02 June 2009

Binatang Jalang

14.07.2008.

Dear Zev & Kokiers,

Suatu hari, sewaktu saya masih S.M.A, saya bersama dengan konco-konco kelas menjalani hukuman, berjemur ria di tengah lapangan. Di hadapan kami, kepala sekolah mondar-mandir sambil mengacungkan tongkat komando, berdakwah dengan lantang.

“Kalian semua adalah generasi penerus bangsa, harapan bangsa!

Tapi, coba lihat tingkah laku kalian..., ck ck ck ...persis binatang jalang!”

Sambil mendengarkan kepala sekolah yang terus sibuk meng-grendeng, saya termenung di tengah sengatan terik matahari, mendengar sebutan binatang jalang. Tersentak dengan dentang bel, tanda tiba saatnya pulang, sejenak ingatan terantuk dengan puisi Chairil Anwar, kala membaca SEMANGAT, kala saya “tergila-gila” menyamakan diri dengan tokoh binatang jalang versi Chairil Anwar.

Chairil Anwar, lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal dunia di Jakarta dalam usia yang belia (27 tahun) pada 28 April 1949. Dengan hanya berpendidikkan formal kelas 2 MULO, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta pada tahun 1940, pada usia 18 tahun.

A.H. Johns, dalam tulisannya yang berjudul “Chairil Anwar: An interpretation”, mendeskripsikan Chairil Anwar sebagai seorang seniman yang mempunyai kepribadian yang lain daripada yang lain, arogan, eksentrik, terbakar dengan pemikiran daya hidup, ia menerjunkan diri bulat-bulat tanpa sehelai keraguan, ke dalam setiap kancah kesempatan pengalaman yang terpampang di hadapan. Bagi Chairil Anwar, standar, derajat dan status sosial hanya merupakan embel-embel pemisah ciptaan manusia belaka. Derajat dan status sosial tidak seharusnya mempengaruhi tingkatan rasa hormat, karena semua sama belaka, baik seorang presiden maupun seorang abang becak. Ia memandang norma-norma sosial kehidupan yang ada sebagai penguat dan pendukung kemunafikan, sehingga, ia memilih untuk “menghancurkan diri sendiri” daripada menerima norma-norma tersebut. Dengan dedikasi diri seutuhnya kepada seni, Chairil Anwar masuk ke dalam karakter Bohemian, seniman penganut kebebasan mutlak. Sekalipun, pola kehidupan yang tidak stabil merupakan bagian dari prinsipnya, namun ketidakstabilan tersebut merupakan juga bagian dari suatu persona, suatu topeng untuk menyembunyikan identitas diri yang sesungguhnya, jati diri yang hanya dapat ia ungkapkan di dalam puisi-puisi.

A.H. Johns menulis, dunia Chairil Anwar adalah dunia yang remuk, dunia yang penuh dengan kekecewaan. Dan Chairil Anwar menerima dunianya sebagai suatu kenyataan. Bagi Chairil Anwar, dunia yang hampa tanpa arti adalah jauh lebih baik daripada dunia yang penuh utuh, terisi terus menerus oleh kemunafikkan. Ia ingin hidup seribu tahun lagi. Ya! Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi dengan cara yang ia pilih, metode yang ia peluk, gaya yang ia miliki, gelutnya untuk memerangi kekuatan kemunafikan tanpa tedeng aling-aling mendasari kehidupan sehari-hari. Ia bergembira ria di dalam kekurangannya bersetubuh dengan kemunafikan.

Jelas sudah, kalau Chairil Anwar adalah seorang seniman yang superior, karyanya lebih sempurna dari model karya seniman Belanda yang ia panuti. Sekalipun, mungkin karya Chairil Anwar tidaklah orisinal (cat: menurut beberapa pendapat, ia adalah seorang plagiarist), karya Chairil Anwar tetap memiliki karakter yang khas, unik, terbentang lebar dalam ungkapan kata-kata.

Banyak tulisan yang berpendapat, karya Chairil Anwar dipengaruhi oleh dua penyair Belanda beraliran expresionisme, yaitu Marsman dan Slauerhoff. Tetapi A. H Johns beranggapan, asumsi tersebut sangatlah sempit dan sederhana. Bagi A.H. Johns, karya Chairil Anwar akan interior alam semesta serta dedikasi penuh dalam kesempurnaan teknik, menjadikan Chairil Anwar pewaris dari gerakan terbesar dunia persajakan modern, periode yang di inagurasikan dengan timbulnya aliran symbolisme di Perancis dan Belgia pada akhir abad ke 19.

Pada tanggal 15 Mai 1871, seorang penyair Perancis beraliran Symbolisme, Arthur Jean Rimbaud, tipe radikal provokator anti borjuis, menulis surat kepada Paul Demeny (lettres du voyant). Rimbaud berpendapat bahwa seorang penyair adalah seorang pencuri api sejati. Seseorang yang dipenuhi oleh perasaan perikemanusiaan, dan bahkan juga perikebinatangan. Ia harus mampu menyentuh, meraba, merasakan, mendengarkan seluruh imajinasi. Rasa cinta, penderitaan, kegilaan. Seorang penyair harus mampu menemukan satu bahasa. Bahasa yang kelak mampu memahat jiwa untuk para jiwa, bahasa yang terbentuk dari kumpulan semerbak harum wewangian, aneka bunyi dan warna, bahasa dari suatu pikiran yang mengkait pikiran-pikiran lain dan menariknya seerat mungkin.

Chairil Anwar adalah seorang penyair ternama di dunia internasional. Di Indonesia ia adalah penyairnya penyair, seorang penulis yang sejak tahun 1942 menyuburkan pertumbuhan dunia persajakan moderen di Indonesia. Sebagai seorang penyair yang juga beraliran symbolisme, banyak karya-karyanya yang sulit di mengerti, sarat pekat akan makna. Dengan penggunaan struktur yang ambigu dan kompleksitas dari pengunaan simbolisme, membuat karyanya sulit untuk di pahami.

Seperti Rimbaud mendefinisikan seorang penyair, maka Chairil Anwar adalah seorang pencuri api sejati yang menempa karya-karyanya dengan suhu panas maksimal.

Bagaikan sebilah pedang yang di tempa dengan bara api, karya Chairil Anwar berbilah tajam berkilau terang. Bilah pedang tajam berkilau nyala api, menjadikan karya Chairil Anwar tidak hanya bagaikan sebilah pedang yang tajam, yang membelah pikiran, tetapi kadangkala berpendar, memantulkan bayangan, refleksi diri dari orang-orang yang membacanya, orang-orang yang mengagumi karyanya, orang-orang yang menggilai karyanya, para orang banyak tanpa terkecuali, juga para remaja pelajar S.M.A.

Masa SMA adalah masa-masa dimana saya merasa bangga menjadi binatang jalang versi Chairil Anwar. Suatu periode dimana saya terobsesi oleh kepribadian Chairil Anwar, plek numplek dalam gegar teriakan lantang, saya menjelma di dalam image populer sang revolusioner, kilau bilah pedang yang terang benderang membuat saya kehilangan arah dari hakekat puisi itu sendiri. Mungkin jauh, dari makna dan maksud yang dimuntahkan Chairil Anwar, saya terbawa arus kebebasan anarki.

Masa S.M.A adalah masa dimana saya merasa seluruh dunia menentang, menantang dan membuang saya. Arus hormon remaja yang mengalir deras ,memperkuat kesimpulan bahwa, segala aturan-aturan yang ada, hanyalah dibuat untuk memperalat saya, memperalat kami, bocah-bocah “pemberontak”, menjadikan kami pion-pion kecil yang siap dikorbankan dalam genderang kegagahan politik. Cara liar suatu sistim, menyeringai dan mengancam dalam kemasan cantik sebuah iming-iming, ancaman yang dibungkus dengan kertas emas bertuliskan imbalan. Sebuah iming-iming untuk bisa lulus S.M.A, asalkan menjoblos salah satu partai politik, saat hari H Pemilu, yang di adakan di aula sekolah.

Saat itu, kami terbakar oleh kemarahan terhadap propaganda politik, jilatan api ancaman yang memanas, mendidihkan kami yang susah payah belajar di bangku kayu sekolah yang keras. Kami berubah menjadi binatang Jalang, mengerang dalam protes yang kami tahu, tidak akan pernah terjawab.

Selama itu saya selalu mempertanyakan arti dari penulisan huruf besar dalam kata “Jalang” pada puisi “Semangat”. Saat itu saya sering menerka-nerka, bahwa definisi Jalang dengan huruf besar J adalah penekanan. Pengerasan arti menjadi kekuatan dalam kata Jalang. Jalang dalam pemberontakkan, melawan tekanan kemiskiskinan moral, mengeliat mencoba mencuat keluar dari kebohongan berlapis senyuman. Meneriakkan kata anarki dengan idealisme ala remaja, tanpa tahu apa arti sesungguhnya anarki dan idealisme.

Kini, saat angka 40 mulai menari-nari dengan lincah di hadapan saya, sukma binatang Jalang masih erat lekat dalam jiwa. Saya juga ingin hidup seribu tahun lagi, sekalipun badan telah menyatu menjadi debu. Saya tidak ingin menyerah kalah. Sekalipun pada puisi yang terakhir – Derai-derai cemara 1949 -Chairil Anwar terlihat menyerah menunggu saat kematian, tetapi saya tahu, Chairil Anwar tetap hidup seribu tahun lagi.

Hidup hanja menunda kekalahan (cat:kematian)
Tambah djauh dari tjinta sekolah rendah
Dan tahu, ada jang tetap tidak diutjapkan
Sebelum pada achirnja kita menjerah.

(Derai-derai cemara 1949)

Saya tidak akan menyerah, saya ingin hidup seribu tahun lagi. Sekalipun kini saya tidak mengarungi aliran sungai anarki, tetapi saya tetap berendam dalam kolam idealisme. Dalam idealisme ala saya sendiri. Dalam anugrah suatu SEMANGAT...

“SEMANGAT”

Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang Jalang
Dari kumpulan terbuang

Bir peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil Anwar, Maret 1943

Dear Zev & kokiers, aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku juga mau, KoKi, dan Zev, dan kokiers hidup seribu tahun lagi...

Arita-CH


Daftar Bacaan:

Anwar, Chairil, 1989, Kerikil tajam dan Yang terampas dan yang putus, Jakarta, PT. Dian Rakyat.

Johns, A.H., 1964,Chairil Anwar: An interpretation, Leiden, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 120, no: 4.

Chauvel, Jean, 1971, L’aventure terrestre de Jean Arthur Rimbaud, Paris, Seghers.

0 comments: