02 June 2009

The Devils of Les Diablerets (Part 1)

27.10.2008.

Menurut legenda Swiss, pada jaman antah berantah, tinggallah sekumpulan setan-setan di pegunungan Alpen. Konon setan-setan ini gemar bermain skittle (cikal bakal permainan bowling). Pada suatu hari, saat para setan-setan sedang asyik bermain skittle, salah satu setan yang mengalami kekalahan merasa tidak puas dan marah besar. Dengan garang, dilemparnya batu besar ke salah satu puncak gunung yang menjulang runcing. Puncak gunung tersebut pecah dan batu-batu besar berhamburan menggelinding ke bawah, meluluhlantakkan daerah sekitarnya, hingga akhirnya membentuk suatu lembah. Lembah yang kini menjadi daerah perkampungan yang dikenal dengan nama Les Diablerets.

Sekalipun legenda mengatakan bahwa tempat ini merupakan tempat favorit para setan-setan untuk bermain skittle, namun kampung Les Diablerets yang terletak pada ketinggian 1155 m, sejak tahun 1277 hingga sekarang, terkenal sebagai tempat favorit untuk olahraga Ski.

Les Diablerets terletak di Swiss, tepatnya pada kawasan timur dari Kanton Vaud, daerah bagian berbahasa Perancis. “Dikepung” oleh puncak-puncak gunung es menjulang, dan kesuburan tanah menghijau loh jinawi (subur dan makmur), membuat kampung les Diablerets berkilau setiap musim, baik musim panas maupun musim dingin.


Saat musim dingin yang menggigil, les Diableret mengundang minat para turis pecinta olahraga Ski, Snowboard, serta juga para turis yang hanya ingin bermalas-malasan menikmati sengatan panas matahari ditengah-tengah timbunan salju. Sedangkan, saat musim panas yang menyengat, les Diablerets merupakan pilihan yang nikmat untuk berjalan kaki, mendaki gunung, ataupun bersepeda ke puncak gunung, tanpa ragu dan minder dengan masamnya bau keringat.

Sesuai dengan judulnya, cerita tentang perkampungan les Diablerets saya bagi menjadi dua bagian. Cerita les Diablerets di musim panas dan cerita di musim dingin. Cerita pada musim panas, saya mulai saat kami berlibur tahun ini di kampung les Diablerets.

Dengan titik awal Zürich, kita bisa menggunakan akses mobil (250 km), kereta, maupun sepeda untuk mencapai perkampungan les Diablerets. Lho kok sepeda ? Janganlah heran maupun bingung, karena bukan sulap bukan sihir, kalau saat musim panas banyak orang-orang bersepeda berseliweran mengelilingi negara Swiss yang sak uprit besarnya. Namun sayangnya, hanya orang lain yang rela bersepeda ke les Diablerets, sedangkan saya sendiri masih memilih roda empat untuk mencapai perkampungan tersebut.

Saat tiba di perkampungan tersebut, hawa segar (menggigil) pegunungan menerpa hidung dengan kesegaran tiada tara. Teriknya matahari, hanya mampu memanaskan ujung hidung yang pendek. Segera saya memasuki rumah sahabat kami, hawa hangat perapian menenangkan kulit yang meronta meminta mantel. Hidung saya langsung mencium aroma khas cheese fondue (keju yang dilelehkan bersama dengan sedikit air, bawang putih dan sedikit juice apel atau anggur putih), rasa lapar langsung menyergap, dan tanpa rasa sungkan, saya duduk manis di depan meja makan, sekalipun tuan rumah belum mempersilahkan.

Rumah yang kami tempati selama berlibur adalah rumah sahabat kami yang dibangun sejak tahun 1815. Di perkampungan ini, masih banyak ditemukan bangunan tua yang kokoh terawat dan ditempati. Seperti yang juga pernah ditulis oleh bapak Janto Marzuki (artikel “Falu Röd, Merah Burek”), meskipun berada di kampung, namun bangunan tua ini mempunyai peralatan yang lengkap dan modern. Bahkan rumah yang sekalipun dibangun pada tahun 1682, berisikan lengkap peralatan teknologi abad ke 21.

Usai makan siang yang lumayan berat, kami beranjak keluar, menghabiskan sisa waktu menunggu saat makan malam. Hawa yang dingin menyegarkan dan suasana liburan yang asri, membuat saya (hanya) sibuk membayangkan menu makanan. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi perkampungan, sambil membiarkan perut mencerna dengan cepat dan tuntas.

Perkampungan les Diablerets di musim panas, dipenuhi oleh para turis, baik turis lokal maupun turis asing, membuat kampung ini semarak dengan berbagai macam atraksi lokal, serta (juga) tak luput dari amatan saya, kuliner lokal! Mata saya “menyerbu” gambar indah berbagai macam jenis kue dan coklat, membuat saya tidak mampu berkutik menyambut tantangan hati nurani untuk mencoba hidangan penutup, yang kaya akan krem dan mentega, terbuat dari susu sapi murni made in Swiss.


Negara Swiss dikenal sebagai penghasil coklat. Sekalipun pohon kakao berasal dari Amerika Selatan, namun yang membuat coklat Swiss terkenal dengan mantap rasa adalah kualitas susu sapinya.

Binatang sapi di Swiss adalah binatang yang istimewa. Saat kita menaiki kereta di dalam bandara Zürich, maka suara lenguhan sapi digital menyambut dengan sigap bersama dentang bel. Pada toko-toko yang menjual souvenir, sering kita dapati gambar sapi berpolka dot hitam menyeringai, melenguhkan tulisan selamat datang di Swiss. Jauh dari bandara Zürich, di pegunungan Alpen yang menjulang tinggi, di Les Diablerets, kembali saya mendapati gambar sapi. Namun kali ini, sang sapi tidak berpolka dot hitam, menyeringai melenguhkan ucapan selamat datang. Gambar sapi yang lihat di tempat ini adalah suatu rambu lalu litas berbentuk segitiga merah dengan gambar seekor sapi ditengah-tengah. Memperingati kita dengan lantang, “Awas! Ada sapi!”.

Tak jauh dari rambu tersebut, saya melihat segerombolan sapi-sapi sedang asyik mengunyah rumput dengan santai. Dibelakang gerombolan sapi tersebut, seorang gembala sapi berteriak-teriak memanggil sapi-sapi yang terpisah dari kelompoknya, “Yodel-Ay-Ee-Oooo!! Ngapain sih makan jauh-jauh, sini ngumpul!”.


Sapi-sapi ini ternyata mempunyai nama dan mengenal namanya masing-masing. Si gembala sapi menerangkan kepada kami bahwa, sapi-sapi tersebut harus dirawat dalam kondisi tenang, tidak boleh mengalami stress, dan makan dengan cukup serta teratur. Pada saat musim panas, si gembala sapi akan menggiring sapi-sapi ke atas gunung, untuk menyantap rumput-rumput pegunungan yang lebat, lalu kemudian saat musim dingin, sapi-sapi tersebut akan digiring turun ke lembah untuk menyantap rumput-rumput yang tersisa serta gulungan-gulungan rumput yang telah disiapkan sejak musim panas. Ia menambahkan, dengan menjaga ritme pola hidup sapi yang alon-alon kenyang, maka sapi-sapi ini akan dapat menghasilkan susu dan daging yang bekualitas optimal.

“Hmmm, apa menu makan malam nanti?” tanya saya,

Fondue chinoise” jawab Earnest, sahabat kami, sambil tersenyum maklum akan “kerakusan” saya.

Sekalipun hidangan fondue chinoise awalnya berasal dari Cina Utara, namun, hidangan yang juga dikenal dengan nama beef hot pot, adalah menu yang sering dihidangkan di Swiss, dan tentu saja menggunakan sapi Swiss, moooo...

Kokiers, dan kokoers yang budiman, ijinkan saya permisi menyantap hidangan. Mohon maaf atas “kerakusan” saya sebagai seorang karnivora, dan sampai jumpa di musim dingin ala les Diablerets.

Salam hangat dari seorang kokier yang nyaris bulukan....

Arita-CH

FOTO: JAM & www.diablerets.ch

(bersambung)


0 comments: