Puas, Puas, Puas...?

10.09.2007.

“Masih kecil kok disini ???

bayangin kalau satu malam bisa empat lima orang...

anak sebesar itu… “

(sumber: http://www.journeyman.tv/download.php?id=10744)


Dear Zev, kokier, kokoer, seanteronya...

Kata-kata diatas keluar dari mulut seorang wanita tuna susila yang terheran-heran dengan dua orang rekan kerjanya. Keheranannya terpicu karena status mereka, dua orang perempuan, yang sama dengan dirinya sendiri, wanita tuna susila.


Lho kok sesama rekan bingung?

Ya bingung karena sesungguhnya ia menyadari bahwa pekerjaan yang sedang dilakonin bukanlah suatu pekerjaan yang “indah” bagi panca indera manusia yang mengenal, menghayati arti sebuah susila, bahkan untuk mereka para wanita tuna susila sekalipun.

Dan ia semakin bingung karena dua orang “rekan kerjanya” adalah dua anak perempuan yang pada saat pertama kali datang ke “tempat kerja” sama sekali belum pernah mendapatkan haid! Bisa dibayangkan berapa sebenarnya umur mereka, yang pasti masih dikategorikan di bawah umur.


Anak-anak tersebut berasal dari sebuah desa di salah satu pulau kecil di Indonesia. Di iming-imingi pekerjaan di kota besar sebagai penjaga toko di pulau Jawa, mereka tertarik demi kemajuan hidup keluarga yang serba terbatas. Akhirnya mereka malah terdampar dalam kompleks pelacuran di Batam dan mengalah pasrah dengan sang mucikari yang mengharuskan mereka bekerja keras bahkan sampai lima orang dalam satu harinya, berhubung permintaan akan perempuan di bawah umur sangat melimpah ruah. Mereka pun tidak berani pulang kampung, karena bukan hanya takut dengan mucikari dan tukang pukul tetapi mereka juga sangat takut dengan orang tua mereka, yang diyakini akan membunuh mereka jika sang ayah mendapati apa sebenarnya yang sedang dilakukan sang anak dalam mencari sesuap nasi.

Mencari sesuap nasi! Yak betul, sesuap nasi, karena “penghasilan” mereka hanya untuk sesuap nasi sedangkan sang mucikari dan komplotannya mendapatkan bergudang-gudang nasi, komplit dengan persediaan untuk menyuapkan nasi ke mulut-mulut para “oknum pejabat” yang mingkem disumpal oleh nasi komplit, bukan nasi angking!

Wong ndeso, ucapan ini menjadi ngetop sejak Tukul tampil di acara “Empat Mata”.

Lho deh, kok tiba-tiba malah ke Tukul? Apa hubungannya cerita wanita tuna susila dengan Tukul? Hubungan dua cerita yang berbeda ini dijembatani oleh asal muasal mereka yang semuanya berasal dari desa. Mereka adalah wong ndeso.

Wong ndeso, meninggalkan desanya ke tempat wong kota. Tukul yang katanya “wong ndeso” berhasil menjadi “wong ndeso dengan rejeki wong kota”, dan mungkin masih banyak lagi yang bernasib sama dengan Tukul, berhasil dalam berusaha di kota. Tapi ada berapa yang berhasil dan ada berapa yang gagal, jatuh tertimpa entah berapa tangga dalam rumah tangganya?

Nasib dua orang anak kecil, haruskah berakhir di sebuah tempat pelacuran? Bagaimana dengan anak-anak kecil lainnya yang masih disembunyikan dalam tempat-tempat yang bertedeng aling panti pijat? Begitu juga dengan para wong ndeso dewasa terpaksa menerima nasib di kejar-kejar oleh kebutuhan perut yang membuat para aparat mengejar mereka dengan alasan menjambret, mencuri, merampok, melacur dan entah berapa banyak alasan yang membuat mereka lari-lari...


Itu baru nasib jelek dari wong ndeso yang meninggalkan desanya, bagaimana dengan wong ndeso yang masih tinggal di desa? Ada pendapat yang mengatakan bahwa kehidupan desa jauh lebih baik daripada kehidupan di kota. Betulkah hal tersebut masih berlaku untuk saat ini? Saat dimana globalisasi diartikan sebagai terjamahnya desa kecil oleh oknum orang kota yang tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya. Orang-orang kota yang tidak hanya warga negara Indonesia tetapi juga warga negara asing.


Suatu hari, beberapa tahun yang silam, saya sedang berada di ruang kedatangan sebuah bandar udara yang hanya mampu menampung pesawat berbadan kecil. Di sebelah saya duduk dua orang warga negara asing berkulit non putih asyik berbincang-bincang dengan bahasa Perancis. Bukan maksud untuk menguping, tetapi Tuhan menganugerahkan sepasang kuping yang berfungsi dengan baik sehingga dapat mendengar dengan jelas ucapan dua lelaki di sebelah saya yang merasa aman berbicara bebas dalam bahasa Perancis di sebuah tempat yang jauh sekali dari kota besar. Begitu besarnya rasa aman membuat mereka memperbincangkan strategi tentang penyaluran “pil ajaib”.

Heh! Tersentak saya mendengarnya, pil ajaib? Tukang obatkah mereka? Kalau iya obat apa? Kok dari tadi saya tidak mendengar kata “apotik”? Yang saya dengar hanya persoalan akan berapa banyak pil yang disalurkan, dan berapa jumlah uang yang harus di bayarkan aux flics atau ke polisi. Flic adalah sebutan lain daripada polisi, jadi flics berarti polisi-polisi. Lho kok jual obat pakai acara uang (pelicin) polisi polisi, jual obat apa? Saya menjadi khawatir, firasat jelek mulai menghantui.

Antara ragu dan yakin, saya coba-coba mengatakan firasat jelek saya ke polisi setempat dengan tata bahasa yang dibuat sehalus mungkin tanpa berkesan menuduh, hanya memperingati atau bisa dikatakan sebagai pemberitahuan informasi belaka, eh ujung-ujungnya malah saya di nasehati panjang lebar tentang kenyamanan bagi investor asing demi kemajuan suatu daerah yang terbelakang, hingga ancaman penjara karena jika dugaan saya salah berarti saya menuduh atau merusak nama baik seorang wisatawan/investor. Bersitegang dengan mereka membuat kepala saya pening, akhirnya saya hanya meminta mereka untuk lebih “memperhatikan” dengan seksama para orang asing tersebut dan tentu saja tanpa mengganggu “kenyamanan” para investor asing. Mudah-mudahan memang tukang obat sungguhan yang menjual obat untuk mengobati penyakit bukan menciptakan penyakit! Perjalanan saya lanjutkan dengan mobil selama 5 jam ditambah lagi menyeberangi sungai dengan perahu kecil bermotor tempel, pikiran saya masih digelayuti dengan peristiwa di ruang tunggu bandara, menggelayut berat tanpa tahu harus bagaimana berbuat dan bersikap. Mungkin memang saya yang terlalu berprasangka buruk...

Sesampai saya di tempat tujuan, di sebuah desa, pikiran saya mulai tenang, disambut dengan ketenangan desa yang berpenduduk sedikit, sarat dengan kekayaan alam. Rasanya bahagia melihat keragaman para penduduk kampung, wong ndeso yang ragam, tepa selira, saling memiliki satu sama lainnya, bergotong royong, dimana sila ke empat dari Pancasila “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan” masih dilakukan dalam kehidupan mereka. Minimum seminggu sekali mereka berkumpul di balai desa untuk musyawarah dalam menghadapi persoalan – persoalan di kampung tersebut. Persoalan bagaimana membuka ladang, kapan saat menebarkan bibit tanaman, bagaimana pelaksanaan panen sampai masalah dalam kehidupan keluarga yang akhirnya menjadi masalah seluruh kampung. Dari pernikahan, kelahiran hingga kematian. Beberapa hari setelah kedatangan saya ke kampung tersebut, saya mendengar “perbendaharaan” baru di dalam daftar masalah kampung tersebut. Masalah pil!

Salah satu warga kampung dipastikan terkena “penyakit asing” alias mabuk pil ajaib. Kampung yang terletak di tengah hutan belantara kurang lebih 200 km dari kabupaten sudah masuk dalam daerah penyebaran pil Ekstasi!

Masalah tersebut merupakan masalah baru bagi penduduk kampung itu.

Bagaimana dengan masalah lainnya yang timbul karena oknum wong kota?


Saya pindahkan alur cerita ini ke dua tahun yang lalu, dimana saya melakukan penelitian budaya di sebuah daerah yang 5 tahun kebelakang masih berwarna hijo royo, penuh dengan pohon-pohon yang berdiameter 50 cm. Saat saya mendekati kampung, daerah tersebut masih hijo royo, tetapi tidak lagi ditumbuhi dengan pohon-pohon berdiameter 50 cm, tetapi di rambahi oleh pohon-pohon kelapa sawit. Melihat hal tersebut saya berpikir akan adanya kemajuan secara ekonomi bagi penduduk kampung, bagi wong ndeso. Apalagi begitu banyaknya kendaraan pick-up dengan kemampuan berpenggerak empat roda (4wd) model terbaru berseliweran was-wis-wes menebar debu tanah merah yang memerihkan mata.


Ucapan selamat atas keberhasilan daerah, saya sampaikan dengan tulus kepada kepala kampung. Kepala kampung yang masih relatif muda hanya manthuk-manthuk mendengarnya, lalu mulailah beliau bercerita panjang lebar bahwa rejeki wong ndeso malah menurun dengan diambilnya lahan ladang mereka untuk perkebunan kelapa sawit yang rakus dengan lahan tanah. Mereka terpaksa harus mencari tempat berladang yang jauh dari tempat tinggal mereka. Tanah yang mereka miliki turun-temurun di ambil begitu saja dengan jumlah ganti rugi seadanya. Permintaan mereka untuk memiliki konsesi eksploitasi tanah di abaikan begitu saja karena pemilikkan tanah hanya berdasarkan adat. Masih ditambah dengan adanya para pendatang yang menguasai tempat dan menjadi “tuan rumah” dimana ungkapan “it’s not for the bread only” (bukan hanya semata-mata untuk roti saja) di aplikasikan dalam kehidupan di sebuah kampung yang mendadak menjadi “far west”. Maksud dari kata-kata itu adalah hidup tidak hanya untuk makan belaka tetapi juga keperluan akan kebutuhan rohani, dimana di kampung itu seperti biasanya ada acara tradisi, melakukan tarian rakyat atau sekedar menembang lagu daerah di balai desa, sarat akan nilai budaya. Kini dengan adanya “lahan baru” dan para pendatang, kegiatan yang “it’s not for the bread only” berubah dengan adanya pembangunan dan pertemuan-pertemuan karaoke plus plus plus.


Pembabatan hutan pun dilakukan untuk ekspansi perkebunan yang bernilai jual tinggi, pembakaran pun terjadi dimana sang raja boleh membakar hutan tetapi penduduk tidak boleh menyulut api untuk kayu bakar tetapi malah di tekan karena dianggap penyebab asap yang merupakan bencana internasional. Sang tuan rumah jadi pekerja di “bekas” tanah nenek moyang dengan pendapatan seadanya, sedangkan oknum-oknum yang dari kota ya tetap rejekinya kota sekalipun oknum. Menurut teori, para petani diberikan bagian dari lahan kelapa sawit, dengan mengalihkan kebun-kebun tradisional komunitas masyarakat menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada prakteknya, memang betul mereka mendapatkan lahan kelapa sawit, tetapi (ada lagi tapinya...) menurut salah seorang peneliti LIPI dalam kajiannya mengatakan bahwa “Keterbatasan lahan yang dimiliki, pengelolaan kebun yang tidak optimal, dan penentuan harga sepihak yang tidak menguntungkan petani, merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kesejahteraan petani. Akibatnya petani tetap hidup miskin, terjerat hutang atau terjebak dalam permainan pemodal”. Masih ditambah lagi bencana ekologis, terjadinya bencana lingkungan, baik banjir maupun kekeringan, dikarenakan terganggunya fungsi aliran air lahan karena tanah tak lagi mampu menyerap air dan menyimpannya.

Kembali ke kepala kampung yang terlihat mendadak “tua” setelah bercerita walaupun umurnya masih relatif muda. Ia hanya bisa menghela napasnya dan berkata


“ Ya bagaimana? Kami hanya orang desa yang hanya tahu bahwa kami pernah punya hukum adat yang dibuat oleh orang desa sejak jaman dahulu, kini kami harus memahami peraturan dari kota”.


Peraturan yang dibuat sesuai dengan tuntutan jaman demi kesejahteraan bersama yang dibentuk di kota,dan dilanggar oleh oknum orang kota.

Wong ndeso akhirnya menjadi serba salah, meninggalkan kampung untuk pergi ke kota tidaklah lagi menjanjikan peningkatan taraf hidup. Tetap tinggal di desa, malah terdesak, tersisih oleh kebutuhan yang mendesak akan kepentingan sepihak yang dengan keras-keras meneriakkan slogan-slogan akan kesejahteraan bersama yang kebanyakkan menjadi kesejahteraan bersama keluarga oknum orang kota.

Kini pada abad globalisasi dan keterbukaan, wong ndeso harus lebih pintar. Wong ndeso harus belajar jauh lebih banyak daripada wong kota. Wong ndeso harus bisa berpikir berpuluh kali lipat daripada wong kota, dan oleh karena itu, anak-anak wong ndeso yang wis ben pintar-pintar harus bisa menuntut ilmu lebih tinggi dari wong kota. Oleh karena itu maka Wong ndeso yang hidupnya sudah sugih di kota maupun di desa diharapkan bisa membantu pendidikkan bagi anak-anak di desa. Mereka yang menuntut ilmu jauh di negeri orang diharapkan bisa kembali ke desanya untuk menolong, membangun dan menjaga desanya dari ekspansi oknum wong kota yang tidak melakukan sila kelima dari Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Wong deso harus mampu mengenal dan mempraktekkan hukum serta undang-undang agar kesejahteraan bersama antara wong kota dan wong ndeso bisa diwujudkan. Diharapkan juga wong ndeso bisa menjadi aparat hukum dan penegak hukum yang taat akan hukum dan bekerja sesuai dengan hukum (mungkin bisa di pertebal lagi dengan hukum adat ?).

Sehingga pada saat investor (sungguhan, bukan investor pil ajaib) baik dari kota maupun luar negeri memasuki desa, maka wong ndeso bisa menikmati kehidupan di desanya tanpa harus ekspor tenaga kerja ke luar negeri, tanpa harus mendengar cerita bahwa anak mereka menjadi wanita tuna susila di panti pijat dan sebagainya, yang mengarah kepada kesejahteraan yang merata bagi kedua belah pihak, wong ndeso dan wong kota. Wong ndeso dengan rejeki wong kota tanpa harus ke kota mengais rejeki.

Sayangnya untuk saat ini masih banyak wong ndeso yang tertindas di dalam dan di luar desa, baik secara materil dan moril.


Sebagai penutup, saya kutipkan suatu kejadian yang tertulis dalam sebuah artikel pembuatan film tentang budaya di sebuah desa kecil, di suatu tempat di Indonesia, yang dilakukan oleh sebuah televisi asing dibantu oleh peneliti asing budaya Indonesia.

“[..] I argue that the activists' interest in making a film, and their decisions during its shooting were part of their larger organizational strategies, with potentially far-reaching political and economic consequences. [Indonesia, Dayaks, religion, identity, tourism, filmmaking]

[..]

The official damages were four downed banana trees, six shingles off a roof, and

a trip to the polyclinic for a grandmother who experienced shok (shock)

when loud noises and strong winds from the helicopter persuaded her that her house was turning

to stone.

[..]

(sumber: talking heads: capturing Dayak deathways on film)

“Puas, puas, puas… ?”

Arita-CH

Nasihat Jiwaku


24.08.2007.

Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku
Bahwa aku tak lebih tinggi ketimbang cebol ataupun tak lebih rendah ketimbang raksasa.
Sebelumya aku melihat manusia ada dua,
seorang yang lemah yang aku caci dan kukasihani.
Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan dalam pemberontakkan.
Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah yang sama dari mana semua manusia diciptakan,
Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan jiwaku adalah jiwa mereka.
Perjuanganku adalah perjuangan mereka, dan
pengembaraan mereka adalah juga milikku.
Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,
Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.
Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;
bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka...

Khalil Gibran, “ Cinta, Keindahan, Kesunyian” , 1997:157

Terima kasih Koki dan Koko atas kebersamaan selama ini
Terima kasih Zeverina atas ketabahan dan kegigihannya
Terima kasih semuanya atas segalanya, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang

Selamat ulang tahun!

Majulah hai Kokiers

Majulah hai Kokiers

18.08.2007.
Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya,

Bangsanya, Rakyatnya semuanya.

Sadarlah hatinya, Sadarlah budinya

Untuk Indonesia Raya !

Hai Zev dan para kokiers…

Menyambut ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 62, saya tidak mampu berkata-kata, terpaku di depan layar monitor yang menayangkan lagu Indonesia Raya jaman dulu, hati berdegup kencang, mata memanas tergenang oleh aliran air mata, saya terduduk diam melihat sang Saka Merah Putih yang berwarna hitam putih (karena film jaman dulu) berkibar melalui internet. Bertiga dengan anak dan suami, kami “terpaksa” memperingati 17 Agustus 2007 di depan layar monitor karena adanya halangan yang tidak bisa kami hadang.

Barisan kata-kata yang membuka surat saya merupakan barisan dari lagu Indonesia Raya yang pertama kali dinyanyikan pada Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) tanggal 28 Oktober 1928, dimana pada jaman itu kehidupan masih terkurung dalam kolonialisasi bangsa asing.



Kini 62 tahun sudah proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan di muka bumi. Terpaku jelas baik secara nasional maupun internasional bahwa Indonesia kini merdeka dan berdiri di atas sebuah pemerintahan sendiri, terpantak juga di pemikiran anak saya yang masih dalam periode akil balik bahwa tanggal 17 Agustus 1945 adalah hari lepasnya kolonialisasi di bumi pertiwi.

Kali ini bukan kemerdekaan yang ingin saya kemukakan karena pada intinya, di dalam hati dan nurani, kita sudah merdeka sejak lagu Indonesia Raya dinyanyikan pada tahun 1928. Merdeka menyampaikan hasrat yang paling dalam terpendam oleh pemerintahan asing yang menebarkan dendam.

Yang ingin saya tanyakan pada tanggal 17 Agustus 2007, suburkah tanah Indonesia? Suburkah jiwa bangsa dan rakyat Indonesia?

Dari seluruh penjuru dunia, Indonesia terkenal dengan tanahnya yang subur Gemah Ripah Loh Jinawi, lalu apakah memang masih subur tanahnya bagi Indonesia, dengan adanya penganiayaan alam yang semena-mena?

Bagaimana dengan jiwa bangsa Indonesia yang seantero jagat dikenal subur dengan keramahannya, jika kepahitan dalam hati dan ketidakpercayaan akan negara, berkembang jauh lebih subur? Atau malah haruskah kesuburan dari tanah Indonesia menyuburkan ketamakkan jiwa?

“Seharusnya negeri gemah ripah loh jinawi ini mampu menghidupi rakyatnya”

Begitulah kalimat yang sering terdengar dan memang benar seharusnya demikian yang terjadi, tetapi hal tersebut tidak akan pernah terjadi dan merupakan suatu hal yang tidak mungkin untuk menghidupi rakyat Indonesia jika para jiwa di tanah yang subur masih subur dengan ketamakkan.

Oleh karena itu ijinkan saya meletakkan beberapa bait lagu Indonesia Raya ke hati para pembaca dan dengan membungkuk hormat saya mengajak para pembaca meneropong kedalam bait tersebut.

Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya,

Bangsanya, Rakyatnya semuanya.

Indonesia membutuhkan tanah yang subur tanpa penganiyaan dan jiwa-jiwa yang subur akan keramahan dan kebaikkan untuk kepentingan bersama.

Bangsanya, Rakyatnya semuanya.

Sadarlah hatinya

Kesadaran hati menjadi bagian dari bangsa Indonesia dibutuhkan, sekalipun sudah bukan sebagai Warga Negara Indonesia ataupun tidak menetap di Indonesia.

Bangsanya, Rakyatnya semuanya

Sadarlah budinya

Kesadaran budi dan pekerti akan tanggung jawab sebagai bangsa Indonesia dibutuhkan, dimanapun orang Indonesia tersebut berada, bagaimanapun keberadaan mereka sekalipun warna rambut sudah berganti menjadi merah pirang.

Untuk Indonesia Raya

Dengan kesuburan tanah Indonesia maka jiwa-jiwa yang subur, yang sadar hatinya, yang mempunyai budi pekerti, akan mampu menghidupi rakyat Indonesia di segala bidang, sekalipun jiwa-jiwa tersebut terpencar di seluruh bagian dunia yang letaknya beratus-ratus kilometer dari Indonesia.

Slamatlah Rakyatnya, Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya semuanya.

Majulah Negrinya, Majulah Pandunya

Untuk Indonesia Raya


Selamatkan rakyat maka selamatlah para putra-putrinya yang akan mampu menyelamatkan pulau-pulau, laut dan semuanya sehingga negeri Indonesia mengalami kemajuan, mengayomi pandunya dalam menjaga Indonesia di kerayaannya.

Majulah hai Kokiers,

Untuk INDONESIA RAYA !!!

Arita-CH

TICINO

13.07.2007.

Sekelumit kisah menanggapi pertanyaan dari Ascona-Planet Earth

Dear Zev, pembaca Koki & KoKo serta si cantik Ascona yang indah…

Kenapa saya memanggil “Ascona si cantik yang indah?” Karena Ascona yang saya kenal disini, cantik dan indah, sangat menyenangkan dengan pemandangan dan suasananya yang terkenal dengan sebutan “ sorga dunia “ di Ticino.

Ascona yang pernah bernama Burgus de Scona pada tahun 1224, dan juga dikenal dengan nama Aschgunen adalah nama sebuah kota yang termasuk dalam komunitas Locarno, bagian dari kanton Ticino yang terletak di sebelah selatan Swiss. Letak Ascona yang strategis dipinggir danau Maggiore dengan penduduk sebanyak 5000 orang (data statistik tahun 2002, 4000 orang lebih banyak jika dibandingkan data statistik tahun 1521) membuat kota ini adem, tentrem dan alon-alon. Saat-saat menyusuri danau di Ascona, orang-orang yang berlalu-lalang tampak berjalan perlahan tanpa kesusu. Waktu berputar perlahan, seolah-olah sang Betara Kala terbuai dengan semilir angin dan alunan musik Jazz. Itulah Ascona saat musim panas, yang selalu disambangi dengan Festival New Orleans Jazz.

Ascona selalu menjadi impian dari pendatang yang ingin menetap di Ticino, impian untuk mengaitkan tambang bahtera kehidupan, melabuhkan kapal yang digonjang-ganjingkan ombak dunia yang tak terduga pasang surutnya. Pendatang yang gerah dengan bisingnya sebuah kota, semrawutnya angkutan umum yang hilir mudik. Ascona bukan hanya kota adem dan tentram, tetapi juga merupakan kota yang makmur dengan pemasukkan. Turis yang berdatangan setiap saat tanpa mengenal perbedaan musim merupakan salah satu distribusi utama bagi kota ini. Pembangunan hotel, restaurant serta apartemen tidak mengurangi lahan Ascona yang masih hijau royo. Dengan adanya kemakmuran ekonomi serta ketidakpadatan penduduk menjadikan kota Ascona sebagai salah satu kota di Ticino yang termasuk rendah pajak komunitasnya, dengan multiplikasi komunal sebesar 75%. Multiplikator ini ditetapkan oleh komun masing-masing dan bervariasi dari 60% (komun bosco luganese) hingga 100%.

Ada tiga jenis pajak di Swiss yang harus dibayar setiap tahunnya, pajak kantonal, pajak komunal dan pajak federal.

Misalkan saya mencoba hitung-hitungan ala pasar, untuk suatu keluarga yang menetap di Ascona serta mempunyai penghasilan bersih pada tahun 2005 sebesar SFR.50.000 (SFR 1 = USD 0.804/EUR 0.593) maka untuk membayar pajak kantonal dikalikan 2% (pajak kantonal minimum) menjadi SFR. 1.000.-, dengan multiplikasi komunal yang sebesar 75% maka pajak komunal yang harus dibayar SFR 1000 x 75% = SFR. 750.- lalu untuk pajak federal sebesar 0.63% menjadi Sfr.1.000.- x 0.63%= SFR. 63.-. Total pajak yang harus dibayar pada tahun 2006 adalah SFR.1813.- . Untuk mencoba menghitung pajak di komun lain bisa dilihat diwebsite (dalam bahasa Italia) http://www.ti.ch/dfe/DC/MOLTIPLICATORI/default.asp?menu=6

Cukup menarik bukan jumlahnya? Tapi eit tunggu dulu, pajak boleh bayar rendah, tetapi biaya hidup? Pating gedebuk bisa membuat ngglesot kalau tidak cukup tebal persiapan kantongnya. Harga sebuah rumah di Ascona bisa mencapai SFR 8.000/m2, elok tenan ya. Sorga itu indah dan “mahal”, seperti layaknya Ascona, kota yang menyandang predikat “sorga dunia”. Memang benar mahal harga sebuah sorga, baik di dunia maupun di akherat...

Kembali dari sorga ke dunia, dunia di Kanton Ticino tidaklah mirip dengan neraka, mungkin kalau dihayati malah lebih mirip dengan sorga (dihayati loh, jangan dihitung-hitung). “La beauté de l’Italie, la qualité de l’Allemagne” julukan yang diberikan teman saya yang tinggal di Perancis. Keindahan alam Italia dengan kualitas ala Jerman. Ah saya sih mesem-mesem saja mendengar julukan tersebut. Tidak hanya di Ascona tetapi di komun lainnya mempunyai alam Ticino yang indah dan teduh walaupun di musim panas tobat-tobat panasnya nyelekit. Kemana pandangan mata melihat, warna hijau mendominasi, pohon-pohon, tanam-tanaman, gunung serta danau. Pembangunan apartement, gedung dan toko tidak didominasi dengan warna hijau tetapi pembuatan dan biaya bisa dipastikan berdominasikan warna hijau (glek!).

Bagi mereka yang mempunyai pekerjaan berkutat dengan buku-buku, alam Ticino merupakan tempat yang tepat untuk berkonsentrasi mendapatkan inspirasi. Bagi saya pribadi, Ticino seperti kampung kedua. Di daerah tempat saya tinggal, pemandangan bukit dan gunung menjadi menu sarapan pagi yang nikmat bagi mata yang masih belekan bagaikan alien. Saat matahari mulai memerah di ufuk timur maka sang maha ayam bin gagah perkasa membuka hari dengan kokoknya yang pelit, suara merepet bebek-bebek yang cerewet, mencoba menyaingi embikan genit kambing yang tengah menggoda sapi-sapi angkuh ber emoh-emoh, burung-burung yang pecicilan bergosip kiri kanan sejak matahari terbit hingga matahari terbenam di ufuk barat, hingga saatnya pagelaran tepuk gendang sang katak-katak yang mengkletak bersahut-sahutan dengan kelitik jangkrik, menggiring saya ke alam mimpi. Semuanya bersatu padu mengingatkan saya bahwa manusia bukanlah satu-satunya penghuni di tempat ini.

Sugih rasanya dikelilingi nyanyian alam tanpa harus membeli kurungan ayam. Sugih lagi karena tidak perlu repot cari jam dinding, setiap jam suara lonceng pun berdentang dari gereja kecil di atas bukit. Sugih lagi karena tidak perlu beli air mineral bergalon-galon, cukup buka keran ledeng lalu saya mangap selebar-lebarnya, airnya sudah dingin tanpa es batu sedingin air di hulu sungai Katingan, sugih lagi karena tidak terkena strok (stroke) ditengah-tengah kertas struk (struck/tagihan) bulanan yang menumpuk mengalahkan disertasi yang sedang saya ubek-ubek sampai menjadi buluk. Yo sugih terus nrimo dengan privilege yang diberikan alam kepada saya. Kenikmatan alam yang pernah saya rasakan di Jakarta, jaman saya masih kejar-kejaran dengan layangan, walaupun minus sapi-sapi yang angkuh, burung-burung di Jakarta saat itu juga sama pecicilannya, bergosip ria akan cicilan tetangga.

Wuih romantis habis ya...? Tetapi kalau saya putar ulang kisah kasih saya dengan Ticino maka terlihat dengan jelas perbedaan yang sangat jauh bertolak belakang.Pengalaman perkenalan pertama dengan Ticino, masa-masa penjajakan dengannya sangat berkesan mendalam sekali, menorehkan sembilu kebosanan yang luar biasa! Yak betul, saya ditimpa dengan tangga kebosanan entah ada berapa anak tangganya.

Kebiasaan yang hampir mendarah daging, yang untungnya belum tercampur di daging saya menjadi penghalang utama dalam mencintai Ticino. Kehidupan yang terbiasa dengan murat-maritnya macet Jakarta, hingar bingar klakson metromini yang terekam di kepala saya bertahun-tahun ditambah lagi dengan beberapa tahun hidup menjadi ikan sarden ngumplak dalam metro (kereta bawah dan atas tanah), hidup dengan semboyan, “métro, boulot, bistro, dodo” (pergi menaiki kereta metro, kerja, makan, tidur) plus “avvocato” (urusan dengan pengacara) membuat saya shok (shock) dengan “kediaman” alam Ticino. Seperti anak kecil yang disuruh diam sama ibu guru yang galak tapi baik hati, saya duduk diam sambil ngedumel, kemana isi kota Ticino di musim dingin yang sudah pasti dingin? Sepiiii sekaliii, membuat hati menjadi gundah gulana bertanya-tanya, adakah kehidupan di kota ini?

Untunglah orang-orang di Ticino tidak sesepi musim dingin, dengan bermodalkan sapaan “buongiorno” (selamat pagi/selamat siang) maka melelehlah mereka dengan jawaban yang panjang berlika-liku, saking panjangnya saya hanya menangkap bunyi akhir yang kebanyakan berakhiran huruf vokal. Saya yang saat itu hanya mudeng dengan bahasa dari negara yang pernah dipimpin Kaisar Napoléon Bonaparte, jadi plongo-plongo mendengarkan bahasa asalnya keluarga Napoléone Buonaparte (korsika). Untungnya (lagi 2 kali) mereka para “i Ticinesi” tidak protes mendengar saya hanya bisa menjawab dalam bahasa Napoléon Bonaparte, tapi ya itu kadang kala tetap saja percakapan dilanjutkan dengan”seriosa” Napoléone Buonaparte. Para “i Ticinesi” atau orang Ticino umumnya ramah dan mahal cemberut, dengan bahasa Italia, Jerman, Perancis dan tentu saja dialek Ticinese mereka dengan senang hati berbicara ngalor-ngidul!

Sewaktu adik saya berlibur disini, saya sempat garuk-garuk kepala yang sudah bebas ketombe, melihat adik saya asyik berbincang-bincang dengan seorang il Ticinese. Adik saya sibuk nyerocos dengan bahasa dari negaranya Margaret Thatcher, sementara “il Ticinese” golak-golek nyambangin dengan keyakinan “vini, vidi, vinci”. Saya tanya kepada mereka berdua,

“paham bahasa Italia, dik?”, “Capisci l’inglese?”,

keduanya menggelengkan kepala dengan pasti. Lho! Gemblung (!), dari tadi apa saja yang dibicarakan selain kata-kata “yes” dan “si”? Berhubung mereka membahas kancah dunia sepak bola, maka sambung-menyambung si “yes” dan si “si” menjadi satu padu, kaya raya gemah ripah terbalut umba-umba keramahan dua anak bangsa yang berlainan bahasa.

Lain lagi dalam dunia peradministrasian atau masalah perijinan, mereka lebih memilih untuk berkomunikasi dalam bahasa Italia, Jerman atau Prancis, kalau sampai kepepet dipaksa yah bahasa londo Inggris dikeluarkan juga. Walaupun sempat bertemu dengan pegawai yang judeg judesnya dalam meminta ijin bekerja mandiri (mendapat ijin tinggal bukan berarti otomatis mendapatkan ijin kerja, ada 2 macam ijin kerja, dependent/kerja untuk sebuah perusahaan dan independent/mandiri) tetapi pada dasarnya mereka melayani dengan sigap dan efektif, selama persyaratannya lengkap dan jelas maka surat ijin kerja dapat dicap bersanding dengan surat ijin tinggal. Informasi wara-wiri, sana-sini yang lebih akurat dari omongan saya yang ngalor, ngidul, ngetan, ngulon tentang Ticino bisa di klik langsung di internet: www.ch.ch; www.ticino.ch; www.ti.ch; dan www.ascona.ch khusus kota Ascona.

Akhir kisah, dengan bantuan kokok pelit sang ayam, si bebek-bebek cerewet, turut pula kambing yang genit, sapi yang emoh-emohan, burung-burung pating pecicilan serta pagelaran konser simponi kunci F bis dari katak dan jangkrik maka saya jatuh didalam pelukan Ticino, dalam rengkuhan alamnya yang asri membersihkan belek di mata saya setiap paginya .

Demikian sekelumit kisah kasih saya dengan Ticino, semoga bisa menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Ascona di Planet Earth pada koki edisi “Tattto, Multiply`ers & Pesawat Composite (Inggris, Yogya, Perancis)”, kamis 12 Juli 2007.

Dengan persembahan bunga Kamboja yang sedang mekar kepanasan saya pareng, permisi para penghuni KoKi dan KoKo yang saya hormati, are tabe bara Arita.


Air Putih

18.03.2007.

Hai..hai..dan hai, apa kabar si hai hai hai dan kokiers?

Kayaknya sudah lama ya tidak “mendengar” sapaan khas dari si Dia yang suka ber hai hai hai (wajib tiga kali). Kurang wokeh ya kayak nasi tanpa sambal, walaupun mengenyangkan tapi kok kurang nendang gitu... (Tidak komplain ya Zev, hanya mengeluarkan “rasa hati”...)

Saya hari ini menulis tentang air putih yang segar. Bagi saya air putih adalah sebuah idola.

Kalau keadaan cuaca sedang panas terik dan menyengat, maka yang pertama keluar dalam pikiran adalah segelas (kalau perlu sebotol) air putih yang segar mengaliri tenggorokan. Kalau keadaan cuaca dingin dan kering, lagi-lagi segelas air yang saya buru.

Saat saya bangun pada pagi hari (kadang-kadang kesiangan juga) hal pertama yang saya lakukan adalah meminum segelas air putih (setelah itu ya kopi kental...) mau tidur ya menyiapkan segelas air putih disamping ranjang, kalau terbangun karena mimpi buruk ataupun mimpi indah ya segelas air putih yang pertama kali saya gapai. Segelas air putih bisa meredakan kemarahan saya, begitu juga saat saya sedang sedih pasti yang dicari segelas air putih.

Air putih bagi saya bagaikan sebuah idola. Artinya sangat besar sekali, jauh lebih besar daripada dicampur dengan macam-macam. Memang enak sih kalau air putih dicampur sirop, kopi, teh dll, tapi lagi yang paling menyegarkan ya air putih tok.

Bagaimana kalau saya jadi air putih ya? Yang artinya bisa menyegarkan, menenangkan, dan menyenangkan. Waduh kayaknya susah ya.

Susah karena jadi air putih berarti tidak pakai sirop, yang berarti saya tidak terlihat “berwarna” dari luar. Berarti tidak pakai kopi, apalagi kopi merk “x”, yang berarti saya tidak “seterkenal” kopi merk X. Berarti tidak pakai teh dengan berbagai macam rasa, yang berarti saya tidak akan mempunyai “rasa” tertentu yang ngetop.

Jadi air putih itu seperti siapa ya? Menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan manusia tanpa manusianya sendiri ingat atau memperhatikan. Menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan tetapi tidak “ngetop”. Jangan dibandingkan air mineral dengan air putih karena disini yang saya bicarakan ya air putih tok.

Kalau menurut saya mungkin orang yang seperti air putih yang mengalir di hati banyak manusia diantaranya adalah Ibu Teresa dan Romo Mangun dll.

Siapa lagi ya? Akhirnya saya bengang-bengong di depan monitor komputer, sadar karena sebenarnya bagian yang “dan lain lain” itu buanyaaak sekali. Ibu saya merupakan “air putih” bagi kami sekeluarga, karena dedikasinya yang menyegarkan dan menenangkan kami, tetapi kadangkala kami lupa bahwa arti sang Ibu sangat besar bagaikan segelas airputih yang tidak ada habisnya. Juga Ibu-Ibunya para kokier yang juga merupakan “air putih”bagi para kokier pasti banyak sekali.

Bukan hanya ibu-ibu, bapak-bapak bahkan anak-anak pun bisa menjadi air putih yang menyegarkan dan menenangkan, hanya ya itu, tidak semua orang mampu menjadi air putih dan bening.

Contohnya ya tidak usah jauh-jauh, saya sendiri lah. Mau jadi air putih ya kurang bening, masih ada butiran-butiran coklatnya. Mau menyegarkan tetapi minta imbalan, mau menenangkan tapi milih-milih sama siapa. Mau jadi air putih asal air mineral karena bisa menghasilkan uang, ya bukan air putih (biasa) lagi. Gamblangnya ya menjadi manusia yang bisa menyenangkan, menyegarkan dan menenangkan tapi ya tidak usah neko-neko dan memikirkan imbalannya. Mendedikasikan diri tanpa berpikir akan masuk ke layar kaca, layar televisi ataupun layar monitor.

Kalau banyak manusia yang berbuat dan bertindak seperti air putih, pasti Indonesia bisa terlihat kinclong karena bersih.

Bisa tidak ya saya menjadi air putih?

Kapan ya? Wuiss pokokke harus bisa tenan gitu.

Permisi para kokier, saya mau minum air putih dulu...

Arita-CH

Tuhan, ijinkan saya ber-Tuhan...

11.10.2006.
Dear Zev dan para pembaca, apa kabar ?
Selamat berakhir pekan ya, untuk Zev khususnya, nikmatilah senikmat-nikmatnya…

Zev beberapa tahun yang silam, saya pergi ke sebuah kampung kecil yang sangat terpencil dan sulit akses masuknya, kampung ini terletak di sebuah pulau besar di bumi pertiwi tercinta. Saat itu saya sedang dalam rangka penelitian budaya tidak resmi alias tidak punya sponsor dari institusi manapun karena lebih merupakan “cicilan hutang” saya terhadap kebesaran bangsa yang sedang terorak-arik dalam penggorengan kemelut ekonomi, politik, korupsi, kolusi, dsb,dst, bla bla bla.

Dengan sedikit modal rupiah dan modal dengkul serta pinggang -maksudnya jalan kaki entah berapa kilometer sambil memanggul ransel penuh dengan perlengkapan “tempur” yang sudah kehabisan sebelum pulang- saya menapaki jalur lintas suku asing yang hidupnya bergantung dengan alam semata.

Suatu malam dengan ditemani bulan dan bintang, saya mengobrol dengan seorang bapak tua bernama SY, yang tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir, hanya pohon Durian yang menjadi saksi mata hari kelahirannya. Ia menceritakan kisah kehidupannya dengan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti daripada saya yang mencoba berbahasa daerah tapi menclo-menclo, tergagap, seperti orang tersedak buah kedondong.
Suatu hari, pak SY “merantau” ke sebuah Desa yang berjarak 3 hari berperahu. Saat ia tiba, banyak orang sedang berkerumun di depan sebuah rumah, ingin tahu apa yang terjadi, ia pun mendatangi kerumunan tersebut.
“Ada apa ramai-ramai? Ada perayaan panen?” tanyanya.
“Bukan Pak, sekarang lagi pendaftaran untuk pembikinan KTP”, jawab lelaki di sebelahnya.
“KTP itu apa?” tanyanya lagi
“KTP itu Kartu Tanda Penduduk”
“Bagaimana caranya untuk buat KTP?” ia semakin penasaran ingin tahu
“Ya gampang, tinggal di isi nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, agama, terus di potret dan tanda tangan”.
Ia termangu bingung, tidak mengerti maksud dari semuanya itu. Akhirnya ia meninggalkan kerumunan tersebut, tetapi bapak yang menjelaskan arti dari KTP memanggilnya kembali.
“Pak, pak, mau juga bikin KTP?”.
Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak mengerti. Karena saya tidak tahu tanggal lahir saya” jawabnya polos.
“Ah gampang pak, di kira-kira saja, mungkin sekarang bapak berumur 30 tahun?”
Ia menatap si bapak pasrah, “ya saya tidak tahu berapa tahun umur saya, sudahlah tidak apa-apa, saya tidak bikin KTP”.
Si bapak tidak mau berhenti membujuk, “dikira-kira saja pak umurnya. Bapak agamanya apa? Agama A, atau agama B”
Lalu ia menjawab “agama saya ya agama X”.
Si bapak mengerutkan keningnya “wah pak, agama X tidak ada didalam daftar, pilih saja pak yang didalam daftar, ada agama A, B, C atau D. “
Ia menggelengkan kepalanya, “ Tidak bisa, agama saya ya X, agama X itu agama helu, agama dulu, dari jaman nenek moyang kami turun ke bumi. Saya bisa dikutuk tidak bisa pulang ke kampung nenek moyang saat saya mati nanti”.
“Tapi pak, yang namanya agama ya cuma A,B,C,D itu saja. Untuk syarat KTP, bapak harus mencantumkan salah satu agama dari A,B,C,D itu.” si bapak berkeras menjelaskan.
Ia kembali menggelengkan kepalanya “Kalau tidak ada agama X di dalam daftar, ya sudah saya tidak bikin KTP”.jawabnya keras.
Si Bapak lalu mendekati dan berkata “Pak, kalau bapak tidak memilih salah satu, berarti bapak tidak beragama. Kalau bapak tidak ada agama, itu berbahaya pak”
Ia pun menjadi marah campur bingung, “bahaya bagaimana? Memangnya saya merupakan ancaman?”
Si Bapak berbisik “Kalau tidak ada agama, bapak bisa dibilang komunis, hati-hati pak. Nanti bapak bisa ditangkap, dan plong, masuk penjara.”
Ia pun terkaget-kaget “masuk penjara? saya salah apa? komunis itu apa?”

Sayapun ikut-ikutan kaget mendengar cerita bapak SY yang terjadi sekitar awal tahun 70 an. Lalu sayapun bertanya ke pak SY apakah ia akhirnya mempunyai KTP. Pak SY tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
“ah tidak, untuk apa? Tetapi anak-anak saya punya KTP semua” jawabnya bangga.
Lalu bagaimana dengan agamanya? Sekarang kan agama X sudah di akui dan mempunyai bagian dalam undang-undang. Pak SY mengangguk-anggukan kepalanya
“ya betul, tetapi anak-anak saya mendaftar dengan agama A, biar mudah urusan administrasinya, walaupun aslinya sih masih tetap agama X”.
Saya jadi garuk-garuk kepala.
Melihat saya garuk-garuk kepala kebingungan, pak SY menjelaskan bahwa yang terutama bagi ia dan keluarganya adalah berTuhan. Menyembah ke sang Pencipta Maha Agung, Maha Besar. Menghormati ciptaanNya dan berbuat sesuai dengan ajaranNya, menghindari laranganNya dan menjalani aturanNya, menempatkan IA di atas segalanya maka segalanya akan dimudahkan untuk kembali berpulang ke tempatNya, kampung nenek moyang, karena hidup di dunia hanyalah kampung yang dipinjamkan sementara.
Kalimat pak SY masih tetap tertanam di hati saya. Di negara Indonesia yang mempunyai kekayaan dengan aneka agama sangat sedikit orang yang mempunyai Tuhan. Orang-orang berlomba-lomba menyandang agama, seolah-olah agama merupakan prestis untuk kepentingan pribadi. Para koruptor kelas wahid, menggantungkan agamanya di depan kamera televisi. Para politikus menggunakan agama untuk mendapatkan kemenangan dalam berkarir yang walaupun nantinya dalam proses selanjutnya mereka sama sekali tidak ber-Tuhan. Begitu banyak orang-orang yang “mengtuhankan” ajaran dan melupakan Tuhan yang sejati.
Tuhan yang seharusnya ditempatkan ditengah-tengah, lalu semuanya mengarah hanya ke Tuhan, menjadi terbalik, segalanya harus ditengah-tengah, lalu Tuhan di belakang menjadi tameng kebobrokan.

Ada salah satu puisi Frithjof Schuon, seorang teolog Sufi, dari Basel, Swiss yang sangat saya suka,

Les hommes semblent être en fuite
Qu’est-ce qui les inquiète, qu’est-ce qui les fait fuir?
Ils ne fuient pas seulement l’inconnu qui menace,
Ils se fuient eux-mêmes, ils fuient leurs misères
Leur simple existence. Homme, écoute
Tu es au bord de l’Être, où vas-tu?
Arrête-toi!
……..Dieu est le Centre et le Repos.


Orang-orang kelihatannya melarikan diri
Apa yang membuat mereka khawatir, apa yang membuat mereka melarikan diri?
Mereka tidak hanya melarikan diri dari ancaman asing yang tidak diketahui,
Mereka melarikan diri dari diri mereka sendiri, mereka melarikan diri dari kesengsaraan mereka
keberadaan mereka yang sederhana. Hai manusia, dengar.
Kalian berada diujung keberadaan, mau pergi kemana lagi?
Berhenti!
Tuhan adalah yang utama dan peristirahatan.

Sudahkah saya ber-Tuhan?
Dengan menatap keAgungannya, saya bersimpuh agar saya diijinkan untuk berTuhan dan selalu ber-Tuhan, Amin.


Arita - CH

Nasi campur

Nasi campur
18.10.2006.
Dear Zev dan Para pembaca di seantero belahan bumi,
Kali ini saya ingin menghidangkan nasi campur sederhana di Koki tersayang nan hebat tenan, nasi campur ala tulisan dikarenakan bahan-bahannya terdiri dari kata-kata yang teracik dengan bumbu dan pengalaman seadanya sehingga ya sederhana saja sesuai dengan ukuran ikat pinggang saya yang sudah cukup kenyang dengan dua macam lauk. Hanya tulisan ringan utara selatan yang mungkin tidak menyambung menjadi satu yang bisa saya tuliskan saat ini untuk mengobati rasa rindu saya berkongko ria dengan para kokier di berbagai pelosok.

Dimulai dari warna pirang. Warna pirang bisa kita anggap seperti daging rendang, karena warnanya coklat kepirang-pirangan (maksa nggak ya...?). Daging rendang sedap dan gurih, wuah nikmat rasanya setelah diinapkan beberapa hari. Lalu apa hubungannya dengan warna pirang? Ya mungkin karena sama-sama berwarna kepirang-pirangan.

Minggu kemarin saya ngopi bersama-sama dengan teman-teman. Ngobrolin warna rambut teman saya yang habis diupdate mengikuti pergantian musim, persis warna daun pada musim gugur, agak oranye ke merah-merahan. Iseng-iseng saya tanya, kapan ganti warna pirang? Ih langsung dia melotot! Makin cantik sih, tapi mulutnya jadi mencong karena senewen.
"Enak saja ganti pirang, tak mungkin aku ganti pirang!"
Loh ini anak kok jadi salah paham, saya buru-buru minta maaf, bukan maksud hati menghina, tapi karena melihat kulitnya yang putih bersih, bermata biru, berbadan langsing tinggi semampai, tinggal diganti warna rambut pirang, jadilah Barbie hidup.

Teryata menurut dia dan sebagian teman-teman dari pihak pria , berpendapat kalau rambut pirang sama dengan kecantikkan isi otak ayam, apalagi ditambah dengan buah dada yang membusung ala buah pepaya (entah operasi atau asli), wah komplit otak –otak maksudnya ya lembek dan gurih seperti otak-otak . Bagi mereka (teman-teman ngopi saat itu) wanita pirang bukan tipe wanita yang ideal 100%. Ideal 20 % untuk dipandang tapi 80% mahal di ongkos buat berbagi hidup bersama. Belum lagi prasangka kalau kebanyakkan yang berambut pirang berprofesi dengan menguras keringat dan kantong sang pembeli. Sadis juga ngomongnya, langsung saja saya bilang kalau itu namanya diskriminasi, termasuk rasis loh, karena perbedaan warna rambut langsung pukul rata! Si cantik yang baru ganti warna rambut tetap ngotot mempertahankan pendapatnya tentang warna rambut pirang, sementara dari pihak lelaki malah ketawa-ketiwi, mereka bilang kalau ada yang berambut pirang lewat maka dengan senang hati akan dipandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi untuk menelannya bulat-bulat, tungu dulu, satu cangkir kopi tidak cukup. Si cantik bilang kalau saya berpikiran lain karena saya bukan dari dunia mereka, maksudnya dunia kulit putih . Menurut si cantik, ia kesal karena kulitnya tidak bisa coklat, sudah menghabiskan uang untuk berjemur dan solarium, hanya coklat selama satu hingga dua minggu, setelah itu putih lagi! Teman yang dari pihak pria menyambar seperti kompor, bilang kalau kulit coklat lambang gengsi tersendiri! Bergaya saat musim panas, dan juga menyatakan secara tidak langsung kalau ia menghabiskan beberapa lembar uang untuk memperganteng atau mempercantik diri. Apalagi kalau coklat pada musim dingin, berarti nongkrong di solarium berkali-kali. Wah-wah, saya jadi garuk-garuk kepala ingat tetangga saya di Jakarta yang menghabiskan uang entah berapa rupiah agar wajahnya berkulit putih, begitu juga dengan penyanyi terkenal yang menghabiskan entah berapa dolar sehingga kulitnya yang tadinya hitam manis menjadi putih pucat seperti lilin tanpa api. Hampa dan dingin. Kesannya, kulit berwarna masuk dalam golongan kelas terabaikan, tinggal di sudut ruang, bengong menggigit jari hanya mampu melihat tanpa bisa memasuki ruangan tertentu.

Kembali ke warna pirang, saya tidak setuju pukul rata begitu saja, loh itu bisa menjurus ke arah diskriminasi, kalau semua orang berpikiran seperti itu, bisa-bisa si pirang kabur mencari kehidupan baru yang lebih baik, yang menerima si pirang dengan karpet merah, kabur ke Indonesia.
Tuh kan bingung, kok malah jadi ke Indonesia? Lah bagaimana tidak bisa, kalau yang berambut pirang bisa datang dengan mudah ke Indonesia, bahkan menjadi “peduduk gelap” dengan KIMS lengkap, bergaji lebih tinggi dari pada pegawai lokal yang lebih ahli daripada si pirang. tidak membayar pajak ke negara Republik Indonesia. Loh kok bisa? ya bisa, wong namanya saja tidak terdaftar di departemen tenaga kerja. Cerita ini bukan isapan omong kosong belaka, saya tidak tahu apakah pernah dilakukan penelitian dan penghitungan secara statistik, tapi secara pribadi saya tahu cukup banyak orang asing yang punya KIMS aspal, tanpa “izin kerja resmi” ongkang-ongkang kaki di atas pegawai lokal yang sungsang sumbel bayar pajak. Bahkan saking gregetnya saat saya masih tinggal di Jakarta, saya melaporkan keberadaan mereka ke Departemen Tenaga Kerja. Beberapa hari kemudian, gedebak-gedebuk pihak dari Departemen Tenaga kerja datang melakukan pemeriksaan mendadak atas izin kerja para pegawai asing yang digaji cepekceng per jam sementara pegawai lokalnya cepekceng per hari. Suasana chaos hanya berlangsung dalam hitungan 60 hingga 120 menit. Setelah itu seperti yang terjadi dalam cerita-cerita yang sudah- sudah, beberapa amplop membungkam ke galakkan sang petugas. Habis deh chaosnya, berganti dengan senyum lebar, jabat tangan erat, terima kasih atas kerjasamanya...
Saya tidak menuduh semuanya seperti itu, karena saya hanya tahu beberapa saja,tetapi saya penasaran, berapa banyak “orang asing yang menjadi penduduk gelap di Indonesia” dibandingkan dengan “orang Indonesia yang berstatus gelap” di negara asing?
Mereka (sekali lagi tidak semuanya) mengeyam kehidupan lebih layak di Indonesia dibandingkan di negaranya sendiri, bahkan ada yang tidak mau kembali ke Amerika karena tidak mungkin mempunyai tingkat kehidupan yang sama dengan hidupnya di Indonesia. Mereka berbondong-bondong mencari kehidupan yang jauh lebih baik di Indonesia, sementara orang kita tersisih bahkan jadi pergi berduyun-duyun mencari sesuap nasi ke negara lain, bernasib lebih menyedihkan sebagai “penduduk gelap” di luar negeri di bandingkan orang asing yang “berstatus gelap” mengenyam nikmatnya hidup di Indonesia tanpa “takut” dengan petugas negara. Kan semuanya bisa diatur, toch? Woo, dengkulmu!
Apa yang saya tulis bukanlah merupakan penelitian ilmiah ataupun berdasarkan statistik jadi tidak bisa dijadikan standar kalau semuanya seperti itu, hanya berdasarkan segelintir orang yang saya tahu saat saya masih berada di Indonesia. Kadang-kadang tangan saya suka gatal ingin menjewer telinga mereka kuat-kuat. Sedih melihat tuan rumah berdiri dibawah kaki para pendatang yang ugal-ugalan.

Kembali ke negara yang mulai dingin, ke teman-teman “kulit putih” yang ngopi bersama-sama, saya wanti-wanti pesan kepada mereka, janganlah mendiskriminasikan si rambut pirang, pandang mereka sesuai dengan kemampuannya, bukan warna rambutnya nanti kalau dia kabur ke Indonesia lalu jadi “penduduk gelap” kan bisa repot urusannya. Gelar sarjana Indonesia bisa bangkrut tidak laku gara-gara warna rambutnya tidak pirang. Nanti saudara –saudara saya malah buru-buru ganti warna rambut jadi pirang, supaya bisa bersaing mendapatkan cepekceng perjam...

Arita-CH

Bookshelves

Bookshelves
Buku-buku favorit
  • Albert Camus - Le Mythe de Sisyphe
  • Albert Camus - Les Justes
  • Albert Camus - L'étranger
  • Emile Zola - Nana
  • Ernest Hemingway - Le Soleil se lève aussi
  • Ernest Hemingway - Le vieil homme et la mer
  • Ernest Hemingway - Les Neiges du Kilimandjaro
  • Ernest Hemingway - Old Man and the Sea
  • Ernest Hemingway - Paris est une fête
  • Galleria Gottardo (Lugano), Francesco Paolo Campione, Galleria Gottardo, Junita Arneld Maiullari, Switzerland Museo delle culture (Lugano, Bianca Franchetti - La collezione Brignoni. Arte per metamorfosi. Museo delle Culture. Città di Lugano
  • James Redfield - La prophétie des Andes
  • James Redfield - The Celestine Prophecy
  • James Redfield - The Celestine Prophecy: An Adventure
  • Joseph Campbell - Les héros sont éternels
  • Joseph Campbell - Puissance du mythe
  • Joseph Campbell - Masks of God Primitive Mythology
  • Joseph Campbell - Myths, Dreams, and religion
  • Joseph Campbell - Puissance du mythe
  • Joseph Kessel - La règle de l'homme
  • Joseph Kessel - Le bataillon du ciel
  • Joseph Kessel - Le tour du malheur, tome 1 : La fontaine Médicis ; L'affaire Bernan
  • Joseph Kessel - Les Cavaliers
  • Junita Arneld Maiullari - Ngaju sapuyung hats: a brief note.(Travel narrative): An article from: Borneo Research Bulletin
  • Knut Hamsun - La Faim
  • Knut Hamsun - Mais La Vie Continue
  • Knut Hamsun - Mystères
  • Knut Hamsun - Vagabonds
  • Marija Gimbutas - Le langage de la déesse
  • Marija Gimbutas - The Language of the Goddess
  • Mark Twain - Adventures of Huckleberry Finn
  • Paolo Maiullari - Hampatongs in the Daily Life of the Ngaju Dayaks Borneo research bulletin
  • Paolo Maiullari - Hampatongs in the daily life of the Ngaju Dayaks.: An article from: Borneo Research Bulletin
  • Paolo Maiullari & Junita Arneld (currator) - PATONG La grande scultura dei popoli del Borneo dalle Collezioni del Museo delle Culture di Lugano
  • Paulo Coelho - Veronika Decides To Die
  • Paulo Coelho - L'Alchimiste: Roman (French Edition)
  • William Shakespeare - Hamlet (The New Folger Library Shakespeare)
  • Yves Courriere - Joseph Kessel, ou, Sur la piste du lion (French Edition)