27 October 2009

Danau Superiore, Pegunungan Alpen

Di tayangkan di KoKi Kolom Kita, Jumat, 16 Oktober 2009 
http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/14/902/danau_superiore_pegunungan_alpen 

Seperti musim panas yang telah lewat, musim panas 2009 sama panasnya dan sama gerahnya. Bau lembab di tengah kota serta “serangan” turis dari pojok-pojok Eropa ke Ticino, membuat kami bergegas mempersiapkan diri untuk bersembunyi dalam keheningan alam di atas sana, mencoba mencari matahari sejuk di pegunungan Alpen, tepatnya di lembah Sambuco, dengan ketinggian 2311 m. 

Di musim panas bulan Agustus, pada ketinggian diatas 2000 m, bongkahan salju masih mampu bertahta, sekalipun sebagian daerah kekuasaan sudah menghijau dijarah oleh matahari. Berpose dengan celana pendek dan beralaskan dataran salju, membuat klik foto berpijar, flash flish flosh... Puas dengan klak klik kamera serta cuci mata, Matt, anak lelaki saya, mulai melakukan pemanasan dengan memancing di danau Narèt. Namun tak lama kemudian, para pemancing lainnya mulai berdatangan, dan akhirnya danau ini menjadi penuh dengan pemancing yang berlomba mencari sekail ikan. Sesuai dengan tujuan awal, bersembunyi di dalam alam bebas, maka kami pun kabur, mencari lokasi strategis untuk mendirikan tenda jauh dari kerumunan orang banyak. 

Lembah Sambuco yang diperkaya dengan danau-danau, memberikan banyak pilihan untuk bersembunyi dari keramaian, kamipun turun beberapa meter dari puncak gunung dan memilih berhenti di ketinggian 2128 m, dan menetapkan danau Superiore (“Lag da sura”) sebagai pilihan yang tepat. Memiliki dataran yang lumayan berumput, dekat dengan sungai kecil yang menghubungkan antara danau Superiore (“Lag da sura”) dan danau Sassolo (“Lag bass”), sebagai rumah sementara selama beberapa hari. 


Hoppp... tenda pun dibuka, tepat di pinggir atas “kamar mandi”. Kamar mandi tak beratap, namun penuh dengan sumber air dan tentu saja aliran air yang cukup deras, yang mampu menyapu bersih segala kotoran, baik yang menempel di tubuh, maupun kotoran yang keluar dari dalam tubuh... 



Beberapa jam kemudian, kami mulai melihat tanda-tanda kegagalan dari usaha sembunyi kami, beberapa turis datang melakukan aktivitas selam di danau yang kini menjadi “daerah jajahan” kami. Setelah bla, bla, bla dengan mereka, kamipun berani bernafas lega, karena mereka hanya tertarik dengan dunia bawah air, lalu pulang kembali ke kamar hotel, dengan fasilitas kamar mandi beratap, bernafaskan peradaban moderen. 


Puas dengan lokasi jajahan, di tambah seruput kopi panas menghangatkan perut, kamipun mulai beraksi. Kugelar tikar mempersiapkan acara leyeh-leyeh baca buku disambung tidur siang, sedangkan Matt dan PM sibuk dengan pancingan serta buku petunjuk akan jenis ikan yang boleh dipancing. Kegiatan pancing memancing di Swiss lumayan penuh dengan aturan. Untuk memancing di tempat dengan ketinggian diatas 1000 m dibutuhkan ijin khusus memancing, dan hasil pancingan dibatasi hanya 12 ekor ikan per hari, serta jenis dan ukuran panjang ikan juga ditentukan minimum 23 cm (untuk ikan jenis Trout). 
Sudah beberapa jam, kulihat Matt hanya mendapatkan ikan berukuran kecil, sedangkan ikan berukuran besar tampaknya sedang menikmati acara tidur siang (tampaknya meniru kebiasaan manusia, dimana anak kecil memang paling senang kabur dari acara tidur siang hi hi hi ...). Posisi berdiri Matt mulai bergeser menjadi setengah berbaring, sambil melamunkan hasil tangkapan kelak, atau entah apa yang dilamunkan anak remaja tersebut hanya Tuhan dan Matt sendiri yang tahu, bentuk lamunan di depan air dingin berisikan ikan Trout dan ikan berjenis Salmonidae. 


Sang kala di tengah alam bebas tampaknya berdetak lebih cepat daripada di tengah kota. Perut yang berkriuk-kriuk keras menandakan hampir saatnya makan malam. Cuaca terang benderang yang sangat cerah seolah baru jam 3 sore, tampaknya mengkhianati ketepatan arloji dimana jarum pendeknya menunjuk ke angka 6. Ahhh! Harus bikin tungku api sekarang, karena untuk membuat api dengan kayu bakar bisa membutuhkan 2 jam hingga bara api siap untuk memanggang. Untuk kemping di atas gunung berbatu yang pelit pohon besar dibutuhkan persiapan matang, yang diantaranya adalah membawa kayu bakar sendiri dari rumah, kalau tidak mau gigit jari kelabakan cari kayu bakar di tengah dataran bebatuan dengan ketinggian pohon maksimum 30 cm. 
Dengan menggunakan tumpukan batu-batu gunung yang ada disekitar danau, maka dapur alla Mr. Flinstone pun mulai dibuat, dan acara tiup-tiup api pun kuhembuskan agar kayu-kayu yang sudah kami persiapkan dari rumah, segera terbakar habis. 

Menjelang pukul 8 malam, dari kejauhan terdengar dentang denting lonceng glang gling glung bergaung bersahut-sahutan. Tampak barisan memanjang binatang berkaki empat mendekat perlahan-lahan. Tak lama kemudian terlihat jelas, pasukan kambing menatap dan semakin menuju ke arah kami. Ada kurang lebih ratusan kambing menghampiri, berjalan menuju tenda, seakan tenda kami dirikan di jalur bebas hambatan pasukan kambing tersebut. Sempat ketar-ketir diserbu ratusan kambing, tengok kiri tengok kanan, tidak ada terlihat batang hidung pak gembala, yang ada hanya sang komandan, seekor kambing jantan berbulu hitam memimpin pasukannya dengan embikan keras disambut dentang-dentang kalung lonceng kecil yang tergantung di seluruh pasukan kambing yang berjumlah ratusan. 



Pasukan kambing tersebut sempat mengendus tenda kami, namun untunglah tenda kami berbau plastik, sehingga mereka hanya mencabik rumput-rumput di sekitar tenda lalu meneruskan perjalanan, menyeberangi titian sungai kecil, kamar mandi tak beratap kami, lalu mendaki gunung meneruskan perjalanan mereka pulang ke kandang yang entah terletak dimana. Sangat mengagumkan melihat kemampuan kaki-kaki mereka yang mencengkeram erat, berjalan di lereng gunung bebatuan curam, tanpa perlu tengok kiri tengok kanan. Sejenak sempat diriku merasa iri dengan kambing, namun akhirnya aku bahagia menjadi manusia, karena aku bisa menulis, mana bisa kambing menulis??? 




Hari – hari di gunung, kami habiskan dengan berbagai kegiatan, seperti memancing, baca buku, hiking mengelilingi danau Narèt dan sekitarnya, lalu turun kebawah mencari susu segar dan keju, dan ber-barbeque ria (ini favorite ku, yeaaa!). Di malam hari, belajar ilmu perbintangan, mencari ikat pinggang Orion ataupun membaca masa depan cuaca, meyakinkan diri kalau besok tidak akan ada hujan yang mampir bertamu, mengusir kami kembali ke peradaban moderen...argh! 





Arita - CH

0 comments: