30 May 2007

Pameran Patong 2007. Switzerland

30.05.2007.
Pameran “ Patong. Great Figures Carved by the People of Borneo” di Lugano, Swiss.
Pada tanggal 27 May 2007, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang SH dan isteri Ny. Moenartining Teras Narang SH tiba di Lugano, Swiss untuk menghadiri pameran “ Patong. Great Figures Carved by the People of Borneo”.

Pameran yang bertempat di Galleria Gottardo dan berlangsung dari tanggal 23 May hingga 25 Agustus 2007 diselenggarakan atas kerja sama antara dua institusi yaitu Museum Kebudayaan Lugano (Museo delle Culture of Lugano) dan Galleria Gottardo. Objek yang dipamerkan berjumlah 39 buah yang mana sebagian besar berasal dari suku Ngaju dan Ot Danum Kalimantan Tengah. Beberapa objek lainnya berasal dari Suku Kenyah, Kayan, Kalimantan Timur, suku Iban dari Kalimantan Barat dan Sarawak serta suku-suku lainnya yang ada di Kalimantan.



Dikarenakan sebagian besar objek berasal dari Indonesia, khususnya suku Ngaju oleh karena itu pihak kota Lugano mengundang Duta besar Republik Indonesia Ibu Lucia Helwinda Rustam dan juga mengundang langsung Gubernur Kalimantan Tengah serta menanggung seluruh biaya transportasi dari Indonesia hingga tiba di Lugano, akomodasi selama di Lugano serta kunjungan-kunjungan sosial ke berbagai tempat di Lugano, sebagai wujud penghormatan dan penghargaan akan kebesaran peradaban Kalimantan di Indonesia secara keseluruhan dan kebesaran budaya Dayak Ngaju secara khusus.

Persiapan pameran ini dilakukan dengan melakukan analisa dan penelitian baik secara literatur maupun lapangan, untuk menjelaskan arti dan nilai objek secara ilmiah dilengkapi dengan pendekatan serta pengertian yang didapat dari penduduk setempat, hubungan objek dengan kebudayaan, dan adat.

Pameran ini dilaksanakan atas kerjasama sebuah equipe (tim kerja) yang berasal dari Swiss, Itali dan uluh Ngaju yaitu, Paolo Maiullari, Alessia Borellini, Marta Cometti, Günther Giovannoni dan Junita Arneld seorang uluh Ngaju Katingan yang menetap di Swiss, dibawah koordinasi Direktur Museum Kebudayaan Lugano, Prof. Dr. Francesco Paolo Campione, dan juga turut serta spesialis antropolog dan budaya Kalimantan yaitu Dr. Bernard Sellato dan Dr.Antonio Guerreiro dari Perancis, serta Dra. Nila Riwut uluh Ngaju dari Indonesia.

Pameran yang dibuka pada tanggal 22 May 2007 mendapat sambutan yang sangat antusias dari publik internasional, bahkan dikategorikan sebagai pameran yang sangat penting di seluruh dunia. Nilai tambah dari pameran ini dikarenakan adanya penelitian dan pemaparan secara mendetail dan ilmiah yang mampu membuat “saksi bisu” sejarah peradaban yang hampir punah mengangkat suaranya dan berbicara di hadapan dunia akan kebesaran dan kejayaan sebuah peradaban.

Dengan adanya pameran ini, maka mata serta telinga dunia internasional terbuka lebar-lebar ke Pulau Kalimantan. Pulau yang pernah dikenal dengan nama Pulau Bagawan Bawi Lewu Telo (Riwut, 2003 :3), Burnéi (Stanley, 1874:108), Nusa Tanjung Negara dan Pulo Kalamantan (Saint John, 1847:15). Pulau yang sarat akan kekayaan falsafah hidup, budaya, kesenian serta peradaban yang luhur akan arti sebuah kehidupan yang akrab dan bersahabat dengan alamnya.

Pembicaraan antara Agustin Teras Narang SH dengan Prof. Dr. Francesco Campione tentang pameran Patong di Lugano mencapai suatu kesimpulan bahwa Pameran Patong merupakan sebuah cerminan dari masa lalu dimana budaya dan lingkungan masyarakat Kalimantan bersanding secara harmoni. Merupakan sebuah keterbukaan dalam peradaban modern yang mampu menghormati tradisi yang berhubungan erat dengan alam dan lingkungan. Pencarian kembali serta pemeliharaan akar dari sebuah pohon akan memperbesar dan memperkuat pohon tersebut. Oleh sebab itu pada usia yang ke 50 tahun, Kalimantan Tengah mendapatkan kehormatan tersendiri didalam mengangkat harkat budaya daerah di dunia internasional dengan adanya kerja sama untuk masa yang akan datang antara Agustin Teras Narang SH sebagai Gubernur Kalimantan Tengah serta Prof. Dr. Francesco Campione sebagai Kepala Direktur Museum Budaya Lugano dalam mengadakan pagelaran bersama antara Museum Balanga Palangka Raya dengan Museum of Culture Lugano di Kalimantan Tengah serta pagelaran keliling di luar Pulau Kalimantan, di Eropa pada khususnya.



Pulau yang mana penduduk asli menangis karena “je tempun petak danum manana sare, je tempun uyah batawah belai, je tempun kajang bisa puat” (majelis adat dayak kalteng, 2002:47) saat ini berteriak dihadapan dunia internasional “ Metuh tuh ikei manjadi tuan huma hong dunia internasional dan ikei handak kea manjadi tuan huma hong lewu itah!”.

Lugano, 30 Mai 2007
Junita Arneld Maiullari

0 comments: