Ini Budi!


Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi.
Nama “Budi” membawa angan saya melayang pada saat masih mengenakan seragam sekolah dasar. Saat “Budi dan Keluarga” menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Saat guru bahasa Indonesia berdiri di depan kelas dengan penggarisan panjang menunjuk tulisan kapur putih pada papan hitam, saat saya dan teman-teman sekelas melafalkan tulisan itu dengan keras dan lantang. “Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi”.

Budi dan keluarga menjadi bagian dari setiap anak-anak di Indonesia. Sekalipun pemeran dalam pelajaran membaca terdiri dari berbagai karakter pribadi (Budi, Amir, Wati, Bapak Budi dan Ibu Budi), namun pemeran utama dalam “teater” ini adalah Budi. Cerita kehidupan keluarga tersebut bertumpu pada kegiatan yang dilakukan Budi, apa yang dipikirkan Budi, bagaimana Budi menikmati hidupnya, bagaimana senangnya Budi bermain bola, dst. Semuanya bertumpu pada Budi dan Budi adalah sang selebritis pilihan .

Entah kenapa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) memilih nama Budi sebagai pemeran utama dalam pelajaran membaca. Kenapa bukan Amir yang menjadi pemeran? Atau kenapa bukan bapak Budi yang saya tidak ketahui namanya? Semuanya itu tidak pernah terpikirkan saat itu, saat saya masih bersekolah di SD.

Arti “Budi” itu sendiri bagi saya saat sekolah dasar adalah: tokoh dalam pelajaran membaca, nama teman sekelas yang duduk di barisan depan dan berada dalam urutan 10 murid terbaik, sebutan bagi seseorang yang bersikap baik hati dan tidak sombong.

Kata “Budi” pun saya pelajari sebagai kata yang menggambarkan sesuatu yang positif. Akal budi, hati budi, budi bicara, budi pekerti, budi daya, budi luhur, segala sesuatu yang berbau “Budi” menjadi contoh yang patut menjadi teladan bagi setiap anak-anak di Indonesia sejak mereka mengenal abjad dan tulis menulis.

Sejak setiap anak menjejakkan kakinya dalam dunia pendidikkan, maka mereka pun menjejakkan kakinya pada dunia BUDI. Mungkinkah pemerintah saat itu memilih “Budi” sebagai pemeran utama yang “membesarkan” setiap anak-anak yang ada di bumi Indonesia supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudi luhur, baik budi, berbudi bicara, berbudi pekerti dan berhati seperti “Budi”?

Tentu saja setiap bangsa di muka dunia ini menginginkan menjadi bangsa yang baik dan berbudi, setidaknya terlihat (seperti) bangsa baik dan berbudi. Begitu juga dengan bangsa yang lahir dan hidup di bumi pertiwi Indonesia, bangsa yang terkenal dengan keramah-tamahannya dan berbudi bicara, bangsa yang memperkenalkan kata “Budi” sejak dini kepada setiap manusia yang ada di Indonesia, jadi sudah sewajarnya jika bangsa Indonesia (bisa) menjadi bangsa yang berbudi.



Namun pertanyaan saya saat ini, di awal abad ke 21 ini, apakah bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa berbudi? Sudah tepatkah aplikasi «Budi» ke dalam setiap jiwa bangsa Indonesia?



Budiman dan Budiwati Indonesia abad ke 20 dan abad ke 21
Pada akhir abad ke 20, situasi di Indonesia secara kasat mata dapat dikatakan “berbudi dan dihidupi oleh para budiman dan budiwati”. Nama-nama koruptor yang tercuat pun hanya sedikit dibandingkan pada awal abad ke 21. Beberapa teman berpendapat secara kecut asam jawa bahwa memang pada awal abad ke 21, koruptor yang ada berjumlah buanyak gotong royong ramai-ramai membuat dunianya menjadi hijau loh jinawi.



Tapi sekalipun di akhir abad ke 20 hanya sedikit jumlah koruptor yang ngetop, namun dengan otoritas pemerintahan kleptocratic selama 32 tahun, bukan berarti kerugian negara dan kesusahan penduduk lebih sedikit dibandingkan awal abad ke 21.

Lalu benarkah di awal abad ke 21 ini, Indonesia (hanya) dipenuhi dengan orang-orang yang tidak berbudi?
Tentu saja Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh mereka. Di pelosok pedalaman, desa, kampung, tempat dimana alam masih menjadi guru dan teknologi masih gagap pakai, saya masih banyak menemui orang-orang yang berbudi. Orang-orang yang berbudi pekerti dan membudidayakan alam serta lingkungan sekitarnya dengan baik dan efektif. Orang-orang yang masih berhati perut, mempunyai hati budi yang turut memikirkan perut sekitarnya. Tapi mengapa mereka yang mencoba mengaplikasikan nilai "Budi" malah masuk dalam kategori penduduk kelas 3 atau kelas akhir atau bahkan korban dari penduduk kelas 1?

Lalu, salahkah menjadi penduduk kelas 1 atau penduduk kelas 2? Salahkah tinggal di kota? Salahkah mengenal modernitas dan teknologi? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu siapakah yang patut disalahkan? Salah "Budi" kah?
Jawaban dari pertanyaan ini saya jawab dengan pertanyaan lagi: kenapa harus mencari siapa yang harus dipersalahkan? Berkaca adalah tindakan yang tepat, mencoba mencari "Budi" dalam diri sendiri, dalam identitas diri.

Pertanyaan yang utama adalah kepada siapakah kita mengidentitaskan diri kita? Jawaban yang saya tawarkan adalah berkaca kepada himpunan Budi. Kepada "Budi" yang merupakan satu himpunan yang terdiri dari berbagai elemen baik POSITIF maupun NEGATIF.





Definisi Budi

Ahhh… jadi sesungguhnya apa arti Budi? Benarkah "Budi" juga mengandung elemen bernilai NEGATIF? Ada baiknya kita mencoba untuk mengenal dan mempelajari arti "Budi" jauh lebih dalam lagi. Arti "Budi" sebagai kesatuan dan satuan-satuan yang membentuk "Budi" menjadi satu keutuhan.


Nama "Budi" sejatinya berasal dari bahasa Sansekerta, “buddhi” yang berarti kebijaksanaan, pemahaman, atau kecerdasan. Di dalam Kamus Sansekerta-Inggris, buddhi didefinisikan sebagai "kekuatan untuk membentuk dan mempertahankan konsep-konsep dan gagasan umum, kecerdasan, akal, intelek, pikiran, penegasan, penghakiman " (Monier-Williams 1956:733).

Budi (“buddhi”) dalam bahasa Sansekerta adalah kata benda femina (kata benda maskulin: buddha) yang berhubungan dengan kebijaksanaan dan kecerdasan. Mempunyai kemampuan dalam berpikir serta mempunyai sifat diskriminatif, yang mampu membedakan kebenaran dari kebohongan sehingga dapat bersikap/bertindak bijaksana.

Dalam mitologi Hindu, Buddhi adalah nama dari istri Ganesha, dimana Ganesha juga dikenal dengan nama Buddhipriya yang berarti suami buddhi. Selain itu defini ini juga bisa berarti suka kecerdasan (Buddhi= cerdas; Priya= suka).

Buddhi juga merupakan salah satu filsafat India yang berisikan seperangkat alat-alat pengetahuan, kearifan dan keputusan. Suatu pengetahuan yang membuat seseorang menjadi kuat sehingga mampu membentuk, memutuskan serta mempertahankan suatu konsep, gagasan, akal, pikiran. Sesuatu yang mendefinisikan seseorang yang mempunyai kepandaian, dan dengan kemampuan diskriminatifnya membuat ia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, sehingga mampu memutuskan sesuatu secara bijaksana. Buddhi adalah sesuatu yang ideal bagi setiap insan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi dari “Budi” adalah sebagai berikut:

  • Alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk: pendidikan untuk memperkembangkan badan dan -- manusia.
  • Tabiat; akhlak; watak: orang yg baik -- .
  • Perbuatan baik; kebaikan: ada ubi ada talas, ada -- ada balas .
  • Daya upaya; ikhtiar: mencari -- untuk mengalahkan lawan.
  • Bahasa tingkah laku dan tutur kata; tingkah laku dan kesopanan; -- bicara ;akal budi; -- pekerti; tingkah laku; perangai; akhlak.
  • akal (dl arti kecerdikan menipu atau tipu daya): bermain --.
  • ber•bu•di: 1 v mempunyai budi; 2 v mempunyai kebijaksanaan; berakal; 3 v berkelakuan baik; 4 a murah hati; baik hati.
  • mem•per•bu•di•kan: v memperdayakan; menipu.
  • se•bu•di, (dng) - akal (dng) segala usaha.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta, 1991.
  • Lim Kim-Hui, “Budi as the Malay Mind”, IIAS Newsletter no 31, International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden, 2003.
Jadi arti “Budi” dalam bahasa Indonesia merupakan satu himpunan dari segala tabiat, akhlak, watak, perbuatan baik, tingkah laku dan tutur kata, kesopanan perangai, daya upaya, ikhtiar, kecerdikan daya upaya menipu atau tipu daya, yang semuanya ini dianggap sebagai satu kesatuan.


“Budi” dalam KBBI ternyata mempunyai konotasi negatif yang terselimuti sebaran konotasi positif. “Budi” dalam bahasa Indonesia tidak hanya sekedar berarti baik, luhur dan bijaksana, namun “Budi” juga berakal yang bisa digunakan untuk melakukan tipu daya, seperti kata “bermain budi”, “memperbudikan” .

Jadi, benarkah bangsa Indonesia yang mengenal kata “Budi” sejak sekolah dasar menjadi bangsa budiman dan budiwati yang akhirnya mengaplikasikan semua komponen positif dan negatif secara bersamaan? Baik hati dan ramah tamah namun juga munafik dan penipu, bagaikan serigala berbulu domba?

Bagi saya pribadi, “Budi” adalah kata yang tepat dan jujur untuk menggambarkan seorang manusia yang utuh. Setiap manusia mempunyai sifat positif dan negatif. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi baik dan juga mampu menjadi munafik, mampu menjadi pembela keadilan dan mampu menjadi pemberantas keadilan. Kunci utama yang terletak dalam kata “Budi” adalah pengaplikasian posisi serta fungsi dan kombinasi nilai elemen-elemen “Budi” yang terkandung di dalamnya.

Mengutip tulisan Lim Kim-Hui dalam tulisannya yang berjudul “Budi as the Malay Mind” dikatakan, “arti Budi sebenarnya jika dilihat melalui rasionalitas mungkin menuduh “Budi” bermuka dua, munafik, curang, atau tidak tulus dalam mengatakan kebenaran. Tapi klaim ini berlaku di satu sisi, karena dalam arti lain kita mungkin perlu melakukan pemeriksaan lebih pada filosofis dan argumentasi. Misalnya, pada saat terjadi konflik yang memanas, dialektik keteladanan yang kuat (mungkin) bisa merugikan (yaitu, tuntutan kehidupan), dan karena itu orang harus 'berbohong' dalam rangka menjaga keharmonisan. Tapi 'kebohongan' ini harus diuraikan saat konflik sudah mendingin. Inilah semangat sejati dari ‘Budi dan elemennya”.

“Budi” dan elemen-elemennya bekerja sama untuk mewujudkan satu tujuan yang menghasilkan enlightenment (pencerahan/penerangan). Elemen-elemen bernilai positif berada pada posisi dari dalam hingga ke posisi paling depan, dan berfungsi untuk menciptakan ide/gagasan, melakukan dan mewujudkan gagasan sehingga mencapai tujuan dari ”Budi” (kebijaksanaan).

Sedangkan elemen bernilai negatif berada pada posisi dimana ia berfungsi sebagai pendukung dan pertahanan elemen-elemen bernilai positif. Nilai-nilai negatif bekerja dan berfungsi untuk mendukung serta mempertahankan gagasan, ide ataupun tindakan yang diciptakan oleh nilai-nilai positif sehingga kesatuan dari kerjasama nilai positif dengan dukungan nilai negatif menjadi satu pencerahan (enlightenment) yang berakhir pada satu tindakan kebijaksanaan yang bijaksana.

Sejak sekolah dasar, manusia di Indonesia diajarkan dan dikenalkan pada definisi “Budi” yang HANYA bernilai positif. Sedangkan nilai berkonotasi negatif tersembunyi dalam-dalam tanpa diperkenalkan secara luas. Akibatnya, pengaplikasian “Budi” dalam kehidupan hanya berfungsi setengah bagian. Pengaplikasian yang setengah dikarenakan pengetahuan dan pengertian yang ada hanya diberikan sebagian saja, membuat tujuan dari “Budi” (kebijaksanaan) menjadi gagal.

Salah satu contoh pengaplikasian “Budi” yang hanya mengutamakan nilai-nilai positif misalnya adalah pengaplikasian nilai rendah hati sebagai salah satu elemen “Budi”. Pengaplikasian nilai "rendah hati" yang berlebihan untuk mencapai satu keharmonian malah berakhir menjadi "rendah diri". Dimana rasa rendah diri mengakibatkan perubahan peranan manusia menjadi korban sesama manusia, menjadi pihak yang dimangsa.
Adapun masalah yang lebih parah lagi dalam pengaplikasian “Budi” bukan saja karena pengaplikasian “Budi” yang tidak sempurna/setengah, tapi juga PEMBALIKAN dari posisi dan cara kerja fungsi elemen-elemen yang ada pada ”Budi”.

Cara bekerja yang seharusnya bagi “Budi” dan elemen-elemennya adalah pengaplikasian nilai-nilai positif untuk menciptakan dan mewujudkan gagasan dengan dukungan nilai negatif untuk mencapai hasil positif secara keseluruhan yaitu kebijaksanaan.

Salah satu contoh yang paling mudah kita temui adalah cerita rakyat "Kancil & Buaya". Kancil adalah salah satu contoh perwujudan dimana Kancil digambarkan bersikap dan bertidak dengan nilai positif. Untuk mempertahankan konsep dan gagasannya yang positif, ia mengaplikasikan nilai negatif dengan melakukan penipuan. Penipuan disini merupakan hasil bernilai negatif yang berasal dari pengaplikasian nilai positif (ikhtiar dan kecerdikan daya upaya menipu). Hasil akhir dari nilai negatif ini digunakan untuk mendukung aplikasi keseluruhan elemen-elemen bernilai positif yang berakhir pada kebijasanaan (buddhi).

Namun kenyataan yang terjadi saat ini adalah pembalikan fungsi dan posisi “Budi” dan elemennya, dimana elemen-elemen bernilai negatif di jadikan dasar untuk menciptakan suatu gagasan dan mengambil alih nilai positif untuk mencapai hasil negatif secara keseluruhan yaitu keegoisan. Pengaplikasian elemen-elemen “Budi” yaitu pintar (positif) dan penuh akal (positif) dalam “bermain budi” (negatif) untuk memenuhi kepuasan egonya (negatif).

Salah satu contohnya adalah seseorang yang mengetahui dengan jelas dan pasti akan adanya nilai “hutang budi” yang berlaku dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dengan gagasan/ide suatu penipuan yang didasari oleh keegoisan (negatif), seseorang menggunakan akal pikiran (positif) dengan memanipulasi (negatif) prinsip “balas budi” (positif), memanipulasi sifat “budi luhur” (positif) untuk mewujudkan aplikasi keseluruhan dari elemen-elemen bernilai negatif (keegoisan) yang berakhir pada keangkaraan (ahamkara) .



Lalu sekarang, mau dibawa kemana bangsa ini? Bangsa yang mengaplikasikan “Budi” dan elemennya dengan utuh dan benar atau bangsa yang mengaplikasikan “Budi” dan elemen-elemennya dengan terbalik?
Saya sendiripun belum bisa menjadi budiwati yang sempurna dengan segala sifat baik dan sifat buruk. Satu hal yang saya coba aplikasikan dalam kehidupan yang tersisa adalah kembali belajar tentang “Budi”. Kembali belajar, “ini Budi! Ini elemen-elemen Budi. Ini identitas Budi!”. Kembali kepada “Budi”, memahami “Budi” dan berkaca kepada identitas “Budi” yang seharusnya.

Lalu, berusaha mengajari anak saya akan identitas “Budi”, mencoba membuat anak beridentitas “Budi” dengan sebenarnya. Semoga saja dengan mengenalkan dan mengajarkan “Budi” dengan lengkap dan benar, saya masih mampu menyelamatkan dunia masa depan anak bersama buddhi (bijaksana) yang utuh.



Ini cicak tetangga BUDI, ini buaya kenalan BUDI, ini Century bermain BUDI, ini KPK musuh Budi, ini Gayus mem-per-BUDI- daya-kan ...


Arita - CH

Kepustakaan:
 Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 24 Mei 2010 (Klik)

La Blonde Attitude

Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 22 Maret 2010 (klik disini)

The blonde girls -wanita berambut pirang- sering diidentikkan dengan seks dan seks serta seks. Begitu kuatnya image blonde girls yang dinilai berkisar tak jauh dari urusan dada ke bawah menciptakan blonde phobia diantara sesama wanita, terutama mereka yang sudah berpasangan.

Banyak cerita, baik kisah nyata maupun bualan ataupun gosip, berisikan kehebatan para blonde girls menggoda lelaki berpaling dari pasangannya, yang tentu saja membuat posisi kaum wanita berambut pirang tersudut ke belakang ruang. Ketakutan akan wanita berambut pirang begitu luas seolah - olah wanita berambut pirang sama dengan penyakit akut berbahaya biang keladi dari segala perselingkuhan dan perceraian.

Namun, mereka para blonde girls tidak mau begitu saja dijadikan sasaran empuk masyarakat. Para wanita berambut pirang membela diri dengan keras kalau mereka tidak hanya memikirkan tentang ataupun bergelut di sekitar dunia seks belaka, namun toch... sama sekali bukan salah mereka kalau mereka terlihat seksi dengan kepirangan rambut mereka.

Sekalipun banyak blonde girls yang bertingkah seronok dengan keseksiannya serta menjadi penggoda yang andal, namun BUKAN berarti semua wanita pirang adalah penggoda nomor satu bagi kaum adam dan musuh nomor satu bagi kaum hawa.

Mereka mengatakan dalam pembelaan mereka bahwa kesuksesan wanita menggoda lelaki hingga berpaling dari pasangannya bukan karena wanita itu berambut pirang, namun karena wanita tersebut mempunyai “Blonde’s Attitude”!

Wanita yang bangga memamerkan kesuksesan yang didapat setelah tidur dengan seseorang (bukan seseorang yang tidur dengan siapa saja namun tidak pernah sukses) menurut mereka adalah wanita yang mempunyai blonde’s attitude.

Blonde’s attitude bukanlah milik blonde girls semata-mata, namun setiap wanita berambut apapun bisa mempunyai blonde’s attitude. Wanita pirang, sekalipun sintal dan cantik belum tentu mempunyai blonde’s attitude, salah satu contoh dari wanita pirang terkenal tokoh kelas atas, tak lain dan tak bukan adalah Hillary Clinton. Seorang wanita pirang yang tidak dapat disangkal lagi kepandaian dan kesuksesan otaknya, melebihi kesintalan dadanya. Namun dia terpaksa harus menerima kenyataan suaminya terjatuh terkaing-kaing dalam pelukan seorang brunette. Seorang brunette yang mempunyai blond’s attitude!

Anne Roumanoff seorang humorist Parisien Perancis mengupas la blonde attitude (blonde’s attitude) dengan gayanya yang khas mengundang tawa baik segar maupun kecut. Menurutnya, seorang wanita yang mempunyai blonde’s attitude tidak harus selalu blonde, namun yang pasti wanita itu memenuhi 6 syarat utama:
  1. Berdiri dengan tegak membusungkan dada, percaya diri kalau setiap jengkal bagian tubuhnya merupakan senjata ampuh untuk menaklukan kaum pria. Jangan lupa ukuran 36B bulat sintal optimal lebih berdaya guna dan efektif daripada merubah ukuran menjadi 38E melebar.
     
  2. Saat berbicara dengan pria, wanita dengan blonde’s attitude wajib membelalakkan mata memandang terpesona tanpa lupa membuka bibir sedikit melebar. Menganga dengan sikap yang seksi sambil tak lupa sesekali mengeluarkan desahan “ ah... ah... ah...” manja di sela-sela pembicaraan serta sabar menjadi pendengar setia. Jangan lupa juga untuk mengangguk-angguk tanda setuju serta menyela dengan desahan-desahan mengundang “ ah... oh... ah...” , sekalipun tidak memahami satu kata pun.
     
  3. Seorang wanita yang mempunyai blond’s attitude harus bersikap sebodoh mungkin. Jangan lupa, untuk mempunyai blonde’s attitude yang sempurna dibutuhkan kecerdasan tinggi untuk membodohi lelaki dengan bersikap sebodoh mungkin! Mempunyai dada penuh bulat bukan berarti mempunyai otak berkapasitas kosong melompong.
     
  4. Memiliki/mengganti nama yang bernuasa eksotis dan bisa menawarkan mimpi bagi para pria. Misalnya nama berakhiran “A” seperti Pamela, Loana, Madonna atau nama yang memberikan rasa “On” seperti Camerron.
     
  5. Saat berdansa, seorang wanita yang memiliki blonde’s attitude harus mampu berbicara dengan bahasa tubuh semaksimal mungkin tanpa menimbulkan kesan murahan. Maksimalkan gerakan di bagian dada dan panggul dengan gerakan melingkar sempurna percaya diri tanpa perlu menggoyangkan kepala berlebihan, dan sekali lagi jangan lupa, bersikaplah tanpa dosa dan tampakkan wajah bodoh dengan elegan.
     
  6. Saat kaum pria melontarkan lelucon basi bertemakan blonde girls, wanita yang mempunyai blonde’s attitude harus mampu tertawa manja terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata sambil berkata, “ha ha ha... untung maskara saya waterproof, ha ha ha...”



Jadi, satu pesan untuk kaum wanita. Janganlah berprasangka buruk pada blonde girls, namun berhati-hatilah dengan wanita berambut warna apapun yang memiliki blonde’s attitude.


Waspadalah...
 

Arita-CH
Une brunette qui n’a pas la blonde attitude (juré!).

Pameran Otomotif Jenewa 2010: Hijau Loh Jinawi


Dimuat di "KoKi, Kolom Kita", Selasa, 9 Maret 2010.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1399/pameran_otomotif_jenewa_2010_hijau_loh_jinawi

Di protes, di kecam dan disindir di “kandangnya” sendiri, pameran otomatif yang ke 80 tetap “bertengker” pada tanggal 4 hingga 14 maret di gedung pameran Palexpo Jenewa Swiss. Sebuah program dari saluran televisi Swiss Romand mengecam ajang pameran otomotif sebagai tempat jor-joran yang penuh dengan “polusi”. Salah seorang pembicara, dengan gamblang mengatakan alasannya berkunjung ke pameran tersebut (hanya) untuk melihat yang “bening-bening” (baca: perempuan).

Masalah polusi menjadi topik yang utama dan bisa dikatakan sepeda merupakan pilihan “tepat” sebagai kendaraan masa depan bebas polusi. Mencoba menggempur kesan “hitam” maka pameran otomotif Jenewa 2010 yang bertajukkan “Divine Surprise” maju dengan pasukan hijau. Dengan konsep ramah lingkungan, kendaraan bermotor dengan tenaga listrik, mobil Hybrid bervolume kecil dan urban style,bertebaran di berbagai stand. Dari Tata hingga Ferarri, mobil-mobil hijau ini tidak hanya menawarkan konsep “hijau” namun juga dengan berani bersolek dengan warna hijau kontras.



Namun, apakah konsep hijau ramah lingkungan yang ditawarkan industri mobil saat ini berhasil menghijau di masyarakat? 

Dari seluruh peserta pameran, hanya 10% peserta memamerkan mobil hijau.
Dari polling yang ada di website http://www.salon-auto.ch, 52.5% pendapat mengatakan bahwa industri otomotif TIDAK memberikan perhatian cukup terhadap lingkungan.

Dari pendapat saya sendiri, mobil-mobil yang bertebaran memang meng-hijaukan mata saya (baca: mahal).

Go green, save the planet, save your pocket!
Arita - CH



EDAG Light Car


Lumeneo Smera 
Mitsubitshi MIEV  
Renault ZOE ZE Concept 
Renault Twizy Z.E. Concept  
Rinspeed UC 
Toyota FT-EV II4  
Mercedes F800 Style hybrid 
Mercedes F800 Style hybrid 
Ferrari HY-KERS vettura laboratorio hybrid  
Ferrari HY-KERS vettura laboratorio hybrid 
Giugiaro Design EMAS3 hybrid  
HONDA CR-Z hybrid  
LEXUS RX 450 hybrid    






Pameran otomotif Jenewa 2010: Desain & Konsep

Dimuat di "KoKi, Kolom Kita", Senin, 8 Maret 2010.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1402/pameran_otomotif_jenewa_2010_desain__konsep


Duluuuu sekali, saya paling suka buka majalah otomotif untuk melihat desain mobil terbaru. Sekalipun bukan pengamat mobil yang setia dan bukan ahli dalam bidang otomotif, menurut saya, ciri khas suatu mobil terlihat dari bentuk dan desainnya. Saya paling suka model mobil alla Batman dari Mercedez Benz
jadul, Jaguar yang berkesan sangat maskulin dan terutama Volkswagen Beetle yang imut-imut (jadi ingat masa kecil, tugas rutin dorong VW putih sekeluarga, ha ha ha...). Saat itu, rasanya dari jauh kita dapat dengan mudah mengenali jenis dan merk mobil tertentu.


Namun, sejak memasuki abad ke 21, saya jadi malas mengikuti perkembangan desain mobil. Semuanya dapat dikatakan mirip, hampir sama, looks alike. Dari jauh saya tidak mampu membedakan, apakah mobil tersebut Toyota, atau BMW atau Mercedes atau Hyundai? Krisis ekonomi global serta selera yang ikutan mengglobal, menyamarkan ciri khas jenis mobil. Masing-masing pabrik mobil bersaing membuat model terbaru yang kurang lebih mirip satu dengan lainnya. Bentuk dan desain yang hampir identik, membuat saya merasa hidup di dunia yang monochrome.


Sudah hampir 10 tahun PM suamiku ngarit di Pameran Otomotif Jenewa. Selama itu juga saya tidak pernah merasakan getaran penasaran tentang situasi dan kondisi dalam pameran otomotif akbar tersebut. Tapi pada tahun 2010 ini, PM berhasil membujukku untuk menikmati sesuatu yang menyegarkan mata. Sekalipun saya samasekali bukan seorang pembeli mobil yang setia, tapi desain dan konsep suatu mobil merupakan hal yang bisa membuat mata saya berbinar ria menikmati keindahan dunia polychrome.


Dear Kokiers, maafkan saya karena tidak bisa mengupas satu persatu jenis mobil yang ada di Palexpo Geneva. Selain bukan seorang ahli, saya juga sudah keblenger melihat berbagai macam jenis mobil. Bagaimana kalau kita nikmati saja bersama-sama keindahan polychrome dunia pemobilan, setuju?


Save my feet, please!


Arita - CH

Alfa Romeo Bertone Pandion Concept, Italy.

Aston Martin Cygnet, UK.


Aston Martin Rapide, UK.



 

Aston Martin Tailored, UK.

Audi R8 5.2 quattro, Germany.

Bentley GTC série 51, UK.

Mercedes SLS AMG, Germany.

Bugatti Veyron Grand Sport Grey Carbon, France.

Bugatti Veyron Royal Dark Blue, France.
Corvette, US.

Mercedes by FAB Design, Switzerland.

Gumpert Apollo, Germany.

Gumpert Apollo, Germany.

Hispano-Suiza Granturismo, Spain.

Koenigsegg CCXR, Sweden. At $.2 Million!

Lamborghini Superleggera, Italy.



LEXUS LFA, Japan. A new breed of LEXUS.


Pagani Zonda Cinque Roadster, Italy.


Pagani Zonda Tricolore, Italy.



Rolls-Royce Ghost by Mansory, UK.



Vredestein, Dutch.



Zagato Perana Z-One, Italia.






Perawan ?


Dimuat di KoKi Kolom Kita, Kamis, 11 Maret 2010.

Posted:
“Halo semuanya, kemarin saya mencoba melakukan senam gimnastik artistik untuk pertama kalinya dan saat saya berganti baju, saya melihat ada bercak darah pada celana dalam. Tapi  pada hari ini saya perhatikan, tidak ada lagi tetesan darah yang membercak.
Saya khawatir, apakah selaput dara saya robek? Apakah selaput dara saya benar-benar rusak? Bisakah diperbaiki? Atau sudah terlambat? Apakah saya sudah tidak perawan lagi?
Apa yang harus saya lakukan, tolong saya! Saya takut dan panik!
Apa yang akan saya katakan kepada tunangan saya? Masihkah saya perawan???”


Hal menarik dari orang tua, selalu merasa tau anaknya dan yang terbaik untuk anaknya,” kata-kata indah yang mengalir terketik dari kokier Malam a.k.a. Night membuat saya nyengir tersentak bagaikan kuda yang dipecut. Mengingat kembali saat “pemberontakan masa remaja”, kembali saya nyengir kecut, membenarkan Night, kalau orang tua selalu merasa tahu akan anaknya tanpa menanyakan terlebih dahulu apa sebenarnya yang ada di benak sang anak.

Paragraf pembuka diatas merupakan pertanyaan yang saya temukan dalam forum berbahasa Perancis untuk para remaja dan masalah-masalahnya. Forum yang berdomisili di Perancis tersebut berisikan berbagai macam informasi dan permasalahan seksual para remaja. Mengingat kembali kata-kata mutiara dari Night, saya mulai melihat-lihat forum-forum remaja seusia anak lanang saya, mencoba memahami dan mencerna permasalahan remaja di abad ke 21 ini.

Keperawanan



Permasalahan keperawanan bukan saja permasalahan milik orang Indonesia tapi juga (masih) merupakan permasalahan umum yang berlaku di seluruh belahan dunia ini. Sekalipun mungkin banyak yang beranggapan kalau para “bule” tidak ambil pusing dengan keperawanan, namun di banyak kota-kota kecil yang tersebar di Eropa, keperawanan masih dianggap sebagai hal yang utama.

Salah satu remaja yang menjawab pertanyaan diatas berpendapat bahwa keperawanan sama dengan kesucian (pureté). Kesucian yang berarti harga diri mereka tidaklah semurah dengan bercinta hanya berdasarkan keingintahuan ataupun rasa penasaran belaka. Masih banyak para remaja bule tersebut yang memimpikan saat-saat pertama kali bercinta dengan orang yang benar-benar mereka cintai dan membuktikan bahwa lelaki tersebut adalah yang pertama (dengan harapan yang terakhir) yang membuat darah keperawanan mereka menetes keluar.

Namun bagaimana dengan kasus diatas? Selaput dara gadis itu terkoyak karena melakukan aktivitas olahraga. Dirinya menjadi kalut dan bingung. Kepanikan menjalari dirinya, percayakah sang tunangan kalau selaput dara tersebut koyak bukan karena kopulasi?
(jangan berharap mereka mengenal Gigimo, sekalipun internet menjadi “makanan” mereka sehari-harinya, namun Gigimo tidak tercantum dalam kamus pergaulan mereka).

Beberapa remaja menjawab dengan tegas bahwa gadis tersebut masih perawan, selama alat kelamin pria tidak berprenetasi. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa keperawanan tidak diukur dengan setetes darah namun lebih menekankan kejujuran bahwa percintaan yang mereka lakukan memang untuk yang pertama kali dalam kehidupannya. Mereka mengatakan kepada gadis itu untuk memberitahu sejujurnya kepada sang tunangan kalau aktifitas olahraga telah mengoyak selaput dara sehingga ada kemungkinan gadis tersebut tidak akan meneteskan darah keperawanan pada malam pertama. Kalaupun tunangan dari sang gadis tersebut tidak mempercayainya, mereka menyarankan untuk memutuskan dengan segera hubungan tersebut dan tidak ada gunanya lagi meneruskan hidup bersama-sama dengan seorang lelaki seperti itu.

Namun, beberapa orang menjawab lain. BELUM tentu semua lelaki bisa mempercayai kata-kata tersebut. Apalagi bagi mereka yang hidup dalam lingkungan keluarga yang masih menganut pentingnya tetesan darah keperawanan. Bukan hanya kepada sang suami kelak sang gadis harus mempertanggungjawabkan keperawanan namun juga kepada keluarga dari kedua belah pihak lelaki dan perempuan. Ayah sang gadis akan merasa malu karena telah gagal mendidik anaknya menjadi wanita yang “mulia” sedangkan ayah sang lelaki merasa malu karena merasa telah menikahkan anak lelakinya dengan seorang perempuan murahan.

Obsesi terhadap keperawanan perempuan & Sodomi
Masalah keperawanan dan hubungannya dengan keluarga di kedua belah pihak yang kelihatannya hanya mungkin dapat ditemui di Indonesia, ternyata masih menjadi masalah utama, pada abad ke 21 ini di benua Eropa yang terkenal dengan kebebasan. Di beberapa tempat dan komunitas Eropa, keperawanan masih sama dengan kesucian. Sekalipun definisi perawan bagi sebagian jawaban remaja yang saya baca di forum ini adalah seseorang perempuan yang sama sekali belum pernah melakukan coitus, namun tetap saja tetes-tetes darah keperawanan masih menjadi mahkota sekaligus momok bagi para perempuan.

Salah satu dari para remaja di forum ini menjawab dengan pertanyaan, “ Mengapa ada begitu sedikit orang-orang yang memahami kami para perempuan? Mengapa tidak ada yang mempertanyakan keperawanan lelaki? Bahkan di luar konteks agama, keperawanan perempuan tampaknya memiliki kepentingan simbolis jauh lebih besar daripada para lelaki. Hal ini membuat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Obsesi akan keperawanan dalam kehidupan para sebagian kulit putih ternyata tetap menjadi masalah besar. Sekalipun di luar konteks agama, ternyata tetap saja arti tetesan darah keperawanan adalah prioritas utama dalam membangun satu hubungan, membuat mereka berusaha dengan berbagai cara untuk tidak terjadi pertumpahan tetesan darah sebelum waktunya. Berbagai cara dicoba dan ditempuh, sekalipun harus masuk dalam kategori ektrim yang tinggi.

Membaca lebih jauh posting-posting dalam forum ini, saya menjadi terbatuk-batuk kaget hampir terjengkang jatuh dari kursi rotan yang selalu berdenyit setiap saat. Sekali lagi saya ingatkan, Gigimo tidak populer dan bisa dikatakan tidak dikenal dalam kehidupan mereka, sehingga untuk mempertahankan pertumpahan darah, beberapa dari mereka, yang memang pada dasarnya ingin melakukan hubungan seksual belaka dengan dasar penasaran dan keingintahuan, nekat melakukan hubungan seksual dengan ber-sodomi ria!!!

Dalam bahasa perancis, untuk mendeskripsikan hubungan seksual ada 2 kata yang digunakan, faire l’amour (berhubungan seksual karena cinta/bercinta) dan baiser (berhubungan seksual dengan atau tanpa cinta). Umumnya mereka menulis perbuatan sodomi dengan menggunakan kata “baiser” yang berkonotasi lebih ke aktivitas hubungan seksual belaka yang dilakukan (kebanyakan) didasarkan oleh rasa ingin tahu dan mencari sensasi  dalam melakukan kegiatan seksual.

Masa-masa remaja dimana tingkat hormon meningkat dan sensasi kenikmatan mulai mengintip dari balik celana, rasa penasaran mulai melompat dan melonjak hingga mencapai ubun-ubun.  Berhubung keperawanan adalah mahkota yang (masih) harus ditenteng bersama dalam melakukan percintaan (faire l’amour), sedangkan ubun-ubun yang mulai “retak” terdorong oleh keinginan untuk menikmati sensasi kenikmatan seksual tidak mau menunggu malam pertama, maka pintu belakang pun dibuka “demi melindungi” tetesan darah dari gerbang utama...

Posted : Il m’a baisé hier soir et je suis encore vierge! (tadi malam dia meniduri saya dan saya tetap masih perawan)
Para pembaca...
Apakah gadis yang selaput daranya sudah terkoyak karena olahraga masih perawan?
Apakah gadis yang melakukan hubungan “pintu belakang” dan selaput daranya utuh, masih (disebut) perawan?


Penutup
Belum selesai membaca semua posting yang ada dalam forum itu, mata saya mulai berkunang-berkunang, kepala saya mulai cenat-cenut, sementara tenggorokan ini kering, setengah mati mencoba menelan dan menelaah situasi remaja di abad ke 21 ini. Rasanya, saya membutuhkan waktu sebentar untuk balik kembali menyepi di gunung setan (les Diablerets)...


Catatan kaki:
Dalam bahasa perancis, kata "enculé !" (terjemahan langsung: seks anal) merupakan kata makian yang paling kasar di Perancis. Pada abad ke 4, sejak kaisar Konstantinus berkonversi menjadi Kristen, perbuatan sodomi merupakan kejahatan besar dan pelaku tindak sodomi dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Beberapa waktu kemudian, perburuan pelaku tindak imoral dan para penyihir meningkat dengan drastis. Untuk menghukum mereka, para tersangka dijatuhkan dakwaan sebagai pelaku tindak sodomi dan dibakar hidup-hidup.
Lama-lama, penggunaan dakwaan tindakan sodomi disalah gunakan untuk menyingkirkan lawan ataupun orang-orang yang tidak disukai, sekalipun dengan posisi penting dan kedudukan kuat dengan adanya tuduhan melakukan sodomi, mereka tidak akan luput dari hukuman.
Pada saat itu, jika seseorang memaki dengan kata “enculer” maka  resiko yang dihadapi oleh orang yang dimaki dapat berakibat hukuman di bakar hidup-hidup. 


Images: Junita Arneld Photograpy