11 March 2010

Perawan ?


Dimuat di KoKi Kolom Kita, Kamis, 11 Maret 2010.

Posted:
“Halo semuanya, kemarin saya mencoba melakukan senam gimnastik artistik untuk pertama kalinya dan saat saya berganti baju, saya melihat ada bercak darah pada celana dalam. Tapi  pada hari ini saya perhatikan, tidak ada lagi tetesan darah yang membercak.
Saya khawatir, apakah selaput dara saya robek? Apakah selaput dara saya benar-benar rusak? Bisakah diperbaiki? Atau sudah terlambat? Apakah saya sudah tidak perawan lagi?
Apa yang harus saya lakukan, tolong saya! Saya takut dan panik!
Apa yang akan saya katakan kepada tunangan saya? Masihkah saya perawan???”


Hal menarik dari orang tua, selalu merasa tau anaknya dan yang terbaik untuk anaknya,” kata-kata indah yang mengalir terketik dari kokier Malam a.k.a. Night membuat saya nyengir tersentak bagaikan kuda yang dipecut. Mengingat kembali saat “pemberontakan masa remaja”, kembali saya nyengir kecut, membenarkan Night, kalau orang tua selalu merasa tahu akan anaknya tanpa menanyakan terlebih dahulu apa sebenarnya yang ada di benak sang anak.

Paragraf pembuka diatas merupakan pertanyaan yang saya temukan dalam forum berbahasa Perancis untuk para remaja dan masalah-masalahnya. Forum yang berdomisili di Perancis tersebut berisikan berbagai macam informasi dan permasalahan seksual para remaja. Mengingat kembali kata-kata mutiara dari Night, saya mulai melihat-lihat forum-forum remaja seusia anak lanang saya, mencoba memahami dan mencerna permasalahan remaja di abad ke 21 ini.

Keperawanan



Permasalahan keperawanan bukan saja permasalahan milik orang Indonesia tapi juga (masih) merupakan permasalahan umum yang berlaku di seluruh belahan dunia ini. Sekalipun mungkin banyak yang beranggapan kalau para “bule” tidak ambil pusing dengan keperawanan, namun di banyak kota-kota kecil yang tersebar di Eropa, keperawanan masih dianggap sebagai hal yang utama.

Salah satu remaja yang menjawab pertanyaan diatas berpendapat bahwa keperawanan sama dengan kesucian (pureté). Kesucian yang berarti harga diri mereka tidaklah semurah dengan bercinta hanya berdasarkan keingintahuan ataupun rasa penasaran belaka. Masih banyak para remaja bule tersebut yang memimpikan saat-saat pertama kali bercinta dengan orang yang benar-benar mereka cintai dan membuktikan bahwa lelaki tersebut adalah yang pertama (dengan harapan yang terakhir) yang membuat darah keperawanan mereka menetes keluar.

Namun bagaimana dengan kasus diatas? Selaput dara gadis itu terkoyak karena melakukan aktivitas olahraga. Dirinya menjadi kalut dan bingung. Kepanikan menjalari dirinya, percayakah sang tunangan kalau selaput dara tersebut koyak bukan karena kopulasi?
(jangan berharap mereka mengenal Gigimo, sekalipun internet menjadi “makanan” mereka sehari-harinya, namun Gigimo tidak tercantum dalam kamus pergaulan mereka).

Beberapa remaja menjawab dengan tegas bahwa gadis tersebut masih perawan, selama alat kelamin pria tidak berprenetasi. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa keperawanan tidak diukur dengan setetes darah namun lebih menekankan kejujuran bahwa percintaan yang mereka lakukan memang untuk yang pertama kali dalam kehidupannya. Mereka mengatakan kepada gadis itu untuk memberitahu sejujurnya kepada sang tunangan kalau aktifitas olahraga telah mengoyak selaput dara sehingga ada kemungkinan gadis tersebut tidak akan meneteskan darah keperawanan pada malam pertama. Kalaupun tunangan dari sang gadis tersebut tidak mempercayainya, mereka menyarankan untuk memutuskan dengan segera hubungan tersebut dan tidak ada gunanya lagi meneruskan hidup bersama-sama dengan seorang lelaki seperti itu.

Namun, beberapa orang menjawab lain. BELUM tentu semua lelaki bisa mempercayai kata-kata tersebut. Apalagi bagi mereka yang hidup dalam lingkungan keluarga yang masih menganut pentingnya tetesan darah keperawanan. Bukan hanya kepada sang suami kelak sang gadis harus mempertanggungjawabkan keperawanan namun juga kepada keluarga dari kedua belah pihak lelaki dan perempuan. Ayah sang gadis akan merasa malu karena telah gagal mendidik anaknya menjadi wanita yang “mulia” sedangkan ayah sang lelaki merasa malu karena merasa telah menikahkan anak lelakinya dengan seorang perempuan murahan.

Obsesi terhadap keperawanan perempuan & Sodomi
Masalah keperawanan dan hubungannya dengan keluarga di kedua belah pihak yang kelihatannya hanya mungkin dapat ditemui di Indonesia, ternyata masih menjadi masalah utama, pada abad ke 21 ini di benua Eropa yang terkenal dengan kebebasan. Di beberapa tempat dan komunitas Eropa, keperawanan masih sama dengan kesucian. Sekalipun definisi perawan bagi sebagian jawaban remaja yang saya baca di forum ini adalah seseorang perempuan yang sama sekali belum pernah melakukan coitus, namun tetap saja tetes-tetes darah keperawanan masih menjadi mahkota sekaligus momok bagi para perempuan.

Salah satu dari para remaja di forum ini menjawab dengan pertanyaan, “ Mengapa ada begitu sedikit orang-orang yang memahami kami para perempuan? Mengapa tidak ada yang mempertanyakan keperawanan lelaki? Bahkan di luar konteks agama, keperawanan perempuan tampaknya memiliki kepentingan simbolis jauh lebih besar daripada para lelaki. Hal ini membuat saya bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Obsesi akan keperawanan dalam kehidupan para sebagian kulit putih ternyata tetap menjadi masalah besar. Sekalipun di luar konteks agama, ternyata tetap saja arti tetesan darah keperawanan adalah prioritas utama dalam membangun satu hubungan, membuat mereka berusaha dengan berbagai cara untuk tidak terjadi pertumpahan tetesan darah sebelum waktunya. Berbagai cara dicoba dan ditempuh, sekalipun harus masuk dalam kategori ektrim yang tinggi.

Membaca lebih jauh posting-posting dalam forum ini, saya menjadi terbatuk-batuk kaget hampir terjengkang jatuh dari kursi rotan yang selalu berdenyit setiap saat. Sekali lagi saya ingatkan, Gigimo tidak populer dan bisa dikatakan tidak dikenal dalam kehidupan mereka, sehingga untuk mempertahankan pertumpahan darah, beberapa dari mereka, yang memang pada dasarnya ingin melakukan hubungan seksual belaka dengan dasar penasaran dan keingintahuan, nekat melakukan hubungan seksual dengan ber-sodomi ria!!!

Dalam bahasa perancis, untuk mendeskripsikan hubungan seksual ada 2 kata yang digunakan, faire l’amour (berhubungan seksual karena cinta/bercinta) dan baiser (berhubungan seksual dengan atau tanpa cinta). Umumnya mereka menulis perbuatan sodomi dengan menggunakan kata “baiser” yang berkonotasi lebih ke aktivitas hubungan seksual belaka yang dilakukan (kebanyakan) didasarkan oleh rasa ingin tahu dan mencari sensasi  dalam melakukan kegiatan seksual.

Masa-masa remaja dimana tingkat hormon meningkat dan sensasi kenikmatan mulai mengintip dari balik celana, rasa penasaran mulai melompat dan melonjak hingga mencapai ubun-ubun.  Berhubung keperawanan adalah mahkota yang (masih) harus ditenteng bersama dalam melakukan percintaan (faire l’amour), sedangkan ubun-ubun yang mulai “retak” terdorong oleh keinginan untuk menikmati sensasi kenikmatan seksual tidak mau menunggu malam pertama, maka pintu belakang pun dibuka “demi melindungi” tetesan darah dari gerbang utama...

Posted : Il m’a baisé hier soir et je suis encore vierge! (tadi malam dia meniduri saya dan saya tetap masih perawan)
Para pembaca...
Apakah gadis yang selaput daranya sudah terkoyak karena olahraga masih perawan?
Apakah gadis yang melakukan hubungan “pintu belakang” dan selaput daranya utuh, masih (disebut) perawan?


Penutup
Belum selesai membaca semua posting yang ada dalam forum itu, mata saya mulai berkunang-berkunang, kepala saya mulai cenat-cenut, sementara tenggorokan ini kering, setengah mati mencoba menelan dan menelaah situasi remaja di abad ke 21 ini. Rasanya, saya membutuhkan waktu sebentar untuk balik kembali menyepi di gunung setan (les Diablerets)...


Catatan kaki:
Dalam bahasa perancis, kata "enculé !" (terjemahan langsung: seks anal) merupakan kata makian yang paling kasar di Perancis. Pada abad ke 4, sejak kaisar Konstantinus berkonversi menjadi Kristen, perbuatan sodomi merupakan kejahatan besar dan pelaku tindak sodomi dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Beberapa waktu kemudian, perburuan pelaku tindak imoral dan para penyihir meningkat dengan drastis. Untuk menghukum mereka, para tersangka dijatuhkan dakwaan sebagai pelaku tindak sodomi dan dibakar hidup-hidup.
Lama-lama, penggunaan dakwaan tindakan sodomi disalah gunakan untuk menyingkirkan lawan ataupun orang-orang yang tidak disukai, sekalipun dengan posisi penting dan kedudukan kuat dengan adanya tuduhan melakukan sodomi, mereka tidak akan luput dari hukuman.
Pada saat itu, jika seseorang memaki dengan kata “enculer” maka  resiko yang dihadapi oleh orang yang dimaki dapat berakibat hukuman di bakar hidup-hidup. 


Images: Junita Arneld Photograpy

0 comments: