La Blonde Attitude

Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 22 Maret 2010 (klik disini)

The blonde girls -wanita berambut pirang- sering diidentikkan dengan seks dan seks serta seks. Begitu kuatnya image blonde girls yang dinilai berkisar tak jauh dari urusan dada ke bawah menciptakan blonde phobia diantara sesama wanita, terutama mereka yang sudah berpasangan.

Banyak cerita, baik kisah nyata maupun bualan ataupun gosip, berisikan kehebatan para blonde girls menggoda lelaki berpaling dari pasangannya, yang tentu saja membuat posisi kaum wanita berambut pirang tersudut ke belakang ruang. Ketakutan akan wanita berambut pirang begitu luas seolah - olah wanita berambut pirang sama dengan penyakit akut berbahaya biang keladi dari segala perselingkuhan dan perceraian.

Namun, mereka para blonde girls tidak mau begitu saja dijadikan sasaran empuk masyarakat. Para wanita berambut pirang membela diri dengan keras kalau mereka tidak hanya memikirkan tentang ataupun bergelut di sekitar dunia seks belaka, namun toch... sama sekali bukan salah mereka kalau mereka terlihat seksi dengan kepirangan rambut mereka.

Sekalipun banyak blonde girls yang bertingkah seronok dengan keseksiannya serta menjadi penggoda yang andal, namun BUKAN berarti semua wanita pirang adalah penggoda nomor satu bagi kaum adam dan musuh nomor satu bagi kaum hawa.

Mereka mengatakan dalam pembelaan mereka bahwa kesuksesan wanita menggoda lelaki hingga berpaling dari pasangannya bukan karena wanita itu berambut pirang, namun karena wanita tersebut mempunyai “Blonde’s Attitude”!

Wanita yang bangga memamerkan kesuksesan yang didapat setelah tidur dengan seseorang (bukan seseorang yang tidur dengan siapa saja namun tidak pernah sukses) menurut mereka adalah wanita yang mempunyai blonde’s attitude.

Blonde’s attitude bukanlah milik blonde girls semata-mata, namun setiap wanita berambut apapun bisa mempunyai blonde’s attitude. Wanita pirang, sekalipun sintal dan cantik belum tentu mempunyai blonde’s attitude, salah satu contoh dari wanita pirang terkenal tokoh kelas atas, tak lain dan tak bukan adalah Hillary Clinton. Seorang wanita pirang yang tidak dapat disangkal lagi kepandaian dan kesuksesan otaknya, melebihi kesintalan dadanya. Namun dia terpaksa harus menerima kenyataan suaminya terjatuh terkaing-kaing dalam pelukan seorang brunette. Seorang brunette yang mempunyai blond’s attitude!

Anne Roumanoff seorang humorist Parisien Perancis mengupas la blonde attitude (blonde’s attitude) dengan gayanya yang khas mengundang tawa baik segar maupun kecut. Menurutnya, seorang wanita yang mempunyai blonde’s attitude tidak harus selalu blonde, namun yang pasti wanita itu memenuhi 6 syarat utama:
  1. Berdiri dengan tegak membusungkan dada, percaya diri kalau setiap jengkal bagian tubuhnya merupakan senjata ampuh untuk menaklukan kaum pria. Jangan lupa ukuran 36B bulat sintal optimal lebih berdaya guna dan efektif daripada merubah ukuran menjadi 38E melebar.
     
  2. Saat berbicara dengan pria, wanita dengan blonde’s attitude wajib membelalakkan mata memandang terpesona tanpa lupa membuka bibir sedikit melebar. Menganga dengan sikap yang seksi sambil tak lupa sesekali mengeluarkan desahan “ ah... ah... ah...” manja di sela-sela pembicaraan serta sabar menjadi pendengar setia. Jangan lupa juga untuk mengangguk-angguk tanda setuju serta menyela dengan desahan-desahan mengundang “ ah... oh... ah...” , sekalipun tidak memahami satu kata pun.
     
  3. Seorang wanita yang mempunyai blond’s attitude harus bersikap sebodoh mungkin. Jangan lupa, untuk mempunyai blonde’s attitude yang sempurna dibutuhkan kecerdasan tinggi untuk membodohi lelaki dengan bersikap sebodoh mungkin! Mempunyai dada penuh bulat bukan berarti mempunyai otak berkapasitas kosong melompong.
     
  4. Memiliki/mengganti nama yang bernuasa eksotis dan bisa menawarkan mimpi bagi para pria. Misalnya nama berakhiran “A” seperti Pamela, Loana, Madonna atau nama yang memberikan rasa “On” seperti Camerron.
     
  5. Saat berdansa, seorang wanita yang memiliki blonde’s attitude harus mampu berbicara dengan bahasa tubuh semaksimal mungkin tanpa menimbulkan kesan murahan. Maksimalkan gerakan di bagian dada dan panggul dengan gerakan melingkar sempurna percaya diri tanpa perlu menggoyangkan kepala berlebihan, dan sekali lagi jangan lupa, bersikaplah tanpa dosa dan tampakkan wajah bodoh dengan elegan.
     
  6. Saat kaum pria melontarkan lelucon basi bertemakan blonde girls, wanita yang mempunyai blonde’s attitude harus mampu tertawa manja terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata sambil berkata, “ha ha ha... untung maskara saya waterproof, ha ha ha...”



Jadi, satu pesan untuk kaum wanita. Janganlah berprasangka buruk pada blonde girls, namun berhati-hatilah dengan wanita berambut warna apapun yang memiliki blonde’s attitude.


Waspadalah...
 

Arita-CH
Une brunette qui n’a pas la blonde attitude (juré!).

Pameran Otomotif Jenewa 2010: Hijau Loh Jinawi


Dimuat di "KoKi, Kolom Kita", Selasa, 9 Maret 2010.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1399/pameran_otomotif_jenewa_2010_hijau_loh_jinawi

Di protes, di kecam dan disindir di “kandangnya” sendiri, pameran otomatif yang ke 80 tetap “bertengker” pada tanggal 4 hingga 14 maret di gedung pameran Palexpo Jenewa Swiss. Sebuah program dari saluran televisi Swiss Romand mengecam ajang pameran otomotif sebagai tempat jor-joran yang penuh dengan “polusi”. Salah seorang pembicara, dengan gamblang mengatakan alasannya berkunjung ke pameran tersebut (hanya) untuk melihat yang “bening-bening” (baca: perempuan).

Masalah polusi menjadi topik yang utama dan bisa dikatakan sepeda merupakan pilihan “tepat” sebagai kendaraan masa depan bebas polusi. Mencoba menggempur kesan “hitam” maka pameran otomotif Jenewa 2010 yang bertajukkan “Divine Surprise” maju dengan pasukan hijau. Dengan konsep ramah lingkungan, kendaraan bermotor dengan tenaga listrik, mobil Hybrid bervolume kecil dan urban style,bertebaran di berbagai stand. Dari Tata hingga Ferarri, mobil-mobil hijau ini tidak hanya menawarkan konsep “hijau” namun juga dengan berani bersolek dengan warna hijau kontras.



Namun, apakah konsep hijau ramah lingkungan yang ditawarkan industri mobil saat ini berhasil menghijau di masyarakat? 

Dari seluruh peserta pameran, hanya 10% peserta memamerkan mobil hijau.
Dari polling yang ada di website http://www.salon-auto.ch, 52.5% pendapat mengatakan bahwa industri otomotif TIDAK memberikan perhatian cukup terhadap lingkungan.

Dari pendapat saya sendiri, mobil-mobil yang bertebaran memang meng-hijaukan mata saya (baca: mahal).

Go green, save the planet, save your pocket!
Arita - CH



EDAG Light Car


Lumeneo Smera 
Mitsubitshi MIEV  
Renault ZOE ZE Concept 
Renault Twizy Z.E. Concept  
Rinspeed UC 
Toyota FT-EV II4  
Mercedes F800 Style hybrid 
Mercedes F800 Style hybrid 
Ferrari HY-KERS vettura laboratorio hybrid  
Ferrari HY-KERS vettura laboratorio hybrid 
Giugiaro Design EMAS3 hybrid  
HONDA CR-Z hybrid  
LEXUS RX 450 hybrid    






Pameran otomotif Jenewa 2010: Desain & Konsep

Dimuat di "KoKi, Kolom Kita", Senin, 8 Maret 2010.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1402/pameran_otomotif_jenewa_2010_desain__konsep


Duluuuu sekali, saya paling suka buka majalah otomotif untuk melihat desain mobil terbaru. Sekalipun bukan pengamat mobil yang setia dan bukan ahli dalam bidang otomotif, menurut saya, ciri khas suatu mobil terlihat dari bentuk dan desainnya. Saya paling suka model mobil alla Batman dari Mercedez Benz
jadul, Jaguar yang berkesan sangat maskulin dan terutama Volkswagen Beetle yang imut-imut (jadi ingat masa kecil, tugas rutin dorong VW putih sekeluarga, ha ha ha...). Saat itu, rasanya dari jauh kita dapat dengan mudah mengenali jenis dan merk mobil tertentu.


Namun, sejak memasuki abad ke 21, saya jadi malas mengikuti perkembangan desain mobil. Semuanya dapat dikatakan mirip, hampir sama, looks alike. Dari jauh saya tidak mampu membedakan, apakah mobil tersebut Toyota, atau BMW atau Mercedes atau Hyundai? Krisis ekonomi global serta selera yang ikutan mengglobal, menyamarkan ciri khas jenis mobil. Masing-masing pabrik mobil bersaing membuat model terbaru yang kurang lebih mirip satu dengan lainnya. Bentuk dan desain yang hampir identik, membuat saya merasa hidup di dunia yang monochrome.


Sudah hampir 10 tahun PM suamiku ngarit di Pameran Otomotif Jenewa. Selama itu juga saya tidak pernah merasakan getaran penasaran tentang situasi dan kondisi dalam pameran otomotif akbar tersebut. Tapi pada tahun 2010 ini, PM berhasil membujukku untuk menikmati sesuatu yang menyegarkan mata. Sekalipun saya samasekali bukan seorang pembeli mobil yang setia, tapi desain dan konsep suatu mobil merupakan hal yang bisa membuat mata saya berbinar ria menikmati keindahan dunia polychrome.


Dear Kokiers, maafkan saya karena tidak bisa mengupas satu persatu jenis mobil yang ada di Palexpo Geneva. Selain bukan seorang ahli, saya juga sudah keblenger melihat berbagai macam jenis mobil. Bagaimana kalau kita nikmati saja bersama-sama keindahan polychrome dunia pemobilan, setuju?


Save my feet, please!


Arita - CH

Alfa Romeo Bertone Pandion Concept, Italy.

Aston Martin Cygnet, UK.


Aston Martin Rapide, UK.



 

Aston Martin Tailored, UK.

Audi R8 5.2 quattro, Germany.

Bentley GTC série 51, UK.

Mercedes SLS AMG, Germany.

Bugatti Veyron Grand Sport Grey Carbon, France.

Bugatti Veyron Royal Dark Blue, France.
Corvette, US.

Mercedes by FAB Design, Switzerland.

Gumpert Apollo, Germany.

Gumpert Apollo, Germany.

Hispano-Suiza Granturismo, Spain.

Koenigsegg CCXR, Sweden. At $.2 Million!

Lamborghini Superleggera, Italy.



LEXUS LFA, Japan. A new breed of LEXUS.


Pagani Zonda Cinque Roadster, Italy.


Pagani Zonda Tricolore, Italy.



Rolls-Royce Ghost by Mansory, UK.



Vredestein, Dutch.



Zagato Perana Z-One, Italia.






Perawan ?


Dimuat di KoKi Kolom Kita, Kamis, 11 Maret 2010.

Posted:
“Halo semuanya, kemarin saya mencoba melakukan senam gimnastik artistik untuk pertama kalinya dan saat saya berganti baju, saya melihat ada bercak darah pada celana dalam. Tapi  pada hari ini saya perhatikan, tidak ada lagi tetesan darah yang membercak.
Saya khawatir, apakah selaput dara saya robek? Apakah selaput dara saya benar-benar rusak? Bisakah diperbaiki? Atau sudah terlambat? Apakah saya sudah tidak perawan lagi?
Apa yang harus saya lakukan, tolong saya! Saya takut dan panik!
Apa yang akan saya katakan kepada tunangan saya? Masihkah saya perawan???”


Hal menarik dari orang tua, selalu merasa tau anaknya dan yang terbaik untuk anaknya,” kata-kata indah yang mengalir terketik dari kokier Malam a.k.a. Night membuat saya nyengir tersentak bagaikan kuda yang dipecut. Mengingat kembali saat “pemberontakan masa remaja”, kembali saya nyengir kecut, membenarkan Night, kalau orang tua selalu merasa tahu akan anaknya tanpa menanyakan terlebih dahulu apa sebenarnya yang ada di benak sang anak.

Paragraf pembuka diatas merupakan pertanyaan yang saya temukan dalam forum berbahasa Perancis untuk para remaja dan masalah-masalahnya. Forum yang berdomisili di Perancis tersebut berisikan berbagai macam informasi dan permasalahan seksual para remaja. Mengingat kembali kata-kata mutiara dari Night, saya mulai melihat-lihat forum-forum remaja seusia anak lanang saya, mencoba memahami dan mencerna permasalahan remaja di abad ke 21 ini.

Keperawanan



Permasalahan keperawanan bukan saja permasalahan milik orang Indonesia tapi juga (masih) merupakan permasalahan umum yang berlaku di seluruh belahan dunia ini. Sekalipun mungkin banyak yang beranggapan kalau para “bule” tidak ambil pusing dengan keperawanan, namun di banyak kota-kota kecil yang tersebar di Eropa, keperawanan masih dianggap sebagai hal yang utama.

Salah satu remaja yang menjawab pertanyaan diatas berpendapat bahwa keperawanan sama dengan kesucian (pureté). Kesucian yang berarti harga diri mereka tidaklah semurah dengan bercinta hanya berdasarkan keingintahuan ataupun rasa penasaran belaka. Masih banyak para remaja bule tersebut yang memimpikan saat-saat pertama kali bercinta dengan orang yang benar-benar mereka cintai dan membuktikan bahwa lelaki tersebut adalah yang pertama (dengan harapan yang terakhir) yang membuat darah keperawanan mereka menetes keluar.

Namun bagaimana dengan kasus diatas? Selaput dara gadis itu terkoyak karena melakukan aktivitas olahraga. Dirinya menjadi kalut dan bingung. Kepanikan menjalari dirinya, percayakah sang tunangan kalau selaput dara tersebut koyak bukan karena kopulasi?
(jangan berharap mereka mengenal Gigimo, sekalipun internet menjadi “makanan” mereka sehari-harinya, namun Gigimo tidak tercantum dalam kamus pergaulan mereka).

Beberapa remaja menjawab dengan tegas bahwa gadis tersebut masih perawan, selama alat kelamin pria tidak berprenetasi. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa keperawanan tidak diukur dengan setetes darah namun lebih menekankan kejujuran bahwa percintaan yang mereka lakukan memang untuk yang pertama kali dalam kehidupannya. Mereka mengatakan kepada gadis itu untuk memberitahu sejujurnya kepada sang tunangan kalau aktifitas olahraga telah mengoyak selaput dara sehingga ada kemungkinan gadis tersebut tidak akan meneteskan darah keperawanan pada malam pertama. Kalaupun tunangan dari sang gadis tersebut tidak mempercayainya, mereka menyarankan untuk memutuskan dengan segera hubungan tersebut dan tidak ada gunanya lagi meneruskan hidup bersama-sama dengan seorang lelaki seperti itu.

Namun, beberapa orang menjawab lain. BELUM tentu semua lelaki bisa mempercayai kata-kata tersebut. Apalagi bagi mereka yang hidup dalam lingkungan keluarga yang masih menganut pentingnya tetesan darah keperawanan. Bukan hanya kepada sang suami kelak sang gadis harus mempertanggungjawabkan keperawanan namun juga kepada keluarga dari kedua belah pihak lelaki dan perempuan. Ayah sang gadis akan merasa malu karena telah gagal mendidik anaknya menjadi wanita yang “mulia” sedangkan ayah sang lelaki merasa malu karena merasa telah menikahkan anak lelakinya dengan seorang perempuan murahan.

Obsesi terhadap keperawanan perempuan & Sodomi
Masalah keperawanan dan hubungannya dengan keluarga di kedua belah pihak yang kelihatannya hanya mungkin dapat ditemui di Indonesia, ternyata masih menjadi masalah utama, pada abad ke 21 ini di benua Eropa yang terkenal dengan kebebasan. Di beberapa tempat dan komunitas Eropa, keperawanan masih sama dengan kesucian. Sekalipun definisi perawan bagi sebagian jawaban remaja yang saya baca di forum ini adalah seseorang perempuan yang sama sekali belum pernah melakukan coitus, namun tetap saja tetes-tetes darah keperawanan masih menjadi mahkota sekaligus momok bagi para perempuan.

Salah satu dari para remaja di forum ini menjawab dengan pertanyaan, “ Mengapa ada begitu sedikit orang-orang yang memahami kami para perempuan? Mengapa tidak ada yang mempertanyakan keperawanan lelaki? Bahkan di luar konteks agama, keperawanan perempuan tampaknya memiliki kepentingan simbolis jauh lebih besar daripada para lelaki. Hal ini membuat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Obsesi akan keperawanan dalam kehidupan para sebagian kulit putih ternyata tetap menjadi masalah besar. Sekalipun di luar konteks agama, ternyata tetap saja arti tetesan darah keperawanan adalah prioritas utama dalam membangun satu hubungan, membuat mereka berusaha dengan berbagai cara untuk tidak terjadi pertumpahan tetesan darah sebelum waktunya. Berbagai cara dicoba dan ditempuh, sekalipun harus masuk dalam kategori ektrim yang tinggi.

Membaca lebih jauh posting-posting dalam forum ini, saya menjadi terbatuk-batuk kaget hampir terjengkang jatuh dari kursi rotan yang selalu berdenyit setiap saat. Sekali lagi saya ingatkan, Gigimo tidak populer dan bisa dikatakan tidak dikenal dalam kehidupan mereka, sehingga untuk mempertahankan pertumpahan darah, beberapa dari mereka, yang memang pada dasarnya ingin melakukan hubungan seksual belaka dengan dasar penasaran dan keingintahuan, nekat melakukan hubungan seksual dengan ber-sodomi ria!!!

Dalam bahasa perancis, untuk mendeskripsikan hubungan seksual ada 2 kata yang digunakan, faire l’amour (berhubungan seksual karena cinta/bercinta) dan baiser (berhubungan seksual dengan atau tanpa cinta). Umumnya mereka menulis perbuatan sodomi dengan menggunakan kata “baiser” yang berkonotasi lebih ke aktivitas hubungan seksual belaka yang dilakukan (kebanyakan) didasarkan oleh rasa ingin tahu dan mencari sensasi  dalam melakukan kegiatan seksual.

Masa-masa remaja dimana tingkat hormon meningkat dan sensasi kenikmatan mulai mengintip dari balik celana, rasa penasaran mulai melompat dan melonjak hingga mencapai ubun-ubun.  Berhubung keperawanan adalah mahkota yang (masih) harus ditenteng bersama dalam melakukan percintaan (faire l’amour), sedangkan ubun-ubun yang mulai “retak” terdorong oleh keinginan untuk menikmati sensasi kenikmatan seksual tidak mau menunggu malam pertama, maka pintu belakang pun dibuka “demi melindungi” tetesan darah dari gerbang utama...

Posted : Il m’a baisé hier soir et je suis encore vierge! (tadi malam dia meniduri saya dan saya tetap masih perawan)
Para pembaca...
Apakah gadis yang selaput daranya sudah terkoyak karena olahraga masih perawan?
Apakah gadis yang melakukan hubungan “pintu belakang” dan selaput daranya utuh, masih (disebut) perawan?


Penutup
Belum selesai membaca semua posting yang ada dalam forum itu, mata saya mulai berkunang-berkunang, kepala saya mulai cenat-cenut, sementara tenggorokan ini kering, setengah mati mencoba menelan dan menelaah situasi remaja di abad ke 21 ini. Rasanya, saya membutuhkan waktu sebentar untuk balik kembali menyepi di gunung setan (les Diablerets)...


Catatan kaki:
Dalam bahasa perancis, kata "enculé !" (terjemahan langsung: seks anal) merupakan kata makian yang paling kasar di Perancis. Pada abad ke 4, sejak kaisar Konstantinus berkonversi menjadi Kristen, perbuatan sodomi merupakan kejahatan besar dan pelaku tindak sodomi dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Beberapa waktu kemudian, perburuan pelaku tindak imoral dan para penyihir meningkat dengan drastis. Untuk menghukum mereka, para tersangka dijatuhkan dakwaan sebagai pelaku tindak sodomi dan dibakar hidup-hidup.
Lama-lama, penggunaan dakwaan tindakan sodomi disalah gunakan untuk menyingkirkan lawan ataupun orang-orang yang tidak disukai, sekalipun dengan posisi penting dan kedudukan kuat dengan adanya tuduhan melakukan sodomi, mereka tidak akan luput dari hukuman.
Pada saat itu, jika seseorang memaki dengan kata “enculer” maka  resiko yang dihadapi oleh orang yang dimaki dapat berakibat hukuman di bakar hidup-hidup. 


Images: Junita Arneld Photograpy

Kutukan Suster Ngesot

Kutukan Suster Ngesot
Dimuat di KoKi (Kolom Kita) Rabu, 9 Desember 2009
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1079/kutukan_suster_ngesot

Sambil mengucek-ngucek mata, kutatap pemandangan yang terhampar dihadapan. Lantai berkeramik putih, orang-orang yang berpakaian serba sama dan beberapa perempuan berseragam suster. Satu hal yang membuat mereka semua seragam dan tampak sama, semuanya dalam posisi mendeplok di lantai dan tidak berjalan melainkan semuanya mengesot!

Terpana melihat manusia yang mengesot dengan nyaman di lantai, kusadari bahwa dirikupun sedang dalam posisi setengah berbaring di lantai. Tak percaya dengan situasi yang sedang kujalani, kucubit diriku, meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Namun ternyata, rasa cubitan menjepit sakit dan aku tidak terbangun!

Sambil tertatih kucoba berdiri, melarikan diri dari posisi ngesot, tapi ahhhh rasanya kedua kaki terpaku kaku, tak mampu menegakkan lutut untuk berdiri layak. Akupun terjatuh dan kembali dalam posisi semula, tidak mampu berjalan, hanya bisa mengesot!

Di kejauhan kulihat seorang suster mengesot dengan sigap menghampiriku. Tatapannya yang pasti dan tajam meyakinkanku bahwa dia seorang suster yang profesional dalam bidangnya. Dengan cepat kuajukan pertanyaannya, saat jarak dia dan aku tidaklah terlalu jauh untuk berbicara dengan nada rendah.

“Sus, kenapa saya ada disini, apakah saya sedang bermimpi?”

Suster itu mengerutkan keningnya lalu menjawab dengan tegas.

“Ya, kamu sekarang sedang bermimpi dan kamu berada di tempat kami, dunia kami.”

Hah! Terbelalak aku mencoba meyakinkan, kenapa aku tidak terbangun saat mencubit lengan dengan keras?

“Jadi saya memang sedang bermimpi? Saya ada dimana? Dan kenapa semua orang disini mengesot?”

“Kamu ada di dalam dunia Rumah Sakit Per-ngesotan dan semua yang ada disini harus mengesot, hanya para dokter yang berada dalam posisi berdiri dan bisa berjalan.”

“Semuanya harus mengesot? Termasuk saya? Ah tidak mau! Saya tidak mau mengesot?” jawabku setengah berteriak.

“Kalau tidak mau mengesot, lalu kenapa kamu ada disini, kan kamu sendiri yang memilih untuk memasuki dunia pengesotan, sekarang jalanin saja apa yang ada” balas Suster tersebut dengan sengit.

“Saya kan sedang bermimpi, Sus, mana bisa saya memilih mau mimpi apa. Kalau saya bisa memilih, tidak akan pernah saya memilih untuk memasuki dunia pengesotan ini, hiks hiks” suaraku mulai melemah, tanda tidak tahu harus berbuat apa.

Suster itu mulai menampakkan rasa empati kepadaku, dengan tatapan ramah dia mencoba menghiburku.

“Sudahlah, terima saja apa adanya. Kita memang tidak bisa memilih tempat dimana kita dilahirkan, tempat dimana kita bermimpi. Sekarang, jalanin saja kehidupan mimpimu ini di dunia pengesotan. Terima apa adanya, ya... Sudah cup cup cup, jangan menangis...”

Dengan tersedu aku mulai menyadari bahwa diriku kini memang harus menjalani kehidupan perngesotan di dunia yang serba ngesot. Kini apa yang harus kulakukan? Peran apa yang harus ku ambil dalam dunia ini?

“Sus, saya mau menjadi dokter saja, biar bisa berdiri dan berjalan dengan normal. Bagaimana caranya untuk menjadi dokter?”

Suster cantik nan ramah menghela napas panjang, lalu menerangkan panjang lebar dengan kesabaran optimal layaknya seorang profesional.

“Menjadi dokter di dunia perngesotan itu tidak gampang. Bermodalkan ijasah saja tidak cukup. Mereka harus berjuang dengan keras untuk keluar dari kebiasaan mengesot. Jangan salah, beberapa dari mereka juga dulunya mengesot seperti kami. Namun dengan jalan yang panjang dan berliku mereka berhasil berdiri dan tidak mengesot lagi. Untuk bisa sampai dalam tahap berdiri, ada banyak cara yang dilakukan, dari berkampanye dimana-mana sampai mengorbankan harta dan perasaan, bahkan kadang mereka juga mampu mengorbankan moral, keluarga serta orang-orang yang ada disekitarnya. Mengesot bertahun-tahun sambil meleletkan lidah mendekati para dokter yang sudah berhasil berdiri, lalu mereka menjadi berani nekat mengambil sikap ekstrem mematahkan dengkul dokter yang mereka kenal dengan baik, sehingga mereka dapat mengambil alih posisi berdiri dokter yang kini hanya bisa mengesot beneran karena kondisi kakinya yang patah.”

Hiiii, kok seram begitu usaha dan perjuangan menjadi dokter? Bagaimana aku bisa berkampanye? Satu-satunya yang kupunya hanya baju tidur yang kupakai sekarang. Mana aku tahu harus mengantongi uang dan ijasah sebelum tidur?

“Sus, saya mau mencoba jadi suster saja deh, syarat-syaratnya apa ya?” tanyaku sambil kedap-kedip harap-harap cemas.

Kembali suster menghela napas, sekalipun tidak sepanjang helaan napas sebelumnya, namun jawabannya pun membuat kepalaku tidak berhenti dari rasa bingung dan pusing.

“Jadi suster juga tidak segampang dugaan kamu. Tugas suster itu mengabdi, jadi harus sabar mengatasi keresahan dan kesusahan mengesot para pasien yang mengesot. Sebagai suster, harus mampu menolong sekalipun dalam keadaan mengesot. Tapi jangan sangka kami para suster bersikap seperti itu semua. Ada memang suster yang mengesot dengan tenang dan melayani secara profesional sekalipun dalam posisi mengesot. Ada suster yang hanya pasrah mengesot tanpa berbuat lebih banyak pokoknya yang penting tiap bulan terima gaji. Ada juga suster yang dengan sengaja membuat pasien mengesot melebihi kemampuan dayanya, sehingga pasien tersebut lelah jiwa dan raga, sudah sakit lalu dimanipulir mengesot di lantai untuk mengepel ruangan setiap hari. Ada lagi jenis suster yang mengesot membersihkan tempat tidur pasien plus membersihkan pasien hingga ke kantong baju-bajunya sampai habis dengan alasan birokrasi yang rumit dan ruwet. Nah, sekarang kamu mau jenis suster yang mana?”

Ditanya dengan pertanyaan seperti itu, membuat saya melongo terplongo-plongo. Bagiku menjadi dokter banyak pengorbanannya dari korban harta hingga korban moral dan idealisme, jadi suster pun sama pusingnya, harus bisa memilih menjadi korban diri atau mengorbankan orang lain. Tampaknya aku memang harus memulai dari bawah, menjadi pasien. Sekalipun posisi sudah dibawah, ditambah mengesot dengan terengah-engah, setidak-tidaknya aku bisa mempunyai harapan untuk sembuh dan mampu keluar dari Rumah Sakit Perngesotan ini.

“Sus, saya daftar jadi pasien saja, bagaimana caranya?”

Suster tersebut lalu mengajakku berlalu mengesot ke luar ruangan, melewati taman dan memasuki suatu ruangan besar mirip aula. Dengan terkesot-kesot, aku mengesot terengah-engah melewati batu kerikil yang tersebar di taman, menyeberanginya dengan susah payah karena tidak terbiasa mengesot dengan waktu yang lama.


Tak lama kumasuki ruangan besar dan kulihat antrian panjang orang-orang yang mengesot di lantai. Ada yang sedang duduk mengesot hingga terkantuk-kantuk, ada yang sedang mengopi dengan nikmat, ada yang sedang duduk mengesot sambil membaca buku, ada juga yang asyik mengesot sambil bergosip bla bla bla, bahkan ada yang sedang mengesot sambil arisan.

“Untuk menjadi pasien di Rumah Sakit Perngesotan, pertama harus lapor diri, punya surat pengantar dari RT/Desa, foto copy Kartu Keluarga, foto copy Akte Kelahiran, pas foto hitam Putih ukuran 3x4 cm sebanyak 2 lembar, serta membayar biaya administrasi. Berhubung kamu baru saja mendarat di dunia perngesotan seorang diri, maka untuk surat pengantar, kartu keluarga, akte kelahiran, dan foto, bisa kami bantu membuatkan. Yang penting biaya administrasi harus dilengkapi dengan benar” kata suster cantik dengan nada suara yang mirip dengan orang yang sedang membaca formulir pendaftaran.

“Tapi Sus, saya kan tidak punya uang sama sekali, baju tidur saya pun tidak berkantong, bagaimana saya bisa membayar semua itu?” wajahku pun mulai memelas putus asa.

Suster cantik membelalakkan matanya, persis akting para artis sinetron televisi.
“Ya ampun, kamu ini tidak kreatif sama sekali deh. Hari gini masih basic standard, malu dong sudah jaman 3G masih pakai yang standaran model batu bata. Kalau tidak punya uang ya kerja dong, usaha! Terserah kamu bagaimana caranya. Banyak jalan keluar untuk mendapatkan uang, bisa mengesot sambil mengepel lantai ruangan tunggu, atau mengesot sambil meraup sampah yang banyak keluyuran di taman, atau mengesot sambil mengemis di lampu merah, atau mengesot di tengah jalan berpura-pura menjadi korban, lalu memeras orang. Atau kalau kamu tidak mau memeras orang, ya memeras sapi atau kambing, di halaman belakang rumah sakit ada peternakan sapi dan kambing. Pokoknya usaha dan dapat uang, lalu bayar biaya administrasi sehingga kamu bisa terdaftar sebagai warga dari Rumah Sakit Perngesotan.”

Akhirnya akupun memutuskan diri untuk bekerja dari pagi hingga petang, di mulai mengesot mengepel lantai, membersihkan sampah dan memeras sapi di halaman belakang. Aku memang tidak memilih untuk memeras orang, karena pengalaman pernah diperas oleh orang membuatku trauma dengan peras memeras. Paling apes, aku memilih bekerja untuk memeras pakaian saat mesin cuci rumah sakit tidak berfungsi karena listrik yang byar pet tidak kejuntrungan, kapan hidupnya.


Setelah beberapa hari mengesot dengan keras, susah payah memeras sapi dan pakaian, akhirnya aku berhasil mengumpulkan dana untuk membayar biaya administrasi.
Dengan bangga, diriku mengesot percaya diri, menuju ruangan pendaftaran dengan membawa surat-surat persyaratan dan tentu saja biaya administrasi yang kudapatkan dari kemampuan dan pengalaman memeras sapi dan pakaian selama beberapa hari.

Saat tiba di hadapan petugas administrasi, kuserahkan semua persyaratan dengan senyum mengembang lebar. Petugas itu lalu memeriksa semua persyaratan dan jumlah recehan hasil perasan keringatku, lalu dia menatapku dengan pandangan bingung. Minder takut salah hitung recehan, aku langsung bertanya dengan pelan. “Kenapa Pak? Kurang berapa recehannya, Pak?”

“Biaya rawat inapnya, mana?” Petugas administrasi lalu memberikan selembar kertas yang mirip daftar harga yang sering tertera di iklan supermarket atau papan iklan depan komplek pertokoan. Hanya bedanya, tidak tertulis kata discount 70%, obral ataupun sale.

Yang tertulis adalah jenis kamar tidur dari kelas VIP hingga menurun ke kelas kambing (maksudnya tidur di di halaman belakang dalam kandang kambing), menu makanan setiap hari dari menu restoran bintang lima hingga menu dapur bintang tujuh (juru masaknya pusing karena tidak tersedianya bahan baku makanan), jenis obat yang dipergunakan ada yang kelas manjur atau kelas setengah manjur setengah sakit, atau ada juga pilihan tidak pakai obat sama sekali, mau suster lulusan SMK atau lulusan universitas dengan gelar S1 atau master, mau dokter yang lulusan lokal atau lulusan internasional atau lulusan aspal ijazah boleh nembak (ini yang lumayan murah) atau dokter yang belum lulus dan dipekerjakan gratis secara paksa tidak suka rela di Rumah Sakit Perngesotan (nah ini, yang paling murah!).

Melihat aku yang masih bingung tidak punya recehan lagi, petugas administrasi mencoba menenangkan kegelisahan yang menggelora di dada dengan berkata mendayu-dayu.

“Jangan bingung dan ragu, kami ada untuk membantu dan kami ada karena anda. Kalau kelas anda hanya sampai pada batas recehan dan saat ini anda sudah tidak mempunyai simpanan recehan lagi, maka anda bisa memulai dengan melakukan simpedes, yang artinya simbok mangan pedes.

Anda harus mampu menahan rasa pedas karena anda akan bekerja untuk membayar perawatan anda. Anda akan saya masukkan dalam kelas kambing sehingga anda bisa kembali bekerja memeras kambing, lalu untuk menu makanan sehari-hari akan saya pilihkan menu dapur bintang tujuh dimana anda harus memetik sendiri bahan makanan yang tersedia di halaman belakang, kebetulan tanaman yang ada hanya dedaunan buat makan kambing dan sapi. Tapi jangan khawatir, kami juga menanam pohon cabe untuk memberikan rasa nikmat pada salad anda.

Suster yang akan merawat anda adalah suster yang bertugas dibagian kebersihan, sehingga anda dapat bekerja membantu suster anda dengan mengesot membersihkan lantai, sedangkan dokter pilihan yang tepat untuk anda adalah dokter yang belum lulus dan dipaksa bekerja disini karena tidak lunas membayar hutang administrasi. Dengan demikian, anda dapat bekerja dengan dokter tersebut melakukan foto kopi kertas tugas mereka, berhubung mereka bukan termasuk dokter yang sudah berdiri tapi dokter yang masih ngesot seperti anda, sehingga mereka tidak punya waktu cukup untuk mengesot dari ruang kerja ke ruang praktek lalu ke ruang fotokopi.

Ini nomor anda dan sekarang silahkan mengesot menuju kamar anda di halaman belakang, terima kasih atas kerjasamanya dan selamat beraktivitas, semoga tidak sembuh-sembuh!”


“Tunggu dulu, Pak,” sergahku dengan cepat. “Obat untuk saya bagaimana? Kok tidak ada dalam aplikasi program yang dipilihkan untuk saya?”

Petugas tersebut kembali tersenyum merayu lalu mendayu dengan mesra membisiki telinga ku.
“Anda kan hanya kelas recehan, jadi obat untuk anda ya hanya anda sendiri yang tahu dan anda sendiri yang harus berusaha mencari.

Maaf, sistim sosial kami tidak mengenal dan tidak memiliki program tunjangan sosial. Tapi jangan khawatir, sekali lagi ada jalan keluarnya.

Kalau anda ingin mendapatkan bantuan sosial, anda bisa mencarinya pada pihak swasta dengan menghubungi para rentenir atau turut berpartisipasi saat kampanye, atau juga anda bisa mendatangi orang-orang yang sedang mengumpulkan kekuatan (baik dalam bentuk tenaga maupun doa) untuk menjadi raja kecil, biasanya mereka cukup royal membagi-bagikan recehan.

Semua kemungkinan untuk mendapatkan bantuan sosial bisa anda temukan dalam lingkungan para pasien. Jadi, segala permasalahan anda telah kami atasi. Terima kasih untuk memilih dan mempercayai kami sebagai tempat kehidupan anda.”


Selesai membisikiku dengan mesra, lalu petugas tersebut mendorongku mengesot jauh, meninggalkan tempat pendaftaran.


Terdampar di halaman belakang, di depan kandang kambing, akupun mendengus seperti kambing jantan yang sedang mendengusku keheranan akan bau yang berbeda.

“Huh! Siapa yang memilih dan mempercayai kalian? Kalau bisa memilih, aku tidak akan memilih dilahirkan, eh salah, bermimpi hidup di dunia perngesotan. Kalaupun aku nanti mati, aku tidak akan mau mati dalam keadaan mengesot, bisa-bisa arwahku nanti dibajak oleh produser film kelas semprul untuk dipaksa berakting dalam film dengan judul “setan ngesot cap babak belur”. Tidak!!! Aku harus berusaha sembuh secepatnya dan keluar dari dunia perngesotan ini, sebelum aku menjadi manusia ngesot seumur hidup!”


Mulai hari itu, aku berdaya sekuat tenaga, berusaha untuk menjadi pemeras sapi dan kambing serta pakaian yang gigih, memetiki daun-dedaunan serta cabe sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali ke tengkulak yang biasa menunggu di pintu belakang, mengepel lantai ruangan menjual kemampuan ngesot per meter persegi, membantu para dokter yang belum lulus dan masih ngesot dengan memfoto kopi kertas kerja serta diktat-diktat mereka, sambil membaca dan mempelajari contoh kasus yang tertulis, sehingga perlahan-lahan tapi pasti aku mulai mengetahui bagaimana caranya untuk menyembuhkan diri dengan murah tapi manjur. Kudapati dan kupelajari rahasia kemenangan. Cara untuk memupuk dan menyuburkan harapan dalam diri.


Recehan-recehan yang kutabung mulai membukit serta pengetahuan yang kudapat mulai bertambah. Melihat keadaanku yang mulai membaik, para tetangga sesama pasien kelas kambing yang menghuni di kandang kambing ini, mulai bertanya-tanya. Akupun lalu mulai membagi kiat-kiat tentang adanya keberadaan sebuah harapan, sehingga kami semua mulai belajar sendiri bagaimana caranya menyembuhkan diri sendiri tanpa harus mengeluarkan banyak recehan. Kami mulai menanam harapan dalam jiwa kami.


Semakin lama, usaha kami para pasien kelas kambing mulai menampakkan hasil. Wajah kami tidak lesu seperti wajah kambing yang mau dipotong dan badan kamipun mulai tidak berbau kambing bandot. Jiwa kami mulai dirambahi oleh harapan demi harapan, sehingga kami mampu tertawa lepas bersenda gurau dengan kambing-kambing yang menemani kami dengan setia setiap saat.


Perubahan keadaan kami para pasien kelas kambing rupanya dipantau dengan ketat oleh para pihak atas. Dari para petugas administrasi, para suster, para dokter hingga pihak direksi mulai kebat-kebit melihat keberhasilan dan harapan kami yang memuncak tinggi, yang bisa membuat kami dapat segera sembuh dan keluar dari Rumah Sakit Perngesotan.


Kami dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu kestabilan dan kemakmuran dunia perngesotan. Tak lama kemudian pihak direksi mengirim suster cantik nan ramah yang kutemui saat pertama kali aku tiba mengesotkan diri di dunia perngesotan.


Suster cantik yang kini nan tidak ramah, mendatangiku dengan wajah garang. Membuat kambing-kambing mengembik-embik menyingkir ketakutan. Sementara aku terseot-seot mengesot ke pojok ruangan, berusaha menjauhi suster cantik yang mengesot dengan galak ke arah ku.


“Kamu! Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan, hah? Kamu pikir kamu bisa sembuh begitu saja? Kamu pikir dengan harapan yang ada serta kerja keras mengumpulkan recehan bisa membuatmu keluar dari dunia kami? Hah! Kamu ini kan sedang bermimpi, bagaimana kamu bisa melakukan hal tersebut? Mimpi kamu! Dan teruslah bermimpi! Tidak ada satupun pasien kelas kambing ini dapat keluar dari kandang kambing. Berani melawan kami maka kalian bisa kena gusur. Akan kami porak porandakan kandang kambing ini!”.


Akupun menjadi sewot bagaikan semut diinjak oleh gajah, maka aku segera mengajak semut-semut lainnya untuk membalas menggigit gajah tersebut beramai-ramai.

“TIDAK! Kami tidak akan pasrah mengesot di kandang kambing dan menjadi pasien kelas kambing seumur hidup, memeras kambing dan lalu diperas oleh kalian. Kami akan bekerja, berusaha sekuat tenaga mengesot dengan akal dan pikiran, menyembuhkan diri kami tanpa perlu memeras manusia dan menabung harapan demi harapan. YA! Kami berbeda dengan kalian, kami memang kelas kambing tapi kami mempunyai harapan. Harapan adalah kekuatan kami yang mampu membuat kami bekerja jauh lebih giat dari kalian. Harapan membuat kami menjadi sehat secara rohani dan jasmani. Kami memang pasien kelas kambing, tapi dengan adanya harapan, kami lebih sehat dari kalian. Karena kalian tidak mempunyai harapan!”

Aku berteriak dengan keras membalas tantangan suster cantik nan tidak ramah, begitu juga para pasien kelas kambing mulai meneriakkan yel-yelan “Kami punya harapan. Anda tidak!” secara serentak dan bersama-sama.


Suster cantik nan ramah mulai tidak sabar dan tidak ramah lagi. Ambang kemarahannya sudah meluap melewati titik batas kebanjiran. Dengan gemuruh kilat petir bersambung-sambungan, hujan mendadak turun membasahi kandang kambing yang berlantai tanah. Air mulai memasuki kandang kambing dan petir serta kilat mematahkan tiang bangunan yang terbuat dari dahan pohon kecil.

Suster cantik nan ramah kini terlihat tidak cantik dan tidak ramah lagi. Rambutnya yang tadi bersanggul rapi, mulai lepas terurai awut-awutan. Wajahnya memerah kotor penuh dengan warna merah dari beceknya tanah merah yang basah. Dengan ekpresi wajah yang menakutkan, suster mulai mengesot. Jari telunjuk dari tangan kanannya menunjuk ke kami, tangan kirinya menyentuh tanah, dengan kaki kiri yang menempel ke tanah, ia menggerakkan kaki kanannya ke udara, lalu ia berteriak dengan kencang.

“Ku kutuk harapan kalian menjadi basa basi. Ku kutuk harapan kalian menjadi batu penghalang yang bisa membuat kalian tersandung. Ku kutuk harapan kalian menjadi slogan-slogan manipulasi dalam berkampanye, ku kutuk harapan kalian menjadi boomerang yang akan membuat kalian menjadi budak ngesot seumur hidup, kukutuk harapan-harapan kalian menjadi fitnah nan kejam. YESSSSS!”


Gemuruh kilat saling bergeraman satu dengan lainnya menandakan dimulainya kutukan suster ngesot. Mendadak aku melihat harapan kami mulai layu menjadi kayu mati satu demi satu.

TIDAKKKKKK!

Brak! Pinggulku serasa pedas dan sakit. Lantai kayu dingin menyengat bagian bawah badanku. Mendadak aku menggigil kedinginan, namun aroma kopi segar dan hangat menyergap hidung. Menggelitikiku dengan manja, membangunkanku dari aroma kambing bandot.

“Lho! Kenapa kamu tidur di lantai? Dingin kan. Ayo bangun, kopinya sudah siap.” Suara ajakan tersebut seperti suara yang kukenal, suara orang yang sudah menemaniku bertahun-tahun. Suara orang yang bisa membuat hatiku tergetar saat ia memanggil namaku.

Aku menatap dirinya, lalu mencium kembali aroma kopi hangat, lalu memperhatikan keadaan sekitarya. Aku tidak lagi di dalam kandang kambing yang sedang kebanjiran penuh dengan lumpur tanah merah. Sedangkan manusia dihadapanku bukan lagi suster yang tidak cantik lagi dan tidak ramah lagi, melainkan suamiku. Orang yang sekalipun ramah ataupun lagi tidak ramah tetap aku cintai, apalagi kalau dia sedang rajin menjamahku, ohhh...

“Kenapa sih, kamu ada di lantai? Jatuh ya? Kenapa bisa jatuh?”

“Hiii, aku habis mimpi buruk, hiiii...”

“Hah? Mimpi buruk apa?”

“Mimpi di kutuk suster ngesot. Hiii seram! Dia mengutuk harapan menjadi kayu mati, hiks hiks”


Suamiku bengong, lalu buru-buru memberikan secangkir kopi hangat kepada ku. “Cepat diminum kopi ini. Dan hidupkan kembali harapanmu. Sekalipun dalam mimpi, jangan biarkan seorang pun mematikan harapanmu.”

Segera aku bangkit, girang karena bisa berdiri segera kuteguk kopi hangat, membiarkannya mengalir memanasi perutku yang dingin, menjalar membangunkan harapanku, akan hari yang baru. Akan matahari yang terbit dan selalu terbit keesokkan harinya. Matahari yang selalu ada setiap harinya, yang mampu memberikan harapan hari demi hari dan membakar kutukan suster ngesot!!!


7 Desember 2009