29 May 2009

Batik, Hippies dan Bakso

08.05.2006

Dear Zev,

Hari Senin biasanya merupakan hari yang tidak disukai oleh kebanyakkan orang, sampai-sampai lagunya pun“ tell me why I don’t like monday..” Tapi kalau saya kebalikannya, saya sangat suka dengan hari Senin, karena setiap hari senin “toko kelontong” saya tutup ! Jadi hari ini santai sejenak sambil seperti biasa ngopi di depan kolom Koki yang semakin “aduhai”...


Saat ini saya lagi dalam periode“kewalahan” ngumpulin artikel-artikel untuk mewujudkan buku kedua tentang kebudayaan tradisional suku pedalaman di Pulau Kalimantan ditambah lagi pekerjaan baru dari salah satu instansi kebudayaan di Swiss untuk mengkatalogisasi objek ritual dari salah satu pulau di Indonesia, jadi sekarang situasi saya seperti tenggelam ditumpukkan kertas-kertas dan buku-buku, rumah sayapun menjadi seperti kapal pecah keberatan kertas...


Mumpung lagi seru “ngebutin” artikel budaya Indonesia, -walaupun juga nggak nyambung sama artikel yang sedang saya “geluti” saat ini- saya ingin menambah informasi tentang artikel hari ini di Koki senin 8 Mai 2006, “Afrika, Batik dan juru bicara, -Edwin ST di Stockholm”.


Soal Batik selalu menjadi “masalah klasik” dalam kehidupan saya sebagai seorang Indonesia di Eropa, dari Paris, Zurich sampai Milan, kepopuleran Batik lebih ditemukan dalam Batik Afrika daripada Batik Jawa. Pada saat era tahun 1980 an dimana lukisan Batik dari Bali dan Jogja mem –booming-, kerancuan akan batik Indonesia dan batik Afrika di Eropa pun mengental.

Saat musim panas saya selalu mengenakan kebaya komplit dengan sarung jawa, dan selalu ada saja yang menanyakan kain yang saya kenakan. Jadi saat saya sedang menerangkan kain batik Jawa ke pengunjung, pasti ada saja yang bilang “oh batik, iya saya tahu, dari Afrika toh?” Masih mending dia nggak bilang kalau kata Batik itu juga dari Afrika.




Kebanyakkan yang tahu dan respek bahwa kain batik itu dari tanah Jawa adalah orang-orang Belanda dan Jerman yang sudah berumur diatas 40 tahun. Bahkan ada yang bisa mengenali kalau kain tersebut mempunyai motif “truntum”, “kawung”, “sawit”, dll.

Batik itu sendiri merupakan kesenian yang temasuk dalam kategori antik. Sudah dari sejak jaman baheula, 2000 tahun yang lalu, manusia menemukan teknik membatik. Berbagai catatan dan teori tentang asal usul batik dikemukakan, dari ditemukannya kain batik di daratan Afrika (Mesir) pada tahun 500 sampai dengan salah satu catatan yang menyatakan bahwa teknik batik berasal dari daratan Cina dimana pada periode Dinasti Qin, 221-207 BC, masyarakat cina sudah memiliki kain berlukis dengan teknik batik yang bernama La Xie atau La Ran.

Nun jauh dari Mesir dan Cina, batik pun berkembang ke pelosok sudut hingga mencapai puncaknya di pulau Jawa, Indonesia. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Sebutan batik pun datang dari orang Jawa yakni Ambatik, “amba” yang maknanya menggambar, “tik” yaitu menitik, jadi batik merupakan gambaran indah yang terbuat dari titik-titik dengan menitik menggunakan canting. Yang mana kini nama batik sudah mengglobalisasi ke seluruh bahasa.

Pakaian batik dahulu di pulau Jawa adalah kain resmi dari kalangan ningrat/bangsawan. Dimana para petani perempuan menenun kain, istri-istri para ningrat/bangsawan Jawa mengerjakan batik. Mereka mempunyai waktu luang, kesabaran, dan memiliki tangan lembut yang dibutuhkan dalam pengerjaan batik.

Dari Solo dan Yogyakarta, dengan arus perdagangan dan pelayaran, batik merambah ke pesisir selatan sampai ke peisir utara hingga ke Pulau Sumatra dan Malaysia.

Setelah batik meluas dan berkembang di Indonesia, maka batik pun mulai “melongok” ke benua Eropa. Seorang kapten Inggris, John Saris menulis tentang saat pertama kali kain batik Jawa “bertandang” ke benua Eropa pada tahun 1613 dengan “Woven Cargoes”-Eighth Voyage of the English East India Company, in 1611, The First Voyage of the English to Japan, Toyo Bunka, Tokyo, 1941.

Jadi batik sudah memasuki Eropa sebelum tahun 1960, sebelum masa hippie lahir.

Akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 merupakan era hippie dimana kata hippie sediri merupakan derivasi dari hipster yang digunakan pada masa beatnik generation- sekumpulan orang/pemuda-pemudi yang anti materialistik-, yang akhirnya menyimpang menjadi sekumpulan orang-orang yang menganut paham kebebasan tanpa batas dan “terbang” dengan obat-obatan dan minuman keras. KataHippie sendiri dipopulerkan oleh kolumnis Herb Caen, San Francisco Chronicle dan pada tahun 1966 Gubernur Ronald Reagan menggambarkan bahwa

seorang hippie adalah orang yang berpakaian seperti Tarzan, mempunyai rambut awut-awutan seperti Jane dan bau seperti cheetah!

Nah “orang yang berpakaian seperti Tarzan” ini -kata Reagan loh!- menyumbangkan distribusi yang cukup besar dalam dunia pertekstilan dan mode. Style yang dipopulerkan pada era “flower power” adalah celana panjang dibawah perut dengan potongan melebar di kaki, kemeja “kampung”-maksudnya tambal-tambalan-, tunik berbordir, rok khas “ala petani perempuan ” buatan desainerJessie McClintock Gunne, sandal desainer Anne Kalso, jaket model Moghul dan Nehru, dan sarung batik dan jumputan - Dr. Gary Moss, Hippie Culture Memorabilia, Journal Feature Article May 2002-

Kok bisa sampai ada batik dan jumputan? Ya karena para hippies ini jalannya tidak hanya di Eropa dan Amerika saja, mereka melancong sampai Asia, mungkin juga sampai Bali, tetapi menurut pendapat saya pribadi bukanlah Bali yang mengenalkan batik ke mereka saat itu. Pada era hippie tahun 1960 an, daerah Goa, di India Selatan sangatlah terkenal sebagai tempat hang out para hippie” di Asia, dimana sarung Batik dengan motif Magic mushrooms, circle, dan sarung teknik jumputan menjamur menjadi “trade mark seragam” bagi para hippies.

Tak heran jika teman dari Edwin mengatakan bahwa Batik sama dengan Hippies, karena yang diketahui bukanlah Batik dengan motif Truntum, Kawung ataupun Kain Dodot, tetapi sarung yang berwarna-warni yang menggunakan lilin malam dalam teknik pewarnaan, seperti teknik batik.

Mudah-mudahan Edwin tidak bosan menerangkan tentang Batik dan Indonesia ke teman-teman dan lingkungannya. Saya bangga dengan anda yang mau menjadi juru bicara tentang Indonesia.

Memajukan Indonesia tidak hanya pulang ke Indonesia bawa uang atau sumbangan secara materi tetapi dengan nama baik dan keharuman bangsa akan “mengundang” kembali kepercayaan investor asing untuk invest di Indonesia yang mana bisa menambah lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia.


Oh iya untuk tambahan bukan cuma kata batik yang ngetop di seluruh bahasa, ngomong-ngomong soal makanan, nasi goreng ngetop loh! Kita bisa menemukan nasi goreng dengan tulisan bahasa Indonesia nasi goreng-walaupun rasanya tidak sama dengan nasi goreng tek-tek si abang di Indonesia- di Supermarket (nasi goreng kemasan)sampai menu di salah satu klinik di Luzern, begitu juga dengan kropoek udang dan kecap manis. Satu lagi mengenai kata bakso, saya pernah ditanya apa benar kata bakso asli dari Indonesia, saya menjawab kalau asal muasal bakso saya tidak tahu karena banyak negara-negara yang mempunyai bakso (meatball) dalam masakannya, seperti Albani ‘Qofte të fërguara’, Brazil, 'almondegas', Denmark ‘frikadeller’, German ’Frikadellen’ (sebelah utara) atau ‘Buletten’ (sebelah timur) atau ‘Fleischpflanzerl atau Fleischküchle’ (sebelah selatan), Yunani 'keftedes', Bulgari 'kyufte', Italy ‘polpette’, Norwegia ‘kjøttkaker’, Swedia ‘köttbullar’, Netherlands 'gehaktbal', Turki ‘köfte’, Romania ‘chiftele dan pârjoale’.

Tapi saya tahu kalau kata BAKSO asli dari Indonesia karena bakso pada jaman dulunya entah tahun berapa merupakan singkatan dari IWAK SOTO soto yang ada dagingnya, dimana si abang bakso yang saat memanggul dagangannya yang berat harus teriak IWAK SOTO berulang-ulang yang akhirnya menjadi wak so dan sekarang dikenal dengan BAKSO. Tok, tok, tok,bunyi ketukan kayu si abang bakso yang berteriak” so, bakso”, aduh enaknya makan bakso malam-malam begini, sayang tidak ada abang bakso yang lewat disini, aduh ngilernya aku jadi sama bakso.

Zev, kamu kalau makan bakso, ingat-ingat aku ya, yang lagi mengkhayal dan menghitung waktu untuk pulang ke Indonesia lalu makan bakso tok tok yang lewat depan rumah!


Para pembaca & penulis Koki, ngiler nggak sama bakso...?

Arita-CH

0 comments: