29 May 2009

Kangen


12.07.2006.

Dear Zev dan para pembaca lainnya,

Hari minggu 9 Juli yang telah lewat merupakan puncak acara dari pertandingan sepak bola dunia, dimana pada hari tersebut juga menjadi moment penting bagi suami dan mertua yang menjagokan Italia. Kami semua berkumpul di rumah mertua untuk nonton bersama-sama, komplit, tiga bersaudara plus satu menantu. Sayang tidak ada singkong goreng dan combro buat cemilan, hanya Pizza ala mertua yang menjadi cemilan plus makan malam depan televisi.

Saya yang “buta” akan dunia persepakbolaan pada awalnya hanya duduk diam (tidak 100% diam karena mulut bergerak-gerak ngemil pizza ala Italia yang sebesar tetampah beras) di depan televisi sambil menunggu saat-saat teriak “Gol”! Maksudnya hitung-hitung meramaikan suasana, sebab saya tidak paham apa-apa. Detik berlalu berganti menit, pizza saya akhirnya habis juga, televisi pun masih seru dengan permainan kejar satu bola oleh 22 orang, dan komentatornya itu... wah yahud!


Saya merasakan gegap gempita dan membawa saya masuk ke dalam alam persepakbolaan secara natural. Komentator yang berteriak, menyebutkan nama pemain satu persatu, berkomentar tentang pemain –wah saya lupa namanya siapa – sebagai “nostra fortezza, nostra sicurezza (benteng pertahanan kami, keamanan kami)”, lalu saat-saat bola terlempar ke dalam jaring dimana semua teriak “golllll!”, saya juga akhirnya berteriak cukup keras, menyamai suara suami. Saat pemain bermain dengan jelek, komentator lalu berteori “wah si ...anu.. pasti sudah kecapaian, mestinya begini-begitu, bla, bla, bla...”. Saat Zidane (yang ini akhirnya saya ingat namanya) menanduk pemain Italia dengan kepalanya yang polos plontos, sang komentator pun menjerit seakan-akan Zidane sedang menyeruduk si komentator, begitu juga mertua, ipar-ipar dan suami saya. Waduh duh duh, keseruduk Prancis!. Wasit pun meniup pluitnya, pritttttt, kartu merah melompat dari kantung atas baju si Wasit, undangan buat Zidane keluar dari jagat raya persepakbolaan.

Kembali saya mendengar komentar dari para komentator, bahkan ada yang berteriak mencaci maki (di televisi juga lupa tata krama ya...?). Lalu akhirnya kemenangan diraih, segala pujian, dan teori-teori, saya dengar dari komentator televisi juga komentator intern, yaitu mertua, ipar-ipar dan suami saya. Pertandingan pun berakhir, klakson terdengar dimana-mana, secara tiba-tiba jalan-jalan yang sunyi sepi dan lenggang menjadi penuh sorak-sorai, riuh rendah klakson dan teriakan dengan arak-arakan kemenangan atas Italia.

Saya yang “buta” akan dunia persepakbolaan ikut berjingkrak-jingkrak, wuih ramai tenan! Lho kok saya jadi bisa ikut berjingkrak-jingkrak, padahal “buta”, tetapi para komentator, baik dari televisi dan para intern yaitu mertua dan anak-anaknya, menjadi “tongkat” saya dalam menikmati pertandingan besar yang saya tidak begitu paham sebesar apa tadinya, tapi berkat “tongkat” saya yaitu para komentator-komentator, saya bisa mereka-reka berapa besarnya. Saat para presiden-presiden ikut-ikutan gigit jari, melongok lesu atau berjingrak-jingrak (tetapi tidak seperti saya, jingkrakan mereka lebih elegan...), semua tergambar (eh maksudnya terdengar) yah itu dia berkat si komentator. Wah untung ada “tongkat” jadi si buta dari gua antah berantah (bukan gua hantu loh) bisa mereka-reka, untung ada komentator yang berkomentar, jadi bisa mengerti jalan permainan, lumayan sih, lulus tes standar ujian nasional.

Zev tersayang, dan juga para pembaca lainnya.
Kok saya kangeeeen yahhhh sama si KOKO yang tak lain dan tak bukan adalah kolom komentar...

Arita-CH

0 comments: