Showing posts with label Video. Show all posts
Showing posts with label Video. Show all posts

Belajar di luar negeri (1)

21.02.2009.

Awal tahun 2008, ku buka dengan perjalanan “belajar di luar negeri”, disponsori oleh museum Lugano, Swiss. Mendengar kata “luar negeri”, terutama saat mendengar negara tujuan, aku lompat-lompat kecil, tidak berani lompat besar, takut jatuh dari tangga mimpi.

Program “ke luar negeri” berhasil diputuskan dalam komite scientifik Museum Lugano Swiss tahun 2008 dimana kami berdua (suami dan aku), kolaborator ilmiah eksternal Museum Lugano Swiss, terpilih untuk “belajar” di luar negeri Swiss, mengunjungi suatu negara nun jauh letaknya dari pegunungan Alpen, negara yang harus ditempuh dengan penerbangan selama 14 jam dari kota Zurich plus transit 2 jam. Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara, melintang di khatulistiwa antara benua Asia dan Australia, antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

“Jalan-jalan keluar negeri” ini berkaitan dalam proyek penelitian antropologi, jadi kami berdua tidak bisa terlalu “berzalan-zalan zambil berziul-ziul” (permisi Ibu Ira-Canada, pinjam istilahnya), namun demikian, saat surat jalan dan tiket diletakkan di tangan, hati kami berdua berdendang ria menyanyikan lagu yang berbeda, suamiku bernyanyi akan “serunya” keluar negeri, hatiku juga bernyanyi akan indahnya keluar negeri untuk memasuki negeri yang telah membesarkan aku dengan segala “kebijaksanaannya”.

Saat kaki kami melangkah keluar dari pintu pesawat, aroma khas mendekap hidungku, udara yang lekat dengan kelembapan merangkulku dengan segala kehangatannya, membuatku kepanasan akan rengkuhannya yang erat. Kedua bola mataku “berlari” terburu-buru, mencoba mengalahkan kaki yang kesemutan tertekuk selama beberapa belas jam. Pusat syarafku harus bergelut dengan anggota tubuhku yang enggan bersinkronisasi, masing-masing ingin saling mendahului, berpacu dengan melodi kerinduan untuk segera tiba di tempat tujuan, menambatkan cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Ditemani dengan seorang sepupu, kami bertiga menggerakkan seluruh tenaga untuk menjalani roda penelitian yang “bertempat” di propinsi Kalimantan Tengah, menyelusuri sungai Katingan yang “lahir” di kaki pegunungan Schwaner, meliuk-liuk sepanjang 650 km hingga laut Jawa.

Berhubung jatah sepanjang 650 km terpotong dengan masalah pribadi, sedangkan waktu yang “disediakan” tidak bisa diulur seperti karet, maka penelitian pun “diperpendek” menjadi 400 km.

Penelitian “sependek” 400 km kami arungi dengan mengayuh dayung secepat mungkin. Berbekal fasilitas abad ke 21, dayung digantikan oleh mesin motor Yamaha dan Mitsubitshi. Menumpangi 3 macam jenis dan ukuran perahu, menyusuri sungai Katingan, dari dermaga Kasungan hingga hulu Katingan, lalu kembali ke dermaga Kasungan untuk menumpangi mobil yang juga bermesin Mitsubitshi, menuju Palangka Raya, menaiki kapal terbang yang untungnya tidak bermesin Mitsubitshi, menuju Jakarta, langsung lanjut ke kota Zurich, masuk ke dalam kebekuan salju yang masih belum juga mencair di bulan Maret.

1 April, the april fools' day atau April Mop. Hari yang biasanya “disahkan” untuk berbohong tanpa dianggap bersalah. Tetapi bagi kami, pada tanggal 1 April 2008 lebih merupakan hari untuk mengungkapkan tabir “kebohongan”. Hari ini kami (suami dan saya) menjadi pembicara dalam konferensi “Altra Altri Asia” dengan tema “Pulau Borneo”, di Lugano.

Pertama kali slide peta pulau Borneo terpampang di layar, banyak wajah-wajah yang ternganga bingung, menatap tiga negara di pulau Borneo. Saat kami berdua menjelaskan, menerangkan, “berdakwah”, tentang pulau beserta penduduk aslinya, kembali kami melihat wajah-wajah yang penuh dengan kebingungan bercampur kekaguman. Kutatap wajah-wajah peserta dihadapanku yang terpaku menatap gambar di layar, gambar-gambar yang terekam saat penelitian sepanjang sungai Katingan, gambar-gambar yang “menculik” jiwaku kembali ke kaki pegunungan Schwaner, milir sungai Katingan.

Benakku dipenuhi oleh wajah-wajah penduduk sekitar sungai Katingan. Wajah-wajah yang menatap penuh dengan kekuatan dan semangat hidup, wajah-wajah yang berani menyambut hari esok, tanpa tahu apa yang akan terjadi pada keesokkan hari. Wajah-wajah tua yang bangga menyebutkan jumlah tahun yang telah dilalui, sebagai tanda kemenangan dalam menjalani hidup. Hidup yang kadangkala sering kuanggap sebagai beban yang panjang. Wajah yang tidak akan pernah kulupakan dan terpatri kuat dalam hatiku, wajah yang selalu membuat aku bertanya -tanya, “mampukah aku berdiri tegak seperti mereka?”

Diantara wajah-wajah tersebut, ada dua tokoh yang tidak bisa kulewatkan begitu saja dalam kehidupanku sehari-hari. Sepak terjang dan perjuangan mereka jauh di hutan belantara, menjadi contoh bagi diriku dalam menghadapi hutan belantara gedung bertingkat. Hutan kehidupan abad ke 21 yang dipenuhi dengan semak belukar intrik duniawi yang jauh dari bersahabat. Kedua tokoh ini memenuhi alam pikiranku, kupinta betara kala kembali ke belakang berjalan mundur, kala pertama kali aku bertemu dengan 2 tokoh.

05:07 dini hari.

Hari masih gelap, fajar seolah enggan menyingsing. Kami sudah terlambat 7 menit dari waktu yang dijanjikan. Kulihat tukang perahu kelotok, -perahu bermesin 2 tak berbunyi tok, tok, tok, tok-, sudah siap di dalam perahu, siap menggertak kami yang masih terantuk-antuk. Suara klotok yang menggontok, mendesak kepalaku yang belum teracuni dengan kafein, “ah seandainya ada warung kopi di tengah jalan”. Kami bertiga, Didi sepupuku, sang suami dan aku sendiri, masih terbuai di alam mimpi, terguncang-guncang dalam perahu kecil yang bernyanyi tok tok tok tok. . .

Kami memasuki sungai Samba, anak sungai Katingan, sungai yang akan membawa kami ke desa Tumbang Manggu ( cat.- berbeda dengan bahasa Indonesia, tumbang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti rebah jatuh; runtuh, sedangkan tumbang dalam bahasa dayak Ngaju adalah muara. Jadi Tumbang Manggu adalah desa yang terletak di muara sungai Manggu). Tidak ada yang bisa kulihat disekitarnya saat itu, semuanya masih gelap, dingin, ditiup oleh angin sungai pagi hari, kami “tenggelam” dalam kedinginan pagi, diselimuti kehangatan bunyi mesin kelotok, tok tok tok tok.

Satu jam kemudian, matahari mulai menampakkan sinarnya dengan gagah, sekalipun masih jauh terlihat, tetapi ia menumpahkan warna biru terang jauh di ufuk cakrawala. Bentuk kehidupan mulai menampakkan diri, menyinari kami, menjanjikan harapan baru, hari yang indah untuk disongsong.

Disebelah kiri, kulihat kumpulan batang-batang kayu besar terabaikan dipinggir sungai, debit air yang rendah tidak memungkinkan bagi tongkang untuk masuk dan membawa kayu-kayu tersebut ke hilir hingga laut Jawa. Aku menghela napas, perplex, tidak tahu harus berkata apa. Dalam situasi “moderen”, paradoks tercipta diantara kebutuhan menjadi “modern” dan kebutuhan untuk melanjutkan hidup secara tradisional à la turun temurun. Televisi, majalah, iklan, memberikan contoh model akan suatu kehidupan “modern”, pada komunitas pertanian yang tidak mempunyai gambaran “pasti” akan definisi dari suatu “modernitas”. Mereka membiarkan diri mereka memasuki dunia asing, yang dikenalkan oleh orang “asing”, beradaptasi dengan dunia asing, demi orang “asing” yang datang untuk mengambil kekayaan mereka, dan kemudian pergi tanpa meninggalkan apa-apa. Aku kembali ke dalam kenyataan, kini aku berada ditengah hutan raksasa, ditengah-tengah raksasa kayu-kayu dan mesin-mesin.

06 :30

Kami tiba di desa Tumbang Manggu, dimana terletak betang Bintang Patendu. Betang umumnya diartikan sebagai rumah panjang. Dalam bahasa dayak Ngaju sering juga disebut huma hai (rumah besar). Didalam betang, hidup lebih dari satu keluarga, bahkan pada abad ke 18 bisa mencapai 20 keluarga, yang kalau ditotal jumlah manusia yang hidup dalam satu atap mencapai 200 orang.

Pembangunan betang Bintang Patendu dimulai pada tanggal 15 maret 2002, dengan maksud untuk meneruskan dan menjaga budaya dan tradisi Dayak Ngaju yang bisa dikatakan hampir hilang “dari peredaran”. Betang Bintang Patendu dibangun diatas tanah seluas 1,3 hektar, terdiri dari dua bangunan yang dihubungkan dengan satu bagian, yang dinamakan selasar/karayan, seluas 84 m2. Bangunan pertama seluas 171 m2 adalah bangunan utama, dimana terletak ruang pertemuan/balai dan kamar tempat tinggal, sedangkan bangunan kedua adalah ruang dapur dan ruang makan, seluas 135 m2.

Betang yang dibangun diatas 4 meter dari tanah, ditopang oleh 100 potong kayu besi (scie. Eusideroxylon zwageri) atau kayu tabalien (dayak Ngaju), menimbulkan kesan yang sangat kuat akan kekayaan alam dan kehidupan masa lalu, dalam konteks masa sekarang.

Kami menaiki hejan (tangga-bahasa dayak Ngaju) yang terbuat dari 1 batang pohon utuh, memasuki balai pertemuan yang bernama Balai Karungut. Seperti nama balai pertemuan, “karungut”, seperti juga pemilik betang yang adalah seorang artis, the real celebrity of Karungut. Karungut adalah sejenis pantun, yang dilagukan, diiringi dengan musik kecapi, suling dan kangkanong (semacam gambang). Tema karungut berkisar pada ekspresi perasaan manusia, keadaan alam sekitar, mitologi dan legenda/cerita rakyat. Syair-syair Karungut mengajarkan akan kebajikan dan nilai-nilai luhur budaya.

Seperti syair-syair karungut yang berbicara akan keluhuran budaya, begitu juga dengan sang pendendang Karungut, Bapak Syaer Sua. Begitu banyak hal-hal yang dapat kami pelajari dengan mengenal beliau, sekalipun dalam waktu yang singkat.

Bapak Syaer Sua lahir pada tanggal 15 mei 1952 di desa Bukit Rawi tepi sungai Kahayan, sedangkan kedua orangtuanya berasal dari Desa Tumbang Manggu. Bapak Syaer adalah seorang lelaki yang terlihat tegas, pola bicaranya lugas, tanpa tedeng aling-aling, khas orang Dayak Ngaju. Sistim bermasyarakat Dayak Ngaju adalah sistim budaya betang. Suatu betang adalah juga suatu lewu (kampung), orang-orang yang tinggal di dalam betang adalah satu keluarga yang juga berarti penduduk kampung, jadi pada jaman dahulu, suatu kampung terdiri dari satu betang yang besar dimana anggota keluarga, yang otomatis penduduk kampung, vice versa, selalu bekerja bersama-sama, bergotong royong, tanpa perlu menunggu uluran tangan dari pihak luar. Dalam budaya betang terdapat sistim egaliter, di mana kita biasa memanggil orang dengan sebutan “ikau" (-kamu- Dayak Ngaju), kepada orang yang lebih muda, seumur, bahkan yang lebih tua. Nama orang jarang diucapkan dalam percakapan, kebanyakkan menggunakan panggilan seperti Aba (ayah), Mama (paman), Mina (bibi). Bagi orang yang terbiasa dengan adat yang menggunakan sebutan “anda”, akan menganggap nada bersahabat tersebut sebagai nada ketidaksopanan.

Dibalik sikapnya yang lugas, kami merasakan ketulusan dan kebaikan hati. Ketulusannya untuk terus menurunkan dan mengembangkan tradisi yang diwarisi turun temurun dari nenek moyang, tetek tatum (cerita) yang dilantunkan sang ayah kepada anak-anaknya, diterangi oleh sinar pelita damar, mengisahkan riwayat panjang kehidupan dari masa lalu, sebagai pedoman dan contoh dalam menghadapi masa yang akan datang. Prinsip yang tertanam sejak kecil membuat Pak Syaer Sua menggunakan seluruh kemampuannya untuk membangun betang, untuk mempertahankan budaya betang.

Dalam mempertahankan dan menjalankan prinsip-prinsipnya, tidak jarang Pak Syaer menemukan kesulitan-kesulitan, di antara degradasi moral dan penilaian sepihak dari pihak luar, akan ide-ide dan cita-cita pak Syaer. Tidaklah mudah membangun sesuatu yang hampir punah, meleleh dalam gerakan globalisasi dan modernitas instant. Kehidupan terplastikkan oleh sistem instant, semuanya (harus) serba instant, serba “harus” cepat. Berbalapan dengan waktu, berusaha mengalahkan waktu, tanpa melalui proses alami. Hasil yang didapat akhirnya bersifat instant, begitu juga durasi ketahanannya bersifat instant, tidak tahan lama. Yang kesemuanya menuju pada kemiskinan moral dan material. Pak Syaer Sua harus mampu berhadapan dengan generasi yang diserbu oleh ragam instanitas dari berbagai penjuru.

Pada jaman dahulu kala, betang dibikin dan didirikan oleh orang banyak secara gotong royong. Dengan pengetahuan, peralatan yang sederhana, kesabaran dan kegigihan, mereka membangun betang dengan waktu yang lama. Pada masa kini, waktu dan gotong royong mulai punah. Teknologi modern menawarkan bantuan fasilitas dan kecepatan, tetapi tidak ada yang gratis. Pak Syaer harus memutar otaknya berkali-kali untuk bisa mewujudkan betang. Sudah tidak banyak lagi tangan-tangan yang menawarkan bantuan, dibandingkan pada jaman dulu. Secara materi, proyek Betang merupakan proyek yang jauh dari jangkauan kantong pak Syaer. Tetapi keberuntungan selalu datang dibalik kegigihan dan ketekunan, Betang Bintang Patendu dapat terwujud dengan bantuan fasilitas alat berat dari perusahaan perhutanan.

Betang Bintang Patendu berdiri dengan megah, mengingatkan dan mengajak kembali masyarakat untuk “kembali ke asal”, kembali ke budaya betang. Tetapi globalisasi masih bertengger dengan sombongnya. Pendapat-pendapat orang mulai menggerogoti kesabaran pak Syaer. Dari sebutan sebagai pemimpi hingga orang gila, sudah kenyang didengar oleh kedua telinganya, tetapi bukan kata-kata itu yang kadang kala melahirkan kekecewaan dan kemarahan. Kurangnya informasi dan pengetahuan budaya, akan asal-usul betang tersebut, membuat banyak pengunjung betang menilai “rendah” betang Bintang Patendu.

Banyak orang yang berpikiran bahwa betang hanyalah bangunan sisa dari masa purbakala, yang hanya dibangun pada jaman dahulu, begitu juga pikir mereka tentang Betang Bintang Patendu. Dari beberapa komentar-komentar di internet, banyak yang mengimajinasikan untuk menemukan betang tua, reot, “orisinil”, tidak berjendela kaca, akibat dari imajinasi “eksotis” mereka, para pengunjung, menjadi “menyesal” dengan betang Bintang Patendu. Secara tidak langsung mereka “mendakwa” bahwa betang Bintang Patendu hanyalah “betang tiruan”, betang yang telah dimodifikasi, “betang modern”. Tampaknya pengunjung lebih mudah “mendakwa” sebagai tameng dari rasa kekecewaan dan kekesalan akibat imajinasi eksotis masa lampau. Sayangnya, mereka tidak sadar, bahwa “dakwaan” mereka melahirkan kesedihan mendalam di hati Pak Syaer Sua. Pekerjaan besarnya hanya diartikan sebagai suatu bangunan baru tanpa sejarah, tanpa cerita, tanpa arti.

Tetapi Pak Syaer tidak bergeming dari pendiriannya, ia siap malahap (pekik Dayak Ngaju), mengikatkan lawung bahandang (kain merah) di kepala. Dengan sikapnya yang mamut meteng (gagah berani), ia berjalan dengan semangat isen mulang yang berarti hanya boleh pulang dengan kemenangan. Kemenangan atas janji manusia kepada Ranying (sang pencipta), untuk mengelola bumi dengan baik, dan pulang kembali ke nenek moyang di dunia atas dengan kemenangan, bahwa pantai danum kalunen (dunia) yang dipinjamkan Ranying kepada mereka, telah dikelola dengan baik.

Pak Syaer Sua kembali membangun betang kedua pada 15 September 2005, dengan bangunan utama seluas 300 m2, bangunan dapur seluas 96 m2 , dihubungkan oleh pelataran (selasar/kerayan) seluas 128 m2. Betang kedua ini mempunyai balai yang bernama Balai Basara, yang berarti “Balai Bicara”. Balai yang berbicara, sekalipun betang tersebut belum tuntas selesai terpaku masalah dana, tetapi kekuatan dan kegigihan akan tetap ada, sekalipun harus menahan rahang sang angkara globalisasi yang meraung kuat, mencemooh the real celebrity yang tidak dipuja, seorang Syaer Sua akan tetap meneriakkan lahap (pekik), menantang masa depan.

Saat kami sudah kembali ke Jakarta, pak Syaer Sua memberikan aku satu pertanyaan, “bagaimana pendapat kau tentang betang Bintang Patendu dan betang tua?”

Tanpa ragu-ragu aku menjawab dengan lugas,

“semuanya sangat berarti bagi aku, karena semuanya mengandung jiwa semangat nenek moyang. Kedua-duanya adalah betang, rumah nenek moyangku, rumahku juga, dan aku bangga.”

Teman..., kegigihan pak Syaer Sua membuat aku malu pada diriku sendiri, malu karena aku masih suka nelangsa bila orang mencemooh usaha kami, aku masih suka mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang yang mencemooh usaha kami mengenalkan Indonesia.

Kini aku mulai berkaca pada tindakan pak Syaer Sua. Tidak sia-sia aku belajar “di luar negeri Swiss”, tepatnya di Indonesia, di Kalimantan Tengah. Kini aku harus “membangun balai basara” dengan lebih banyak basara (bicara) agar auchku (suaraku) dapat memecahkan batu hitam kekalahan.

Tikas toh helo doa dan tabe

Bara ikei bawi hatue

Tangis ingganti hapan tatawe

kalampangan ih gulung mangat rata itah mangkeme

Sekian dulu doa dan salam

Dari kami lelaki dan perempuan

Tangis diganti dengan tertawa

Kalampangan saja cepat agar rata kita rasakan

Karungut “Bara Kampung Hantapang Mujai ” (ciptaan J. Lampe Bulit)

Info:

Betang Bintang Patendu.

Bapak Syaer Sua

Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Senaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Video:


Arita-CH

Hari Ini ... Hari VIP

Hari Ini ... Hari VIP
24.08.2008.

Dear Zeverina, Kokiers, Kokoers, Talkative Readers, Silence Readers, Comentators,

SELAMAT ULANG TAHUN !!!

Selamat menikmati persembahan kecil ini.

Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan...

SALAM PANJANG UMUR...

HIP HIP HORAYYYYYY..............

Arita-CH


Wiraswasta di LN

Wiraswasta di LN
30.11.2005.
Dear Zeverina,
Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih dengan adanya kolom ini di Kompas.com. Berbagai cerita dan pengalaman baik yang positif maupun negatif sekalipun membuat kita menyadari bahwa sebagai orang Indonesia dimanapun mereka berada terpencar di berbagai penjuru dunia tetap berkumpul menjadi satu dalam satu bahasa Indonesia di website Indonesia, yang bertempat di Indonesia.

Cerita yang akan saya utarakan mungkin bisa memberi informasi tentang bagaimana hidup di Luar Negeri dengan titik pandang yang berbeda.
Alasan saya meninggalkan Indonesia bukan karena ikut suami, kuliah ataupun bekerja, tetapi karena mencari anak saya yang diculik oleh bekas suami saya (WNA). Singkat kata saya sudah menemukan anak saya dan dikarenakan situasi hukum membuat saya « harus » tetap di Eropa agar bisa selalu dekat dengan anak saya. Maaf saya tidak menceritakan kisah tentang mengapa anak saya diculik dan bagaimana saya bisa menemukannya, mungkin di lain surat saya akan menceritakan pengalaman tersebut.

Saya tinggal di Swiss, dan mempunyai usaha sebagai penjual barang2 dari Indonesia. Pertama kali saya mengajukan ijin menetap disini, saya tidak menemui banyak kesulitan dikarenakan saya sudah punya PR di negara Eropa (FR) sebelumnya tetapi saat saya sudah mendapatkan ijin tinggal ternyata tidak secara otomatis mendapatkan ijin kerja. Ada 2 Ijin kerja, Kesatu, yaitu "Dependent" yang berarti bekerja untuk sebuah instansi dan kedua "Independent" yang berarti sebagai pihak Swasta, dimana saya termasuk dalam kategori kedua.

Waktu saya meminta formulir ijin kerja independent, petugas kepolisian kantonal "tidak mau" memberikan formulir tsb malah menasihati saya untuk mencoba melamar pekerjaan sebagai pelayan di supermarket setempat dimana saya mengartikan "be dependent, don’t be independent". Setelah melalui perdebatan yang cukup seru barulah formulir tersebut diberikan kepada saya.

Melalui proses yang panjang dan sempat ditolak satu kali akhirnya saya bisa mendapatkan ijin kerja Independent. Usaha saya bergerak di bidang kesenian dan permebelan yang saya fokuskan hanya dari Indonesia, walaupun banyak yang menawarkan barang2 dari negara Asia lainnya, bahkan dengan harga yang jauh lebih murah, tetap saya mengambil dari Indonesia.

Sejak awal saya berniat berwiraswasta agar bisa lebih mudah memantau perkembangan anak saya dan pilihan saya hanya Indonesia karena merupakan jembatan bagi saya dan Indonesia, tanah air saya sendiri. Saya bersyukur karena dengan usaha ini memungkinkan saya untuk pulang ke kampung halaman minimum sekali dalam setahun, dan bisa membantu perekonomian Indonesia, walaupun dalam skala kecil. Bahkan sejak itu saya jadi mengenal kebudayaan tanah air jauh lebih dalam dari sebelumnya dan bangga jadi orang Indonesia dimanapun saya berada.

Cerita tentang menjadi penjual barang dari Indonesia banyak suka dan dukanya. Saat saya menawarkan barang Indonesia ke perusahaan Swiss, reaksi pertama yang sering saya terima adalah rasa tidak percaya bahwa sayalah pemilik barang, bahkan ada yang terang-terangan menolak dengan kata-kata pedas bahwa pedagang orang Indonesia adalah penipu dan dia lebih suka membeli barang Indonesia dari orang asia lainnya (negara MI) daripada dari orang Indonesia langsung. Wah mau marah saya mendengarnya, tapi saya berpikir mungkin orang ini pernah ditipu oleh orang Indonesia, saya jadi penasaran dan ingin membuktikan bahwa orang Indonesia bukanlah penipu seperti yang dia kira.Setelah saya jelaskan panjang lebar akan kekuatan hukum dari usaha yang saya jalankan dan dengan dasar hukum Swiss yang mengikat perjanjian kerjasama, akhirnya dapat dijalin pengertian antara orang tersebut dan saya.

Pernah satu kali saya ikut pameran budaya asia dalam skala nasional (canton), dimana stand saya membawa nama Indonesia. Stand itu hanya berukuran 12m2 dikarenakan biaya sewa yang cukup tinggi dan dana dari pihak sendiri. Sebelah stand saya adalah stand dari India dengan luas hampir 50 m2 dan dibiayai oleh pemerintah India. Tapi saya tidak mau minder, biar kecil tapi berbobot, saya minta tolong salah satu teman Indonesia untuk menari Bali dalam acara tersebut, akhirnya tercapailah tujuan saya, stand terkecil tapi paling banyak peminatnya.

Belum habis kebahagiaan saya melihat minat pengunjung yang besar, datanglah pengunjung dari Indonesia. Tentu saja saya senang melihat orang setanah air mengunjungi stand saya, tapi reaksi yang saya terima membuat saya mejadi sedih.. Dia berkata "eh kecil amat stand dari Indonesia, malu-maluin saja. Kalau tidak mampu buat stand yah tidak usah ikut berpartisipasi dong. Masa kalah sama negara Asia lainnya yang lebih miskin dari Indonesia, bikin malu bangsa saja". Aduh, dengar komentar jelek dari bangsa lain masih bisa bikin saya kuat, tapi komentar dari bangsa sendiri, sedih sekali hati saya saat itu.



Satu lagi ada pengunjung orang Indonesia yang enggan bicara sama saya dan memilih bicara dengan karyawan saya (kulit putih) untuk menawarkan kerjasama karena dia pikir saya adalah pegawai, dan yang kulit putih adalah bos saya, aduh mak! Setelah dijelaskan bahwa dia (kulit putih) adalah karyawan, orang itu langsung pergi tanpa permisi. Tapi hati saya digembirakan oleh kunjungan beberapa pemuda-pemudi Indonesia yang masih berstatus pelajar. Ada yang asli 100% keluarga Indonesia yang lahir di Eropa tetapi belum pernah pulang ke Indonesia, mereka senang sekali mendengar dan melihat akan kebudayaan Indonesia yang kaya.

Ada yang memang pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu disini, bangga akan adanya stand Indonesia malah sempat mempertunjukkan kemampuannya bermain wayang kulit. Wah tunas muda seperti inilah yang bisa membuat Indonesia maju! Ada yang mengejek karena saya berkebaya saat bekerja, sementara ada yang memuji karena jarang melihat wanita Indonesia berkebaya, kecuali waktu 17 Agutus di KBRI.

Pernah sekali saya didatangi dua ibu-ibu Indonesia saat sedang pameran, mempertanyakan berapa gaji saya. Saya penasaran akan maksud dari pertanyaan tersebut lalu saya jawab bahwa gaji saya lumayan, ibu tersebut menawarkan pekerjaan lain, ringan tapi banyak uangnya. Jadi escort lady! Ampun! Saya hanya bisa tersenyum kecut dan bilang terima kasih, saya lebih suka yang halal.

Satu hari di toko saya didatangi oleh satu keluarga komplit, ibu, bapak dan ketiga anaknya. Mereka bertanya-tanya tentang kebudayaan Indonesia, tentu saja dengan senang hati saya menjawab dan menerangkan, sampai si Ibu bertanya tentang hal yang aneh akan saya.

Dia pernah berkenalan dengan orang Indonesia di Jerman saat belajar Yoga (sekarang ibu tersebut adalah guru Yoga), dimana kenalan orang Indonesia itu bilang di Indonesia kalau perempuan dengan rambut dikonde tinggi serta acak-acakan (tidak terlalu rapih, agak kusut) berarti orang itu mempunyai kemampuan gaib/paranormal, jadi guru yoga tersebut bertanya apakah benar di Indonesia seperti itu dan kalau benar apakah saya punya kemampuan gaib (karena kebetulan konde saya tidak terlalu rapih). Wah kalau buat jawab apakah saya paranormal tentu saja Tidak. Tapi buat menjawab apakah di Indonesia ada perempuan yang seperti itu, saya cuma bisa berdiplomatis bahwa di Indonesia ada 18.108 pulau, 300 etnis tersebar dari sabang sampai merauke dan saya belum bisa mempelajari semuanya. Sepengetahuan saya sampai hari ini belum pernah mendengar hal tersebut sehingga saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Berjualan barang dari Asia kadang juga dianggap berjualan barang yang aneh yang mempunyai kekuatan gaib, dan saya pikir ini adalah taktik tidak jujur pedagang (yang kebanyakkan orang asing) agar bisa menjual barangnya. Pernah saya berbincang-bincang dengan salah satu pedagang dari negara Asia lainnya. Ia bercerita bahwa untuk menjual lonceng dia menjelaskan ke pengunjung bahwa dengan mendengarkan suara denting lonceng setiap pagi maka segala kesusahan akan hilang hari itu. Saya hampir terbahak-bahak mendengarnya, tetapi waktu dia melakukan aksinya didepan pembeli, persis seperti yang dia katakan kepada saya, eh berhasillah dia menjual lonceng. Bahkan ada yang menjual gental kecil dengan nama "Pangilan buat malaikat", laku keras! Ya ampun mungkin ini bedanya manusia yang berTuhan dengan manusia yang tidak mengenal Tuhan. Biar sudah pintar teknologi dan pendidikkan masih saja mencari alternatif lain selain Tuhan.

Saya punya Gong yang tua dari pulau Jawa dan suaranya merdu sekali. Lalu banyak yang bertanya apakah Gong tersebut mempunyai "isi" yang kuat, apakah bisa mendatangkan kebahagiaan, apakah bisa mendapatkan kedamaian? Saya jawab bahwa Gong ini saya jual karena kualitas keindahan ukirannya, serta kemerduan suaranya, saran saya sebelum anda mencari sesuatu yang ada "isinya", "isilah" diri anda dahulu dengan introspeksi diri dan berdoa. Kalau anda percaya bahwa sesuatu bisa "berisi" masa anda tidak percaya bahwa alam dan seisinya adalah milik dan ciptaan Tuhan. Kadang jawaban saya bikin marah orang tetapi banyak juga yang akhirnya "bertobat".

Lama kelamaan saya menjadi kebal dengan reaksi negatif dari orang Indonesia ataupun tentang Indonesia dan lebih memusatkan perhatian kepada reaksi positif. Ada yang buruk, tetapi banyak juga yang baik sehingga semuanya saya simpulkan bahwa yang baik untuk kebaikan yang buruk pun bisa dijadikan pelajaran agar menjadi lebih baik.

Seperti layaknya dalam kehidupan berusaha ada masa pasang adapula masa surutnya.. Pada saat saya sedang dalam masa surut mertua saya (saya sudah menikah lagi) pernah menyarankan untuk bekerja kantoran saja dimana setiap bulan pasti ada pemasukkan. Tapi saya menolak. Setiap saya ke Indonesia bertemu dengan pengrajin dan keluarganya yang selalu tekun dalam bekerja, jujur dan percaya terhadap saya, takwa dalam kehidupannya dan gigih sebagai pengrajin, menggantungkan sendok nasinya ke tangan pembeli yang salah satunya adalah saya. Lah kalau saya ganti haluan, saya mungkin tidak mengalami masalah, tapi pengrajin tersebut pasti kehilangan satu pembeli yang juga mengakibatkan kekurangan dalam pemasukkan mereka.

Bukan maksud saya untuk menjadi pahlawan bagi mereka tetapi sesusahnya saya disini masih ada kelebihan dan fasilitas negara yang bisa saya dapatkan sedangkan mereka kalau dalam kesusahan tentulah tidak semudah saya disini. Jadi saya berpikir berkali-kali untuk ganti haluan. Namanya orang usaha, ada susahnya ada untungnya, kelebihan dari usaha ini adalah saya mendapat kebahagian batin dimana saya dan Indonesia tidak terputuskan oleh jarak dan tempat . Kebahagian yang tidak bisa dinilai dan digantikan oleh materi.

Terima kasih untuk Zeverina dan Kompas online, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi pengalaman hidup, salam sejahtera.


Arita - CH