02 September 2009

Do Ghosts Live in Your House? (Bagian I)

Suatu malam menjelang dini, tanpa tahu mau bikin apa, kubuka halaman kuis-kuis dari “Muka Buku” (FB). Ahaaa...satu tema kuis membuatku terbelalak penasaran, “Do ghosts live in your house?” hmmm, lumayan daripada celingak-celinguk tak bisa tidur, ku jawab pertanyaan aneh bin ajaib yang menghasilkan satu jawaban dari kuis tersebut, “Not harmful ones”.
Huuu, kesimpulannya jadi ada ghost tapi not harmful ones, maksa deh, weks! membikin aku cekikikan sendiri yang akhirnya membuat aku menerawang kembali, kembali ke masa saat aku berumur 9 tahun...
***
Usia 9 tahun
Hari itu adalah hari pertama aku resmi mendapatkan kamar pribadi. Kamar sendiri, tempat tidur sendiri, lemari sendiri, meja belajar sendiri, semuanya untuk aku sendiri dan aku sendirian...benarkah?
Malam pertama tidur sendiri, aku bahagia sekali, bisa tidur lewat dari jam 9 malam. Sekalipun masuk kamar jam 9 malam, namun aku masih bisa membaca kisah cerita Paman Gembul, Juwita dan Sirik, serta Deni Manusia Ikan tanpa takut kena semprot ibu. Dengan diterangi lampu baca 50 watt, aku mulai terkantuk-kantuk membaca lembar demi lembar hingga rasa kantuk yang keras mulai menekanku untuk menguap kuat-kuat. Gerakan rahang yang membuka lebar membuatku mengangkat wajahku, menatap lurus ke depan pintu. Perlahan kedua biji mataku mulai bekerja keras, mendefinisikan bidikan mata, mencerna dengan otak sebelah kanan yang mengirimkan transmisi untuk mengaktifkan reaksiku, menyimpulkan suatu bayangan lelaki setengah tua, tengah menatapku. Kutatap lekat bayangan tersebut, terasa ringkih tanpa wujud yang jelas. Seolah aku hanya melihat sebentuk asap berwujud lelaki setengah tua, tanpa ekspresi, tanpa rasa, tatapannya lurus memperhatikanku.
Tersentak aku mendengar bunyi pintu ditutup keras dari kamar ayah dan ibu, sekejap mataku berkedip kaget, bayangan tersebut menghilang dari pandangan nanarku. Diriku terpaku kembali menatap daun pintu yang membisu, tanpa satupun wujud bayangan. Ku tak mampu mengerti apa yang telah kulihat. Ku tutup buku, menuju tempat tidur, kalah menyerah terserang rasa kantuk yang membentang luas.
Keesokkan hari saat diriku menyantap sarapan pagi, dengan mulut penuh nasi putih, kuceritakan perihal bayangan lelaki setengah tua kepada ayah. Ayah yang asyik mengunyah hanya berkata “ya” dan “hmm” lalu balik bertanya kepadaku, adakah rasa aneh yang menggigit? Kukatakan ya dan aku tidak mampu mengerti, apakah arti dari semua itu. Ayah kembali meneruskan sarapannya dan hanya menjawab pendek, “Tidak ada apa-apa. Yang penting kamu merasa tidak terganggu dan hal tersebut tidak mengganggu, kan?” Aku mengangguk mantap, kalau ayah bilang tidak apa-apa, ya sudah memang tidak ada apa-apa.
Hari demi hari berlalu, kunikmati kebebasan mempunyai kamar sendiri. Namun kebebasan tidak selalu berarti kenikmatan, aku harus membersihkan kamarku sendiri. Menyapu dan mengepel bersih serta menggosok keras debu yang sering bandel melekat harus kulakukan, sendirian. Enggan melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibu, aku menyingkirkan debu-debu dan menyapunya ke kolong tempat tidur. Terlihat bersih sejauh pandangan mata menatap lurus, namun jangan pernah membungkukkan badan, kolong tempat tidurku bukanlah tempat yang nyaman untuk bersembunyi.
Suatu malam, saat aku tertidur lelap, samar-samar aku merasa tersedak sulit bernafas. Kedua mataku seolah melekat terpejam erat, hidungku tersumbat kuat. Dadaku sesak tak mampu bernafas dengan benar, sesuatu yang berat menimpaku, membuatku tak mampu bergerak. Aku masih sempat bertanya pada diriku sendiri, mimpikah aku? Atau terjagakah diriku dari tidur? Kegelapan membungkusku lekat, kucoba berteriak memanggil ibu dan ayahku, namun hanya gumaman tak teratur yang keluar dari bibir yang terkatup rapat. Kepanikan mulai menjalari diriku, matikah aku? Mampukah aku melihat matahari esok? Dengan segenap tenaga, kucoba mendudukkan diriku, melawan himpitan keras di dada, meronta-ronta berjuang melawan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa yang kulawan. Kutendang kakiku ke kanan dan ke kiri, menyapu apa saja di sekitar tempat tidur yang bisa membuatku terbangun, kedua kakiku bergerak tanpa arah, melawan dengan keras. KRINGGG!!!! kaki kananku menendang jam weker warna hijau muda, jatuh ke lantai yang dingin lalu berdering keras, suaranya yang pekak menyusup cepat ke dalam lubang telingaku, mengguncangkan syarafku untuk bereaksi, membangunkan diri dari perjuangan entah dengan apa. Aku terduduk di pinggir tempat tidur dengan peluh keringat membasahi, terheran tak mampu mencerna kejadian sebelumnya. Ada apakah dengan diriku? Beberapa waktu yang lalu aku menyangka diriku dalam ambang kematian, kini kuterduduk kelu menatap jam weker yang tergeletak pada lantai dingin. Jarum pendeknya menunjuk ke angka 3. Untuk pertama kalinya aku mengenal, apa artinya sebuah rasa takut...
Suatu pagi, ibu mengadakan sidak kebersihan di kamarku. Matanya yang tajam bagaikan rajawali, menyoroti setiap celah dan sudut, hingga kolong tempat tidur, hingga sarang berbagai macam jenis debu menumpuk indah. Mulut ibu mulai mengeluarkan suara yang lebih mirip dengan teriakan, ah bukan..., tepatnya suatu omelan di minggu pagi yang indah. Hari liburku, hari dimana aku tak usah duduk diam belajar, hari dimana aku bisa bermain sepuasnya, menjadi hari yang menyebalkan. Aku terperangkap dengan sikat dan kain pel.
“Kenapa semua bersih kecuali kolong tempat tidur?” tanya ibu yang bagiku merupakan godam hakim.
Aku menunduk menatap lantai, mencoba mencari jawaban pada sela-sela debu, namun hanya desiran angin yang menjawab perlahan, dasar anak pemalas.
“Kamu tahu kalau kamu sedang menciptakan sarang laba-laba? Huh! Satu hari laba-laba itu akan datang dalam tidurmu dan kamu akan mengalami mimpi buruk!” tambah ibu sambil memerintahkan ku untuk menyikat keras tumpukan debu di ujung kolong tempat tidur.
DEK! Kata tersebut menyeretku kembali ke pengalaman buruk beberapa malam yang lalu, saat aku merasa di ambang kematian, saat aku mengenal arti dari sebuah ketakutan. Mataku nanar, seluruh tubuhku bergetar ketakutan, mendadak tanganku bergerak cepat menyikat lantai semakin kuat, mengosok terus dan terus tanpa henti, ku tak sudi mengundang maut, ku tak sudi tersiksa karena rasa malasku. Ibu menatap terheran-heran, keanehan terjadi pada diri anaknya, dari yang pemalas menjadi seorang penyikat lantai yang gigih.
Kutatap wajah ayah di ujung meja makan sambil mencoba merangkai kata-kata pertanyaan. Haruskah kuakui kemalasanku demi sebuah jawaban? Hmmm..., akhirnya kuceritakan kejadian malam itu tanpa menyebutkan keberadaan kerajaan laba-laba di kolong tempat tidurku. Kututurkan rasa ketakutan yang mengangguku, tanpa mengakui bahwa rasa takut itu sangat menghantuiku, rasa takut yang lebih menyeramkan daripada film horror yang dibintangi oleh Suzanna, film yang kuintip dari balik kamar, saat paman asyik menonton di ruang tengah.
Seperti biasa ayah mengomentari dengan gumaman teratur, “hm dan ah”, kudesak ayah nyaris berkata panik, mempertanyakan arti dari semuanya itu.
Ayah menghela nafas lalu berkata, “dulu waktu ayah bertugas di dalam hutan, saat mengadakan patroli ataupun jalan malam, ayah selalu membawa cabai rawit dalam kantong baju. Saat bulu kuduk mulai bergidik dan ayah merasa takut dengan kesendirian, maka yang ayah lakukan adalah menggigit cabai rawit sebanyaknya, hingga rasa pedas menggantikan rasa ketakutan.”
Kutatap ayah terlongo-longo, tak percaya akan jalan keluar yang diberikan. Haruskah kuberbekal cabai rawit untuk menuju dunia mimpi? Bah!
Sejak hari itu, aku mulai melengkapi rasa penasaranku dengan mencoba mengenal lebih jauh arti dari sebuah rasa takut. Diskusi tentang dunia horor mulai kulancarkan satu demi satu dengan teman-temanku, namun kebanyakkan dari mereka menghindari kata-kata tersebut, bagaikan penyakit menular yang dapat menjangkiti dengan hanya sekali mendengar. Kutonton diam-diam film “Exorcist” yang dibintangi oleh Linda Blair. Kubayangkan bagaimana mengatasi rasa takut tersebut, namun yang kudapati hanya kedua tanganku yang menutup rapat biji mataku, aku terperangkap dengan rasa penasaran dan rasa takut.
Satu malam, setelah lelah belajar setengah hidup untuk ulangan umum, aku jatuh tertidur di meja belajar. Tidur yang nyenyak dengan dengkuran yang mirip suara binatang di rumah jagal. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu menekan kepalaku keras menempel meja belajar. Hidungku kembali tersumbat, tenggorokanku kering tak mampu mengeluarkan erangan lirih sekalipun. Badanku terasa berat bertumpu pada meja belajar yang kecil. Aku terserang kembali dengan rasa takut yang kelam. Sekelebat kata ayah akan cabai rawit mencoba membangunkanku, namun ku tersadar tidak ada satu bijipun cabai rawit di sampingku. Tanganku mencoba menggapai sesuatu, apa saja yang bisa menyeretku keluar dari rasa takut. Namun seolah tanganku hanya melayang diudara, tanpa bisa menyentuh sesuatupun. Rasa takutku berubah menjadi rasa marah, aku tidak sudi menjadi seorang korban. Kemarahan yang sangat menohokku dengan geram, kugigit bibirku keras sekuat tenaga, kubayangkan diriku sedang melawan dengan mengigit sesuatu yang sama sekali tidak kukenal, hingga kurasakan aliran hangat disudut mulutku mengucur perlahan, mengundang rasa sakit yang tak tertahankan perihnya. Keperihan demi keperihan menusuk syarafku, membangunkan nalarku, perlahan tekanan di kepalaku mengendur, hingga hilang sama sekali, tergantikan dengan keperihan yang amat pada bibirku. Mataku membuka lebar, warna merah menganga dihadapanku. Buku belajarku sudah basah oleh darahku sendiri. Cepat aku menoleh ke arah jam weker, jarum pendeknya menunjuk ke angka 3, aku menyeringai penuh rasa kemenangan. Aku tidak akan mati hanya karena sesuatu yang aku tidak bisa lihat, sesuatu yang tidak aku kenal, kerajaan laba-laba atau apapun itu namanya, aku telah memenangkan rasa takut itu, sekalipun esok pagi aku akan kesekolah dengan bibir yang membengkak lebam.
September 1986
Huh, mimpi apa harus liburan di tengah hutan, jauh dari kota, jauh dari televisi, jauh dari peralatan elektronik, jauh dari listrik, hanya berteman dengan serangga dan binatang entah apa saja isinya, hiii...
Tak henti gerundelan demi gerundelan mengalir deras dari mulutku. Liburan panjang di kampung halaman tempat kelahiran ayah bukanlah impian seorang remaja yang sedang asyiknya tercandu radio yang menyiarkan “Catatan si Boy” dari stasiun Prambors. Ayah memutuskan untuk membawa aku kembali ke “akar”. Sejak usia 3 tahun, aku belum pernah sekalipun kembali ke kampung halaman. Kini ayah menganggap sudah saatnya aku menoleh ke asal muasal, sebelum melangkah memasuki dunia kedewasaan. Aku yang dibesarkan menjadi produk ibukota, terus bersungut-sungut menjalani jalan setapak menuju kampung ayah tercinta. Mengeluh diam-diam, tanpa daya tak mampu berontak atas kehendak ayah yang sudah tertanam dalam. Sudah hampir setengah hari kami berjalan, sejak turun dari mobil yang membawa kami dari bandara Palangkaraya ke kota terdekat. Ayah tampak asyik berbincang dengan sepupu-sepupuku yang menjemput kami, sedangkan aku berjalan perlahan dibelakang mencoba menyiratkan maksud hati, inilah akhir dunia, huaaa...!
Kami tiba di sebuah perkampungan pinggir sungai. Jalan setapak ditengah rumput yang ditebas kanan kiri terlihat bersih dan asri. Hawa panas matahari tertutup lamat-lamat oleh pohon-pohon tua yang rindang. Sekelompok anak-anak menghampiriku, beberapa seumuran dengan aku. Mereka menatapku dari ujung sepatu hingga ujung rambut, terheran-heran dengan walkman yang ada di saku jaketku. Beberapa dari mereka berbicara dalam bahasa daerah, beberapa mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, jauh lebih baik dari cara aku berbicara dengan teman-temanku yang dipenuhi dengan kosa kata “lo” dan “gue”. Terpana dengan keramahan mereka serta segarnya air kelapa muda, aku mulai mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hmm, tidak ada salahnya mencoba menikmati apa yang ada, mungkin kelak aku bisa bermain “Tarzan kota gagap masuk desa” ditempat ini.
Malam hari datang menjelang, mendadak hari pekat gelap, melebihi kegelapan pekat malam kota yang dipenuhi oleh sinar lampu listrik. Kulihat bibi-bibiku mulai menyalakan lentera satu demi satu, menerangi rumah panggung yang lumayan luas. Hari berlalu dengan cepat disini, matahari serasa enggan berlama-lama menyinari hari-hariku. Aku menghirup udara malam yang sejuk, mencoba memahami ada berapa banyak serangga malam yang bernyanyi berkesinambungan. Beberapa sepupuku mengajak untuk pergi melihat bintang-bintang di tepi sungai, di tempat dimana pohon-pohon besar tidaklah terlalu rindang menutupi pandangan mata menuju cakrawala hitam di atas. Kutengadahkan wajahku, kelap-kelip sejuta, ah seratus juta, ah bukan, bermilyar, ah mungkin lebih tepat trilyun bintang-bintang menghampar luas diatas sana. Bagaikan lampu-lampu kota yang sering kulihat dari teras restaurant di Puncak Pass, bintang-bintang tersebut jauh terang benderang, bagaikan sebuah kota yang padat penat penduduk. Rasanya ingin kembali bernyanyi lagu “bintang kecil”, tapi rasa malu sudah tidak kecil lagi, membuatku hanya mendendangkan gumaman ringan. Rasa damai yang lain mulai menyelimutiku, aku mulai mengenal rasa jatuh cinta terhadap alam.
Rasa tenang itu tiba-tiba terusik oleh satu bintang yang jauh lebih terang dari bintang lainnya. Bintang tersebut berpendar binar berwarna kuning kemerahan. Semakin lama mataku semakin terikat pada satu titik pandang, pada binaran bintang berwarna kuning kemerahan yang semakin membesar dan membesar, hingga berbentuk bundar sebesar bola kasti. Aku masih terpana memandangi bintang tersebut, tak kuhiraukan tarikan tangan sepupuku pada lengan bajuku. Hingga salah satu sepupu berteriak keras di depan telinga kiriku, teriakan yang hampir membuatku mati rasa dan tuli.
LARI!!! Hah? Lari? Kenapa harus lari? Aku masih tidak mengerti maksud dari teriakan tersebut, namun kubiarkan sepupu-sepupuku menyeret tanganku dengan kencang dan berlari bersama mereka. Kulihat lagi sekilas, bintang berwarna kuning kemerahan menjadi semakin besar membulat sebesar bola kaki, indah bagaikan bulan berwarna kuning kemerahan, bulan yang terbakar oleh api, yang mulai melayang ke kiri dan ke kanan. Perlahan rasa takut menjalar, bagaimana mungkin sebuah bintang bisa menjadi bulan? Apakah itu meteorit? Bintang yang jatuh dan terbakar karena gesekan oksigen di bumi? Tapi melihat sepupu-sepupu yang berlari tunggang langgang, aku mulai merasakan bahwa mereka ketakutan akan sesuatu yang lain. Mereka bukan takut dengan bintang yang sedang jatuh, mereka bukan takut pada meteorit. Mereka takut pada bintang itu, bintang yang semakin lama semakin dekat menuju tempat kami, bintang yang seolah-olah mengemudikan arahnya mengikuti kami, kemanapun kami lari.
Kami tiba di depan halaman rumah, satu demi satu kami menaiki tangga rumah sambil mendorong satu dengan lainnya. Pintu masuk kami buka dengan keras dan debuman bantingan pintu kayu yang berat membuat ayah dan paman melongokkan kepala mereka, bingung memperhatikan kami yang termegap-megap kehabisan nafas, meracaukan kata-kata dengan bahasa yang sama sekali tidak dimengerti. Aku yang tidak tahu menahu akan alasan kenapa kami berlari kencang, hanya bisa membelalakkan mata lalu berkata “ada bintang terbakar di depan”. Sementara salah satu sepupuku meneriakkan kata “ada hantu, ada hantu, ada hantu”, seolah-olah kata tersebut bagaikan mantra yang dia ketahui. Bibi datang dengan beberapa gelas dan sekendi air putih, sepupu-sepupuku berebutan meminum air tersebut. Aku yang sudah terlanjur haus sehabis berlari tunggang langgang, tanpa pinggir panjang segera menyambar gelas kopi ayah yang besar. Wekkk! Pahit!
Setelah diriku mampu bernafas teratur dan mencerna terpaksa rasa pahit kopi tubruk tanpa gula, kuberondong ayah dengan pertanyaan-pertanyaan, benarkah bintang berwarna kuning kemerahan adalah perwujudan dari hantu. Kenapa tidak berwujud seperti manusia yang berwajah buruk amit-amit atau berbentuk monster buas bertaring panjang, atau berbentuk seperti Linda Blair yang kesurupan? Ayah tergelak tertawa, disambangi dengan kekehan paman-pamanku. Sebuah pertanyaan dari seorang anak yang overdose menonton film horror secara diam-diam, ahh akhirnya terbuka rahasiaku.
“Itu bukan hantu. Kamu takut dengan hantu? Masak takut? Bukannya kamu sering menonton film horror? Ayah tahu kok, kenapa setiap lihat susunan video selalu berubah-ubah tempat. Siapa lagi yang menonton video tanpa mengembalikan kaset video ketempatnya?”
Argh...bodohnya aku ini, pikirku kesal sambil mengingat, lain waktu akan kukembalikan kaset video persis seperti sebelumnya.
“Hantu jangan ditakuti, karena mereka berbeda dimensi dengan kita, manusia. Dunia mereka dan dunia kita tidak sama. Yang sangat menakutkan adalah manusia, bukan hantu. Tahukah kamu kalau manusia jauh lebih jahat daripada hantu?” tanya ayah membalas pandanganku yang pasti terlihat bloon bin culun.
Hei! Manusia lebih jahat daripada hantu? Maksudnya?
“Yang kamu lihat bukanlah hantu, tetapi sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Manusia yang serakah, yang tidak beriman, yang rela mengorbankan siapapun demi memuaskan keinginan demi tercapai tujuan. Manusia bodoh, lebih bodoh daripada makhluk ciptaan manapun. Itu yang menakutkan. Manusia seperti itu sangat jauh menakutkan melebihi hantu manapun di seantero jagad dunia.” Penjelasan ayah yang panjang lebar malah membuatku semakin tidak mengerti, untunglah salah satu pamanku termasuk orang yang pelit kata, “itu adalah salah satu praktek dari orang yang menjadi dukun ilmu hitam”.
Hah ilmu hitam?! Dukun? Dukun beranak? Atau dukun-dukun yang sering kulihat dalam film-film di televisi yang dibintangi oleh Suzanna dan Barry Prima?
Kembali ayah mengetuk kepalaku dengan buku yang sedang dipegangnya. “makanya jangan kebanyakan nonton film seperti itu, hanya membodohi diri kamu dengan bayangan-bayangan buatan industri film. Lama-lama kamu bisa sakit jiwa dihantui oleh bayangan tersebut.”
Malam itu ayah memberikan kuliah dengan mata pelajaran “dunia lain”; dunia hantu dan dua dunia manusia. Dunia manusia baik dan manusia jahat. Menurut ayah dunia hantu tidak bisa memasuki dunia manusia, namun sebaliknya manusia bisa memasuki dunia hantu, lalu kemudian memanipulasi dan menggunakan hantu-hantu tersebut untuk kepentingan pribadi. Sekalipun hantu tidak bisa memasuki dunia manusia, namun dengan menggunakan media dari manusia sendiri yang sudah “menjajah” dunia hantu tersebut, maka hantu bisa mengganggu keberadaan manusia lainnya. Karena sesungguhnya bukan kekuatan hantu yang bekerja, namun kekuatan manusia. Hantu hanyalah menjadi alat, pihak yang terjajah. Manusia adalah makhluk istimewa yang bisa menjajah tidak hanya sesama manusia, namun juga mampu menjajah alam beserta isinya, termasuk hantu dan gerombolannya.
Malam itu aku mencoba mencerna semua kata-kata ayah, kembali terbayang dalam benakku, peristiwa asap yang berwujud lelaki setengah tua, malam-malam dimana aku merasa ada sesuatu yang menekanku dengan ketat, membuatku sulit bernafas. Ucapan Ayah yang terakhir membuatku perlahan memahami apa yang terjadi pada diriku, ucapan yang masih ku ingat dan kupegang hingga hari ini, ucapan ampuh bagaikan aji mantra yang sakti:
“tidak ada orang yang mati karena hantu, yang ada adalah banyak orang yang mati karena dihantui rasa takutnya sendiri, mati karena kesalahan sendiri, membiarkan rasa takut menguasai melebihi iman.” (bersambung)
Arita-CH

0 comments: