01 June 2009

Majulah hai Kokiers


18.08.2007.
Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya,

Bangsanya, Rakyatnya semuanya.

Sadarlah hatinya, Sadarlah budinya

Untuk Indonesia Raya !

Hai Zev dan para kokiers…

Menyambut ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 62, saya tidak mampu berkata-kata, terpaku di depan layar monitor yang menayangkan lagu Indonesia Raya jaman dulu, hati berdegup kencang, mata memanas tergenang oleh aliran air mata, saya terduduk diam melihat sang Saka Merah Putih yang berwarna hitam putih (karena film jaman dulu) berkibar melalui internet. Bertiga dengan anak dan suami, kami “terpaksa” memperingati 17 Agustus 2007 di depan layar monitor karena adanya halangan yang tidak bisa kami hadang.

Barisan kata-kata yang membuka surat saya merupakan barisan dari lagu Indonesia Raya yang pertama kali dinyanyikan pada Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) tanggal 28 Oktober 1928, dimana pada jaman itu kehidupan masih terkurung dalam kolonialisasi bangsa asing.



Kini 62 tahun sudah proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan di muka bumi. Terpaku jelas baik secara nasional maupun internasional bahwa Indonesia kini merdeka dan berdiri di atas sebuah pemerintahan sendiri, terpantak juga di pemikiran anak saya yang masih dalam periode akil balik bahwa tanggal 17 Agustus 1945 adalah hari lepasnya kolonialisasi di bumi pertiwi.

Kali ini bukan kemerdekaan yang ingin saya kemukakan karena pada intinya, di dalam hati dan nurani, kita sudah merdeka sejak lagu Indonesia Raya dinyanyikan pada tahun 1928. Merdeka menyampaikan hasrat yang paling dalam terpendam oleh pemerintahan asing yang menebarkan dendam.

Yang ingin saya tanyakan pada tanggal 17 Agustus 2007, suburkah tanah Indonesia? Suburkah jiwa bangsa dan rakyat Indonesia?

Dari seluruh penjuru dunia, Indonesia terkenal dengan tanahnya yang subur Gemah Ripah Loh Jinawi, lalu apakah memang masih subur tanahnya bagi Indonesia, dengan adanya penganiayaan alam yang semena-mena?

Bagaimana dengan jiwa bangsa Indonesia yang seantero jagat dikenal subur dengan keramahannya, jika kepahitan dalam hati dan ketidakpercayaan akan negara, berkembang jauh lebih subur? Atau malah haruskah kesuburan dari tanah Indonesia menyuburkan ketamakkan jiwa?

Seharusnya negeri gemah ripah loh jinawi ini mampu menghidupi rakyatnya

Begitulah kalimat yang sering terdengar dan memang benar seharusnya demikian yang terjadi, tetapi hal tersebut tidak akan pernah terjadi dan merupakan suatu hal yang tidak mungkin untuk menghidupi rakyat Indonesia jika para jiwa di tanah yang subur masih subur dengan ketamakkan.

Oleh karena itu ijinkan saya meletakkan beberapa bait lagu Indonesia Raya ke hati para pembaca dan dengan membungkuk hormat saya mengajak para pembaca meneropong kedalam bait tersebut.

Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya,

Bangsanya, Rakyatnya semuanya.

Indonesia membutuhkan tanah yang subur tanpa penganiyaan dan jiwa-jiwa yang subur akan keramahan dan kebaikkan untuk kepentingan bersama.

Bangsanya, Rakyatnya semuanya.

Sadarlah hatinya

Kesadaran hati menjadi bagian dari bangsa Indonesia dibutuhkan, sekalipun sudah bukan sebagai Warga Negara Indonesia ataupun tidak menetap di Indonesia.

Bangsanya, Rakyatnya semuanya

Sadarlah budinya

Kesadaran budi dan pekerti akan tanggung jawab sebagai bangsa Indonesia dibutuhkan, dimanapun orang Indonesia tersebut berada, bagaimanapun keberadaan mereka sekalipun warna rambut sudah berganti menjadi merah pirang.

Untuk Indonesia Raya

Dengan kesuburan tanah Indonesia maka jiwa-jiwa yang subur, yang sadar hatinya, yang mempunyai budi pekerti, akan mampu menghidupi rakyat Indonesia di segala bidang, sekalipun jiwa-jiwa tersebut terpencar di seluruh bagian dunia yang letaknya beratus-ratus kilometer dari Indonesia.

Slamatlah Rakyatnya, Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya semuanya.

Majulah Negrinya, Majulah Pandunya

Untuk Indonesia Raya


Selamatkan rakyat maka selamatlah para putra-putrinya yang akan mampu menyelamatkan pulau-pulau, laut dan semuanya sehingga negeri Indonesia mengalami kemajuan, mengayomi pandunya dalam menjaga Indonesia di kerayaannya.

Majulah hai Kokiers,

Untuk INDONESIA RAYA !!!

Arita-CH

0 comments: