Tuhan, ijinkan saya ber-Tuhan...

11.10.2006.
Dear Zev dan para pembaca, apa kabar ?
Selamat berakhir pekan ya, untuk Zev khususnya, nikmatilah senikmat-nikmatnya…

Zev beberapa tahun yang silam, saya pergi ke sebuah kampung kecil yang sangat terpencil dan sulit akses masuknya, kampung ini terletak di sebuah pulau besar di bumi pertiwi tercinta. Saat itu saya sedang dalam rangka penelitian budaya tidak resmi alias tidak punya sponsor dari institusi manapun karena lebih merupakan “cicilan hutang” saya terhadap kebesaran bangsa yang sedang terorak-arik dalam penggorengan kemelut ekonomi, politik, korupsi, kolusi, dsb,dst, bla bla bla.

Dengan sedikit modal rupiah dan modal dengkul serta pinggang -maksudnya jalan kaki entah berapa kilometer sambil memanggul ransel penuh dengan perlengkapan “tempur” yang sudah kehabisan sebelum pulang- saya menapaki jalur lintas suku asing yang hidupnya bergantung dengan alam semata.

Suatu malam dengan ditemani bulan dan bintang, saya mengobrol dengan seorang bapak tua bernama SY, yang tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir, hanya pohon Durian yang menjadi saksi mata hari kelahirannya. Ia menceritakan kisah kehidupannya dengan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti daripada saya yang mencoba berbahasa daerah tapi menclo-menclo, tergagap, seperti orang tersedak buah kedondong.
Suatu hari, pak SY “merantau” ke sebuah Desa yang berjarak 3 hari berperahu. Saat ia tiba, banyak orang sedang berkerumun di depan sebuah rumah, ingin tahu apa yang terjadi, ia pun mendatangi kerumunan tersebut.
Ada apa ramai-ramai? Ada perayaan panen?” tanyanya.
Bukan Pak, sekarang lagi pendaftaran untuk pembikinan KTP”, jawab lelaki di sebelahnya.
KTP itu apa?” tanyanya lagi
KTP itu Kartu Tanda Penduduk
Bagaimana caranya untuk buat KTP?” ia semakin penasaran ingin tahu
Ya gampang, tinggal di isi nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, agama, terus di potret dan tanda tangan”.
Ia termangu bingung, tidak mengerti maksud dari semuanya itu. Akhirnya ia meninggalkan kerumunan tersebut, tetapi bapak yang menjelaskan arti dari KTP memanggilnya kembali.
Pak, pak, mau juga bikin KTP?”.
Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak mengerti. Karena saya tidak tahu tanggal lahir saya” jawabnya polos.
Ah gampang pak, di kira-kira saja, mungkin sekarang bapak berumur 30 tahun?”
Ia menatap si bapak pasrah, “ya saya tidak tahu berapa tahun umur saya, sudahlah tidak apa-apa, saya tidak bikin KTP”.
Si bapak tidak mau berhenti membujuk, “dikira-kira saja pak umurnya. Bapak agamanya apa? Agama A, atau agama B
Lalu ia menjawab “agama saya ya agama X”.
Si bapak mengerutkan keningnya “wah pak, agama X tidak ada didalam daftar, pilih saja pak yang didalam daftar, ada agama A, B, C atau D. “
Ia menggelengkan kepalanya, “ Tidak bisa, agama saya ya X, agama X itu agama helu, agama dulu, dari jaman nenek moyang kami turun ke bumi. Saya bisa dikutuk tidak bisa pulang ke kampung nenek moyang saat saya mati nanti”.
Tapi pak, yang namanya agama ya cuma A,B,C,D itu saja. Untuk syarat KTP, bapak harus mencantumkan salah satu agama dari A,B,C,D itu.” si bapak berkeras menjelaskan.
Ia kembali menggelengkan kepalanya “Kalau tidak ada agama X di dalam daftar, ya sudah saya tidak bikin KTP”.jawabnya keras.
Si Bapak lalu mendekati dan berkata “Pak, kalau bapak tidak memilih salah satu, berarti bapak tidak beragama. Kalau bapak tidak ada agama, itu berbahaya pak
Ia pun menjadi marah campur bingung, “bahaya bagaimana? Memangnya saya merupakan ancaman?”
Si Bapak berbisik “Kalau tidak ada agama, bapak bisa dibilang komunis, hati-hati pak. Nanti bapak bisa ditangkap, dan plong, masuk penjara.”
Ia pun terkaget-kaget “masuk penjara? saya salah apa? komunis itu apa?”

Sayapun ikut-ikutan kaget mendengar cerita bapak SY yang terjadi sekitar awal tahun 70 an. Lalu sayapun bertanya ke pak SY apakah ia akhirnya mempunyai KTP. Pak SY tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
ah tidak, untuk apa? Tetapi anak-anak saya punya KTP semua” jawabnya bangga.
Lalu bagaimana dengan agamanya? Sekarang kan agama X sudah di akui dan mempunyai bagian dalam undang-undang. Pak SY mengangguk-anggukan kepalanya
ya betul, tetapi anak-anak saya mendaftar dengan agama A, biar mudah urusan administrasinya, walaupun aslinya sih masih tetap agama X”.
Saya jadi garuk-garuk kepala.
Melihat saya garuk-garuk kepala kebingungan, pak SY menjelaskan bahwa yang terutama bagi ia dan keluarganya adalah berTuhan. Menyembah ke sang Pencipta Maha Agung, Maha Besar. Menghormati ciptaanNya dan berbuat sesuai dengan ajaranNya, menghindari laranganNya dan menjalani aturanNya, menempatkan IA di atas segalanya maka segalanya akan dimudahkan untuk kembali berpulang ke tempatNya, kampung nenek moyang, karena hidup di dunia hanyalah kampung yang dipinjamkan sementara.
Kalimat pak SY masih tetap tertanam di hati saya. Di negara Indonesia yang mempunyai kekayaan dengan aneka agama sangat sedikit orang yang mempunyai Tuhan. Orang-orang berlomba-lomba menyandang agama, seolah-olah agama merupakan prestis untuk kepentingan pribadi. Para koruptor kelas wahid, menggantungkan agamanya di depan kamera televisi. Para politikus menggunakan agama untuk mendapatkan kemenangan dalam berkarir yang walaupun nantinya dalam proses selanjutnya mereka sama sekali tidak ber-Tuhan. Begitu banyak orang-orang yang “mengtuhankan” ajaran dan melupakan Tuhan yang sejati.
Tuhan yang seharusnya ditempatkan ditengah-tengah, lalu semuanya mengarah hanya ke Tuhan, menjadi terbalik, segalanya harus ditengah-tengah, lalu Tuhan di belakang menjadi tameng kebobrokan.

Ada salah satu puisi Frithjof Schuon, seorang teolog Sufi, dari Basel, Swiss yang sangat saya suka,

Les hommes semblent être en fuite
Qu’est-ce qui les inquiète, qu’est-ce qui les fait fuir?
Ils ne fuient pas seulement l’inconnu qui menace,
Ils se fuient eux-mêmes, ils fuient leurs misères
Leur simple existence. Homme, écoute
Tu es au bord de l’Être, où vas-tu?
Arrête-toi!
……..Dieu est le Centre et le Repos.


Orang-orang kelihatannya melarikan diri
Apa yang membuat mereka khawatir, apa yang membuat mereka melarikan diri?
Mereka tidak hanya melarikan diri dari ancaman asing yang tidak diketahui,
Mereka melarikan diri dari diri mereka sendiri, mereka melarikan diri dari kesengsaraan mereka
keberadaan mereka yang sederhana. Hai manusia, dengar.
Kalian berada diujung keberadaan, mau pergi kemana lagi?
Berhenti!
Tuhan adalah yang utama dan peristirahatan.

Sudahkah saya ber-Tuhan?
Dengan menatap keAgungannya, saya bersimpuh agar saya diijinkan untuk berTuhan dan selalu ber-Tuhan, Amin.


Arita - CH

Nasi campur

Nasi campur
18.10.2006.
Dear Zev dan Para pembaca di seantero belahan bumi,
Kali ini saya ingin menghidangkan nasi campur sederhana di Koki tersayang nan hebat tenan, nasi campur ala tulisan dikarenakan bahan-bahannya terdiri dari kata-kata yang teracik dengan bumbu dan pengalaman seadanya sehingga ya sederhana saja sesuai dengan ukuran ikat pinggang saya yang sudah cukup kenyang dengan dua macam lauk. Hanya tulisan ringan utara selatan yang mungkin tidak menyambung menjadi satu yang bisa saya tuliskan saat ini untuk mengobati rasa rindu saya berkongko ria dengan para kokier di berbagai pelosok.

Dimulai dari warna pirang. Warna pirang bisa kita anggap seperti daging rendang, karena warnanya coklat kepirang-pirangan (maksa nggak ya...?). Daging rendang sedap dan gurih, wuah nikmat rasanya setelah diinapkan beberapa hari. Lalu apa hubungannya dengan warna pirang? Ya mungkin karena sama-sama berwarna kepirang-pirangan.

Minggu kemarin saya ngopi bersama-sama dengan teman-teman. Ngobrolin warna rambut teman saya yang habis diupdate mengikuti pergantian musim, persis warna daun pada musim gugur, agak oranye ke merah-merahan. Iseng-iseng saya tanya, kapan ganti warna pirang? Ih langsung dia melotot! Makin cantik sih, tapi mulutnya jadi mencong karena senewen.
"Enak saja ganti pirang, tak mungkin aku ganti pirang!"
Loh ini anak kok jadi salah paham, saya buru-buru minta maaf, bukan maksud hati menghina, tapi karena melihat kulitnya yang putih bersih, bermata biru, berbadan langsing tinggi semampai, tinggal diganti warna rambut pirang, jadilah Barbie hidup.

Teryata menurut dia dan sebagian teman-teman dari pihak pria , berpendapat kalau rambut pirang sama dengan kecantikkan isi otak ayam, apalagi ditambah dengan buah dada yang membusung ala buah pepaya (entah operasi atau asli), wah komplit otak –otak maksudnya ya lembek dan gurih seperti otak-otak . Bagi mereka (teman-teman ngopi saat itu) wanita pirang bukan tipe wanita yang ideal 100%. Ideal 20 % untuk dipandang tapi 80% mahal di ongkos buat berbagi hidup bersama. Belum lagi prasangka kalau kebanyakkan yang berambut pirang berprofesi dengan menguras keringat dan kantong sang pembeli. Sadis juga ngomongnya, langsung saja saya bilang kalau itu namanya diskriminasi, termasuk rasis loh, karena perbedaan warna rambut langsung pukul rata! Si cantik yang baru ganti warna rambut tetap ngotot mempertahankan pendapatnya tentang warna rambut pirang, sementara dari pihak lelaki malah ketawa-ketiwi, mereka bilang kalau ada yang berambut pirang lewat maka dengan senang hati akan dipandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi untuk menelannya bulat-bulat, tungu dulu, satu cangkir kopi tidak cukup. Si cantik bilang kalau saya berpikiran lain karena saya bukan dari dunia mereka, maksudnya dunia kulit putih . Menurut si cantik, ia kesal karena kulitnya tidak bisa coklat, sudah menghabiskan uang untuk berjemur dan solarium, hanya coklat selama satu hingga dua minggu, setelah itu putih lagi! Teman yang dari pihak pria menyambar seperti kompor, bilang kalau kulit coklat lambang gengsi tersendiri! Bergaya saat musim panas, dan juga menyatakan secara tidak langsung kalau ia menghabiskan beberapa lembar uang untuk memperganteng atau mempercantik diri. Apalagi kalau coklat pada musim dingin, berarti nongkrong di solarium berkali-kali. Wah-wah, saya jadi garuk-garuk kepala ingat tetangga saya di Jakarta yang menghabiskan uang entah berapa rupiah agar wajahnya berkulit putih, begitu juga dengan penyanyi terkenal yang menghabiskan entah berapa dolar sehingga kulitnya yang tadinya hitam manis menjadi putih pucat seperti lilin tanpa api. Hampa dan dingin. Kesannya, kulit berwarna masuk dalam golongan kelas terabaikan, tinggal di sudut ruang, bengong menggigit jari hanya mampu melihat tanpa bisa memasuki ruangan tertentu.

Kembali ke warna pirang, saya tidak setuju pukul rata begitu saja, loh itu bisa menjurus ke arah diskriminasi, kalau semua orang berpikiran seperti itu, bisa-bisa si pirang kabur mencari kehidupan baru yang lebih baik, yang menerima si pirang dengan karpet merah, kabur ke Indonesia.
Tuh kan bingung, kok malah jadi ke Indonesia? Lah bagaimana tidak bisa, kalau yang berambut pirang bisa datang dengan mudah ke Indonesia, bahkan menjadi “peduduk gelap” dengan KIMS lengkap, bergaji lebih tinggi dari pada pegawai lokal yang lebih ahli daripada si pirang. tidak membayar pajak ke negara Republik Indonesia. Loh kok bisa? ya bisa, wong namanya saja tidak terdaftar di departemen tenaga kerja. Cerita ini bukan isapan omong kosong belaka, saya tidak tahu apakah pernah dilakukan penelitian dan penghitungan secara statistik, tapi secara pribadi saya tahu cukup banyak orang asing yang punya KIMS aspal, tanpa “izin kerja resmi” ongkang-ongkang kaki di atas pegawai lokal yang sungsang sumbel bayar pajak. Bahkan saking gregetnya saat saya masih tinggal di Jakarta, saya melaporkan keberadaan mereka ke Departemen Tenaga Kerja. Beberapa hari kemudian, gedebak-gedebuk pihak dari Departemen Tenaga kerja datang melakukan pemeriksaan mendadak atas izin kerja para pegawai asing yang digaji cepekceng per jam sementara pegawai lokalnya cepekceng per hari. Suasana chaos hanya berlangsung dalam hitungan 60 hingga 120 menit. Setelah itu seperti yang terjadi dalam cerita-cerita yang sudah- sudah, beberapa amplop membungkam ke galakkan sang petugas. Habis deh chaosnya, berganti dengan senyum lebar, jabat tangan erat, terima kasih atas kerjasamanya...
Saya tidak menuduh semuanya seperti itu, karena saya hanya tahu beberapa saja,tetapi saya penasaran, berapa banyak “orang asing yang menjadi penduduk gelap di Indonesia” dibandingkan dengan “orang Indonesia yang berstatus gelap” di negara asing?
Mereka (sekali lagi tidak semuanya) mengeyam kehidupan lebih layak di Indonesia dibandingkan di negaranya sendiri, bahkan ada yang tidak mau kembali ke Amerika karena tidak mungkin mempunyai tingkat kehidupan yang sama dengan hidupnya di Indonesia. Mereka berbondong-bondong mencari kehidupan yang jauh lebih baik di Indonesia, sementara orang kita tersisih bahkan jadi pergi berduyun-duyun mencari sesuap nasi ke negara lain, bernasib lebih menyedihkan sebagai “penduduk gelap” di luar negeri di bandingkan orang asing yang “berstatus gelap” mengenyam nikmatnya hidup di Indonesia tanpa “takut” dengan petugas negara. Kan semuanya bisa diatur, toch? Woo, dengkulmu!
Apa yang saya tulis bukanlah merupakan penelitian ilmiah ataupun berdasarkan statistik jadi tidak bisa dijadikan standar kalau semuanya seperti itu, hanya berdasarkan segelintir orang yang saya tahu saat saya masih berada di Indonesia. Kadang-kadang tangan saya suka gatal ingin menjewer telinga mereka kuat-kuat. Sedih melihat tuan rumah berdiri dibawah kaki para pendatang yang ugal-ugalan.

Kembali ke negara yang mulai dingin, ke teman-teman “kulit putih” yang ngopi bersama-sama, saya wanti-wanti pesan kepada mereka, janganlah mendiskriminasikan si rambut pirang, pandang mereka sesuai dengan kemampuannya, bukan warna rambutnya nanti kalau dia kabur ke Indonesia lalu jadi “penduduk gelap” kan bisa repot urusannya. Gelar sarjana Indonesia bisa bangkrut tidak laku gara-gara warna rambutnya tidak pirang. Nanti saudara –saudara saya malah buru-buru ganti warna rambut jadi pirang, supaya bisa bersaing mendapatkan cepekceng perjam...

Arita-CH

Bookshelves

Bookshelves
Buku-buku favorit
  • Albert Camus - Le Mythe de Sisyphe
  • Albert Camus - Les Justes
  • Albert Camus - L'étranger
  • Emile Zola - Nana
  • Ernest Hemingway - Le Soleil se lève aussi
  • Ernest Hemingway - Le vieil homme et la mer
  • Ernest Hemingway - Les Neiges du Kilimandjaro
  • Ernest Hemingway - Old Man and the Sea
  • Ernest Hemingway - Paris est une fête
  • Galleria Gottardo (Lugano), Francesco Paolo Campione, Galleria Gottardo, Junita Arneld Maiullari, Switzerland Museo delle culture (Lugano, Bianca Franchetti - La collezione Brignoni. Arte per metamorfosi. Museo delle Culture. Città di Lugano
  • James Redfield - La prophétie des Andes
  • James Redfield - The Celestine Prophecy
  • James Redfield - The Celestine Prophecy: An Adventure
  • Joseph Campbell - Les héros sont éternels
  • Joseph Campbell - Puissance du mythe
  • Joseph Campbell - Masks of God Primitive Mythology
  • Joseph Campbell - Myths, Dreams, and religion
  • Joseph Campbell - Puissance du mythe
  • Joseph Kessel - La règle de l'homme
  • Joseph Kessel - Le bataillon du ciel
  • Joseph Kessel - Le tour du malheur, tome 1 : La fontaine Médicis ; L'affaire Bernan
  • Joseph Kessel - Les Cavaliers
  • Junita Arneld Maiullari - Ngaju sapuyung hats: a brief note.(Travel narrative): An article from: Borneo Research Bulletin
  • Knut Hamsun - La Faim
  • Knut Hamsun - Mais La Vie Continue
  • Knut Hamsun - Mystères
  • Knut Hamsun - Vagabonds
  • Marija Gimbutas - Le langage de la déesse
  • Marija Gimbutas - The Language of the Goddess
  • Mark Twain - Adventures of Huckleberry Finn
  • Paolo Maiullari - Hampatongs in the Daily Life of the Ngaju Dayaks Borneo research bulletin
  • Paolo Maiullari - Hampatongs in the daily life of the Ngaju Dayaks.: An article from: Borneo Research Bulletin
  • Paolo Maiullari & Junita Arneld (currator) - PATONG La grande scultura dei popoli del Borneo dalle Collezioni del Museo delle Culture di Lugano
  • Paulo Coelho - Veronika Decides To Die
  • Paulo Coelho - L'Alchimiste: Roman (French Edition)
  • William Shakespeare - Hamlet (The New Folger Library Shakespeare)
  • Yves Courriere - Joseph Kessel, ou, Sur la piste du lion (French Edition)

Your Thought and Mine

Your Thought and Mine
Your thought is a tree rooted deep in the soil of tradition and whose branches grow in the power of continuity.
My thought is a cloud moving in the space. It turns into drops which, as they fall, form a brook that sings its way into the sea. Then it rises as vapour into the sky.
Your thought is a fortress that neither gale nor the lightning can shake.
My thought is a tender leaf that sways in every direction and finds pleasure in its swaying.
Your thought is an ancient dogma that cannot change you nor can you change it.
My thought is new, and it tests me and I test it morn and eve.

You have your thought and I have mine.

Your thought allows you to believe in the unequal contest of the strong against the weak, and in the tricking of the simple by the subtle ones.
My thought creates in me the desire to till the earth with my hoe, and harvest the crops with my sickle, and build my home with stones and mortar, and weave my raiment with woollen and linen threads.
Your thought urges you to marry wealth and notability.
Mine commends self-reliance.
Your thought advocates fame and show.
Mine counsels me and implores me to cast aside notoriety and treat it like a grain of sand cast upon the shore of eternity.
Your thought instils in your heart arrogance and superiority.
Mine plants within me love for peace and the desire for independence.
Your thought begets dreams of palaces with furniture of sandalwood studded with jewels, and beds made of twisted silk threads.
My thought speaks softly in my ears, Be clean in body and spirit even if you have nowhere to lay your head.
Your thought makes you aspire to titles and offices.
Mine exhorts me to humble service.

You have your thought and I have mine.

Your thought is social science, a religious and political dictionary.
Mine is simple axiom.
Your thought speaks of the beautiful woman, the ugly, the virtuous, the prostitute, the intelligent, and the stupid.
Mine sees in every woman a mother, a sister, or a daughter of every man.
The subjects of your thought are thieves, criminals, and assassins.
Mine declares that thieves are the creatures of monopoly, criminals are the offspring of tyrants, and assassins are akin to the slain.
Your thought describes laws, courts, judges, punishments.
Mine explains that when man makes a law, he either violates it or obeys it. If there is a basic law, we are all one before it. He who disdains the mean is himself mean. He who vaunts his scorn of the sinful vaunts his disdain of all humanity.
Your thought concerns the skilled, the artist, the intellectual, the philosopher, the priest.
Mine speaks of the loving and the affectionate, the sincere, the honest, the forthright, the kindly, and the martyr.
Your thought advocates Judaism, Brahmanism, Buddhism, Christianity, and Islam.
In my thought there is only one universal religion, whose varied paths are but the fingers of the loving hand of the Supreme Being.
In your thought there are the rich, the poor, and the beggared.
My thought holds that there are no riches but life; that we are all beggars, and no benefactor exists save life herself.

You have your thought and I have mine.

According to your thought, the greatness of nations lies in their politics, their parties, their conferences, their alliances and treaties.
But mine proclaims that the importance of nations lies in work, work in the field, work in the vineyards, work with the loom, work in the tannery, work in the quarry, work in the timberyard, work in the office and in the press.
Your thought holds that the glory of the nations is in their heroes. It sings the praises of Rameses, Alexander, Caesar, Hannibal, and Napoleon.
But mine claims that the real heroes are Confucius, Lao-Tse, Socrates, Plato, Abi Taleb, El Gazali, Jalal Ed-din-el Roumy, Copernicus, and Pasteur.
Your thought sees power in armies, cannons, battleships, submarines, aeroplanes, and poison gas.
But mine asserts that power lies in reason, resolution, and truth. No matter how long the tyrant endures, he will be the loser at the end.
Your thought differentiates between pragmatist and idealist, between the part and the whole, between the mystic and materialist.
Mine realizes that life is one and its weights, measures and tables do not coincide with your weights, measures and tables. He whom you suppose an idealist may be a practical man.

You have your thought and I have mine.

Your thought is interested in ruins and museums, mummies and petrified objects.
But mine hovers in the ever-renewed haze and clouds.
Your thought is enthroned on skulls. Since you take pride in it, you glorify it too.
My thought wanders in the obscure and distant valleys.
Your thought trumpets while you dance.
Mine prefers the anguish of death to your music and dancing.
Your thought is the thought of gossip and false pleasure.
Mine is the thought of him who is lost in his own country, of the alien in his own nation, of the solitary among his kinfolk and friends.

You have your thought and I have mine.

Poem by Khalil Gibran - Poet 1883 - 1931



Saya tidak ingin dan tidak akan menjadi ragi usang

18.08.2006.

Dear Zev dan para pembaca, apa kabar?

Tanpa terasa, tahun ini Republik Indonesia sudah berusia 61 tahun, lebih tua dari Malaysia yang merdeka tahun 1957, dan Singapore 1965. Sudah 61 kali perayaan tujuh belasan diadakan. Saya ingat waktu saya masih kecil, tujuh belasan adalah hari yang sangat saya tunggu-tunggu. Hari dimana saya bisa puas berlomba satu harian, dari lomba makan kerupuk, bawa kelereng di sendok, balap karung, sampai panjat pohon pinang pun menjadi favorit saya (walaupun tidak pernah menang). Sore hari, saat tiba waktunya berkarnaval dengan pakaian adat ataupun tradisional, saya akan maju dengan gagah berani mengenakan baju “si Jampang” (walaupun Ibu saya “memaksa” saya mengenakan kebaya yang mana saya tolak mentah-mentah dengan kabur melalui pintu belakang saat akan di sanggul...). Dengan bangga saya berjalan dengan celana panjang hitam, plus sarung kotak-kotak, plus pedang plastik berwarna hijau flashy stabilo, berkopiah pula, sambil bernyanyi

“Aku seorang Kapiten...

mempunyai pedang panjang.

Kalau berjalan, prok, prok, prok.

Aku seorang Kapiten”.

Lalu seperti yang sudah-sudah kami bermain perang-perangan, walaupun jadi kapiten, tapi saya bertahan di kubu bambu runcing melawan “pihak musuh” yang menggunakan senapan plastik berpeluru mulut, alias tet tet tet tet, yaitu mulutnya saja yang ribut menirukan suara mitrayet. Lalu permainan diakhiri dengan kemenangan di pihak bambu runcing dan ditutup dengan teriakan, “Merdeka, Merdeka, Merdeka !” Hidup Indonesia! Rasanya satu hari penuh itu menjadi satu hari yang sangat bersejarah pada kehidupan saya, yang mana hari bersejarah berulang terus, lomba yang sama dan seragam yang sama, permainan yang sama setiap tahunnya, dan kebanggaan yang sama, berada di pihak bambu runcing, meneriakkan kata-kata “merdeka” tiga kali (wajib itu tiga kali, kalau kurang dari tiga kok ya kurang mantap ya...).

Waktu memasuki masa kuliah, “bermain perang-perangan” masih saya lakukan, hanya saja modelnya sudah lain. Saya tidak mengenakan celana panjang hitam, sarung kotak-kotak, pedang plastik berwarna hijau flashy stabilo, dan kopiah. Saya mengenakan seragam hijau, berbaret ungu, dengan emblem bertuliskan yon 14. Saat itu ibu saya berkomentar sambil setengah menggerutu“kamu ini mau jadi sarjana apa tentara-tentaraan sih? Edan tenan anak ini”. Saya hanya menjawab “ya sarjana tapi kalau keadaan kepepet kan bisa juga jadi tentara, demi tanah air tercinta, tanah air beta” Lalu saya sambung sambil bernyanyi-nyanyi “Indonesia, tanah air beta, pusaka, abadi nan jaya...”. Bapak saya yang tentara beneran menepuk kepala saya atas jawaban yang “asal jawab”, tersenyum bangga saat saya berteriak “Medeka” sambil lari ke dapur menyambar tempe goreng yang masih panas. Saat itu setiap perayaan tujuh belasan selalu menjadi hari keramat. Rasa idealis, nasionalis bercampur menjadi satu, ditambah lagi dengan jiwa muda yang selalu menggelora, bersemangat empat lima. Bangga di pihak “bambu runcing”, bangga menyanyikan “Indonesia Raya” dan berjanji dihadapan Ibu pertiwi, membela sampai titik darah terakhir. Merdeka, Merdeka, Merdeka! Hidup Indonesia!

Masa kuliah pun berakhir, masa rimba belantara birokrasi mulai memasuki kehidupan saya. Pontang-panting kanan kiri mencari pekerjaan mulai menggerogoti prinsip idealis. Banyaknya orang yang meminta “uang pelicin” agar bisa mendapatkan pekerjaan bagi “para lulusan segar” membuat saya tersesat di hutan liar “PungLi”. Kesini mahal, kesana mahal, bahkan kadang lebih mahal dari gaji yang akan saya terima selama 1 tahun. Akhirnya saya jadi kesal sendiri, dan tidak bernafsu untuk mencari pekerjaan. Saya memutuskan untuk “menganggur” selama beberapa saat sambil mencari inspirasi agar polusi yang ada di otak saya terhalau.

Suatu hari saya melakukan perjalanan ke suatu tempat di daerah pedalaman. Karena tidak adanya transportasi umum, saya lalu menggunakan jasa taksi “kijang” AsPal. Mobil pribadi yang asli mengangkut penumpang untuk umum tapi palsu karena bukan taksi beneran. Di tengah perjalanan, dimana sebelah kanan dan sebelah kiri sisi jalan hanya dihuni pohon-pohon besar belaka, dengan memiliki tanda-tanda kehidupan binatang-binatang liar, tanpa ada tanda-tanda kehidupan manusia, tiba-tiba mobil berhenti mendadak diiringi derit suara rem yang keras. Bruuk! Hampir seluruh penumpang tersuruk ke depan dengan keberhentian yang tiba-tiba tersebut. Saya sangat terkejut sekali, apakah yang terjadi? Jangan-jangan pak supir menabrak binatang liar.

Saat saya melongok kedepan untuk melihat, ternyata bukan binatang liar yang tampak tetapi sesuatu yang tidak liar, sesuatu yang hidup dan “beradab”, komplit dengan seragam dan topinya. Seperti seragam coklat yang dikenakan teman main saya saat tujuhbelasan dulu. Hanya yang ini beneran, bukan mainan. Yang ini ternyata seragam coklat beneran, komplit dengan topi dan peluitnya, pritt! Bapak berseragam dan pak sopir lalu berbisik-bisik di belakang pohon yang besar sekali, lima belas menit kemudian pak sopir sudah kembali menyetir mobil sambil bersiul-siul, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Penasaran saya bertanya maksud dari pemberhentian tersebut, pak sopir hanya bilang “biasa lah uang pos, untuk rute ini biasanya ada tiga pos”. Saya bengong dan bingung. Di tengah hutan belantara ada 3 pos PungLi? Pak supir dengan enteng menjawab “wah apalagi kalau rute yang dilalui truk, bisa sampai 5 pos”. Saya terpaksa harus menelan mentah-mentah kenyataan tersebut sambil berkomentar “ooo begitu...” Pelan tapi pasti, saya mulai menyadari keberadaan PungLi sudah menapakkan cakarnya di dalam bumi pertiwi. Beberapa hari kemudian, saat saya sedang menunggu “taksi air” (perahu) yang akan membawa saya ke kampung nenek, saya mengenali seorang bapak yang juga sedang menunggu. Bapak yang sama dengan bapak yang menyetop “taksi AsPal” di tengah hutan, bapak yang berseragam. Iseng-iseng saya bertanya “maaf Pak, jam berapa ya sekarang?”. Lalu Bapak tersebut menjawab dan akhirnya saya berhasil membuka percakapan dengan dia. Kami berbincang-bincang akan hal-hal yang umum sampai akhirnya saya bilang kalau saya mengenali dia sebagai bapak berseragam. Bapak tersebut sempat jengah tetapi akhirnya tetap saja melanjutkan percakapan kami. Sampai saya menyinggung persoalan akan “pemasukan ekstra gaji”, si Bapak sempat sedikit sewot. Katanya “Wah mbak, saya kan harus menyetor ke komandan saya, lalu nanti komandan menyetor lagi ke atas”, bersihnya paling saya hanya dapat satu persen. Kalau hanya mengandalkan gaji, saya tidak mampu membiayai istri dan anak-anak saya. Hutang saya buat masuk kerja saja belum lunas.” Deg, kaget saya, jadi si Bapak juga bayar uang pelicin buat masuk kerja, pakai acara mengutang lagi. Waduh, untung saya nggak jadi bayar uang pelicin. Untung saya tidak jadi kerja dengan uang pelicin. Jangan-jangan suatu hari saya bisa menjadi seperti Bapak yang didepan saya ini. Yang meminta uang “pelicin” untuk melicinkan hutangnya. Wah ini seperti lingkaran setan saja, seperti kucing yang berusaha menggigit ekornya sendiri. Berputar-putar di tempat.

Sekembalinya dari “berpetualang”, dan masih “trauma” dengan masalah “uang pelicin”,saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Eh belum sempat sekolah lagi, loh kok malah jatuh cinta, akhirnya menikah, dengan warga negara asing, yang mana di dalam birokrasi dan administrasi sangat kaya dengan masalah “uang pelicin”. Kali ini saya berkeras tidak menggunakan “uang pelicin”, akibatnya surat nikah saya “tertahan” selama beberapa bulan. Tanpa kehadiran Bapak saya yang hampir membalikkan meja, mungkin surat nikah tersebut tidak akan keluar sampai surat perceraian terbuat. Terbentur masalah perceraian, masalah anak dan lain sebagainya, membuat saya semakin melihat betapa bobroknya mental anak–anak ibunda Pertiwi. Benar-benar seperti hutan belantara liar yang tidak kenal ampun, yang berprinsip lebih baik memakan daripada di makan, kanibalisme di dalam birokrasi dan kehidupan membuat kesinisan dalam diri saya mengental dan bergelora dibandingkan semangat juang empat lima saat saya masih menjadi pelajar.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di negara asing untuk mengejar apa yang menjadi hak saya, saya terbentur dengan status sebagai warga negara Indonesia. Alasannya, tidak ada ikatan perjanjian Internasional antara Indonesia dengan negara tersebut. Lalu saya tidak bisa memperjuangkan hak saya sepenuhnya karena saya bukan warga negara tersebut. Lalu orang yang mengenal Indonesia sebagai negara korupsi, dan sebagainya, dan seterusnya dan berikutnya. Ampun! Kok seperti makan buah Simalakama. Tidak mengaku sebagai bangsa Indonesia akan dibuang dari keluarga, menjadi bangsa Indonesia kok ya pahit, dibuang di negara sendiri dan di negara orang lain. Saya sempat mengalami krisis identitas, saya ini orang apa ya? Orang –aring? Tapi katanya orang-aring pun masih berguna untuk menyuburkan rambut, lah lalu kegunaan saya apa dong kalau saya jadi orang-aring? Apa malah saya sudah menjadi “orang-orangan?” Yang tersenyum kalau ditarik tali di bibir dan menari-nari saat tali temali di kaki saya digerakkan.

Saat saya dalam krisis identitas “orang-orangan”, saya marah kepada diri saya sendiri. Apa yang salah dengan menjadi orang Indonesia dan bagaimana membuktikan bahwa tidak ada yang salah untuk menjadi orang Indonesia. Semuanya berkecamuk dan terpendam dalam otak kecil saya.

Waktu berlalu dan bergulir dengan cepat, sementara situasi dan kenyataan yang ada di Indonesia tidaklah banyak berubah. Menjadi orang Indonesia seolah terpuruk dalam cerita simpang siur dan mendiskreditkan orang Indonesia. Menjadi seorang Indonesia seolah seperti sebuah ragi usang.

Saya ingat Bapak saya pernah bercerita tentang kisah rakyat “Raja Sangumang dan Pangawi”. Dimana kesetiaan Pangawi menggembirakan hati sang raja Sangumang tetapi butob ureng kahaen sakalan (batu kebodohan/kebebalan) yang ada pada Pangawi menyedihkan hati sang Raja Sangumang. Setialah menjadi manusia seperti kesetiaan Pangawi, tetapi bijaksanalah sebijaksana Sangumang. Jangan menjadi ragi usang! Demikian kata Bapak saat saya masih berumur 20 tahun.

Ragi adalah salah satu elemen yang penting dalam pembuatan baram. Ragi yang bagus akan membuat baram tersebut nikmat, tetapi ragi yang usang, lapuk dimakan masa akan terbuang begitu saja dengan sia-sia. Saya tidak ingin menjadi ragi usang!

Kebenaran adalah sesuatu yang yang berhubungan dengan kenyataan. Kebenaran akan suatu pendapat menjadi benar kalau kita bisa menemukannya dalam realitas, dan kebenaran tersebut menjadi palsu pada saat kita tidak bisa menemukannya dalam suatu kenyataan hidup, saat kita tidak bisa berkata apa-apa maka kebenaran tersebut menjadi palsu. Kebenaran yang murni terpuruk dengan ketidakmampuan dalam pengungkapan kenyataan. Saya mencari kebenaran tersebut, saya mencari didalam realitas hidup. Dan saya mencari realitas tersebut tidak hanya sejauh mata memandang kehidupan saya, tetapi sejauh mata memandang cakrawala. Saat saya melihat dari puncak yang tinggi maka saya bisa melihat secara keseluruhan, saat saya melihat tanpa bingkai, saya melihat dengan baik dan semuanya terlihat jauh lebih jelas. Kebenaran dari proposisi, keyakinan, pemikiran, pendapat. Kebenaran yang pribadi bagi diri saya sendiri, hal-hal yang saya yakini benar sejak dulu, lalu terpuruk dengan kepalsuan hidup dan lingkaran setan, yang menutupi kebenaran yang saya yakini. Kebenaran yang tertumpuk oleh kotoran-kotoran dari hanya segelintir manusia-manusia tanpa keyakinan. Kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada gunung tumpukkan kotoran kebejatan moral dan iman. Karena sesungguhnya orang Indonesia yang benar, jauh lebih banyak dibandingkan orang Indonesia yang tidak benar. Karena Indonesia itu besar dan luas sekali. Jadi sudah seharusnya jika saya memandang akan kebenaran menjadi orang Indonesia dengan lensa “wide angle”. Lensa yang lebar yang mencakup inti dari kebenaran tersebut. Dan saat saya menemukan kebenaran, saya harus mempertahankan dan menunjukkan kebenaran tersebut. Untuk itu saya harus membuktikan apa yang saya yakini, saya harus membuktikan kalau orang Indonesia bukanlah sebuah ragi usang yang tidak berguna lalu dibuang.

Saya tidak ingin dan tidak akan menjadi ragi usang.

Saat ini, “bermain perang-perangan” masih saya lakukan, hanya saja modelnya sudah lain. Saya tidak mengenakan celana panjang hitam, sarung kotak-kotak, pedang plastik berwarna hijau flashy stabilo, dan kopiah. Saya saat ini mengenakan kebaya encim dengan jarik motif Truntum dan rambut bersanggul. Saya akan berjuang sampai tetes tinta saya yang terakhir (kalaupun habis saya pasti beli lagi yang baru) untuk mengenalkan Indonesia yang sebenarnya. Berawal dari “warung” kecil akan barang Indonesia, tulisan-tulisan di organisasi penelitian, hingga kini, saya mencoba membawa Indonesia ke dalam program kebudayaan Internasional. Saya memang masih berjuang untuk program tersebut, dan saya akan tetap berjuang untuk program-program yang berikutnya. Saya tidak ingin dan tidak akan menjadi ragi usang.


Saya akan selalu berteriak dan pasti tiga kali.

Merdekalah Indonesiaku, dari penindasan oleh kebohongan, Merdekalah dari keragu-raguan, Merdekalah Indonesiaku dari ketidaktahuan. Merdeka, Merdeka, Merdeka! Indonesia Raya.

Arita-CH

Wiraswasta di LN

Wiraswasta di LN
30.11.2005.
Dear Zeverina,
Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih dengan adanya kolom ini di Kompas.com. Berbagai cerita dan pengalaman baik yang positif maupun negatif sekalipun membuat kita menyadari bahwa sebagai orang Indonesia dimanapun mereka berada terpencar di berbagai penjuru dunia tetap berkumpul menjadi satu dalam satu bahasa Indonesia di website Indonesia, yang bertempat di Indonesia.

Cerita yang akan saya utarakan mungkin bisa memberi informasi tentang bagaimana hidup di Luar Negeri dengan titik pandang yang berbeda.
Alasan saya meninggalkan Indonesia bukan karena ikut suami, kuliah ataupun bekerja, tetapi karena mencari anak saya yang diculik oleh bekas suami saya (WNA). Singkat kata saya sudah menemukan anak saya dan dikarenakan situasi hukum membuat saya « harus » tetap di Eropa agar bisa selalu dekat dengan anak saya. Maaf saya tidak menceritakan kisah tentang mengapa anak saya diculik dan bagaimana saya bisa menemukannya, mungkin di lain surat saya akan menceritakan pengalaman tersebut.

Saya tinggal di Swiss, dan mempunyai usaha sebagai penjual barang2 dari Indonesia. Pertama kali saya mengajukan ijin menetap disini, saya tidak menemui banyak kesulitan dikarenakan saya sudah punya PR di negara Eropa (FR) sebelumnya tetapi saat saya sudah mendapatkan ijin tinggal ternyata tidak secara otomatis mendapatkan ijin kerja. Ada 2 Ijin kerja, Kesatu, yaitu "Dependent" yang berarti bekerja untuk sebuah instansi dan kedua "Independent" yang berarti sebagai pihak Swasta, dimana saya termasuk dalam kategori kedua.

Waktu saya meminta formulir ijin kerja independent, petugas kepolisian kantonal "tidak mau" memberikan formulir tsb malah menasihati saya untuk mencoba melamar pekerjaan sebagai pelayan di supermarket setempat dimana saya mengartikan "be dependent, don’t be independent". Setelah melalui perdebatan yang cukup seru barulah formulir tersebut diberikan kepada saya.

Melalui proses yang panjang dan sempat ditolak satu kali akhirnya saya bisa mendapatkan ijin kerja Independent. Usaha saya bergerak di bidang kesenian dan permebelan yang saya fokuskan hanya dari Indonesia, walaupun banyak yang menawarkan barang2 dari negara Asia lainnya, bahkan dengan harga yang jauh lebih murah, tetap saya mengambil dari Indonesia.

Sejak awal saya berniat berwiraswasta agar bisa lebih mudah memantau perkembangan anak saya dan pilihan saya hanya Indonesia karena merupakan jembatan bagi saya dan Indonesia, tanah air saya sendiri. Saya bersyukur karena dengan usaha ini memungkinkan saya untuk pulang ke kampung halaman minimum sekali dalam setahun, dan bisa membantu perekonomian Indonesia, walaupun dalam skala kecil. Bahkan sejak itu saya jadi mengenal kebudayaan tanah air jauh lebih dalam dari sebelumnya dan bangga jadi orang Indonesia dimanapun saya berada.

Cerita tentang menjadi penjual barang dari Indonesia banyak suka dan dukanya. Saat saya menawarkan barang Indonesia ke perusahaan Swiss, reaksi pertama yang sering saya terima adalah rasa tidak percaya bahwa sayalah pemilik barang, bahkan ada yang terang-terangan menolak dengan kata-kata pedas bahwa pedagang orang Indonesia adalah penipu dan dia lebih suka membeli barang Indonesia dari orang asia lainnya (negara MI) daripada dari orang Indonesia langsung. Wah mau marah saya mendengarnya, tapi saya berpikir mungkin orang ini pernah ditipu oleh orang Indonesia, saya jadi penasaran dan ingin membuktikan bahwa orang Indonesia bukanlah penipu seperti yang dia kira.Setelah saya jelaskan panjang lebar akan kekuatan hukum dari usaha yang saya jalankan dan dengan dasar hukum Swiss yang mengikat perjanjian kerjasama, akhirnya dapat dijalin pengertian antara orang tersebut dan saya.

Pernah satu kali saya ikut pameran budaya asia dalam skala nasional (canton), dimana stand saya membawa nama Indonesia. Stand itu hanya berukuran 12m2 dikarenakan biaya sewa yang cukup tinggi dan dana dari pihak sendiri. Sebelah stand saya adalah stand dari India dengan luas hampir 50 m2 dan dibiayai oleh pemerintah India. Tapi saya tidak mau minder, biar kecil tapi berbobot, saya minta tolong salah satu teman Indonesia untuk menari Bali dalam acara tersebut, akhirnya tercapailah tujuan saya, stand terkecil tapi paling banyak peminatnya.

Belum habis kebahagiaan saya melihat minat pengunjung yang besar, datanglah pengunjung dari Indonesia. Tentu saja saya senang melihat orang setanah air mengunjungi stand saya, tapi reaksi yang saya terima membuat saya mejadi sedih.. Dia berkata "eh kecil amat stand dari Indonesia, malu-maluin saja. Kalau tidak mampu buat stand yah tidak usah ikut berpartisipasi dong. Masa kalah sama negara Asia lainnya yang lebih miskin dari Indonesia, bikin malu bangsa saja". Aduh, dengar komentar jelek dari bangsa lain masih bisa bikin saya kuat, tapi komentar dari bangsa sendiri, sedih sekali hati saya saat itu.



Satu lagi ada pengunjung orang Indonesia yang enggan bicara sama saya dan memilih bicara dengan karyawan saya (kulit putih) untuk menawarkan kerjasama karena dia pikir saya adalah pegawai, dan yang kulit putih adalah bos saya, aduh mak! Setelah dijelaskan bahwa dia (kulit putih) adalah karyawan, orang itu langsung pergi tanpa permisi. Tapi hati saya digembirakan oleh kunjungan beberapa pemuda-pemudi Indonesia yang masih berstatus pelajar. Ada yang asli 100% keluarga Indonesia yang lahir di Eropa tetapi belum pernah pulang ke Indonesia, mereka senang sekali mendengar dan melihat akan kebudayaan Indonesia yang kaya.

Ada yang memang pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu disini, bangga akan adanya stand Indonesia malah sempat mempertunjukkan kemampuannya bermain wayang kulit. Wah tunas muda seperti inilah yang bisa membuat Indonesia maju! Ada yang mengejek karena saya berkebaya saat bekerja, sementara ada yang memuji karena jarang melihat wanita Indonesia berkebaya, kecuali waktu 17 Agutus di KBRI.

Pernah sekali saya didatangi dua ibu-ibu Indonesia saat sedang pameran, mempertanyakan berapa gaji saya. Saya penasaran akan maksud dari pertanyaan tersebut lalu saya jawab bahwa gaji saya lumayan, ibu tersebut menawarkan pekerjaan lain, ringan tapi banyak uangnya. Jadi escort lady! Ampun! Saya hanya bisa tersenyum kecut dan bilang terima kasih, saya lebih suka yang halal.

Satu hari di toko saya didatangi oleh satu keluarga komplit, ibu, bapak dan ketiga anaknya. Mereka bertanya-tanya tentang kebudayaan Indonesia, tentu saja dengan senang hati saya menjawab dan menerangkan, sampai si Ibu bertanya tentang hal yang aneh akan saya.

Dia pernah berkenalan dengan orang Indonesia di Jerman saat belajar Yoga (sekarang ibu tersebut adalah guru Yoga), dimana kenalan orang Indonesia itu bilang di Indonesia kalau perempuan dengan rambut dikonde tinggi serta acak-acakan (tidak terlalu rapih, agak kusut) berarti orang itu mempunyai kemampuan gaib/paranormal, jadi guru yoga tersebut bertanya apakah benar di Indonesia seperti itu dan kalau benar apakah saya punya kemampuan gaib (karena kebetulan konde saya tidak terlalu rapih). Wah kalau buat jawab apakah saya paranormal tentu saja Tidak. Tapi buat menjawab apakah di Indonesia ada perempuan yang seperti itu, saya cuma bisa berdiplomatis bahwa di Indonesia ada 18.108 pulau, 300 etnis tersebar dari sabang sampai merauke dan saya belum bisa mempelajari semuanya. Sepengetahuan saya sampai hari ini belum pernah mendengar hal tersebut sehingga saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Berjualan barang dari Asia kadang juga dianggap berjualan barang yang aneh yang mempunyai kekuatan gaib, dan saya pikir ini adalah taktik tidak jujur pedagang (yang kebanyakkan orang asing) agar bisa menjual barangnya. Pernah saya berbincang-bincang dengan salah satu pedagang dari negara Asia lainnya. Ia bercerita bahwa untuk menjual lonceng dia menjelaskan ke pengunjung bahwa dengan mendengarkan suara denting lonceng setiap pagi maka segala kesusahan akan hilang hari itu. Saya hampir terbahak-bahak mendengarnya, tetapi waktu dia melakukan aksinya didepan pembeli, persis seperti yang dia katakan kepada saya, eh berhasillah dia menjual lonceng. Bahkan ada yang menjual gental kecil dengan nama "Pangilan buat malaikat", laku keras! Ya ampun mungkin ini bedanya manusia yang berTuhan dengan manusia yang tidak mengenal Tuhan. Biar sudah pintar teknologi dan pendidikkan masih saja mencari alternatif lain selain Tuhan.

Saya punya Gong yang tua dari pulau Jawa dan suaranya merdu sekali. Lalu banyak yang bertanya apakah Gong tersebut mempunyai "isi" yang kuat, apakah bisa mendatangkan kebahagiaan, apakah bisa mendapatkan kedamaian? Saya jawab bahwa Gong ini saya jual karena kualitas keindahan ukirannya, serta kemerduan suaranya, saran saya sebelum anda mencari sesuatu yang ada "isinya", "isilah" diri anda dahulu dengan introspeksi diri dan berdoa. Kalau anda percaya bahwa sesuatu bisa "berisi" masa anda tidak percaya bahwa alam dan seisinya adalah milik dan ciptaan Tuhan. Kadang jawaban saya bikin marah orang tetapi banyak juga yang akhirnya "bertobat".

Lama kelamaan saya menjadi kebal dengan reaksi negatif dari orang Indonesia ataupun tentang Indonesia dan lebih memusatkan perhatian kepada reaksi positif. Ada yang buruk, tetapi banyak juga yang baik sehingga semuanya saya simpulkan bahwa yang baik untuk kebaikan yang buruk pun bisa dijadikan pelajaran agar menjadi lebih baik.

Seperti layaknya dalam kehidupan berusaha ada masa pasang adapula masa surutnya.. Pada saat saya sedang dalam masa surut mertua saya (saya sudah menikah lagi) pernah menyarankan untuk bekerja kantoran saja dimana setiap bulan pasti ada pemasukkan. Tapi saya menolak. Setiap saya ke Indonesia bertemu dengan pengrajin dan keluarganya yang selalu tekun dalam bekerja, jujur dan percaya terhadap saya, takwa dalam kehidupannya dan gigih sebagai pengrajin, menggantungkan sendok nasinya ke tangan pembeli yang salah satunya adalah saya. Lah kalau saya ganti haluan, saya mungkin tidak mengalami masalah, tapi pengrajin tersebut pasti kehilangan satu pembeli yang juga mengakibatkan kekurangan dalam pemasukkan mereka.

Bukan maksud saya untuk menjadi pahlawan bagi mereka tetapi sesusahnya saya disini masih ada kelebihan dan fasilitas negara yang bisa saya dapatkan sedangkan mereka kalau dalam kesusahan tentulah tidak semudah saya disini. Jadi saya berpikir berkali-kali untuk ganti haluan. Namanya orang usaha, ada susahnya ada untungnya, kelebihan dari usaha ini adalah saya mendapat kebahagian batin dimana saya dan Indonesia tidak terputuskan oleh jarak dan tempat . Kebahagian yang tidak bisa dinilai dan digantikan oleh materi.

Terima kasih untuk Zeverina dan Kompas online, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi pengalaman hidup, salam sejahtera.


Arita - CH




OPEN DOORS 2006 -Connecting cinema from South East Asia-

OPEN DOORS 2006 -Connecting cinema from South East Asia-
26.09.2006.
Dear Zev dan para pembaca, saya mempunyai kabar yang mungkin sudah agak terlambat tapi saya berharap belum menjadi “basi”.

Kabar ini juga merupakan kado untuk kemerdekaan RI ke 61 dan ulang tahun Koki yang pertama. Locarno International Film Festival ke 59 di Swiss yang berlangsung pada tanggal 2 hingga 12 Agustus 2006, memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai warga negara & orang Indonesia.
Tahun ini pada pada tanggal 9 Agustus, delapan hari sebelum hari kemerdekaan RI ke 61 dan 15 hari sebelum Ulang Tahun KoKi, nama Indonesia tercatat sebagai pemenang dalam kategori “Open Doors Prizes”. “Open Doors 2006” bertemakan “Connecting Cinema from South East Asia” dimana terdapat 50 film yang berkompetisi dari negara-negara Thailand, Malaysia, Singapore dan Indonesia. Yang mana pemenangnya adalah 2 “negara bersaudara” yang hidup bertetangga, yaitu:
  1. The Photograph (Nan Achnas, director; Paquita Widjaja-Afief, producer, Indonesia)
  2. Jermal (Ravi Bharwani, director; Shanty Harmayn and Orlow Seunke, producers, Indonesia)
  3. Living Quietly (Tan Chui Mui, director; Joanna Lee, producer, Malaysia)
Penghargaan diberikan dalam bentuk dana sebesar 10.000 Euro untuk memproduksi dan menghasilkan karya yang benar-benar bermutu.
Pada bulan Maret tahun 2002, skenario The Photograph mendapat Prince Klaus Award di Rotterdam International Film Festival dan Gotenborg Film Fund Award dari Swedia.
Berhubung saya tidak sempat menontonnya, jadi dengan sedih hati saya tidak bisa menguraikan lebih lanjut.
Tapi pokoke, diatas segalanya, Indonesia hidup tenan!

P.S: Zev, mungkin ada pemerhati film atau penulis yang bisa menguraikan lebih lanjut tentang film “The Photograph” dan “Jermal”?
Terima kasih sebelumnya...





Manungsa tan kenan kinira

Manungsa tan kenan kinira
24.08.2006.
Dear Zev dan para pembaca,

Mengutip salah satu tulisan “Ki Ageng” Umar Kayam,
“Manungsa tan kenan kinira, kata orang jawa. Manusia itu tidak dapat terduga. Manusia adalah gudang surprise-surprise. Manusia adalah markas kejutan-kejutan.”

Bermula dari sebuah “kejutan” akan “Usia 57 Masih Hot, "Oversex-Minded?” oleh ibu RO (Bu R.O., dimanakah dikau? Mungkinkah masih ditahan oleh sang Maharaja...?) pada “kolom konsultasi seputar problem seksual wanita” dengan dr. Sylvia Detri Elvira, menjadi letupan-letupan kejutan asmara yang membakar kayu-kayu dengan “Ah Indahnya Seks di Masa Tua, Surat dari Gramsbergen”, api pun merambah, menaikkan suhu keindahan, menjalar, membentuk sebungkah “Kiat Mesra Suami-Istri”, menelusuri aliran sungai akan ”Liku-liku Kehidupan Seks”.

Liku-liku yang kadang indah mengasyikkan, tapi juga kadang biasa dan monoton karena “Tak Semua Pria "Bule" Romantis.” Seperti lidah-lidah api yang membakar “kolom konsultasi seputar problem seksual wanita", kadang besar menjilat-jilat, kadang meredup tapi tetap membakar kayu-kayu menjadi arang, bara apinya yang pas menghangatkan, menyamankan, menemani hidup yang “ Tak melulu soal seks, bisa soal relasi dengan pasangan, teman, bos, dokter/rumah sakit, kehidupan single parent, lajang dll”.

Kejutan demi kejutan mengalir dengan derasnya, karena manusia adalah gudang surprise-surprise maka “kolom konsultasi seputar problem seksual wanita"pun menjadi markasnya kejutan-kejutan, markasnya cerita tidak dapat terduga, markasnya manusia Indonesia dari seluruh penjuru, kolom markasnya kejutan-kejutan adalah KOLOM KITA, racikan si “koki” cantik Zeverina dengan masakannya yang beraneka ragam dan kaya akan rempah-rempah dari sabang sampai merauke, dari Utara ke Selatan, di “Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri”.

Kini satu tahun telah berlalu, doa dikumandangkan, dipanjatkan kepada Khalik untuk keselamatan, kesehatan, rejeki dan umur panjang.
Lalu tiba saatnya menyerbu nasi kuning tumpeng diatas tampah, dikelilingi oleh urap sayur-sayuran dengan ikan asin teri, daging ayam suwir-suwir, telor rebus, dan sambal tempe, tak lupa dengan satu batang cabai merah indah menghiasi pucuk tumpeng.
Penutup mulut (supaya mulutnya berhenti terbuka karena kepedasan...) berisi jajan pasar seperti getuk lindri, tiwul, berselimut taburan gurih kelapa parut, klepon, cucur, onde-onde, ketan putih dan ketan hitam.
Serta merta tak ketinggalan nyanyian “wajib” mengiringi hari yang indah dan bersejarah.

Selamat ulang tahun kami ucapkan
Selamat panjang umur kita kan do'akan
Selamat sejahtera sehat sentosa
Selamat panjang umur dan bahagia

Hip hip horayy Kolom Kita.
Hip hip horayy Zeverina.
Hip hip horayy para pembaca.

Arita-CH



Kangen

Kangen

12.07.2006.

Dear Zev dan para pembaca lainnya,

Hari minggu 9 Juli yang telah lewat merupakan puncak acara dari pertandingan sepak bola dunia, dimana pada hari tersebut juga menjadi moment penting bagi suami dan mertua yang menjagokan Italia. Kami semua berkumpul di rumah mertua untuk nonton bersama-sama, komplit, tiga bersaudara plus satu menantu. Sayang tidak ada singkong goreng dan combro buat cemilan, hanya Pizza ala mertua yang menjadi cemilan plus makan malam depan televisi.

Saya yang “buta” akan dunia persepakbolaan pada awalnya hanya duduk diam (tidak 100% diam karena mulut bergerak-gerak ngemil pizza ala Italia yang sebesar tetampah beras) di depan televisi sambil menunggu saat-saat teriak “Gol”! Maksudnya hitung-hitung meramaikan suasana, sebab saya tidak paham apa-apa. Detik berlalu berganti menit, pizza saya akhirnya habis juga, televisi pun masih seru dengan permainan kejar satu bola oleh 22 orang, dan komentatornya itu... wah yahud!


Saya merasakan gegap gempita dan membawa saya masuk ke dalam alam persepakbolaan secara natural. Komentator yang berteriak, menyebutkan nama pemain satu persatu, berkomentar tentang pemain –wah saya lupa namanya siapa – sebagai “nostra fortezza, nostra sicurezza (benteng pertahanan kami, keamanan kami)”, lalu saat-saat bola terlempar ke dalam jaring dimana semua teriak “golllll!”, saya juga akhirnya berteriak cukup keras, menyamai suara suami. Saat pemain bermain dengan jelek, komentator lalu berteori “wah si ...anu.. pasti sudah kecapaian, mestinya begini-begitu, bla, bla, bla...”. Saat Zidane (yang ini akhirnya saya ingat namanya) menanduk pemain Italia dengan kepalanya yang polos plontos, sang komentator pun menjerit seakan-akan Zidane sedang menyeruduk si komentator, begitu juga mertua, ipar-ipar dan suami saya. Waduh duh duh, keseruduk Prancis!. Wasit pun meniup pluitnya, pritttttt, kartu merah melompat dari kantung atas baju si Wasit, undangan buat Zidane keluar dari jagat raya persepakbolaan.

Kembali saya mendengar komentar dari para komentator, bahkan ada yang berteriak mencaci maki (di televisi juga lupa tata krama ya...?). Lalu akhirnya kemenangan diraih, segala pujian, dan teori-teori, saya dengar dari komentator televisi juga komentator intern, yaitu mertua, ipar-ipar dan suami saya. Pertandingan pun berakhir, klakson terdengar dimana-mana, secara tiba-tiba jalan-jalan yang sunyi sepi dan lenggang menjadi penuh sorak-sorai, riuh rendah klakson dan teriakan dengan arak-arakan kemenangan atas Italia.

Saya yang “buta” akan dunia persepakbolaan ikut berjingkrak-jingkrak, wuih ramai tenan! Lho kok saya jadi bisa ikut berjingkrak-jingkrak, padahal “buta”, tetapi para komentator, baik dari televisi dan para intern yaitu mertua dan anak-anaknya, menjadi “tongkat” saya dalam menikmati pertandingan besar yang saya tidak begitu paham sebesar apa tadinya, tapi berkat “tongkat” saya yaitu para komentator-komentator, saya bisa mereka-reka berapa besarnya. Saat para presiden-presiden ikut-ikutan gigit jari, melongok lesu atau berjingrak-jingrak (tetapi tidak seperti saya, jingkrakan mereka lebih elegan...), semua tergambar (eh maksudnya terdengar) yah itu dia berkat si komentator. Wah untung ada “tongkat” jadi si buta dari gua antah berantah (bukan gua hantu loh) bisa mereka-reka, untung ada komentator yang berkomentar, jadi bisa mengerti jalan permainan, lumayan sih, lulus tes standar ujian nasional.

Zev tersayang, dan juga para pembaca lainnya.
Kok saya kangeeeen yahhhh sama si KOKO yang tak lain dan tak bukan adalah kolom komentar...

Arita-CH

Hidup didalam jaman edan

Hidup didalam jaman edan
21.06.2006.

Dear Zev dan pembaca KOKI, bagaimana kabarnya?

Berkat dari Tuhan, kesehatan, kekuatan dan penerangan dari sang Khalik merupakan harapan yang saya panjatkan bagi Zevi dan para pembaca semua, dan Mbak Kentik khususnya – turut berduka cita dan prihatin, saya medoakan Mbak Kentik agar mendekatkan diri kepada Tuhan Y.M.E. dengan membuka hati dan berpasrah diri kepadaNya. Amin.



Musim panas saat ini mulai memanas. Saat siang dan malam hari, aliran udara panas yang masuk dari tiga jendela yang terbuka lebar mengaliri ruang apartemen kami. Malam ini saya susah tidur, puanaasnya kering kerontang. Mata yang mengantuk akhirnya mengalah dengan udara panas yang menggigit, saya pun memilih duduk di dekat jendela memandang langit bersih bebas awan, dihiasi kelap-kelip bintang-bintang (persis seperti lagu Bintang Kecil yang sering kunyanyikan saat umur lima tahun). Diluar suara kodok-kodok bersahut-sahutan, mungkin sedang memanggil sang hujan yang tak kunjung turun. Suara riuh rendah kodok bagaikan mantra ajaib yang membawa pikiran saya melayang ke Bumi Pertiwi, Tanah Air beta, dimana suara kodok-kodoknya lebih garing daripada kodok made in Switzerland.




Pikiran saya kembali mundur ke 3 tahun yang silam, saat malam hari di tengah hutan Kalimantan, juga dengan ditemani lagu panggilan hujan dari kodok-kodok made in Indonesia, saya mengobrol dengan Ayah sambil menunggu sang kantuk yang terlambat datang. Obrolan Ayah dan anak awalnya hanyalah obrolan ringan belaka dimana madhep ngalor dan madhep ngidul ya podo wae, putar-putar masalah kehidupan sehari-hari sampai akhirnya jatuh ke masalah panas dan jaman. Dulu waktu saya masih di Paris, mengalami musim panas pada bulan Agustus wuah panas kering, sekering moodnya orang-orang yang terpaksa dan yang tidak terpaksa harus tetap tinggal di kota (Paris pada musim panas bisa dikatakan sepi dengan orang lokal yang sebagian besar pergi berlibur). Mood yang kering kadang mengundang keagresifan yang membuat hati menjadi ikut panas dan bertingkah laku edan.



Ayah saya pernah bilang, badan boleh panas tapi pikiran jangan ikutan panas.

Kepanasan yang kita terima baiknya diendapkan didalam hati sampai adem ayem baru diolah jadinya tidak menggosongkan pikiran kita.

Wuih ngomong enak, wong kadang Ayah juga cepet “kepanasan” kok, protes saya.

Beliau tersenyum geli waktu saya protes.

“Iya ya, tapi kan sekarang sudah berkurang kecepatan reaksi panasnya toh, sudah tua saya, sudah jadi kakek”, kelit Ayah.

Lalu beliau berkata bahwa dunia pun menua, jaman pun berubah-ubah dan semakin lama kok ya jaman semakin edan. Apa karena semakin tua jadi semakin edan? Ya mudah-mudahan tidaklah, atau mungkin karena tidak mau terima menjadi tua akhirnya menjadi edan?


“ya embuh lah Yah”, jawab saya.

“Loh kamu jawab embuh itu artinya tidak tahu apa tidak mau tahu?” tanya Ayah.

”Ya dua-duanya, tidak tahu kenapa jadi begini dan tidak mau tahu kenapa harus begini”, jawab saya sejujurnya.





Jawaban itu melompat begitu saja tanpa saya pikir lebih dahulu, keluar dari hati nurani saya yang mungkin juga kelelahan mencari tahu sebabnya. Jaman memang edan, melihat “catatan kehidupan pribadi” saya dulu dimana posisi benar menjadi salah, posisi salah menjadi benar. Mencari keadilan dibilang tidak adil, loh yang adil malah dibilang tidak benar, malah jadi mbalelo.

Ayah saya termangu teringat situasi saat saya “kritis” dimana hari demi hari hanya disibukkan dengan berbagai strategi dan usaha dalam mencari keadilan di dalam badan keadilan hukum Indonesia. Mbalelo!




“Sekarang bagaimana keadaan kamu? Dengan hidup kamu sekarang? “ tanya Ayah dengan harap-harap cemas akan jawaban saya.




Kehidupan saya sekarang?

Ya jauh lebih baik walaupun jaman masih edan dan yang edan masih banyak, walaupun edan semakin menua tetapi edan-edan muda mulai bermunculan menggantikan edan-edan tua yang pensiun. Jaman masih edan, yang edan semakin hebat melesat jauh ke depan, yang tidak edan ya jalan juga walaupun perlahan. Saya pilih yang tidak edan saja walaupun harus jalan perlahan sambil menunduk memperhatikan kerikil-kerikil agar tidak mengenai kaki, menunduk memohon petunjuk kepada Yang Kuasa sang Khalik agar tidak tersesat di jalan karena kebanyakkan menunduk. Dan jalan terus, berhenti kalau lelah, nanti disambung lagi. Waspada dengan keadaan.




Saya bilang tidak mau tahu kenapa jaman harus jadi edan dan orang menjadi edan karena saya memang tidak tahu harus darimana memulai mencari tahu. Terlalu rancu bagi saya. Yang saya tahu dan mau tahu adalah bagaimana membuat diri saya menjadi tidak edan dan keluarga saya menjadi tidak ikut edan. Bagaimana bertahan untuk tidak terbawa arus dengan sang edan walaupun alirannya yang sangat kuat. Bertahan tidak menjadi bagian dari keEdanan mungkin sudah merupakan pengurangan dari orang-orang edan, daripada saya menjadi edan memikirkan bagaimana jaman menjadi edan.



Ayah saya diam duduk tercenung, suara kodok masih bersahut-sahutan lalu beliau menghirup tehnya yang sudah dingin sejak tadi.

“Jadi sekarang kamu bahagia?” tanyanya setelah menghabiskan tehnya yang dingin.

“Bahagia toh tidak ikut-ikutan menjadi edan?” lalu tambahnya lagi sambil tersenyum meringis,

“Saya kok jadi ingat waktu saya dulu masih sekolah lanjutan perwira, saya pernah baca tulisannya Ronggowarsito, yang isinya...”

Amenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Milu edan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lawan waspada”

Hidup didalam jaman edan, memang repot.

Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman

tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.

Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.

R. Ng. Ronggowarsito, Serat-Kalatida, "Sinom", 7


Percakapan malam hari tersebut membuat saya penasaran ingin mencari tahu tentang pujangga Jawa nan terkenal itu. Sepulang dari Kalimantan akhirnya saya mendapatkan tulisan sang pujangga dan tertegun saat membaca penutup dari gubahan Serat-Kalatida, "Sinom"

Sageda sabar santosa

Mati sajroning ngaurip

Kalis ing reh aruraha

Murka angkara sumingkir

Tarlen meleng malat sih

Sanityaseng tyas mematuh

Badharing sapudhendha

Antuk mayar sawetawis

Borong angga sawarga mesi martaya
Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan
serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami

R. Ng. Ronggowarsito, Serat-Kalatida, "Sinom", 12


Terima kasih Tuhan dari kesabaran yang Kau berikan kepada kami.

Untuk mati dari keEdanan.

Kami serahkan jiwa dan raga dan kami...


Mendadak saya mendengar lagi suara kodok-kodok made in Switzerland, menyentakkan saya,

sudah jam tiga pagi...


Kodok ngorek… kodok ngorek…..

Ngorek neng blumbangan…..

Teot…teblung ,teot…. teblung..

Teot teot …teblung…………



Senang bisa berbagi rasa dengan kamu Zev, dan pembaca koki lainnya

Bahagia bisa menjadi bagian dari kalian semua ...



Arita-CH

Batik, Hippies dan Bakso

08.05.2006

Dear Zev,

Hari Senin biasanya merupakan hari yang tidak disukai oleh kebanyakkan orang, sampai-sampai lagunya pun“ tell me why I don’t like monday..” Tapi kalau saya kebalikannya, saya sangat suka dengan hari Senin, karena setiap hari senin “toko kelontong” saya tutup ! Jadi hari ini santai sejenak sambil seperti biasa ngopi di depan kolom Koki yang semakin “aduhai”...


Saat ini saya lagi dalam periode“kewalahan” ngumpulin artikel-artikel untuk mewujudkan buku kedua tentang kebudayaan tradisional suku pedalaman di Pulau Kalimantan ditambah lagi pekerjaan baru dari salah satu instansi kebudayaan di Swiss untuk mengkatalogisasi objek ritual dari salah satu pulau di Indonesia, jadi sekarang situasi saya seperti tenggelam ditumpukkan kertas-kertas dan buku-buku, rumah sayapun menjadi seperti kapal pecah keberatan kertas...


Mumpung lagi seru “ngebutin” artikel budaya Indonesia, -walaupun juga nggak nyambung sama artikel yang sedang saya “geluti” saat ini- saya ingin menambah informasi tentang artikel hari ini di Koki senin 8 Mai 2006, “Afrika, Batik dan juru bicara, -Edwin ST di Stockholm”.


Soal Batik selalu menjadi “masalah klasik” dalam kehidupan saya sebagai seorang Indonesia di Eropa, dari Paris, Zurich sampai Milan, kepopuleran Batik lebih ditemukan dalam Batik Afrika daripada Batik Jawa. Pada saat era tahun 1980 an dimana lukisan Batik dari Bali dan Jogja mem –booming-, kerancuan akan batik Indonesia dan batik Afrika di Eropa pun mengental.

Saat musim panas saya selalu mengenakan kebaya komplit dengan sarung jawa, dan selalu ada saja yang menanyakan kain yang saya kenakan. Jadi saat saya sedang menerangkan kain batik Jawa ke pengunjung, pasti ada saja yang bilang “oh batik, iya saya tahu, dari Afrika toh?” Masih mending dia nggak bilang kalau kata Batik itu juga dari Afrika.




Kebanyakkan yang tahu dan respek bahwa kain batik itu dari tanah Jawa adalah orang-orang Belanda dan Jerman yang sudah berumur diatas 40 tahun. Bahkan ada yang bisa mengenali kalau kain tersebut mempunyai motif “truntum”, “kawung”, “sawit”, dll.

Batik itu sendiri merupakan kesenian yang temasuk dalam kategori antik. Sudah dari sejak jaman baheula, 2000 tahun yang lalu, manusia menemukan teknik membatik. Berbagai catatan dan teori tentang asal usul batik dikemukakan, dari ditemukannya kain batik di daratan Afrika (Mesir) pada tahun 500 sampai dengan salah satu catatan yang menyatakan bahwa teknik batik berasal dari daratan Cina dimana pada periode Dinasti Qin, 221-207 BC, masyarakat cina sudah memiliki kain berlukis dengan teknik batik yang bernama La Xie atau La Ran.

Nun jauh dari Mesir dan Cina, batik pun berkembang ke pelosok sudut hingga mencapai puncaknya di pulau Jawa, Indonesia. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Sebutan batik pun datang dari orang Jawa yakni Ambatik, “amba” yang maknanya menggambar, “tik” yaitu menitik, jadi batik merupakan gambaran indah yang terbuat dari titik-titik dengan menitik menggunakan canting. Yang mana kini nama batik sudah mengglobalisasi ke seluruh bahasa.

Pakaian batik dahulu di pulau Jawa adalah kain resmi dari kalangan ningrat/bangsawan. Dimana para petani perempuan menenun kain, istri-istri para ningrat/bangsawan Jawa mengerjakan batik. Mereka mempunyai waktu luang, kesabaran, dan memiliki tangan lembut yang dibutuhkan dalam pengerjaan batik.

Dari Solo dan Yogyakarta, dengan arus perdagangan dan pelayaran, batik merambah ke pesisir selatan sampai ke peisir utara hingga ke Pulau Sumatra dan Malaysia.

Setelah batik meluas dan berkembang di Indonesia, maka batik pun mulai “melongok” ke benua Eropa. Seorang kapten Inggris, John Saris menulis tentang saat pertama kali kain batik Jawa “bertandang” ke benua Eropa pada tahun 1613 dengan “Woven Cargoes”-Eighth Voyage of the English East India Company, in 1611, The First Voyage of the English to Japan, Toyo Bunka, Tokyo, 1941.

Jadi batik sudah memasuki Eropa sebelum tahun 1960, sebelum masa hippie lahir.

Akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 merupakan era hippie dimana kata hippie sediri merupakan derivasi dari hipster yang digunakan pada masa beatnik generation- sekumpulan orang/pemuda-pemudi yang anti materialistik-, yang akhirnya menyimpang menjadi sekumpulan orang-orang yang menganut paham kebebasan tanpa batas dan “terbang” dengan obat-obatan dan minuman keras. KataHippie sendiri dipopulerkan oleh kolumnis Herb Caen, San Francisco Chronicle dan pada tahun 1966 Gubernur Ronald Reagan menggambarkan bahwa

seorang hippie adalah orang yang berpakaian seperti Tarzan, mempunyai rambut awut-awutan seperti Jane dan bau seperti cheetah!

Nah “orang yang berpakaian seperti Tarzan” ini -kata Reagan loh!- menyumbangkan distribusi yang cukup besar dalam dunia pertekstilan dan mode. Style yang dipopulerkan pada era “flower power” adalah celana panjang dibawah perut dengan potongan melebar di kaki, kemeja “kampung”-maksudnya tambal-tambalan-, tunik berbordir, rok khas “ala petani perempuan ” buatan desainerJessie McClintock Gunne, sandal desainer Anne Kalso, jaket model Moghul dan Nehru, dan sarung batik dan jumputan - Dr. Gary Moss, Hippie Culture Memorabilia, Journal Feature Article May 2002-

Kok bisa sampai ada batik dan jumputan? Ya karena para hippies ini jalannya tidak hanya di Eropa dan Amerika saja, mereka melancong sampai Asia, mungkin juga sampai Bali, tetapi menurut pendapat saya pribadi bukanlah Bali yang mengenalkan batik ke mereka saat itu. Pada era hippie tahun 1960 an, daerah Goa, di India Selatan sangatlah terkenal sebagai tempat hang out para hippie” di Asia, dimana sarung Batik dengan motif Magic mushrooms, circle, dan sarung teknik jumputan menjamur menjadi “trade mark seragam” bagi para hippies.

Tak heran jika teman dari Edwin mengatakan bahwa Batik sama dengan Hippies, karena yang diketahui bukanlah Batik dengan motif Truntum, Kawung ataupun Kain Dodot, tetapi sarung yang berwarna-warni yang menggunakan lilin malam dalam teknik pewarnaan, seperti teknik batik.

Mudah-mudahan Edwin tidak bosan menerangkan tentang Batik dan Indonesia ke teman-teman dan lingkungannya. Saya bangga dengan anda yang mau menjadi juru bicara tentang Indonesia.

Memajukan Indonesia tidak hanya pulang ke Indonesia bawa uang atau sumbangan secara materi tetapi dengan nama baik dan keharuman bangsa akan “mengundang” kembali kepercayaan investor asing untuk invest di Indonesia yang mana bisa menambah lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia.


Oh iya untuk tambahan bukan cuma kata batik yang ngetop di seluruh bahasa, ngomong-ngomong soal makanan, nasi goreng ngetop loh! Kita bisa menemukan nasi goreng dengan tulisan bahasa Indonesia nasi goreng-walaupun rasanya tidak sama dengan nasi goreng tek-tek si abang di Indonesia- di Supermarket (nasi goreng kemasan)sampai menu di salah satu klinik di Luzern, begitu juga dengan kropoek udang dan kecap manis. Satu lagi mengenai kata bakso, saya pernah ditanya apa benar kata bakso asli dari Indonesia, saya menjawab kalau asal muasal bakso saya tidak tahu karena banyak negara-negara yang mempunyai bakso (meatball) dalam masakannya, seperti Albani ‘Qofte të fërguara’, Brazil, 'almondegas', Denmark ‘frikadeller’, German ’Frikadellen’ (sebelah utara) atau ‘Buletten’ (sebelah timur) atau ‘Fleischpflanzerl atau Fleischküchle’ (sebelah selatan), Yunani 'keftedes', Bulgari 'kyufte', Italy ‘polpette’, Norwegia ‘kjøttkaker’, Swedia ‘köttbullar’, Netherlands 'gehaktbal', Turki ‘köfte’, Romania ‘chiftele dan pârjoale’.

Tapi saya tahu kalau kata BAKSO asli dari Indonesia karena bakso pada jaman dulunya entah tahun berapa merupakan singkatan dari IWAK SOTO soto yang ada dagingnya, dimana si abang bakso yang saat memanggul dagangannya yang berat harus teriak IWAK SOTO berulang-ulang yang akhirnya menjadi wak so dan sekarang dikenal dengan BAKSO. Tok, tok, tok,bunyi ketukan kayu si abang bakso yang berteriak” so, bakso”, aduh enaknya makan bakso malam-malam begini, sayang tidak ada abang bakso yang lewat disini, aduh ngilernya aku jadi sama bakso.

Zev, kamu kalau makan bakso, ingat-ingat aku ya, yang lagi mengkhayal dan menghitung waktu untuk pulang ke Indonesia lalu makan bakso tok tok yang lewat depan rumah!


Para pembaca & penulis Koki, ngiler nggak sama bakso...?

Arita-CH

Bekerja di Restaurant

Bekerja di Restaurant
01.06.2006.

Dear Zeverina, kita berjumpa lagi di Tahun yang baru, selamat Tahun Baru untuk Zeverina dan juga para pembaca. Tahun baru, energi baru, semangat baru, batin juga baru karena bertambahnya pengalaman dan hikmat, dan siap untukmenghadapi tantangan baru. Sukses dan damai buat semuanya!


Kali ini surat saya bercerita tentang pengalaman saya dulu sewaktu masih “muda” mungkin tepatnya saat stamina saya memungkinkan untuk tidur hanya beberapa jam perhari.

Pertama kali saya tinggal di Paris, saya sempat kerja di restaurant, tidak tanggung-tanggung 3 restaurant dalam satu hari yang mana saya lakoni selama satu tahun dan akhirnya hanya satu restaurant pada dua tahun terakhir. Jadwal saya mulai dari jam 09:00 pagi sudah bekerja di sebuah kedai kopi hingga jam 11:00,jam 12 :00 siang sudah pindah ke sebuah restaurant wine bar yang menyediakan makan siang hingga jam 15 :00. Jam 16 :30 saya sudah didalam metro menuju restaurant lainnya untuk bekerja lagi hingga pukul 03 :00 pagi.

Saya nyenggol sedikit tentang topik "Tip" yang pernah dimuat, pertama kali saya dapat tip saat itu sejumlah 10 Franc (saat itu 1 Franc sekitar Rp 4’000.-) wah antara senang dan kaget. Senang karena ada tambahan, kaget karena biasanya saya yang suka kasih tip sewaktu masih di Indonesia. Di setiap restaurant dimana saya bekerja, tip selalu dibagi rata setelah usai kerja bahkan sampai koki masak pun menerima pembagian tip. Kadang kala memang ada yang menggerutu saat dapat Tip kecil karena pembagian pun menjadi kecil, tetapi hal itu tidak pernah mengurangi servis pelayanan kami.
Prinsipnya, ada atau tidak mendapat tip, kami sebagai pekerja diwajibkan untuk menomorsatukan pelayanan. Kata “wajib” disini merupakan keharusan karena pemilik restaurant selalu menegaskan hal itu, bahkan ada salah satu pemilik restaurant yang marah-marah saat pelayanan berkurang dan mengancam akan menghapuskan kebijaksanaan “menerima tip” kalau pekerjaan kita masih payah. Sebuah rumah makan bukan hanya menjual makanan tetapi juga pelayanan, tanpa pelayanan tidak akan ada pelanggan yang bertahan hingga bertahun-tahun.


Sebenarnya dengan adanya tip secara tidak langsung sangat membantu para pekerja. Bekerja di restaurant dibayar per jam, tetapi tidak selalu menurut teori benar-benar hingga ke detiknya. Seperti misalnya, saat menutup restaurant kami harus membersihkan semuanya, mengepel lantai dapur, menata meja dan menghitung kembali stock untuk persiapan esok harinya. Hal-hal seperti itu dimana resminya jam kerja selesai pukul 02:00 pagi pada prakteknya menjadi pukul 03:00 pagi atau lebih, yang mana sisa satu hingga dua jam tersebut tidak masuk ke dalam hitungan gaji. Jadi kalau tamu hanya sedikit, yang bibirnya manyun semua orang, pemilik dan pekerja. Mengenai besarnya tip pada dasarnya tidak ada penentuan jumlah tetap, rata-rata memberi 10% dari bon, ada yang lebih ada juga yang kurang.

Mengenai cara pemberian Tip, di Paris (Perancis) dan di Swiss berbeda. Di Paris orang membayar dengan uang, kartu kredit atau cek. Jadi setelah menulis cek atau memberikan kartu kredit atau menerima kembalian pembayaran, mereka lalu meninggalkan uang tip di dalam kotak bon atau piring pipih alas bon. Di Swiss lain lagi, kebanyakan mereka menggunakan uang atau kartu kredit dalam metode pembayaran. Saat pembayaran dengan uang kas, contohnya, total bon sebesar SFr. (Swiss Franc) 120 maka mereka (klien) akan bilang “SFr.140.-“.yang artinya SFr.20.- untuk tip. Minum kopi SFr. 3.-, mereka kasih SFr. 5.- dan bilang “ SFr.4.- S’il vous plaît (tolong)”. Jadi pemberian tip dijumlahkan dengan total bon. Mereka tidak pernah bilang “ambil kembaliannya” karena berkesan superior jadi yang mereka katakan hanya “baik untuk saya SFr. 4.-“.


Selain tip ada satu hal lagi yang ingin saya ceritakan, yaitu tabiat para “Le Parisien” Orang – orang lokal di Paris di restaurant lokal. Satu malam di musim panas yang panas sekali, ada satu meja dengan pasangan yang sedang dimabuk cinta. Mulai dari berpegangan tangan diatas meja, hingga berciuman. Benar-benar panas, sepanas musim panas! Sampai tiba saatnya saya datang ke tempat mereka untuk membawa bon, dan juga untuk pertama kalinya saya bertugas sebagai kasir, ternyata panasnya api cinta mereka memanas dalam hal lain. Seperti biasa, bon saya berikan ke pihak pria, lalu 5 menit kemudian setelah meneliti item yang tertulis, sang Pria berkata dengan tenang, “Sayang,bagian kamu Fr.110.-, bagian aku Fr.100.-“. Sang wanita menaikkan alisnya lalu mengambil kertas bon. 10 detik kemudian sang wanita berkata, “kamu kan juga minum wine dan makan menu x, kenapa hanya bayar Fr.100.-? dengan santai sang Pria menjawab “Sayang aku kan cuma minum satu gelas, kamu tiga gelas, aku makan hanya 25% dari menu, sisanya kamu yang habisin”. Sang cinta pun berubah menjadi ahli ekonomi, masing-masing sewot lalu minta pembuktian sesuai dengan data-data yang ada (2 piring kosong, botol 100% kosong dan 1 gelas 75% kosong milik sang wanita). Wah saya ditengah-tengah mereka jadi bingung, kaget tidak karuan, berdoa mudah-mudahan saya tidak menjadi juri, sampai akhirnya keputusan total pembayaran tetap sang wanita Fr 110.- , sang Pria Fr.100.- dimana sisa 25% wine didalam gelas diminum hingga tetes terakhir oleh sang Wanita karena tidak bisa dikembalikan ke restaurant, dan perdebatan itu sendiri memakan waktu hampir 20 menit. Saya ceritakan hal itu ke pemilik restaurant dan dia bilang bahwa itu adalah hal yang pertama dan permulaan bagi petualangan saya untuk mengenal “orang lokal”, selamat datang di Paris. Dan memang pertengkaran antar pasangan saat pembayaran akhirnya menjadi hal yang rutin bagi saya.
Bukan hanya saat pembayaran bahkan saat pemesanan makanan, sang wanita bilang ingin anggur, sang Pria nyeletuk lebih cepat dan keras “air keran saja”, karena kalau bilang “air” berarti air mineral yang notabene “tidak gratis”.
Yang lebih parah ada satu kelompok dari 5 wanita yang akan makan bersama, menu yang dipilih adalah Fr 90.- per orang, sama untuk semuanya. Satu wanita keberatan karena uangnya hanya Fr. 70.- dan ingin mengambil “ a la carte” atau porsi kecil, empat wanita lainnya tidak setuju dan mulai menggerutu, tidak kompak, tidak seru, etc. Yang hanya punya uang Fr. 70.- mulai pucat dan hampir menangis. Saya jadi tidak tega, kasihan sekali melihat dia, lalu saya tanya dengan manager saya apakah saya bisa menambahkan sisanya (Fr. 20.-), tapi ternyata tidak bisa karena dianggap tidak sopan. Lalu saya tanya lagi kenapa teman-temannya yang berjumlah 4 orang tidak patungan masing-masing Fr. 5.- ? Manager saya hanya bilang, itu kan prinsip, kalau mau keluar makan bareng, minimum ya harus bawa Fr. 100.- di kantong, jadi salah dia sendiri. Wah tidak habis pikir saya, sampai wanita tersebut pulang dengan menangis dan ke empat wanita lainnya dengan santai memesan dan menyantap makanan serta menghabiskan satu malam dengan mengorol dengan asyiknya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Masalah prinsip apa pelit?
Menurut para “Parisien” hal itu merupakan prinsip tapi bagi saya pribadi susah untuk menerima hal tersebut. Setelah tiga tahun bekerja di restauran yang kliennya bisa dibilang hampir 90% orang lokal, saya hampir pukul rata kalau mereka termasuk golongan “ekonom”. Dalam arti mereka bisa menghabiskan sampai Fr 500.- per malam dengan menu komplet dari a-x tetapi saat pembayaran mereka hitung dari a-z. Yang bikin saya susah kalau meja grup 10 hingga 15 orang, masing-masing menunya lain, saya harus patroli satu demi satu menghitung karena bon hanya satu lembar tapi yang bayar banyak dengan jumlah yang berbeda, pusing!



Tentu saja tidak semua Lokal Paris seperti itu, banyak juga yang sederhana, simple langsung bayar (mungkin di rumah hitung-hitungan lagi ya?), sedangkan kalau memasuki restauran “Fine Dining” lain lagi ekonomnya, sang Pria dapat daftar menu dengan harga sedangkan sang Wanita dapat daftar menu tanpa harga, jadi yang wanita mempunyai kebebasan penuh buat memilih tapi yang pria memutuskan pilihan. Biasanya kalau jatuh ke yang mahal maka sang Pria menjadi ahli kuliner yang berkomentar “Sayang, menu itu tidak bagus buat program diet mu” atau “saya tahu yang lebih enak dan sangat cocok dimakan saat musim panas. Ringan dan rendah kolestrol” etc. Sekali lagi, tidak semuanya seperti itu, hanya saja diantara kami para pekerja asing(non perancis), berpendapat hampir 80% “Parisien” berprinsip seperti itu.
Di Swiss lain lagi, pada dasarnya harga menu di Restaurant memang mahal dan kebanyakan orang Swiss memakan dalam porsi kecil, jadi sangat jarang sekali saya menemukan situasi “ekonomis” seperti saat saya di Paris.



Bicara soal restaurant, saya jadi lapar Zev, minggu depan saya pulang ke Indonesia, dan pasti saya akan ke restaurant dimana saya tidak akan menemukan situasi ala “Parisien” ataupun menu porsi “Swiss”, mudah-mudahan juga tanpa formalin, Amin.


Sampai ketemu lagi Zev, dan sekali lagi saya ucapkan “Sukses dan damai buat semuanya!”


Arita-CH