22 December 2009

Kutukan Suster Ngesot

Dimuat di KoKi (Kolom Kita) Rabu, 9 Desember 2009
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1079/kutukan_suster_ngesot

Sambil mengucek-ngucek mata, kutatap pemandangan yang terhampar dihadapan. Lantai berkeramik putih, orang-orang yang berpakaian serba sama dan beberapa perempuan berseragam suster. Satu hal yang membuat mereka semua seragam dan tampak sama, semuanya dalam posisi mendeplok di lantai dan tidak berjalan melainkan semuanya mengesot!

Terpana melihat manusia yang mengesot dengan nyaman di lantai, kusadari bahwa dirikupun sedang dalam posisi setengah berbaring di lantai. Tak percaya dengan situasi yang sedang kujalani, kucubit diriku, meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Namun ternyata, rasa cubitan menjepit sakit dan aku tidak terbangun!

Sambil tertatih kucoba berdiri, melarikan diri dari posisi ngesot, tapi ahhhh rasanya kedua kaki terpaku kaku, tak mampu menegakkan lutut untuk berdiri layak. Akupun terjatuh dan kembali dalam posisi semula, tidak mampu berjalan, hanya bisa mengesot!

Di kejauhan kulihat seorang suster mengesot dengan sigap menghampiriku. Tatapannya yang pasti dan tajam meyakinkanku bahwa dia seorang suster yang profesional dalam bidangnya. Dengan cepat kuajukan pertanyaannya, saat jarak dia dan aku tidaklah terlalu jauh untuk berbicara dengan nada rendah.

“Sus, kenapa saya ada disini, apakah saya sedang bermimpi?”

Suster itu mengerutkan keningnya lalu menjawab dengan tegas.

“Ya, kamu sekarang sedang bermimpi dan kamu berada di tempat kami, dunia kami.”

Hah! Terbelalak aku mencoba meyakinkan, kenapa aku tidak terbangun saat mencubit lengan dengan keras?

“Jadi saya memang sedang bermimpi? Saya ada dimana? Dan kenapa semua orang disini mengesot?”

“Kamu ada di dalam dunia Rumah Sakit Per-ngesotan dan semua yang ada disini harus mengesot, hanya para dokter yang berada dalam posisi berdiri dan bisa berjalan.”

“Semuanya harus mengesot? Termasuk saya? Ah tidak mau! Saya tidak mau mengesot?” jawabku setengah berteriak.

“Kalau tidak mau mengesot, lalu kenapa kamu ada disini, kan kamu sendiri yang memilih untuk memasuki dunia pengesotan, sekarang jalanin saja apa yang ada” balas Suster tersebut dengan sengit.

“Saya kan sedang bermimpi, Sus, mana bisa saya memilih mau mimpi apa. Kalau saya bisa memilih, tidak akan pernah saya memilih untuk memasuki dunia pengesotan ini, hiks hiks” suaraku mulai melemah, tanda tidak tahu harus berbuat apa.

Suster itu mulai menampakkan rasa empati kepadaku, dengan tatapan ramah dia mencoba menghiburku.

“Sudahlah, terima saja apa adanya. Kita memang tidak bisa memilih tempat dimana kita dilahirkan, tempat dimana kita bermimpi. Sekarang, jalanin saja kehidupan mimpimu ini di dunia pengesotan. Terima apa adanya, ya... Sudah cup cup cup, jangan menangis...”

Dengan tersedu aku mulai menyadari bahwa diriku kini memang harus menjalani kehidupan perngesotan di dunia yang serba ngesot. Kini apa yang harus kulakukan? Peran apa yang harus ku ambil dalam dunia ini?

“Sus, saya mau menjadi dokter saja, biar bisa berdiri dan berjalan dengan normal. Bagaimana caranya untuk menjadi dokter?”

Suster cantik nan ramah menghela napas panjang, lalu menerangkan panjang lebar dengan kesabaran optimal layaknya seorang profesional.

“Menjadi dokter di dunia perngesotan itu tidak gampang. Bermodalkan ijasah saja tidak cukup. Mereka harus berjuang dengan keras untuk keluar dari kebiasaan mengesot. Jangan salah, beberapa dari mereka juga dulunya mengesot seperti kami. Namun dengan jalan yang panjang dan berliku mereka berhasil berdiri dan tidak mengesot lagi. Untuk bisa sampai dalam tahap berdiri, ada banyak cara yang dilakukan, dari berkampanye dimana-mana sampai mengorbankan harta dan perasaan, bahkan kadang mereka juga mampu mengorbankan moral, keluarga serta orang-orang yang ada disekitarnya. Mengesot bertahun-tahun sambil meleletkan lidah mendekati para dokter yang sudah berhasil berdiri, lalu mereka menjadi berani nekat mengambil sikap ekstrem mematahkan dengkul dokter yang mereka kenal dengan baik, sehingga mereka dapat mengambil alih posisi berdiri dokter yang kini hanya bisa mengesot beneran karena kondisi kakinya yang patah.”

Hiiii, kok seram begitu usaha dan perjuangan menjadi dokter? Bagaimana aku bisa berkampanye? Satu-satunya yang kupunya hanya baju tidur yang kupakai sekarang. Mana aku tahu harus mengantongi uang dan ijasah sebelum tidur?

“Sus, saya mau mencoba jadi suster saja deh, syarat-syaratnya apa ya?” tanyaku sambil kedap-kedip harap-harap cemas.

Kembali suster menghela napas, sekalipun tidak sepanjang helaan napas sebelumnya, namun jawabannya pun membuat kepalaku tidak berhenti dari rasa bingung dan pusing.

“Jadi suster juga tidak segampang dugaan kamu. Tugas suster itu mengabdi, jadi harus sabar mengatasi keresahan dan kesusahan mengesot para pasien yang mengesot. Sebagai suster, harus mampu menolong sekalipun dalam keadaan mengesot. Tapi jangan sangka kami para suster bersikap seperti itu semua. Ada memang suster yang mengesot dengan tenang dan melayani secara profesional sekalipun dalam posisi mengesot. Ada suster yang hanya pasrah mengesot tanpa berbuat lebih banyak pokoknya yang penting tiap bulan terima gaji. Ada juga suster yang dengan sengaja membuat pasien mengesot melebihi kemampuan dayanya, sehingga pasien tersebut lelah jiwa dan raga, sudah sakit lalu dimanipulir mengesot di lantai untuk mengepel ruangan setiap hari. Ada lagi jenis suster yang mengesot membersihkan tempat tidur pasien plus membersihkan pasien hingga ke kantong baju-bajunya sampai habis dengan alasan birokrasi yang rumit dan ruwet. Nah, sekarang kamu mau jenis suster yang mana?”

Ditanya dengan pertanyaan seperti itu, membuat saya melongo terplongo-plongo. Bagiku menjadi dokter banyak pengorbanannya dari korban harta hingga korban moral dan idealisme, jadi suster pun sama pusingnya, harus bisa memilih menjadi korban diri atau mengorbankan orang lain. Tampaknya aku memang harus memulai dari bawah, menjadi pasien. Sekalipun posisi sudah dibawah, ditambah mengesot dengan terengah-engah, setidak-tidaknya aku bisa mempunyai harapan untuk sembuh dan mampu keluar dari Rumah Sakit Perngesotan ini.

“Sus, saya daftar jadi pasien saja, bagaimana caranya?”

Suster tersebut lalu mengajakku berlalu mengesot ke luar ruangan, melewati taman dan memasuki suatu ruangan besar mirip aula. Dengan terkesot-kesot, aku mengesot terengah-engah melewati batu kerikil yang tersebar di taman, menyeberanginya dengan susah payah karena tidak terbiasa mengesot dengan waktu yang lama.


Tak lama kumasuki ruangan besar dan kulihat antrian panjang orang-orang yang mengesot di lantai. Ada yang sedang duduk mengesot hingga terkantuk-kantuk, ada yang sedang mengopi dengan nikmat, ada yang sedang duduk mengesot sambil membaca buku, ada juga yang asyik mengesot sambil bergosip bla bla bla, bahkan ada yang sedang mengesot sambil arisan.

“Untuk menjadi pasien di Rumah Sakit Perngesotan, pertama harus lapor diri, punya surat pengantar dari RT/Desa, foto copy Kartu Keluarga, foto copy Akte Kelahiran, pas foto hitam Putih ukuran 3x4 cm sebanyak 2 lembar, serta membayar biaya administrasi. Berhubung kamu baru saja mendarat di dunia perngesotan seorang diri, maka untuk surat pengantar, kartu keluarga, akte kelahiran, dan foto, bisa kami bantu membuatkan. Yang penting biaya administrasi harus dilengkapi dengan benar” kata suster cantik dengan nada suara yang mirip dengan orang yang sedang membaca formulir pendaftaran.

“Tapi Sus, saya kan tidak punya uang sama sekali, baju tidur saya pun tidak berkantong, bagaimana saya bisa membayar semua itu?” wajahku pun mulai memelas putus asa.

Suster cantik membelalakkan matanya, persis akting para artis sinetron televisi.
“Ya ampun, kamu ini tidak kreatif sama sekali deh. Hari gini masih basic standard, malu dong sudah jaman 3G masih pakai yang standaran model batu bata. Kalau tidak punya uang ya kerja dong, usaha! Terserah kamu bagaimana caranya. Banyak jalan keluar untuk mendapatkan uang, bisa mengesot sambil mengepel lantai ruangan tunggu, atau mengesot sambil meraup sampah yang banyak keluyuran di taman, atau mengesot sambil mengemis di lampu merah, atau mengesot di tengah jalan berpura-pura menjadi korban, lalu memeras orang. Atau kalau kamu tidak mau memeras orang, ya memeras sapi atau kambing, di halaman belakang rumah sakit ada peternakan sapi dan kambing. Pokoknya usaha dan dapat uang, lalu bayar biaya administrasi sehingga kamu bisa terdaftar sebagai warga dari Rumah Sakit Perngesotan.”

Akhirnya akupun memutuskan diri untuk bekerja dari pagi hingga petang, di mulai mengesot mengepel lantai, membersihkan sampah dan memeras sapi di halaman belakang. Aku memang tidak memilih untuk memeras orang, karena pengalaman pernah diperas oleh orang membuatku trauma dengan peras memeras. Paling apes, aku memilih bekerja untuk memeras pakaian saat mesin cuci rumah sakit tidak berfungsi karena listrik yang byar pet tidak kejuntrungan, kapan hidupnya.


Setelah beberapa hari mengesot dengan keras, susah payah memeras sapi dan pakaian, akhirnya aku berhasil mengumpulkan dana untuk membayar biaya administrasi.
Dengan bangga, diriku mengesot percaya diri, menuju ruangan pendaftaran dengan membawa surat-surat persyaratan dan tentu saja biaya administrasi yang kudapatkan dari kemampuan dan pengalaman memeras sapi dan pakaian selama beberapa hari.

Saat tiba di hadapan petugas administrasi, kuserahkan semua persyaratan dengan senyum mengembang lebar. Petugas itu lalu memeriksa semua persyaratan dan jumlah recehan hasil perasan keringatku, lalu dia menatapku dengan pandangan bingung. Minder takut salah hitung recehan, aku langsung bertanya dengan pelan. “Kenapa Pak? Kurang berapa recehannya, Pak?”

“Biaya rawat inapnya, mana?” Petugas administrasi lalu memberikan selembar kertas yang mirip daftar harga yang sering tertera di iklan supermarket atau papan iklan depan komplek pertokoan. Hanya bedanya, tidak tertulis kata discount 70%, obral ataupun sale.

Yang tertulis adalah jenis kamar tidur dari kelas VIP hingga menurun ke kelas kambing (maksudnya tidur di di halaman belakang dalam kandang kambing), menu makanan setiap hari dari menu restoran bintang lima hingga menu dapur bintang tujuh (juru masaknya pusing karena tidak tersedianya bahan baku makanan), jenis obat yang dipergunakan ada yang kelas manjur atau kelas setengah manjur setengah sakit, atau ada juga pilihan tidak pakai obat sama sekali, mau suster lulusan SMK atau lulusan universitas dengan gelar S1 atau master, mau dokter yang lulusan lokal atau lulusan internasional atau lulusan aspal ijazah boleh nembak (ini yang lumayan murah) atau dokter yang belum lulus dan dipekerjakan gratis secara paksa tidak suka rela di Rumah Sakit Perngesotan (nah ini, yang paling murah!).

Melihat aku yang masih bingung tidak punya recehan lagi, petugas administrasi mencoba menenangkan kegelisahan yang menggelora di dada dengan berkata mendayu-dayu.

“Jangan bingung dan ragu, kami ada untuk membantu dan kami ada karena anda. Kalau kelas anda hanya sampai pada batas recehan dan saat ini anda sudah tidak mempunyai simpanan recehan lagi, maka anda bisa memulai dengan melakukan simpedes, yang artinya simbok mangan pedes.

Anda harus mampu menahan rasa pedas karena anda akan bekerja untuk membayar perawatan anda. Anda akan saya masukkan dalam kelas kambing sehingga anda bisa kembali bekerja memeras kambing, lalu untuk menu makanan sehari-hari akan saya pilihkan menu dapur bintang tujuh dimana anda harus memetik sendiri bahan makanan yang tersedia di halaman belakang, kebetulan tanaman yang ada hanya dedaunan buat makan kambing dan sapi. Tapi jangan khawatir, kami juga menanam pohon cabe untuk memberikan rasa nikmat pada salad anda.

Suster yang akan merawat anda adalah suster yang bertugas dibagian kebersihan, sehingga anda dapat bekerja membantu suster anda dengan mengesot membersihkan lantai, sedangkan dokter pilihan yang tepat untuk anda adalah dokter yang belum lulus dan dipaksa bekerja disini karena tidak lunas membayar hutang administrasi. Dengan demikian, anda dapat bekerja dengan dokter tersebut melakukan foto kopi kertas tugas mereka, berhubung mereka bukan termasuk dokter yang sudah berdiri tapi dokter yang masih ngesot seperti anda, sehingga mereka tidak punya waktu cukup untuk mengesot dari ruang kerja ke ruang praktek lalu ke ruang fotokopi.

Ini nomor anda dan sekarang silahkan mengesot menuju kamar anda di halaman belakang, terima kasih atas kerjasamanya dan selamat beraktivitas, semoga tidak sembuh-sembuh!”


“Tunggu dulu, Pak,” sergahku dengan cepat. “Obat untuk saya bagaimana? Kok tidak ada dalam aplikasi program yang dipilihkan untuk saya?”

Petugas tersebut kembali tersenyum merayu lalu mendayu dengan mesra membisiki telinga ku.
“Anda kan hanya kelas recehan, jadi obat untuk anda ya hanya anda sendiri yang tahu dan anda sendiri yang harus berusaha mencari.

Maaf, sistim sosial kami tidak mengenal dan tidak memiliki program tunjangan sosial. Tapi jangan khawatir, sekali lagi ada jalan keluarnya.

Kalau anda ingin mendapatkan bantuan sosial, anda bisa mencarinya pada pihak swasta dengan menghubungi para rentenir atau turut berpartisipasi saat kampanye, atau juga anda bisa mendatangi orang-orang yang sedang mengumpulkan kekuatan (baik dalam bentuk tenaga maupun doa) untuk menjadi raja kecil, biasanya mereka cukup royal membagi-bagikan recehan.

Semua kemungkinan untuk mendapatkan bantuan sosial bisa anda temukan dalam lingkungan para pasien. Jadi, segala permasalahan anda telah kami atasi. Terima kasih untuk memilih dan mempercayai kami sebagai tempat kehidupan anda.”


Selesai membisikiku dengan mesra, lalu petugas tersebut mendorongku mengesot jauh, meninggalkan tempat pendaftaran.


Terdampar di halaman belakang, di depan kandang kambing, akupun mendengus seperti kambing jantan yang sedang mendengusku keheranan akan bau yang berbeda.

“Huh! Siapa yang memilih dan mempercayai kalian? Kalau bisa memilih, aku tidak akan memilih dilahirkan, eh salah, bermimpi hidup di dunia perngesotan. Kalaupun aku nanti mati, aku tidak akan mau mati dalam keadaan mengesot, bisa-bisa arwahku nanti dibajak oleh produser film kelas semprul untuk dipaksa berakting dalam film dengan judul “setan ngesot cap babak belur”. Tidak!!! Aku harus berusaha sembuh secepatnya dan keluar dari dunia perngesotan ini, sebelum aku menjadi manusia ngesot seumur hidup!”


Mulai hari itu, aku berdaya sekuat tenaga, berusaha untuk menjadi pemeras sapi dan kambing serta pakaian yang gigih, memetiki daun-dedaunan serta cabe sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali ke tengkulak yang biasa menunggu di pintu belakang, mengepel lantai ruangan menjual kemampuan ngesot per meter persegi, membantu para dokter yang belum lulus dan masih ngesot dengan memfoto kopi kertas kerja serta diktat-diktat mereka, sambil membaca dan mempelajari contoh kasus yang tertulis, sehingga perlahan-lahan tapi pasti aku mulai mengetahui bagaimana caranya untuk menyembuhkan diri dengan murah tapi manjur. Kudapati dan kupelajari rahasia kemenangan. Cara untuk memupuk dan menyuburkan harapan dalam diri.


Recehan-recehan yang kutabung mulai membukit serta pengetahuan yang kudapat mulai bertambah. Melihat keadaanku yang mulai membaik, para tetangga sesama pasien kelas kambing yang menghuni di kandang kambing ini, mulai bertanya-tanya. Akupun lalu mulai membagi kiat-kiat tentang adanya keberadaan sebuah harapan, sehingga kami semua mulai belajar sendiri bagaimana caranya menyembuhkan diri sendiri tanpa harus mengeluarkan banyak recehan. Kami mulai menanam harapan dalam jiwa kami.


Semakin lama, usaha kami para pasien kelas kambing mulai menampakkan hasil. Wajah kami tidak lesu seperti wajah kambing yang mau dipotong dan badan kamipun mulai tidak berbau kambing bandot. Jiwa kami mulai dirambahi oleh harapan demi harapan, sehingga kami mampu tertawa lepas bersenda gurau dengan kambing-kambing yang menemani kami dengan setia setiap saat.


Perubahan keadaan kami para pasien kelas kambing rupanya dipantau dengan ketat oleh para pihak atas. Dari para petugas administrasi, para suster, para dokter hingga pihak direksi mulai kebat-kebit melihat keberhasilan dan harapan kami yang memuncak tinggi, yang bisa membuat kami dapat segera sembuh dan keluar dari Rumah Sakit Perngesotan.


Kami dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu kestabilan dan kemakmuran dunia perngesotan. Tak lama kemudian pihak direksi mengirim suster cantik nan ramah yang kutemui saat pertama kali aku tiba mengesotkan diri di dunia perngesotan.


Suster cantik yang kini nan tidak ramah, mendatangiku dengan wajah garang. Membuat kambing-kambing mengembik-embik menyingkir ketakutan. Sementara aku terseot-seot mengesot ke pojok ruangan, berusaha menjauhi suster cantik yang mengesot dengan galak ke arah ku.


“Kamu! Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan, hah? Kamu pikir kamu bisa sembuh begitu saja? Kamu pikir dengan harapan yang ada serta kerja keras mengumpulkan recehan bisa membuatmu keluar dari dunia kami? Hah! Kamu ini kan sedang bermimpi, bagaimana kamu bisa melakukan hal tersebut? Mimpi kamu! Dan teruslah bermimpi! Tidak ada satupun pasien kelas kambing ini dapat keluar dari kandang kambing. Berani melawan kami maka kalian bisa kena gusur. Akan kami porak porandakan kandang kambing ini!”.


Akupun menjadi sewot bagaikan semut diinjak oleh gajah, maka aku segera mengajak semut-semut lainnya untuk membalas menggigit gajah tersebut beramai-ramai.

“TIDAK! Kami tidak akan pasrah mengesot di kandang kambing dan menjadi pasien kelas kambing seumur hidup, memeras kambing dan lalu diperas oleh kalian. Kami akan bekerja, berusaha sekuat tenaga mengesot dengan akal dan pikiran, menyembuhkan diri kami tanpa perlu memeras manusia dan menabung harapan demi harapan. YA! Kami berbeda dengan kalian, kami memang kelas kambing tapi kami mempunyai harapan. Harapan adalah kekuatan kami yang mampu membuat kami bekerja jauh lebih giat dari kalian. Harapan membuat kami menjadi sehat secara rohani dan jasmani. Kami memang pasien kelas kambing, tapi dengan adanya harapan, kami lebih sehat dari kalian. Karena kalian tidak mempunyai harapan!”

Aku berteriak dengan keras membalas tantangan suster cantik nan tidak ramah, begitu juga para pasien kelas kambing mulai meneriakkan yel-yelan “Kami punya harapan. Anda tidak!” secara serentak dan bersama-sama.


Suster cantik nan ramah mulai tidak sabar dan tidak ramah lagi. Ambang kemarahannya sudah meluap melewati titik batas kebanjiran. Dengan gemuruh kilat petir bersambung-sambungan, hujan mendadak turun membasahi kandang kambing yang berlantai tanah. Air mulai memasuki kandang kambing dan petir serta kilat mematahkan tiang bangunan yang terbuat dari dahan pohon kecil.

Suster cantik nan ramah kini terlihat tidak cantik dan tidak ramah lagi. Rambutnya yang tadi bersanggul rapi, mulai lepas terurai awut-awutan. Wajahnya memerah kotor penuh dengan warna merah dari beceknya tanah merah yang basah. Dengan ekpresi wajah yang menakutkan, suster mulai mengesot. Jari telunjuk dari tangan kanannya menunjuk ke kami, tangan kirinya menyentuh tanah, dengan kaki kiri yang menempel ke tanah, ia menggerakkan kaki kanannya ke udara, lalu ia berteriak dengan kencang.

“Ku kutuk harapan kalian menjadi basa basi. Ku kutuk harapan kalian menjadi batu penghalang yang bisa membuat kalian tersandung. Ku kutuk harapan kalian menjadi slogan-slogan manipulasi dalam berkampanye, ku kutuk harapan kalian menjadi boomerang yang akan membuat kalian menjadi budak ngesot seumur hidup, kukutuk harapan-harapan kalian menjadi fitnah nan kejam. YESSSSS!”


Gemuruh kilat saling bergeraman satu dengan lainnya menandakan dimulainya kutukan suster ngesot. Mendadak aku melihat harapan kami mulai layu menjadi kayu mati satu demi satu.

TIDAKKKKKK!

Brak! Pinggulku serasa pedas dan sakit. Lantai kayu dingin menyengat bagian bawah badanku. Mendadak aku menggigil kedinginan, namun aroma kopi segar dan hangat menyergap hidung. Menggelitikiku dengan manja, membangunkanku dari aroma kambing bandot.

“Lho! Kenapa kamu tidur di lantai? Dingin kan. Ayo bangun, kopinya sudah siap.” Suara ajakan tersebut seperti suara yang kukenal, suara orang yang sudah menemaniku bertahun-tahun. Suara orang yang bisa membuat hatiku tergetar saat ia memanggil namaku.

Aku menatap dirinya, lalu mencium kembali aroma kopi hangat, lalu memperhatikan keadaan sekitarya. Aku tidak lagi di dalam kandang kambing yang sedang kebanjiran penuh dengan lumpur tanah merah. Sedangkan manusia dihadapanku bukan lagi suster yang tidak cantik lagi dan tidak ramah lagi, melainkan suamiku. Orang yang sekalipun ramah ataupun lagi tidak ramah tetap aku cintai, apalagi kalau dia sedang rajin menjamahku, ohhh...

“Kenapa sih, kamu ada di lantai? Jatuh ya? Kenapa bisa jatuh?”

“Hiii, aku habis mimpi buruk, hiiii...”

“Hah? Mimpi buruk apa?”

“Mimpi di kutuk suster ngesot. Hiii seram! Dia mengutuk harapan menjadi kayu mati, hiks hiks”


Suamiku bengong, lalu buru-buru memberikan secangkir kopi hangat kepada ku. “Cepat diminum kopi ini. Dan hidupkan kembali harapanmu. Sekalipun dalam mimpi, jangan biarkan seorang pun mematikan harapanmu.”

Segera aku bangkit, girang karena bisa berdiri segera kuteguk kopi hangat, membiarkannya mengalir memanasi perutku yang dingin, menjalar membangunkan harapanku, akan hari yang baru. Akan matahari yang terbit dan selalu terbit keesokkan harinya. Matahari yang selalu ada setiap harinya, yang mampu memberikan harapan hari demi hari dan membakar kutukan suster ngesot!!!


7 Desember 2009

0 comments: