02 September 2009

Do Ghosts Live in Your House? (Bagian 2)

Suatu malam di tahun 1987.
Kuberjalan ditengah malam yang buta, bermodalkan lampu senter byar pet plus sinar rembulan yang kadang ada kadang hilang tertutup awan. Kami berempat, aku dan tiga orang teman serdadu wanita, susah payah membaca peta lokasi, mencari pos-pos pemberhentian yang harus kami hampiri. Malam itu merupakan salah satu malam dari malam-malam dimana kami digembleng untuk menjadi Resimen Mahasiswa Jayakarta. Malam – malam dimana kami harus tertatih bangun untuk belajar mengenal situasi dan medan perang. Belajar untuk bisa hidup dan berjuang dalam kesengsaraan di tengah hutan tanpa bantuan siapapun, hanya mengandalkan kerjasama kelompok. Kelompok yang harus dilem erat dengan rasa percaya dan kebersamaan, agar semuanya berhasil lulus dalam menghadapi rintangan apapun.
Malam itu, sudah 3 pos yang kami kunjungi, pada setiap masing-masing pos kami harus menyampaikan berita beruntun yang tidak boleh disimpan dalam bentuk tulisan. Berita-berita tersebut merupakan berita rahasia, sehingga kami harus mengingatnya dengan tepat dan jelas, tanpa merubah satu katapun. Kini, tinggal 3 pos lagi yang harus kami kunjungi. Pos yang ke empat terletak tak jauh dari pos yang ke 3, namun untuk tiba disana kami harus melewati pemakaman umum yang terletak di ujung kampung, terpisah jauh dari peradaban manusia hidup, kami harus menyeberangi peradaban manusia mati, untuk bisa tiba ke peradaban manusia hidup.
Samar-samar bau keras kemenyan mendesak hidung kami, suara burung hantu terdengar dalam dan parau, separau tenggorokan kami yang sudah mulai kering kehabisan air. Beberapa temanku mulai merapat satu dengan lainnya, kami berjalan beriring-iringan dempet memepet seolah tidak cukup ruangan disekitar kami. Dengan menggendong ransel seberat 5 kg dan menyandang senapan Gerund buatan tahun kuda gigit besi, ditambah rasa lelah yang membengkak, aku merasa kesal terhimpit bagaikan tangkupan roti.
Tiba-tiba, suara parau burung berhantu mulai tergantikan dengan suara lengkingan tinggi, terdengar berasal dari semak belakang kuburan. Kami berempat berhenti sejenak, saling memandang satu sama lainnya. Temanku yang menjadi ketua kelompok, segera mengambil kertas perintah yang diserahkan sejak awal perjalanan oleh komandan Kompi, kertas yang berisikan perintah-perintah yang harus kami lakukan pada tempat-tempat yang telah dipilih. Dalam kertas tersebut tertulis, kami harus mencari satu kuburan yang diterangi oleh pendar sebatang lilin kecil, mematikan lilin tersebut, menabur bunga pada kuburan, membaca nama yang tertulis pada nisan, menghapalnya, lalu menyalakan sebatang lilin kecil yang baru, kemudian meneruskan perjalanan. Sebuah pekerjaan yang mudah, kecuali menghapal nama, bagiku sudah terlalu banyak yang harus dihapalkan pada satu malam yang melelahkan. Otakku mulai kelebihan beban, mengingat-ingat paragraf berita rahasia, ditambah lagi nama dari sebuah nisan, oooh!
Mau tak mau kami mulai melakukan pencarian, mencari satu makam dengan sinar dari sebatang lilin kecil, sementara itu, suara lengkingan berubah menjadi rintihan kesakitan mengiris telinga. Kami berempat berjalan cepat meneruskan pencarian, tak sabar untuk segera melewati peradaban manusia mati. Tiba-tiba mata kami terarah ke tengah-tengah komplek pemakaman, diantara deretan nisan yang berjejer tidak teratur, persis ditengah – tengah area, dibawah pohon beringin yang besar, berdiri rindang dan menantang, cahaya lilin lamat-lamat melambai-lambai ke arah mata kami berempat. Kembali kami berempat saling berpandangan satu dengan lainnya, seolah mencari-cari alasan untuk menghindari langkah yang harus kami ayunkan, langkah untuk melewati nisan demi nisan, kuburan demi kuburan untuk tiba di tengah-tengah, dibawah pohon beringin, didepan pendar lilin kecil.
Ketua kelompok kami menganggukkan kepala, tanda kami harus segera melangkah menuju tempat tersebut, dengan setengah berlari kami berjuang untuk mencapai tempat tersebut secepat mungkin. Tak henti-hentinya saya mengucapkan kata maaf berkepanjangan karena tak sempat lagi mengatur langkah untuk tidak melompati atau tidak menginjak “rumah” manusia mati. Suara parau burung hantu kembali terdengar, disambut oleh dengkingan tinggi suara yang merintih, semakin lama, suara dengkingan tersebut berubah menjadi suara tangisan lirih. Kucoba mematikan syaraf pendengaranku, seperti aku mengecilkan volume televisi saat menonton film “Shining”nya Stanley Kubrick, namun tampaknya aku tak terlalu berhasil, ku tak dapat menemukan “tombol mute” di telingaku.
Jantungku berdegup kencang, dentuman demi dentuman memompa alirah darah semakin cepat dan cepat. Tampaknya aku tidak sendirian tersiksa oleh lecutan suara yang bersambung-sambung antara suara parau dan suara lengkingan berganti-ganti dengan rintihan dan tangisan kesakitan. Kaki kami akhirnya tiba di hadapan makam yang diterangi pendaran sinar lilin. Segera kami meniup lilin tersebut dengan kencang bersama-sama, seolah meniup lilin kue ulang tahun. Bunga kutaburkan di atas makam. Ah tidak! lebih cocok jika dikatakan aku membuang cepat semua bunga-bunga beserta kantung plastiknya. Bersama-sama kami melafalkan dengan keras nama yang tertulis di nisan, menghafalnya erat-erat lalu segera kami meletakkan lilin kecil yang baru. Frekuensi suara –suara parau, dengkingan, tangisan semakin meninggi dan semakin sering kami dengar. Ditambah lagi bau kemenyan yang keras bergantian dengan wangi mawar yang mulai menohok syaraf penciuman kami.
Ketua kelompok kami tidak berhasil menyalakan lilin, tangannya yang bergetar selalu menjatuhkan lilin setiap kali dia berhasil membakarnya. Sementara kami mulai membentuk lingkaran punggung dengan punggung. Kami tidak rela membiarkan punggung kami dijawil oleh sesuatu yang tidak masuk dalam kelompok kami. Aku mulai tidak sabar dan setengah berteriak kepada ketua kelompok untuk segera menyalakan lilin tersebut dengan benar, namun rupanya bentakanku membuat ia semakin gugup dan mengalami kesulitan untuk menyalakan korek api gas, seolah-olah ada angin yang selalu meniup mati nyala api yang keluar.
Suara percikan api terdengar semakin cepat, namun tidak ada api yang mau membantu kami menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat. Ketua kelompok mulai komat-kamit berdoa, memohon ampun dan maaf kepada nisan yang diam membisu. Beberapa temanku mulai menangis, bahkan mulai berteriak histeris memanggil-manggil ibu mereka, memohon pertolongan sesegera mungkin. Kepanikan mulai membanjiriku, melumpah ruah dalam jiwaku. Kutatap lekat ketua kelompok yang masih berjongkok komat kamit berdoa didepan nisan, lalu kuberteriak kencang untuk menyadarkan dia, untuk segera menyalakan lilin dan pergi dari tempat tersebut secepat mungkin, namun teriakanku hanya teriakan lolongan di tengah malam buta nan pekat, ketua kelompok kami terjatuh pingsan, sedangkan kedua temanku mulai meracau tak karuan, menangis-nangis di tanah, ketakutan tak terkira.
Suara parau burung hantu, suara dengkingan yang tinggi serta tangisan histeris teman-temanku memecah malam kelam. Dunia peradaban manusia mati mendadak hingar bingar dengan berbagai macam pekak jenis suara, memekakkan telinga, membuatku berpeluh keringat dingin, tertiup angin malam yang lembab. Saat aku nyaris terjatuh dalam ketidaksadaran, aku teringat kembali akan “mantera” dari ayah: tidak ada orang yang mati karena hantu, yang ada adalah banyak orang yang mati karena dihantui rasa takutnya sendiri.
Rasa panas kemarahan meradang cepat dalam diriku, mendidih menyerang otakku membabi buta, gemeletuk gigi menahan kemarahan tidak dapat kutahan lagi, aku berteriak dengan kencang, sekencang-kencangnya, lalu berlari kearah suara parau burung hantu dan suara dengkingan yang semakin tinggi dan tinggi.
AAAAAA!!! Ku ayunkan senapan Gerund buatan entah tahun berapa ke arah semak belukar. Kuteriakkan kata-kata panas mengusir pergi suara-suara tersebut, “Pergi, pergi! Kalian tidak bisa membuatku mati! Kalian tidak sama dengan aku! Dunia kalian tidak sama dengan dunia ku! Aku tidak akan membiarkan kalian memasukiku! Aku tidak akan mati ketakutan! Pergi, pergi! Jangan ganggu kami!!!” Kupukulkan senapan Gerund ke semak belukar, kuayunkan sekuat tenaga berkali-kali. Prak, prak prak! Suara semak belukar pecah terpukul hentakan senapan Gerund yang berat. Saat itulah aku mendengar suara yang lain, bukan suara parau ataupun dengkingan tinggi. Bukan hanya suara prak, prak, prak, semak belukar. Namun suara teriakan yang mengaduh, suara teriakan kesakitan seorang lelaki!
“ADUH! Hentikan, hentikan. Stopppp! Kamu bisa membunuhku!!!”
Kuhentikan ayunan senapan Gerund, kukeluarkan senter kecil dari kantung celanaku. Kusorot bayangan didepan mataku, terlihat seseorang berpangkat kopral menatap garang diriku, lalu bermunculan bayang-bayang hitam lainnya dari balik semak belukar, mendekat membentuk wujud manusia dan salah satunya,... kukenali sebagai seniorku. Aku terpana menganga, mulutku terbuka lebar. Mantera ayah memang mantera terbaik yang paling manjur!
Februari 2007
Penduduk desa tempat kami melakukan penelitian menyiapkan pesta perpisahan. Aku dan suamiku yang bertugas sebagai peneliti, menatap haru akan kebaikan hati dan keramah tamahan penduduk terhadap kami. Kesabaran mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, serta ketelatenan mereka membantu kami, - yang kadangkala terlalu bersikap alla “orang kota” -, untuk beradaptasi, membuat hutang budi yang kami tanggung semakin menggunung. Ditambah lagi pesta perpisahan yang bagi kami merupakan kemewahan yang tak terhingga, digelar dengan tulus dari penduduk desa yang sederhana.
Usai makan malam, kepala desa menyerahkan kepada kami sebuah ukiran kayu berbentuk kapal. Ukiran tersebut dibuat 10 tahun yang lalu dan biasa digunakan untuk mengobati penyakit. Dengan tidak adanya dokter yang rela bermukim di desa yang harus ditempuh berjalan kaki 2 hari 2 malam, membuat desa ini hanya mengenal “dokter” tradisional. Ada kalanya “dokter” tersebut bisa menyembuhkan penyakit, namun tidak jarang juga mendapati pasien yang sudah sekarat tidak mampu tertolong lagi. Ukiran kayu berbentuk kapal tersebut digunakan untuk “menjemput” pulang roh manusia sakit yang tersesat. Dipercayai, manusia jatuh sakit karena jiwanya yang “tersesat”. Hmmm, aku berkata dalam hati, rasa-rasanya di kota-kota besar lebih banyak orang yang mengalami penyakit ini. Orang-orang yang sengaja menyesatkan jiwanya dan jiwa orang lain, demi kepentingan pribadi.
Kami berdua menerima ukiran kayu hitam berbentuk kapal tersebut dengan senang hati, lalu mengucapkan terima kasih setulusnya. Hadiah tersebut kami bungkus dengan hati-hati dan suamiku membawa sendiri hadiah tersebut selama perjalanan. Saat kami tiba di kota yang pertama kami temui, kami mencari losmen untuk menginap semalaman. Letih dan lelah berjalan kaki serta menginap di hutan, membuat kami ingin merasakan sedikit kemewahan akan nyamannya kasur.
Dengan hati-hati suamiku meletakkan hadiah ukiran kapal di atas meja tulis, tepat di depan tempat tidur, lalu bersiap-siap untuk beristirahat. Kami berdua sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk menyantap makan malam, yang ada dalam benak kami adalah segera mencium bantal dan terlelap di alam mimpi.
Tengah terlelap dalam tidur yang dalam, tiba-tiba aku merasa kekeringan yang sangat. Tenggorokanku seolah berada diatas panas api yang membakar. Kubuka kedua belah mataku, tanganku menggapai gelas air putih yang berada pada meja kecil sebelah tempat tidur. Saat kuraih ujung gelas, ujung mata kiriku menangkap sesuatu dari arah meja tulis, tepat di depan tempat tidur. Kubalikkan badanku menatap lurus ke depan, mencoba mengatur fokus mata yang masih setengah terpejam. Dengan sinar terang bulan yang menerobos dari sela-sela lubang angin, kutangkap bayangan meja tulis dengan jelas. Diatas meja tulis tersebut, masih berdiri tegak ukiran kayu berbentuk kapal, hadiah dari penduduk desa. Tidak ada yang aneh ataupun sesuatu yang berubah, hanya saja...
Disebelah kanan meja tulis, dimana ukiran kayu berbentuk kapal berdiri tegak, suatu bayangan hitam berdiri tegak menatapku lekat. Ku buka mataku lebih lebar untuk melihat dengan jelas, seluruh indera syaraf kukerahkan untuk bisa mencerna lebih jauh lagi. Sosok hitam tersebut kini terlihat menjadi sosok seorang lelaki tua yang membawa tombak. Matanya menatap tajam, namun tidak ada kesan jahat ataupun kesan kemarahan. Dengan berpakaian celana panjang serta kemeja berlengan pendek, ia hanya berdiri diam menatapku tak terlekang. Aku menarik nafas panjang lalu menghela perlahan, kutatap balik wujud tersebut dan berkata dengan tenang,
“Pergilah. Aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Dunia kita berbeda dan terpisah, kau dan aku tidak bisa bersatu. Pulanglah dan beristirahatlah. Tugasmu telah selesai.”
Kutatap lekat tak bergerak, bayangan tersebut mulai mengabur dan menipis, lalu perlahan hilang. Terbawa desiran angin yang keluar dari sela-sela lubang angin. Kini dihadapanku hanyalah sebuah meja tulis dengan ukiran kayu berbentuk kapal, masih tegak berdiri. Ku teguk air putih dari gelas yang hanya kupegangi sejak tadi, lalu kembali membaringkan kepalaku. Hari-hari esok yang melelahkan masih panjang. Aku butuh tidur cukup.
Keesokan paginya, kami berdua sarapan di kedai warung tak jauh dari losmen. Suamiku terlihat segar tanda tidur yang cukup, sedangkan aku masih terkantuk-kantuk, rasanya aku masih membutuhkan 10 gelas kopi tubruk. Sambil mengunyah nasi kuning, suamiku menatapku dan bertanya akan kekantukkanku yang kental, jauh lebih kental dari kopi dihadapanku. Kukatakan sambil mengaduk-aduk kopi, kalau aku masih membutuhkan jam tidur yang panjang. Sesuatu telah memperpendek masa tidurku.
“Kenapa? Kamu mimpi buruk?” tanya suamiku.
“Ah entahlah. Mimpi atau bukan, yang pasti aku jadi tidak cukup tidur”, jawabku sambil memesan satu lagi kopi tubruk.
“Aku juga semalam bermimpi. Ah tidak, aku jadi tidak yakin apakah itu mimpi atau kenyataan” kata suamiku sambil menghabiskan nasi kuning.
“Eh? Kamu mimpi apa? Ah maksud ku, kamu melihat sesuatu? Sesuatu yang nyata tapi tidak nyata atau sesuatu yang tidak nyata tetapi nyata” sontak aku menjadi penasaran. Kutunggu ia menghabiskan kunyahan terakhir nasi kuning, lalu mencuci tangannya di dalam mangkok kaca berisikan air bening.
“Entahlah itu nyata atau tidak. Aku merasa semalam ada seseorang lelaki membawa tombak, menatap dan memperhatikan kita. Aku tidak tahu apakah aku bermimpi atau tidak, namun aku terlalu lelah untuk mencerna pandangan tersebut, akupun kembali terjatuh dalam tidur” jelas suamiku sambil melap tangannya yang basah.
Aku teringat apa yang tejadi semalam, dan tampaknya malam itu kita berdua mempunyai mimpi yang sama, ah... atau tepatnya malam itu kita berdua mengalami hal yang sama hanya saja tidak pada waktu yang bersamaan. Kami berdua sama-sama melihat wujud seorang lelaki menyandang tombak, pada malam yang sama. Kuceritakan kejadian yang kualami pada malam itu, suamiku terbelalak keheranan, lalu menghela nafas.
“Selama dia tidak mengganggu kita berdua, biarkan saja dia di alamnya. Kamu benar, alam dia dan alam kita berbeda. Biarkan dia hidup terpisah di alamnya” suamiku lalu berdiri dan merogoh kantung kemeja, membayar makanan dan minuman yang kami santap.
Aku menghela nafas, hmmm... rasanya aku akan mengalami lagi hal-hal seperti ini di masa mendatang. Ku bangkit berdiri berjalan menuju kearah losmen bersama suamiku.
2009
Sontak tersentak aku dari lamunanku. Getaran buzz dari yahoo messenger menggoyangkan layar komputer. Ah..., kutatap halaman MukaBuku (FB) dihadapanku, tulisan tersebut masih ada dilayar. “Do ghosts live in your house? Not the harmful ones.”
Yeaa...not harmful ones lah. Kututup halaman MukaBuku, kubaca pesan yang tertulis di YM dari salah satu sahabatku,
“ woi! Sudah nonton Ju On yang terakhir?”
Kubalas pesan tersebut dengan pertanyaan “yang mana? Ju-on: Shiroi Roujo atau Ju-on: Kuroi Shoujo?”
“Dua-duanya. Sudah lihat belum?”
“Belum! Bagaimana? Seru nggak? tanyaku lagi
“Ya mana gue tahu, justru gua nanya elo dulu. Kalau elo bilang jelek baru gue tonton, kalau elo bilang bagus, gue ogah nonton” jawab sahabatku dengan menampilkan emoticon nyengir kuda.
“Halah! Semprul! Elo kira gue ini barometer film horror yeee?” jawabku gondok.
Lah kan elo yang sering nonton film horror buat relaksasi. Dari seluruh teman yang gue kenal, cuman elo yang bisa tidur ngorok sambil nonton film horror” sanggah temanku dengan emoticon meleletkan lidah.
“Sudah ah, sudah tengah malam nih. Gue ngantuk” jawabku sambil menampilkan emoticon melambaikan tangan.
“Halah kutu! Gue jadi sahabat elo sudah sejak jaman kuliah, mana pernah elo tidur jam 00:00 teng. Boong nih yee...hihihi. Ok deh, sudah jam 5 pagi disini. Gue kudu mandi, hari senin hari macet nih. Dag temannn” sahabatku melampirkan emoticon ciuman lalu terlihat tanda offline di profilenya.
Aku tersenyum sendirian, kutatap suamiku yang sudah terbaring nyenyak dengan hembusan nafas teratur. Ah indahnya tertidur dengan nyenyak, pikirku. Namun saat aku hendak “membunuh” komputer, tiba-tiba aku teringat, ada file movie “Ju-on: The Grudge” dalam komputer. Ahhh, bagaimana ya cerita film itu? Aku kok sudah lupa. Kupasang headphone di speaker komputer lalu kubuka file “Ju-on: The Grudge”. Musik pembuka filmpun bergema memenuhi kedua daun telingaku,

“Dringgggg...............
Crappy thing is coming,
The long hair is twisting around the neck
And the innocent face opens her eyes wide
Do ghosts live in your house?

Ah no, not the harmful ones
Since the harmful ghosts stay still in the movie!”

Arita-CH

0 comments: