02 June 2009

Obrolan Warung Kopi (2)

20.10.2007.
Akhir dari obrolan warung kopi kah? (Sambungan "Obrolan Warung Kopi (1)")

Dear Zev, kokiers ,kokoers serta para pembaca Kolom Kita seanteronya, bagaimana kabarnya ?Mudah-mudahan adem ayem saja dan tidak keriting ataupun berkerenyit dahi terutama setelah membaca « trinité » tulisan sang suhu JC tentang « liquid gold ».

Terlihat dengan gamblang pisau bermata dua, bentuk dari sang primadona Kelapa Sawit. Namanya saja sudah pisau tentu kegunaannya untuk memotong dimana dengan dua mata pisau, kelapa sawit mampu memotong kemiskinan dan juga mampu memotong kehidupan. Mungkinkah situasi ini bisa digambarkan dengan peribahasa bak makan buah simalakama? Kalau Kelapa Sawit maju maka ekonomi mengalami kemajuan, lapangan pekerjaan bertambah besar sementara lingkungan alam mengalami kerusakkan, binatang-binatang mengalami kepunahan dan manusia kekurangan oksigen. Apakah Biodiesel yang ramah dengan udara non polusi menjadi sebuah senjata pembunuh dari bio (kehidupan) tersebut?

Saya akan mencoba untuk tidak menulis terlalu ruwet dalam menyambung di obrolan warung kopi, karena kalau diurut satu persatu seperti mengupas daun kol yang tebalnya minta ampun banyaknya. Pada intinya Kelapa Sawit merupakan komoditi yang penting dan utama bagi kemajuan dan kerusakkan. Banyak teori yang mengatakan bahwa dengan pengolahan yang baik dan benar secara “sustainable” (exploiting natural resources without destroying the ecological balance of an area) akan menghasilkan kebaikan secara universal dan global. Apalagi dengan adanya penemuan baru kelapa sawit menjadi bio fuel yang menjanjikan masa depan cerah akan berkurangnya polusi dan menurunnya biaya transport. Lalu dengan adanya bio diesel dari kelapa sawit dapatkah ia di kategorikan dalam Renewable energy? Renewable energy dalam bahasa indonesia disebut Energi terbaharui dimana secara definisi juga merupakan energi sustainable, yang berarti mereka tersedia dalam waktu jauh ke depan dimana tidak diperlukan pembuatan perencanaan bila mereka habis karena sifatnya yang bisa diperbaharui. Tidak seperti bensin yang diambil dari fosil, biofuel kelapa sawit bisa selalu diperbaharui dengan adanya penanaman kembali Kelapa Sawit. Tapi sebenarnya apa sih energi terbaharui itu? The Pembina Institute, Canada, mengkategorikan solar energy, Wind energy, Biomass energy, Moving water dalam Renewable energy.

Adapun kondisi bahwa energi tersebut terbaharui adalah

  1. Baik untuk masyarakat dan ekonomi
  2. Mampu meminimasikan polusi udara (dibandingkan dengan polusi dari bensin dan diesel) sehingga dapat dikonsiderasikan “bersih” dan “hijau”
  3. Mengurangi kebakaran hutan
  4. Mempunyai pengaruh yang kecil bagi lingkungan sekitarnya, baik bagi tanah, hutan serta menjaga kelangsungan hidup binatang
  5. Tidak akan pernah kehabisan persediaan dimana persediaan harus bisa tergantikan dalam jangka waktu yang terjangkau

Jadi bagaimana dengan kelapa sawit? Jika memasukkan Kelapa sawit dalam energi terbaharui maka ia termasuk dalam ketegori Biomass energy dimana terminologi "biomass" merujuk ke segala macam bentuk tumbuhan ataupun “animal issue” (kotoran binatang).Lalu sudah layakkah kelapa sawit memenuhi persyaratan sebagai Biomass energi terbaharui? Selama ini yang saya ketahui secara pribadi baru point ke 2 (minim polusi udara dibandingkan bensin dan solar) dan point ke 5 karena bisa dilakukan penanaman ulang, sedangkan untuk point yang ke 1 (baik untuk masyarakat & ekonomi) belum mampu dikategorikan dalam keadilan dan perbaikan ekonomi merata bagi masyarakat, point yang ke 3 (kebakaran hutan) abcd ah buu cape deh ngomonginnya, point yang ke 4 apalagi, kebanyakkan orang utan dibunuh saat memasuki kebun kelapa sawit karena “kelaparan” memakan tunas Kelapa sawit. Jadi bisa dikatakan pada saat ini menurut pendapat pribadi saya hanya 2 point positif berbanding tiga point negatif. Bagaimana bisa dikatakan energi terbaharui kalau ternyata tidak energi sustainable (exploiting natural resources WITHOUT destroying the ecological balance of an area) ?

Yang merasa kewalahan dengan masalah ini tidak hanya para eksportir, yaitu salah satunya adalah Indonesia, tetapi juga para negara importir. Menurut laporan wwf 2002, negara importir kelapa sawit terbesar berasal dari India, China dan Pakistan. Sedangkan 17% bagian dari importir kelapa sawit berasal dari EU dimana Belanda, Inggris dan Jerman menjadi pengimpor utama kelapa sawit.

Apalagi para aktivis lingkungan yang “galak” banyak berasal dari utara atau dengan kata lain orang Eropa, sehingga mereka yang berbisnis dan menjadi importir kelapa sawit dari Indonesia khususnya menjadi kebat-kebit “digusur –gusur” oleh kampanye lingkungan hidup. Bisnis mereka bisa tergusur tanpa pembeli dengan adanya kampanye tersebut, image mereka pun akan berubah dari seorang penjual menjadi pembunuh. Salah satu contoh dari perusahaan besar yang ketar-ketir dengan masalah ini adalah perusahaan dimana saya bertempat tinggal, Migros. Migros didirikan pada tahun 1925 , dimana pada saat tersebut harga pangan yang tinggi membuat para kelas pekerja menderita kekurangan nutrisi sehingga Gottlieb Duttweiler mendirikan koperasi Migros yang menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau. Dengan tujuan akan perbaikan dan pemerataan kehidupan maka Migros pun mulai merasakan tekanan dari para aktivis lingkungan dikarenakan Migros adalah importir Kelapa Sawit. Bermula dari tahun 1999, sebuah koran Tages Anzeiger menulis laporan tentang masalah orang Penan di pulau Borneo. Sekalipun penulis (Andreas Bänziger) tersebut hanya membicarakan tentang pembalakkan kayu ilegal dan terancamnya lingkungan hidup dan orang Penan tetapi secara tidak tersirat “dibisikkan” juga akan adanya pemain kedua yang juga mengancam kelangsungan hutan dan lingkungan. Industri kelapa sawit.

Salah satu isi dari artikel tersebut adalah:

“The unsuspecting consumers are in Europe. The very same environmentally conscious citizens who demand an import boycott of tropic woods originating from an unsustainable production enjoy the rainforest for breakfast. They put it on their lips and use it for keeping their hands tender”.

Walaupun tulisan itu berisikan ajakan untuk memboikot perdagangan kayu, tetapi pihak Migros sadar, cepat atau lambat maka tulisan tersebut akan merubah menjadi ajakan untuk memboikot segala produk yang menggunakan kelapa sawit (margarin, cream pelembut, sabun, dll). Migros pun melakukan serangkaian rapat untuk menghadapi serangan yang masih samar tersebut. Mereka mempunyai dua pilihan, melawan serangan dengan membela diri atau melawan serangan dengan ikut aktif dalam membantu sang penyerang mencari “jalan keluar” permasalahan. Akhirnya Migros memutuskan cara yang terakhir, aktif dalam membantu mencari jalan keluar, dan pada musim panas tahun 2002 Migros berhasil menggandeng WWF untuk mempersiapkan the Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO). Kampanye akan Kelapa Sawit yang sustainable (ramah alam dan lingkungan hidup) dilakukan dengan gencar menggunakan gaya aktivis lingkungan. Dalam laporan tahunan Migros 2002, Migros menekankan pentingnya kelapa sawit yang sustainable karena tanpa adanya “inisiatif sustainable palm oil”dari Migros maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

Migros annual report, 2002:

“We brush our teeth and the Orang-Utan dies. We enjoy an ice cream for dessert and the Sumatra-tiger is deprived of his habitat. We rub cream onto our skin and lead elephants and rhinoceros to misery….”

Hebat kan! Demi kelangsungan sebuah kehidupan (bisnis?) maka para perusahaan besar (Migros, Unilever, Fuji Oil, Cadbury Schweppes, Danisco, The Body Shop, Ferrero, Nutriswiss, Rabobank) mengadakan suatu persyaratan akan penanaman kelapa sawit yang ramah dengan sekitarnya. Segala macam persyaratan yang harus begini dan begitu sehingga para penjual akan dengan tenang mempromosikan dagangannya dan pembeli pun tidak merasa bersalah pada pagi hari saat menyikat gigi dengan odol yang menggunakan kelapa sawit. Penjual dan pembeli bisa merasa “tenang” menjual dan menyantap kue tart sebagai penutup hidangan, tetapi bagaimana dengan produsen dan negara produsen yang dalam hal ini khususnya adalah rakyat kecil Indonesia, sudahkah mulut mereka ditutup oleh kue yang (hanya) bisa disantap setelah (mampu) makan empat sehat lima sempurna? Cukup kuatkah sustainability criteria diterapkan di negara penghasil Kelapa Sawit? Kembali para ahli lingkungan dan organisasi pengembangan di Eropa mempertanyakan keuniversalan dari kriteria tersebut. Bisakah diterapkan di negara yang secara politik lemah dalam masalah sosial, manajemen sumber kehutanan yang lemah, dan memegang “jabatan” tinggi sebagai penghancur hutan pada saat ini? Negara yang letaknya berada di Asia, lebih tepat lagi di Indonesia. Para ahli tersebut menginginkan suatu kriteria yang kuat dan mampu dilacak secara tepat akan kebenarannya.

Tampaknya hal ini mulai dari aksi sustainable hingga kriteria-kriteria baru, mulai menarik picu “kesebalan” dari pihak produsen atau lebih tepatnya para negara berkembang. Setelah menjadi negara maju sesudah “menggunduli hutan” sambil bernyanyi-nyanyi (96% di US dan 90% di Europa) kini mereka (negara maju) mulai seenak udelnya mengatur jangan begini, jangan begitu, jangan dan jangan. Disinyalir oleh para negara berkembang bahwa ujung kata “jangan” dari negara maju adalah menjadi “jangan maju”. Jadi seperti yang ditulis oleh JC, kriteria sustainable “terlihat” lebih menjurus ke non-tariff barriers, begitu pula pendapat Luis Inacio Lula da Silva, President Brazil, negaranya si Raja Soy (Blairo Maggi), yang dengan lantang meneriakkan kata Green imperialism kepada NGO dan ahli lingkungan dari pihak barat/west dan menganggap kriteria sustainable sebagai non-tariff barriers, sehingga ia akan membawa masalah tersebut ke WTO (world trade organization).

Jadi bagaimana situasi dari Biofuel saat ini?

  1. Para ahli mengatakan bahwa kompetisi sumber energi tergantung dari spesifikasi wilayah suatu negara. Yang isinya terlalu ilmiah sehingga orang awam menjadi tidak tanggap dengan ucapan yang panjang lebar tanpa kesimpulan
  2. para kelompok aktivis lingkungan tetap meneriakkan anti biodiesel
  3. WWF hanya bisa mengatakan bahwa memang tidak semuanya biodiesel ramah lingkungan
  4. Swiss kembali mencoba mengembangkan lagi kriteria sustainable di meja bundar
  5. dan Brazil teriak-teriak tidak terima dengan kriteria sustainable karena menghambat perdagangan

Lalu apa kata Indonesia terhadap masalah ini? Jangan kuatir Zev, Kokiers, Kokoers dan para pembaca, Indonesia tidak tinggal diam. Terus terang saya kagum dengan pendapat dari pihak Indonesia dan rasanya Indonesia akan mampu melangkah jika pelaksanaannya konsisten dengan teori dan ide. Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Bapak Rahmat Witoelar berkata dengan gamblang dalam wawancaranya dengan REUTERS (30 Jan 2007) dan menggambarkan logika yang jitu.

“if rich countries want developing nations to preserve their forests, they should not talk about it, they should pay for it.

This crude but effective discursive position means that it is up to the North to decide whether rainforests in the tropics are worth protecting. This strategy - called 'compensated reduction' - is based on economic realism, not on environmentalist idealism.

Witoelar:

"Preserving our forests means we can't exploit them for our economic benefits. We can't build roads or mines [or grow oil palms]. But we make an important contribution to the world by providing oxygen. Therefore countries like Indonesia and Brazil should be compensated by developed countries for preserving their resources."

Sources: “Indonesia's biofuels strategy, a balancing act”, Biopact, 2007

Yeah, seperti dalam salah satu judul pada website Biopact, tertera dengan jelas:

"Pay us and we will not burn down our forests": a look at 'Compensated Reduction' (http://biopact.com/2006/09/pay-us-and-we-will-not-burn-down-our.html)

Waw! Hayoo Bayar! Tetapi, ada tapinya ya, selama pembayaran dianggap sebagai suatu dana kompensasi dan bukan merupakan “dana bantuan” yang nota bene hutang (lagi) secara terhormat, maka dana tersebut akan sangat berguna dalam “pengembalian ekonomi kehidupan”.

Lalu bagaimana pendapat saya dalam liquid gold minyak kelapa sawit? Saya kutip salah satu info dari majalah Der Spiegel September 28, 2006,

“in order to supply just 1 percent of the EU's fuel needs, a 3 million hectar plantation would be required, according to a new study by the World Wide Fund for Nature (WWF).”

Jadi pendapat dan juga mimpi saya hanya sederhana saja, minyak kelapa sawit di produksi di Indonesia dimana rakyatnya masih setengah hidup mengikuti harga minyak goreng, listrik yang tidak jelas nasibnya dan biaya kehidupan yang menaik tak kunjung turun. Kalau dengan kelapa sawit bisa menurunkan biaya hidup negara yang sudah maju, kenapa kita harus mengorbankan hutan demi mereka? Akan jauh lebih bermanfaat memproduksi kelapa sawit dan kegunaannya dengan SKALA HANYA untuk RAKYAT INDONESIA.

Pengelolaan kebun kelapa sawit secara adil bagi rakyat (kecil) setempat, turunkan tarif minyak goreng, tingkatkan daya listrik dan turunkan tarif listrik dengan menggunakan biofuel, minimkan udara Indonesia dengan kendaraan biodiesel dan masih banyak kegunaan kelapa sawit lainnya tanpa harus menghancurkan lingkungan hidup demi negara lain, namun bukan berarti menghalalkan kehancuran hutan demi mengenyangkan perut sendiri tentunya.

Eh setelah saya mau menyelesaikan tulisan ini tiba-tiba suami saya menyeletuk,

“Indonesia belum siap infra struktur, wariskan saja mimpi kamu ke anak cucu”.

Eh enak saja, saya berdoa semoga saya masih hidup saat mimpi saya menjadi nyata!

Bagaimana Bapak Presiden Indonesia yang terhormat? Anda baca Koki juga? Semoga...

Arita-CH

0 comments: