Ateisme. Apa dan Siapa


Catatan penulis: 
"Don't judge a book by its cover". Untuk menilai ateisme, janganlah melihat hanya dari ‘sampul’ belaka yang seringkali ‘bergambar’ arogan, sombong, atau mungkin kasar. Namun, ada baiknya membuka lembar halaman demi halaman, apa yang dapat dipaparkan langsung oleh para ateis tentang ateisme. 

Tulisan singkat bertemakan ateisme ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana ateisme itu. Apakah ateisme merupakan prinsip atau agama atau bentuk penyembahan, atau sesuatu yang imoral, atau merupakan suatu grup tertentu, hanya para ateis sendiri yang mampu menjelaskan secara obyektif tentang ateisme, dan bukan mereka yang non ateisme.


Oleh karena itu, tulisan ini merujuk langsung pada berbagai referensi artikel ateis yang ditulis secara ilmiah dan mengajak pembaca untuk mencoba mengenal ateis dari sudut pandang serta definisi yang diutarakan oleh para penulis ateis itu sendiri.


Tulisan ini TIDAK mengajak pembaca untuk menjadi ateis. Namun, adanya definisi yang “salah” mengenai ateisme, dapat menimbulkan kesalahpahaman baik pada diskusi maupun dalam bertindak dan berinteraksi secara sosial. Lebih jauh lagi, kesalahan definisi juga bisa menjurus pada kesalahpahaman nasional, yang berakibatkan jatuhnya beribu-ribu korban manusia secara masal, seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1965-1966.

Defini ateis dalam bahasa.

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: ate•is /atéis/ n orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan.
  • Asal muasal kata ateis dari bahasa Yunani adalah atheos. Kata “a” disini berartikan “tanpa” atau “tidak”. Sedangkan terjemahan langsung dari “theos” berarti sesuatu yang tinggal di langit, bersifat luar biasa dan sangat bercahaya, diintrepetasikan dan diterjemahkan sebagai ‘dewa’ atau ‘Tuhan’. Jadi, dari sudut pandang bahasa Yunani kuno, seorang ateis adalah seseorang yang tidak berdewa atau ber-Tuhan.

Atheos, Era klasik Yunani
Dalam sejarah Yunani, kata atheos mulai dikenal luas dalam karya tulis Plato (circa. 429-347 SM). Kata atheos dalam bahasa Yunani pada mulanya berarti: “tidak berkepercayaan terhadap theos” -sesuatu yang luar biasa, bercahaya dan tinggal di langit-, atau “terkutuk”. Kata ‘atheos’ juga digunakan untuk me-labelkan para kaum cendekiawan yang menyangkal keberadaan Tuhan, dewa atau segala bentuk-bentuk luar biasa bersinar yang tinggal di langit.

Philodemus, seorang filsafat Yunani (ca. 110–35 sm.) mengklasifikasikan orang ateis sbb:
  1. Mereka yang mengatakan bahwa tidak mengetahui apakah ada dewa atau seperti apa bentuknya.
  2. Mereka yang secara terbuka mengatakan bahwa Tuhan tidak ada.
  3. Mereka yang dengan jelas menyiratkan itu.

Dalam sejarah ateisme, ada 3 poin utama yang ditemukan dalam periode klasik Yunani.

  1. Ditemukannya teori ateisme yang juga merupakan salah satu kejadian penting dalam sejarah agama.
  2. Bangsa Yunani menciptakan istilah ‘atheos’, yang kemudian oleh bangsa Romawi istilah ini menjadi atheus, cikal bakal kata ateis dan ateisme.
  3. Ditemukannya kegunaan istilah ‘atheis’ sebagai sarana untuk me-label-kan lawan-lawan. Penemuan isme ateis membuka jalan baru bagi kebebasan intelektual, bersamaan juga terbukanya kemungkinan bagi banyak pihak untuk memberi label terhadap pihak oposisi mereka.

Pertanyaan tentang ateisme

  1. Apakah ateisme adalah agama?
    Menilik dari kacata agamawan, seringkali ateisme didefinisikan sebagai suatu bentuk kepercayaan. Suatu agama. Agama yang rasional dan penuh dengan optimisme. 
    Alister McGrath, seorang teolog Kristen dari Inggris menulis dalam bukunya yang berjudul "The Twilight of Atheism: The Rise and Fall of Disbelief in the Modern World":
    “Atheism is the religion of the autonomous and rational human being, who believes that reason is able to uncover and express the deepest truths of the universe, from the mechanics of the rising sun to the nature and final destiny of humanity” (2004: 220).
    Namun pendapat ini ditolak oleh para ateis. Mereka mengatakan bahwa McGrath berpikir bahwa ateisme merupakan kebalikan keyakinan dalam beragama. Akibatnya, McGrath merumuskan bahwa ateis juga memiliki elemen-elemen agama. Namun sebenarnya, para ateis TIDAK memiliki elemen agamawi. Mereka tidak pernah menyatakan penemuan mereka akan bagaimana kebenaran dari misteri kehidupan serta keberadaan akhir hidup manusia dan alam semesta. Kemungkinan, McGrath merujuk pada pola pandangan Marxism-Leninism dimana penolakan Tuhan merupakan salah satu bagian dari prinsipnya. 

    Karena ateisme tidak berpikir dalam konsep agamawi seperti para teis (orang yang percaya akan keberadaan Tuhan), maka dengan kata lain, posisi ateisme berada dalam posisi baku, jadi pihak teis yang seharusnya membuktikan kebenaran dari pemikiran teisme mereka.

  2. Apakah hubungan Ateisme dengan Teisme?
    Julian Baggini, seorang filsafat Inggris dan penulis buku “Atheism: A Very Short Introduction” mendefinisikan ateisme bertolak belakang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan teisme.

    Sedangkan Robin Le Poidevin, seorang professor metafisik dari Univeritas Leed, Inggris, dan penulis buku "Arguing for Atheism: An Introduction to the Philosophy of Religion" menyatakan:

  • Seorang ateis lebih merupakan seseorang yang menyangkal keberadaan dan pribadi sang maha pencipta alam semesta daripada seseorang yang hanya hidup secara sederhana tanpa merujuk pada keberadaan sang pencipta alam.
  • Sedangkan seorang teis adalah orang yang menegaskan keberadaan sang pencipta.
Jadi setiap diskusi yang berhubungan dengan ateisme pasti juga berhubungan dengan teisme atau monoteisme. Berbeda dengan pendapat Baggini, Le Poidevin menegaskan lebih jauh bahwa seorang ateis mempunyai pengetahuan tentang agama dan ia menyadari keateisannya secara tegas lugas.
Jadi, seseorang yang hidup sederhana tanpa pernah mengetahui atau pernah mengenal keberadaan agama (monoteisme) ataupun sang pencipta, tidak dapat dikatakan bahwa orang itu ateis.

Kata “A” dalam bahasa Yunani merupakan Alpha privans yang berarti menyangkal semua kata yang diletakkan sesudah huruf “A”. Jadi ateis berarti menyangkal segala sesuatu yang ditegaskan oleh teis. Mereka menyangkal bukan karena mereka tidak tahu, tetapi mereka tidak setuju dengan pernyataan teistik dari teisme. Dengan penyangkalan ini, maka ateisme tidak identik dengan para penganut teisme.


Karena setiap ateisme selalu menyangkut pada teisme maka pertanyaan yang besar adalah, Apakah teisme?
Teisme itu sendiri dapat dikatakan sama dengan –dalam definisi saat ini- monoteisme. Para teis adalah para penganut dari tiga agama besar monoteisme: Yudaisme, Kristen dan Islam.

Lebih dari sekedar hanya percaya pada satu Tuhan, seorang teis juga memiliki konsep akan apa itu Tuhan. Konsep yang menyatakan bahwa Tuhan itu baik. Bukan hanya sekedar baik, tetapi sangatlah baik. Dan kebaikan bukan hanya prinsip dari teistik tapi Tuhan menurut teisme adalah abadi, pencipta alam semesta, mahakuasa, luar biasa, maha tahu, suci, dan hidup.


Ateisme berkaitan dan mengenal konsep akan khalik, khaliknya teistik, yang mempunyai nama dan ditulis dengan huruf besar: Tuhan. Jadi seorang ateis memerhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan konsep : pencipta, penguasa, maha tahu, suci dan sempurna.


Paul Cliteur, seorang ahli hukum dan filsuf Belanda membatasi konsep ateisme sebagai penyangkalan dari pernyataan pihak teisme.
Ia memberikan contoh sebagai berikut:
Seorang teis menyatakan, Tuhan adalah kasih, sedangkan penyangkalan ateis bahwa “Tuhan itu adalah kasih” bukan karena ia menolak pentingnya arti kasih, tetapi seorang ateis merasa bahwa tidak layak mencampuradukkan emosi manusia dengan keberadaan dari Tuhan yang dianggap oleh para teis sebagai serba maha, berkepribadian dan secara sempurna sangat baik.




Tiga karakter dari ateisme
Untuk melihat lebih jauh ateisme, mari kita coba lihat karakter yang ada pada ateisme.

  1. Ateisme sebagai non teisme, bukan anti teisme
    Charles Bradlaugh (1833-1891), seorang aktivis politik dan juga salah satu ateis Inggris terkenal di abad ke 19 menyatakan bahwa para ateis TIDAK mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, namun mereka berpendapat bahwa mereka memiliki ketidakjelasan akan ide atau pengertian naluriah akan Tuhan.

    Bukan ‘Tuhan’ yang disangkal oleh ateis, karena bagi mereka figur Tuhan adalah satu hal yang tidak jelas atau tidak tegas dan tidak sempurna untuk didefinisikan. 
    Jadi secara sederhana, pernyataan teisme akan keberadaan Tuhanlah yang disangkal ateisme, sehingga ateisme dapat disamakan dengan non teisme dan BUKAN anti teisme. 

    Kata “sangkal” dan kata “anti” mempunyai perbedaan makna, dimana kata “sangkal” terjadi karena adanya alasan ketidaksetujuan secara rasional, sedangkan kata “anti” merupakan kata yang berlandaskan pada perasaan, rasa tidak senang dan tidak suka belaka.
  2. Ateis tidak perlu membuktikan pernyataan teisme 
    Seorang yang beragama percaya akan keberadaan Tuhan, sedangkan seorang ateis tidak mempunyai kepercayaan tersebut. Seorang ateis juga tidak memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
    George H. Smith, seorang ateis penulis "Atheism: The Case Against God" merumuskannya sebagai berikut:

"Ateisme, dalam bentuk dasarnya, bukan keyakinan namun merupakan ketiadaannya satu kepercayaan".
Menurut Smith, seorang ateis bukanlah orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada, melainkan, ia tidak percaya akan adanya Tuhan.
Karena ateisme merupakan doktrin yang mengandung peniadaan atau penyangkalan, maka seorang ateis tidak terpengaruh dengan bukti-bukti dari teisme.
Seorang ateis tidak harus memiliki keinginan untuk memecahkan teka-teki alam semesta. Dia tidak harus mengekspresikan kosa kata "kebenaran terdalam dari alam semesta" yang dianggap tidak masuk akal untuk seorang ateis.
Seorang ateis tidak perlu membela atau membuktikan suatu pernyataan, karena pernyataan ‘Tuhan itu ada’ dikeluarkan oleh pihak teis/beragama. Jadi, sudah sewajarnya jika hanya pihak teis yang harus membuktikan pernyataan tersebut. Dan pihak ateis akan menunggu argumen pihak teis dan menimbang apakan argumen tersebut meyakinkan dirinya atau tidak.

  1. Ateisme adalah suatu pilihan yang disadari dan telah dipikirkan dengan matang.
    Unsur ketiga dari posisi ateis adalah sikap psikologis dari ateis itu sendiri: ateisme dianggap sebagai pilihan yang intelektual dan eksplisit. Kita kembali ke dalam pernyataan Le Poidevin di atas: “seseorang yang hidup sederhana tanpa pengetahuan akan Tuhan tidak cukup untuk melabelkan seseorang sebagai ateis”. 

    Paul Cliteur mencontohkan pernyataan tersebut sebagai berikut:
    Misalnya seseorang bertanya kepada kita : 
    Apakah Tuhan? Saya tidak tahu apa artinya. Saya tidak pernah berpikir dalam tentang hal tersebut.

    Bermula dari pertanyaan diatas maka akan banyak yang berpendapat bahwa orang tersebut ateis, namun sesungguhnya TIDAK benar. Apa yang kurang dari orang tersebut adalah pengetahuan atau kesadaran intelektual, sehingga orang tersebut tidak pantas disebut ateis.

    Oleh karena itu, Holbach mengatakan bahwa anak-anak (yang tumbuh dalam lingkungan tidak beragama) tidak pantas juga disebut ateis, dikarenakan mereka belum memiliki kesadaran intelektual untuk memilih dan menilai suatu prinsip/doktrin.

    Satu hari, anak saya mengatakan bahwa teman sekelasnya mengaku sebagai ateis. Seorang anak mengaku ateis mungkin saja karena terbawa pengaruh atau besar dalam lingkungan ateis, namun secara kemampuan intelektual, seorang anak kecil belum memiliki pengetahuan agama yang mendetail dan pengertian rasional yang merupakan dasar utama seseorang menjadi ateis. Jadi, pengakuan seorang anak kecil sebagai ateis, tidak dapat dianggap layak dan tidak bisa diterima.
    Karena seorang ateis adalah orang yang SUDAH mempunyai pengetahuan akan agama, atau mungkin dibesarkan dalam lingkungan keluarga beragama, bahkan mungkin juga adalah orang yang (pernah) beragama, namun memutuskan untuk tidak menjadikan agama sebagai bagian dari dirinya.

    Mereka yang tidak berpengetahuan agama (monoteisme) atau mereka yang menganut politeisme ataupun aliran kepercayaan ataupun pagan, BUKANLAH ateis. Yang utama dalam menilai apakah orang tersebut ateis atau tidak adalah tingkat kesadaran serta pengetahuan intelektual agamawi mereka.

    Penting untuk diketahui dalam menilai ateis adalah mereka MENELAAH semua pilihan atau opsi yang ada, semua argumentasi tradisional akan keberadaan Tuhan.

    Seorang yang (memilih) menjadi ateis adalah seseorang yang MEMPUNYAI pengetahuan akan argumentasi tentang Tuhan, dan MENIMBANG dengan matang ketidakpercayaannya akan keberadaan Tuhan.

    Jadi dalam unsur ketiga ini, seorang ateis bukan seseorang yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan akan Tuhan. Mereka tahu dan menelaah ilmu agama (bahkan mungkin juga dibesarkan dalam keluarga yang beragama), namun mereka memutuskan untuk tidak menjadikan agama sebagai satu iman dalam akal mereka.

Konsep ateisme dan motive untuk ateisme.

  1. Tidak beriman dan beriman
    Banyak orang yang menolak memeluk satu agama dan mempercayai ke-Esaan dan kesempurnaan Tuhan karena hal ini berlawanan atau menciptakan konflik dengan nilai-nilai utama yang mereka yakini. Karena mereka dapat dikatakan sebagai “orang yang tidak berkepercayaan” dalam hubungannya dengan Tuhan, namun mereka dapat juga dikatakan “orang yang berkepercayaan” di dalam kebebasan berpikir dan bertindak, kesetaraan martabat manusia, dsb.

    Di dalam ateis kita menemukan kombinasi dari beriman dan tidak beriman. Mereka beriman, tapi bukan didalam Tuhan dan kadangkala dianggap tidak dapat didamaikan dengan Tuhan.

    Salah satu contohnya adalah pernyataan seorang politikus Amerika, Robert Ingersoll (1833-1899):

    I am an unbeliever, and I am a believer . . . I do not believe in the “Mosaic” account of creation, or in the flood, or the Tower of Babel, or that General Joshua turned back the sun or stopped the earth. I do not believe in the Jonah story . . . and I have my doubts about the broiled quails furnished in the wilderness. Neither do I believe that man is wholly depraved. I have not the least faith in the Eden, stake and apple story. Neither do I believe that God is an eternal jailer; that he is going to be the warden of an everlasting penitentiary in which the most of men are to be eternally tormented. I do not believe that any man can be justly punished or rewarded on account of his belief.

    But I do believe in the nobility of human nature; I believe in love and home, and kindness and humanity; I believe in good fellowship and cheerfulness, in making wife and children happy. I believe in good nature, in giving to others all the rights that you claim for yourself. I believe in free thought, in reason, observation and experience. I believe in self-reliance and in expressing your honest thoughts. I have hope for the whole human race. What will happen to one, will, I hope, happen to all, and that, I hope, will be good. Above all, I believe in Liberty (quoted in Williams: 67).
  2. Kebebasan dalam berkehidupan
    Filsafat Perancis abad ke 20, Jean-Paul Sartre (1905-1980), mengembangkan konsep ateistik eksistensialisme. Konsep yang didasarkan pada teori kebebasan manusia. Menurutnya: Jika kita mencoba untuk membayangkan suatu dunia yang diciptakan oleh pencipta ilahi supranatural, kita, sebagai manusia, tidaklah bebas. Kita hanya bisa memainkan peran yang sudah tertulis untuk kita. Konsekuensinya, hal ini menghancurkan kebebasan manusia secara keseluruhan.
  3. Ateisme atau non-teisme? 
    Dalam istilah populer, ateisme diasosiasikan dengan segala hal yang negatif, baik dari pola pikir maupun tingkah laku, terutama dari cara mereka «membela» pendapatnya. Mereka bereputasi sebagai orang yang arogan, berhaluan keras, penyebar, bersemangat tinggi dan juga tidak sopan atau kasar.

    Reputasi ateisme yang buruk ini membuat George Jacob Holyoake (1817-1906), seorang ahli sekuler Inggris, menciptakan sebutan ‘sekularisme’. Holyoake menciptakan kata ‘sekularisme’ karena adanya reputasi yang buruk pada kata ateisme. Dia mendefinisikan sekularisme atas keprihatinannya dengan masalah-masalah yang ada di dunia ini.

    Holyoake menyimpulkan sekularisme sebagai berikut:
    1. Secularism maintains the sufficiency of Secular reason for guidance in human duties.
    2. The adequacy of the Utilitarian rule which makes the good of others, the law of duty.
    3. That the duty nearest at hand and most reliable in results is the use of material means, tempered by human sympathy for the attainment of social improvement.
    4. The sinlessness of well-informed sincerity.
    5. That the sign and condition of such sincerity are – Freethought – expository speech – the practice of personal conviction within the limits of neither outraging nor harming others” .

Ateisme dikenal dengan image yang negatif dan setiap penulis yang berusaha menonjolkan ateismenya sebagai bagian dari gaya hidupnya terpaksa sering harus berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang tak terhingga.

Holyoake memberikan salah satu contoh tanya-jawab yang sering ia hadapi:

Tanya: Bukankah ateis terlalu arogan dengan bersikap seolah tahu bahwa Tuhan itu tidak ada?
Jawab: Ateis tidak menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, mereka hanya menegaskan bahwa alasan-alasan untuk mempercayai keberadaan Tuhan, tidaklah meyakinkan.

Tanya:Kenapa kita tidak diperbolehkan untuk beriman di dalam Tuhan?
Jawab:Ateis tidak menentang kebebasan berbicara atau kebebasan menentukan sikap hati nurani, mereka hanya mengklaim hak mereka untuk tidak setuju dengan seseorang yang menegaskan keberadaan Tuhan.

Tanya: Tapi, bukankah sikap ateisme sedikit arogan?
Jawab: Ateisme tidaklah lebih arogan daripada agnostisisme atau teisme. Arogansi/keangkuhan tidak berada dalam posisi ateisme melainkan berada dalam sikap orang-orang yang mempertahankan pendapat/dogmatic mereka dalam ketidakinginan mereka mendiskusikan pandangan mereka. Para ateis umumnya senang mendalami suatu diskusi.

Jenis ateisme.

Paul Cliteur membagi ateisme ke dalam tiga jenis:

  1. Private atheisme atau dikenal dengan ‘non teisme’: suatu pola pikir yang menolak pandangan teistik dan menyatakan bahwa keputusan mereka menjadi ateis dilakukan untuk maksud yang baik.
  2. Public atheism: para ateis yang berkeyakinan bahwa mereka patut berbagi prinsip dengan orang awam demi tercapainya masyarakat yang bersusila. Dalam jenis ini didapatkan unsur penyebaran dimana para ateis secara aktif berusaha merubah masyarakat sekitarnya.
  3. Political atheism: dimana satu negara berkeyakinan untuk memberantas segala agama hingga keakarnya, seperti yang terjadi pada Uni Sovyet dan Albania.

Menurut Paul Cliteur, untuk menjadikan ateisme sebagai posisi yang dapat dipertahankan, seharusnya ateisme masuk kedalam jenis ‘private atheism’ atau non-theism. Ateisme yang tepat selayaknya bersikap skeptis terhadap public atheism dan menghapus political atheism.
Namun, karena ateisme jenis pertama juga bisa berkonotasikan ateisme jenis kedua dan jenis ketiga, maka mungkin merupakan strategi yang mudah untuk berhenti menggunakan semua istilah jenis ateisme dan lebih merujuk pada penggunaan istilah ‘non teisme’.

Penutup:
Kesimpulannya, apakah ateisme suatu agama, atau suatu penyembahan, atau suatu grup, atau sesuatu yang imoral? Jawabannya adalah TIDAK, untuk semuanya.


Ateisme bukan satu agama karena mereka tidak memiliki pemikiran elemen agamawi.

Para ateis tidak menyembah kemampuan rasional mereka, karena kata ‘sembah’ bersifat sakral dan rutin. Sedangkan kemampuan rasional tidak mengandung nilai sakral dan tidak memiliki rutinitas.

Ateis bukanlah paham satu grup, karena ateis merupakan pilihan individualistik. Suatu pilihan yang dilakukan sendiri oleh diri sendiri, tanpa memiliki ikatan dalam struktur organisasi.

Ateisme bukanlah suatu pikiran yang imoral, karena mereka memiliki moral untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi dengan menghindari perbuatan jahat berdasarkan nilai-nilai manusiawi dalam kehidupan, bukan berdasarkan perintah agama ataupun rasa takut akan adanya neraka atau hukuman dari Tuhan.

Dan satu hal yang utama, kita tidak bisa dengan gampang memberi cap “ateis” pada seseorang hanya dikarenakan mereka tidak menganut agama monoteisme. Pada saat sekarang ini, walaupun kelihatannya banyak terdapat ateis di dunia ini namun sebenarnya sangatlah sedikit orang yang benar-benar mengaku secara lugas bahwa mereka ateis, karena kebanyakan yang terjadi adalah orang-orang yang di-BERI label atau di-CAP ateis oleh pihak oposisi. Hal ini terjadi tidak hanya dalam dunia politik, namun juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Seorang penganut aliran kepercayaan, ataupun politeisme, atau paganisme, bukanlah seorang ateis, karena mereka juga mengimani sesuatu yang lebih kuasa dari manusia dan bersifat luar biasa. Mereka mempunyai iman dan percaya pada sesuatu yang tidak dapat dirasakan oleh indra manusia. Jadi mereka tidak layak dicap sebagai ateis dan terlebih lagi, bukan berarti penganut paham komunisme. Oleh karena itu, peristiwa korban jiwa yang berjatuhan pada tahun 1965-1966 di Indonesia, lebih banyak  yang merupakan peristiwa pembunuhan/kejahatan masal daripada pembasmian paham komunisme.


Kepustakaan:

  • The Cambridge companion to atheism, edited by Michael Martin, Cambridge University Press, 2007.
  • Paul Cliteur, The Definition of Atheism, The Kripke Center, University of Leiden, the Netherlands, Journal of Religion and Society Volume 11, 2009.

Ini Budi!


Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi.
Nama “Budi” membawa angan saya melayang pada saat masih mengenakan seragam sekolah dasar. Saat “Budi dan Keluarga” menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Saat guru bahasa Indonesia berdiri di depan kelas dengan penggarisan panjang menunjuk tulisan kapur putih pada papan hitam, saat saya dan teman-teman sekelas melafalkan tulisan itu dengan keras dan lantang. “Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi”.

Budi dan keluarga menjadi bagian dari setiap anak-anak di Indonesia. Sekalipun pemeran dalam pelajaran membaca terdiri dari berbagai karakter pribadi (Budi, Amir, Wati, Bapak Budi dan Ibu Budi), namun pemeran utama dalam “teater” ini adalah Budi. Cerita kehidupan keluarga tersebut bertumpu pada kegiatan yang dilakukan Budi, apa yang dipikirkan Budi, bagaimana Budi menikmati hidupnya, bagaimana senangnya Budi bermain bola, dst. Semuanya bertumpu pada Budi dan Budi adalah sang selebritis pilihan .

Entah kenapa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) memilih nama Budi sebagai pemeran utama dalam pelajaran membaca. Kenapa bukan Amir yang menjadi pemeran? Atau kenapa bukan bapak Budi yang saya tidak ketahui namanya? Semuanya itu tidak pernah terpikirkan saat itu, saat saya masih bersekolah di SD.

Arti “Budi” itu sendiri bagi saya saat sekolah dasar adalah: tokoh dalam pelajaran membaca, nama teman sekelas yang duduk di barisan depan dan berada dalam urutan 10 murid terbaik, sebutan bagi seseorang yang bersikap baik hati dan tidak sombong.

Kata “Budi” pun saya pelajari sebagai kata yang menggambarkan sesuatu yang positif. Akal budi, hati budi, budi bicara, budi pekerti, budi daya, budi luhur, segala sesuatu yang berbau “Budi” menjadi contoh yang patut menjadi teladan bagi setiap anak-anak di Indonesia sejak mereka mengenal abjad dan tulis menulis.

Sejak setiap anak menjejakkan kakinya dalam dunia pendidikkan, maka mereka pun menjejakkan kakinya pada dunia BUDI. Mungkinkah pemerintah saat itu memilih “Budi” sebagai pemeran utama yang “membesarkan” setiap anak-anak yang ada di bumi Indonesia supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudi luhur, baik budi, berbudi bicara, berbudi pekerti dan berhati seperti “Budi”?

Tentu saja setiap bangsa di muka dunia ini menginginkan menjadi bangsa yang baik dan berbudi, setidaknya terlihat (seperti) bangsa baik dan berbudi. Begitu juga dengan bangsa yang lahir dan hidup di bumi pertiwi Indonesia, bangsa yang terkenal dengan keramah-tamahannya dan berbudi bicara, bangsa yang memperkenalkan kata “Budi” sejak dini kepada setiap manusia yang ada di Indonesia, jadi sudah sewajarnya jika bangsa Indonesia (bisa) menjadi bangsa yang berbudi.



Namun pertanyaan saya saat ini, di awal abad ke 21 ini, apakah bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa berbudi? Sudah tepatkah aplikasi «Budi» ke dalam setiap jiwa bangsa Indonesia?



Budiman dan Budiwati Indonesia abad ke 20 dan abad ke 21
Pada akhir abad ke 20, situasi di Indonesia secara kasat mata dapat dikatakan “berbudi dan dihidupi oleh para budiman dan budiwati”. Nama-nama koruptor yang tercuat pun hanya sedikit dibandingkan pada awal abad ke 21. Beberapa teman berpendapat secara kecut asam jawa bahwa memang pada awal abad ke 21, koruptor yang ada berjumlah buanyak gotong royong ramai-ramai membuat dunianya menjadi hijau loh jinawi.



Tapi sekalipun di akhir abad ke 20 hanya sedikit jumlah koruptor yang ngetop, namun dengan otoritas pemerintahan kleptocratic selama 32 tahun, bukan berarti kerugian negara dan kesusahan penduduk lebih sedikit dibandingkan awal abad ke 21.

Lalu benarkah di awal abad ke 21 ini, Indonesia (hanya) dipenuhi dengan orang-orang yang tidak berbudi?
Tentu saja Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh mereka. Di pelosok pedalaman, desa, kampung, tempat dimana alam masih menjadi guru dan teknologi masih gagap pakai, saya masih banyak menemui orang-orang yang berbudi. Orang-orang yang berbudi pekerti dan membudidayakan alam serta lingkungan sekitarnya dengan baik dan efektif. Orang-orang yang masih berhati perut, mempunyai hati budi yang turut memikirkan perut sekitarnya. Tapi mengapa mereka yang mencoba mengaplikasikan nilai "Budi" malah masuk dalam kategori penduduk kelas 3 atau kelas akhir atau bahkan korban dari penduduk kelas 1?

Lalu, salahkah menjadi penduduk kelas 1 atau penduduk kelas 2? Salahkah tinggal di kota? Salahkah mengenal modernitas dan teknologi? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu siapakah yang patut disalahkan? Salah "Budi" kah?
Jawaban dari pertanyaan ini saya jawab dengan pertanyaan lagi: kenapa harus mencari siapa yang harus dipersalahkan? Berkaca adalah tindakan yang tepat, mencoba mencari "Budi" dalam diri sendiri, dalam identitas diri.

Pertanyaan yang utama adalah kepada siapakah kita mengidentitaskan diri kita? Jawaban yang saya tawarkan adalah berkaca kepada himpunan Budi. Kepada "Budi" yang merupakan satu himpunan yang terdiri dari berbagai elemen baik POSITIF maupun NEGATIF.





Definisi Budi

Ahhh… jadi sesungguhnya apa arti Budi? Benarkah "Budi" juga mengandung elemen bernilai NEGATIF? Ada baiknya kita mencoba untuk mengenal dan mempelajari arti "Budi" jauh lebih dalam lagi. Arti "Budi" sebagai kesatuan dan satuan-satuan yang membentuk "Budi" menjadi satu keutuhan.


Nama "Budi" sejatinya berasal dari bahasa Sansekerta, “buddhi” yang berarti kebijaksanaan, pemahaman, atau kecerdasan. Di dalam Kamus Sansekerta-Inggris, buddhi didefinisikan sebagai "kekuatan untuk membentuk dan mempertahankan konsep-konsep dan gagasan umum, kecerdasan, akal, intelek, pikiran, penegasan, penghakiman " (Monier-Williams 1956:733).

Budi (“buddhi”) dalam bahasa Sansekerta adalah kata benda femina (kata benda maskulin: buddha) yang berhubungan dengan kebijaksanaan dan kecerdasan. Mempunyai kemampuan dalam berpikir serta mempunyai sifat diskriminatif, yang mampu membedakan kebenaran dari kebohongan sehingga dapat bersikap/bertindak bijaksana.

Dalam mitologi Hindu, Buddhi adalah nama dari istri Ganesha, dimana Ganesha juga dikenal dengan nama Buddhipriya yang berarti suami buddhi. Selain itu defini ini juga bisa berarti suka kecerdasan (Buddhi= cerdas; Priya= suka).

Buddhi juga merupakan salah satu filsafat India yang berisikan seperangkat alat-alat pengetahuan, kearifan dan keputusan. Suatu pengetahuan yang membuat seseorang menjadi kuat sehingga mampu membentuk, memutuskan serta mempertahankan suatu konsep, gagasan, akal, pikiran. Sesuatu yang mendefinisikan seseorang yang mempunyai kepandaian, dan dengan kemampuan diskriminatifnya membuat ia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, sehingga mampu memutuskan sesuatu secara bijaksana. Buddhi adalah sesuatu yang ideal bagi setiap insan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi dari “Budi” adalah sebagai berikut:

  • Alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk: pendidikan untuk memperkembangkan badan dan -- manusia.
  • Tabiat; akhlak; watak: orang yg baik -- .
  • Perbuatan baik; kebaikan: ada ubi ada talas, ada -- ada balas .
  • Daya upaya; ikhtiar: mencari -- untuk mengalahkan lawan.
  • Bahasa tingkah laku dan tutur kata; tingkah laku dan kesopanan; -- bicara ;akal budi; -- pekerti; tingkah laku; perangai; akhlak.
  • akal (dl arti kecerdikan menipu atau tipu daya): bermain --.
  • ber•bu•di: 1 v mempunyai budi; 2 v mempunyai kebijaksanaan; berakal; 3 v berkelakuan baik; 4 a murah hati; baik hati.
  • mem•per•bu•di•kan: v memperdayakan; menipu.
  • se•bu•di, (dng) - akal (dng) segala usaha.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta, 1991.
  • Lim Kim-Hui, “Budi as the Malay Mind”, IIAS Newsletter no 31, International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden, 2003.
Jadi arti “Budi” dalam bahasa Indonesia merupakan satu himpunan dari segala tabiat, akhlak, watak, perbuatan baik, tingkah laku dan tutur kata, kesopanan perangai, daya upaya, ikhtiar, kecerdikan daya upaya menipu atau tipu daya, yang semuanya ini dianggap sebagai satu kesatuan.


“Budi” dalam KBBI ternyata mempunyai konotasi negatif yang terselimuti sebaran konotasi positif. “Budi” dalam bahasa Indonesia tidak hanya sekedar berarti baik, luhur dan bijaksana, namun “Budi” juga berakal yang bisa digunakan untuk melakukan tipu daya, seperti kata “bermain budi”, “memperbudikan” .

Jadi, benarkah bangsa Indonesia yang mengenal kata “Budi” sejak sekolah dasar menjadi bangsa budiman dan budiwati yang akhirnya mengaplikasikan semua komponen positif dan negatif secara bersamaan? Baik hati dan ramah tamah namun juga munafik dan penipu, bagaikan serigala berbulu domba?

Bagi saya pribadi, “Budi” adalah kata yang tepat dan jujur untuk menggambarkan seorang manusia yang utuh. Setiap manusia mempunyai sifat positif dan negatif. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi baik dan juga mampu menjadi munafik, mampu menjadi pembela keadilan dan mampu menjadi pemberantas keadilan. Kunci utama yang terletak dalam kata “Budi” adalah pengaplikasian posisi serta fungsi dan kombinasi nilai elemen-elemen “Budi” yang terkandung di dalamnya.

Mengutip tulisan Lim Kim-Hui dalam tulisannya yang berjudul “Budi as the Malay Mind” dikatakan, “arti Budi sebenarnya jika dilihat melalui rasionalitas mungkin menuduh “Budi” bermuka dua, munafik, curang, atau tidak tulus dalam mengatakan kebenaran. Tapi klaim ini berlaku di satu sisi, karena dalam arti lain kita mungkin perlu melakukan pemeriksaan lebih pada filosofis dan argumentasi. Misalnya, pada saat terjadi konflik yang memanas, dialektik keteladanan yang kuat (mungkin) bisa merugikan (yaitu, tuntutan kehidupan), dan karena itu orang harus 'berbohong' dalam rangka menjaga keharmonisan. Tapi 'kebohongan' ini harus diuraikan saat konflik sudah mendingin. Inilah semangat sejati dari ‘Budi dan elemennya”.

“Budi” dan elemen-elemennya bekerja sama untuk mewujudkan satu tujuan yang menghasilkan enlightenment (pencerahan/penerangan). Elemen-elemen bernilai positif berada pada posisi dari dalam hingga ke posisi paling depan, dan berfungsi untuk menciptakan ide/gagasan, melakukan dan mewujudkan gagasan sehingga mencapai tujuan dari ”Budi” (kebijaksanaan).

Sedangkan elemen bernilai negatif berada pada posisi dimana ia berfungsi sebagai pendukung dan pertahanan elemen-elemen bernilai positif. Nilai-nilai negatif bekerja dan berfungsi untuk mendukung serta mempertahankan gagasan, ide ataupun tindakan yang diciptakan oleh nilai-nilai positif sehingga kesatuan dari kerjasama nilai positif dengan dukungan nilai negatif menjadi satu pencerahan (enlightenment) yang berakhir pada satu tindakan kebijaksanaan yang bijaksana.

Sejak sekolah dasar, manusia di Indonesia diajarkan dan dikenalkan pada definisi “Budi” yang HANYA bernilai positif. Sedangkan nilai berkonotasi negatif tersembunyi dalam-dalam tanpa diperkenalkan secara luas. Akibatnya, pengaplikasian “Budi” dalam kehidupan hanya berfungsi setengah bagian. Pengaplikasian yang setengah dikarenakan pengetahuan dan pengertian yang ada hanya diberikan sebagian saja, membuat tujuan dari “Budi” (kebijaksanaan) menjadi gagal.

Salah satu contoh pengaplikasian “Budi” yang hanya mengutamakan nilai-nilai positif misalnya adalah pengaplikasian nilai rendah hati sebagai salah satu elemen “Budi”. Pengaplikasian nilai "rendah hati" yang berlebihan untuk mencapai satu keharmonian malah berakhir menjadi "rendah diri". Dimana rasa rendah diri mengakibatkan perubahan peranan manusia menjadi korban sesama manusia, menjadi pihak yang dimangsa.
Adapun masalah yang lebih parah lagi dalam pengaplikasian “Budi” bukan saja karena pengaplikasian “Budi” yang tidak sempurna/setengah, tapi juga PEMBALIKAN dari posisi dan cara kerja fungsi elemen-elemen yang ada pada ”Budi”.

Cara bekerja yang seharusnya bagi “Budi” dan elemen-elemennya adalah pengaplikasian nilai-nilai positif untuk menciptakan dan mewujudkan gagasan dengan dukungan nilai negatif untuk mencapai hasil positif secara keseluruhan yaitu kebijaksanaan.

Salah satu contoh yang paling mudah kita temui adalah cerita rakyat "Kancil & Buaya". Kancil adalah salah satu contoh perwujudan dimana Kancil digambarkan bersikap dan bertidak dengan nilai positif. Untuk mempertahankan konsep dan gagasannya yang positif, ia mengaplikasikan nilai negatif dengan melakukan penipuan. Penipuan disini merupakan hasil bernilai negatif yang berasal dari pengaplikasian nilai positif (ikhtiar dan kecerdikan daya upaya menipu). Hasil akhir dari nilai negatif ini digunakan untuk mendukung aplikasi keseluruhan elemen-elemen bernilai positif yang berakhir pada kebijasanaan (buddhi).

Namun kenyataan yang terjadi saat ini adalah pembalikan fungsi dan posisi “Budi” dan elemennya, dimana elemen-elemen bernilai negatif di jadikan dasar untuk menciptakan suatu gagasan dan mengambil alih nilai positif untuk mencapai hasil negatif secara keseluruhan yaitu keegoisan. Pengaplikasian elemen-elemen “Budi” yaitu pintar (positif) dan penuh akal (positif) dalam “bermain budi” (negatif) untuk memenuhi kepuasan egonya (negatif).

Salah satu contohnya adalah seseorang yang mengetahui dengan jelas dan pasti akan adanya nilai “hutang budi” yang berlaku dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dengan gagasan/ide suatu penipuan yang didasari oleh keegoisan (negatif), seseorang menggunakan akal pikiran (positif) dengan memanipulasi (negatif) prinsip “balas budi” (positif), memanipulasi sifat “budi luhur” (positif) untuk mewujudkan aplikasi keseluruhan dari elemen-elemen bernilai negatif (keegoisan) yang berakhir pada keangkaraan (ahamkara) .



Lalu sekarang, mau dibawa kemana bangsa ini? Bangsa yang mengaplikasikan “Budi” dan elemennya dengan utuh dan benar atau bangsa yang mengaplikasikan “Budi” dan elemen-elemennya dengan terbalik?
Saya sendiripun belum bisa menjadi budiwati yang sempurna dengan segala sifat baik dan sifat buruk. Satu hal yang saya coba aplikasikan dalam kehidupan yang tersisa adalah kembali belajar tentang “Budi”. Kembali belajar, “ini Budi! Ini elemen-elemen Budi. Ini identitas Budi!”. Kembali kepada “Budi”, memahami “Budi” dan berkaca kepada identitas “Budi” yang seharusnya.

Lalu, berusaha mengajari anak saya akan identitas “Budi”, mencoba membuat anak beridentitas “Budi” dengan sebenarnya. Semoga saja dengan mengenalkan dan mengajarkan “Budi” dengan lengkap dan benar, saya masih mampu menyelamatkan dunia masa depan anak bersama buddhi (bijaksana) yang utuh.



Ini cicak tetangga BUDI, ini buaya kenalan BUDI, ini Century bermain BUDI, ini KPK musuh Budi, ini Gayus mem-per-BUDI- daya-kan ...


Arita - CH

Kepustakaan:
 Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 24 Mei 2010 (Klik)

La Blonde Attitude

Dimuat di KoKi (Kolom Kita), Senin, 22 Maret 2010 (klik disini)

The blonde girls -wanita berambut pirang- sering diidentikkan dengan seks dan seks serta seks. Begitu kuatnya image blonde girls yang dinilai berkisar tak jauh dari urusan dada ke bawah menciptakan blonde phobia diantara sesama wanita, terutama mereka yang sudah berpasangan.

Banyak cerita, baik kisah nyata maupun bualan ataupun gosip, berisikan kehebatan para blonde girls menggoda lelaki berpaling dari pasangannya, yang tentu saja membuat posisi kaum wanita berambut pirang tersudut ke belakang ruang. Ketakutan akan wanita berambut pirang begitu luas seolah - olah wanita berambut pirang sama dengan penyakit akut berbahaya biang keladi dari segala perselingkuhan dan perceraian.

Namun, mereka para blonde girls tidak mau begitu saja dijadikan sasaran empuk masyarakat. Para wanita berambut pirang membela diri dengan keras kalau mereka tidak hanya memikirkan tentang ataupun bergelut di sekitar dunia seks belaka, namun toch... sama sekali bukan salah mereka kalau mereka terlihat seksi dengan kepirangan rambut mereka.

Sekalipun banyak blonde girls yang bertingkah seronok dengan keseksiannya serta menjadi penggoda yang andal, namun BUKAN berarti semua wanita pirang adalah penggoda nomor satu bagi kaum adam dan musuh nomor satu bagi kaum hawa.

Mereka mengatakan dalam pembelaan mereka bahwa kesuksesan wanita menggoda lelaki hingga berpaling dari pasangannya bukan karena wanita itu berambut pirang, namun karena wanita tersebut mempunyai “Blonde’s Attitude”!

Wanita yang bangga memamerkan kesuksesan yang didapat setelah tidur dengan seseorang (bukan seseorang yang tidur dengan siapa saja namun tidak pernah sukses) menurut mereka adalah wanita yang mempunyai blonde’s attitude.

Blonde’s attitude bukanlah milik blonde girls semata-mata, namun setiap wanita berambut apapun bisa mempunyai blonde’s attitude. Wanita pirang, sekalipun sintal dan cantik belum tentu mempunyai blonde’s attitude, salah satu contoh dari wanita pirang terkenal tokoh kelas atas, tak lain dan tak bukan adalah Hillary Clinton. Seorang wanita pirang yang tidak dapat disangkal lagi kepandaian dan kesuksesan otaknya, melebihi kesintalan dadanya. Namun dia terpaksa harus menerima kenyataan suaminya terjatuh terkaing-kaing dalam pelukan seorang brunette. Seorang brunette yang mempunyai blond’s attitude!

Anne Roumanoff seorang humorist Parisien Perancis mengupas la blonde attitude (blonde’s attitude) dengan gayanya yang khas mengundang tawa baik segar maupun kecut. Menurutnya, seorang wanita yang mempunyai blonde’s attitude tidak harus selalu blonde, namun yang pasti wanita itu memenuhi 6 syarat utama:
  1. Berdiri dengan tegak membusungkan dada, percaya diri kalau setiap jengkal bagian tubuhnya merupakan senjata ampuh untuk menaklukan kaum pria. Jangan lupa ukuran 36B bulat sintal optimal lebih berdaya guna dan efektif daripada merubah ukuran menjadi 38E melebar.
     
  2. Saat berbicara dengan pria, wanita dengan blonde’s attitude wajib membelalakkan mata memandang terpesona tanpa lupa membuka bibir sedikit melebar. Menganga dengan sikap yang seksi sambil tak lupa sesekali mengeluarkan desahan “ ah... ah... ah...” manja di sela-sela pembicaraan serta sabar menjadi pendengar setia. Jangan lupa juga untuk mengangguk-angguk tanda setuju serta menyela dengan desahan-desahan mengundang “ ah... oh... ah...” , sekalipun tidak memahami satu kata pun.
     
  3. Seorang wanita yang mempunyai blond’s attitude harus bersikap sebodoh mungkin. Jangan lupa, untuk mempunyai blonde’s attitude yang sempurna dibutuhkan kecerdasan tinggi untuk membodohi lelaki dengan bersikap sebodoh mungkin! Mempunyai dada penuh bulat bukan berarti mempunyai otak berkapasitas kosong melompong.
     
  4. Memiliki/mengganti nama yang bernuasa eksotis dan bisa menawarkan mimpi bagi para pria. Misalnya nama berakhiran “A” seperti Pamela, Loana, Madonna atau nama yang memberikan rasa “On” seperti Camerron.
     
  5. Saat berdansa, seorang wanita yang memiliki blonde’s attitude harus mampu berbicara dengan bahasa tubuh semaksimal mungkin tanpa menimbulkan kesan murahan. Maksimalkan gerakan di bagian dada dan panggul dengan gerakan melingkar sempurna percaya diri tanpa perlu menggoyangkan kepala berlebihan, dan sekali lagi jangan lupa, bersikaplah tanpa dosa dan tampakkan wajah bodoh dengan elegan.
     
  6. Saat kaum pria melontarkan lelucon basi bertemakan blonde girls, wanita yang mempunyai blonde’s attitude harus mampu tertawa manja terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata sambil berkata, “ha ha ha... untung maskara saya waterproof, ha ha ha...”



Jadi, satu pesan untuk kaum wanita. Janganlah berprasangka buruk pada blonde girls, namun berhati-hatilah dengan wanita berambut warna apapun yang memiliki blonde’s attitude.


Waspadalah...
 

Arita-CH
Une brunette qui n’a pas la blonde attitude (juré!).

Pameran Otomotif Jenewa 2010: Hijau Loh Jinawi


Dimuat di "KoKi, Kolom Kita", Selasa, 9 Maret 2010.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1399/pameran_otomotif_jenewa_2010_hijau_loh_jinawi

Di protes, di kecam dan disindir di “kandangnya” sendiri, pameran otomatif yang ke 80 tetap “bertengker” pada tanggal 4 hingga 14 maret di gedung pameran Palexpo Jenewa Swiss. Sebuah program dari saluran televisi Swiss Romand mengecam ajang pameran otomotif sebagai tempat jor-joran yang penuh dengan “polusi”. Salah seorang pembicara, dengan gamblang mengatakan alasannya berkunjung ke pameran tersebut (hanya) untuk melihat yang “bening-bening” (baca: perempuan).

Masalah polusi menjadi topik yang utama dan bisa dikatakan sepeda merupakan pilihan “tepat” sebagai kendaraan masa depan bebas polusi. Mencoba menggempur kesan “hitam” maka pameran otomotif Jenewa 2010 yang bertajukkan “Divine Surprise” maju dengan pasukan hijau. Dengan konsep ramah lingkungan, kendaraan bermotor dengan tenaga listrik, mobil Hybrid bervolume kecil dan urban style,bertebaran di berbagai stand. Dari Tata hingga Ferarri, mobil-mobil hijau ini tidak hanya menawarkan konsep “hijau” namun juga dengan berani bersolek dengan warna hijau kontras.



Namun, apakah konsep hijau ramah lingkungan yang ditawarkan industri mobil saat ini berhasil menghijau di masyarakat? 

Dari seluruh peserta pameran, hanya 10% peserta memamerkan mobil hijau.
Dari polling yang ada di website http://www.salon-auto.ch, 52.5% pendapat mengatakan bahwa industri otomotif TIDAK memberikan perhatian cukup terhadap lingkungan.

Dari pendapat saya sendiri, mobil-mobil yang bertebaran memang meng-hijaukan mata saya (baca: mahal).

Go green, save the planet, save your pocket!
Arita - CH



EDAG Light Car


Lumeneo Smera 
Mitsubitshi MIEV  
Renault ZOE ZE Concept 
Renault Twizy Z.E. Concept  
Rinspeed UC 
Toyota FT-EV II4  
Mercedes F800 Style hybrid 
Mercedes F800 Style hybrid 
Ferrari HY-KERS vettura laboratorio hybrid  
Ferrari HY-KERS vettura laboratorio hybrid 
Giugiaro Design EMAS3 hybrid  
HONDA CR-Z hybrid  
LEXUS RX 450 hybrid    






Pameran otomotif Jenewa 2010: Desain & Konsep

Dimuat di "KoKi, Kolom Kita", Senin, 8 Maret 2010.
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1402/pameran_otomotif_jenewa_2010_desain__konsep


Duluuuu sekali, saya paling suka buka majalah otomotif untuk melihat desain mobil terbaru. Sekalipun bukan pengamat mobil yang setia dan bukan ahli dalam bidang otomotif, menurut saya, ciri khas suatu mobil terlihat dari bentuk dan desainnya. Saya paling suka model mobil alla Batman dari Mercedez Benz
jadul, Jaguar yang berkesan sangat maskulin dan terutama Volkswagen Beetle yang imut-imut (jadi ingat masa kecil, tugas rutin dorong VW putih sekeluarga, ha ha ha...). Saat itu, rasanya dari jauh kita dapat dengan mudah mengenali jenis dan merk mobil tertentu.


Namun, sejak memasuki abad ke 21, saya jadi malas mengikuti perkembangan desain mobil. Semuanya dapat dikatakan mirip, hampir sama, looks alike. Dari jauh saya tidak mampu membedakan, apakah mobil tersebut Toyota, atau BMW atau Mercedes atau Hyundai? Krisis ekonomi global serta selera yang ikutan mengglobal, menyamarkan ciri khas jenis mobil. Masing-masing pabrik mobil bersaing membuat model terbaru yang kurang lebih mirip satu dengan lainnya. Bentuk dan desain yang hampir identik, membuat saya merasa hidup di dunia yang monochrome.


Sudah hampir 10 tahun PM suamiku ngarit di Pameran Otomotif Jenewa. Selama itu juga saya tidak pernah merasakan getaran penasaran tentang situasi dan kondisi dalam pameran otomotif akbar tersebut. Tapi pada tahun 2010 ini, PM berhasil membujukku untuk menikmati sesuatu yang menyegarkan mata. Sekalipun saya samasekali bukan seorang pembeli mobil yang setia, tapi desain dan konsep suatu mobil merupakan hal yang bisa membuat mata saya berbinar ria menikmati keindahan dunia polychrome.


Dear Kokiers, maafkan saya karena tidak bisa mengupas satu persatu jenis mobil yang ada di Palexpo Geneva. Selain bukan seorang ahli, saya juga sudah keblenger melihat berbagai macam jenis mobil. Bagaimana kalau kita nikmati saja bersama-sama keindahan polychrome dunia pemobilan, setuju?


Save my feet, please!


Arita - CH

Alfa Romeo Bertone Pandion Concept, Italy.

Aston Martin Cygnet, UK.


Aston Martin Rapide, UK.



 

Aston Martin Tailored, UK.

Audi R8 5.2 quattro, Germany.

Bentley GTC série 51, UK.

Mercedes SLS AMG, Germany.

Bugatti Veyron Grand Sport Grey Carbon, France.

Bugatti Veyron Royal Dark Blue, France.
Corvette, US.

Mercedes by FAB Design, Switzerland.

Gumpert Apollo, Germany.

Gumpert Apollo, Germany.

Hispano-Suiza Granturismo, Spain.

Koenigsegg CCXR, Sweden. At $.2 Million!

Lamborghini Superleggera, Italy.



LEXUS LFA, Japan. A new breed of LEXUS.


Pagani Zonda Cinque Roadster, Italy.


Pagani Zonda Tricolore, Italy.



Rolls-Royce Ghost by Mansory, UK.



Vredestein, Dutch.



Zagato Perana Z-One, Italia.