendu. Secara tidak langsung mereka “mendakwa” bahwa betang Bintang Patendu hanyalah “betang tiruan”, betang yang telah dimodifikasi, “betang modern”. Tampaknya pengunjung lebih mudah “mendakwa” sebagai tameng dari rasa kekecewaan dan kekesalan akibat imajinasi eksotis masa lampau. Sayangnya, mereka tidak sadar, bahwa “dakwaan” mereka melahirkan kesedihan mendalam di hati Pak Syaer Sua. Pekerjaan besarnya hanya diartikan sebagai suatu bangunan baru tanpa sejarah, tanpa cerita, tanpa arti.

Tetapi Pak Syaer tidak bergeming dari pendiriannya, ia siap malahap (pekik Dayak Ngaju), mengikatkan lawung bahandang (kain merah) di kepala. Dengan sikapnya yang mamut meteng (gagah berani), ia berjalan dengan semangat isen mulang yang berarti hanya boleh pulang dengan kemenangan. Kemenangan atas janji manusia kepada Ranying (sang pencipta), untuk mengelola bumi dengan baik, dan pulang kembali ke nenek moyang di dunia atas dengan kemenangan, bahwa pantai danum kalunen (dunia) yang dipinjamkan Ranying kepada mereka, telah dikelola dengan baik.

Pak Syaer Sua kembali membangun betang kedua pada 15 September 2005, dengan bangunan utama seluas 300 m2, bangunan dapur seluas 96 m2 , dihubungkan oleh pelataran (selasar/kerayan) seluas 128 m2. Betang kedua ini mempunyai balai yang bernama Balai Basara, yang berarti “Balai Bicara”. Balai yang berbicara, sekalipun betang tersebut belum tuntas selesai terpaku masalah dana, tetapi kekuatan dan kegigihan akan tetap ada, sekalipun harus menahan rahang sang angkara globalisasi yang meraung kuat, mencemooh the real celebrity yang tidak dipuja, seorang Syaer Sua akan tetap meneriakkan lahap (pekik), menantang masa depan.

Saat kami sudah kembali ke Jakarta, pak Syaer Sua memberikan aku satu pertanyaan, “bagaimana pendapat kau tentang betang Bintang Patendu dan betang tua?”

Tanpa ragu-ragu aku menjawab dengan lugas,

“semuanya sangat berarti bagi aku, karena semuanya mengandung jiwa semangat nenek moyang. Kedua-duanya adalah betang, rumah nenek moyangku, rumahku juga, dan aku bangga.”

Teman..., kegigihan pak Syaer Sua membuat aku malu pada diriku sendiri, malu karena aku masih suka nelangsa bila orang mencemooh usaha kami, aku masih suka mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang yang mencemooh usaha kami mengenalkan Indonesia.

Kini aku mulai berkaca pada tindakan pak Syaer Sua. Tidak sia-sia aku belajar “di luar negeri Swiss”, tepatnya di Indonesia, di Kalimantan Tengah. Kini aku harus “membangun balai basara” dengan lebih banyak basara (bicara) agar auchku (suaraku) dapat memecahkan batu hitam kekalahan.

Tikas toh helo doa dan tabe

Bara ikei bawi hatue

Tangis ingganti hapan tatawe

kalampangan ih gulung mangat rata itah mangkeme

Sekian dulu doa dan salam

Dari kami lelaki dan perempuan

Tangis diganti dengan tertawa

Kalampangan saja cepat agar rata kita rasakan

Karungut “Bara Kampung Hantapang Mujai ” (ciptaan J. Lampe Bulit)

Info:

Betang Bintang Patendu.

Bapak Syaer Sua

Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Senaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Video:


Arita-CH

Obrolan Warung Kopi (2)

20.10.2007.
Akhir dari obrolan warung kopi kah? (Sambungan "Obrolan Warung Kopi (1)")

Dear Zev, kokiers ,kokoers serta para pembaca Kolom Kita seanteronya, bagaimana kabarnya ?Mudah-mudahan adem ayem saja dan tidak keriting ataupun berkerenyit dahi terutama setelah membaca « trinité » tulisan sang suhu JC tentang « liquid gold ».

Terlihat dengan gamblang pisau bermata dua, bentuk dari sang primadona Kelapa Sawit. Namanya saja sudah pisau tentu kegunaannya untuk memotong dimana dengan dua mata pisau, kelapa sawit mampu memotong kemiskinan dan juga mampu memotong kehidupan. Mungkinkah situasi ini bisa digambarkan dengan peribahasa bak makan buah simalakama? Kalau Kelapa Sawit maju maka ekonomi mengalami kemajuan, lapangan pekerjaan bertambah besar sementara lingkungan alam mengalami kerusakkan, binatang-binatang mengalami kepunahan dan manusia kekurangan oksigen. Apakah Biodiesel yang ramah dengan udara non polusi menjadi sebuah senjata pembunuh dari bio (kehidupan) tersebut?

Saya akan mencoba untuk tidak menulis terlalu ruwet dalam menyambung di obrolan warung kopi, karena kalau diurut satu persatu seperti mengupas daun kol yang tebalnya minta ampun banyaknya. Pada intinya Kelapa Sawit merupakan komoditi yang penting dan utama bagi kemajuan dan kerusakkan. Banyak teori yang mengatakan bahwa dengan pengolahan yang baik dan benar secara “sustainable” (exploiting natural resources without destroying the ecological balance of an area) akan menghasilkan kebaikan secara universal dan global. Apalagi dengan adanya penemuan baru kelapa sawit menjadi bio fuel yang menjanjikan masa depan cerah akan berkurangnya polusi dan menurunnya biaya transport. Lalu dengan adanya bio diesel dari kelapa sawit dapatkah ia di kategorikan dalam Renewable energy? Renewable energy dalam bahasa indonesia disebut Energi terbaharui dimana secara definisi juga merupakan energi sustainable, yang berarti mereka tersedia dalam waktu jauh ke depan dimana tidak diperlukan pembuatan perencanaan bila mereka habis karena sifatnya yang bisa diperbaharui. Tidak seperti bensin yang diambil dari fosil, biofuel kelapa sawit bisa selalu diperbaharui dengan adanya penanaman kembali Kelapa Sawit. Tapi sebenarnya apa sih energi terbaharui itu? The Pembina Institute, Canada, mengkategorikan solar energy, Wind energy, Biomass energy, Moving water dalam Renewable energy.

Adapun kondisi bahwa energi tersebut terbaharui adalah

  1. Baik untuk masyarakat dan ekonomi
  2. Mampu meminimasikan polusi udara (dibandingkan dengan polusi dari bensin dan diesel) sehingga dapat dikonsiderasikan “bersih” dan “hijau”
  3. Mengurangi kebakaran hutan
  4. Mempunyai pengaruh yang kecil bagi lingkungan sekitarnya, baik bagi tanah, hutan serta menjaga kelangsungan hidup binatang
  5. Tidak akan pernah kehabisan persediaan dimana persediaan harus bisa tergantikan dalam jangka waktu yang terjangkau

Jadi bagaimana dengan kelapa sawit? Jika memasukkan Kelapa sawit dalam energi terbaharui maka ia termasuk dalam ketegori Biomass energy dimana terminologi "biomass" merujuk ke segala macam bentuk tumbuhan ataupun “animal issue” (kotoran binatang).Lalu sudah layakkah kelapa sawit memenuhi persyaratan sebagai Biomass energi terbaharui? Selama ini yang saya ketahui secara pribadi baru point ke 2 (minim polusi udara dibandingkan bensin dan solar) dan point ke 5 karena bisa dilakukan penanaman ulang, sedangkan untuk point yang ke 1 (baik untuk masyarakat & ekonomi) belum mampu dikategorikan dalam keadilan dan perbaikan ekonomi merata bagi masyarakat, point yang ke 3 (kebakaran hutan) abcd ah buu cape deh ngomonginnya, point yang ke 4 apalagi, kebanyakkan orang utan dibunuh saat memasuki kebun kelapa sawit karena “kelaparan” memakan tunas Kelapa sawit. Jadi bisa dikatakan pada saat ini menurut pendapat pribadi saya hanya 2 point positif berbanding tiga point negatif. Bagaimana bisa dikatakan energi terbaharui kalau ternyata tidak energi sustainable (exploiting natural resources WITHOUT destroying the ecological balance of an area) ?

Yang merasa kewalahan dengan masalah ini tidak hanya para eksportir, yaitu salah satunya adalah Indonesia, tetapi juga para negara importir. Menurut laporan wwf 2002, negara importir kelapa sawit terbesar berasal dari India, China dan Pakistan. Sedangkan 17% bagian dari importir kelapa sawit berasal dari EU dimana Belanda, Inggris dan Jerman menjadi pengimpor utama kelapa sawit.

Apalagi para aktivis lingkungan yang “galak” banyak berasal dari utara atau dengan kata lain orang Eropa, sehingga mereka yang berbisnis dan menjadi importir kelapa sawit dari Indonesia khususnya menjadi kebat-kebit “digusur –gusur” oleh kampanye lingkungan hidup. Bisnis mereka bisa tergusur tanpa pembeli dengan adanya kampanye tersebut, image mereka pun akan berubah dari seorang penjual menjadi pembunuh. Salah satu contoh dari perusahaan besar yang ketar-ketir dengan masalah ini adalah perusahaan dimana saya bertempat tinggal, Migros. Migros didirikan pada tahun 1925 , dimana pada saat tersebut harga pangan yang tinggi membuat para kelas pekerja menderita kekurangan nutrisi sehingga Gottlieb Duttweiler mendirikan koperasi Migros yang menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau. Dengan tujuan akan perbaikan dan pemerataan kehidupan maka Migros pun mulai merasakan tekanan dari para aktivis lingkungan dikarenakan Migros adalah importir Kelapa Sawit. Bermula dari tahun 1999, sebuah koran Tages Anzeiger menulis laporan tentang masalah orang Penan di pulau Borneo. Sekalipun penulis (Andreas Bänziger) tersebut hanya membicarakan tentang pembalakkan kayu ilegal dan terancamnya lingkungan hidup dan orang Penan tetapi secara tidak tersirat “dibisikkan” juga akan adanya pemain kedua yang juga mengancam kelangsungan hutan dan lingkungan. Industri kelapa sawit.

Salah satu isi dari artikel tersebut adalah:

“The unsuspecting consumers are in Europe. The very same environmentally conscious citizens who demand an import boycott of tropic woods originating from an unsustainable production enjoy the rainforest for breakfast. They put it on their lips and use it for keeping their hands tender”.

Walaupun tulisan itu berisikan ajakan untuk memboikot perdagangan kayu, tetapi pihak Migros sadar, cepat atau lambat maka tulisan tersebut akan merubah menjadi ajakan untuk memboikot segala produk yang menggunakan kelapa sawit (margarin, cream pelembut, sabun, dll). Migros pun melakukan serangkaian rapat untuk menghadapi serangan yang masih samar tersebut. Mereka mempunyai dua pilihan, melawan serangan dengan membela diri atau melawan serangan dengan ikut aktif dalam membantu sang penyerang mencari “jalan keluar” permasalahan. Akhirnya Migros memutuskan cara yang terakhir, aktif dalam membantu mencari jalan keluar, dan pada musim panas tahun 2002 Migros berhasil menggandeng WWF untuk mempersiapkan the Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO). Kampanye akan Kelapa Sawit yang sustainable (ramah alam dan lingkungan hidup) dilakukan dengan gencar menggunakan gaya aktivis lingkungan. Dalam laporan tahunan Migros 2002, Migros menekankan pentingnya kelapa sawit yang sustainable karena tanpa adanya “inisiatif sustainable palm oil”dari Migros maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

Migros annual report, 2002:

“We brush our teeth and the Orang-Utan dies. We enjoy an ice cream for dessert and the Sumatra-tiger is deprived of his habitat. We rub cream onto our skin and lead elephants and rhinoceros to misery….”

Hebat kan! Demi kelangsungan sebuah kehidupan (bisnis?) maka para perusahaan besar (Migros, Unilever, Fuji Oil, Cadbury Schweppes, Danisco, The Body Shop, Ferrero, Nutriswiss, Rabobank) mengadakan suatu persyaratan akan penanaman kelapa sawit yang ramah dengan sekitarnya. Segala macam persyaratan yang harus begini dan begitu sehingga para penjual akan dengan tenang mempromosikan dagangannya dan pembeli pun tidak merasa bersalah pada pagi hari saat menyikat gigi dengan odol yang menggunakan kelapa sawit. Penjual dan pembeli bisa merasa “tenang” menjual dan menyantap kue tart sebagai penutup hidangan, tetapi bagaimana dengan produsen dan negara produsen yang dalam hal ini khususnya adalah rakyat kecil Indonesia, sudahkah mulut mereka ditutup oleh kue yang (hanya) bisa disantap setelah (mampu) makan empat sehat lima sempurna? Cukup kuatkah sustainability criteria diterapkan di negara penghasil Kelapa Sawit? Kembali para ahli lingkungan dan organisasi pengembangan di Eropa mempertanyakan keuniversalan dari kriteria tersebut. Bisakah diterapkan di negara yang secara politik lemah dalam masalah sosial, manajemen sumber kehutanan yang lemah, dan memegang “jabatan” tinggi sebagai penghancur hutan pada saat ini? Negara yang letaknya berada di Asia, lebih tepat lagi di Indonesia. Para ahli tersebut menginginkan suatu kriteria yang kuat dan mampu dilacak secara tepat akan kebenarannya.

Tampaknya hal ini mulai dari aksi sustainable hingga kriteria-kriteria baru, mulai menarik picu “kesebalan” dari pihak produsen atau lebih tepatnya para negara berkembang. Setelah menjadi negara maju sesudah “menggunduli hutan” sambil bernyanyi-nyanyi (96% di US dan 90% di Europa) kini mereka (negara maju) mulai seenak udelnya mengatur jangan begini, jangan begitu, jangan dan jangan. Disinyalir oleh para negara berkembang bahwa ujung kata “jangan” dari negara maju adalah menjadi “jangan maju”. Jadi seperti yang ditulis oleh JC, kriteria sustainable “terlihat” lebih menjurus ke non-tariff barriers, begitu pula pendapat Luis Inacio Lula da Silva, President Brazil, negaranya si Raja Soy (Blairo Maggi), yang dengan lantang meneriakkan kata Green imperialism kepada NGO dan ahli lingkungan dari pihak barat/west dan menganggap kriteria sustainable sebagai non-tariff barriers, sehingga ia akan membawa masalah tersebut ke WTO (world trade organization).

Jadi bagaimana situasi dari Biofuel saat ini?

  1. Para ahli mengatakan bahwa kompetisi sumber energi tergantung dari spesifikasi wilayah suatu negara. Yang isinya terlalu ilmiah sehingga orang awam menjadi tidak tanggap dengan ucapan yang panjang lebar tanpa kesimpulan
  2. para kelompok aktivis lingkungan tetap meneriakkan anti biodiesel
  3. WWF hanya bisa mengatakan bahwa memang tidak semuanya biodiesel ramah lingkungan
  4. Swiss kembali mencoba mengembangkan lagi kriteria sustainable di meja bundar
  5. dan Brazil teriak-teriak tidak terima dengan kriteria sustainable karena menghambat perdagangan

Lalu apa kata Indonesia terhadap masalah ini? Jangan kuatir Zev, Kokiers, Kokoers dan para pembaca, Indonesia tidak tinggal diam. Terus terang saya kagum dengan pendapat dari pihak Indonesia dan rasanya Indonesia akan mampu melangkah jika pelaksanaannya konsisten dengan teori dan ide. Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Bapak Rahmat Witoelar berkata dengan gamblang dalam wawancaranya dengan REUTERS (30 Jan 2007) dan menggambarkan logika yang jitu.

“if rich countries want developing nations to preserve their forests, they should not talk about it, they should pay for it.

This crude but effective discursive position means that it is up to the North to decide whether rainforests in the tropics are worth protecting. This strategy - called 'compensated reduction' - is based on economic realism, not on environmentalist idealism.

Witoelar:

"Preserving our forests means we can't exploit them for our economic benefits. We can't build roads or mines [or grow oil palms]. But we make an important contribution to the world by providing oxygen. Therefore countries like Indonesia and Brazil should be compensated by developed countries for preserving their resources."

Sources: “Indonesia's biofuels strategy, a balancing act”, Biopact, 2007

Yeah, seperti dalam salah satu judul pada website Biopact, tertera dengan jelas:

"Pay us and we will not burn down our forests": a look at 'Compensated Reduction' (http://biopact.com/2006/09/pay-us-and-we-will-not-burn-down-our.html)

Waw! Hayoo Bayar! Tetapi, ada tapinya ya, selama pembayaran dianggap sebagai suatu dana kompensasi dan bukan merupakan “dana bantuan” yang nota bene hutang (lagi) secara terhormat, maka dana tersebut akan sangat berguna dalam “pengembalian ekonomi kehidupan”.

Lalu bagaimana pendapat saya dalam liquid gold minyak kelapa sawit? Saya kutip salah satu info dari majalah Der Spiegel September 28, 2006,

“in order to supply just 1 percent of the EU's fuel needs, a 3 million hectar plantation would be required, according to a new study by the World Wide Fund for Nature (WWF).”

Jadi pendapat dan juga mimpi saya hanya sederhana saja, minyak kelapa sawit di produksi di Indonesia dimana rakyatnya masih setengah hidup mengikuti harga minyak goreng, listrik yang tidak jelas nasibnya dan biaya kehidupan yang menaik tak kunjung turun. Kalau dengan kelapa sawit bisa menurunkan biaya hidup negara yang sudah maju, kenapa kita harus mengorbankan hutan demi mereka? Akan jauh lebih bermanfaat memproduksi kelapa sawit dan kegunaannya dengan SKALA HANYA untuk RAKYAT INDONESIA.

Pengelolaan kebun kelapa sawit secara adil bagi rakyat (kecil) setempat, turunkan tarif minyak goreng, tingkatkan daya listrik dan turunkan tarif listrik dengan menggunakan biofuel, minimkan udara Indonesia dengan kendaraan biodiesel dan masih banyak kegunaan kelapa sawit lainnya tanpa harus menghancurkan lingkungan hidup demi negara lain, namun bukan berarti menghalalkan kehancuran hutan demi mengenyangkan perut sendiri tentunya.

Eh setelah saya mau menyelesaikan tulisan ini tiba-tiba suami saya menyeletuk,

“Indonesia belum siap infra struktur, wariskan saja mimpi kamu ke anak cucu”.

Eh enak saja, saya berdoa semoga saya masih hidup saat mimpi saya menjadi nyata!

Bagaimana Bapak Presiden Indonesia yang terhormat? Anda baca Koki juga? Semoga...

Arita-CH